Sunday, December 27, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:05:00 PM | No comments

Hai Kamu, Trims untuk Hari Ini


Hai kamu,
Trims untuk hari ini.

Naik kereta pagi buta, meski kamu usaha keras bangunin aku.
Mau makan di trotoar CFD, meski kamu enggak terlalu antusias.
Nyuruh aku kekep dompet, di depan batik2 lucu tadi.
Ngikut inginku ke Laweyan, meski aku berubah pikiran bikin kita batal jelajah kampung.

Sedia nongton Setar Wors, meski kamu (sepertinya) ketiduran.
Langsung belikan aku teh panas, saat aku tetiba sakit kepala.
Antri tiket di stasiun, sementara aku duduk cantik di mobil.
Pijat bahuku yang tegang karena sakit kepala, buat sakitku berkurang.

Kamu antar aku pulang, meski kamu terkantuk-kantuk.

Hai kamu,
Terima kasih untuk hari ini.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Saturday, December 26, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 9:55:00 PM | No comments

Belanja Buku Terakhir di 2015

Sudah tiga kali kunjungi Bazar buku Gramedia di Sudirman Yogya kali ini. Hari pertama pada dua hari jelang Natal, memang pengen mampir, hasilkan 20 buku. Dua hari kemudian janjian sama teman di Gramedia, sukses membawa pulang 7 buku. Hari terakhir beli 1 buku Samkok yang di hari pertama enggak dijual di sana (trus minta tolong mas-mas Gramedianya untuk simpenin).

Kalau tahu harganya, kalian pasti mupeng. Jadi beginilah, sesuai urutan foto--bawah ke atas:
  1. Novel grafis Samkok (5 jilid, tamat) - @Rp 25rb
  2. Mimpi Beruang Coklat, LFL - Rp 25rb
  3. Kisah 108 Pendekar, Naian 3 seri (tamat) - @Rp 5rb, di Gramedia Solo @Rp 77rb
  4. Komik Perang dunia II (6 seri) - Rp 40rb/bundel
  5. Grown Up Digital, Tapscott - Rp 40rb
  6. Pasang Tarub Jawa, Tim Tembi - Rp 10rb
  7. Jip dan Janeke (edisi 3 dan 5) - @Rp 10rb
  8. The Kid Runner (novel grafis), Hosseini - Rp 15rb
  9. Town Boy, Lat - Rp 20rb
  10. Uncle Tom's Cabin, Stowe - Rp 5rb
  11. Misteri di Peternakan Peter Carlson, Tabita - Rp 5rb
  12. Cedric (seri 1, 2, 4, 5, 9, 10, 11, 12). Duh, yang 9 & 12 masing-masing kebeli 2 eks - @Rp 5rb 
Ini belanja buku terakhir di 2015. Duit segitu dapat 34 eks :)

Mlekom,
AZ

Tuesday, December 22, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:13:00 PM | No comments

Penting Ya Buk, Begituan Dibahasss!


Usai diskusi bersama gerakan @wargaberdaya.

Ibuk-ibuk (I): Kuliah apa kerja? 
Aku (A): Kerja, buk 
I: Kerja di mana? 
A: Jakarta buk 
I: Wah ini lagi liburan? 
A: Iya buk 
I: Libur apa cuti? 
A: Cuti buk 
dst... tanpa berujung kemana-mana. Basa-basi kok keliwatan yo! ‪#‎njelehi‬. Eh masih lagi:

I: Wartawan ya? 
A: Enggak buk. 
I: Kok bawa kamera? 
A: (dalam hati: semua yang bawa kamera wartawan ya buk?) ... 
I: Kalo wartawan juga gpp kok 
A: (astaga, ni orang) 
I: Kalo wartawan gak apa2, kita-kita aja kok di sini 
A: Saya bukan wartawan buk 
I: Lha itu bawa kamera, klo wartawan juga gpp kok *maksa* 
A: (ya Tuhan, cerahkanlah pikiran ibu ini)

Sampe bapak2 (B) di sebelah saya pun ikut terganggu.
B ke I: Ya klo gak nanya juga gpp kok bu
I: Ya klo wartawan juga gpp tho pak
A: Ya klo ibu gak percaya ya gpp tho
Jadi bales2an gini. Selo!

Eh beberapa menit kemudian masih lanjut. Waktu si bapak nanya saya dari mana, si ibuk nimbrung.
I: Ituloh, pacarnya si... siapa tadi namanya? *gowel2 bahunya ke bahu saya*
A: Heh? *mulai lupa cara sopan sama ortu*
I: Eh siapa itu tadi pacar apa suaminya?
A: Siapa buk?
I: Siapa tadi namanya, yang di depanmu? Ryan?
A: Siapa Ryan?
I: Halah, pura2 tho. Gpp lho kita2 aja di sini.
A: Siapa Ryan? Saya sudah bilang, saya temannya teman2 @wargaberdaya
I: Kalo iya juga gpp 
(ya Tuhan, nyebut terus dlm hati)
B: Oh, saya belum pernah lihat mbak. Jadi blablabla... (lebih nyambung ngobrol sama bapak ini).

Saya terus berusaha mengalihkan perhatian. Ini sedang di forum, saya abaikan si ibuk, dengan melihat ke orang2 yang bicara di depan.

I: Sudah punya ekor?
A: ... (meski ngerti maksudnya, malas jawab) 
I: Ekor itu anak maksudnya. Kalo saya sudah punya ekor sama buntut. Cucu maksudnya. 
A: Wah senangnya, alhamdulillah (tetap nengok ke depan).

Oh belum, itu belum semua :(
I: Udah nikah? 
A: Belom buk. 
I: Lho kok belom? 
(dst sampe dia nanya umur, dst dll dsb).

Belom, belom, masih ada lagi pas kita makan.
I: Kok semangkanya gak dimakan? Enak lho! 
A: (yaowoh, makan pun diatur) Kan saya masih makan nasinya bu?

Dan tiba waktunya makan semangka, saya pakai tusuk gigi yang ditempel di kotak semangka. Ada suara lagi:
I: Saya tadi makan semangkanya pakai sendok, susah pakai tusuk gigi... 
A: (penting ya buk, begituan dibahasssss!)

Ya Tuhan ampuni aku atas dosa menceritakan kelakuan ibuk-ibuk nyebelin ini. Amin.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:15:00 AM | No comments

Adzan, Diam



Hal menarik di kampus ini, seheboh apapun perdebatan dalam diskusi berjalan, ketika adzan semua orang menyepakati satu hal: diam.

Mlekom,
AZ

Saturday, December 19, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:48:00 PM | No comments

Apalah Ini, Apapun...

Kemarin sore Cilacap - Purwokerto pakai mobil. Lanjut Purwokerto - Yogya dengan kereta, di kereta bikin presentasi buat acara besoknya (hari ini). Tiba di Yogya jam 23.00, langsung ke rumah, makan, unpack, packing, mandi.
Ke stasiun lagi jam 00.00. Kereta Yogya - Surabaya.

Tiba jam 07.00 keesokan harinya. Mandi di masjid dekat stasiun, dijemput panitia ke hotel transit. Ganti baju cantik, mekapan, sepatuan. Sedikit bahas presentasi sama si mamas yang baru baca bahan yang kukirim di kereta semalam. 09.00 ke venue.

Jam 11.00 presentasi dan tanya jawab dengan bugar dan full enerji. Jam 15.00 terkantuk2 di presentasi orang lain, setidaknya 3x menyadari mata atau kepala tanpa kendali.

16.00 ke Gresik. Di taksi tidur lelap, berasa ada genggaman di tangan yang membuat nyaman (ahik!). Kami dijemput di terminal. Mampir ke rumah teman yang njemput, lalu ke luar cari hotel. "Yang laki-laki tidak satu kamar dengan yang perempuan kan?" kata hotelnya. Ya menurut lo, pak?

Makan nasi krawu, makanan terlezat sejagad Gresik. Beli martabak. Mata masih cukup segar. Lanjut nonton Gresik Indie Movie Festival yang cukup berjarak dari hotel. Film kedua baru mulai, aku minta diantarkan ke hotel.
Masih mampir beli air minum (yang tidak disediakan hotel) dkk. Bersih2, mau tidur, aroma rokok tajam di ruangan. Tanya apakah ada kamar non smokin? Tidak. katanya. Yawes minta di-treat. Cuma disemprot semprot pengharum ruangan.

Jadi sekarang gajadi2 trus urusan tidurnya...

Apalah ini, apapun...

Mlekom,
AZ


Sunday, December 13, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 2:58:00 PM | No comments

Trims Pak Win!

Kemarin:
05.00 Bangun
06.00 Ke Sukabumi
13.30 Tiba di Sukabumi (iya, macet abis)
16.30 Berangkat dari Sukabumi. Telepon pesawat, minta tiket diundur besok jam 08.00.
23.30 Sampai Jakarta. Minta taksi yang kunaikin untuk jemput jam 06.00 besok.
24.00 Packing besok ajalah. Kan bisa bangun jam 04.00, toh brgkt jam 08.00. Set alarm jam 04.00.

Hari ini:
04.00 Bangun. Ngulet2.
04.30 Telepon pesawat.
04.45 Markitid! Berangkat jadi jam 12.00! Mo telp taksi yang janjian semalam, harap2 cemas beliau datang pagi. Duh gak punya nomernya (aku yang kasih nomerku ke bapaknya).

Zzz...

Benar saja, tepat janji taksi datang. Pak Win, nama pengemudinya, telepon aku. Beliau tidak bisa mengantarkan saya siang nanti, sebab ia shift malam dan jam 12.00 siang nanti sudah harus kembali ke pool. Mungkin mobilnya akan digunakan oleh pengemudi lain. "Gpp buk, nanti telepon (ke CS) lagi aja," katanya.

Dengan berat hati kubatalkan. Meski bukan pesanan via telp, kuberi sejumlah 'uang pembatalan' sebagai bentuk terimakasih atas ketepatan janji dan kesediaannya membuang waktu untukku.

Sedih rasanya, ketika tak jadi menggunakan jasanya setelah dia semalam suntuk menanti. Aku minta nomor teleponnya, agar suatu hari nanti bisa menggunakan jasanya lagi. 0812 7611 1299 Pak Win. Jika kamu butuh taksi Burung Biru, sila hubungi beliau ya.

Trims pak Win. Really appreciate you!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 12:38:00 PM | No comments

Mendadak Catwalk

Ngebayangin ada apa di balik judul ini aja bikin aku senyum-senyum sendiri hahaha :p

Jadi ini soal kejadian kemaren siang, di mana aku mendadak jalan di panggung peragaan busana. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamaku. Waktu SMA, aku dipaksa ikut sekolah modelling karena aku pemalu banget [pernah aku ceritain di sini]. Namun baru kali ini jalan --ah sebutlah catwalk (ga nemu terjemahannya) untuk agenda serius, dulu kan cuma terpaksa iseng aja. Kalau dulu terpaksa dan dipaksa, kali ini masih ada unsur paksaan tapi aku bersedia dengan senang hati melakukannya :)

Kesempatan ini datang ketika aku mengikuti agenda majalah Femina bertajuk "Inspirasi dari Selembar Kain: Workshop Tenun Gaya by Wignyo". Agenda jalan-jalan keliling Kota Sukabumi, Jawa Barat yang dilaksanakan pada Sabtu (12/12) ini memokuskan kunjungan di sentra pembuatan tenun Sukabumi yang dikelola oleh Bapak Wignyo Rahadi.

Selain menghasilkan kain hasil tenunan sendiri, bengkel produksi ini juga merancang berbagai busana menggunakan bahan tenunan Gaya. Gaya adalah merk yang disematkan Wignyo pada produknya, yang sekaligus merupakan nama dari anak perempuannya.

Siang itu setelah bosan dan lapar karena bus yang kami tumpangi terjebak kemacetan luar biasa, begitu tiba di lokasi kami langsung menyantap makanan yang disediakan. Rasanya cuma enak dan enak banget. Bayangkan ketika nasi liwet ketemu ikan asin dan sambel. Wuiiiiiiii ga kebayang kan!

Nah sewaktu sedang duduk menikmati makanan pencuci mulut, salah satu panitia mendatangiku.
"Mbak, bisa ga bantu jadi model?"
"Model apaan?"
"Pake baju yang ada di sini. Ada beberapa baju yang lagi disiapkan."
"Modelnya foto apa jalan?"
"Jalan gitu, ke panggung sana," tunjuknya pada sebuah panggung di sudut bengkel produksi ini.

Setelah menimbang kilat (sebab ditungguin mbaknya), toh ini bukan ajang model sungguhan alias ga ada model beneran yang bakal bikin minder, kuiyakan. Itung-itung nostalgila jalam modelling kan ya :)

Aku diantar ke ruang pas. Seluruh model amatiran seperti aku sedang bersiap di sana. Sayangnya aku ga bawa riasan wajah lengkap, hanya yang kugunakan sehari-hari: bedak, pemerah pipi, pewarna mata dan lipstik. Tak ada alat rias yang mereka siapkan.

Masing-masing model --sebutlah demikian ya-- diminta peragakan dua baju, satu model kebaya encim yang aku sukaaaaa banget, dan satu potongan modern yang ga kalah cantik (aduh rok yang dipake mba Dewi bikin pengen bangettt).

Ketika kami sibuk merias diri, di luar sana di atas panggung terdengar keriuhan. Pemandu acara sedang memandu diskusi dengan Pak Wigyno dan Bank BTPN yang menjadi salah sponsor.

Maka tibalah saat itu. Dengan instruksi minimalis (dianggap semua orang pernah liat gimana lenggak-lenggok model peragaan busana kali yaaaa), satu per satu kami keluar dan dipandu ke panggung.

Begitu naik, ga kaya model busana biasanya, dimana cuma berhenti sudut sini sudut sana untuk perlihatkan detil pakaian yang dikenakannya, Pak Wigyno jelaskan detil per busana. Aaaaaalamak!

Baju pertama sukses. Baju kedua pun demikian. Syukurlah, ga gugup karena ga ada yang perlu digugupin kan ya :)

Setelah sesi catwalk hampir satu jam itu, oleh panitia kami difoto bareng. Fotonya kemudian muncul di Instagram dan Twitter Femina. Salah satunya yang di atas itu :p

Setelah mengganti pakaian, kami bergabung dengan acara di panggung. Sedang kuis. Tapi ga tanya-jawab lagi seperti yang kami dengan di ruang pas tadi, tapi penarikan undian. Eh nama Adriani Zulivan tercetak di salah satu kertas yang diangkat orang BTPN dari mangkok kaca itu. Yay, ikutan agenda ini malah balik modal hahaha. Soalnya, untuk bisa ikut agenda ini, tiap peserta harus membayar sebesar Rp 350.000.

Ketika peserta lain berbelanja kain ataupun baju berbahan tenun Gaya, aku sibuk melihat para pekerja yang sedang menenun. Lagi pula, Tenun Gaya punya galeri penjualan di Jakarta. Untuk proses tenun hanya bisa dilihat di sini. Hal menarik ketika melihat tenun ini masih pertahankan produksinya menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika pamit, satu per satu peserta dikalungkan selendang Tenun Gaya oleh Pak dan Bu Wignyo. Bahagiaaaa banget dapat oleh-oleh yang dibuat dengan kesadaran penuh untuk melestarikan pusaka ini.

Di bawah guyuran hujan kami mampir ke toko oleh-oleh Moci Lampion. Lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta yang lagi-lagi macet. Aku sampai memundurkan jadwal terbang malam itu.

Ah ga masalah sih. Senang bisa mendadak catwalk, semoga ga malu-maluin Femina yah :)

Mlekom,
AZ


Sunday, December 6, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:16:00 AM | No comments

Kelen Model yang Mana?

Aku tuh model yang suka nyoba bikin sendiri makanan beli yang waktu dicicipin enak. Pas baru nyoba, eh kok enak? Langsung deh gugel resepnya dan bikin. Paling seru itu pas kreasikan bahan dan bumbu sesuai lidah sendiri (jadi nggak autentik lagi ya?). Misalnya pampis ini atau chee cheong fun ini, atau asem-asem daging ini, dan sejumlah masakan lain yang bisa dicek di sini (sekalian promo blog hahaha).

Punya pengalaman nyicip makanan, doyan, lalu masak sendiri gak? Mau donk resepnya (karena kalo sampe ketagihan, pasti emang enak banget tuh)!

Nah, kelen model yang mana?

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Thursday, December 3, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 10:18:00 PM | No comments

Mudahnya Menjadi Penyuka Sesama


Tadi pulang naik bus dan menyadari betapa mudahnya orang menjadi penyuka sesama, ataupun bisex.

Aku duduk di kursi tambahan yang menghadap samping. Di depanku banyak orang bergelantungan (oh tentu saja aku beri tempat duduk pada bumil, meski hari ini kudu egois dengan penumpang lain sebab aku sedang ber-rok mini yang bahaya jika gelantungan--yunowataimin). Jadi--buat kelen yang gatau isi kopaja--posisi penumpang begini:

Supir di kanan (ya lah, endonesa woy!), di samping kiri pintu tempat naik-turun penumpang perempuan (ya, klo padet, beginilah sopir dan kernet membaginya). Pintu lain ada di belakang, untuk penumpang lakik.

Di belakang sopir ada satu bangku (semacam bangku baso berbahan besi yang 'ditanam' permanen). Bangku ini untuk 2 orang, aku salahsatunya. Di belakang bangku ada pintu geser untuk penumpang naik turun di halte. Jd klo duduk di bangku ini jangan harap bisa senderan, klo belom pengen jontor dicium pintu yang mbuka-nutup tanpa permisi.

Nah, di depanku ada space di samping pintu kiri untuk berdiri dua orang (yang kerap diisi 4-6 orang *emotsokkaget*), di belakang space ini ada deretan bangku terhormat (iya, karena bentuknya kursi, bukan bangku baso) untuk dua orang.

Jadi, diantara aku dan dia eh mereka yang berdiri di pintu kiri dan kursi terhormat, ada penumpang lain yang bergelantungan, biasanya dua orang. Tadi 'cuma' satu orang, berdiri menghadap aku. Kalian bisa bayangkan: dua perempuan, hadap-hadapan, yang satu di atas, satu lainnya di bawah. ‪#‎apasih‬
Itu sampe bagian tengah. Bagian belakang besok2 aku critain yes!

Nah, balik ke posisiku. Waktu padet2nya, kernet kan jalan mondar-mandir depan-belakang narik ongkos. Pas mo lewat drpanku, dia minta penumpang yang di drpan pada "masuk masuk, tengah tengah, kosong sini". Mbak2 depanku gak mau geser, dan terjadilah awkward moment itu:

Ketika bang kernet liwat, kedua kaki simbak2-yang-gelantungan itu masuk ke dalam pahaku (dalam paha itu = ituloh, kalo kamu duduk kan ada jarak antara paha sama paha). Lututnya mengunci di sana. Sampai keadaan stabil, kira2 dia gak bakal jatoh, aku tarik kaki dan mengatupkan kedua paha (iya, aku biasanya duduk agak ngangkang emang, makanya tu kaki embak2 bisa masuk2 aja.)
Kejadian ini berulang lagi sekali. Sampai dia pindah ke belakang.

Dengan pembagian ruang (pintu depan buat cewe, pintu belakang buat cowo), jangan heran jika cinta bersemi di antara penumpang yang melewati sesama pintu itu...

That awkward moment... Reminds me of this http://www.kompasiana.com/…/sopir-ugal-ugalan-penumpang-bus…

Mudah menjadi penyuka sesama? Enggak sih, ini tentang buruknya layanan transportasi publik kita. Anggap ini Kisah Kopaja #1. Masih banyak cerita lain menyusul :p

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Saturday, November 28, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 12:45:00 PM | No comments

Ribut-ribut Soal Kebon Kembang

 

Kebon rusak karena diinjak-injak. Cilakanya, dari foto yang beredar, paling banyak yang fotoan di sana abegeh2 jilbaban. 

Lalu rame komentar: Jilbaban, tapi gk ada otak. Jilbaban, tapi kelakuan nggak bener.

Kok yang salah jilbabnya?

Meski beda subjek, predikat dan objek, logika pikir seperti ini mengingatkanku pada pemerkosaan seorang mbak-mbak kantoran.

Komentar publik: Yaiyalah pakaiannya begitu, pantesan aja diperkosa.

(Jadi maksudnya, yang pakai rok mini pantas diperkosa kah?)
Kok yang salah roknya?

#‎ngombyang‬

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Friday, November 27, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:49:00 PM | No comments

Menghirup Suasana yang Begitu Kurindukan


Salam tangan papa mama yang jemput, "Adek udah naik berapa kilo? (berat badannya)", "Nanti makan ikan balado sayur daun ubi tumbuk ya." 
Papa ambil ranselku dan memanggulnya. 

Suara musik Minang yang urutannya sudah kuhafal, CD favorit papa.
Masuk gang, "Loh, si (tetangga) anu mobil baru lagi?" *pergosipan lokal*. 

Buka pintu kamar, cek rak buku yang utuh. 
Menatap pola-pola pakaian yang sangat pengen aku jahit. 
Buka lemari, itu tumpukan kain yang semestinya sudah menjadi blus, celana dan kemeja itu. 
Lalu teringat sekardus buku yang selalu bertambah dan belum dibaca.

Kasurku. 
Rebahan. 
Ah, rindu nian. 

Sibak tirai jendela. 
Tanaman hijau temaram berselimut malam. 
Klik, buka kacanya. 
Udara itu, udara yang kurindukan. 

Dan aku terlelap, nyenyak.
Mestinya sekarang sedang terlelap nyenyak dibuai udara Yogya. 
Setelah semalam tadi terjaga, dan mata ini baru sedia menyapa bantal selepas shubuh.

Mestinya. Bukan kenyataannya.
Nyatanya sekarang aku masih di sini.
Setelah membatalkan tiket berakhir pekan di Yogya.
Absen dulu di agenda keluarga besok, Dieng.

Ini pilihanku.
Andai kau tahu, bekerja di luar kantor meski di akhir pekan selalu menyenangkan. 
Ramai teman baru, makin akrab dengan teman lama.

Iya sih, aku tetap kangen kamu!

#ngombyang

Gambar ini bukan rumah yang kurindukan :)

Mlekom,
AZ


Monday, November 23, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 10:33:00 PM | No comments

Kembali ke Ketek Orangtua

Salah satu resolusi 2014 ku adalah "tinggal tidak di bawah ketek ortu, demi keluar dari zona nyaman". Cara asyik untuk cabut dari rumah adalah dapat beasiswa. Emang dipikir mudah, sejak 2013 belom ada harapan. Akhirnya di bulan Mei aku berubah pikiran: sambil terus cari beasiswa, mari kerja di luar kota.

Aku pengennya kerja di tempat yang indah. Harus Indonesia timur, sebab Sumatra kayanya bisa aku kunjungi kapan saja, sebab sebagian besar kerabat tinggal di sana. Papua belum berani, sudah kebayang ongkos mudik yang bikin kantong bolong.

Kebetulan ada bukaan di salah satu el es em di Kupang. Woaaaa keterima donk! Trus cerita sama Mamak Awak, "Enggak, mama nggak mau, di sana masih ada malaria, di sana jauh, di sana gini gitu gini gitu..." yang mengakibatkan aku mengundurkan diri.

Mengapa tidak Jakarta seperti kebanyakan tamatan Yogya (baca: biasanya sih anak2 UGM) lainnya? Duh, kota itu. Macet adalah hal yang paling bikin anti sama kota satu ini. Pernah sih cinta sama Jakarta, waktu aku kuliah dan keluarga tinggal di sana. Jadi tiap ke Jakarta senang, karena ketemu keluarga. Gak peduli kemacetan.

Tapi akhirnya aku keterima di Jakarta. Mamak Awak nggak khawatir. Memang, kotanya jauh dari kata i-n-d-a-h. Tapi berbagai strategi bisa buat hidup di Jakarta tidak-seburuk-pikiranku. Misal: kembali ke ketek ortu saban akhir pekan smile emoticon ‪#‎balikmaningbalikmaning‬

Dah 3 minggu gak pulang. Kangen mudik. Banget.

*Ini gambar halaman samping rumah kami, digambar kakakku yang baru belajar nyeket.
Posted by adriani zulivan Posted on 7:41:00 AM | No comments

Jengah dengan Konvoi Ugal-ugalan Pendukung Parpol?


Pagi ini gerakan Warga Berdaya akan kunjungi Polda DIY di Ringroad Utara. Mereka ingin audiensi dengan Kapolda terkait kejadian konvoi pendukung salah satu calon Bupati yang ugal-ugalan. Tak hanya mengambil hak warga atas jalan raya, namun juga menebarkan ancaman di jalanan.

Seorang teman yang sedang menyetir, kaget melihat anaknya diacungi pedang di jendela kirinya akibat merasa tidak diberi jalan. Seorang ibu tak bisa berbuat apa-apa saat anaknya di boncengan belakang jatuh setelah tersenggol simpatisan, dan hanya ditinggalkan mereka. Belum lagi soal polusi suara yang memekak telinga. Dan beragam kejadian lain.

Ini teror atau kampanye? Sekarang saja semena-mena, apalagi nanti jika sudah terpilih. Semoga kita menjadi pemilih yang memenangkan kepentingan kita dan warga lainnya.

Jika sempat, mari bergabung di Polda pagi ini. Kita akan datang sebagai warga, yang menuntut tanggungjawab negara.

Update:
Malam ini sudah ada petisi. Mari bergabung, suara anda dinanti di sini. Gambar dari petisi.

Mlekom,
AZ

Monday, November 16, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 8:08:00 PM | No comments

World Prematurity Day 2015

Kebahagiaan Taufikkurohman (35) atas kelahiran tiga putri kembarnya tak mampu menutupi duka mendalam akibat kehilangan Kurnia Hermawati (31), istrinya. Kurnia meninggal dunia setelah melahirkan ketiga kembar mereka pada 14 Oktober 2015 di RSUD dr Drajat Prawinegara, Serang, Banten. Sebelum dirujuk ke RSUD, istrinya berobat di salah satu RS yang akhirnya tak mampu menangani komplikasi istrinya.

Kurang umur dalam kandungan dan rendahnya berat badan (masing-masing sekitar 1,2 kg) saat lahir, membuat ketiganya harus menjalani serangkaian perawatan. Nyaris sebulan kini, berat ketiga bayi berangsur bertambah. Perawat Metode Kangguru (PMK) adalah rahasia Taufik. Dekapan dengan menempelkan bayi di dada hingga kulit bayi bertemu kulit orangtua, adalah metode PMK. 

Dibantu staf RSUD, Taufik rutin menjalankan PKM 6 jam setiap harinya. Masing-masing bayi dedekapnya selama dua jam. Awalnya ia tak meyakini pentingnya PMK, sampai ia melihat sendiri hasilnya. "Setelah saya dekap, suhu badan bayi-bayi saya naik, artinya mereka semakin sehat," kata Taufik. Menurutnya, staf RSUD, menurut Taufik, sangat mendorong perannya dalam PMK.

Taufik kini menjadi orangtua satu-satunya bagi ketiga kembar dan seorang kakak si kembar. Ia berjanji untuk terus semangat melakukan perawatan ini. "Mereka sudah tidak punya ibu, saya harus bisa melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk anak-anak kami." 


RSUD dr Drajat Prawiranegara merupakan fasilitas kesehatan intervensi EMAS. Mengedukasi pasien akan pentingnya PMK menjadi hal yang selalu diinformasikan RSUD kepada pasien. 

Teks oleh Adriani Zulivan, foto oleh Syane Luntungan. Untuk EMAS Indonesia.


Friday, November 13, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 4:32:00 PM | No comments

Melahirkan Bayi Prematur?

Apakah teman-teman punya kisah melahirkan bayi prematur? Jika ya, bersediakah jika sedikit saya wawancara?

17 November diperingati sebagai World Prematurity Day. Bersama warga dunia lainnya, EMAS Indonesia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa bayi yang lahir prematur dapat tumbuh dan berkembang seperti anak lainnya.

Jika ada teman atau saudara yang pernah mengalaminya, mohon bantuan dengan mention mereka di komen ya. Mungkin hal kecil yang kita lakukan ini --melalui berbagi cerita-- dapat membangkitkan semangat jutaan bapak dan ibu lain yang kini sedang merawat bayi prematur mereka.

Mari menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir!

Mlekom,
AZ

Monday, November 2, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 8:10:00 PM | No comments

Apakah GM Akan Sepuitis Ini Melihat Malioboro Kini?

Saya menemukanmu, tersenyum, acuh tak acuh
di sisi Benteng Vredeburg.

Siapa namamu, kataku, dan kau bilang:

Kenapa kau tanyakan itu.

Malam mulai diabaikan waktu.

Di luar, trotoar tertinggal.

Deret gedung bergadang

dan lampu tugur sepanjang malam
seperti jaga untuk seorang baginda
yang sebentar lagi akan mati.

Mataram, katamu, Mataram...

Ingat-ingatan pun bepercikan
--sekilas terang kemudian hilang--seakan pijar
di kedai tukang las.

Saya coba pertautkan kembali

potongan-potongan waktu
yang terputus dari landas.
Tapi tak ada yang bisa diterangkan, rasanya

Di atas bintang-bintang mabuk

oleh belerang,
kepundan seperti sebuah radang,
dan bulan dihirup hilang
kembali ke Merapi

Trauma, kau bilang

(mungkin juga, "trakhoma"?)
mambutakan kita

Dan esok los-los pasar

akan menyebar lagi warna mainan kanak
dari kayu: boneka-boneka pengantin
merah-kuning dan rumah-rumah harapan
dalam lilin.

siapa namamu, tanyaku.

Aku tak punya ingatan untuk itu, sahutmu.

[Di Malioboro, Goenawan Mohamad]



Itu salah satu puisi dalam buku ini. Jika GM bisa sepuitis ini melihat Malioboro tahun 1997, apakah ia juga akan menciptakan bait-bait indah dengan Malioboro kini? Malioboro yang bertabur crane pembangunan hotel-hotel menjulang. Hotel-hotel yang menghabiskan air tanah untuk warga, yang memperburuk kemacetan kota.

Ah sudahlah, mari menikmati keindahan puisi-puisi ini...


Mlekom,
AZ

Thursday, October 29, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 1:20:00 PM | No comments

Akan Ada Masa Dimana Mamak Akan Nyuruh Kelen Kawin


Tetiba wasap, tadi.

Mamak: Dek, kalo udah ada yang cocok mau nikah sama adek, jangan tunggu-tunggu. Nanti kalau umur sudah di atas 30 tahun, sulit punya anak. Tadi baru diterangkan sama Prof Amimo, dokter ahli kandungan. Jangan dilalai-lalai untuk menikah. Dengar ya dek!

Dedek: Iya

End of conversations :p

Ya, akan ada masa di mana Mamak akan nyuruh kelen kawin. 
Ya, sebab kawin adalah demi mendapat anak (what?!)

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 4:36:00 AM | No comments

She, Yesterday and Today


Read a friend's status on socmed, I realized that she was talking differently on the same issue at around 4 years ago. Yes, that time she talked about me and him, on the way we live, we act, our activities and off course our relationship; which is not as right as she would (the right thing she would?). I capture two of the tweets, but they were gone with the stolen mobilephone of mine.

In order to compare about how she think on yesterday and today, I suddenly went to her timeline and go scrolled down till the days of... the beginning of this year. Crap!

It was like 2 hours ago. Now I feel stupid. Are you sure you wanna search for those, while she now has more than 20K tweets!
Why dont I just think: everybody's changing, every single day. What do you expect?

#its3inthemorning ‪#‎soletsgetthepillowthen‬

Pic from here.

Mlekom,
AZ

[Learning English edition]


Wednesday, October 28, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 9:51:00 PM | No comments

Sudah Kembali, Tapi...

Sebab beberapa teman bertanya dan aku bolak-balik njelasin di forum berbeda, maka aku ceritain di sini aja ya!

Pagi tadi pemilik rumah (PM) ngobrol dengan aku (SY) di antara para asisten rumah tangga, bahwa ia menawarkan opsi laporan kepada polisi untuk kasus kehilangan dua gadget dan uang di dompet milikku, yang terjadi kemarin pagi.

SY: sebaiknya tidak. Selain henponnya belum tentu kembali, mungkin biaya yang kita keluarkan untuk proses ini akan lebih mahal daripada harga barang-barang yang hilang.

PM: Saya rasa enggak, waktu saya kehilangan di Belanda, polisi sangat membantu tanpa dibayar, meski barangnya juga tidak ketemu.

SY: Saya enggak yakin dengan di sini pak.

PM: Memang istri saya (seorang pengacara) juga selalu ribet sih kalau urusan sama polisi.

*intermezzo: aku bukan sedang menjelekkan polisi, hanya menuliskan obrolan pagi tadi apa adanya*

Lalu kami ngobrol dalam bahasa yang kami harap tak diketahui kedua asisten

SY: I think we need to try to look around in her room.

Ya, aku sudah menaruh curiga pada salah seorang asisten (AS). Hal ini sudah kusampaikan kemarin saat pertama sadar kehilangan barang. Tapi saat itu aku pesan ke PM, jangan suudzon duĺu sebelum terbukti.

PM: We did, and I found nothing but guilty. Feeling guilty to her.

SY: Ya, me too.

PM: So I think you just need to ikhlas.

SY: Yes I did, thats what I told my fam about last night. Insya Allah kalau ada uang, bisa beli lagi...

PM: Iya saya tahu ini bukan soal hapenya, tapi data di dalamnya.

AS: Kemarin saya lihat orang, laki-laki keluar dari pagar depan, dia pegang hape tangannya gemetar. Saya tanya cari siapa, dia bilang Pak PM, tapi mukanya nunduk wterus.

PM: Lho kok kamu enggak bilang? Bagaimana bisa orang luar masuk ke kamar sini (kamar saya).

Bla bla bla. OK, kami meyakini cerita itu. Dan PM pergi, ngantor.

AS: Mbak, apa mau dilaporkan ke polisi?

SY: Belum tahu.

Dan dia beraktiviitas lagi. Aku tetap nongkrong di sekitarnya.

SY: Sedihnya gak punya hape, gak bisa kerja...

AS: (diam, lalu...) mau dilaporkan ke polisi mbak?

SY: Belum tahu.

AS: HPnya gak dikunci mbak? (Ini pertanyaan sejak kemarin, ada kali 5x dia nanya ini)

SY: Kalaupun dikunci, apa hapenya gabisa hilang?

AS:(termenung, duduk di dekatku. Mandang ke langit. Ceritanya agak syahdu, kami duduk di depan taman, halah).

SY: (mulai curiga) Ya aku sih kalau ambil duitnya yaudah lah gak usah dikembalikan. Tapi hapenya semoga dikembalikan, isinya kerjaan kantor.

AS: Jadi mau lapor ke polisi mbak?

SY: Kita lihat dua hari ini. Kalau ada yang kembalikan, ya enggak perlu ke polisi. Kalau lewat 2 hari enggak kembali, ya terpaksa kita laporkan. Sejak kemarin aku udah bilang ke pak PM tentang ini.

AS: (ngangguk-ngangguk)

SY: Mbak, kalau lihat atau curiga siapa, tolong kabari ya. Kalau ada yang kembaliin, aku kasih imbalan. Tolong lihat-lihat ya!

AS: Ya mbak.

Aku masuk kamar. Gak lama ada yang ngetuk. "Salamualaikum," pintu digeser.
SY: Ada apa mbak?

AS: Mbak maaf (ngomong pelan banget sambil clingukan, sepwrti takut jika ada orang lainyang tahu), apa ini punya mbak? (Sodorin kresek hitam)

SY: Wah iya, nemu di mana mba?

AS: Di tempat sampah di depan.

SY: Owalaaa.

Jadi saya tadi mau buang sampah... bla bla bla dia cerita, yang enggak saya percaya.

SY: Wah, makasih ya mbak. Mudah2an nanti hapenya juga ketemu, kalau uangnya sih gpp.

Trus kucoba nyalain tablet, agak susah.

SY: Mungkin ini kena embun kali.

AS: Iya mbak, sama kena panas siang kemaren.

SY: Iya nih.

Bla bla bla. Berakhir dengan saya ngucapin makasih.

Jadi yang hilang 1 hape & 1 tab & uang 100ribuan di hape. Mbak2 ini (AS) adalah remaja 18 tahun lulus SMP, baru jadi asisten di sini sejak kurang dari sepekan lalu. Kejadian kehilangan terjadi saat aku mandi kemarin pagi.

Tab yang 'dikembalikan' tadi pagi sudah dalam keadaan 'telanjang', tak ada soft case sepeti biasanya, juga tak ada chargernya.

Sudah Kembali, tapi...

Semoga Tuhan memberkati aku dan dia. Amin.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Tuesday, October 27, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 1:05:00 PM | No comments

Habis Batre? Enggak!


Pagi tadi setelah mandi, aku mau pesan ojek lalu melihat tablet tidak ada, lalu aku cari hape lain untuk menelepon tab, ternyata hape ini juga tidak ada.
Aku cari ke seluruh kamar dan kamar mandi (hanya dua tempat ini yang kugunakan sehari-hari), tidak juga ketemu. Aku coba pinjam hape ke ibu dan mbak yang kerja di dapur, untuk menelepon--mereka juga tidak punya hape.

Lalu aku pinjam ke rumah induk, dipinjami telepon rumah. Aku telepon, tab aktif. Lalu aku dipinjami hape juga untuk mencari asal suara. Tab-nya sudah mati.

Habis batre? Enggak, tadi kutinggal dalam posisi baterai 98%.

Kupikir, ya sudah cari nanti sore setelah pulang dari kantor. Lalu aku naik ojek. Waktu mau bayar, buka dompet isinya sudah tidak ada lagi, hanya selembar Rp 2.000 dan kartu-kartu yang ditinggalkan.

Saat ditinggalkan, posisi tab sedang di-cash di atas kasur. HP sepertinya di dalam tas, sedangkan dompet di lantai dekat tas.

Apakah Samsung dan Lenovo bisa dilacak seperti iPhone?

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Monday, October 26, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 3:29:00 PM | No comments

Sepekan

Senin: Bandung
Selasa: Cilegon
Rabu: Jakarta Kuningan
Kamis: Jakarta Bintaro
Jumat: Semarang
Sabtu: Temanggung
Minggu: Yogya
Senin: Jakarta Kuningan

Sepekan. Pekan lalu.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Sunday, October 4, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 2:57:00 AM | No comments

Masih Pakai Batik-batikan?

Akhiran –an pada kata benda kerap digunakan untuk menjelaskan barang tiruan atau palsu. Misalnya mobil-mobilan, rumah-rumahan dan seterusnya. Meski ini tidak berlaku untuk semua benda, seperti sayur dan buah. Jika kata “batik” diberi imbuhan –an dan berbentuk kata ulang, maka anggaplah artinya: batik palsu.

Aku yakin, lebih dari setengah warga Indonesia yang sejak 2009 lalu sibuk memborong batik untuk seragam Jumat, tidak tahu apakah benar ada batik palsu. Atau juga, sama sekali tidak paham apa itu batik. Sama lah denganku, sekitar enam tahun ke belakang sampai hari kelahiran. Aku cuma tahu bahwa kain panjang bermotif yang sering digunakan pengasuh untuk menggendongku, adalah batik. Begitu juga baju Korpri yang dipakai papa.

Sedikit cerita sejarah batik. 

Ada konsep “catur gatra tunggal” dalam tata kota-kota kerajaan di Jawa. Konsep ini membentuk pusat kota dengan berbentuk segiempat yang di masing-masing sisi ditempatkan institusi penting negara, yaitu kraton/kediaman raja, masjid besar, pasar besar, dan kampung ulama. Keempatnya mengelilingi sebuah lapanganluas yang disebut alun-alun. Konsep ini juga masih diadosi oleh kota-kota baru di Jawa, dengan menggantikan kantor bupati atau camat atas penempatan kraton.

Keempat institusi ini milik kerajaan. Masjid, kampung ulama dan pasar berperan untuk mendukung kehidupan kraton. Masjid adalah simbol agama yang menguatkan posisi kraton sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat. Kampung ulama atau dikenal dengan Kampung Kauman, menjadi pendukung dan pengelola yang menghidupi masjid besar. 

Di kampung ini pula muncul pengusaha yang membuat batik untuk keperluan pakaian kraton, batik kala itu menjadi salah satu komoditi terbesar kerajaan. Pasar besar selain berfungsi sebagai alat menyejahterakan rakyat, juga menjadi tempat transaksi jual beli untuk batik yang diproduksi warga Kampung Kauman.

Batik memiliki peran besar dalam sejarah nusantara, terutama Jawa bagian tengah. Kerajaan dalam hal ini Kraton pun menciptakan beragam motif yang disesuaikan dengan peruntukan. Ada batik untuk keluarga kerajaan, ada untuk warga biasa. Ada untuk pakaian sehari-hari, ada untuk dikenakan pada acara resmi kraton; dan seterusnya.

Jika kini batik ada di nyaris seluruh wilayah tanah air, aku sih menyalahkan pemerintah yang membuat pelatihan membatik di banyak daerah, hingga menghilangkan varietas kerajinan seni lokal. Apalagi batik yang dibuat dengan teknik printing, seperti produk batik Kalimantan atau Papua.

Ada yang meyakini bahwa batik bukan berasal dari nusantara, melainkan Tiongkok yang dibawa oleh para pedagang. Salah satu buktinya adalah pemakaian kain bermotif dewa-dewa yang biasa menjadi alas altar sembahyang warga Tionghoa. Kain-kain ini dibuat dengan teknik membatik. Aku lebih senang menggunakan versi nusantara, yaitu batik sebagai buah karya masyarakat Jawa, sebab bagiku ini hal membanggakan.

Teknik membatik adalah teknik membuat titik. Men-tik, dalam istilah Jawa di jaman itu, berarti menitik, membuat titik-titik. Menciptakan motif batik memang dimulai dengan membuat titik-titik, hingga membentuk motif tertentu. Pembuatan titik-titik ini dilakukan dengan canting sebagai ‘pulpen’ dan malam sebagai ‘tinta’. Malam merupakan bahan yang terbuat dari bahan sejenis lilin, makanya disebut juga dengan lilin batik. Jika kain yang kamu beli tidak berbau malam, dapat dipastikan itu bukan batik.

Salah satu penanda bahwa sehelai kain adalah batik, bisa dilihat dari proses pengerjaannya yang menggunakan malam itu. Selain batik tulis, batik cap juga menggunakan malam. Jadi kata orang-orang yang ngerti batik: Cap masuk juga lah ke dalam definisi batik, sebab masih ada proses men-tik dengan malam.

Kini ada tiga jenis batik yang beredar di pasaran—ini menurut versi pedagang ya, bukan versiku. Pertama, batik tulis yang sudah kita obrolin di atas. Kedua batik cap yang juga sudah disinggung; dan ketiga batik printing. Nah, jangan pernah percaya pada versi ini. Batik cuma ada dua jenis: tulis dan cap.

Mengapa kain printing bukan batik? Sebab tak ada proses men-tik dalam pembuatannya. Artinya, tak ada pula malam yang melukis lembarnya. Ya tentu saja, ketika di-print dengan printer atau pencetak, maka akan menggunakan tinta tekstil dan tanpa proses men-tik. Jadi, mari menyebut jenis ini dengan “kain bermotif batik”, bukan “batik printing” sebagaimana penyebut awam yang kerap kita dengar.

Aku pernah mendengar seorang pedagang celana pendek di Pasar Bringharjo Yogyakarta, yang berhasil menipu pembeli. “Mengapa motifnya enggak rapi?” tanya pembeli. “Ini yang namanya lilin untuk membatik bu, seperti inilah batik asli,” jawabnya. Ya ampun, rasanya pengen datangi pedagang itu... tapi saya urungkan. Ya masak celana pendek buat dipakai tidur seharga Rp 25.000 itu adalah batik asli? Duh!

Pariwisata sebagai garda terdepan pengenalan budaya, malah ‘dikooptasi’ oleh segelintir warga lokal (dalam hal ini pedagang) yang akan menerima mentah informasi yang diperolehnya. Maka tak heran jika ketika kembali ke bus-bus yang membawa mereka dari kota asal, para wisatawan ini akan memamerkan hasil belanjanya: Aku dapat batik murah, asli, cuma 25 ribu!

Kolega kerjaku yang datang dari Amerika Serikat, memamerkan baju-rok barunya. Sumpah, saat dia berbinar-binar karena telah memiliki batik sebagaimana kebanyakan rakyat Indonesia, aku enggak sanggup untuk mematahkan kebahagiannya dengan: Halo, itu bukan batik, itu adalah bla bla bla... Apalagi, dia membelinya dengan harga yang tak murah di tempat yang kusarankan.

Ada sebuah etalase wastra nusantara di galeri Alun-alun Nusantara di Grand Indonesia, salah satu pusat perbelanjaan termegah di negeri ini. Jika ada wisatawan mancanegara yang ingin membeli batik di Jakarta, aku pasti mengarahkan ke sana. Sebab Pasar Tanah Abang dan International Trade Center (ITC) tidak terlalu nyaman untuk berbelanja santai. Sayangnya, galeri itu juga menampilkan lebih banyak batik-batikan dan tenun-tenunan bermotif wastra nusantara dibanding batik. Kecewa? Tentu saja. Jika sekelas Tanah Abang dan seluruh ITC di Jakarta saja rasanya tak bisa dimaafkan karena memberi pengetahuan sesat tentang warisan budaya bangsa, apalagi sekelas Alun-alun Indonesia ini! 

Jika terus menjual barang palsu bertopeng warisan budaya, tanpa disadari kita sedang menghilangkan jejak peradaban budaya Indonesia di muka bumi. Tak hanya batik, juga tenun yang tak lagi melewati proses menenun. Semua keluar dari mulut-mulut mesin industri garmen. 

Tapi itu kan juga produksi dalam negeri? 
Sekarang memang banyak batik-batikan dan tenun-tenunan yang justru diproduksi di negeri sendiri. Jadi enggak usah menyalahkan banjir barang Cina deh, kita sendiri tak tahu cara menghormati warisan nenek moyang kita sendiri. Ironis sekali.

Tahukah kamu, celana pendek seharga Rp 25.000 itu membuat seorang janda di Lasem, kota kecil di Jawa Tengah, kehilangan mata pencaharian untuk memberi makan ketiga anaknya. Tahukah kamu, sebuah industri batik rumahan di Madura terpaksa gulung tikar akibat harga per lembar batik tulis yang mereka bikin berhari-hari itu, hanya dihargai Rp 50.000 per potong. Tahukah kamu?

Mengapa batik asli tidak mungkin murah? Sebab prosesnya tidak secepat produksi mesin. Coba bayangkan jika kamu harus men-tik selembar kain. Lelehkan malam, tiup-tiup canting, oles titik-titik ke kain, celup lagi malam, tiup-tiup, hingga proses ‘memasak’ kain, ngelorot, mewarnai, dan sebagainya. Kira-kira kamu perlu berapa bulan untuk satu kain? Oh, tahunan?

Jika kamu punya waktu luang, coba kunjungi galeri seni. Cek harga barang-barang yang ditawarkan di sana. Untuk sebuah goresan abstrak yang enggak jelas maknanya saja, bisa dibanderol jutaan rupiah yang buat orang awam enggak masuk akal. Nah batik sebagai karya seni, juga begitu. Kita harus membayar mahal untuk proses kreatif yang dilakukan untuk membuat apa yang dinamakan batik.

Berarti batik hanya diperuntukkan bagi kalangan berduit? Bisa jadi ya, bisa jadi tidak. Jika yang bilang begitu rombongan warga yang datang ke kawinan keluarganya naik bak truk, saya bilang oke lah jika mereka mengenakan kain bermotif batik itu. Jika yang bilang begitu adalah kamu, iya kamu yang baca ini, saya kutuk kamu jadi miskin, sebab beli pulsa internet kok mampu, hargai karya anak bangsa ogah.

Jadi, masih mau pakai batik-batikan?

Aku sih malu, sebab saya tahu proses apa yang dibuat untuk sebuah kain agar ia menjadi batik. Mestinya kamu juga malu, jika setelah membaca ini masih membeli batik-batikan dan tenun-tenunan itu. Rasa malunya sih, sama dengan membeli CD dan VCD bajakan untuk karya-karya seniman tanah air. 

Aku sih, malu!

Foto dari sini.

Mlekom,
AZ



Friday, October 2, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 5:39:00 PM | No comments

Pusaka Itu Batik, Bukan Rokok


Tahu mengapa batik adalah pusaka? Sebab di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai proses pembuatan (batik, di tik, titik), hal yang hanya diketahui oleh bangsa kita (awalnya dari Jawa bagian tengah, meski kemudian diadopsi berbagai daerah lain hingga luar negeri). Maka, proses pusaka apa yang dimiliki rokok, sehingga ia dijadikan pusaka?

Batik adalah pusaka tak benda (intangible heritage), sebab berupa pengetahuan tentang proses pembuatan. Sama dengan tarian, nasi kuning, dsb. Hal apa dari rokok yang dapat disebut sebagai intangible heritage?


Oh ya satu hal lagi; hal buruk di masa lalu, tak sebaiknya dilestarikan. Mungkin bisa dimulai dengan memasukkan rokok dan segala sejarahnya dke dalam museum. Agar abadi, tanpa menambah korban yang sudah sangat banyak akibat 'ulahnya'.

Selamat Hari Batik Indonesia!
Gambar atasa adalah saya dalam batik lurik yang diproduksi di sekitar Kasunanan Surakarta. Batik lurik? Kain tenun lurik yang kemudian dibatik.

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata