Tuesday, December 23, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 11:53:00 AM | 5 comments

TakuT!

Aku takuT!
seharian ini,
semalaman tadi,
aku takuT!

Gara2 sakit kepala (ini hari ketiga), semalam mencoba tidur jam 8, naik t4 tidur, baca koran, malah gak tidur2 juga.
Jam 9 nge-net. liat2 foto kawinan Aan yang diupload Zen di FB. Lumanyan bikin enak pikiran, cus ToEL langsung respon, jadi kata2an (as ussual) di comments fotonya.
Jam 10
jam 11
jam 12
jam 1

Putra belum balik, ternyata emang gak pulang.
aku tidur.
naik kasur lagi,
nepok2 bantal lagi,
tarik selimut
matikan lampu
tidur!
yeahhhh!

tapi gak nyampe 10 menit,
keganggu lagi,
spt ada penampakan jauh di dalam pikiran sana,
spt ada suara2 jauh di dalam kepala sana,
tereak,
tangis,

ah,
bikin terjaga aja pun!!!

_dari sini aku tahu, malam ini akan terjadi sesuatu. aku yakin, paling tidak, hari itu akan datang besok atau dalam minggu ini juga.

tapi aku tertidur juga, entah jam berapa.
4.30 bangun, gara2 dua plastik kresek di balik pot antoriun di samping rumah.]
aku lupa,
atau kurang jeli.

Hmmm, aromanya,
bau,
menyengat,
darah,

"Ini mau diapakan?" teriak Mama.
"Bakar!" kataku dalam kantuk -biasa, gak pernah bangun sepagi itu.

bla
bla
bla

pagi ini berakhir di pasar,
mengantar Mama beli bahan makanan untuk liburan natal.
Met liburan.

Monday, October 27, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 12:49:00 AM | No comments

Gila, ya!

Udah tanggal 25 Oktober ajah!!!

Monday, August 25, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 11:48:00 PM | No comments

Tulisan Published

Untuk ngobatin kekangenan nulis di sini, (sumpah bos, gak sempet bgt!), ini aku punya beberapa tulisan lama, ada juga yang udah dimuat, seperti yang ada di link. Enjoy! (gak mungkin enjoy, ya, tulisan serius begitu...)   

Jus-jusan:

Mendadak Nge-art:

Monday, June 16, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 2:36:00 PM | No comments

Hwaaaaaaaa........

gak sempet nulis nihhhhhhhhhhhhhh!!!!!
kangennnnnnnnnnnnnnnnn!!!!

Saturday, May 24, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 8:08:00 AM | No comments

Alhamdulillah masuk lagi... :))

Tulisan berjudul "Urusan Perut, Naluri Lahir" kemarin nongol di Harian Kompas Jogja-Jateng dengan penulis bernama Putra Anggara Zulivan. Itu adikku.

Humm, sesungguhnya itu tulisanku. Ceritanya, bulan lalu tulisanku baru dimuat di rubrik sama, aku yakin tidak akan dimuat lagi jikapun tulisan tersebut lolos meja redaksi. Maka, kupinjam KTM Putra, kukirim tulisannya.

Aku memang lagi ketagihan menulis rubrik satu ini. Bukan karena bayarannya yang Rp 300.000,-, namun akibat kebanggaan ketika karya kita dibaca banyak orang. Ini merupakan rubrik untuk mahasiswa. Ada dua tulisan yang diambil, satu dari Perguruan Tinggi di DIY, satunya di Jogja. Honor tulisan biasanya dipakai untuk traktir teman-teman yang menagih acara "makan-makan" :)

Ini adalah kali ketiga tulisanku masuk di rubrik sama. Pertama kali tahun lalu, sayangnya tidak muncul di website KOMPAS.

*
Di pers mahasiswa (persma), kami, para jurnalis kampus, selalu berlomba-lomba untuk nampang di media. Paling sering jadi kolomnis khusus opini mahasiswa di harian KOMPAS edisi Jogja-Jateng.

Apalagi kampus akan memberi penghargaan bagi mahasiswa yang menunjukkan tulisannya di media massa. Berupa uang. Rp 50.000,- untuk terbitan lokal, 100 rb tingkat nasional. Tidak banyak, tapi kebanggaan ketika diketahui orang-orang kampus itu menjadi sesuatu yang mahal sekali. Beberapa kali aku dikasi selamat (-eh?) dosen dan teman pasca penerbitan tulisanku.

SMS pun jadi penuh ucapan. Gila ya, sebegitu hebatnya untuk hanya sekelas kolom lokal? Kesempatan makan-makan gratis pun jadi sering, akibat siapapun yang baru nongol di media diminta mentraktir dari honor tulisannya ;)

*
Rubrik Akademia ini merupakan rubrik mingguan. Nongol tiap Jumat. Tulisan yang dibahas merupakan opini atas sebuah tema satu kalimat yang diberi Redaksi sebagai pemantik. Saking senangnya, nyaris tiap minggu aku membuat dan mengirim tulisan, namun tentu saja tak semua bisa terbit.

Akibatnya, tiap Jumat pagi aku langsung membuka halaman khusus Jateng-DIY di kotran KOMPAS. Berharap-harap cemas tulisanku nongol. Seperti kemarin pagi. Tulisanku dengan nama dan foto adikku yang nongol. Langsung kutunjukkan pada Putra dan berharap dia mampu membaca lalu mempelajarinya, sebab kuyakin akan ada orang yang bertanya di kampus.

Dan benar saja. Putra bilang, dosennya membahas sesuatu yang ada dalam tulisan. Awalnya Putra gak nyambung, selanjutnya dia langsung mengingat-ingat isi tulisan yang dibacanya pagi tadi. Haha, maafkan aku membebanimu dengan berbohong... *bohong kok bangga*

Meminjam KTM adikku ini menjadi kenakalan pertamaku. Rasanya ingin, sangat ingin, meminjam KTM sepupu-sepupuku yang kuliah di Jogja. Humm...

Ya, begitu deh. Alhamdulillah masuk lagi... He3...   

Friday, May 23, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 11:40:00 PM | No comments

Urusan Perut, Naluri Lahir


Oleh Putra Anggara Zulivan

Seorang bayi keluar dari rahim ibunya. Menangis berteriak, lalu menyusuri tubuh sang ibu untuk mencari air susu ibu alias ASI, makanan pertamanya. Kemudian diam tenteram. Mungkin itulah gambaran nurani lahiriah manusia: mencari makan.

Tiap manusia memiliki early warning system yang terbentuk secara alami di dalam tubuhnya. Sistem tersebut aktif sejak lahir dengan "menyuruh" bayi berteriak lewat tangisan sebagai tanda bahwa ia lapar.

Tidak hanya bayi, manusia dewasa yang sudah berpikir pun melakukan hal sama ketika lapar. Mereka "berteriak". Termasuk ketika rencana kenaikan harga bahan bakar minyak berdengung lagi. Dengan pikirannya, manusia-manusia dewasa itu berteriak agar tetap bisa makan.

Teriakan-teriakan tersebut termanifestasi lewat berbagai aksi demonstrasi. Inilah bentuk lain bekerjanya early warning system di tubuh. Maka, tak benar hipotesis berbagai teori politik yang menyebutkan bahwa teriakan-teriakan itu ditunggangi kepentingan lain yang bukan berasal dari hati nurani rakyat.

Sebagai naluri alamiah, manusia tak perlu dikomandoi untuk berteriak lapar, sebab tubuh sudah terlebih dahulu memberi tanda bahwa mereka tak akan lagi bisa makan akibat ketidakmampuan membeli bahan makanan sebagai efek korelasi kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap kenaikan harga bahan pokok.

Karena menyakitkan hati masyarakat, perlu dipertanyakan dasar tuduhan bahwa berbagai aksi demonstrasi penolakan ditunggangi kepentingan. Dalam sakit hatinya, masyarakat bisa saja balik menuduh bahwa penguasa memiliki skenario besar di balik kebijakan tersebut.

Misalnya mencurigai adanya unsur penyuapan dalam pemberian bantuan langsung tunai (BLT). Hal ini karena BLT yang plus-plus bahan kebutuhan pokok tersebut bisa mencuri hati rakyat miskin agar kembali memilih mereka yang sekarang duduk di pemerintahan. Jika dituduh seperti itu, tidakkah sakit hati mereka-para pembuat kebijakan di sana?

Kekhawatiran itu bisa timbul ketika kebijakan bagi-bagi uang dilaksanakan di saat para pemimpin sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti pemilu yang tinggal setahun lagi. Memang benar bahwa minyak dunia (kebetulan) sekarang sedang naik-naiknya. Namun, tak adakah formula alternatif demi perut puluhan juta jiwa rakyat miskin?

Soal perut bisa merambah berbagai persoalan lain dalam perjalanan bangsa ke depan. Jika pemerintah beranggapan bahwa ketidakmampuan seorang pemulung sampah membeli susu bayi tak berkontribusi terhadap jalannya negara, inilah saatnya bagi kita, masyarakat, untuk berpikir ulang mengenai harga suara kita saat memilih mereka sebagai representasi kita pada pemilu yang sudah lalu dan nanti.

Di luar argumen teoretis mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak, lewat kebijakan tersebut, pemerintah menasbihkan naluri lahiriah manusia. Tak jadi soal jika kebijakan tersebut diterapkan setelah urusan perut rakyat terselesaikan, sebab bisa jadi satu dari bayi-bayi yang selama ini tak mampu dibelikan susu oleh orangtuanya menjadi petinggi di negeri ini. Siapa tahu!

PUTRA ANGGARA ZULIVAN Mahasiswa Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta



*
Dimuat di Harian KOMPAS, Rubrik Akademia - Forum, pada Jumat, 23 Mei 2008. Lihat tulisan asli di sini.

Tuesday, May 13, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 6:46:00 PM | No comments

AdDal Pergi, Fam Juga

Hwaa, tadi harus ketemu Pak Adam, my ultimate lecturer. Terpaksa d, gak liat AbDal berangkat, balik ke alamnya.

Oia, kan ceritanya aku mulai nulis skripsi tengah Februari lalu, terus akhir Feb (tanggal 20-an) langsung masukin ke dosennya. Dia bilang OK, dan suruh langsung nerusin (itu udah BAB III): "Wis apik ngono, ok. Wis, teruske wae!" begitu katanya. Harusnya kan sudah langsung penelitian, tuh. tapi uangeleee... Sulit! karena belum bisa dapet izin resmi karena emang belum resmi (selama itu bimbingan informal). jadi yah sulit karena tempat2 punya resiko tingkat tinggi (huiiih, bahasanya!).
Nah, untuk diresmikan itu harus nunggu berbagai kelengkapan jadi: transkrip nilai (nunggunya 3 hari karena kepotong hari libur), KTM (selama ini belom punya yang GAMA CARD itu), FC KRS, dan buat abstraksi skripsi. Lumayan ribet. Ditambah urusan bolak-balik Jakarta-Jogja. Ditambah lg malesnya nunggu ngurus keperluan di kampus, etc.

Tapi seminggu ato dua minggu kemudian jadi. so tinggal minta TTD dari dosen YBS + dosen wali. dan itu baru kejadian hari ini, saudara2! Bayangkeun....
Tapi sumpah, rasanya lega bgt, meskipun sempet H2C gitu.
Lega karena rasanya udah pantas karena udah resmi sbg mahasiswi yang sdg dalam bimbingan, dan rencana lulus serasa udah di tangan ajah. amien...


Oia, ni barusan nganter sekeluarga pada balik ke Jkt. mereka mau liburan sekalian jemput PaJul. Terus balik Jogja Kamis. Yah, alone (not lonely) for some day, lah. Mungkin jadi bs fokus ngerjain penelitian.

Hwaa, Im already mizin u, fam!

Saturday, May 10, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 2:18:00 PM | No comments

Mr Careless

Unilah dia, si AbDal. Padahal untuk kepentingannya sendiri.
Ya sudah!

His fave word: sorry...
Termasuk di YM-an tadi!
Ya sudah!

Btw, kangen juga ama blog, gak s4 nulis, euy!
tapi ini udah kebayar dg sekaligus 6 posting.
Bye, CU later. Besok sambil nge-buzz (si AbDal ngajak YM-an lg) aku nulis2 lg deh.

Posted by adriani zulivan Posted on 2:09:00 PM | No comments

Menikah 2,5 Juta!

Menikah dengan Rp 2,5 juta!
Mungkin enggak, sih?

Berapa harga perkawinan yang pernah Anda tahu? Humm, maksud saya bukan harga yang itu (karena kalo emang itu ya enggak2 aja, deh! --> emang bisa dinilai, gitu?), tapi harga rupiah yang harus dikeluarkan pengantin untuk menyelenggarakan pesta perkawinan?

Selama ini aku tahu melalui berbagai iklan penyedia jasa pesta. di dalam lift sejumlah hotel disebut 25 juta untuk 50 orang (ini hotel bintang tiga di Jogja), Rp 12.000 (sebuah katering terkenal di Jogja yang mnyediakan jasa dengan segala ketersediaan dana), Rp 32 juta (di sebuah gedung sewaan di bilangan Jakarta Pusat yang cukup untuk 100 orang), dan seterusnya.
Dari sejumlah harga itu tidak ada yang kurang dari Rp 10 juta. mungkin anda setuju. Yaiyalah, hare gineh!

Nah, hari minggu lalu keluargaku di Jogja diundang oleh seorang pekerja bangunan yang mengerjakan bangunan rumah kami (selain juga sering dipanggil untuk perbaikan/perombakan rumah dan urusan bangun-bangunan lainnya). untuk menghadiri pesta pernikahannya.

Mas Sukris, itu namanya. Keluargaku, terutama Mama, sudah sangat dekat dengan keluarga Mas Sukris: Ibunya, Kakak-kakaknya (+ ipar), dst. karena Mama sering datang ke rumahnya untuk sekadar maen (JJS) atau ada keperluan meminta bantuan Mas Sukris (karena keluarga itu tidak mempunyai telp/HP).

Nah, pesta itu sangat sederhana. tidak ada gaun pengantin khusus berupa kebaya, meski Mas Sukris tetap mengenakan jas lengkap dengan kopiah.

Begitu datang, kami disuguhi teh panas (di siang bolong --> jam 10 am) yang membuat tenggorokan makin panas meski aroma melatinya luar biasa enak. teh panas diletakkan dalam gelas bening kecil (kalau dalam ilmu ke-pantry-an disebut "gelas belimbing"). sekotak makan ringan juga menjadi suguhan pembuka: arem-arem, sosis solo, dan sebungkus kacang bawang yang semuanya dalam porsi kecil --> sosis mini, arem2 mini. tapi semua enak meski minyak penggorengnya agak enek (kata Mama karena harga minyak goreng mahal bgt sekarang). Fine, than!

Nah, rumah si mempelai berada di dalam gang kecil yang tidak cukup dilewati mobil. sehingga mempelai disambut oleh keluarga di sepanjang gang menuju rumah bak menunggu kedatangan pejabat negara untuk peresmian sebuah madrasah di desa.

kampung itu memang terletak di pedesaan kawasan Bantul. kalau belum pernah, pasti akan cukup sulit mencarinya, karena rumah-rumah di sana tidak memiliki nomor.

kecuali jalan kampung yang sudah aspal. jalan-jalannya masih pasir dan batu. di depan rumah, dan jalan-jalan gang, semua pasir-batu.

Pesta diadakan di halaman rumah orang tua Mas Sukris yang tidak seberapa luasnya. sekitar 10 meter atau kurang x 10 m (+ jalan gang kampung).

di halaman itu dipasang 4 tenda (masing-masing 5 meter). dibawahnya berjajar kursi2 lipat berwarna merah. ad apelaminan yang dibuat di teras rumah Mas Sukris. tanpa panggung, karena bangunan teras/rumah itu sudah lebih tinggi daripada halaman tempat duduk tamu.

seluruh tembok di teras itu dilingkupi dengan kain kilat berwarna biru, ditambah hiasan2 berupa bunga dan pita. pink juga mendominasi. kemudian menghadap halaman diletakkan 6 buah kursi: untuk mempelai dan orangtuanya.

tepat di depan jalan menuju rumah hingga belokan ke arah gang tempat menjemput pengantin diletakkan red carpet ala holiwud ituh.

para pekerja yang menjadi (apa namanya org2 yang sibuk alalu-lalang di pesta? sebutlah) waiter mengenakan batik seragam. waitress memakai kebaya yang juga seragam. kami menebak mereka adalah remaja masjid karena mengenakan kopiah dan jilbab.

maka segala perangkat pesta tersebut: teratak, kursi, pelaminan, gelas, dst adalah milik kampung atau masjid, atau kumpulan perwiridan, atau pengajian, atau apalah. intinya milik bersama.

tapi di kursi2 merah dan meja2 kecil di depan kami tercetak nama yang tidak kami kenal dengan tulisan "Catering" di bawah ikon-nya. maka, "Ooh, berarti sewa!".

Maka kami pun mulai bertanya-tanya: berapa ya, harga sewanya?

Aku teringat pesta seorang sahabatku, Iwien, Desember 2006. Dia adalah seorang yatim piatu. Setamat kuliah dan setelah mendapat pekerjaan dia menikah.

"Aku cuma punya segini, Bude," katanya pada saudara alm ayahnya. segini itu adalah Rp 2,5 juta.

Tahu tidak apa yang didapatnya?
- tiga pasang gaun pengantin
- make up
- pelaminan lengkap
- tenda + kursi plastik
- sesi foto profesional
- seserahan di dalam 6 keranjang
- makanan utama: prasmanan bermenu lengkap
- makanan tambahan: sejumlah gerobak --> sate, bakso, dawet, etc.
- makanan ringan: kue2 tradisional + teh + kopi + sirup


Hebat, bukan? bandingkan dengan bea yang ditawarkan di iklan2 pada umumnya.


Posted by adriani zulivan Posted on 2:00:00 PM | No comments

A Quarter Life Fear!

Waktu akan lulus SMU dulu seorang guru di sekolah bercerita mengenai tahapan usia anak manusia. Tahapan usia itu berhubungan dengan kedewasaan dan pencapaian.

Mau tahu seperti apa?
Ini ada catatan suratku untuk seorang laki-laki yang pernah sangat aku cintai beberapa tahun lalu.*

*hmmm, tentu saja bukan Si AbDal. Aku sering memanggilnya Becks karena dia sangat mengidolakan celeb pesepak bola Inggris itu. AbDal is my now, and I hope my future. Amien!

#####################################################################

‘Toek:

The Lovely Becks I EVA haD,

Makasih banyak udah PERNAH menjadikanku “seseorang” dalam hidupmu...
e Doea Poeloeh: Satoe, Doea & Tiga e

Doea poeloeh, vt


®
“Kepala dua”, begitu orang biasa menyebutnya.
Doea Poeloeh,
adalah masa peralihan usia tiap anak Adam,
dari masa Remaja Tua menuju Dewasa Awal.
Doea Poeloeh,
Banyak perubahan berarti yang bisa terjadi di usia ini.
Satu yang paling menonjol adalah saatnya menemukan jati diri.
Saat Doea Poeloeh Satoe, vu
Mulailah dengan memilah kegiatan yang diikuti.
Saat Doea Poeloeh Satoe,
Tentukan arah tujuan hidup (goals) menuju cita-cita yang diharapkan.
Saat Doea Poeloeh Satoe,
Mulailah berbelok terus ke arah itu demi menemukan jalanmu.
Terus pahami, dalami, pelajari, maknai, dan get in pada jalur ini.
Saat Doea Poeloeh Satoe,
Jadilah “sesuatu” di satu tempat yang telah kamu diami.
Oval: %“Sesuatu” yang berarti, yang diperhitungkan.
Entah itu sebagai pemenang,

Entah itu sebagai pemimpin...
Saat Doea Poeloeh Doea, vv
Berbuatlah sesuatu untuk hidupmu ketika kamu sudah menemukan “tempat” itu.
“Tempat” itu adalah tempat di mana kamu menemukan jati dirimu,
Oval: ûsiapa kamu sekarang, dan mau apa kamu di masa depan.
Saat Doea Poeloeh Doea,
Kamu akan mulai menemukan peta jalanmu ke depan,
ke mana pun kamu akan membawa peta itu...

K
Saat Doea Poeloeh Doea,
Menjadi seorang filsuf, kah, kau akan membawanya,
Menjadi seorang atlet, kah, kau akan membawanya,
Atau menjadi seorang lainnya yang memang sudah jalan hidupmu,
Karena semua ada padamu...

ì
Saat Doea Poeloeh Tiga, vw
Jadikan jalanmu sebagai bagian penting hidupmu...
Temukan salah satu kunci suksesmu di sini...\
Saat Doea Poeloeh Empat, ... v
Saat Doea Poeloeh Lima v
Saat Tiga Poeloeh Ž
Saat Tiga Poeloeh Lima, ... Ž
Saat Empat Poeloeh, ... 
Saat Lima Poeloeh, ... 
...dst...
...sampai menemukan seluruh Tolak Ukur Kunci Kesuksesan...

...sampai akhir hidup & kehidupan...

Tahapan Usia Manusia[
0-1 tahun ~ Bayi
2-3 tahun ~ Batita

ƒ
4-5 tahun ~ Balita
6-13 tahun ~ Anak-anak
14-17 tahun ~ Remaja muda (AbeGe)
18-20 tahun ~ Old Teenager Y
21-25 tahun ~ Dewasa awal


26-30 tahun ~ Dewasa
31-35 tahun ~ Matang
36-40 tahun ~ Matang abizz (mature)
41-... tahun ~ Tua
... dst...
Siapa Tahu Ini Penting...
Ini ada sedikit cerita dari Guruku sewaktu aku masih di kelas III IPA-4 SMU Muhammadiyah III Yogyakarta, beberapa hari menjelang kelulusan...
Tolak ukur kesuksesan seseorang, dimulai dari usia 25 tahun ke atas,
yaitu ketika pada usia-usia ini seseorang sudah:
ð Lulus sekolah dan bergelar.
ð Mempunyai pekerjaan tetap.
ð Menikah (dengan anak atau anak-anak) dan rumah tangganya bahagia.
ð

&



H
Mempunyai tempat tinggal (rumah) dan kendaraan, walaupun tidak mewah.




ì



Oval:

& + + + &
Jadi, hal ini akan terjadi Insya ﷲﺁ sekitar 4 (empat) tahun lagi
pada Mas Erydani ANGGA Wijayanto...
I hope so...
D2x’s Room, near to BonBin Jogja, June 13th, 2005
Seorang Ibu yang di awal perkenalan dulu Mas sebut dengan “Si Cerewet”




Þ

ADRIANI Zulivan

(yang masih rindu julukan “DEWASA, SMART & JAGO MASAK” ;P )




ƒ a , ì, æ


Z
Adalah seikat kembang, merekah, lampaui batas-batas musim.
Indah kelopaknya pancarkan nuansa kesejukan,
wangi aromanya tiada usai hadirkan MAAF & PENGERTIAN,

dalam bingkai indah PERSAHABATAN...
—Teruslah menjadi bagian hidupku, SOBAT—



\ Me, myself don’t even got the idea when will I found it… ;p
[ Sorry, lupa pernah baca di mana…
Y Tamat SMU merupakan titik kulminasi perjuangan hidup tiap anak manusia dalam mencapai/mencari jati dirinya. Artinya, masa kuliah menjadi jembatan kita untuk tau “aku mau apa dan menjadi apa, sich?”.

######################################################################




Surat ini aku berikan waktu ulang tahunnya, beberapa tahun setelah kami tidak bersama lagi.
Kenapa isi suratnya seperti ini? Karena menurutku di usianya waktu itu (22), dia belum cukup dewasa untuk hubungan-hubungan personalnya dengan orang lain (ecp cewek).
ILU! [lho?].


+++
Nah, aku sekarang adalah Miss A Quarter Life!
Frightened me?
Yes!
Scared me?
Absolutely!
Mad me?
No doubt!

this word again: WHY???
karena aku belum mendapatkan semua dari "tolak ukur kesuksesan seseorang" yang disebut oleh guruku itu.
Naif, ya? Ketika beberapa tahun lalu aku memberikan surat itu pada Si Becks karena ketakutanku jika dia tidak segera keluar dari "zona aman"-nya; eeh, sekarang giliran aku yang mengalami itu.

+++
Btw, ternyata ada buku berjudul sama dengan judul post ini. Terbitan GRAMEDIA (2004), bergenre chiclit.
Ceritanya ttg perempuan seusiaku sekarang yang mengalami fearfull akibat belum menemukan patokan kesuksesannya (dengan indikator umum yang ada di masyarakat kita): karir cemerlang (dengan kedudukan yang diinginkan + calon suami).
Kesanku tentang buku ini: cukup bagus lah, untuk genre ini yang dibikin oleh penulis lokal. Yang membuat menarik adalah karena ini (aku baca tahun 2004) mau enggak mau bakal terjadi padaku. Dan benar: ya tahun ini, meski dengan bentuk fear yang berbeda.


###
AbDal pulang ke Jakarta. Yeah!
Posted by adriani zulivan Posted on 1:59:00 PM | No comments

Being 25

It's hard being 25,
or it is not?

Ya, it's hard when you are:
  • not a girl, not yet woman 
  • still stay at your parent's house & sling down your hand to ask for their money 
  • not workin' yet 
  • not graduate yet from collage 
And it's harder when:
  • The yell of your parents wake you up in every single 'morning call' 
  • People arround you want you to be an ORDINARY ONE 
  • Somebody (or more, include fam.) is waiting for the next step of both of your step-up life level. It's hard, for me. The reason is that I've not get all of that yet! - I still love to have much time with my friends rather than have serious time with my future (ecp about job & husband to be) 
  • Jogja Hut is the place I don't deserve to be there, but I don't even have money to go by with my own 
  • I'm a student, still. 
  • Yes, again, I'm a student, still. 
+
  • Sounding much yell is become my Mom's fave 'workout' now: Hey, when will it finish? I don't like to watch for you all this long!
  • Yes, people, I don't want to this way! 
  • Your mother in law to be wants her only son who is her biggest child give her another child/ren who'll become her grand son/doughter(s), since your husband to be is old enough now to make a family he'll 'feed' by his own money from his hardwork this long. 
WHY it has to be that hard? 

One of my pal said: Gal, you have to go out of that "comfort zone"! Walk out away, you'll find another chance out here!

Another friend: C'mon, c'mon, move a little faster! What are you waiting for? Is it that comfort being a student so you don't want to push that away?

Some other: AbDal: T'rus, kapan mau lulusnya?

OKAY, OKAY! Lemme tell you this:


I don't wannabe like this.
This is not the way I want!
I do, really want to move forward.

I wannabe a bacheloret.
I wannabe a worker.
I want to reach out my life goals.

I'd like to spend my own money.
I'd like to get off of under my parent's underarms.
I'd like to decide my own way.
I'd like to stay in my own house.

I wish I were his wife.
I wish I were his children's mother.
I wish I were the woman who's taking care of his Mom's grand children.

I wannabe...
I'd like to...
I wish I were...

So, for now, I guess it's hard being 25!
But I wannabe, would like, and wish I were 25!
Being 25 in a while is a taken-destiny, and reaching life goals is a must-destiny. ;p Goal it!


Share
|





Posted by adriani zulivan Posted on 1:57:00 PM | No comments

cerita akhir 22

Ini "pergulatan batin" diujung usia 23-ku: I Love 23!

Gosh, what will gonna happen to me tomorrow? What will gonna be when I am 24? What will gonna come when I am no longer 23? Gosh!!!

"Mahluk Tuhan Paling Seksi" (Mulan Jamil).
Kebetulan aku sedang denger lagu itu waktu nulis post ini. Lagu yang sudah beberapa bulan ini masuk dalam playlist MP3 komputerku (takjub bgt dg kamampuan Mr Dhani menciptakan musik luar biasa, apalagi di intronya.

meskipun menurut Abib, sobatku, Dhani tidak bagus bahasa Indonesianya karena liriknya redundant: "kamulah mahluk Tuhan, Yang tercipta, YANG paling seksi". Kebanyakan kata "yang" YANG enggak penting. Iya kan, YANG saYANG?)

Nah, gara2 lagu itu aku jadi dapat kata2 yang pas untuk menggambarkan kekhawatiran dan ketidakrelaanku keluar dari 23. Ya, ternyata!

Hmm selama ini aku merasa bahwa 23 adalah angka seksi, karena menjadi perempuan 23 tahun memang sangat seksi. kenapa?
  • karena kematangan kita bisa diukur di sini (fisik dan emosional) 
  • kita seharusnya sudah memiliki titel akademik yang memuluskan jalan ke dunia kerja. 
  • sudah jelas cita2 hidup (alur berkarir & hubungan dengan 'calon bapaknya anak-anak'). 
Bukankah semua fakta pencapaian itu terdengar seksi?
Iya donk, karena ketika berkenalan dengan orang lain kamu akan mengenalkan diri sebagai pekerja di sebuah instansi (bukan mahasiswi) yang sudah memiliki pegangan mengenai rencana hidup dengan orang yang kamu cintai. Seksi abis!

Itu sebabnya I hate being out of that 23 box. I'd like to be in, again! That's the reason why do I like to use 23 on my identity age whereever I am. But I guess, it will no longer exist since my last conversation with Mom: You'll be 25 tomorrow, Honey! Move up, reach out your life goal!

Hmm, Luv U!



Share
|





  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata