Wednesday, May 2, 2018

Posted by adriani zulivan Posted on 11:42:00 PM | No comments

Weekend Husband


Semalam aku ajak Pawami ke perpisahan seorang teman, yang akan kembali ke negaranya. Banyak orang baru kami jumpa di sana, termasuk mas-mas bule yang gabung di meja kami.


Dalam rangka basa-basi, tentu saja ngobrolin hal-hal estede. Dari soal kerjaan, lalu ngalor ke isu yang kami masing-masing geluti (dia bekerja pada salah satu lembaga pemerintah Inggris), pengalaman antar negara dalam menyikapi isu tersebut, dst. Hingga hal personal, lalu ngidul ke pertanyaan: 

Kenapa kalian tidak tinggal bareng?
Kaget? Enggak! Bukan kali pertama menerima pertanyaan serupa. Bukan hanya dari orang yang baru mengenal kami, namun juga keluarga. Nah jadi kepikiran untuk menulis "default answer", jadi kalau ada yang nanya tinggal kasih tautan tulisan ini. Mayan, nambah-nambah pengunjung blog. Ye kan? ๐Ÿ‘€

Pertanyaan-pertanyaan berikut bukan dari si mas-mas bule. Paham kan kalo orang bule sangat menghargai privasi? Obrolan dengannya malah bikin ngakak terus! Kata-kata di bawah ini aku kumpulkan dari beragam tanya yang kami dapat dari kenalan, sejawat pekerjaan, hingga keluarga. 


Oya, kata "pertanyaan" bisa kalian baca sebagai:
  • keisengan sebab mau-tau-aje urusan orang,
  • kenyinyiran sebab punya banyak waktu untuk mengurus bukan kehidupannya, ataupun
  • rasa cinta sebab begitu besar perhatiannya terhadap kehidupan orang lain.
Nah, mulai dengan pertanyaan paling mudah dijawab ya, masih terkait pertanyaan si mas-mas bule:
Apakah kalian berencana untuk tinggal bersama di satu kota? 
Ya, tentu saja kami merencanakan itu namun tidak sekarang.
Lalu kapan?
Setelah aku merasa "cukup". Ini bukan soal materi ya. Suwer!

Aku pernah bekerja di sebuah tempat (ga perlu disebut), yang gajinya tidak sampai setengah dari penghasilanku di tempat kerja sebelumnya (juga sebaiknya tidak disebut). Meski uangnya dikit, aku bisa meraup begitu banyak pendapatan dalam wujud ilmu, kesempatan, hingga ketenangan batin (berupa kebanggan, pencapaian, persahabatan dan masih banyak lagi yang sulit diterakan karena lebih mudah dirasakan. Ya!).


Itu sebab mengapa aku selalu benciiiii ketika ada bocah baru lulus sekolah langsung nanya "gajinya berapa?" ketika ditawari pekerjaan, bukannya pamer keahlian terlebih dahulu. Juga benci dengan bagian kepegawaian yang nanya "minta gaji berapa" di awal proses perekrutan pekerja, sebelum nge-tes kemampuan. Huf!


Lagi pula sekarang, dengan status sebagai perempuan menikah, aku berhak atas sesuatu yang membahagiakan bernama: jatah istri (yippie yay yay!). Dengan kebahagiaan baru ini (huahahaha), Insya Allah segala kebutuhanku sudah dipenuhi dengan sangat baik oleh Pawami, lahir dan... (ehm) batin. Jadi ketika ada yang bilang:

Yogya itu kota yang sangat menyenangkan. Ketika seluruh keluarga dan kehidupan sosial/komunitasmu di sana, maka cuma ada satu alasan yang membuatmu memilih hidup di kota se-semrawut Jakarta: Uang.
Ya sila menilai sendiri, dengan terjemahan sebebas-bebasnya. "Cukup" yang kusebut di atas lebih pada suatu capaian. Capaian tentu memiliki nilai/besaran. Nilai tersebut, sayangnya, seringkali hanya mudah dipahami oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku.

Jika beberapa tahun lalu aku sangat ingin lanjut kuliah di negara-negara barat, belakangan prioritasku bergeser. Kuliah bukan lagi cita-cita pertama, meski masih menjadi keinginan besar. Secara berurutan, ini capaian yang kini sangat ingin kujadikan nyata:

  1. Bergabung dengan badan milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam isu apapun, namun aku sangat ingin belajar tentang lingkungan.
  2. Menjadi bagian dari sebuah media besar berbasis internet, Google dan Facebook adalah dua daftar teratas impianku. Masih sangat ingin belajar lebih banyak tentang dunia media.
  3. Lanjut sekolah magister di bidang Manajemen Pemasaran (Universitas Indonesia) atau Studi Pembangunan (Institut Teknologi Bandung), sambil tetap bekerja. Kenapa ga di Eropa? Karna umur udah kelewatan buat cari beasiswa buk, mana tabungan cuma cukup untuk sekolah di "deket-deket sini ajah". Yang paling mungkin ya di UI, sebab aku bekerja di Jakarta. Tapi paling pengen di ITB, karna bisa mencicipi pengalaman tinggal di kota berbeda.
  4. Punya anak. Cita-cita ini ada di antara ketiga poin di atas, ga tau mana yang terwujud lebih dahulu, Insya Allah.
Pasti sulit ya memahami pilihan ini, bagi mereka yang memilih hidup di jalur "orang kebanyakan". Dibilang macem-macem sih sering:
Islam mengajarkan istri untuk ikut suami
Tantangannya adalah: hal-hal yang menjadi cita-citaku tidak ada di Yogya, kota tempat suamiku tinggal.
Tidak baik mementingkan karir dibanding keluarga. 
Aku ketawa aja lah. Karir itu mahluk apa sih?
Ya suamimu aja yang disuruh kerja di Jakarta, jadi bisa tinggal sama-sama. 
Suamiku juga punya cita-cita loh yaaa. Cita-citanya ada di Yogya, bukan Jakarta.

๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

Dan percayalah, persoalan yang dihadapi keluarga kami yang masih terdiri atas dua nyawa ini, tidak sesimpel pikiran orang lain. Orang bisa berpikir begitu mudah, tentang cara yang harus ditempuh agar kami dapat hidup bersama: salah satu mengalah, lalu mengikuti yang lain. 

Itu ga mudah sih buat kami. Selain pertimbangan terkait kami berdua, ada pula pertimbangan lain yang berhubungan dengan keluarga (orangtua, adik kakak) kami masing-masing. Ini pertimbangan yang ga perlu kalian ketahui, sebab akan makin sulit untuk dipahami oleh kalian (iya, kamu kamu itu!).

Setidaknya, selama kami belum punya tanggungan (anak, orangtua yang butuh perhatian khusus, atau situasi lain), kami merasa nyaman menjalani kehidupan yang merupakan hasil dari keputusan kami bersama ini. Buat kalian yang hobi bertanya hingga memberi usulan, aku jadi pengen ikutan nanya: Lah suamiku aja menghargai keputusan bersama kami tersebut, kok situ mo ikut-ikutan mutusin... EMANG SITU SIAPA? ๐Ÿ’ฌ

Dalam sebuah sesi wawancara dengan bagian personalia beberapa waktu lalu, aku diminta menggambarkan secara lisan, bagaimana aku melihat diriku di lima tahun ke depan. Dengan lantang (bah!), aku bilang:

Seorang perempuan yang menyandang gelar ibu dan master.
Kembali ke obrolan semalam. Ada satu pertanyaan lain, yang ditanyakan dengan nakal:
How do you manage it, being a weekend husband?
Dengan bercanda, si mas-mas bule berbisik ke arahku: Kamu punya kesempatan untuk mendapat weekdays husbandDan kami bertiga tergelak!

Boljug usulnya ya! ๐Ÿ‘Œ

Halo Pawami, 
Trims ya sudah menjadi bagian hidupku. Trims telah menerimaku apa adanya, meski ga ada apanya (helah). Trims sudah mendukungku menjadi apa yang kumau. Trims sudah bersedia menjadi weekend husband yang selalu pulang membawa cinta. Trims!

Setelah akhir pekan panjang di Jakarta, semalam. Saat akan pamit kembali ke Yogya. Kami berpelukan lama, seperti biasa. (Dipeluk lama adalah hal yang paling kusuka, ketika bersama orang-orang tersayangku--ini informasi sangat penting ๐Ÿ‘…)
Besok berapa umurmu? 
Yah, dia curi start! Hahahaha, ya begini ini kehidupan seru para pasangan pulang jumat kembali ahad (PJKA) alias weekend husband and wife. Yang memilih untuk memberi ucapan selamat ulang tahun lebih cepat, asalkan yang diberi ucapan ada di depan dadanya.

Eh mas, semalam itu ucapan ultah kan ya? Tumben!


[Gambar: Sebuah akhir pekan ketika Pawami sedang menjalani tugas mulia sebagai weekend husband.]


Mlekom,

AZ

Monday, December 11, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 1:16:00 AM | No comments

How's Married Life?


How's married life?

Last night, a friend asked me that question. This was our first meeting after I announced the happy news to some closest friend, three months before the marriage. Unfortunately she couldn't make it to the D-day, since she had to go abroad for working assignment.

That was the first question I get since being a Mrs. 

"This (I pointed at my finger) is the only different," I said.

Honestly, there is no different about me, him, or us, before and after the vows. It's just the wedding ring on my finger (while he doesn't wearing it, because his belief--that I appreciate--says that men shouldn't wear any kind of jewelry).

Two days after the wedding, we went out for some appointment with the vendors like venue, catering, etc. In the car, we talked about our life today.

"Hi husband!" I teased him, since it is quite 'strange' for me (for him too?) to have a new title as "wife" and/or "husband".

"Hummm..."

"You are my husband, right?" Jokingly, I am asking and stroking his cheek.

"I wonder..." he suddenly step on the brake pedal, change gears, then silence.

"..." I kept waiting.

"It's like... nothing different. I don't know, is it because we're too busy or we're (waiting) too long (to get married)."

"I have the same feeling. I see no different."

Yes, we were too busy during almost six months preparations. We did everything ourselves. Two days before the D-day, we had another conversation on our way to do this and that for the wedding.

"Mas, are you nervous?"

"No... Dunno..."

"..."

"We're too busy preparing anything. With all the pressure we face, I can't feel nervous or anything like people say." (Proven, he did the wedding vow fluently ๐Ÿ˜…)

"Ya, I even lost my curiosity about the excitement on my very last days of being single."

And yes, we were waiting too long before the wedding: more than seven years! This talk reminds me of a friend's comments when I had such a bachelorette party, a week before the D-day.

"I thought you both will never getting marry. I am thinking about a long-lasting relationship, but unmarried. You will always be together, but having ups and downs relations like tons of breakups and reunites."

"Is there any couple with such kind of relationship?"

"Of course, I know some!"

"Oh ya? Well, we had several breakups..."

"Even when they're breakup and try to make relationships with other person, they will ended going back to each other. Or even when they're getting married with other person, their true love will always be with the old ones. In this case, I thought he will be the one who get married first and unhappy with the marriage."

I am laughing out load! She thought, he and I spent too long time together without any plans to get married. This friend of mine is more than 10 years older than me, and have a wonderful 16 years plus marriage life. She is my supervisor on my previous job.

Ten days after the wedding, I asked to go with him for a workshop where he became one of the speakers. I'm so happy to join, since I have nothing to do (yeah literally, I quit my job to prepare the wedding) and I was very 'thirsty' for movement atmosphere and issues discussion--things I didn't do as long as those busy days.

Again on our way to the venue, we're talking about our new life. This is our first public appearance (cieh prikitiw) as Mr and Mrs.

"What will you say if they ask who am I?"

"It's like... you're always with me where ever I am. We're going together (in almost every occasion) to meet many different communities. They're the same person we met (when we were not a husband and wife, yet). They knew us. They even think that we are married, long before."

"Ya, but... we sleep together. I can hold you every single time I want to. We go back to the same place we call 'home'. That's the different today."

Long long time ago before we had the idea to get marry, he often asked when will we go back to the same home, when he drove me home. Today I can say: It's now, sayang!

It's a month now. 11.11 to 11.12.

So, a month married life means... as simple as a ring on my finger (I never put a ring on for every single day in my life before). It's the ring that he put on me after he said the vows.


Today I'm happy, just like the happiness I felt 32 days ago, two months ago, a year ago, even seven years ago. Nothing has changed.

Happy a month, Mas!

#SebelasSebelas | sebelassebelas.org

Mlekom,
AZ


Saturday, December 9, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 7:02:00 PM | No comments

Devian of The Family


What's your father?
He's a civil servant.

Government officials?
Yes, Ministry of Finance.

Your mom?
She was a banker.

She was?
Early retirement, since dad moved to a small town as required by the office. Her office had no branch there, and she had to go with him.

Do you have siblings?
A sister, older than me, is a banker too. While my younger brother is a student of finance.

Ah, an economic-finance family I may say. So you are a devian!
Well...

๐Ÿ‘€

It was my conversation with a colleague from the UK, around 2013. 

Yes I am a devian of the family, but I am Zulivan's--still ๐Ÿ˜‚ 
And today like another family member, I am celebrating the Zulivan anniversary too. Yay!

Happy 38 years, Mama and Papa. Happy Zulivan's Day to all the squad!

Mlekom,
AZ


Wednesday, December 6, 2017


The fashion industry was stunned, when the two French biggest fashion brand’s owner Kering and LVMH, declared that they would not use the zero size model anymore. It is as a response to criticism that fashion industry encourages eating disorders to the models. This commitment was announced on September this year, which immediately invited a long debate. 

Kering owns Gucci and Saint Laurent, while Louis Vuitton and Christian Dior owned by LVMH. These two luxury fashion groups have banned excessively thin models from casting requirements, for their catwalk shows and ad campaigns worldwide. This ban applies to models with the size of below 34 (France) which is similar with the size 6 (Britain), 0 (US), or XXS (international).

There is no record when was the first time the fashion industry began to use only bone-thin models. In 2013, the former editor of Australian Vogue Kirstie Clements wrote for Guardian about thin-obsessed culture in fashion industry. 

“In the late 80s and early 90s, beauties such as Cindy Crawford, Eva Herzigovรก and Claudia Schiffer look positively curvaceous compared to the sylphs of today. There was a period in the last three years when some of the girls on the runways were so young and thin. And they have become smaller since the early 90s,” she wrote.

Size zero is the main requirement on fashion industry in 21st century. Having very thin and tall body, also shape face and hips are the biggest tickets to work on the modelling industry. The difference is, today the models that have the body shape like those needed by the fashion industry, get the shape unnaturally. They hurt their bodies to keep the shapes, like choosing not to eat when they are starving. The disease caused by those kind of eating disorder, is the reason for some group to criticize this size zero rules.

Long before the charter of Kering and LVMH, Madrid Fashion Week and Milan Fashion Show banned size zero models after the death of Luisel Ramos from anorexia in 2006. The year after, the British Fashion Council established guidelines for fashion industry to use healthy models, while the government of Italy set up regulation and began to introduced larger sizes models.


Giorgio Armani eliminated ultra-thin models to support against anorexia. Victoria Beckham barred 12 models from appearing in her New York Fashion Week runway show in 2010, as she wants her fashion be modelled by healthy girls who look realistic to encourage positive image. In 2011, model Katie Green launched the “Say No to Size Zero” campaign to pushed the UK legislation to require health checkups for models before assignments. While having a body mass index (BMI) of no less than 18.4 is a must for models in Israel, by the law in 2012.

Since the list of parties that should be responsible for the disease caused by the modelling industry --starting from talent scouts, modeling agencies, designers, fashion editors, photographers, etc; stakeholders now have better attention to the models. They also have similar agreements about the importance of making fashion as the products needed by everyone, for every customers with all types of body shapes, sizes, and heights

__
Written for a two-days-fashion-articles challenge.
Picture grabbed from here.




Sunday, December 3, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:50:00 PM | No comments

Jakarta Biennale 2017: Menjiwai Seni, Menyenikan Jiwa

Karya paling bermakna adalah karya yang muncul dari kedalaman jiwa. Saya meyakini hal ini, termasuk dalam hal berkesenian. Karya seni yang muncul dari kedalaman jiwa, bagi saya, merupakan produk seni terbaik yang dapat dihasilkan oleh seorang seniman.

Jika demikian, maka tak mengherankan jika karya seni yang ditampilkan dalam Jakarta Biennale 2017 (JB 2017) miliki kedalaman makna yang sangat sarat pesan. Dari soal identitas kebangsaan, pembalakan hutan, penggusuran warga, hingga kegelisahan akan kebhinekaan hadir di dalamnya. Hal tersebut sesuai dengan tema yang diambil pada penyelenggaraan tahun ini: jiwa.


Gambar di atas merupakan karya seniman Robert Zhao Renhui asal Singapura. Karya berjudul “The World will Surely Collapse, Trying to Remember a Tree (III)” ini mencoba memberi makna berbeda atas peristiwa penebangan pohon yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Sang seniman kerap meneliti makna semantik pada mahluk hidup di sekitar, serta bagaimana manusia merekayasa alam.

Patung Gus Dur yang meniru "The Sleeping Buddha", karya Dolorosa Sinaga.
Patung besar berwarna emas yang membentuk sosok Gus Dur sedang rebahan dengan kopiah dan sarungnya itu, merupakan salah satu karya favorit saya. Patung ini meniru karya populer dunia "The Sleeping Buddha", yang mengundang pikir tentang keluwesan sang Guru Bangsa tersebut dalam memaknai perbedaan. Makna yang sangat kekinian untuk menggambarkan kegelisahan sang seniman akan kerinduan kita pada sosok pluralis seperti kyai besar Nahdlatul Ulama tersebut.

Dokumentasi proses berkarya seniman Semsar Siahaan.
Dokumentasi berupa hasil karya dan proses berkarya seniman besar Semsar Siahaan pun menjadi koleksi pameran yang paling saya minati. Selain memajang karya berupa lukisan, ditampilkan pula coretan sketsa yang mengawali kerja sang seniman dalam pembuatan karya, juga didukung dengan dokumentasi berupa foto koleksi keluarga yang membuat kisah hidupnya menjadi lebih hidup.

Khusus koleksi ini, saya memiliki kebanggaan tersendiri. Saya baru tahu bahwa ternyata, Semsar Siahaan lah yang membuat gambar yang sangat terkenal di masanya itu yang muncul dalam ingatan saya hingga hari ini. Ini adalah gambar dalam poster yang menjadi ikon pergerakan buruh Indonesia di masa itu.

Poster advokasi perjuangan buruh gambarkan
sosok Marsinah, karya Semsar Siahaan.
Poster tiga warna itu gambarkan sosok perempuan mengepalkan tangan, yang berdiri di depan memimpin barisan buruh. Ialah Marsinah, buruh pabrik yang merupakan aktivis gerakan buruh yang ditemukan meninggal pada 1993. Goresan dalam poster ini kemudian menjadi genre gambar dalam banyak poster gerakan perlawanan kaum tertindas lain. Dari kasus wartawan Udin tahun 1996, aktivis Munir tahun 2004, hingga penggusuran lahan untuk calon bandara baru Yogyakarta yang tengah bergulir kini.

Beserta puluhan karya lainnya, ketiga karya tersebut seakan mengajak kita untuk ikut menjiwai karya seni, dengan memaknainya sebagai bentuk suara jiwa yang disenikan. Kegelisahan, peringatan, hingga perayaan akan peristiwa yang dialami jiwa, dalam JB 2017 muncul sebagai bentuk karya seni.


Sebagaimana penyelenggaraan sebelumnya, JB 2017 hadirkan seniman dari berbagai kota dan negara. Dari dalam negeri, saya mengagumi karya Ni Tanjung 
berjudul "Dunia Leluhur" berupa wayang yang membentuk wajah para dewa mitologi Hindu Bali. Tak main-main, karya yang dibuat dengan bahan sederhana berupa kardus bekas ini telah menarik perhatian dunia art brut Eropa. Art brut merupakan karya seni ciptaan mereka yang memiliki gangguan kejiwaan.

Karya Nikhil Chopra merupakan penampilan terbaik seniman asing yang saya kagumi. Seniman asal India ini menampilkan beragam unsur seni sekaligus dalam karyanya "Land Water", yaitu seni lukis, kriya dan teater. Selain wujud yang menarik, karya ini ditampilkan dengan pesan mendalam soal kesewenangan yang dilakukan penguasa politik.


Saya pada JB 2017 di Gudang Sarinah Ekosistem.
Yang menjadi pembeda antara penyelenggaraan JB 2017 dengan yang sebelumnya adalah, bertambahnya lokasi penyelenggaraan. Jika sebelumnya terpusat hanya di Gudang Sarinah Ekosistem, kali ini juga diselenggarakan di Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Institut Franรงais d’Indonรฉsie (IFI). Penambahan tempat penyelenggaraan ini potensial untuk makin mendekatkan masyarakat Jakarta pada karya seni.

Selain pameran, JB 2017 yang berlangsung sejak 4 November hingga 10 Desember 2017 ini, juga menampilkan seni pertunjukan dan simposium. Puluhan agenda hadir untuk memanjakan masyarakat dan pecinta seni, yang dapat diikuti secara gratis.

Wednesday, September 20, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:13:00 PM | No comments

Ketika Matahari Pasaraya Gulung Tikar...


Bangkrutnya gerai Matahari di dua Pasaraya di Jakarta, membuat ritel lokal ini memberi diskon besar-besaran, hanya untuk habiskan (baca: membuang) barang. Kata orang Pasaraya yang saya tanyai, Matahari di sini sepi. Meski demikian, menurutnya ritel Pasaraya juga sepi, meski belum (?) gulung tikar.

Nganuw. Kan katanya daya beli masyarakat menurun. Tapi pas diskon besar dalam rangka "buang" barang tsb, konsumen nyerbu lebih ganas dibanding saat Jakarta Great Sale maupun late night sale yang digelar merk macam Debenhams, Zara ato H&M. Dalam semalam saja, barang-barangnya habis terjual sebanyak hampir 90%. Wuiiiii!

Tanya kenapa?

  1. Harga produk Matahari terjangkau. 
  2. Memang harga diskonnya jadi murah bangetttttt. 
  3. Ekonomi rumah tangga sudah kembali pulih pasca belanja Lebaran. 
  4. (Isi sendiri)

Ini gambar di Pasaraya Blok M semalam. Jangan tanya aku belanja apa, ya! Bukan konsumen setia Matahari sih... #AnakPasar

Mlekom,
AZ


Thursday, August 3, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:14:00 PM | No comments

Tiga Perempuan yang Menempuh Banyak Jalan Sama


Meski usia hanya terpaut empat bulan, Lutfi (berbaju putih) adalah senior Adriani (merah) di pers mahasiswa. Irma bertemu Adriani saat mengikuti pelatihan jurnalis kampus tingkat nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beberapa tahun setelahnya, Irma bertemu Lutfi dalam kegiatan kelompok pecinta buku nasional.

Suatu malam di akhir 2016, Irma menjamu Adriani di salah satu warung paling hips di Makassar, Sulawesi Selatan. Berdua mereka habiskan malam, sebelum masing-masing menggunakan pesawat pagi ke dua kota berbeda. Irma ke Palu, Sulawesi Tengah, Adriani kembali ke rimba ibukota.

Di Palu, Irma mengikuti sebuah agenda nasional terkait literasi. Tentu saja di sana, ia bertemu dengan Lutfi yang terbang dari Jakarta. Satu hal menarik dari hubungan ketiga perempuan ini adalah, dua perempuan yang berdomisili di Jakarta itu, lebih sering bertemu dengan Irma di berbagai kota. Baru sekali keduanya bersua di Jakarta :)

Hal menarik lain adalah, tenyata tiga perempuan yang menempuh banyak jalan sama. Kisah yang baru diketahui dalam pertemuan kedua bagi ketiganya di Jakarta. Jalan tersebut adalah:
  1. Jurnalis kampus murtad, meski terus menulis hingga hari ini. 
  2. Lulus lama, namun masuk bursa kerja sejak di bangku kuliah. Namun hal ini tidak berlaku untuk Lutfi. 
  3. Bukan pendamba wisuda, meski salah satunya dipaksa wisuda oleh #MamakAwak. 
  4. Pecinta buku dan bergiat di komunitas literasi. 
  5. Ga pernah jomblo, tapi lupa jalan ke KUA. Status terkini: sudah, segera dan akan menikah.
Gambar di atas dari pertemuan pekan lalu yang penuh nostalgila.

Mlekom,
AZ

Sunday, July 30, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 10:34:00 PM | No comments

Selamat Satu Tahun, Subcyclist!


Meski bukan bikinanku, mau pamer dulu. Sebab itulah hakekat media sosial, bukan? ๐Ÿ‘…

Tahun lalu saat menghadiri agenda UN Habitat, aku yang tukang pamer ini pasang status kalau sedang di Surabaya. Lalu disamber teman yang menandai temannya, lalu temannya ngajakku mancal, lalu aku bertemu dua teman dari temannya itu. Ribet tho? ๐Ÿ˜ค

Intinya, tanpa sengaja saya menjadi bagian penting (di-bold) dalam pembentukan komunitas bernama Suroboyo Cycling Institute (SCI).


Namanya apa, Ndra?
Belom tau nih, tapi kepikiran SCI.
Apik! Yawes aku pake itu ya buat publikasi.
Cak Salas, Cak Zainal, Cak Indra dan Ning Adriani (maksa) pun mulai mancal menyusur Kota Surabaya. Malam itu aku sebenarnya cape banget, baru tiba dari kabupaten lain di Jatim setelah nyaris sepekan kunjungan lapangan (lagak Presiden).

Tapi aku tentu saja ga bisa lewatin janji untuk komunitas yang sedang bangkit. Dan akupun ikut. Eh habis mancal kok bahagianya kaya habis dilamar ๐Ÿ’˜

Malam itu kulihat betapa siap tiga teman baru ini menata apa yang mereka cita-citakan. "Penglihatan" itu tidak meleset, bahkan melebihi ekspektasi. Dalam tiga bulan pertama, SCI sudah mendapat sambutan publik luar biasa.

Segmen utamanya anak muda. Yang pelajar maupun pekerja. Yang pesepeda maupun bukan. Yang punya pacar maupun jomblo. Eh-- Pokoke beragam!
Dari hanya satu rute yang kami jajal malam itu, yaitu jalur yang melewati bangunan dan kawasan pusaka (makanya aku tertarik ikut), hingga entah sudah berapa rute yang mereka jalani kini.

Oh ya selain ikut "membidani" kelahirannya (ah kamu lebay banget sih mbak!), aku juga--lagi2 tanpa sengaja--berkontribusi pada penciptaan sebutan bagi komunitas ini. Bukan SCI, tapi Subcyclist! #proudMomma 
Nah yang ini panjang ceritanya, lain kali aja.

Yang pasti, anakku yang satu ini kini menjadi salah satu komunitas pesepeda yang paling diperhitungkan di banyak jagad: sepeda, transportasi ramah lingkungan hingga ruang kota.

Di enam bulan awal kutanya apakah mereka telah menduga bahwa Subcyclist akan berkembang sepesat ini? Ternyata tidak, bagi mereka ini sangat mengejutkan.

Nah, inilah bukti nyata bahwa ternyata anak muda Surabaya itu bukan sulit berkembang seperti tuduhan banyak orang. Sejumlah teman yang merupakan warga lokal Surabaya seringkali membandingkan antara kegiatan warga Surabaya dengan aktivisme warga di Yogya, yang menurut mereka sangat berbeda. Kasarnya, warga Surabaya gak mau diajak gerak untuk berbuat sesuatu bagi kotanya!

Namun, Subcyclist tidak membuktikan hal ini. Tak adanya wadah yang mampu menjadi apa yang mereka butuhkan, adalah penyebab keengganan warga untuk terlibat. Begitu asumsiku.

Kini Subcyclist telah berbicara di kotanya sendiri hingga tingkat nasional. Pernah mendapat kesempatan untuk dampingi tamu negara, hingga menjadi bagian dari pengembangan program oleh pemerintah. Sekali lagi, am a proud momma!

Selamat satu tahun buat tiga cak dan ratusan pegiat Subcyclist lainnya. 28.07.2016 - 28.07.2017. Kalian warbyazyak!

Oh ya, kamu harus berkenalan langsung dengan tiga cak berdedikasi yang membangun Suroboyo Cycling Institute sejak telur, piyik, hingga seguedhe sekarang: Cak Salas Suroboyo, Zainal Arifin dan Inanta Indra Pradana (sila cek profil mereka di medsos!). 

Salam #WaniMancal!

Foto: 3 cak + 1 ning yang mencoba rute awal Subcyclist.

Mlekom,
AZ

Tuesday, July 25, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:03:00 PM | No comments

Kebiasaan Tak Lazim Soal Konsumsi Susu


Tentu saja aku mendukung pemberian ASI. Buk ibuk yang di sana jangan nyolot dulu ya...

Jadi gini. Sudah sejak lama aku punya kebiasaan ga lazim soal konsumsi susu.

Waktu kuliah punya badan kerempeng, aku suka konsumsi susu bumil yang dari informasi yang kubaca, kandungan gizinya lebih tinggi daripada susu biasa. Ini setelah Appeton Weight Gain ga ngefek dan ahli gizi cuma bilang "nanti gendut sendiri kalo udah nikah".

Persoalannya, nikah itu lebih sulit dibanding rajin membaca kandungan susu. Maka ketika tiga tahun lalu menggembul (tanpa nikah) tapi masih merasa membutuhkan susu, kubaca-baca lagi kandungan susu 'tidak biasa' yang berjajar di rak susu toko.

Maka pilihan sering jatuh ke: 1) susu bayi. 2) susu orang lanjut usia. Ini yang kandungan kalsiumnya tinggi. Nah biasanya aku jejerin tuh tiga kemasan susu, bandingin masing-masing ingredients. Yang paling tinggi kandungan mineralnya (tentu pake gugling, apa fungsi masing-masing bagi tubuh) akan kubeli.

Jadi hampir tiap bulan susunya ganti. Paling favorit susu bocah bukan bayi. Sebab meski kandungan susu bayi lebih tinggi, rasanya kaya nyium telapak tangan setelah gelantungan di Kopaja non AC gitu. Zat besiiiiii. Besi karatan!

Nah kalo yang ini dikasih. Sebagai salah satu pengguna internet teladan sejagad nusantara, aku sering dihadiahi produk-produk keluaran baru. Ini yang keempat kali dalam tiga bulan terakhir. Mulai dari sampo, deodoran, sabun cuci piring, sampe susu yang baru datang pagi tadi ini.

*menanti komentar dari pegiat kesehatan soal ketidaklaziman ini

#3menitcerita

Mlekom,
AZ

Saturday, July 1, 2017

Posted by adriani zulivan Posted on 11:15:00 PM | No comments

Mengumpulkan Kebanggaan di Tiap Persinggahan


Lihat foto ini muncul di memori Facebook, jadi pengen cerita. 

Aku merasa beruntung, sebab di tiap "persinggahan" berkesempatan menjadi bagian dari hal-hal membanggakan. Seperti kebanggaan ketika menjadi bagian dari program Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (EMAS).

Foto ini diambil waktu liputan cerita sukses implementasi program di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, 2015 lalu. Puskesmas Kajang yang mendapat dampingan dari program EMAS, dalam waktu kurang dari dua tahun berhasil mengurangi angka kematian ibu dan bayi.

Waktu itu kami wawancarai Bidan Koordinator (Bikor) yang bertugas saat seorang pasien datang dalam kondisi gawat darurat. Pendarahan hebat yang jika di banyak Puskesmas tidak berani menangani.

Namun di tangan Bikor dan tim solid Puskesmas, ibu dan bayi selamat. Dengar kisahnya aja aku ikut bangga, padahal ga ikut melatih mereka apalagi ikut tangani persalinan beresiko tersebut.

Ini baru satu cerita, bagaimana yang kamu kerjakan menjadi manfaat bagi bangsa. Aku punya segudang cerita lain. Tak hanya di EMAS, namun di seluruh "rumah" yang pernah aku "singgahi".

Sebagaimana persinggahan lainnya, sekarang pun aku sedang mengumpulkan kebanggaan di rumah baru. Yang mudah-mudahan juga menggores satu-dua manfaat bagi negeri ini.

Apakah pekerjaanmu lahirkan kebanggaan yang sama? Jika tidak, ada baiknya menciptakaan kebanggan itu, dari dirimu.

#lagakbijak
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata