Thursday, August 3, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:14:00 PM | No comments

Tiga Perempuan yang Menempuh Banyak Jalan Sama


Meski usia hanya terpaut empat bulan, Lutfi (berbaju putih) adalah senior Adriani (merah) di pers mahasiswa. Irma bertemu Adriani saat mengikuti pelatihan jurnalis kampus tingkat nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa tahun setelahnya, Irma bertemu Lutfi dalam kegiatan kelompok pecinta buku nasional.

Suatu malam di akhir 2016, Irma menjamu Adriani di salah satu warung paling hips di Makassar, Sulawesi Selatan. Berdua mereka habiskan malam, sebelum masing-masing menggunakan pesawat pagi ke dua kota berbeda. Irma ke Palu, Sulawesi Tengah, Adriani kembali ke rimba ibukota.

Di Palu, Irma mengikuti sebuah agenda nasional terkait literasi. Tentu saja di sana, ia bertemu dengan Lutfi yang terbang dari Jakarta. Satu hal menarik dari hubungan ketiga perempuan ini adalah, dua perempuan yang berdomisili di Jakarta itu, lebih sering bertemu dengan Irma di berbagai kota. Baru sekali keduanya bersua di Jakarta :)

Hal menarik lain adalah, tenyata tiga perempuan yang menempuh banyak jalan sama. Kisah yang baru diketahui dalam pertemuan kedua bagi ketiganya di Jakarta. Jalan tersebut adalah:
  1. Jurnalis kampus murtad, meski terus menulis hingga hari ini. 
  2. Lulus lama, namun masuk bursa kerja sejak di bangku kuliah. Namun hal ini tidak berlaku untuk Lutfi. 
  3. Bukan pendamba wisuda, meski salah satunya dipaksa wisuda oleh #MamakAwak. 
  4. Pecinta buku dan bergiat di komunitas literasi. 
  5. Ga pernah jomblo, tapi lupa jalan ke KUA. Status terkini: sudah, segera dan akan menikah.
Gambar di atas dari pertemuan pekan lalu yang penuh nostalgila.

Mlekom,
AZ

Sunday, July 30, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:34:00 PM | No comments

Selamat Satu Tahun, Subcyclist!


Meski bukan bikinanku, mau pamer dulu. Sebab itulah hakekat media sosial, bukan? 👅

Tahun lalu saat menghadiri agenda UN Habitat, aku yang tukang pamer ini pasang status kalau sedang di Surabaya. Lalu disamber teman yang menandai temannya, lalu temannya ngajakku mancal, lalu aku bertemu dua teman dari temannya itu. Ribet tho? 😤

Intinya, tanpa sengaja saya menjadi bagian penting (di-bold) dalam pembentukan komunitas bernama Suroboyo Cycling Institute (SCI).


Namanya apa, Ndra?
Belom tau nih, tapi kepikiran SCI.
Apik! Yawes aku pake itu ya buat publikasi.
Cak Salas, Cak Zainal, Cak Indra dan Ning Adriani (maksa) pun mulai mancal menyusur Kota Surabaya. Malam itu aku sebenarnya cape banget, baru tiba dari kabupaten lain di Jatim setelah nyaris sepekan kunjungan lapangan (lagak Presiden).

Tapi aku tentu saja ga bisa lewatin janji untuk komunitas yang sedang bangkit. Dan akupun ikut. Eh habis mancal kok bahagianya kaya habis dilamar 💘

Malam itu kulihat betapa siap tiga teman baru ini menata apa yang mereka cita-citakan. "Penglihatan" itu tidak meleset, bahkan melebihi ekspektasi. Dalam tiga bulan pertama, SCI sudah mendapat sambutan publik luar biasa.

Segmen utamanya anak muda. Yang pelajar maupun pekerja. Yang pesepeda maupun bukan. Yang punya pacar maupun jomblo. Eh-- Pokoke beragam!
Dari hanya satu rute yang kami jajal malam itu, yaitu jalur yang melewati bangunan dan kawasan pusaka (makanya aku tertarik ikut), hingga entah sudah berapa rute yang mereka jalani kini.

Oh ya selain ikut "membidani" kelahirannya (ah kamu lebay banget sih mbak!), aku juga--lagi2 tanpa sengaja--berkontribusi pada penciptaan sebutan bagi komunitas ini. Bukan SCI, tapi Subcyclist! #proudMomma 
Nah yang ini panjang ceritanya, lain kali aja.

Yang pasti, anakku yang satu ini kini menjadi salah satu komunitas pesepeda yang paling diperhitungkan di banyak jagad: sepeda, transportasi ramah lingkungan hingga ruang kota.

Di enam bulan awal kutanya apakah mereka telah menduga bahwa Subcyclist akan berkembang sepesat ini? Ternyata tidak, bagi mereka ini sangat mengejutkan.

Nah, inilah bukti nyata bahwa ternyata anak muda Surabaya itu bukan sulit berkembang seperti tuduhan banyak orang. Sejumlah teman yang merupakan warga lokal Surabaya seringkali membandingkan antara kegiatan warga Surabaya dengan aktivisme warga di Yogya, yang menurut mereka sangat berbeda. Kasarnya, warga Surabaya gak mau diajak gerak untuk berbuat sesuatu bagi kotanya!

Namun, Subcyclist tidak membuktikan hal ini. Tak adanya wadah yang mampu menjadi apa yang mereka butuhkan, adalah penyebab keengganan warga untuk terlibat. Begitu asumsiku.

Kini Subcyclist telah berbicara di kotanya sendiri hingga tingkat nasional. Pernah mendapat kesempatan untuk dampingi tamu negara, hingga menjadi bagian dari pengembangan program oleh pemerintah. Sekali lagi, am a proud momma!

Selamat satu tahun buat tiga cak dan ratusan pegiat Subcyclist lainnya. 28.07.2016 - 28.07.2017. Kalian warbyazyak!

Oh ya, kamu harus berkenalan langsung dengan tiga cak berdedikasi yang membangun Suroboyo Cycling Institute sejak telur, piyik, hingga seguedhe sekarang: Cak Salas Suroboyo, Zainal Arifin dan Inanta Indra Pradana (sila cek profil mereka di medsos!). 

Salam #WaniMancal!

Foto: 3 cak + 1 ning yang mencoba rute awal Subcyclist.

Mlekom,
AZ

Tuesday, July 25, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:03:00 PM | No comments

Kebiasaan Tak Lazim Soal Konsumsi Susu


Tentu saja aku mendukung pemberian ASI. Buk ibuk yang di sana jangan nyolot dulu ya...

Jadi gini. Sudah sejak lama aku punya kebiasaan ga lazim soal konsumsi susu.

Waktu kuliah punya badan kerempeng, aku suka konsumsi susu bumil yang dari informasi yang kubaca, kandungan gizinya lebih tinggi daripada susu biasa. Ini setelah Appeton Weight Gain ga ngefek dan ahli gizi cuma bilang "nanti gendut sendiri kalo udah nikah".

Persoalannya, nikah itu lebih sulit dibanding rajin membaca kandungan susu. Maka ketika tiga tahun lalu menggembul (tanpa nikah) tapi masih merasa membutuhkan susu, kubaca-baca lagi kandungan susu 'tidak biasa' yang berjajar di rak susu toko.

Maka pilihan sering jatuh ke: 1) susu bayi. 2) susu orang lanjut usia. Ini yang kandungan kalsiumnya tinggi. Nah biasanya aku jejerin tuh tiga kemasan susu, bandingin masing-masing ingredients. Yang paling tinggi kandungan mineralnya (tentu pake gugling, apa fungsi masing-masing bagi tubuh) akan kubeli.

Jadi hampir tiap bulan susunya ganti. Paling favorit susu bocah bukan bayi. Sebab meski kandungan susu bayi lebih tinggi, rasanya kaya nyium telapak tangan setelah gelantungan di Kopaja non AC gitu. Zat besiiiiii. Besi karatan!

Nah kalo yang ini dikasih. Sebagai salah satu pengguna internet teladan sejagad nusantara, aku sering dihadiahi produk-produk keluaran baru. Ini yang keempat kali dalam tiga bulan terakhir. Mulai dari sampo, deodoran, sabun cuci piring, sampe susu yang baru datang pagi tadi ini.

*menanti komentar dari pegiat kesehatan soal ketidaklaziman ini

#3menitcerita

Mlekom,
AZ

Saturday, July 1, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:15:00 PM | No comments

Mengumpulkan Kebanggaan di Tiap Persinggahan


Lihat foto ini muncul di memori Facebook, jadi pengen cerita. 

Aku merasa beruntung, sebab di tiap "persinggahan" berkesempatan menjadi bagian dari hal-hal membanggakan. Seperti kebanggaan ketika menjadi bagian dari program Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (EMAS).

Foto ini diambil waktu liputan cerita sukses implementasi program di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, 2015 lalu. Puskesmas Kajang yang mendapat dampingan dari program EMAS, dalam waktu kurang dari dua tahun berhasil mengurangi angka kematian ibu dan bayi.

Waktu itu kami wawancarai Bidan Koordinator (Bikor) yang bertugas saat seorang pasien datang dalam kondisi gawat darurat. Pendarahan hebat yang jika di banyak Puskesmas tidak berani menangani.

Namun di tangan Bikor dan tim solid Puskesmas, ibu dan bayi selamat. Dengar kisahnya aja aku ikut bangga, padahal ga ikut melatih mereka apalagi ikut tangani persalinan beresiko tersebut.

Ini baru satu cerita, bagaimana yang kamu kerjakan menjadi manfaat bagi bangsa. Aku punya segudang cerita lain. Tak hanya di EMAS, namun di seluruh "rumah" yang pernah aku "singgahi".

Sebagaimana persinggahan lainnya, sekarang pun aku sedang mengumpulkan kebanggaan di rumah baru. Yang mudah-mudahan juga menggores satu-dua manfaat bagi negeri ini.

Apakah pekerjaanmu lahirkan kebanggaan yang sama? Jika tidak, ada baiknya menciptakaan kebanggan itu, dari dirimu.

#lagakbijak

Sunday, June 18, 2017


Buat teman-teman dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya, saya mau nanya donk: Adakah mekanisme untuk keringanan biaya masuk atau pendaftaran kuliah bagi mahasiswa baru?

Kerabat keluarga kami dari:
  1. Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi diterima di Program Sarjana Ilmu Keperawatan di UI. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek motor dengan pengahasilan tidak menentu. 
  2. Jakarta, diterima di Jurusan Administrasi Publik di Unibraw. Ayahnya bekerja sebagai tim cleaning service di pom bensin dengan penghasilan UMR dan harus menghidupi 4 anak plus menyicil utang. Dikenakan biaya Rp 3.750.000.
Saat aktif di BEM UGM di masa kuliah dulu (iya udah lama banget, sekitar 2004), kami membuat Posko Pengaduan bagi keluarga duafa yang miliki anak pintar namun tak mampu membayar banyak. Jadi para orangtua ataupun calon maba yang telah lolos ujian masuk UGM tersebut, kami bantu mengadvokasi dan mengurus keringanan biaya.

Keringanan biaya bisa dengan tiga cara:
  1. Rp 0, yaitu tanpa biaya sama sekali. Saya ingat, ketika keluarga seorang anak pemecah batu menceritakan berapa penghasilan ayahnya. Waktu itu, dengan sembunyi- sembunyi, saya nangis mendengarnya :( Anaknya sekarang pasti sudah jadi orang, Insya Allah. 
  2. Dengan pengurangan biaya. Jadi orangtua ditanyakan, kira-kira mampunya bayar berapa. Maka jumlah itu yang dibayarkan. 
  3. Dengan menyicil. Jadi jumlah yang ditetapkan kampus, dapat dicicil sebanyak yang mampu dikeluarkan orangtua pada tiap semesternya. Salah satu tetangga saya mengambil cara ini, sekarang anaknya yang tamatan Manajemen itu sudah menjadi pejabat di salah satu kementerian. Duh, saya bangga.
Saya bisa bangga memberi informasi yang tampak sepele seperti ini, sebab anak-anak pintar ini terancam putus sekolah jika tak mampu membiayai :(

Hal ini memungkinkan, sebab kampus negeri melaksanakan sistem subsidi silang bagi biaya penyelenggaraan perkuliahan. Ditambah lagi adanya bantuan dana negara untuk pembiayaan berbagai komponen, seperti gaji dosen dan pegawai, pembelian alat belajar, dan seterusnya.

Saya juga punya pengalaman tidak dapat membantu seseorang. Ketika anak pintar dari Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, tak jadi mengambil Jurusan Ilmu Kedokteran di UI akibat tak mampu membayar biaya masuk. Selain biaya masuk, orangtuanya juga menghawatirkan mahalnya biaya hidup (kos, makan, transport dsb) untuk anaknya.

Waktu itu, saya pun nyerah. Kalau di UGM yang saya paham benar, seorang mahasiswa dapat kuliah dengan biaya yang nyaris nol rupiah samasekali. Ketika masuk, dapat biaya keringanan sebesar Rp 0 tersebut, lalu tinggal di asrama masiswa selama satu hingga dua semester secara gratis.

Kemudian mulai semester kedua jika nilainya baik, dapat mengajukan beasiswa yang jumlahnya melimpah di kampus-kampus negeri. Berbagai perusahaan berlomba-lomba hibahkan dana CSR bagi kampus-kampus ternama. Jaman saya dulu saking banyaknya beasiswa, satu mahasiswa bisa mendapat hingga lebih dari satu beasiswa. Setidaknya uang makan, kos, transpor (kos ke kampus, sebab di UGM ada sepeda kampus), fotokopi, warnet dll terpenuhi dari dana beasiswa tersebut.

Seorang teman di salah satu organisasi, merupakan anak pedagang kitab suci musiman yang menggelar dagangan di depan masjid kala jumatan di Medan, Sumut. Semester awal ia berhasil survive dengan tebengan di kosan teman sesama anak Medan. Semester berikutnya, beasiswa prestasi menyelamatkannya hingga lulus.

Pasti ada banyak kisah lain, seperti menjadi penjaga masjid agar dapat tidur gratis hingga menjadi pelayan resto dan warnet.

Teman-teman lain saya harap memberi bantuan informasi yang sama. Terutama untuk dua calon mahasiswa UI dan Unibraw tsb. Semoga bisa beri informasi, agar dua adik-adik kita ini bisa mengenyam pendidikan sebaik yang pernah kita dapat.

Trims sebelumnya.
Gambar dari sini.


Mlekom,
AZ

Wednesday, January 25, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 12:58:00 PM | No comments

Solo, Surabaya, Bandung. Lalu Mana?


Awal tahun lalu banyak teman membagi daftar provinsi yang sudah dikunjunginya. Jadi pengen nanya: Dari banyak kota yang dikunjungi di berbagai provinsi tersebut, apakah kalian perhatikan kondisi trotoar di kota-kota itu?

Dari begitu sedikit provinsi yang sudah saya kunjungi, saya mencatat hanya tiga kota dengan kondisi jalur pedestrian yang baik. Itupun hanya di Jawa. Baik di sini, menurut saya, bisa diakses tanpa hambatan oleh pejalan kaki dan pengguna kursi roda, serta memiliki blok pemandu tunanetra (tactile paving).

Sesuai urutan waktu pembangunannya, ketiga kota tersebut adalah Kota Solo, Kota Surabaya, dan Kota Bandung. Pemilihan ketiga kota ini, menurut saya, selain karena kondisi trotoarnya baik (meski tidak di banyak ruas jalan), juga berdasar komitmen pemerintahnya dalam menciptakan jalur pedestrian yang memadai (masuk dalam perencanaan dan penganggaran).

Jakarta tidak? Bagi saya, tidak. Selain tidak mengandung banyak unsur yang saya sebut di atas, trotoar baik di Jakarta hanya ada di kawasan SCBD bagian dalam. Bagian luarnya penuh PKL dan kendaraan ngetem. Di kawasan utama seperti Sudirman-Thamrin, meski trotoarnya luas lega, tidak ada blok untuk tunanetra (cek gambar).

Kota Jogja juga tidak, sebab urusan ini baru saja dipikirkan. Baru sedikit bagian Malioboro yang disentuh. Denpasar ada yang baik, tapi banyak sekali lokasi di mana ukuran trotoarnya sangat mini. Makassar di sekitar Pantai Losari yang reklamasi itu, tapi ga ada blok tunanetra. Dll dsb.

Selain tiga kota tersebut, adakah kota/kabupaten lain yang memiliki trotoar yang baik? Mohon masukan. Trims.

Gambar dari sini

Mlekom,
AZ



Sunday, January 22, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:08:00 PM | No comments

Kriteria Trotoar yang Baik dan Kota di Indonesia yang Memilikinya

Lukisan mural di trotoar kawasan Cikini Jakarta Pusat. © Liputan6
Kesejahteraan rakyat dapat dilihat dari kondisi trotoar di kota tempat tinggalnya. Hal ini diyakini oleh sebagian pemerhati masalah perkotaan. Jika ditilik lebih lanjut, pernyataan tersebut ada benarnya. Logikanya, ketika pemimpin mampu menyiapkan ruang publik sesuai peruntukannya, berarti ia telah berhasil menyelesaikan persoalan utama—yaitu pemenuhan hak warga.

Sebagaimana lajur sepeda, tempat penyeberangan, halte dan fasilitas khusus bagi warga berkebutuhan khusus, trotoar merupakan fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana tercantum dalam Pasal 45 Ayat 1 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Bahasan tentang trotoar selalu berkaitan dengan pedestrian atau pejalanan kaki. Pejalan kaki merupakan prioritas utama bagi seluruh areal publik bernama jalan raya, termasuk trotoar. Yang termasuk pedestrian adalah setiap orang yang berjalan kaki di ruang lalu lintas jalan, termasuk pengguna kursi roda.

Sejumlah kota di Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi hak warga atas trotoar tersebut. Dalam rangka Hari Pejalan Kaki Nasional yang jatuh pada 22 Januari, kami mencatat trotoar terbaik di kota-kota di Indonesia. Baik di sini, artinya bisa diakses tanpa hambatan oleh pejalan kaki dan pengguna kursi roda, serta memiliki blok pemandu tunanetra (tactile paving).

Salah satu yang menghambat akses pengguna trotoar adalah keberadaan pedagang kaki lima yang mangkal atau kendaraan parkir. Kondisi trotoar yang baik, meski tidak di seluruh ruas jalan, menjadi penilaian utama kami. Komitmen pemerintah akan penyediaan jalur pedestrian yang baik, seperti memasukkan pembangunannya dalam perencanaan dan penganggaran, merupakan penilaian lainnya. Daftar ini disusun berdasar tahun pembangunan atau revitalisasi trotoar yang sudah dilakukan di kota tersebut.

1. Kota Solo

Pesta Olahraga bagi Atlet Berkebutuhan Khusus se-Asia Tenggara (ASEAN Para Games) keenam diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah pada 2011. Demi menyambut para atlet berkebutuhan khusus tersebut, pemerintah Kota Solo yang saat itu dipimpin Joko Widodo membangun seluruh fasilitas publik agar ramah bagi pengguna berkebutuhan khusus. Mulai dari halte bus yang bisa diakses penguna sepatu roda, hingga trotoar yang memiliki panduan blok untuk tunanetra turut menjadi perhatian.

Sejak saat itu, Kota Solo disebut-sebut sebagai kota yang ramah pada warga berkebutuhan khusus. Usai penyelenggaraan Para Games, Pemkot Solo terus berkomitmen memperbaiki jalur pedestrian hingga Solo menjadi kota pertama dengan trotoar ramah pejalan kaki di Indonesia. Solo bahkan menjadi perintis penyusunan peraturan daerah terkait warga berkebutuhan khusus.

2. Kota Surabaya

Membangun jalur pedestrian yang nyaman dan manusiawi menjadi salah satu program utama Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Kota Surabaya mengklaim, setidaknya 45 kilometer trotoar telah difungsikan sebagaimana mestinya di tahun 2015. Selain pelebaran dan penggantian material, tiap tahun ada saja pembenahan yang dilakukan, seperti pengecatan agar lebih berwarna dan pemasangan hiasan.

Pemerintah Kota juga memastikan bahwa jalur pedestrian ini bebas dari pedagang kaki lima dan parkir liar yang kerap memenuhi trotoar. Dana yang dianggarkan untuk perbaikan trotoar terus meningkat, yaitu sebanyak Rp 80 milyar di t ahun 2016 sedang di tahun sebelumnya Rp 76 milyar.

3. Kota Bandung

Jalan Asia Afrika memiliki jalur pedestrian terbaik di Kota Bandung. Hal ini dapat terjadi atas kerjasama pemerintah dan masyarakat demi menyambut penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 2015 lalu di kota itu. Meski konferensi tingkat dunia tersebut telah usai, Walikota Bandung Ridwan Kamil bertekad untuk merenovasi trotoar di 15 titik lain agar memiliki kualitas sebaik trotoar di Jalan Asia Afrika.

Selain kualitas bahan yang digunakan, jalur pedestrian baru ini juga memerhatikan estetika artistik sebagaimana di Jalan Asia Afrika. Bola batu, pot bunga, petunjuk arah, serta meja dan kursi klasik untuk tempat bersantai dipasang di sana. Selain nyaman, jalur pedestrian ini sangat Insta-able! Demi mempercantik trotoar ini, Pemkot menganggarkan APBD sebesar Rp 163 milyar ditambah Rp 52 milyar dari bantuan Pemerintah Provinsi.

4. Kota Bogor

Sebagai kebun botani, Kebun Raya Bogor (KRB) memiliki tanaman rindang yang meneduhkan. Udara sejuk dan tanah yang asri di sana bahkan membuat Presiden Joko Widodo memilih Istana Bogor yang berbatasan dengan KRB menjadi tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya. Sejak bermukim di sana, Presiden sering berolahraga sore di kawasan KRB. Kebiasaan ini juga diikuti oleh warga, terutama komunitas pelari dan pesepeda.

Demi mendukung semangat masyarakat ini, Pemerintah Kota Bogor pimpinan Bima Arya Sugiarto memperbaiki jalur pedestrian dengan membangun trotoar dan jalur sepeda di sekitar KRB. Hak warga berkebutuhan khusus pun diakomodir dalam trotoar seluas hinga 7 meter tersebut. Pembangunan yang menggunakan dana senilai lebih dari Rp 32 miliar ini, diharap mampu wujudkan cita-cita Bogor sebagai kota ramah pejalan kaki.

Pejalan kaki adalah prioritas utama di seluruh ruas jalan. © ITDP Indonesia
Selain keempat kota tersebut, pemerintah daerah lain pun sedang berbenah. Kota Jogja mulai merevitalisasi trotoar kawasan Malioboro sejak April 2016, dengan dana sebesar Rp 124 milyar. Akhir 2016 lalu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat perbaikan trotoar di 48 lokasi di 42 kecamatan, dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 250 milyar. Dan masih ada berbagai kota lainnya.
Komitmen para pemerintah daerah dalam memenuhi hak warga ini patut didukung. Tugas masyarakat adalah mengawasi pembangunannya.

Tulisan ini dimuat di Good News from Indonesia pada 22 Januari 2017.

Monday, January 2, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 PM | No comments

Belanja (Masih Saja) Hasilkan Sampah


Percobaan pertama belanja di pasar tradisional dengan mengurangi sampah plastik.

Ceritanya mau bikin mie keling Medan. Beli bahan yang ga ada dan habis di rumah, sekalian belanja bahan masakan lainnya.

Berangkat berbekal dua tas kanvas dan dua kotak plastik. Kotak pertama diisi mie basah, kotak kedua beras ketan. Kentang, jeruk nipis, tempe koro, terasi, daun jeruk, sere dan bayam masuk kedua tas. Ini berhasil minta penjual untuk masukkan langsung ke dalam tas, meski beberapa barang sudah dibungkus sebagai paket-paket kecil.

Nanas basah yang sudah dikuliti akan basah dan kotor jika bercampur bahan makanan lainnya. Ebi yang kecil-kecil akan jadi pe-er jika dituang langsung ke dalam tas dan bercampur dengan yang lain. Ikan keranjang buat #Ponpon, toge dan labu siam yang sudah dicacah juga begitu. Kalau telor masih belom punya ide bagaimana mengamankannya jika tanpa plastik--perlu bawa keranjang/tempat telor kali ya?

Pulang nambah empat lembar plastik lagi untuk kemudian hanya menjadi sampah di rumah. Kalau pakai mobil (gas buang!) enaknya bisa bawa banyak tempat untuk belanjaan yang ga bisa dicampur, di Jakarta aku belanja pake Kopaja euy.

Menurutmu gimana? Butuh masukan, trims.

Mlekom,
AZ


Sunday, January 1, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:52:00 PM | No comments

Resep Itu Berbahan Kualitas Rasa dan Ketepatan Waktu


Jarum jam melangkah ke angka tiga, ketika sore itu kami tiba di kediaman Pak Bas (72). Basis Hargito, begitu nama panjangnya, tampak sibuk di dapur. Pak Bas mengocok telur, sedang istrinya Bu Gidah (64) memanggang di oven. Formasi kerjasama ini telah mereka lakukan sejak 1983.

Dimulai pukul 07.00, tiap hari pasangan ini sambangi dapur meski di hari libur. "Ga ada libur, kan bukan pegawai," kelakar Pak Bas. Mengaduk telur dan gula dengan sendok kayu, mengocoknya dengan kocokan telur per, mencampur dengan terigu dan susu, menuang di cetakan, memanggang, menjaga api, melepas roti dari cetakan, mengoles kuning telur, membungkus, membagi sesuai jumlah pesanan dan memajang di rak jual.

Seluruh aktivitas itu mereka kerjakan berdua saja, dengan sesekali dibantu anak-anaknya. Urusan dapur akan selesai pukul 17.00, dilanjut melayani pembeli dan mencatat pembukuan. Tanpa disadari, keseharian ini menjadi kontribusi sangat berharga dalam melestarikan pusaka tak benda (intangible heritage) yang dimiliki Indonesia.

Pak Bas yang selalu tersenyum ramah.
Kembang Waru
Pak Bas dan Bu Gidah merupakan satu dari hanya lima pengrajin roti kembang waru yang tertinggal. Kue (oleh warga setempat disebut roti) ini merupakan menu hajatan yang ditinggalkan oleh masa Kerajaan Mataram. Mulai upacara kehamilan, kelahiran, pernikahan hingga kematian, roti kembang waru selalu ada dalam sajian makanan ringan dan hantaran atau bingkisan untuk dibawa pulang oleh tamu.

Menurut Pak Bas, makanan ini dinamai kembang waru, sebab bentuknya mirip dengan bunga kembang waru yang dahulu banyak tumbuh di sekeliling Pasar Gede di kawasan Kotagede. Penciptanya adalah keluarga kerajaan yang menurunkan resepnya turun-temurun hingga sampai ke keluarga Pak Bas. "Saya enggak tahu ini resepnya pertama dapat dari mana, saya dapat dari orangtua," katanya.

Awalnya Pak Bas, sebagaimana kebanyakan profesi di Kampung Basen, bekerja sebagai pengrajin blek. Blek merupakan sebutan untuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari logam seperti ceret air, dandang penanak nasi, oven pemanggang dan sebagainya. Seiring waktu, peminat blek berkurang akibat serbuan produk rumah tangga berbahan plastik. Satu per satu pengrajin gulung tikar, termasuk Pak Bas.

Bersama istri, ia bertekad meneruskan usaha keluarga dengan menjual roti kembang waru. Saat itu mereka tidak sendiri, puluhan pengrajin blek lainnya juga beralih profesi menjadi pembuat roti kembang waru. Hingga penganan ini berhasil dikenalkan sebagai makanan keseharian yang tak hanya bisa dinikmati dalam upacara adat.

Pesanan utama datang dari keluarga yang mengadakan hajatan, lalu masyarakat umum yang sekadar ingin menyicipi. Hingga saat ini roti kembang waru bikinan Pak Bas telah melanglang ke sejumlah pulau di nusantara dan berbagai negara. "Ada saja orang yang memesan dan membawanya kembali ke daerah atau negaranya," terang Pak Bas.

Bu Gidah di depan oven dan tungku tradisional.

Resep
34 tahun kini, meski puluhan pengrajin roti kembang waru telah lama berhenti berproduksi, Pak Bas dan keluarga terus mengepulkan dapur produksinya. Ia menerima mahasiswa, peneliti, pejalan maupun wartawan yang ingin belajar dengan tangan terbuka.

2 kg telor : 1 kg gula : 1 kg tepung. Begitu resep satu adonan roti kembang waru yang dibuat Pak Bas. Dalam 10 jam per hari itu, rata-rata ia mampu hasilkan 500 potong kue. Jumlah jam kerja ini bertambah jika mendapat banyak pesanan. Namun ada ataupun tak ada pesanan, ia akan selalu membuat roti kembang waru untuk masyarakat Yogyakarta.

Bagi Pak Bas, resep roti kembang waru yang dibuatnya tak hanya berbahan telur, gula dan terigu, namun juga kualitas rasa dan ketepatan waktu. "Saya jaga betul kualitas rasa roti buatan saya agar tidak ada yang berbeda sejak dahulu hingga sekarang, juga memastikan seluruh pesanan bisa diselesaikan tepat waktu agar kami terus mendapat kepercayaan pelanggan," jelasnya.

Kualitas bahan ini merupakan hal utama. Pak Bas menggunakan gula asli dan bukan pemanis buatan, tidak mengurangi jumlah telur meski ini merupakan bahan termahal, juga memastikan proses pematangan yang benar-benar sempurna. Ia sebagaimana pendahulunya, hanya mengganti bahan tepun menjadi terigu.

Di masa kerajaan tepung yang digunakan adalah tepung ketan, tentu akibat belum adanya teknologi untuk membuat gandum menjadi tepung. Penggunaan terigu tentu membuat rasa kue ini menjadi lebih enak dan proses pembuatan menjadi lebih murah. Dampaknya, harga jual tak pernah mahal. Di awal Januari 2017 ini masih dihargai sebesar Rp 1.600 per buah.


Generasi Kedua
Kampung Basen Kecamatan Kotagede terletak di kawasan perkotaan Yogyakarta dimana warganya kini memiliki beragam profesi. Kendala terbesar dalam melestarikan camilan ini adalah makin minimnya generasi Kampung Basen yang tertarik untuk meneruskan usaha tersebut, padahal para generasi kedua yang kini memegang kendali sudah tak lagi muda.

Ancaman hilangnya roti kembang waru bukanlah sekadar mengada-ada. Di masa jayanya, sejumlah pengrajin blek membuat cetakan dan oven pemanggang roti kembang waru. Pengrajin blek terakhir bertahan hanya hingga 2014 lalu, hingga pembuat roti kembang waru harus membuat sendiri cetakan dan oven yang mereka butuhkan.

Apakah kita hanya sedang menunggu roti kembang waru berhenti dibuat?

Mlekom,
AZ


Saturday, December 31, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:51:00 PM | No comments

Layanan Puskesmas di Kota Jogja

Pernah gunakan layanan Puskesmas di sekitar tempat tinggalmu?

Saya (akan) pernah.




Update, setelah selesai layanan:


Menurutku ini kemahalan untuk layanan Puskesmas, mengingat profil pengguna layanannya. Tadi tambal dua gigi kena Rp 30.000. Jadi total Rp 52.000, angka yang pasti besar untuk kebanyakan pengguna Puskesmas yang ga punya jaminan kesehatan.


Di Jakarta (aku berobat di Puskesmas Menteng Jakarta Pusat) semua layanan Rp 2.000 di jam kerja, Rp 15.000 setelah jam/hari kerja (layanan klinik umum 24 jam/7 hari). Layanan tambal gigi seharga Rp 10.000, alat dan fasilitas di ruang gigi sudah pakai teknologi terbaru sebagaimana di rumah sakit. Belum lagi soal bagunannya yang boleh lah disamakan dengan kelas rumah sakit kecil/klinik besar.


Di Puskesmas di tengah kota Yogya ini, lampu sorotnya mati, sedotan saliva ga fungsi dan air kumur diambil dari kran washtafel. Huf, padahal Yogya menjadi barometer kesehatan di Indonesia.


Yang bikin beanya lebih mahal pastinya akibat minimnya alokasi anggaran kesehatan sebagai subsidi pemerintah. Ah sayang sekali, ini yang agak mengecewakan. Tapi layanan dan kesigapan petugas oke semua, malah lebih ramah dari Jakarta.


Kesimpulan: akan datang kembali jika membutuhkan, tapi semoga ga ada keluhan kesehatan apapun deh. Amin.


Mlekom,

AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata