Sunday, September 4, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Sunday, September 04, 2016 | No comments

Kurang Apa Kita ke Negara?


Tadi pagi baca postingan pak Singgih Susilo Kartono di atas. Jadi teringat...

Aku pernah bikin presentasi untuk salah satu kementerian yang akan bertemu sebuah badan dunia di forum internasional. Bahan acuan dari mereka hanya 5 slide presentasi berbentuk ppt yang... ya kelen taulah macamana. Ngerjainnya sambil ketawa-tawa... yang menguasai materi kan aku (iya ini sedang nyombong kelewatan) kenapa yang diutus mereka ya?

Giliran aku bikin presentasi sendiri (bukan dibikinin orang lain) untuk konferensi internasional, aku kudu mecah celengan yang kutabung dengan keringat dan air mata (yak mulai lebay) plus nyari sponsor sendiri (termasuk dari pak Julipan) untuk membeli tiket ke tempat konfrensi. Meskipun aku ada di forum itu untuk ceritakan keberhasilan Indonesia....

Kalo dipikir-pikir, kurang apa coba kita ke negara ini? "Kurang sabar," kata temenku :(

*Disclaimer: this post is personal.

Mlekom,
AZ


Friday, August 26, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Friday, August 26, 2016 | No comments

Keajaiban Cinta Rasul

Mumpung Jumat! :)
Keajaiban Cinta RasulKeajaiban Cinta Rasul by Arif Rahman Lubis
My rating: 4 of 5 stars

Seperti biasanya, usai shalat Idul Fitri Rasulullah SAW mengunjungi tiap rumah untuk bersilaturahmi. Dalam perjalananya, Rasul melihat seorang anak kecil berpakaian compang-camping sedang menangis tersedu di pinggir jalan.

"Anakku, mengapa kamu menangis, bukankah ini Hari Raya?" tanya Rasul pada bocah yang menelungkupkan wajahnya itu.

"Aku ingin merayakan Hari Raya dengan ayahku. Tahun lalu ia membeli gaun hijau untukku, juga sepatu baru. Itu Hari Raya terakhirku dengannya. Ayah ikut berperang bersama Rasulullah, ia terbunuh. Tak ada lagi ayah, tak ada lagi yang membeliku baju baru," jelasnya masih dengan wajah menelungkup.

"Anakku, hapuslah air matamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Apakah kamu ingin Fatimah menjadi kakakmu dan Aisyah menjadi ibumu?"

Tangisnya segera hilang. Ia angkat kepala untuk melihat pada asal suara. Dipandangnya laki-laki yang berbicara padanya itu dengan takjub. Ia tahu, beliau adalah Rasulullah. Ia pun mengangguk setuju.

Rasul menggandeng tangan bocah ini ke rumah, lalu memerintahkan Fatimah untuk memandikan, menyisiri dan memberikan pakaian baru. Ia juga mendapat uang saku Hari Raya, lalu diantarkan untuk bermain bersama anak-anak sebayanya.

Seseorang bertanya, "Hai gadis kecil, apa yang terjadi? Mengapa kau menjadi sangat gembira?"

Sambil menunjukkan gaun dan uang Hari Raya-nya, gadis itu menjawab, "Akhirnya aku memiliki ayah, juga kakak yang menyisiri rambutku dan memakaikan gaun indah ini. Ingin rasanya kupeluk seisi dunia," seru gadis kecil.

Perhatikan sekelilingmu, apakah ada orang yang membutuhkan bantuan--merupakan satu dari sekian banyak pelajaran dari Rasulullah untuk dapat mencintai. Cerita-cerita ini yang bisa didapat di buku ini.

Satu-satunya hal mengganggu pada buku ini adalah, penggunaan kata "badui" untuk menjelaskan orang-orang udik atau belum terpapar informasi/agama (uncivilized).

View all my reviews

Thursday, August 25, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Thursday, August 25, 2016 | No comments

Not A Video Reenactment: Weiner


There is a powerful women behind your success. People says so. Wiener story in this documentary video explains everything.

Families with a successful position in the political world, how the people who really understand how political is must sacrifice everything for it: family, dignity, position! Sex scandal certainly be the brunt of this.

At the first time, I thought this is a kind of video reenactment, since the cinematography, setting, costumes, etc. and so on is wonderful. Yes it is, since this is the real footage of the actors themselves.

I was googling for "Huma Abedin" and "Anthony Weiner". There they are!

This documentary is something that really need to be watched, for anyone who wants to go forward to that world! But this piece from two days ago is something you need to be considered!

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 23, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Tuesday, August 23, 2016 | No comments

Lidah Udik

Tadi siang makan di restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan megah di Jakarta, ga enak padahal sudah pasti mahal apalagi ditraktir sebuah brand global. [Tim yg nraktir juga blg: di sini mah yg enak cuma gado2]

Malam ini makan nasi uduk yang saya masak sendiri di #raiskuker, enak banget padahal cuma modal beras, bumbu dapur dan santan yang semuanya sangat murah.

Lidah saya yang suka uduk ini memang udik... Cen ndeso tenan!

Ini menu makanan traktirannya.

Mlekom,
AZ

Friday, August 19, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Friday, August 19, 2016 | No comments

Cara Mengembalikan Foto yang Hilang dari SD Card

Pekan lalu aku berkesempatan menyaksikan tari sakral dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bedhaya namanya. Tarian sakral ini dulunya hanya boleh ditonton oleh keluarga kerajaan, kini ketika kraton menampilkan tarian ini ketika menyambut tamunya.

Seumur-umur memang baru sekali melihat pertunjukan tari bedhaya secara langsung. Pernah menonton tarian ini di TVRI Yogya ketika menyiarkan langsung pernikahan anak Sultan Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Intinya, aku bahagia sekali malam itu. Sampe SD card penuh dioakai untukmotret dan videokan tariannya. Beberapa hari kemudian setibanya di Jakarta, kusalin foto-fotonya ke komputer. Eh kemarin foto-fotonya kok ya hilang! :'(

Duh kebayang kan sedihnya. Kapan lagi dapat kesempatan menjadi tamu kehormatan Kraton Surakarta seperti kemarin itu...

Lalu... gugled, tentu saja! Dan ya ya, setelah mencoba sekian saran di sana, ini yang 'mempan' mengembalikan file-file tersebut: Zero Assumption Recovery (ZAR X) yang infonya kuperoleh dari sini.

Setelah unduh perangkat lunaknya di sini, aku tinggal membuka aplikasinya. Masukkan SD card yang fotonya terhapus itu. Lalu pilih "Image Recovery" --> pilih "Disk and Partition" yang akan dikembalikan --> klik "Next". 

Tunggu deh sampai recovery selesai. Lalu pilih "Location" folder yang akan dijadikan tempat menyimpan di komputer. Selesai!

Soal berapa banyak atau berapa lama (tanggal pengambilan gambar) foto yang bisa dikembalikan, aku ga tahu. Tapi foto pekan lalu yang saya cari sudah pulih semua, salah satunya foto di atas.

Selamat mencoba!

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 17, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Wednesday, August 17, 2016 | No comments

Mengisi Kemerdekaan, Hari Ini


Saya mengisi kemerdekaan dengan:

  1. Menulis cerpen (uhuk!)
  2. Bikin kue bolu 
  3. Beberes
  4. Masak ikan goreng & sayur lodeh 
  5. Silaturahmi ke teman 
  6. Baca buku 
  7. Pesbukan. Twitteran. IGan. 
Itu seharian tadi.

Alhamdulillah merdeka dalam berkarya, berkeluh-kesah, bertemu dan berkata tidak. Saya diberi kesempatan untuk mengutarakan yang ingin diutarakan. Diperbolehkan melakukan hal yang disuka. Dibebaskan untuk bertemu dengan siapa saja. Bahkan didukung ketika saya tidak ingin mengerjakan apapun.

Keseharianmu sudah merdeka? 
#‎RI71‬ ‪#‎Merdeka

Bolu yang kubikin hari ini.

Mlekom,
AZ

Sunday, August 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Sunday, August 14, 2016 | No comments

Lelaki Muda yang Duduk Bersila di Bangku Tunggal


Dengan susah payah kunaiki tangga kereta. Dua koper di tangan menjadi sebab sulitnya aku bergerak. Koper ini nantinya akan kubawa ke bandara.

Seluruh kursi di sekitar tempatku berdiri penuh. Memang pada tiket kereta lokal jarak pendek ini tertulis "tanpa tempat duduk", yang berarti aku harus berebut dengan ratusan orang untuk mendapatkan sebuah kursi.

Tak ada tanda-tanda kursi kosong. Dengan dua koper ini, aku tak mungkin pula bergeser untuk mencari kursi kosong ke gerbong lain. Maka kusandarkan badan di tiang penyangga, dengan kedua koper kuletakkan menyandar kaki. Di balik tiang ada sebuah bangku tunggal (single seat) yang diduduki lelaki muda. Kedua kakinya diletakkan di atas kursi, bersila.

Di depan lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, berdiri seorang bapak yang mengaitkan tanggannya ke dua bocah usia sekolah dasar. Bapak-anak ini clingak-clinguk mencari bangku kosong yang dapat mereka duduki. Tak ada. Sebagaimana aku, mereka pun mencari sandaran. 

Pada lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, rasanya ingin kutanyakan: Apakah boleh jika bangkunya diberikan kepada bapak yang membawa anak itu?

Tapi kuurungkan. Entah mengapa.

Kereta jalan. Tak lama terdengar lantunan ayat suci. Merdu, sebagaimana yang sering kudengar dari rumah ibadah di lingkungan kami. Keras, di tempat yang tak semestinya ini. Suara merdu nan keras yang bersahutan dengan deru laju kereta. Tak hanya satu, tapi dua. Satu lantunan keluar dari lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal, satu lantunan lain dari bangku di sampingku yang diduduki perempuan bercadar hitam. Keduanya memegang kitab yang sama dengan kondisi terbuka sebab sedang dibaca.

Bagiku, saking sucinya kitab itu, aku merasa membutuhkan privasi yang lebih ketika aku 'bercinta' dengannya. Kurang afdol rasanya membaca di tengah kerumunan orang yang merasakan ketidaknyamanan, sementara aku bisa duduk nyaman membacanya. Tak sudi pula aku membacanya dengan suara keras ketika aku berada di tempat umum yang bukan tempat ibadah, kitab ini terlalu suci untuk mengganggu ketenangan orang lain.

Namun justru itulah yang terjadi. 

Belum setengah jarak kami tempuh dalam perjalanan sejam ini, kudengar suara lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara kepada seorang lelaki berkulit putih bermata sipit. Lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Bahasa Indonesia, bahasa Arab. Terus begitu. 

Kepada lelaki berkulit putih bermata sipit, si lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal mempertanyakan soal agama. Memang lelaki berkulit putih bermata sipit sedang membaca buku tentang sebuah agama yang berbeda dengan agama lelaki muda yang duduk di bangku tunggal.

Apakah anda benar-benar membaca al-kitab dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa hanya Islam lah agama yang dirahmati Allah?

Lelaki muda yang duduk di bangku tunggal terus berbicara dengan suara yang dapat didengar penumpang di setengah gerbong kereta. Dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Lalu bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Begitu terus hingga kereta kami tiba di stasiun tujuan.

Meski sesekali ia anggukkan kepala, lelaki berkulit putih bermata sipit terlihat tak nyaman dengan obrolan itu. Tentu saja. Laki muda yang duduk bersila di bangku tunggal terbiasa membicarakan tentang keagamaan di mana pun, kapan pun. Dari penampilannya yang tampak seperti pekerja kantoran itu, lelaki berkulit putih bermata sipit ini tampak tak siap. Bukan 'lawan' yang sebanding.

Kubayangkan ketika aku sedang melakukan aktivitas keseharian, seperti naik kereta api, bertemu dengan seseorang dari negara yang sama denganku yang menanyakan:

Apakah anda benar-benar membaca kitab suci dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa Islam adalah agama pengembangan, bukan agama asli yang diturunkan Tuhan?

Aku pasti tidak nyaman. Bukankah agama/ajaran/kepercayaan adalah hal paling pribadi yang dianut tiap manusia? Bukankah ini merupakan urusan masing-masing manusia dengan penciptanya (hambluminallah)?

Lain hal jika akulah yang membuka obrolan tentang itu. Atau ketika aku menghadiri sebuah diskusi keagamaan. Itu pun rasanya tak elok jika ada kesan apalagi pernyataan yang menyudutkan keyakinan orang lain.

Dari pada mempertanyakan mengapa orang lain memeluk agama yang tidak sama dengan agamamu ( ingat lakum diinukum wa liyadiiin), lebih baik mengoreksi peran sosialmu (kewajiban hablumminannas) ketika tidak memberikan bangku pada orang yang lebih berhak, ketika mengganggu ketenangan orang lain di kendaraan umum, dan ketika 'menyerang' keyakinan orang lain di saat yang tidak tepat.

Tentang lelaki berkulit putih bermata sipit ini, temanku memberi komentar:
"Lagi apes aja!". Semoga Allah merahmatinya, juga merahmati lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal.

Mari mendoakan agar segala tindak tanduk dan ibadah kita disempurnakanNya.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Thursday, June 16, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Thursday, June 16, 2016 | No comments

Jadi Anak Saya Mau Mati?


Kasus Berat Membuat Puskesmas Plumbon Merasa Tertantang

Pada sebuah malam di bulan ketujuh kehamilannya, Nurlaila (21) merasakan pada perutnya. Rasa sakit ini terus berlanjut hingga pagi hari. Ibu mertua pun menganjurkan Nurlaila untuk memeriksakan dirinya ke Puskesmas. Hari itu, 22 Maret 2016, Nurlaila berkunjung ke Puskesmas Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat engan diantar suaminya Joko Triyono (26). rangkatlah Nurlaila ke Puskesmas Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pasangan ini sekaligus ingin melakukan pemeriksaan USG untuk melihat jenis kelamin bayinya.

“Saat kami periksa di Poli Kesehatan Ibu dan Anak, ternyata banyinya sudah siap dilahirkan,” jelas Ida Saidah, Bidan Koordinator. Selama ini Nurlaila memang jarang memeriksakan kandungan, hanya beberapa kali di Bidan Desa di kampungnya. Kampungnya berada di lokasi yang cukup jauh dari Puskesmas Plumbon. 

Nurlaila segera dipindahkan ke Ruang Bersalin. dr Hijrah Broztidadi, Dokter PONED yang memeriksanya, mendapati Nurlaila dengan kondisi bukaan lengkap. Maka lahirlah Silvi, dengan kondisi prematur. Berat badannya hanya 1700 gram. 

Ia hanya menangis sebentar, tanda ia tidak bernafas. Bayi ini harus menjalani perawatan untuk penanganan bayi berat lahir rendah (BBLR). Dua jam berselang, Silvi tetap tak mampu bernafas. Ia lalu dideteksi mengalami sianosis yang merupakan gejala bronkopneumonia atau peradangan jaringan paru yang menyebabkan sesak nafas. 

“Tonus ototnya lemah, jadi bayi terlihat lemas,” jelas dr Hijrah. Pemeriksaan GDS pun dilakukan, dengan hasil hanya 24 mg/desiliter.

Silvi dirawat di inkubator, diberi obat melalui infus, serta dijadwalkan pemberian ASI. Keesokan harinya, berat badannya turun menjadi 1500 gram. Lalu sesuai standar, pemeriksaan GDS pun dilakukan sevara rutin. Di hari ketiga, berar badanya meningkat menjadi 1650 gram dengan GDS yang sudah normal. 

Keluarga pun meminta persetujuan Puskesmas agar dapat membawa pulang Silvi. Selain inform concent, Puskesmas juga menginformasikan keluarga cara merawat Silvi. Dua pekan setelah pulang ke rumah, Silvi dibawa kembali ke Puskesmas. Kali ini ia mengalami bronkopnemoni atau sesak nafas dengan niamoni. “Kami segera lakukan stabilisasi, dan mempersiapkan proses rujukan,” jelas Ida.

Namun keluarga menolak merujuk Silvi, sebab mereka tidak memiliki BPJS dan tak mampu membayar biaya rumah sakit. Maka Puskesmas kembali berikan inform concent yang menyatakan bahwa keluarga siap dengan apapun yang terjadi kepada SIlvi setelah ditandatangani di Puskemas.

“Kami lakukan perawatan bronkopnomeni dan BBLR dengan posisi bayi di inkubator,” jelas dr Hijrah. Empat hari kemudian, berat badannya meningkat pesat menjadi 2000 gram dan stabil dari bronkopnemoni. Sebelum Nurlaila membawa bayinya pulang, sekali lagi Puskesmas melakukan konseling tentang cara perawatan bayi. Termasuk cara pemberian ASI yang benar Metode Kangguru yang menjadi protap EMAS.

EMAS atau Expanding Maternal and Neonatal Survival merupakan program yang didanai USAID untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Meningkatkan pengetahuan staf Puskesmas merupakan salah satu komponen utama yang dilakukan EMAS. EMAS mulai mendampingi Puskesmas Plumbon di tahun 2012.

“Tiap selesai memenuhi satu jadwal, saya tinggal contreng di jadwal pemberian ASI yang diberi Puskesmas,” kata Nurlaila. “Ibu Laila sangat cerdas, ia selalu mematuhi jadwal sehingga bayinya sehat,” kata dr Hijrah. Bidan Desa pun selalu memantau perkembangan Silvi. “Tiap selesai beraktivitas, saya sempatkan mengunjungi rumah pasien untuk memantau perkembangannya. Setidaknya tiga hari sekali hingga bayinya benar-benar sehat,” kata Farhatun Nufus, Bidan Desa.

Ketika berat badan bayinya mencapai 2500 gram, Farhatun mengantar Nurlaila ke Puskesmas untuk imunisasi. Saat berkunjung ke Ruang Bersalin, ia membaca sebuah poster berisi jobaid tentang penanganan BBLR. “Ternyata saat itu anak saya mau mati, ya?” tanyanya kaget pada bidan di sana. Jobaid merupakan salah satu  protap EMAS, berisi informasi cara penanganan suatu komplikasi dalam persalinan dan bayi baru lahir yang akan membantu petugas Puskesmas di tempat tindakan.

Nurlaila sangat berterimakasih pada Puskesmas Plumbon yang telah menyelamatkan nyawa putrinya. Ini adalah anak pertamanya dari kehamilan ketiga, dengan dua bayi di kehamilan sebelumnya meninggal dunia setelah dilahirkan prematur. 

Bagi Puskesmas Plumbon, menangani suatu kasus berat membuat tim makin semangat sebab kemampuannya tertantang. “Ketika kami berhasil menanganinya, kami bangga sebab ada satu nyawa lagi yang terselamatkan,” jelas dr Hijrah.

Gambar: Nurlaila bersama tim Puskesmas Plumbon.

Adriani Zulivan

Tuesday, May 31, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Tuesday, May 31, 2016 | No comments

Pak Presiden Joko Widodo, Selamatkan Kami


Jika hari ini aku ada di Yogya, aku pasti akan makan di warungnya Mas Jody. Tentu karena di hari ini, warung itu mengajak pelanggannya untuk sejenak memikirkan dampak dari asap rokok. Aku senang ada pengusaha yang memikirkan hajat hidup orang banyak, hal yang seringkali terlupa oleh pemerintahku.

Sebagai orang Indonesia, aku agak malu ketika mengetahui betapa pemerintahku alpa menjadikan kesehatan publik sebagai salah satu hal yang semestinya diutamakan.

Indonesia --negara yang di dalamnya terdapat satu dari lima pabrik produsen rokok terbesar di dunia, dengan angka perokok yang juga terbesar kelima di dunia-- seringkali lupa, bahwa menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FTTC) sama dengan menyelamatkan jutaan warganya.

Hari ini sekali lagi, aku mengajak pemerintahku untuk tidak lupa. Apa guna Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) diperingati pemerintahku di Kementerian Kesehatan setiap tahun, jika menterinya selalu alpa?

Sudahlah tentang devisa yang tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung negara untuk pengobatan. Sudahlah soal warisan budaya, yang semua orang paham bahwa warisan buruk harus disudahi. Sudahlah!

Pertanyaanya: Antara pemerintah dan pemilik warung, siapa yang lebih peduli pada hajat hidup orang banyak?

Pak Presiden Joko Widodo, selamat kami.

Mlekom,
AZ

Thursday, May 12, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on Thursday, May 12, 2016 | No comments

Dua Mata Zoro

This is Zorro, my sister's favourite. She gave him this name since he has black hair like tuxedo. Real Zorro (in the movie) wears tuxedo, right?

He is a cat, belonging to our neighbor. But he, along with another cat, named Koneng, come to our house from dawn till night. They both eat there, then go somewhere on bedtime--maybe they return home to the owner.

They came to us since they were small, almost a year to this day.

Early month this May, Zorro did not come to our home for two days. When he came, I saw his eyes were red and there were plenty of dried mucus in the corner of his eye. I'm sure he's eyes's sore, but we did't know why.

Today, four days after he returned, the vet said that his eyes could no longer see. The exact cause is unknown. I just remember that he did not know where's his plate, so he just rely on smell to find foods.

Please help us to keep Zorro happy as he was, eventhough his two eyes could no longer see. We love you, Zorro!

Mlekom,
AZ



  • mata-mata

  • ngeksis