Tuesday, November 13, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:15:00 PM |

PAUD Gajahwong



Pagi tadi saya bersepeda ke bantaran Kali Gadjah Wong di Ledhok, Timoho (sekitar 400 meter ke utara di perempatan dekat SMK 8 Yogyakarta, belakang perumahan APMD). Pagi ini saya diundang oleh seorang teman yang aktif menjadi relawan di Komunitas Ledhok, kampung pemulung di pusat kota.

Komunitas ini dibangun oleh Bembeng, seorang relawan yang menginginkan warga bantaran kali ini mendapat hak yang sama dengan warga Jogja lainnya, terutama dalam akses pendidikan dan kesehatan. Mengingat, mereka disebut “penghuni ilegal” karena menempati tanah yang –selain tak bersertifikat—juga tak boleh huni akibat ancaman banjir.

Di bawah payung Tabaah (Tim Advokasi Arus Bawah) –organisasi terdaftar yang diketuai Bembeng, Komunitas Ledhok memiliki sejumlah kegiatan yang ditujukan untuk memberdayakan warga, seperti PAUD, pertanian organik yang memanfaatkan sedikit lahan tersisa (berbagai sayuran dan daun mint), peternakan ayam, serta pengelolaan sampah.

PAUD adalah kegiatan utama. Beberapa tahun lalu, hampir seluruh anak usia sekolah di kampung ini diajak mengemis oleh orang ibunya. Anak remaja mengamen di jalan-jalan kota, sedangkan ayahnya memulung. Seluruh keluarga menjadi orang jalanan. Dengan kreativitas Bembeng beserta para pengajar lain, banyak anak tertarik ikut bersekolah di PAUD Gajah Wong. Yang tertarik tak hanya anak, namun juga orangtuanya. Seiring bangkitnya kesadaran bahwa anak tak seharusnya diajak bekerja menafkahi keluarga, para ortu kiini lebih merasa aman ketika anak-anaknya bermain di PAUD dibanding di jalan. Hingga kini, tinggal seorang anak lagi yang ‘bekerja’ di jalan.

Pagi itu, PAUD GW mendapat kunjungan dari SD Tumbuh. Anak-anak (yang kebanyakan dari keluarga sangat mampu ini, dan sebagian anak ekspatriat) Tumbuh diajak bermain dengan PAUD: keliling kampung untuk mengenal lingkungan, menanam tomat, dst. Sayang terjadi sedikit gap antara anak-anak Tumbuh dan PAUD ini. Saya sedih melihat tatapan seorang anak berbaju lusuh dari PAUD ke anak-anak Tumbuh. Tapi ini pelajaran baik, ya. Entah baik buat siapa, bingung saya menjelaskannya…

Hal yang dapat kita bantu:
  1. PAUD GW membutuhkan relawan tetap. Tetap di sini berarti bahwa relawan yang bekerja memiliki komitmen tinggi untuk menyelesaikan pekerjaannya, minimal dalam 1 semester ajar. Perubahan “kakak guru” yang datang membuat anak-anak sulit menyesuaikan diri. Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini di UNY mungkin bisa kita tembusi?
  2. Saat ini PAUD memiliki hanya satu kelas, akibat keterbatasan tenaga pengajar & ruang ajar. Mulai tahun depan mereka berencana membagi kelas berdasar usia, menjadi dua kelas. Sebab kebutuhan anak 0-3 dan 4-6 tahun akan berbeda.
  3. Mereka juga mempunyai program untuk usia remaja, yaitu kelas untuk membantu mengerjakan PR sekolah. Anak-anak yang sudah masuk usia SD-SMU akan bersekolah di sekolah-sekolah negeri di sekitaran Timoho. Sayangnya, minat belajar pemuda usia SMP-SMA ini sangat rendah, akibat mereka lebih senang mengamen di jalan…
  4. DANA! Meski bukan persoalan utama, ini menjadi sebuah kendala besar bagi Bembeng untuk mengembangkan komunitas ini. Mereka ingin ada semacam poses orangtua asuh bagi tiap anak di sini.
  5. Teman-teman TABAAH mempunyai website. Mereka menginginkan perubahan pada website untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka ada. http://www.taabah.com/
Dalam rangka ulang tahun dan wisuda angkatan pertama PAUD Gajah Wong, Komunitas Ledhok akan mengadakan Festival Sekolah Gajah Wong. Ada banyak hal yang bisa kita bantu di sini terkait kebutuhan penyelenggaraan. Cek infonya di sini. Lihat foto lain di sini.

Trims pada @kireynazkiya untuk ajakannya.

Mlekom,
AZ 
about it
Categories:
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata