Sunday, November 11, 2018

Posted by Unknown Posted on 10:25:00 PM | No comments

#SebelasSebelas


Sedikit gambaran keseruan di hari ini, setahun lalu, yang kami namakan 11.11 atau #SebelasSebelas. Sebuah momen dimana haru dan bahagia menjadi satu, dalam sebuah hari bernama pernikahan.

Jutaan terima kasih kami ucapkan kepada teman dan kerabat yang telah hadir, baik bertemu langsung maupun dalam bentuk doa dan bingkisan. Kami sangat menghargai dukungan teramat besar yang telah diberikan, yang membuat hari bahagia ini menjadi nyata.

Kami yakin, ucapan "terima kasih" tak pernah cukup untuk membalas perhatian semua pihak. Namun sekali lagi, ingin kami sampaikan: TERIMA KASIH!

sebelassebelas.org

This is a snapshot of our special day, this day a year ago, the 11.11 or #SebelasSebelas. When the touched and happiness are melted into one, in an event called marriage.

A million thanks to those who have come, both physically or in prayer and gifts. We really appreciate your very kind attentions to our happy day.

Sure we believe that "thank you" is never enough, but we'd love to say it again: THANK YOU!

Salam,
AZ & EW

💙
Terima kasih tak terhingga untuk duo Kotagede, Natsir & Nasir, orangtua baru kami yang menjadi saksi pengikat janji: Pak M Natsir dan Pak Nasir Tamara. Juga kepada keluarga Natan yang telah membuat mimpi lama saya menjadi nyata: mengukir kisah di nDalem Natan.

ndalemnatan.com

💙
This beautiful piece is a gift from Pigeoo Photography for the #SebelasSebelas. Thank you so much, guys!

pigeoophoto.com

Backsound: Your Love Is Mine (instrumental track)


Mlekom,
AZ

Thursday, July 5, 2018

Posted by Unknown Posted on 9:08:00 PM | No comments

BUKA DONASI | Pengobatan Kucing Enjo


Halo, saya Adriani, mungkin kalian belum kenal. Saya dari Yogya dan saat ini tinggal di Jakarta.

Di rumah keluarga di Yogya, kami memelihara kucing liar. Ada sekitar delapan kucing yang sering datang ke rumah kami, sekadar makan atau bermain. Mungkin tepatnya tidak memelihara, namun merawat. Sebab hanya dua diantaranya yang benar-benar menjadi bagian dari "anggota" keluarga kami.

Itu di rumah saya. Di rumah suami saya pun begitu, merawat sekitar lima kucing (mohon maaf saya gak tahu pasti jumlahnya), yang nyaris semuanya diberikan tempat sebagai bagian dari keluarga.

Hal yang menyedihkan dari tempat tinggal saya di Jakarta--yang saya sebut sebagai "rumah petakan", adalah aturan untuk tidak membawa hewan peliharaan. Maka saya hanya bisa membawa pakan kering di dalam botol, untuk saya bagikan ke kucing yang saya temui di jalan. Saya juga rutin melakukan street feeding dengan meyiapkan makanan basah untuk dibagikan ke kucing di sekitar tempat tinggal saya.

Nah, pagi tadi saya sarapan di Pasar Enjo di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Setelah makan, saya lihat seekor kucing tiduran. Saya coba panggil diam aja, coba elus juga ga ada gerakan berarti. Saya angkat, sangat lemah. Saya pastikan ada yang salah di bagian pinggang ke bawah, sebab dia kesulitan menggerakkan setengah bagian tubuh tersebut.

Saya tanya ke bapak pemilik toko, tempat dimana si kucing tergeletak di bagian depannya, tepat di pinggir jalan. Beliau bilang: ga tau, mbak! Ketika saya tanyakan apakah kucing ini sakit.

Saya pinggirkan kucing ke bawah meja salah satu display barang dagangan toko tsb, agar tidak terinjak orang. Sebab orang lalu-lalang keluar masuk toko, dengan melangkahi tubuh kecilnya. 

Saya cari pedagang plastik, mau beli keranjang untuk mengangkut si kucing. Sebelumnya sudah minta izin suami untuk membawa kucing ke dokter. Saat itu yang ada di pikiran saya drh Nyoman di Duren Sawit, sekitar 9 kilometer dari lokasi. Saya memilih dr Nyoman sebab mengetahui sepak terjang beliau dalam merawat hewan, terutama hewan terlantar.

Sila cek akun Doknyom, begitu beliau biasa disebut, di sini.



Akhirnya dengan bantuan orang-orang pasar yang melihat saya menggendong kucing malang ini, saya berhasil membawanya bertemu Doknyom. Dokter bilang, ini baru saja kelindes (ditabrak) dan si kucing masih syok (ini yang menyebabkan nafasnya kencang).

Doknyom menyarankan saya untuk merawat sendiri kucing ini di rumah. Sebab dia masih mampu mengangkat pinggulnya, dokter yakin bahwa dia ga perlu dioperasi, cukup dikasih obat selama seminggu.



Yang menjadi persoalan adalah, saya benar-benar ga bisa merawatnya di rumah petakan, sebab memang tidak diperbolehkan. Maka saya minta opsi rawat inap. Klinik membolehkan, dengan dikenakan bea inap dan maksimal hanya sepekan. Setelah itu bagaimana? Mau tak mau, saya harus carikan rumah sementara untuk tempat tinggal kucing ini, sampai dia sembuh dan bisa dibebas-liarkan kembali. Menyedihkan, ya!

Jika ada teman yang berminat memberi tumpangan hingga sembuh, apalagi bisa mengadopsi selamanya, saya akan sangat berterima kasih.

Selain soal rawat-merawat, saya juga membutuhkan bantuan terkait biaya medis. Tadi saya putuskan agar si kucing diberi tindakan medis sesuai kebutuhan hingga benar-benar pulih. Apalagi menurut Doknyom, jika dia tidak dioperasi, ada kemungkinan dia mengalami susah buang air sehingga akan menyebabkan kematian. Salah satu pasien yang sedang dirawat di sana sedang mengalami kasus ini.



Saya minta dibuatkan rincian biaya. Ini detailnya untuk rawat inap selama sepekan:
  • x-ray (foto tulang) Rp 150.000 --> klinik bersedia memberi subsidi dengan  besaran yang belum tahu berapa
  • konsultasi Rp 90.000
  • injeksi antibiotik, dexa (antiradang lokal) dan furosemide, plus infus SC Rp 65.000
  • Obat racikan Rp 3.000 per butir = Rp 42.000
  • Suplemen Rp ... (belum ditentukan)
  • Biaya inap Rp 50.000 x 7 hari = Rp 350.000 (sudah termasuk makan)
  • Akupuntur Rp .... (belum dihitung)
Jadi kurang-lebih sekitar Rp 700.000. Tadi saya sudah titipkan setengahnya sebagai deposit. Jika harus menjalani operasi, biaya diperkirakan antara Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000 di klinik lain yang dirujuk Doknyom. Namun jika Doknyom dapat melakukan sendiri operasinya, beliau bilang biayanya akan lebih murah.

Untuk itu, dengan berat hati saya membuka donasi untuk membantu biaya perawatan kucing tersebut. Kucing berwarna putih dan abu-abu ini saya bei nama Enjo, sebab ditemukan di Pasar Enjo.

Untuk donasi bea pengobatan, bisa melalui rekening saya:
BCA Yogyakarta 0373066394 Adriani Dwi Kartika. Mohon kirimkan bukti transfer, untuk saya rekap sebagai laporan publik.

Sejak saya publikasikan pagi tadi, hingga saat ini sudah ada sejumlah donasi yang masuk ke rekening saya. Saya berkomitmen untuk melakukan transparansi terkait dana publik tersebut. Ini yang menjadi alasan mengapa saya menulis di sini, untuk dapat mempublikasikan tiap bukti donasi yang masuk. Berikut bukti transfer yang telah masuk:

Donatur 1: NN 1 dan NN 2

Donatur 2: Hamba Allah

Selain di tulisan ini, untuk perkembangan cepat bisa melongok akun Instagram saya @adrianizulivan, atau tagar #KucingEnjo.

Trims buat perhatian besar teman-teman semua. Selain bantuan dalam bentuk uang, ada juga yang bantu menghubungkan dengan kelompok pecinta hewan dan membantu meneruskan informasi ini. Apapun bentuknya, selruh bantuan itu sangat berarti untuk kesembuhan Kucing Enjo.

Trims, hanya Allah yang mampu membalas.

Mlekom,
AZ

Wednesday, May 2, 2018

Posted by Unknown Posted on 11:42:00 PM | No comments

Weekend Husband


Semalam aku ajak Pawami ke perpisahan seorang teman, yang akan kembali ke negaranya. Banyak orang baru kami jumpa di sana, termasuk mas-mas bule yang gabung di meja kami.


Dalam rangka basa-basi, tentu saja ngobrolin hal-hal estede. Dari soal kerjaan, lalu ngalor ke isu yang kami masing-masing geluti (dia bekerja pada salah satu lembaga pemerintah Inggris), pengalaman antar negara dalam menyikapi isu tersebut, dst. Hingga hal personal, lalu ngidul ke pertanyaan: 

Kenapa kalian tidak tinggal bareng?
Kaget? Enggak! Bukan kali pertama menerima pertanyaan serupa. Bukan hanya dari orang yang baru mengenal kami, namun juga keluarga. Nah jadi kepikiran untuk menulis "default answer", jadi kalau ada yang nanya tinggal kasih tautan tulisan ini. Mayan, nambah-nambah pengunjung blog. Ye kan? 👀

Pertanyaan-pertanyaan berikut bukan dari si mas-mas bule. Paham kan kalo orang bule sangat menghargai privasi? Obrolan dengannya malah bikin ngakak terus! Kata-kata di bawah ini aku kumpulkan dari beragam tanya yang kami dapat dari kenalan, sejawat pekerjaan, hingga keluarga. 


Oya, kata "pertanyaan" bisa kalian baca sebagai:
  • keisengan sebab mau-tau-aje urusan orang,
  • kenyinyiran sebab punya banyak waktu untuk mengurus bukan kehidupannya, ataupun
  • rasa cinta sebab begitu besar perhatiannya terhadap kehidupan orang lain.
Nah, mulai dengan pertanyaan paling mudah dijawab ya, masih terkait pertanyaan si mas-mas bule:
Apakah kalian berencana untuk tinggal bersama di satu kota? 
Ya, tentu saja kami merencanakan itu namun tidak sekarang.
Lalu kapan?
Setelah aku merasa "cukup". Ini bukan soal materi ya. Suwer!

Aku pernah bekerja di sebuah tempat (ga perlu disebut), yang gajinya tidak sampai setengah dari penghasilanku di tempat kerja sebelumnya (juga sebaiknya tidak disebut). Meski uangnya dikit, aku bisa meraup begitu banyak pendapatan dalam wujud ilmu, kesempatan, hingga ketenangan batin (berupa kebanggan, pencapaian, persahabatan dan masih banyak lagi yang sulit diterakan karena lebih mudah dirasakan. Ya!).


Itu sebab mengapa aku selalu benciiiii ketika ada bocah baru lulus sekolah langsung nanya "gajinya berapa?" ketika ditawari pekerjaan, bukannya pamer keahlian terlebih dahulu. Juga benci dengan bagian kepegawaian yang nanya "minta gaji berapa" di awal proses perekrutan pekerja, sebelum nge-tes kemampuan. Huf!


Lagi pula sekarang, dengan status sebagai perempuan menikah, aku berhak atas sesuatu yang membahagiakan bernama: jatah istri (yippie yay yay!). Dengan kebahagiaan baru ini (huahahaha), Insya Allah segala kebutuhanku sudah dipenuhi dengan sangat baik oleh Pawami, lahir dan... (ehm) batin. Jadi ketika ada yang bilang:

Yogya itu kota yang sangat menyenangkan. Ketika seluruh keluarga dan kehidupan sosial/komunitasmu di sana, maka cuma ada satu alasan yang membuatmu memilih hidup di kota se-semrawut Jakarta: Uang.
Ya sila menilai sendiri, dengan terjemahan sebebas-bebasnya. "Cukup" yang kusebut di atas lebih pada suatu capaian. Capaian tentu memiliki nilai/besaran. Nilai tersebut, sayangnya, seringkali hanya mudah dipahami oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku.

Jika beberapa tahun lalu aku sangat ingin lanjut kuliah di negara-negara barat, belakangan prioritasku bergeser. Kuliah bukan lagi cita-cita pertama, meski masih menjadi keinginan besar. Secara berurutan, ini capaian yang kini sangat ingin kujadikan nyata:

  1. Bergabung dengan badan milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam isu apapun, namun aku sangat ingin belajar tentang lingkungan.
  2. Menjadi bagian dari sebuah media besar berbasis internet, Google dan Facebook adalah dua daftar teratas impianku. Masih sangat ingin belajar lebih banyak tentang dunia media.
  3. Lanjut sekolah magister di bidang Manajemen Pemasaran (Universitas Indonesia) atau Studi Pembangunan (Institut Teknologi Bandung), sambil tetap bekerja. Kenapa ga di Eropa? Karna umur udah kelewatan buat cari beasiswa buk, mana tabungan cuma cukup untuk sekolah di "deket-deket sini ajah". Yang paling mungkin ya di UI, sebab aku bekerja di Jakarta. Tapi paling pengen di ITB, karna bisa mencicipi pengalaman tinggal di kota berbeda.
  4. Punya anak. Cita-cita ini ada di antara ketiga poin di atas, ga tau mana yang terwujud lebih dahulu, Insya Allah.
Pasti sulit ya memahami pilihan ini, bagi mereka yang memilih hidup di jalur "orang kebanyakan". Dibilang macem-macem sih sering:
Islam mengajarkan istri untuk ikut suami
Tantangannya adalah: hal-hal yang menjadi cita-citaku tidak ada di Yogya, kota tempat suamiku tinggal.
Tidak baik mementingkan karir dibanding keluarga. 
Aku ketawa aja lah. Karir itu mahluk apa sih?
Ya suamimu aja yang disuruh kerja di Jakarta, jadi bisa tinggal sama-sama. 
Suamiku juga punya cita-cita loh yaaa. Cita-citanya ada di Yogya, bukan Jakarta.

👐👐👐

Dan percayalah, persoalan yang dihadapi keluarga kami yang masih terdiri atas dua nyawa ini, tidak sesimpel pikiran orang lain. Orang bisa berpikir begitu mudah, tentang cara yang harus ditempuh agar kami dapat hidup bersama: salah satu mengalah, lalu mengikuti yang lain. 

Itu ga mudah sih buat kami. Selain pertimbangan terkait kami berdua, ada pula pertimbangan lain yang berhubungan dengan keluarga (orangtua, adik kakak) kami masing-masing. Ini pertimbangan yang ga perlu kalian ketahui, sebab akan makin sulit untuk dipahami oleh kalian (iya, kamu kamu itu!).

Setidaknya, selama kami belum punya tanggungan (anak, orangtua yang butuh perhatian khusus, atau situasi lain), kami merasa nyaman menjalani kehidupan yang merupakan hasil dari keputusan kami bersama ini. Buat kalian yang hobi bertanya hingga memberi usulan, aku jadi pengen ikutan nanya: Lah suamiku aja menghargai keputusan bersama kami tersebut, kok situ mo ikut-ikutan mutusin... EMANG SITU SIAPA? 💬

Dalam sebuah sesi wawancara dengan bagian personalia beberapa waktu lalu, aku diminta menggambarkan secara lisan, bagaimana aku melihat diriku di lima tahun ke depan. Dengan lantang (bah!), aku bilang:

Seorang perempuan yang menyandang gelar ibu dan master.
Kembali ke obrolan semalam. Ada satu pertanyaan lain, yang ditanyakan dengan nakal:
How do you manage it, being a weekend husband?
Dengan bercanda, si mas-mas bule berbisik ke arahku: Kamu punya kesempatan untuk mendapat weekdays husbandDan kami bertiga tergelak!

Boljug usulnya ya! 👌

Halo Pawami, 
Trims ya sudah menjadi bagian hidupku. Trims telah menerimaku apa adanya, meski ga ada apanya (helah). Trims sudah mendukungku menjadi apa yang kumau. Trims sudah bersedia menjadi weekend husband yang selalu pulang membawa cinta. Trims!

Setelah akhir pekan panjang di Jakarta, semalam. Saat akan pamit kembali ke Yogya. Kami berpelukan lama, seperti biasa. (Dipeluk lama adalah hal yang paling kusuka, ketika bersama orang-orang tersayangku--ini informasi sangat penting 👅)
Besok berapa umurmu? 
Yah, dia curi start! Hahahaha, ya begini ini kehidupan seru para pasangan pulang jumat kembali ahad (PJKA) alias weekend husband and wife. Yang memilih untuk memberi ucapan selamat ulang tahun lebih cepat, asalkan yang diberi ucapan ada di depan dadanya.

Eh mas, semalam itu ucapan ultah kan ya? Tumben!


[Gambar: Sebuah akhir pekan ketika Pawami sedang menjalani tugas mulia sebagai weekend husband.]


Mlekom,

AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata