Wednesday, May 2, 2018

Posted by adriani zulivan Posted on 11:42:00 PM | No comments

Weekend Husband


Semalam aku ajak Pawami ke perpisahan seorang teman, yang akan kembali ke negaranya. Banyak orang baru kami jumpa di sana, termasuk mas-mas bule yang gabung di meja kami.


Dalam rangka basa-basi, tentu saja ngobrolin hal-hal estede. Dari soal kerjaan, lalu ngalor ke isu yang kami masing-masing geluti (dia bekerja pada salah satu lembaga pemerintah Inggris), pengalaman antar negara dalam menyikapi isu tersebut, dst. Hingga hal personal, lalu ngidul ke pertanyaan: 

Kenapa kalian tidak tinggal bareng?
Kaget? Enggak! Bukan kali pertama menerima pertanyaan serupa. Bukan hanya dari orang yang baru mengenal kami, namun juga keluarga. Nah jadi kepikiran untuk menulis "default answer", jadi kalau ada yang nanya tinggal kasih tautan tulisan ini. Mayan, nambah-nambah pengunjung blog. Ye kan? 👀

Pertanyaan-pertanyaan berikut bukan dari si mas-mas bule. Paham kan kalo orang bule sangat menghargai privasi? Obrolan dengannya malah bikin ngakak terus! Kata-kata di bawah ini aku kumpulkan dari beragam tanya yang kami dapat dari kenalan, sejawat pekerjaan, hingga keluarga. 


Oya, kata "pertanyaan" bisa kalian baca sebagai:
  • keisengan sebab mau-tau-aje urusan orang,
  • kenyinyiran sebab punya banyak waktu untuk mengurus bukan kehidupannya, ataupun
  • rasa cinta sebab begitu besar perhatiannya terhadap kehidupan orang lain.
Nah, mulai dengan pertanyaan paling mudah dijawab ya, masih terkait pertanyaan si mas-mas bule:
Apakah kalian berencana untuk tinggal bersama di satu kota? 
Ya, tentu saja kami merencanakan itu namun tidak sekarang.
Lalu kapan?
Setelah aku merasa "cukup". Ini bukan soal materi ya. Suwer!

Aku pernah bekerja di sebuah tempat (ga perlu disebut), yang gajinya tidak sampai setengah dari penghasilanku di tempat kerja sebelumnya (juga sebaiknya tidak disebut). Meski uangnya dikit, aku bisa meraup begitu banyak pendapatan dalam wujud ilmu, kesempatan, hingga ketenangan batin (berupa kebanggan, pencapaian, persahabatan dan masih banyak lagi yang sulit diterakan karena lebih mudah dirasakan. Ya!).


Itu sebab mengapa aku selalu benciiiii ketika ada bocah baru lulus sekolah langsung nanya "gajinya berapa?" ketika ditawari pekerjaan, bukannya pamer keahlian terlebih dahulu. Juga benci dengan bagian kepegawaian yang nanya "minta gaji berapa" di awal proses perekrutan pekerja, sebelum nge-tes kemampuan. Huf!


Lagi pula sekarang, dengan status sebagai perempuan menikah, aku berhak atas sesuatu yang membahagiakan bernama: jatah istri (yippie yay yay!). Dengan kebahagiaan baru ini (huahahaha), Insya Allah segala kebutuhanku sudah dipenuhi dengan sangat baik oleh Pawami, lahir dan... (ehm) batin. Jadi ketika ada yang bilang:

Yogya itu kota yang sangat menyenangkan. Ketika seluruh keluarga dan kehidupan sosial/komunitasmu di sana, maka cuma ada satu alasan yang membuatmu memilih hidup di kota se-semrawut Jakarta: Uang.
Ya sila menilai sendiri, dengan terjemahan sebebas-bebasnya. "Cukup" yang kusebut di atas lebih pada suatu capaian. Capaian tentu memiliki nilai/besaran. Nilai tersebut, sayangnya, seringkali hanya mudah dipahami oleh diriku sendiri atau orang-orang terdekatku.

Jika beberapa tahun lalu aku sangat ingin lanjut kuliah di negara-negara barat, belakangan prioritasku bergeser. Kuliah bukan lagi cita-cita pertama, meski masih menjadi keinginan besar. Secara berurutan, ini capaian yang kini sangat ingin kujadikan nyata:

  1. Bergabung dengan badan milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Dalam isu apapun, namun aku sangat ingin belajar tentang lingkungan.
  2. Menjadi bagian dari sebuah media besar berbasis internet, Google dan Facebook adalah dua daftar teratas impianku. Masih sangat ingin belajar lebih banyak tentang dunia media.
  3. Lanjut sekolah magister di bidang Manajemen Pemasaran (Universitas Indonesia) atau Studi Pembangunan (Institut Teknologi Bandung), sambil tetap bekerja. Kenapa ga di Eropa? Karna umur udah kelewatan buat cari beasiswa buk, mana tabungan cuma cukup untuk sekolah di "deket-deket sini ajah". Yang paling mungkin ya di UI, sebab aku bekerja di Jakarta. Tapi paling pengen di ITB, karna bisa mencicipi pengalaman tinggal di kota berbeda.
  4. Punya anak. Cita-cita ini ada di antara ketiga poin di atas, ga tau mana yang terwujud lebih dahulu, Insya Allah.
Pasti sulit ya memahami pilihan ini, bagi mereka yang memilih hidup di jalur "orang kebanyakan". Dibilang macem-macem sih sering:
Islam mengajarkan istri untuk ikut suami
Tantangannya adalah: hal-hal yang menjadi cita-citaku tidak ada di Yogya, kota tempat suamiku tinggal.
Tidak baik mementingkan karir dibanding keluarga. 
Aku ketawa aja lah. Karir itu mahluk apa sih?
Ya suamimu aja yang disuruh kerja di Jakarta, jadi bisa tinggal sama-sama. 
Suamiku juga punya cita-cita loh yaaa. Cita-citanya ada di Yogya, bukan Jakarta.

👐👐👐

Dan percayalah, persoalan yang dihadapi keluarga kami yang masih terdiri atas dua nyawa ini, tidak sesimpel pikiran orang lain. Orang bisa berpikir begitu mudah, tentang cara yang harus ditempuh agar kami dapat hidup bersama: salah satu mengalah, lalu mengikuti yang lain. 

Itu ga mudah sih buat kami. Selain pertimbangan terkait kami berdua, ada pula pertimbangan lain yang berhubungan dengan keluarga (orangtua, adik kakak) kami masing-masing. Ini pertimbangan yang ga perlu kalian ketahui, sebab akan makin sulit untuk dipahami oleh kalian (iya, kamu kamu itu!).

Setidaknya, selama kami belum punya tanggungan (anak, orangtua yang butuh perhatian khusus, atau situasi lain), kami merasa nyaman menjalani kehidupan yang merupakan hasil dari keputusan kami bersama ini. Buat kalian yang hobi bertanya hingga memberi usulan, aku jadi pengen ikutan nanya: Lah suamiku aja menghargai keputusan bersama kami tersebut, kok situ mo ikut-ikutan mutusin... EMANG SITU SIAPA? 💬

Dalam sebuah sesi wawancara dengan bagian personalia beberapa waktu lalu, aku diminta menggambarkan secara lisan, bagaimana aku melihat diriku di lima tahun ke depan. Dengan lantang (bah!), aku bilang:

Seorang perempuan yang menyandang gelar ibu dan master.
Kembali ke obrolan semalam. Ada satu pertanyaan lain, yang ditanyakan dengan nakal:
How do you manage it, being a weekend husband?
Dengan bercanda, si mas-mas bule berbisik ke arahku: Kamu punya kesempatan untuk mendapat weekdays husbandDan kami bertiga tergelak!

Boljug usulnya ya! 👌

Halo Pawami, 
Trims ya sudah menjadi bagian hidupku. Trims telah menerimaku apa adanya, meski ga ada apanya (helah). Trims sudah mendukungku menjadi apa yang kumau. Trims sudah bersedia menjadi weekend husband yang selalu pulang membawa cinta. Trims!

Setelah akhir pekan panjang di Jakarta, semalam. Saat akan pamit kembali ke Yogya. Kami berpelukan lama, seperti biasa. (Dipeluk lama adalah hal yang paling kusuka, ketika bersama orang-orang tersayangku--ini informasi sangat penting 👅)
Besok berapa umurmu? 
Yah, dia curi start! Hahahaha, ya begini ini kehidupan seru para pasangan pulang jumat kembali ahad (PJKA) alias weekend husband and wife. Yang memilih untuk memberi ucapan selamat ulang tahun lebih cepat, asalkan yang diberi ucapan ada di depan dadanya.

Eh mas, semalam itu ucapan ultah kan ya? Tumben!


[Gambar: Sebuah akhir pekan ketika Pawami sedang menjalani tugas mulia sebagai weekend husband.]


Mlekom,

AZ

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata