Tuesday, March 27, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:39:00 PM |

Wisma Proyodranan, Kotagede, Yogyakarta

Foto dari sini


Ingat bangunan tua ini? Ia terjual!

Foto itu diambil 31 Agustus 2011. Lihat foto berikut, tertanggal 24 Maret 2012, bangunan sama setahun kemudian.


Ya, ia dijual untuk kemudian dipugar!

Adalah Nasir Tamara, orang kaya berpenampilan sederhana*) yang memiliki kepedulian terhadap peninggalan sejarah. Ialah pemilik baru bangunan ini. Kabarnya, setelah dipugar, bangunan ini akan digunakan sebagai kultural centre untuk Kotagede.

Bangunan ini terletak di Jalan Mondorakan Kotagede, DIY. Sebagai bekas pusat kota kuno, banyak bangunan tua bersejarah di kawasan Kotagede. Mulai dari peninggalan mataram, hingga kolonial. Bangunan cantik yang dibangun tahun 1857 ini salah satunya.

Bangunan ini dulunya bernama Wisma Proyodranan. Oleh warga setempat kerap disebut dengan Ndalem Proyodranan. Kisah Pendapa Ndalem Proyodranan. Di Kotagede terdapat sejumlah pendapa ndalem. Ini merupakan ruang publik yang diperuntukkan bagi masyarakat. Biasanya, pendapa ndalem berupa bangunan rumah tinggal yang besar. Jika bukan pejabat kolonial,  pemiliknya adalah saudagar (perak, batik) di jaman itu.

Di tahun 1960-an, pedapa dimanfaatkan sebagai tempat latihan dan pertunjukan seni, sarasehan kebudayaan, hingga pengajian. Salah satu yang populer adalah Ndalem Sopingen yang kini tak berbekas pasca dijual dan diganti dengan bangunan modern. **)

@IsrarArdiansyah mencatat bahwa di tahun 1993 lalu, Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) --sebuah badan mahasiswa-- menyelenggarakan musyawarah besar (mubes) di tempat ini. Artinya, dulu wisma ini disewakan.

 Ki-ka: Dulu disewakan, kini direhab. Foto: @joeyakarta

Bangunan ini rusak akibat gempa bumi yang mengguncang Jateng-DIY (2006). Tampaknya, sejak saat itu bangunan ini tak lagi dihuni atau disewakan pada publik.

 Momorabilia gempa 2006. Foto: Kris Budiman


Sejak 2010, di pagar bangunan ini digantung sebuah spanduk yang mengabarkan bahwa rumah ini dijual. Banyak pihak menyayangkannya.

Saat itu, sejumlah aktivis konservasi pusaka berdiskusi dalam forum-forum, tanpa bisa melakukan apapun, sebab tak ada modal kuasa dan materi untuk mencegahnya. Mereka khawatir, jika bangunan ini dijual lalu diganti dengan bangunan baru. Hilanglah memori masa lalu.
 
 Gambar ini beredar luas di Facebook. Foto: Kris Budiman

Kini, para pemerhati pusaka ini bisa berbangga hati. Termasuk aku. Senang rasanya, mendengar ia terjual pada tangan yang tepat. Wajahnya nanti akan menjadi lebih baik, semoga saja.

Ndalem Proyodranan adalah satu diantara ndalem yang tersisa. Tak sabar menunggu pemugarannya, agar dapat dinikmati kembali oleh warga. 


Mlekom,
AZ

1. Pendopo


2. Senthong tengah dalam dengan gebyoknya


3. Daun pintu yang mewah


4. Lihat ukirannya


5. Daun jendela


6. Gandhog kiwo


7. Longkangan


8. Taman di dapur


9. Kamar mandi, sudah kramik modern


10. Gandhog kiwo

11. Peninggalan: lampu dan stik golf


*) berdasar keterangan @sintacarolina yang bertemu beliau di sebuah kegiatan terkait pusaka.

**) Sumber: Harian Kompas Edisi Jateng - DIY, 19 November 2008 ini.


Denah rumah Jawa:


about it
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata