Monday, December 5, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:51:00 PM | No comments

Kutubaru Biru


Budhe adalah istri paman. Paman adalah abang mamaku. Keterangan ini penting untuk menjelaskan isi cerita :)


Pola kutubaru ini dibuat oleh Budhe. Budhe mendapat warisan pola dari orangtuanya. Orangtuanya mendapat pola sebagai warisan dari orangtuanya. Begitu seterusnya, hingga keluarga ini pernah dikenal sebagai salah satu penjahit kebaya yang diperhitungkan di Solo. ♥♥♥ 


Gitu ajah.


Mlekom,

AZ


Thursday, October 20, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:26:00 AM | No comments

Visitor

Ini bulan kedua saya menjadi "Visitor" di salah satu gedung perkantoran. Untuk dapat naik ke lantai yang dituju, saya harus menukarkan identitas diri dengan kartu pass yang harus di-tap di lift.

Kartu identitas yang diminta adalah kartu yang ada fotonya. Jadi, Kartu Keluarga, kartu BPJS, kartu NPWP, kartu mileage pesawat, apalagi kartu bank gambar Taz-Mania itu ga bakal laku.

Salah tiga kartu dengan cetakan muka yang saya punya adalah: KTP, SIM C dan SIM A. Jadi selama dua bulan ini saya tukarkan KTP dengan akses lift. Awalnya KTP saya tinggal tiap pagi, diambil lagi sore. Kemudian KTP saya tukar tiap senin pagi, lalu ambil kembali tiap jumat sore. Suatu hari pernah sampai kesulitan naik pesawat karena lupa ambil KTP di resepsionis :|

Masalahnya, KTP saya kadaluarsa Mei kemaren. Saya baru sadar senin lalu ketika mau tukar kartu akses lift, ditolak resepsionis gedung karena sudah kadaluarsa. Saya beneran ga tau, soale sekian kali dipake check in dan boarding pesawat boleh tuh!

Kedua SIM ga pernah diperpanjang sejak jutaan tahun lalu (karena belakangan ga pernah pake kendaraan pribadi... sebab saya ga punya kendaraan pribadi, halah).

Sejak KTP saya ketahuan basi, resepsionis dan sekuriti (yang  beberapa diantaranya kenal saya eh saya kenal) bantu bukakan akses lift ke lantai yang saya tuju. "Ga usah dikasih (kartunya) ya, dibukakan saja," kata mereka.

Demi tidak merepotkan mereka, ketika tiba di lobi gedung saya telp teman selantai yang saya tahu datang lebih pagi. Tidak repotkan petugas gedung iya, repotin teman juga iya. Hih! Nah, saya senang jika di lobi ketemu teman selantai, bisa nebeng akses lift. Beberapa kali saya nyodorin kepala ke dalam lift yang pintunya hampir ditutup: Maaf, ada yang ke lantai 21? #murahan

Kalau mau turun untuk makan siang, saya selalu pinjam ke teman, dikembalikan setelah saya naik lagi :p

Maka malam tadi saya bulatkan tekad. Membawa identitas lain yang bergambar muka saya untuk ditukar dengan akses lift. Sudah saya cek tanggal kadaluarsanya: Januari 2017.

Pagi ini Mba Resepsionis bilang: Oh iya, KTP-nya belum diperpanjang ya buk?

Sampai ketemu lagi jumat sore nanti ya, Por!
#soalkartu

Mlekom,
AZ

Thursday, October 6, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:47:00 AM | No comments

Jelang Tiga per Empat Malam


Tanggal kemarin di jam segini pada tahun lalu. Aku terduduk lemas di Stasiun Bandung, menunggu kereta ke arah timur. Setelah obrolan siang itu.

"Lagi di mana?
"Bandung, masak pertanyaannya diulang2 sih."
"Ga mampir ke Yogya?"
Deg. Jantungku berdetak cepat.
"Cencen kenapa mas?"
"Cencen sudah pergi..."
"Cencen kenapa mas???"
"Cencen sudah ninggalin kita."

Air mata pecah, tenggorokan berat, sesenggukan membuat lemas. Di kereta terus merutuk diri, sebab akhir pekan lalu tak pulang hanya untuk hadiri reuni.

"Orangtua macam apa aku, anak sakit bukannya datang..."
"Kamu kan baru saja pulang. Ga ada yang salah, Cencen tau kok kalau kita sayang sama dia."

Setelah sebungkus tisu habis di perjalanan, jelang tiga per empat malam anak Cencen kami kuburkan. "Maaf ya sayang, kamu harus menunggu lama sebelum mendapat tempat bobok baru. Semoga sama hangatnya dengan badan bapakmu yang sering jadi tumpuan tidurmu itu."
__
Setahun kini. 
Apa kabarmu di sana, nak? Sampaikan salam kami untuk dua saudaramu yang sudah lebih dahulu bobok di sana ya, Kengkeng dan Ngokngok. Kami janji untuk menemui kalian lagi di akhir perjalanan nanti.

Oh ya perkenalkan Zorro. Dia gantikan posisimu di rumah--meski di hati kami, kamu selalu ada. Zorro tak dapat melihat, tapi seperti kamu--dia senang berkelana dan pulang ketika bapak kalian tiba. Di tempat lain, kami juga memelihara Ponpon yang adalah adik sekandungan Zorro. Seperti kamu dan adik2mu, Cen, mereka berdua sangat ganteng :)

Ah. Menuliskan cerita ini hujan di mataku, Cen. Seperti pagi tagi ketika kulihat videomu jelang dijemput ke tempat bobok yang baru ini. Yanh penting kamu baik kan, Cen? Masih ganteng, kan? Aku tahu kamu pasti begitu.

Cencen, tolong sampaikan salam kami kepada malaikat yang menemanimu tidur di sana. Kami sayang kamu, nak.

~ Pancen dan Mancen (bapake dan mamake Cencen)

Mlekom,
AZ

Wednesday, September 28, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:39:00 AM | No comments

Duo Puluah Ciek




Di lobby gedung kantor.

A: Ey, Da.
U: Ey Ni, dari ma?
A: Bali makan.
A: *kosrek2 tas tangan*
B: Indak ado (kartu) access, Ni?
A: Ado, dima yo. Candonyo tingga...
B: Lantai bara?
A: Duo puluah ciek.
B: *tetiba pergi*
A: *cari-cari nomor telp orang kantor, mo nelp minta turun*
B: Masuak lah Ni. (dia pinjem kartu akses ke resepsionis donkkkk)
A: Omak, makasih bana la yo da.
B: (ke orang yang nanya dia mau ke mana) Ko uni awak ko.

Itu mas-mas eh uda-uda keamanan di gedung kantor. Suatu hari nunggu taksi sama teman urang awak yang kenal dia. Jadi lah aku kenal juga. Sekarang tiap lihat dia pasti nyapa, "Ey ni, ba'a kaba?" Aku juga donk, "Ey, Da!"

Ga ngerti ya? Kesian...

Gambar angka 2 dari sini. Gambar angka 1 dari sini. Mlekom,
AZ

Sunday, September 4, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 5:19:00 PM | No comments

Kurang Apa Kita ke Negara?


Tadi pagi baca postingan pak Singgih Susilo Kartono di atas. Jadi teringat...

Aku pernah bikin presentasi untuk salah satu kementerian yang akan bertemu sebuah badan dunia di forum internasional. Bahan acuan dari mereka hanya 5 slide presentasi berbentuk ppt yang... ya kelen taulah macamana. Ngerjainnya sambil ketawa-tawa... yang menguasai materi kan aku (iya ini sedang nyombong kelewatan) kenapa yang diutus mereka ya?

Giliran aku bikin presentasi sendiri (bukan dibikinin orang lain) untuk konferensi internasional, aku kudu mecah celengan yang kutabung dengan keringat dan air mata (yak mulai lebay) plus nyari sponsor sendiri (termasuk dari pak Julipan) untuk membeli tiket ke tempat konfrensi. Meskipun aku ada di forum itu untuk ceritakan keberhasilan Indonesia....

Kalo dipikir-pikir, kurang apa coba kita ke negara ini? "Kurang sabar," kata temenku :(

*Disclaimer: this post is personal.

Mlekom,
AZ


Thursday, August 25, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 4:44:00 PM | No comments

Not A Video Reenactment: Weiner


There is a powerful women behind your success. People says so. Wiener story in this documentary video explains everything.

Families with a successful position in the political world, how the people who really understand how political is must sacrifice everything for it: family, dignity, position! Sex scandal certainly be the brunt of this.

At the first time, I thought this is a kind of video reenactment, since the cinematography, setting, costumes, etc. and so on is wonderful. Yes it is, since this is the real footage of the actors themselves.

I was googling for "Huma Abedin" and "Anthony Weiner". There they are!

This documentary is something that really need to be watched, for anyone who wants to go forward to that world! But this piece from two days ago is something you need to be considered!

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 23, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:43:00 PM | No comments

Lidah Udik

Tadi siang makan di restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan megah di Jakarta, ga enak padahal sudah pasti mahal apalagi ditraktir sebuah brand global. [Tim yg nraktir juga blg: di sini mah yg enak cuma gado2]

Malam ini makan nasi uduk yang saya masak sendiri di #raiskuker, enak banget padahal cuma modal beras, bumbu dapur dan santan yang semuanya sangat murah.

Lidah saya yang suka uduk ini memang udik... Cen ndeso tenan!

Ini menu makanan traktirannya.

Mlekom,
AZ

Friday, August 19, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:01:00 PM | No comments

Cara Mengembalikan Foto yang Hilang dari SD Card

Pekan lalu aku berkesempatan menyaksikan tari sakral dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bedhaya namanya. Tarian sakral ini dulunya hanya boleh ditonton oleh keluarga kerajaan, kini ketika kraton menampilkan tarian ini ketika menyambut tamunya.

Seumur-umur memang baru sekali melihat pertunjukan tari bedhaya secara langsung. Pernah menonton tarian ini di TVRI Yogya ketika menyiarkan langsung pernikahan anak Sultan Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Intinya, aku bahagia sekali malam itu. Sampe SD card penuh dioakai untukmotret dan videokan tariannya. Beberapa hari kemudian setibanya di Jakarta, kusalin foto-fotonya ke komputer. Eh kemarin foto-fotonya kok ya hilang! :'(

Duh kebayang kan sedihnya. Kapan lagi dapat kesempatan menjadi tamu kehormatan Kraton Surakarta seperti kemarin itu...

Lalu... gugled, tentu saja! Dan ya ya, setelah mencoba sekian saran di sana, ini yang 'mempan' mengembalikan file-file tersebut: Zero Assumption Recovery (ZAR X) yang infonya kuperoleh dari sini.

Setelah unduh perangkat lunaknya di sini, aku tinggal membuka aplikasinya. Masukkan SD card yang fotonya terhapus itu. Lalu pilih "Image Recovery" --> pilih "Disk and Partition" yang akan dikembalikan --> klik "Next". 

Tunggu deh sampai recovery selesai. Lalu pilih "Location" folder yang akan dijadikan tempat menyimpan di komputer. Selesai!

Soal berapa banyak atau berapa lama (tanggal pengambilan gambar) foto yang bisa dikembalikan, aku ga tahu. Tapi foto pekan lalu yang saya cari sudah pulih semua, salah satunya foto di atas.

Selamat mencoba!

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 17, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:52:00 PM | No comments

Mengisi Kemerdekaan, Hari Ini


Saya mengisi kemerdekaan dengan:

  1. Menulis cerpen (uhuk!)
  2. Bikin kue bolu 
  3. Beberes
  4. Masak ikan goreng & sayur lodeh 
  5. Silaturahmi ke teman 
  6. Baca buku 
  7. Pesbukan. Twitteran. IGan. 
Itu seharian tadi.

Alhamdulillah merdeka dalam berkarya, berkeluh-kesah, bertemu dan berkata tidak. Saya diberi kesempatan untuk mengutarakan yang ingin diutarakan. Diperbolehkan melakukan hal yang disuka. Dibebaskan untuk bertemu dengan siapa saja. Bahkan didukung ketika saya tidak ingin mengerjakan apapun.

Keseharianmu sudah merdeka? 
#‎RI71‬ ‪#‎Merdeka

Bolu yang kubikin hari ini.

Mlekom,
AZ

Sunday, August 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:00:00 PM | No comments

Lelaki Muda yang Duduk Bersila di Bangku Tunggal


Dengan susah payah kunaiki tangga kereta. Dua koper di tangan menjadi sebab sulitnya aku bergerak. Koper ini nantinya akan kubawa ke bandara.

Seluruh kursi di sekitar tempatku berdiri penuh. Memang pada tiket kereta lokal jarak pendek ini tertulis "tanpa tempat duduk", yang berarti aku harus berebut dengan ratusan orang untuk mendapatkan sebuah kursi.

Tak ada tanda-tanda kursi kosong. Dengan dua koper ini, aku tak mungkin pula bergeser untuk mencari kursi kosong ke gerbong lain. Maka kusandarkan badan di tiang penyangga, dengan kedua koper kuletakkan menyandar kaki. Di balik tiang ada sebuah bangku tunggal (single seat) yang diduduki lelaki muda. Kedua kakinya diletakkan di atas kursi, bersila.

Di depan lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, berdiri seorang bapak yang mengaitkan tanggannya ke dua bocah usia sekolah dasar. Bapak-anak ini clingak-clinguk mencari bangku kosong yang dapat mereka duduki. Tak ada. Sebagaimana aku, mereka pun mencari sandaran. 

Pada lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, rasanya ingin kutanyakan: Apakah boleh jika bangkunya diberikan kepada bapak yang membawa anak itu?

Tapi kuurungkan. Entah mengapa.

Kereta jalan. Tak lama terdengar lantunan ayat suci. Merdu, sebagaimana yang sering kudengar dari rumah ibadah di lingkungan kami. Keras, di tempat yang tak semestinya ini. Suara merdu nan keras yang bersahutan dengan deru laju kereta. Tak hanya satu, tapi dua. Satu lantunan keluar dari lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal, satu lantunan lain dari bangku di sampingku yang diduduki perempuan bercadar hitam. Keduanya memegang kitab yang sama dengan kondisi terbuka sebab sedang dibaca.

Bagiku, saking sucinya kitab itu, aku merasa membutuhkan privasi yang lebih ketika aku 'bercinta' dengannya. Kurang afdol rasanya membaca di tengah kerumunan orang yang merasakan ketidaknyamanan, sementara aku bisa duduk nyaman membacanya. Tak sudi pula aku membacanya dengan suara keras ketika aku berada di tempat umum yang bukan tempat ibadah, kitab ini terlalu suci untuk mengganggu ketenangan orang lain.

Namun justru itulah yang terjadi. 

Belum setengah jarak kami tempuh dalam perjalanan sejam ini, kudengar suara lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara kepada seorang lelaki berkulit putih bermata sipit. Lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Bahasa Indonesia, bahasa Arab. Terus begitu. 

Kepada lelaki berkulit putih bermata sipit, si lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal mempertanyakan soal agama. Memang lelaki berkulit putih bermata sipit sedang membaca buku tentang sebuah agama yang berbeda dengan agama lelaki muda yang duduk di bangku tunggal.

Apakah anda benar-benar membaca al-kitab dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa hanya Islam lah agama yang dirahmati Allah?

Lelaki muda yang duduk di bangku tunggal terus berbicara dengan suara yang dapat didengar penumpang di setengah gerbong kereta. Dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Lalu bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Begitu terus hingga kereta kami tiba di stasiun tujuan.

Meski sesekali ia anggukkan kepala, lelaki berkulit putih bermata sipit terlihat tak nyaman dengan obrolan itu. Tentu saja. Laki muda yang duduk bersila di bangku tunggal terbiasa membicarakan tentang keagamaan di mana pun, kapan pun. Dari penampilannya yang tampak seperti pekerja kantoran itu, lelaki berkulit putih bermata sipit ini tampak tak siap. Bukan 'lawan' yang sebanding.

Kubayangkan ketika aku sedang melakukan aktivitas keseharian, seperti naik kereta api, bertemu dengan seseorang dari negara yang sama denganku yang menanyakan:

Apakah anda benar-benar membaca kitab suci dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa Islam adalah agama pengembangan, bukan agama asli yang diturunkan Tuhan?

Aku pasti tidak nyaman. Bukankah agama/ajaran/kepercayaan adalah hal paling pribadi yang dianut tiap manusia? Bukankah ini merupakan urusan masing-masing manusia dengan penciptanya (hambluminallah)?

Lain hal jika akulah yang membuka obrolan tentang itu. Atau ketika aku menghadiri sebuah diskusi keagamaan. Itu pun rasanya tak elok jika ada kesan apalagi pernyataan yang menyudutkan keyakinan orang lain.

Dari pada mempertanyakan mengapa orang lain memeluk agama yang tidak sama dengan agamamu ( ingat lakum diinukum wa liyadiiin), lebih baik mengoreksi peran sosialmu (kewajiban hablumminannas) ketika tidak memberikan bangku pada orang yang lebih berhak, ketika mengganggu ketenangan orang lain di kendaraan umum, dan ketika 'menyerang' keyakinan orang lain di saat yang tidak tepat.

Tentang lelaki berkulit putih bermata sipit ini, temanku memberi komentar:
"Lagi apes aja!". Semoga Allah merahmatinya, juga merahmati lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal.

Mari mendoakan agar segala tindak tanduk dan ibadah kita disempurnakanNya.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
  • ngeksis

  • mata-mata