Sunday, June 18, 2017


Buat teman-teman dari Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya, saya mau nanya donk: Adakah mekanisme untuk keringanan biaya masuk atau pendaftaran kuliah bagi mahasiswa baru?

Kerabat keluarga kami dari:
  1. Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi diterima di Program Sarjana Ilmu Keperawatan di UI. Ayahnya bekerja sebagai pengemudi ojek motor dengan pengahasilan tidak menentu. 
  2. Jakarta, diterima di Jurusan Administrasi Publik di Unibraw. Ayahnya bekerja sebagai tim cleaning service di pom bensin dengan penghasilan UMR dan harus menghidupi 4 anak plus menyicil utang. Dikenakan biaya Rp 3.750.000.
Saat aktif di BEM UGM di masa kuliah dulu (iya udah lama banget, sekitar 2004), kami membuat Posko Pengaduan bagi keluarga duafa yang miliki anak pintar namun tak mampu membayar banyak. Jadi para orangtua ataupun calon maba yang telah lolos ujian masuk UGM tersebut, kami bantu mengadvokasi dan mengurus keringanan biaya.

Keringanan biaya bisa dengan tiga cara:
  1. Rp 0, yaitu tanpa biaya sama sekali. Saya ingat, ketika keluarga seorang anak pemecah batu menceritakan berapa penghasilan ayahnya. Waktu itu, dengan sembunyi- sembunyi, saya nangis mendengarnya :( Anaknya sekarang pasti sudah jadi orang, Insya Allah. 
  2. Dengan pengurangan biaya. Jadi orangtua ditanyakan, kira-kira mampunya bayar berapa. Maka jumlah itu yang dibayarkan. 
  3. Dengan menyicil. Jadi jumlah yang ditetapkan kampus, dapat dicicil sebanyak yang mampu dikeluarkan orangtua pada tiap semesternya. Salah satu tetangga saya mengambil cara ini, sekarang anaknya yang tamatan Manajemen itu sudah menjadi pejabat di salah satu kementerian. Duh, saya bangga.
Saya bisa bangga memberi informasi yang tampak sepele seperti ini, sebab anak-anak pintar ini terancam putus sekolah jika tak mampu membiayai :(

Hal ini memungkinkan, sebab kampus negeri melaksanakan sistem subsidi silang bagi biaya penyelenggaraan perkuliahan. Ditambah lagi adanya bantuan dana negara untuk pembiayaan berbagai komponen, seperti gaji dosen dan pegawai, pembelian alat belajar, dan seterusnya.

Saya juga punya pengalaman tidak dapat membantu seseorang. Ketika anak pintar dari Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, tak jadi mengambil Jurusan Ilmu Kedokteran di UI akibat tak mampu membayar biaya masuk. Selain biaya masuk, orangtuanya juga menghawatirkan mahalnya biaya hidup (kos, makan, transport dsb) untuk anaknya.

Waktu itu, saya pun nyerah. Kalau di UGM yang saya paham benar, seorang mahasiswa dapat kuliah dengan biaya yang nyaris nol rupiah samasekali. Ketika masuk, dapat biaya keringanan sebesar Rp 0 tersebut, lalu tinggal di asrama masiswa selama satu hingga dua semester secara gratis.

Kemudian mulai semester kedua jika nilainya baik, dapat mengajukan beasiswa yang jumlahnya melimpah di kampus-kampus negeri. Berbagai perusahaan berlomba-lomba hibahkan dana CSR bagi kampus-kampus ternama. Jaman saya dulu saking banyaknya beasiswa, satu mahasiswa bisa mendapat hingga lebih dari satu beasiswa. Setidaknya uang makan, kos, transpor (kos ke kampus, sebab di UGM ada sepeda kampus), fotokopi, warnet dll terpenuhi dari dana beasiswa tersebut.

Seorang teman di salah satu organisasi, merupakan anak pedagang kitab suci musiman yang menggelar dagangan di depan masjid kala jumatan di Medan, Sumut. Semester awal ia berhasil survive dengan tebengan di kosan teman sesama anak Medan. Semester berikutnya, beasiswa prestasi menyelamatkannya hingga lulus.

Pasti ada banyak kisah lain, seperti menjadi penjaga masjid agar dapat tidur gratis hingga menjadi pelayan resto dan warnet.

Teman-teman lain saya harap memberi bantuan informasi yang sama. Terutama untuk dua calon mahasiswa UI dan Unibraw tsb. Semoga bisa beri informasi, agar dua adik-adik kita ini bisa mengenyam pendidikan sebaik yang pernah kita dapat.

Trims sebelumnya.
Gambar dari sini.


Mlekom,
AZ

Wednesday, January 25, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 12:58:00 PM | No comments

Solo, Surabaya, Bandung. Lalu Mana?


Awal tahun lalu banyak teman membagi daftar provinsi yang sudah dikunjunginya. Jadi pengen nanya: Dari banyak kota yang dikunjungi di berbagai provinsi tersebut, apakah kalian perhatikan kondisi trotoar di kota-kota itu?

Dari begitu sedikit provinsi yang sudah saya kunjungi, saya mencatat hanya tiga kota dengan kondisi jalur pedestrian yang baik. Itupun hanya di Jawa. Baik di sini, menurut saya, bisa diakses tanpa hambatan oleh pejalan kaki dan pengguna kursi roda, serta memiliki blok pemandu tunanetra (tactile paving).

Sesuai urutan waktu pembangunannya, ketiga kota tersebut adalah Kota Solo, Kota Surabaya, dan Kota Bandung. Pemilihan ketiga kota ini, menurut saya, selain karena kondisi trotoarnya baik (meski tidak di banyak ruas jalan), juga berdasar komitmen pemerintahnya dalam menciptakan jalur pedestrian yang memadai (masuk dalam perencanaan dan penganggaran).

Jakarta tidak? Bagi saya, tidak. Selain tidak mengandung banyak unsur yang saya sebut di atas, trotoar baik di Jakarta hanya ada di kawasan SCBD bagian dalam. Bagian luarnya penuh PKL dan kendaraan ngetem. Di kawasan utama seperti Sudirman-Thamrin, meski trotoarnya luas lega, tidak ada blok untuk tunanetra (cek gambar).

Kota Jogja juga tidak, sebab urusan ini baru saja dipikirkan. Baru sedikit bagian Malioboro yang disentuh. Denpasar ada yang baik, tapi banyak sekali lokasi di mana ukuran trotoarnya sangat mini. Makassar di sekitar Pantai Losari yang reklamasi itu, tapi ga ada blok tunanetra. Dll dsb.

Selain tiga kota tersebut, adakah kota/kabupaten lain yang memiliki trotoar yang baik? Mohon masukan. Trims.

Gambar dari sini

Mlekom,
AZ



Sunday, January 22, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:08:00 PM | No comments

Kriteria Trotoar yang Baik dan Kota di Indonesia yang Memilikinya

Lukisan mural di trotoar kawasan Cikini Jakarta Pusat. © Liputan6
Kesejahteraan rakyat dapat dilihat dari kondisi trotoar di kota tempat tinggalnya. Hal ini diyakini oleh sebagian pemerhati masalah perkotaan. Jika ditilik lebih lanjut, pernyataan tersebut ada benarnya. Logikanya, ketika pemimpin mampu menyiapkan ruang publik sesuai peruntukannya, berarti ia telah berhasil menyelesaikan persoalan utama—yaitu pemenuhan hak warga.

Sebagaimana lajur sepeda, tempat penyeberangan, halte dan fasilitas khusus bagi warga berkebutuhan khusus, trotoar merupakan fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana tercantum dalam Pasal 45 Ayat 1 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).

Bahasan tentang trotoar selalu berkaitan dengan pedestrian atau pejalanan kaki. Pejalan kaki merupakan prioritas utama bagi seluruh areal publik bernama jalan raya, termasuk trotoar. Yang termasuk pedestrian adalah setiap orang yang berjalan kaki di ruang lalu lintas jalan, termasuk pengguna kursi roda.

Sejumlah kota di Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk memenuhi hak warga atas trotoar tersebut. Dalam rangka Hari Pejalan Kaki Nasional yang jatuh pada 22 Januari, kami mencatat trotoar terbaik di kota-kota di Indonesia. Baik di sini, artinya bisa diakses tanpa hambatan oleh pejalan kaki dan pengguna kursi roda, serta memiliki blok pemandu tunanetra (tactile paving).

Salah satu yang menghambat akses pengguna trotoar adalah keberadaan pedagang kaki lima yang mangkal atau kendaraan parkir. Kondisi trotoar yang baik, meski tidak di seluruh ruas jalan, menjadi penilaian utama kami. Komitmen pemerintah akan penyediaan jalur pedestrian yang baik, seperti memasukkan pembangunannya dalam perencanaan dan penganggaran, merupakan penilaian lainnya. Daftar ini disusun berdasar tahun pembangunan atau revitalisasi trotoar yang sudah dilakukan di kota tersebut.

1. Kota Solo

Pesta Olahraga bagi Atlet Berkebutuhan Khusus se-Asia Tenggara (ASEAN Para Games) keenam diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah pada 2011. Demi menyambut para atlet berkebutuhan khusus tersebut, pemerintah Kota Solo yang saat itu dipimpin Joko Widodo membangun seluruh fasilitas publik agar ramah bagi pengguna berkebutuhan khusus. Mulai dari halte bus yang bisa diakses penguna sepatu roda, hingga trotoar yang memiliki panduan blok untuk tunanetra turut menjadi perhatian.

Sejak saat itu, Kota Solo disebut-sebut sebagai kota yang ramah pada warga berkebutuhan khusus. Usai penyelenggaraan Para Games, Pemkot Solo terus berkomitmen memperbaiki jalur pedestrian hingga Solo menjadi kota pertama dengan trotoar ramah pejalan kaki di Indonesia. Solo bahkan menjadi perintis penyusunan peraturan daerah terkait warga berkebutuhan khusus.

2. Kota Surabaya

Membangun jalur pedestrian yang nyaman dan manusiawi menjadi salah satu program utama Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Kota Surabaya mengklaim, setidaknya 45 kilometer trotoar telah difungsikan sebagaimana mestinya di tahun 2015. Selain pelebaran dan penggantian material, tiap tahun ada saja pembenahan yang dilakukan, seperti pengecatan agar lebih berwarna dan pemasangan hiasan.

Pemerintah Kota juga memastikan bahwa jalur pedestrian ini bebas dari pedagang kaki lima dan parkir liar yang kerap memenuhi trotoar. Dana yang dianggarkan untuk perbaikan trotoar terus meningkat, yaitu sebanyak Rp 80 milyar di t ahun 2016 sedang di tahun sebelumnya Rp 76 milyar.

3. Kota Bandung

Jalan Asia Afrika memiliki jalur pedestrian terbaik di Kota Bandung. Hal ini dapat terjadi atas kerjasama pemerintah dan masyarakat demi menyambut penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika 2015 lalu di kota itu. Meski konferensi tingkat dunia tersebut telah usai, Walikota Bandung Ridwan Kamil bertekad untuk merenovasi trotoar di 15 titik lain agar memiliki kualitas sebaik trotoar di Jalan Asia Afrika.

Selain kualitas bahan yang digunakan, jalur pedestrian baru ini juga memerhatikan estetika artistik sebagaimana di Jalan Asia Afrika. Bola batu, pot bunga, petunjuk arah, serta meja dan kursi klasik untuk tempat bersantai dipasang di sana. Selain nyaman, jalur pedestrian ini sangat Insta-able! Demi mempercantik trotoar ini, Pemkot menganggarkan APBD sebesar Rp 163 milyar ditambah Rp 52 milyar dari bantuan Pemerintah Provinsi.

4. Kota Bogor

Sebagai kebun botani, Kebun Raya Bogor (KRB) memiliki tanaman rindang yang meneduhkan. Udara sejuk dan tanah yang asri di sana bahkan membuat Presiden Joko Widodo memilih Istana Bogor yang berbatasan dengan KRB menjadi tempat kerja sekaligus tempat tinggalnya. Sejak bermukim di sana, Presiden sering berolahraga sore di kawasan KRB. Kebiasaan ini juga diikuti oleh warga, terutama komunitas pelari dan pesepeda.

Demi mendukung semangat masyarakat ini, Pemerintah Kota Bogor pimpinan Bima Arya Sugiarto memperbaiki jalur pedestrian dengan membangun trotoar dan jalur sepeda di sekitar KRB. Hak warga berkebutuhan khusus pun diakomodir dalam trotoar seluas hinga 7 meter tersebut. Pembangunan yang menggunakan dana senilai lebih dari Rp 32 miliar ini, diharap mampu wujudkan cita-cita Bogor sebagai kota ramah pejalan kaki.

Pejalan kaki adalah prioritas utama di seluruh ruas jalan. © ITDP Indonesia
Selain keempat kota tersebut, pemerintah daerah lain pun sedang berbenah. Kota Jogja mulai merevitalisasi trotoar kawasan Malioboro sejak April 2016, dengan dana sebesar Rp 124 milyar. Akhir 2016 lalu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempercepat perbaikan trotoar di 48 lokasi di 42 kecamatan, dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 250 milyar. Dan masih ada berbagai kota lainnya.
Komitmen para pemerintah daerah dalam memenuhi hak warga ini patut didukung. Tugas masyarakat adalah mengawasi pembangunannya.

Tulisan ini dimuat di Good News from Indonesia pada 22 Januari 2017.

Monday, January 2, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 PM | No comments

Belanja (Masih Saja) Hasilkan Sampah


Percobaan pertama belanja di pasar tradisional dengan mengurangi sampah plastik.

Ceritanya mau bikin mie keling Medan. Beli bahan yang ga ada dan habis di rumah, sekalian belanja bahan masakan lainnya.

Berangkat berbekal dua tas kanvas dan dua kotak plastik. Kotak pertama diisi mie basah, kotak kedua beras ketan. Kentang, jeruk nipis, tempe koro, terasi, daun jeruk, sere dan bayam masuk kedua tas. Ini berhasil minta penjual untuk masukkan langsung ke dalam tas, meski beberapa barang sudah dibungkus sebagai paket-paket kecil.

Nanas basah yang sudah dikuliti akan basah dan kotor jika bercampur bahan makanan lainnya. Ebi yang kecil-kecil akan jadi pe-er jika dituang langsung ke dalam tas dan bercampur dengan yang lain. Ikan keranjang buat #Ponpon, toge dan labu siam yang sudah dicacah juga begitu. Kalau telor masih belom punya ide bagaimana mengamankannya jika tanpa plastik--perlu bawa keranjang/tempat telor kali ya?

Pulang nambah empat lembar plastik lagi untuk kemudian hanya menjadi sampah di rumah. Kalau pakai mobil (gas buang!) enaknya bisa bawa banyak tempat untuk belanjaan yang ga bisa dicampur, di Jakarta aku belanja pake Kopaja euy.

Menurutmu gimana? Butuh masukan, trims.

Mlekom,
AZ


Sunday, January 1, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:52:00 PM | No comments

Resep Itu Berbahan Kualitas Rasa dan Ketepatan Waktu


Jarum jam melangkah ke angka tiga, ketika sore itu kami tiba di kediaman Pak Bas (72). Basis Hargito, begitu nama panjangnya, tampak sibuk di dapur. Pak Bas mengocok telur, sedang istrinya Bu Gidah (64) memanggang di oven. Formasi kerjasama ini telah mereka lakukan sejak 1983.

Dimulai pukul 07.00, tiap hari pasangan ini sambangi dapur meski di hari libur. "Ga ada libur, kan bukan pegawai," kelakar Pak Bas. Mengaduk telur dan gula dengan sendok kayu, mengocoknya dengan kocokan telur per, mencampur dengan terigu dan susu, menuang di cetakan, memanggang, menjaga api, melepas roti dari cetakan, mengoles kuning telur, membungkus, membagi sesuai jumlah pesanan dan memajang di rak jual.

Seluruh aktivitas itu mereka kerjakan berdua saja, dengan sesekali dibantu anak-anaknya. Urusan dapur akan selesai pukul 17.00, dilanjut melayani pembeli dan mencatat pembukuan. Tanpa disadari, keseharian ini menjadi kontribusi sangat berharga dalam melestarikan pusaka tak benda (intangible heritage) yang dimiliki Indonesia.

Pak Bas yang selalu tersenyum ramah.
Kembang Waru
Pak Bas dan Bu Gidah merupakan satu dari hanya lima pengrajin roti kembang waru yang tertinggal. Kue (oleh warga setempat disebut roti) ini merupakan menu hajatan yang ditinggalkan oleh masa Kerajaan Mataram. Mulai upacara kehamilan, kelahiran, pernikahan hingga kematian, roti kembang waru selalu ada dalam sajian makanan ringan dan hantaran atau bingkisan untuk dibawa pulang oleh tamu.

Menurut Pak Bas, makanan ini dinamai kembang waru, sebab bentuknya mirip dengan bunga kembang waru yang dahulu banyak tumbuh di sekeliling Pasar Gede di kawasan Kotagede. Penciptanya adalah keluarga kerajaan yang menurunkan resepnya turun-temurun hingga sampai ke keluarga Pak Bas. "Saya enggak tahu ini resepnya pertama dapat dari mana, saya dapat dari orangtua," katanya.

Awalnya Pak Bas, sebagaimana kebanyakan profesi di Kampung Basen, bekerja sebagai pengrajin blek. Blek merupakan sebutan untuk peralatan rumah tangga yang terbuat dari logam seperti ceret air, dandang penanak nasi, oven pemanggang dan sebagainya. Seiring waktu, peminat blek berkurang akibat serbuan produk rumah tangga berbahan plastik. Satu per satu pengrajin gulung tikar, termasuk Pak Bas.

Bersama istri, ia bertekad meneruskan usaha keluarga dengan menjual roti kembang waru. Saat itu mereka tidak sendiri, puluhan pengrajin blek lainnya juga beralih profesi menjadi pembuat roti kembang waru. Hingga penganan ini berhasil dikenalkan sebagai makanan keseharian yang tak hanya bisa dinikmati dalam upacara adat.

Pesanan utama datang dari keluarga yang mengadakan hajatan, lalu masyarakat umum yang sekadar ingin menyicipi. Hingga saat ini roti kembang waru bikinan Pak Bas telah melanglang ke sejumlah pulau di nusantara dan berbagai negara. "Ada saja orang yang memesan dan membawanya kembali ke daerah atau negaranya," terang Pak Bas.

Bu Gidah di depan oven dan tungku tradisional.

Resep
34 tahun kini, meski puluhan pengrajin roti kembang waru telah lama berhenti berproduksi, Pak Bas dan keluarga terus mengepulkan dapur produksinya. Ia menerima mahasiswa, peneliti, pejalan maupun wartawan yang ingin belajar dengan tangan terbuka.

2 kg telor : 1 kg gula : 1 kg tepung. Begitu resep satu adonan roti kembang waru yang dibuat Pak Bas. Dalam 10 jam per hari itu, rata-rata ia mampu hasilkan 500 potong kue. Jumlah jam kerja ini bertambah jika mendapat banyak pesanan. Namun ada ataupun tak ada pesanan, ia akan selalu membuat roti kembang waru untuk masyarakat Yogyakarta.

Bagi Pak Bas, resep roti kembang waru yang dibuatnya tak hanya berbahan telur, gula dan terigu, namun juga kualitas rasa dan ketepatan waktu. "Saya jaga betul kualitas rasa roti buatan saya agar tidak ada yang berbeda sejak dahulu hingga sekarang, juga memastikan seluruh pesanan bisa diselesaikan tepat waktu agar kami terus mendapat kepercayaan pelanggan," jelasnya.

Kualitas bahan ini merupakan hal utama. Pak Bas menggunakan gula asli dan bukan pemanis buatan, tidak mengurangi jumlah telur meski ini merupakan bahan termahal, juga memastikan proses pematangan yang benar-benar sempurna. Ia sebagaimana pendahulunya, hanya mengganti bahan tepun menjadi terigu.

Di masa kerajaan tepung yang digunakan adalah tepung ketan, tentu akibat belum adanya teknologi untuk membuat gandum menjadi tepung. Penggunaan terigu tentu membuat rasa kue ini menjadi lebih enak dan proses pembuatan menjadi lebih murah. Dampaknya, harga jual tak pernah mahal. Di awal Januari 2017 ini masih dihargai sebesar Rp 1.600 per buah.


Generasi Kedua
Kampung Basen Kecamatan Kotagede terletak di kawasan perkotaan Yogyakarta dimana warganya kini memiliki beragam profesi. Kendala terbesar dalam melestarikan camilan ini adalah makin minimnya generasi Kampung Basen yang tertarik untuk meneruskan usaha tersebut, padahal para generasi kedua yang kini memegang kendali sudah tak lagi muda.

Ancaman hilangnya roti kembang waru bukanlah sekadar mengada-ada. Di masa jayanya, sejumlah pengrajin blek membuat cetakan dan oven pemanggang roti kembang waru. Pengrajin blek terakhir bertahan hanya hingga 2014 lalu, hingga pembuat roti kembang waru harus membuat sendiri cetakan dan oven yang mereka butuhkan.

Apakah kita hanya sedang menunggu roti kembang waru berhenti dibuat?

Mlekom,
AZ


Saturday, December 31, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:51:00 PM | No comments

Layanan Puskesmas di Kota Jogja

Pernah gunakan layanan Puskesmas di sekitar tempat tinggalmu?

Saya (akan) pernah.




Update, setelah selesai layanan:


Menurutku ini kemahalan untuk layanan Puskesmas, mengingat profil pengguna layanannya. Tadi tambal dua gigi kena Rp 30.000. Jadi total Rp 52.000, angka yang pasti besar untuk kebanyakan pengguna Puskesmas yang ga punya jaminan kesehatan.


Di Jakarta (aku berobat di Puskesmas Menteng Jakarta Pusat) semua layanan Rp 2.000 di jam kerja, Rp 15.000 setelah jam/hari kerja (layanan klinik umum 24 jam/7 hari). Layanan tambal gigi seharga Rp 10.000, alat dan fasilitas di ruang gigi sudah pakai teknologi terbaru sebagaimana di rumah sakit. Belum lagi soal bagunannya yang boleh lah disamakan dengan kelas rumah sakit kecil/klinik besar.


Di Puskesmas di tengah kota Yogya ini, lampu sorotnya mati, sedotan saliva ga fungsi dan air kumur diambil dari kran washtafel. Huf, padahal Yogya menjadi barometer kesehatan di Indonesia.


Yang bikin beanya lebih mahal pastinya akibat minimnya alokasi anggaran kesehatan sebagai subsidi pemerintah. Ah sayang sekali, ini yang agak mengecewakan. Tapi layanan dan kesigapan petugas oke semua, malah lebih ramah dari Jakarta.


Kesimpulan: akan datang kembali jika membutuhkan, tapi semoga ga ada keluhan kesehatan apapun deh. Amin.


Mlekom,

AZ


Wednesday, December 21, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 5:39:00 PM | No comments

Serba Dua Ribu!

 

Hari ini temanya serba dua ribu :)

Pagi banget tadi naik Gojek ke stasiun Gambir untuk ketemu teman. Dengan pembayaran non-tunai Go Pay, aku hanya membayar Rp 2.000. Kusempatkan pula mengambil uang pengembalian dari tiket kereta yang batal kunaiki, setelah fotokopi KTP seharga Rp 2.000.

Pengalaman pertama gigi sakit.
Dari stasiun pengennya langsung berobat. Udah tiga hari ini gusi berasa ga nyaman, ini pengalaman sakit gigi pertamaku. Jadi ingat omongan dokter Desember tahun lalu waktu nambal gigi: 

Ini grahamnya tumbuh ke dalam, akan sakit. Mau dicabut sekalian ga, kan ditanggung kantor. Kujawab, nanti aja dok kalo pulang Natalan. dokternya tanya aku tinggal di mana, berapa lama di Yogya. "Oh, kalo baru cabut gigi baiknya jangan naik pesawat dulu karena gravitasi akan buat gusinya sakit sekali," jelasnya ketika kubilang akan berangkat ke Jakarta malam itu.

Nah semalam karena ga bisa tidur sakit sakitnya ni gusi yang kaya lengket ke gigi ato langit-langit, aku baca-baca informasi tentang "operasi gigi". Ada yang bilang biayanga 1,5 juta per gigi, paling banyak yang sebut Rp 3 juta. Kalau pakai asuransi, preminya langsung habis donk yes! Padahal pasca perawatannya ada lagi, yaitu buka benang jahitan gusi.

Tetiba aja terlintas kata "pus kes mas". Malam itu nemu sedikit informasi, harga per gigi cuma 300 ribu, tapi ini hanya untuk cabut normal. Cabut bermasalah harus dengan tindakan operasi, yang menangani harus Spesialis Bedah Mulut--ini ga ada di Puskesmas. Ya udah lah ya, yang penting besok pipi ga bengkak karena lusa kantor gawe acara besar.

Sayangnya ga bisa langsung berobat, di stasiun tadi dapat imel terkait kerjaan. Maka aku nongkrong aja di Perpustakaan Daerah di kompleks Taman Ismail Marzuki. Naik Kopaja Rp 2.000 saja sebab jarak sangat dekat.

Ketika sedang kerja, batre leptop nunjukin tanda kritis. Langsung pesan Gojek lagi, ambil charger di rumah kena Rp 2.000 dengan Go Pay. Bayar parkir kompleks TIM Rp 2.000 lagi karena aku dijemput sampai ke teras perpus. Lalu bayar jumlah sama saat minta pak Gojek anter saya kembali ke perpus. Dilebihin sih, lebihin sebanyak dua kali lagi PP pulang.

Pengalaman pertama pakai layanan Puskesmas
Kerjaan kelar, pesan Gojek lagi ke Puskesmas, masih seharga itu, Rp 2.000Puskesmas Menteng paling dekat dari sana. Gedungnya bagus, bersih dan modern. Ada lima lantai, kalau aku ga silap.


Begitu masuk terpampang jenis tindakan dan perawatan yang dilayani Puskesmas ini, lengkap dengan daftar harganya. Mulai persalinan, imunisasi, radiologi, fisioterapi, radiologi, ragam pemeriksaan darah, HIV, dll sampe home-care. Ada ruang rawat inapnya juga!

Untuk seluruh tindakan di poli Gigi (banyak istilah yang aku kudu gugling untuk tahu artinya), paling mahal hanya 25rb :) Jika nantinya ga bisa ditangani di sini, aku sudah cari tahu nama fasilitas kesehatan yang akan kutuju: Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut milik Fakultas Ilmu Kedokteran Gigi. Tadinya banget nih, udah berbulan-bulan lalu niatin operasinya di Yogya aja pas pulang agak lama. Diniatin liburan akhir tahun ini sih, tapi ya kadung sakitnya sekarang.

"Adek tunggu di Yogya aja operasinya. Nanti kudu makan bubur, siapa yang bikin? Kalo demam karena gusinya bengkak paska oprasi, repot nanti," kata mama di ujung telp. Ku-OK-in, bilang mau minta obat penghilang rasa sakit aja karna aku pun ga mau dioprasi segera sebab takut besok ga bisa kerja huhuhu. Lagian lusa udah sampe Yogya lagi.

"Giginya tumbuh, gusi belom kebuka. Ini ga bisa ditindak dulu sampe bengkaknya sembuh. Nanti seminggu bisa dibantu membuka gusinya, tapi terbuka alami juga bisa karena tinggal sedikit lagi kok. Tahan aja nyerinya sedikit lagi." Intinya ga perlu dioperasi. Alhamdulillah :*

Pengalaman pertama berobat dengan biaya total Rp 2.000!
Salah satu penerima manfaat program kerjaanku adalah Puskesmas. Aku tahu benar bagaimana perubahan yang dilakukan Puskesmas di berbagai pelosok negeri untuk memberikan pelayanan terbaik. Tapi aku tak sekalipun pernah menggunakan layanan perawatan Puskesmas, meski untuk sekadar batuk-pilek.

Kecuali waktu di Wajo Sulsel minta dokter resepin obat yang ga aku bawa, atau bosku ketika liputan di Talun Kenas Sumut harus mendapat perawatan akibat kuku kakinya tercabut roda koper. Keduanya di Puskesmas tempat kami liputan.


Oh ada lagi waktu aku kecil di Kutacane Aceh Tenggara. Perawatan untuk bibirku yang sompel (bekasnya masih ada donk!) akibat jatuh dari sepeda, mengeluarkan duri di telapak kaki akibat maen di kebon, adekku yang dipotong bisulnya (sering nih liat orang bisulan jaman itu). Apa lagi ya?


Total kurang 1,5 jam sejak mendaftar sampai ambil obat. Untuk pendaftaran bayar Rp 2.000. Untuk obat antibiotik, pereda bengkak dan nyeri ini? Gratis! Aku sampai tanyakan dua kali :) Jadi seluruh layanan lengkap ini berharga Rp 2.000! Itu ga pake BPJS loh, karna aku malas ga sempat ngurus.


Puskesmas sebagus ini apakah hanya ada di Jakarta? Aku ga tau deh. Tapi untuk perawatan kesehatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir, 300 Puskesmas di wilayah kerja program kantorku memiliki sarana yang lebih bagus dari Puskesmas Menteng ini, dengan kualitas prasarana dan SDM yang tak kalah jauh juga. *ngalemi kerjaane dhewe*


Ah, maha suci engkau yang menciptakan Puskesmas dan seisinya!


*Dan sekarang udah sampe kantor, kudu masukin laporan perjalanan ke Finance, hiks. Gegara mo tutup tahun dan hari kerja kami di tahun ini tinggal dua hari hiks hiks hiks.

Mlekom,
AZ


Thursday, December 15, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:59:00 PM | No comments

Proyek Pengurangan Sampah Konsumsi Pribadi


Udah tiga tahun ini terobsesi dengan proyek beres-beres (decluttering). Gegara itu, aku jadi bertanya-tanya mungkin ga sih kita tidak nyampah? Nyampah dalam artian tidak sekadar membuang sampah pada tempatnya, namun tidak menghasilkan sampah.


Jawabannya: Mungkin! Ini yang kudapat dari hasil melongok dunia maya. Salah satu yang inspiratif menurutku adalah upaya mbak-mbak ini yan selama tiga tahun berhasil menjadikan dirinya bukan kontributor nyampah. Nah lo gimana caranya ya. Padahal bahkan nota kasir pun dia ga akan terima, juga hanya membeli baju bekas dan membuat sendiri makanan dan bahan rumah tangga (sabun, sampo) yang jika dibeli menggunakan kemasan plastik. Waaa :|


Aku sih pasti kesulitan banget ya kalau sampai tidak menerima nota pembayaran (sebab masih gunakan ini untuk catatan pengeluaran pribadi), ga memungkinkan buat sampo sendiri, dan sebagainya. Ya, meskipun para environmentalist ini bilang: Apa sih yang ga mungkin? Tinggal kamu belajar, usaha, lalu menerapkan secara sungguh-sungguh.


Maaf, masih sulit buatku. Aku bahkan belum bisa lepas dari air mineral kemasan (meski berupa galon yang isinya kutuang ke tumbler dan sejenisnya, karena belum bisa minum air yang dimasak sendiri kecuali untuk kopi, teh, sirup dll.


Aku juga masih kesulitan meniadakan konsumsi tisu. Entah di rumah, kantor maupun di jalan. Duh, berattttttttttttttt :( Tapi sejak hari kemarin, jumlah tisu yang kupakai lalu kugunakan berkurang drastis hingga setengah dari pemakaian di hari sebelumnya dan sebelum-sebelumnya. Ga percaya? Aku hitung sih, biar valid hihihi.


Kucoba hilangkan kebiasaan bawa bekal makanan dari rumah ke kantor. Biasanya untuk makanan berkuah, aku masukkan makanan ke dalam plastik bening untuk membungkus itu sebelum dimasukkan ke dalam tempat makanan. Sebelum memasukkan tempat makanan tersebut ke dalam tas, aku membungkusnya dengan plastik kresek agar ketika tumpah tidak mengenai tas.




Nah, kemarin aku membawa makanan tanpa satupun plastik non reuseable. Lalu sorenya aku beli siomay dengan membawa tempat makanan sendiri--jadilah sepanjang jalan menuju rumah (jalan kaki) menenteng itu kotak makanan :)


Abang somay bingung ketika kujawab tidak ketika ia tawarkan: plastik apa streofoam? Bumbunya dipisah di plastik? Pake garpu? 


Tapi dengan bangga kujelaskan: Saya sedang mengurangi sampah, pak.


Hari pertama ini, menurutku: Sukses!

Alkamdulila hari ini diberi kemudahan dalam laksanaken calon #resolusi2017 tersebut. Ih bangga ih! :p

Sebenarnya pasanganku sangat ketat untuk urusan sampah dan nyampah ini. Dia bawa sendiri minumnya dari air yang direbus di rumah, dia bawa handuk kecil untuk gantikan tisu, tidak menerima plastik pembawa barang belanjaan, dan masih banyak lagi. Dari ajarannya itu, aku hanya berhasil membawa tas belanja sendiri demi tidak menerima plastik kresek--meskipun tetap menggunakan kresek ketika membeli bahan basah seperti ikan. Juga menolak membungkus makanan dengan streofoam--meski menerima kertas nasi. Aku juga tidak menerima sendok plastik dan sumpit kayu. Tapi masih gunakan gelas kertas untuk minuman.


Soal mengurangi sampah pribadi ini, aku merasa tertohok ketika seorang teman mempertanyakan mengapa aku masih naik taksi sendirian, bukannya memilih naik bus. Buatku itu ga masuk akal, sebab aku butuh cepat untuk ke bandara. Namun berbagai penjelasan yang kubaca terkait kontribusi kendaraan pribadi (termasuk taksi) terkait gas emisi sukses membuatku tertohok. 


Temanku yang lain bahkan lebih memilih menggunakan bus untuk mudik ke kampungnya di Sumatra dibanding pesawat. Wah ini aliran tingkat tinggi ya, aku mah kasta sudra dalam proyek pengurangan sampah ini. Oh ya satu pelajaran dari ini yang akan selalu kuingat: "Jangan pernah merendahkan orang lain atas usahanya. Jika ia baru bisa segitu, hargai. Setidaknya ia sedang berusaha menjadi lebih baik". Begitu, bukan? :)


Aku akan terus kabarkan perkembangan proyek ini. Semoga istiqomah! :)


Mlekom,

AZ

Tuesday, December 13, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 AM | No comments

Tanpa Es, Tanpa Senyum, Tanpa Kata


Pramugari (P) dan Adriani (A).


P: Minumnya apa buk? 

A: Susu dingin, trims.
P: (sodori gelas isi susu tanpa es, tanpa senyum, tanpa kata)
A: Trims, boleh minta es, mba?
P: (tanpa kata, tanpa senyum, dengan mata dan gerakan tangan yang ngomong "elo tu nyusahin aja sih?")
A: Trimakasih ya mbak.

Mbanya ko begitu ya... :(

Ini pengalaman pertamaku mendapat perlakuan seperti itu di maskapai biru ini. Kondisi cuaca (itu gambar Jakarta mendung pagi ini) yang sempat bikin goyang dombret di atas tadi, buat sedihku pada Mba P teralihkan :)

Mlekom,

AZ


Monday, December 5, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:51:00 PM | No comments

Kutubaru Biru


Budhe adalah istri paman. Paman adalah abang mamaku. Keterangan ini penting untuk menjelaskan isi cerita :)


Pola kutubaru ini dibuat oleh Budhe. Budhe mendapat warisan pola dari orangtuanya. Orangtuanya mendapat pola sebagai warisan dari orangtuanya. Begitu seterusnya, hingga keluarga ini pernah dikenal sebagai salah satu penjahit kebaya yang diperhitungkan di Solo. ♥♥♥ 


Gitu ajah.


Mlekom,

AZ




  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata