Friday, December 25, 2009

Posted by adriani zulivan Posted on 10:31:00 PM | 1 comment

DICARI: ‘Baby Sitter’ untuk HomeZoo

Dikarenakan kewajiban jam bekerja saya yang 9-5 & Mon-Fri, saya membutuhkan pengasuh untuk keDELAPAN anak saya, yaitu:

  1. Minnie (kelinci),
  2. Scottie (kucing),
  3. Mr & Ms Potter (sepasang burung hantu/burhan),
  4. Murry (burung murai),
  5. Mirry (burung murai),
  6. Ciro (burung cecakrowo), dan
  7. Cero (burung cecakrowo).

Mereka semua tinggal di sebuah homezoo yang terletak di bilangan Jogja kodya. :)



Berikut hal-hal yang perlu diketahui oleh calon pengasuh:

KEWAJIBAN:

  1. Hari kerja adalah setiap hari, kecuali Minggu (enam hari kerja). Jam kerja tergantung pada lamanya pengasuh mampu membereskan pekerjaannya.
  2. Datang dua kali sehari ke homezoo (alamat akan diberikan jika benar-benar berminat), setiap pagi dan malam, pukul 07.00.
  3. Keluarkan kelinci dari kandangnya ketika Anda datang dan masukkan kembali ketika akan pulang.
  4. Membersihkan seluruh kandang dan tempat makan(1).
  5. Memberikan makanan(2).
  6. Membeli makanan kucing, kelinci & burung berkicau (burcau) tiap dua hari sekali di pasar terdekat(3).
  7. Memandikan(4) kucing dan burhan seminggu sekali/bila dirasa perlu. Ini dilakukan SIANG hari untuk menghindari binatang kedinginan.
  8. Membersihkan halaman homezoo sekali sehari/bila dianggap perlu(5).
  9. Mencuci barang-barang milik hewan lainnya: handuk, sisir, kalung, mainan, dst.
  10. Menemani jika harus membawa ke dokter/rumah sakit hewan (jika sakit/vaksin).

Keterangan Tugas (1):
  1. Kandang burhan, kelinci & burung kicau: disiram, sikat dengan detergen, bilas, beri disinfektan. Pagi hari. Khusus kandang burhan bersihkan pagi & sore.
  2. Tempat makanan & minuman kucing, kelinci, burhan, burcau: buang makanan sisa semalam, cuci tempatnya dengan detergen, isi dengan makanan baru.
  3. Pasir kucing: Pagi: bilas, rendam dengan air sabun, isi tempat pasir dengan pasir bersih. Sore: bilas rendaman pasir, jemur. Dan seterusnya.

Keterangan Tugas (2):
  1. Kucing: Isi tempat makan & minum yang telah dicuci dengan makanan & minuman baru. Air harus matang.
  2. Kelinci: Berikan sayuran hijau utuh. Parut/potong kecil wortel & ubi dengan alat yang tersedia, masukkan ke tempat makanan.
  3. Burhan: Makanan: Potong-potong kecil ikan/daging yang sudah dipisahkan dari tulangnya. Taruh sebagian dalam tempat makanan yang tergantung dalam kandang, sebagian lain langsung disuapin ke mulut mereka. Minuman: isi ember tempat mandi dengan air baru yang dibersihkan dan diganti dua kali sehari.
  4. Burcau: tinggal menambahkan jangkrik, pisang, kroto, dan pur ke dalam tempat makanan. Beri air matang untuk minumnya.

    Keterangan Tugas (3):
    1. Makanan kelinci: wortel, ubi, kangkung, sawi hijau. Beli di pasar terdekat. Ada kalanya seminggu sekali (malam hari) membeli stok dalam jumlah besar di Pasar Induk Buah & Sayuran Giwangan.
    2. Makanan burhan: Ikan lele, ikan patin, ayam, teri basah. Untuk ikan, disarankan membeli di fishmarket Giwangan, sebab menerima fillet –untuk memudahkan pekerjaan.
    3. Makanan burcau: Cari di toko pakan burung terdekat. Ada kalanya diminta ke Pasar Burung Ngasem untuk belanja kulakan.
    4. Makanan kucing: Dibeli per bulan.

    Keterangan Tugas (4) Memandikan Kucing:

    1. Pastikan dahulu kondisinya baik (tidak demam). Cara: Tutup kedua telinganya dengan telapak tangan, bila terasa hangat, dia siap dimandikan; bila terasa panas, tunda.
    2. Masukkan dalam kandang. Guyur perlahan dengan air hangat. Kucek bulunya dengan sabun khusus (jangan terkena mata). Bilas. Keringkan dengan handuk dan hair dryer.

    Keterangan Tugas (4) Memandikan Burhan:

    1. Untuk memastikan kondisinya sehat, pegang dan rasakan hawa tubuh di dadanya.
    2. Langkah-langkahnya sama dengan memandikan kucing, hanya saja tanpa hair dryer.

    Keterangan Tugas (5):
    1. Menyapu halaman, membakar sampah, dan membawa sampah ke TPS kerap diperlukan.
    2. Bisa dilakukan pagi atau sore.

    KUALIFIKASI PENGASUH:
    • Berbadan sehat. Mengingat pekerjaan ini berhubungan dengan kotoran hewan, perlu daya tahan tubuh yang baik.
    • Diutamakan laki-laki. Sebab kotoran hewan kucing dan burung masing-masing rentan membawa penyakit toksoplasma dan CMV bagi manusia; Berakibat buruk terhadap perkembangan janin jika nantinya hamil.
    • Bertempat tinggal tak jauh dari lokasi homezoo.

      SEBAGAI PERTIMBANGAN:
      • Seluruh hewan di homezoo ini (kecuali burcau) mempunyai rekam medik di Rumah Sakit Hewan (RSH) Soeparwi UGM dan Klinik KAYU MANIS yang terletak di Yogyakarta.
      • Kucing divaksin secara berkala dan sudah vaksin anti rabies, CMV dan cacing. Bersertifikat/jaminan dokter hewan.
      • Untuk jenis hewan lainnya: Di Indonesia vaksin ini belum ada. Namun kelinci dan burhan secara berkala dibawa ke RSH.
      • Air bersih mengalir dari keran yang telah tersedia.
      • Ada berbagai jenis sabun dan cairan disinfektan yang disediakan, baik untuk hewan (kandang, perangkat makan) maupun manusia (sabun handwash, cairan pembunuh kuman).
      • Disediakan masker dan sarung tangan untuk melindungi diri.

      HAK:

      1. Mendapat gaji bulanan.
      2. Mendapat bayaran tambahan untuk pekerjaan tambahan.
      3. Nego waktu kerja bila ada keperluan mendesak.

      CARA DAFTAR:
      • Hubungi saya di sini! :)
      • Lebih cepat, lebih baik! ^^

      Friday, December 11, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 3:54:00 PM | No comments

      Critical Announcement regarding Email Scam from d2x_ivan@yahoo.com


      Dear all,

      It has come to my attention that some unscrupulous people are sending scam emails using d2x_ivan@yahoo.com. The last one has been sent on December 3, with the subject "Adriani Zulivan says you should see this video clip".

      If you get such emails, do not reply to them or click on any of its links. Please delete these emails immediately.

      If you have received any email like the below, please do not respond to it. If you have replied, please log into your account and change your password immediately.

      Best respond: Do not ever open it. It is probably virus!

      For information whether the email is sending by me or not, you may contact me at: adrianizulivan@gmail.com

      Best regards,
      Adriani Zulivan

      Wednesday, December 2, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 3:03:00 PM | 1 comment

      Names for My Kids

       
       
       
       
       
       

      Mereka sudah empat bulan ada di rumahku. Selama itu mereka belum mempunyai nama, meski aku, Si Utha, dan anggota keluarga lain yang datang ke rumah— masing-masing mempunyai nama panggilan untuk mereka.

      Mereka adalah sepasang burung hantu lucu yang akhirnya menjadi anggota keluarga terbaru dari homezoo kami. Ketika membelinya, pedagang mengatakan bahwa usia mereka sekitar satu bulan. Itu sebab mereka belum pandai terbang. Yup, baru bisa terbang sedikit-sedikit, kayak terbangnya bebek. Mereka lebih banyak jalan, persis kaya ayam kate kalo lagi jalan, lenggak-lenggok dengan pantat geal-geol + goal-goel. Namun sebulan lalu, ketika si betina sakit, dokter bilang usianya sudah lebih dari setahun. Humm, mana yang benar, yes?

      Burung hantu jenis mereka oleh pedagang di Pasar Ngasem Jogja disebut “Harry Potter”, sebab warna dasar bulunya putih (meski di bagian ujungnya ada warna hitam dan coklat tua). Menurut si abang, bulu-bulu itu akan rontok setelah mereka berusia tahunan, lalu akan menjadi seputih salju. Hummm, berarti akan persis seperti Hedwig, burungnya Harpot (haks? Burungnya si ganteng Redcliff? Burung nyang mane niii???). Sedangkan di Pasar Pramuka Jaktim, jenis ini disebut “Mutiara”. Ya, lagi-lagi karena warna mereka yang putih itu.

      Burung hantu. Kusebut dengan Burhan (dueeh, sounds like namanya kakeknya siapaaaa, gituh). Banyak orang bertanya ketika mengetahui aku memelihara burung hantu. “Nggak serem, apa?” “Iih, kan jelek gitu” atau komentar-komentar lain sejenis. Hahaha, aku juga bingung “mengapa”. Pertama kali melihatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Matanya itu lho, nggak nguatin. Berasa punya pandangan yang TULUSSSSSSSS banget. Setulus apa, sih?

      Kalau dia melihatmu, dia melihat langsung ke mata kalian (kalau dia burung elang/garuda, pasti sedang mengincar biji mata kalian untuk dipatok). Matanya hitam kebiruan. Jernih, bening. Dari biji matanya yang bulat besar itu, kalian bisa lihat bayangan kalian sendiri. Seperti cermin. 
       
      Nah, caranya memandang itu, kalau diperhatikan dengan seksama dalam waktu yang tidak sesingkat-singkatnya, serasa sedang melihat anak kecil yang TULUSSSSSSSS banget. Errr, pada belom beranak, yah? Jadi gak bisa ngerasain donk! Ngggg, mungkin seperti melihat orang yang bibirnya sedang berada seinci dari bibir kita—ini mungkin, lho :)

      Saking jato cintanya, setelah menanyakan harganya ke si abang penjual, aku dan Utha langsung pergi: MUAHAL! LALU beberapa menit kemudian kami kembali lagi untuk sekadar memastikan kecantikan mereka. LALU pergi lagi. LALU, dua atau tiga kali sengaja melewati mereka sambil berpikir “Mereka sudah laku belom, yah?” LALUUUU, balik lagi, dan masuk untuk kembali menanyakan pada si abang penjual: “Galak gak, mas?” dst, dst, dst... LALU keluar lagi: harga tak sepakat. LALU, si abang memanggil kita, SEPAKAT HARGA. LALU? Ya kita bawa pulang.

      Jadi inget jaman abege, waktu masi jerawatan, waktu masi suka pake tengtop (jaman gk malu kalo ni bodi seblas-duwablas ama papan selancar), waktu mens masi sering tembus, waktu masi suka disuapin mama, waktu masih cipika/cipiki sama papa kalo mo pergi, dst. Jaman itu, kalo lagi jato cinta ama cowo (yaiyalah, cowo!) kan senengnya nengok tu cowo terus. Curi-curi pandang. Bolak/balik depan rumahnya. Gitu deh.

      Gitu juga pas nengok si Harpot aka Mutiara ini. Jato cinta.
      “Cinta, cinta,,,, tapi kok belom dinamain?” kata temenku.
      Ya, itu dia. 
       
      Hmm, sebenarnya tak sedikit kandidat nama yang sudah/belum/akan kami gunakan. Namun sampai saat ini belum menemui kesepakatan. Berikut diantaranya:
      1. Mr & Ms Owl
      2. Mr Potter & Ms Limbad
      3. Mr & Ms Potter
      4. Potter & Potterie
      5. Potter & Hermione
      6. Potter dan Hedwig
      7. Ludwig & Hedwig
      8. Burhaniwan & Burhania
      9. Burhan & Burhanwati
      10. Si Besar & Si Kecil
      11. Si Cakep & Si Cantik
      12. Nunung & Nunungwati
      13. Toon & Tyna
      Ketika pertama kali membawanya pulang (waktu itu Ma & Pa Zlvn) lagi di rumah, kami (tentu saja) enggak berani mengatakan bahwa mereka adalah burung hantu. Jadi kami sebut mereka dengan “burung potter”, seperti kalian menyebut “burung murai”, “burung beo”, dst. Ya, gimana enggak, sedikit yakin bahwa kedatangan mereka akan ditolak, sebab selain peliharaan dirumah sudah cukup banyak, mama juga bakal takut sama suaranya–yang ternyata, saking masih kecilnya, suara mereka masih kecilll banget, dan samasekali tidak menakutkan!

      Anw, semua nama itu kami gunakan. Kalo lagi nyuapin makan (well, masih disuapin!) dan mereka malas makan, dipanggil “Cakep.... Cantik....”. Waktu di RSH (Rumah Sakit Hewan), si Utha nulis di rekam medis nama ini: Hedwig! Sebab dia manggil masing-masing mereka dengan Ludwig & Hedwig. Aku gak setuju, pronunciation-nya gak enak di lidah.

      Suatu hari, salah seorang kakakku curhat tentang agenda hatinya yang sedang tidak baik. Di tiap ujung tulisannya di IM dia tulis “huhuhu... huhuhu...”, menggambarkan kesedihan. Lama-lama dia bilang, “Gue udah kaya burung hantu aja ya, dek?”. Nah, beberapa hari kemudian kita beli si Mr & Mr Owl, minta saran nama sama dia, dia kasih ini: “Mr & Ms Huhu”! Huuuuuuuu, dasar ora kreatif loe, kak! Yaaaa, yaaaaa, mungkin masa kecilnya kurang hiburan—soalnya gak pernah dengan lagu burhan:

      Matahari terbenam, hari mulai malam
      Terdengar burung hantu, suaranya merdu
      Kukuk... Kukuk... Begitu bunyinya...

      See? Bunyinya “kukuk”, bukan “huhu”. Jadi urun saran untuk nama ini ditolak!

      Pas baru dibawa kerumah dan anak-anak tetangga (pengunjung setia homezoo) melihat, mereka panggil dengan “Limbad... Limbad...” (Limbad itu nama pesulap atau—bahasanya harian KOMPAS—“orang yang memiliki kemampuan diluar kebiasaan orang kebanyakan” hasil pencarian bakat sebuah reality show di salah satu TV swasta. Dia membawa burhan sebagai icon. Burhannya kecil, berwarna coklat—ngggg, boleh sombong kalo Mr & Ms Owl punya kita lebih CANTIK, dey... hehehe. Nah, Limbad ini disukai banyak anak-anak. Dan aku baru tahu tentang (si)apa Limbad, ya dari anak-anak tetangga itu). Nama Limbad juga ditolak, sebab Limbad tidak putih, begitu pula burungnya (emang pernah nengok?).

      Nunung. Toon & Tyna. Mamaku sering memanggil mereka seperti itu sebab keduanya seringkali melenggak-lengokkan lehernya seperti pelawak Nunung SRIMULAT dan penyanyi cilik Tyna Toon. Seperti orang India itu, lho... Selain itu, seorang teman pernah bersaran tak serius (or she meant it?) dengan mengambil namaku: Burad (BURungnya ADriani) dan Burzul (BURungnya ZULivan) sukurrrrrrrrrr dia ngomong gak di depan si papa! :)

      Nah, lewat ini, aku ingin berbagi kesulitan, eh perasaan. Perasaan yang laksana orangtua yang baru kelahiran anak dan bingung mencari nama yang baik untuk mereka. Ada yang mau dibagi perasan ini? Sarannya, yah. Nama yang baik, penuh doa, agar kelak dewasa menjadi anak yang berguna bagi keluarga homezoo dan nusa-bangsa. Amen!

      *eeh, banyak TULUS dan LALU....

      Posted by adriani zulivan Posted on 11:02:00 AM | No comments

      How Much You Value Yourself?

      -->
      `
      The title is the question given by my ex-boss when I told him that I’ll move to a new office. Yeah, this is unusual thing that you can tell your ex-boss that you are going to move from his office—well, I’ve ‘gone’ from his office about four months ago and keep in touch with him and everybody else there.
      Yes, I was very lucky when I get an open minded person as my boss. He supports me to get something better for my life, including accepted my reasons why I can’t stay longer @ his office. [Well, I won’t tell you why. We’re not talking about those reasons here now.]
      Before I leave, I promise to keep him posted to the thing about my career progress, due to his willing to see me back to his office. One day after I get the call from my office-to-be about the salary-thing, I told him that I probably passed the last interview test and now on salary bargaining session.
      It depends to the job,” I answered his question above.
      Yup. When I worked as freelancer (for such creative work), I mostly get per hour or per day payment, or per project. When I worked for office as staff, they gave me the salary based on their institution rule.
      I was about to discuss how much the salary I should ask to this new-office-to-be when he gave me references. He asked some of his colleagues who works at NGO about the salary [see, how kind he is to his ex-staff?].
      New Thing
      Is it possible to inform us about the salary you wish?” These words came out from my new boss when we were doing such bargaining. This is the time when my confusing-confused begin.
      For me, being asked by a person to join his/her institution is one thing; and being asked for the salary you wish from the institution you will join is another thing. I was working for about six years. The last two years was professional works (means that the institutions pay me for what I’m doing), while the others are for voluntary—just like the works I did for some student organizations in campus.
      For those professional works, I’ve never knew how much the institutions pay me until I get my first payment. Yup, never do salary bargaining. What I did before I work for the institution is asking the workfield or the job descriptions. Then if I’m interested in it, I’ll join without knowing how much they will gonna pay me. 
       
      Why? The fact that they will pay me during/after the job is enough for student like me. Experience is all I’m looking for. But unfortunately then, that drives me to a thought that “I will never value myself for a job until I get my university certificate!” Under my consciousness, I’m creating big mistake!
      That’s why I was very confused when my new office call me for such salary bargaining. What to say? How to ask? Which to choose?
      I had about three days to think about that salary before I tell them. For that, I asked some friends and family for consideration. A friend gave me this formula:
      1. Calculate how much you pay for your daily meal (I eat three times a day with different kind of price—it’s rather difficult to count). 
      2. Calculate how much money you need for your daily transportation cost from home to the office, vice versa. 
      3. Then multiple it to 25 workdays. The result would be the lowest payment you should ask.
      4. Moreover, remember to think about other payment, such as your energy, communication cost, your entertainment, and your bank account deposit for future/sudden needs  this is the hardest count to make.
      Other friend who works in Jakarta and ever worked in Yogyakarta said that the lower salary for Yogyakarta is about 1,5 - 2 million rupiahs. It is equal to 3,5 - 4,5 million when you live in Jakarta. When you get these numbers, you would never be a wealthy one, but it is really enough to live by yourself with no more monthly session of your hand under your parent’s hand.
      Determination Day
      When the day-to-tell-the salary-I-wish is almost there, I didn’t get the best number to tell yet. The days before, I have just read a management book: “The 30 Most Common Problems in Management” of W Delaney (nggg, maybe I should’ve read the book “Planning Your Career Change”). It doesn’t help this problem, anyway. So I did consult to my brother. He gave me some how-to-decide tips. He asked me to compare the salary I get from my previous job then make it as my criterion. Humm, it is easier then the last two formulas, I guess, since I don’t have to calculate how much I should value myself. After that, I texted my boss-to-be: 
       
      At my previous office, I get [I tell the numbers] rupiahs as maximum income per month, out of incentive for doing such program/project. Humm, I’ve never been asked for the payment-I-wish, since the number is given already. That’s why I’m confused when you asked. You better give me the numbers, then we’ll bargain :)
      Then she replied with different numbers. Deviates about quartile smaller then the numbers I gave. I didn’t reply till she asked me for confirmation, two days after that.
      OK, Ma’am. By Dec 1 I’ll join [I said the name of the institution]. Tq very much,” I replied.
      Is that mean that you are agreeing the number of salary we offer? So then, there would be a media meeting on the 1st of Dec @ [she mentions a restaurant name], you may be there @ 9. Thx, Adriani.” 
       
      The numbers is enough for me... :) OK, [sumthing] Resto, 9. Tq, Ma’am.”
      Thank u, Adriani. Welcome to our team!”
      My honor.”
      This is the end of my very FIRST salary bargaining... 
       
      Hope there would be wonderful new work experience with the new people at the new office. New new new!
      New amiennnn! :)

      Thursday, November 19, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 11:27:00 PM |

      Tresna Art, Bangkalan, Madura

      Setelah makan, kami mampir ke toko oleh-oleh khas Madura. Kresna Art namanya. Pak supir kami sering membawa tamunya ke toko ini. "Ini salah satu yang lengkap," katanya.

      Kresna Art terletak di jalan Muhammad Cholil, Bangkalan. Sangat dekat dari Jembatan Suramadu. Di sini dapat dijumpai segala macam kerajinan Madura, mulai dari batik, kerajinan tangan, makanan, minuman, lukisan, hingga tanaman hias. Ya, ternyata bunga-bunga yang mempercantik toko itu juga dijual.

      Sayang, kami tak melihat proses pembuatan batik Madura. Ternyata toko ini tidak membuat, hanya mencari dari pedagang-pedagang di seluruh Madura. Harga batiknya pun cukup mahal, tidak seperti di pasar. Kalau di Jogja, toko ini semacam Mirota Kampus lah, yang harga barang-barangnya tinggi dibanding toko lain.

      Terdapat rumah joglo khas Madura di sisi depan toko ini. Joglo ini dibangun di atas kolam ikan berair mancur, serasa di desa. Ada pula ayunan yang membuat anda merasa kenyamanan taman asri. 

      Lemari koleksi batik
      Makanan dan minuman dalam gerobak khas
      Caping dengan perca batik
      Tampak depan
      Mlekom,
      AZ

      Sunday, November 1, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 9:37:00 AM | No comments

      Firasat!

      [Written @ 00:00 am]

      Ini bukan judul lagunya mantan pasangan penyanyi yang ketemu di Lapo Batak itu. Ini tentang perasaan.

      Perasaan itu sesuatu yang dirasa. Kata dasar untuk “perasaan” adalah “rasa”. Dalam bahasa Indonesia, kata “rasa” digunakan untuk memaknai dua kata yang samasekali berbeda maksudnya. Untuk lebih mudahnya, dalam bahasa Inggris, kata “rasa” dibedakan dengan feeling dan taste.

      Perasaan yang aku bicarakan disini adalah feeling. Ya firasat itu tadi.

      Ceritanya begini. Aku pernah dekat dengan seseorang—sebut dia eAw—sekitar tahun 2004 lalu. Dia bukan cinta pertama, bukan pula yang terakhir. Tapi dia—lewat hubungan kami yang (sebutlah) aneh di masa lalu itu—tetap masih ada jauh di sana, di hatiku. Mungkin itu sebab kenapa di momen-momen kejadian tertentu dengan mudah dia bisa muncul lagi di ingatanku; dengan atau tanpa kusadari.

      Misalnya tiga minggu lalu (antara tanggal 5-11 Oktober 2009), aku bermimpi tentangnya. Dua mimpi selama range waktu tersebut. Yeah, pikirku, mungkin ini akibat dia sering menyapa lewat instant messaging (IM) dalam minggu itu, setelah cukup lama kita tak saling sapa (hummm, aku sampai lupa kapan terakhir kali kontak dengannya secara intens—meski sapa-sapa ringan di IM/BBMan tetap ada).

      Saat itu obrolan intens kembali. Diawali dengan kiriman ucapan mohon maaf lahir batin darinya. Dan (tentu saja) aku menjawab seperti caraku menjawab ucapan sama dari orang lain: “Ya, sama-sama ya...”. Tapi ternyata jawaban singkatku itu malah menjadi bahan obrolan yang membawa kita mundur lima tahun. Bagaimana dia benar-benar meminta maaf sepenuh hati (man, he meant it!) atas kejadian di masa lalu.

      Aku agak heran dengan kata-katanya. Bukankah kita sudah tidak meninggalkan apapun untuk hal itu? Bahwa kita sudah menyelesaikannya dengan tuntas. Bahwa kita sudah berjalan masing-masing. Bahwa kita sudah mengubah track hubungan ini menjadi pertemanan sempurna tanpa embel-embel apapun? Intinya, kita, atau aku—orang yang menurut dia menjadi pesakitan di hubungan kami di masa lalu itu—sudah sangat ikhlas dan nrimo. Dan yang paling penting, I’m living my life.

      Yang lebih mengherankan lagi, sebenarnya hal ini sudah pernah kita bahas sekitar dua tahun lalu. Sekali lagi: itu sudah tuntas, tas, tassss! Tapi ketika memperhatikan kalimat-kalimatnya, aku merasakan sesuatu yang luar biasa. Ini bukan tentang rasa sayang yang kembali tumbuh atau sejenisnya. Aku malah melihatnya sebagai tanda kehilangan. “Tuhan, tidak ada yang akan pergi, kan?” tanyaku saat itu.

      Kalau bermain perasaan yang feeling itu, mari menyebut ini sebagai Firasat I.

      Beberapa hari kemudian dia menyapa lagi, menanyakan keadaan keluargaku pasca G/30-S (baca: gempa Sumbar tanggal 30 September 2009). Kok dia jadi perhatian seperti itu? Ah, mungkin dia membaca status message-ku di hari sebelumnya. Kubilang ayah baik-baik saja. Sejak ini, hampir tiap hari kami saling sapa. Biasanya dimulai dengan saling mengomentari status message. Tak lagi hanya dia yang memulai, aku pun berinisiatif.

      Nah, intensitas saling sapa inilah yang kupikir membangkitkan lagi memoriku tentang dia. Yeah, aku bermimpi tentangnya. Di sana ada aku, dia, dan AbDal (‘the replacement’ of him  ). Tak ada yang istimewa dari mimpi itu. Hanya seakan mengulang pembicaraanku dengan AbDal ketika dia akan berangkat ke tempatnya sekarang (dan kebetulan, di masa-masa itu si eAw mulai menghubungiku lagi untuk menuntaskan ‘unfinished story’ diantara kita di masa lalu).

      AbDal: Dueee, yang lagi deket ama mantan...
      Aku: Dueee, yang mo pergi ninggalin...


      Nah, pembicaraan tsb ter-rewind dalam mimpi itu. Mari menyebut ini sebagai Firasat II.

      Sabtu (17/8) pagi, aku terbangun dengan otak yang masih memikirkan mimpi semalam. Ada aku, eAw, dan seseorang lain yang kutahu adalah ‘bini baru’-nya eAw. Lagi-lagi, tak ada yang istimewa dari sini. Jadi, sebut saja ini sebagai Firasat III.

      Tepat hari ini, di dua minggu lalu, aku mendapat SMS dari seorang teman (hummm, I didn’t get it from the first mouth) yang mengatakan bahwa ayahnya eAw meninggal dunia sehari setelah aku mendapat Firasat terakhir.

      Akhirnya, lewat itu, aku mengerti jawaban atas pertanyaanku tentang permintaan maaf eAw dan mimpi-mimpi itu.

      Selamat jalan om, bapak, papanya eAw, semoga mendapat tempat paling mulia di sana.
      Untuk eAw yang menulis “Selamat jalan kekasih...” pada status msg-nya di sehari setelah hari duka: Be tough, Mas. Kekasihmu pergi tanpa beban, sebab beban itu (keluarga: mama & kedua adek) kini bertumpu di pundak si sulungnya—kamu!



      "Hamparan langit kosong

      Selembar kertas beterbangan
      berputar-putar pada lingkaran angin
      Berlompat-lompat lalu terdiam
      dan mengembang pada waktu

      Pernahkah kau bayangkan
      saat angin tiba-tiba berhenti,
      apa yang ada?
      Selembar kapas mungkin akan menjadi puing,
      kemana perginya?
      Dan kita lalu tiada"
      [“Tiada”, Aguk Irawan Mn]


      NB:
      • Maaf bila tidak berkenan dengan tulisan ini. Tapi mohon, hargai hak saya untuk sharing perasaan. Sebab bagi saya, yang terpenting sekarang adalah menciptakan dan menjalani kehidupan di arena kita masing-masing; dan meyakini bahwa masa kini tidak selamanya diakibatkan oleh masa lalu (nggg, kalian kenapa-kenapa belum tentu karena saya, kan?). *dueh...jadi ribet, dah!*
      • AbDal, kamu enggak marah dengan tulisan ini? *berpura-pura nanya, padahal aku tau kamu bakal fine-fine aja. Terbukti di tulisan-tulisan sebelum ini & komentar kamu pada ceritaku tentang keberatan seseorang atas tulisan-tulisan itu. Trims, cinta!*


      Friday, October 23, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 AM | No comments

      Saatnya Memilih



      Aku bukan orang yang ribet, meski pilihanku, bagi sebagian orang, tidaklah sederhana. Paling tidak, sebagian orang itu adalah ibuku. Selain urusan memilih pasangan hidup, ibuku juga melakukan intervensi luar biasa untuk urusan pekerjaanku.

      Intervensinya memang bukan terkait harus kerja dimana, gaji berapa, dan seterusnya. Tapi menyangkut: perempuan, lebih baik bekerja kantoran, nanti sempat urus rumah. Hal ini kuyakini berdasar cerminan kehidupan ibuku di masa lalunya.

      Beliau yang seorang pegawai di salah satu bank swasta terpaksa pergi pagi sebelum kami, kedua putrinya, bangun tidur, dan pulang ketika kami sudah tidur. Sehari-hari kami ditemani oleh dua orang pekerja rumah tangga yang masing-masing bertugas mengatur rumah dan mengasuh kami.

      Bagi ibuku, berkarir itu penting, sebab beliau merasakan betapa tidak enaknya ketika harus meminta pada suami untuk kebutuhan pribadinya terkait kebutuhan yang bukan keperluan rumah tangga.

      "Dulu, waktu bekerja, Mama beli lipstik dengan uang sendiri, bisa memilih merk favorit. Sekarang, meski dikasih Papa, Mama tidak memilih merk itu lagi," kata ibuku suatu ketika.


      Ibuku tak pernah menyesali dia berhenti dari pekerjaannya yang saat itu memiliki penghasilan jauh lebih besar dibanduing ayahku yang seorang PNS. Beliau memilih berhenti bekerja demi kebersamaan kehidupan keluarga kami. Saat itu, ayahku dipindah-tugaskan di sebuah daerah yang tidak ada kantor cabang perusahaan tempat ibuku bekerja.

      Demi kami, keluarganya, dia memilih menjadi ibu rumah tangga biasa setelah lebih dahulu kursus menjahit, rias dan memasak kue. Kursus-kursus ini akhirnya berguna untuk mengisi longgarnya waktu luang seorang ibu anggota Darmawanita di daerah baru kami.Ibu malah bisa menggunakan ilmu barunya tersebut untuk mengajari ibu-ibu Darmawanita lainnya. Ilmu ini bahkan menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga kami, meski jumlahnya jauh dibawah penghasilan ibuku sebelumnya.

      Ibuku seorang glamour yang menggunakan merk terbaik sesuai seleranya. Selera ini pula yang membuatnya menjadi tambun, sebab menjadi stress diawal kepindahan keluarga kami. Ibuku termasuk orang yang akan melarikan perasaan stress nya pada makanan. Apalagi saat itu ibu sudah pintar memasak ;)

      *
      Kini, aku akan mengalami hal itu: Bekerja untuk kehidupanku di masa depan. Aku selalu ingat cerita ibu tersebut: Perempuan harus bekerja, meski keluarga tetap yang utama.

      Aku sangat tertarik pada bidang media dan pemasaran. Aku tidak sanggup menjadi reporter, karena pekerjaan media harian pasti akan sangat melelahkan. Selain tenagaku tidak kuat, aku juga bukan orang yang sigap ;)

      Aku mendamba pekerjaan berikut:
      1. News anchor
      2. Pegawai LSM
      Untuk yang 1) pasti sangat berat.Indeks prestasi ku di kampus pas-pasan. Untuk 2), mungkin bisa dicoba. Ibuku, meski lebih menginginkanku menjadi PNS *yeah, she really does!*, mendukungku untuk yang 1), sebab jam kerjanya tertentu.

      *
      Kebetulan saat ini aku sedang bingung. Ada tawaran di empat tempat:
      1. Sebuah lembaga penelitian di kampus negeri tertua di negeri ini. Sebagai Staf di bidang International Research.
      2. Seorang Profesor di kampus yang sama. Menjadi Personal Assistant (PA). Sang Prof concern pada bidang transportasi dan perhubungan.
      3. Sebuah advertising company di Jakarta. Sebagai PR.
      4. Sebuah LSM local di Yogyakarta. Sebagai Staf Divisi Media
      Aku pun menimbang-nimbang tawaran tersebut. Berikut plus-minusnya:
      1. Pekerjaan membosankan, berada di belakang meja, depan monitor. Sudah setahun aku menjalani pekerjaan ini di tempat sama, hanya saja dengan status Freelance, bukan Staf. Pekerjaan utamaku adalah mencari kemungkinan kerjasama riset dengan lembag ainternasional, menyiapkan bahan, menghubungi para pakar di kampus tersebut, membuat rangkuman tiap pertemuan para pakar, mengkompilasi hasil penelitian, dst. Membosankan. Aku tidak pernah sekalipun ke lapangan untuk ikut para tim ahli melakukan penelitian. | Penghasilan: Rp 3.200.000/bulan
      2. Pekerjaan menyenangkan, sebab akan mengikuti sang Prof terbang ke mana-mana ke seluruh dunia. Namun pekerjaan utamanya sangat tidak kusukai, sebab menyediakan keperluan sang Prof, mulai dari kebutuhan terkait pekerjaan (seperti dokumen) hingga kebutuhan pribadi (mendorong kopernya di bandara, membawakan laptopnya). Ini buatku sama saja dengan pembokat, hehe. Pembokat yang digaji lebih tinggi dari pembokatku dirumah dan jalan-jalan ;) | Penghasilan: Rp 125.000/hari.
      3. Aku tidak tertarik dengan pekerjaan PR, sebab mengandalkan mulut. The more your mouth bubling, the more you get succes. Hahaha, seorang teman yang berprofesi di bidang ini tidak menyetujui pendapatku tersebut. Ya, lagipula, tawaran itu ada di Jakarta. Saat ini aku masih menyelesaikan skripsiku. Meski bisa pulang tiap week-end, habislah gajiku. | Penghasilan: Rp 3.500.000/bulan.
      4. Sangat tertarik! Sebab saat wawancara kemarin sang Direktur berkata: "Tapi apakah kamu bersedia dan sangup untuk perjalanan ke luar kota?" Aah pak, that's all I want, yu kno??? ;) | Penghasilan: belum tahu. Tapi dalam kisaran Rp 1 juta saja ;) Tapi ini di Jogja, lho.
      Saat ini aku berat memilih antara tawaran 2) dan 4). Ketika 2), aku selain berkesempatan jalan-jalan (haha, hidup kok niatnya jalan2?), aku juga bisa "dekat-dekat" sang Prof yang pernah menjanjikanku untuk informasi beasiswa di jurusan yang kuinginkan: MarComm.Namun aku membayangkan harus siap siaga nyaris 24 jam untuk online di yahoo msgr demi memenuhi ini-itu permintaan beliau dan bergelut lebih alam dengan issue transportasi? Ahh, tunggu dulu!

      Ketika memilih 4), kupikir akan kehilangan kesempatan ke luar negeri, kesempatan S2, dan kesempatan bergaji cukup. Namun, di LSM baru ini aku akan mendapat segala hal yang kuinginkan untuk berkarir: bermedia dan pekerjaan luar ruang. Meski issue-nya lebih ke community-based information network, aku pikir ini lebih menarik dibanding pilihan 2).


      Yeah, lets see!

      AZ 

      Sunday, July 19, 2009

      Posted by adriani zulivan Posted on 2:45:00 PM | No comments

      Saat Terakhirku Melihat Kamu…



      15 Juli 2009
      -Pagi, 05.30
      Aku. Bangun, ngulet-ngulet. Ke washtafel, bersihin muka, gosok gigi. Ke teras depan, ambil koran. Ke dapur, biikin susu. Balik ke tempat tidur, ngulet unit 2, baca koran.
      Ke halaman samping (emang halamannya cuman satu, yak!), ke rumah anak-anak. Ough, pengen liat mereka dari luar dulu. Itu menyenangkan sekali, sebab mereka berdua selalu antusias kalau ada yang datang untuk mengeluarkan dari kandang—ya, rumah mereka. Mungkin mereka tahu bahwa makanan semalam akan diganti dengan yang baru, rumahnya akan dibersihkan (yaa, meskipun ini jarang, ini tugas Si Utha), dan yang terpenting: mereka akan dibiarkan berlarian di halaman!
      Itu sebab mereka selalu berdiri denga dua kaki, kayak orang jinjit gitu, menegak-negakkan kepalanya ke atas (--kandang ditutup rapat untuk menghindari kucing, ‘pintu’ terdapat di bagian atas).

      Pas lihat dari samping, yang kelihatan berdiri tegak cuman si coklat. Aku jadi takut: apa Si Utha lupa masukin si grey, yah? Pas buka kandang,,, mmmm, ternyata keduanya ada di sana. Si grey masih tiduran, dengan posisi lucu sekali. Badannya gepeng aneh. Si coklat sudah terus berdiri, tak sabar minta dikeluarkan, maka kukeluarkan dia.
      Si grey masih saja diam di sana, sesekali mengulet. Tumben dia jadi pemalas begini, biasanya paling lasak.* Hummm, jahilku timbul, kukitik-kitik bagian bawah perutnya dan dia terus bergerak-gerak, mengulet. Aah, alhamdulillah enggak kenapa2, kirain sakit atau apa. Wong matanya juga masih terbuka cerah begitu. Ambil kamera ah, lucu banget posisi tidurnya.

      Kembali ke halaman, aku masih menemukan si grey dengan posisi sama. Kucoba gelitikin lagi, lalu mencoba mengangkatnya. Kaki dan bagian badan lainnya bergerak nakal, seperti biasa. Tapi kenapa dengan kepala itu? Seakan berat sekali baginya untuk mengangkat kepala itu. Aku coba mengangkatnya, tapi kepala itu teleng.* Aku periksa seluruh badannya, apa ada luka, mungkin ada kucing jahil yang mencakar lehernya, atau apalah. Sebab, sewaktu masih SD dulu, kelinciku dicakar di bagian kening di suatu malam oleh kucing yang juga kami pelihara di rumah, namun keesokan siangnya dia mati meski sebelumnya seluruh anggota badannya bisa bergerak normal.
      “Bang, anak lu kenapa tuh? Gak bergerak dia. Sakit apa?” aku bangunkan Si Utha. Tak seperti biasa, dia langsung bangun, dan melihat ke kandang. Dia angkat dan tidurkan di atas kain di dalam rumah, “Lu sih,,,, pake dimandiin segala! Ini tuh masih bayi, tauk!!!!” katanya marah.
      “Kita bawa ke dokter ya.”
      “Makanya lu, udah aku bilang juga, jangan bla bla bla….” sambil terus memegang si grey.
      “Hey!!! Aku juga kesian,,, lu marah2 gitu ini juga udah kejadian. Bukannya dia sembuh lu tuh malah bikin aku stress!”
      “Ude, cepetan!”
      “Apa?”
      “Cepetan kita ke dokter! Sekalian bawa si coklat vaksin…”
      Aku alas si grey dengan kain tebal, aku tidurkan di jok belakang. Kakinya bergerak-gerak, tapi kepala itu tetap memaku. Si coklat dimasukkan si Utha di keranjang bambu tempat membawa mereka waktu baru dibeli, lalu ditaruh di bawah kakiku.



      Perjalanan dari rumah ke RS sekitar 15 menit dalam kondisi normal, berhubung ini jam sibuk, kami membutuhkan hampir 25 menit untuk bisa mencapainya. Di jalan, sekitar lima menit lagi tiba di RS, kudengar suara teriakan yang ternyata dari si grey. Ah, dia masih aman! (Hmmm, meski dulu, dulu sekali, keluargaku pernah dua kali memelihara kelinci, yaitu saat aku SD dan SMP, aku lupa atau tidak tahu sama sekali bahwa kelinci juga bisa bersuara. Pagi itu, lewat teriakan si grey tadi, aku baru menyadarinya). Sepanjang jalan, tiga kali kudengar suaranya. Kupantau terus bagian bawah perutnya untuk memasikan bahwa ia masih bernafas. Matanya semakin sayu.
      Tibalah kami di RS yang terletak persis di belakang gedung Wisma MM UGM. Kugendong si grey, Utha bawa si coklat. Nyampe di dalam, tempat pendaftarannya belum buka. Kuminta Utha mencari siapapun yang bisa melayani kami.
      “Belum buka, mas. Mau tunggu sampai jam 8?” jelas seseorang yang ada di sana. Di sana ada tiga orang. Seorang perawat (terlihat dari pakaian dan nametag nya).
      Tapi ini kelinci saya sudah sekarat,” kata Utha.
      “Yaa belum ada dokternya, mas. Kami tidak berani.”
      “Praktek dokter hewan, dimana?” tanyaku. Kaki si grey memberontak, menendang-nendang. Dia terus berteriak, menyayat sekali.
      Para petugas medis itu saling berdiskusi, sementara si mbak Suster memegang si grey dalam dekapanku, sambil mencoba memeriksa2 dan bertanya: “Ini sudah berapa lama? Apa gejalanya? Bla, bla, bla…” Sial, orang lagi buru2 begini malah ditanyain macam2. Aku jawab sekenanya saja, dengan terus mendesak mereka untuk menyegerakan diskusi tentang alamat prakter dokter tsb.
      “Di dekat RS Gigi”, katanya.
      Kami melaju ke sana, tidak menemukan alamat yang dimaksud. Memang ada beberapa plang praktek dokter di daerah itu, tapi “dokter manusia”. Sekali lagi kami lewati kompleks itu, mengamati satu per satu rumah yang ada. Dan tetap tidak menemukannya. Lalu bertanya pada dua orang yang sedang menyapu di halaman sebuah rumah, tidak pernah tau dokter hewan warga di sana.
      Kutelp Mas Kuntz, seorang teman yang akan (atau sudah?) menjadi drh. Tapi berulang kali tidak dijawab. Yes men, jam segini pasti masih tidur. Duuh, padahal si grey di pangkuanku terus berteriak-teriak, aku sampai bisa melihat lidahnya. Dia pun terus meregang-regangkan kaki dan anggota badan lainnya yang bisa digerakkannya. Matanya semakin sayu. Tidak ada lagi kilau jernih di dalam sana.

      Lalu bertemu orang lewat, pejalan kaki. Juga tak tahu alamat drh, tapi mengetahui bahwa di dekat sana, daerah Sekip ini, ada RS Hewan. Syip!
      Tak sampai lima menit, kami tiba di sana. Kami parkir langsung di depan pintu masuk. Kuminta Utha menanyakan apakah ada UGD atau dokter jaga. Satpam bilang, “Biar saya hubungi, mas”. Ah, berapa lama lagi kami harus menunggu?
      Kuamati Si Grey, perutnya sudah tidak bergerak seperti tadi. Matanya sudah merapat. Beberapa saat sebelum ini aku mendengar dia mendesah/berteriak panjang beberapa kali sambil meronta-ronta. Entah mengapa, aku merasa kini ia sudah “pergi”.

      Ternyata, tak terlalu lama dokter muncul, langsung menghampiri kami. Aku turun, memberikan si grey padanya. Di ruang periksa, begitu diletakkan di meja, “Sudah mati itu”, kata Utha.

      Dokter terus memeriksa jantungnya dan mengambil stetoskop. “Mati, mas”, katanya. “Mencret, kah?” tanyanya sambil menekan-nekan bagian perut si grey.

      “Iya.”

      “Ya, ini perutnya kembung.”



      Aku? Ya nangis lah! Meski baru 10 hari hidup bersama kami. Apalagi, dia kelinci yang paling aku sayang, sebab sangat hiperaktif dan aku suka warna bulunya. Dan entah mengapa, ternyata aku tidak mempunyai satu foto pun bersama si coklat--sebaliknya dengan si grey. Bahkan dua kali kujadikan foto profil di Facebook. Hummm, huge lesson: jangan pilih kasih!

      Aku sedih, sebab sehari sebelumnya aku mandikan dia. Kebodohan besar! Sebab dia masih sangat kecil. Lihatlah tulang kakinya yang tidak lebih besar dari tulang ayam! Itu terlihat sewaktu bulu-bulunya basah. Memang, saat itu Si Utha langsung mengeringkannya dengan hairdryer, tapi ya namanya saja masih kecil, pasti kedinginan. Apalagi katanya, sudah dua minggu ini Jogja sedang dingin-dinginnya.
       


      Aku memandikan si grey sebab badannya sangat kotor dan bau. Bagian bawah badan (perut) lengket kotoran cair (maaf: mencret). Selain merasa risih kalau menggendongnya, aku juga takut jika kotoran itu malah menimbulkan penyakit, tidak hanya bagi mereka (kelinci), tapi juga kami (aku dan Utha).
      Ya, meski dokter menyatakan bahwa penyebab kematiannya adalah mencret, aku dan keluarga yakin bahwa dengan memandikan bayi kelinci itu sama dengan menurunkan daya tahan tubuhnya. Sebab, si coklat yang notabene kotorannya lebih cair dan lebih lama menderita mencret saja masih bisa bertahan!




      Lalu si coklat diperiksa kesehatannya. Mencret. Diberi obat bubuk (sudah digerus pak dokter) untuk diminumkan (dengan spet semacam suntik tanpa jarum). Obat ini berfungsi sebagai pembunuh bakteri jahat yang terlanjur masuk dalam tubuhnya.
      Dokter menganjurkan agar kelincinya di dalam kandang saja, tidak dikeluarkan ke halaman, agar tidak memakan rumput. Meski kami menjamin bahwa rumput di halaman bersih (bahkan sejak memelihara kelinci, Utha tidak mau lagi mencuci mobil di halaman, takut air sabun nempel di rumput yang dimakan kelinci), namun bakteri bisa saja muncul di sana, dibawa oleh siput. Hmmm, kayanya sih enggak pernah lihat siput di halaman. Kalo siPut-ra sih, ada.
      Dianjurkan juga untuk tidak terlalu banyak memberi makanan basah seperti kangkung, sawi dan sayuran basah lainnya. Untuk wortel, apel hijau dan pur (sejenis makanan yang sudah diolah, bentuknya sepeti makanan burung –ada di pet shop) boleh diteruskan. Jikapun kelincinya bosan, bisa sesekali diselingi kangkung.
      Oh ya, FYI, di Indonesia belum ada vaksin kelinci! Jadi yang dilakukan, menurut dokter, hanya menjaga agar kelinci tidak bersentuhan dengan bakteri.

      --07.45
      Aku menunggu Utha menyelesaikan urusan administrasi. Utha meng-SMS keluarga, mengabarkan kemalangan ini. Kubuka Facebook. “Adriani menyaksikan anaknya mati di pangkuannya tepat di parkiran RS. Pukul 07.15 tadi.” Begitu status baru yang ku-update di sana (trims untuk ucapannya).
      Kemudian aku berpikir, bahwa tadi, ketika aku mendengar desah panjang si Grei—nama ini pernah kuberikan pada si grey—aku meyakini bahwa itulah hembuhasan nafas terakhirnya, ujung hidupnya. Tapi aku masih belum yakin, sebab sepanjang jalan perutnya terus bergerak. Ya tentu saja, karena kami sedang berkendara.
      Kalau diingat2, kesal juga dengan RS pertama yang tidak ada dokter jaganya! Nunggu jam 8? Sejam sebelumnya dia sudah meregang nyawa, bos!

      --08.00
      Kami pulang, dengan hanya membawa Minie—ini adalah nama yang kubaca di kartu rekam medis untuk si coklat yang ditulis Utha. Si Billy—ini nama pemberian kakakku untuk si grey sewaktu dia datang ke Jogja minggu lalu (ini adalah nama kelinci yang pernah kami pelihara waktu kami kecil)—kami tinggalkan di RS. Penguburannya diserahkan pihak RS, “Saya enggak tega kalau harus menguburkannya sendiri,” kata Utha pada dokter.
      Sewaktu membawanya dari rumah, aku mengalas tempat dia berbaring dengan potongan bekas selimutku. Selimut merah itu dulu milik papa, lantas kuminta, karena dari sana aku bisa membaui aroma tubuh papa—orang yang paling kucinta di dunia ini.
      Itu kemudian menjadi selimut kesayanganku. Sangat JARANG dicuci, sebab aku tidak ingin aromanya berubah. Ketika dicuci, aku terpaksa memakai selimut pengganti yang jarang kugunakan, sebab ‘beda’ rasanya. Selimut merah ini, ketika sudah sobek kemudian kujahit, sobek lagi, kujahit lagi, begitu berulang-ulang sampai mama memotongnya untuk dijadikan kain lap.
      Pagi ini, ketika kami menyerahkan tubuh kaku si Grei pada dokter, dokter membungkusnya dengan selimut kesayanganku itu. Semoga bagian lain dariku masih ada bersamanya.

      ***

      Di jalan, kami hanya diam. Aku nyalakan radio, ada lagu dari sebuh grup band yang selama ini norak bagiku: ST12.

      “Inilah saat terakhirku melihat kamu, jatuh hati padamu, menangis pilu saat kuucapkan selamat jalan kasih…”

      Tisu di tanganku basah lagi.

      ***

      Di Jalan Kusumanegara Utha mampir isi bensin, aku turun ke pasar yang berada tepat di samping POM—beli wortel yang persediaannya sudah menipis di rumah. Ketika aku naik lagi, si Minie sudah duduk di pangkuan Utha. “Keluar dari keranjangnya,” jelas Utha.


      ***

      Di rumah, Mama langsung nelp. Sebenarnya Mama dan Papa tiap pagi punya rutinitas menelepon kami. Hanya saja, sejak tadi aku tidak sempat menjawab telp mereka yang berdering berulang-ulang. Utha sempat menjawab telp, tapi hanya sebentar, dan berjanji akan menelepon balik jika keadaan sudah lebih tenang. Maka mama menelepon lagi. Kemudian papa. Tadi di RS sempat ditelepon kakak.
      “Yaudah dek, enggak usah nangis, habis ini beli lagi ya…”, kata papa. Dueh pa, bukan itu persoalannya.
      “Itu harus beli lagi yang jantannya. Jangan sampai dia kesepian sendiri,” kata mama. Ya, ma…
      “Kandangnya yang bersih, jangan terlalu dekat dengan tanah, jangan dibiarkan makan rumput, bla, bla, bla…” kata kakak.
      Aku nangis lagi waktu mereka nelp. Yah, tadi di RS pun enggak peduli dilihat orang-orang. ~Btw (‘gak-nyambung-mode’), sepertinya aku kenal itu dokter. Pernah satu organisasi denganku di kegiatan kampus.
      Grei sayang, aku merasa berdosa dengan tertutupnya mata bundarmu yang tak lagi bercahaya bening itu. Semoga kamu memafkan aku ya, nak…


      “Well now she’s gone
      Even though I hold her tight
      I lost my love, my life, that night
      Oh where, oh where, can my baby be?
      The Lord took her away from me
      She’s gone to heaven, so I’ve got to be good
      So I can see my baby when I leave this world”




      *lasak (bahasa orang Medan) = hiperaktif
      *teleng = seperti tidak bertulang
      • Atribution. Powered by Blogger.
      • ngeksis

      • mata-mata