Tuesday, March 27, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM |

Sepenggal Kisah Pendapa Dalem Sopingen

 Sumber gambar dari sini.

Pendapa Dalem Sopingen yang terletak di Kampung Trunojayan, Kotagede, Yogyakarta, bisa jadi memang jarang terdengar dibandingkan dengan pendapa Ndalem Notoprajan. 

Semasa masih digunakan sebagai kantor Bidang Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pendapa Ndalem Notoprajan sering digunakan untuk tempat pertunjukan kesenian, semacam festival sendratari atau festival teater tingkat SLTA. 

Atau pendapa di Dalem Yudhanegaran yang sampai saat ini masih dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan kesenian, sara-sehan budaya, dan berbagai kegiatan yang melibatkan publik lainnya. 

Walaupun tak begitu banyak dibicarakan, paling tidak pendapa di Dalem Sopingen pernah menjadi salah satu ruang publik bagi masyarakat Kotagede dan sekitarnya. Dalem Sopingen dulunya adalah kediaman seorang pembesar abdi dalem bernama Amat Dalem Sopingen.

Pada masa pergerakan nasional 1908, pendapa Dalem Sopingen sering dimanfaatkan sebagai tempat rapat umum. Di pendapa itu, masyarakat setempat sering mendengarkan tokoh- tokoh besar macam HOS Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, KHA Dahlan, dan para tokoh kiri seperti Muso, Alimin, dan Darsono. 

Di tahun 1960-an, sebagai ruang publik, pendapa juga dimanfaatkan bergantian untuk tempat latihan karawitan dari grup karawitan yang dibina oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) maupun sebagai tempat kegiatan para anak muda Muhammadiyah latihan pencak silat. 

Di tahun 1970-an di pendapa Sopingen, Bagong Kussudiardja yang baru pulang dari Amerika Serikat memperkenalkan gerakan tari yang kemudian disebut tari gaya baru. 

Di pendapa itu juga Azwar AN bersama para anggota Teater Alam mementaskan lakon Obrok-owok-owok- nya Danarto. Disusul kemudian pergelaran teater dan pentas kesenian dari para anak muda Kotagede sendiri. 

Riwayat pendapa Sopingen sebagai ruang publik berakhir tahun 1990, saat bangunan pendapa oleh para ahli waris keluarga Dalem Sopingen dijual. 

Kehilangan pendapa Sopingen, warga setempat masih ada pendapa Proyodranan yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pentas teater, lawak, musik, atau kegiatan kemasyara-katan semisal pengajian. Pascagempa, pendapa Proyodranan mengalami rusak berat dan ditawarkan untuk dijual. 

Masyarakat setempat kembali kehilangan satu lagi ruang publik. Tampaknya juga tak ada yang merasa kehilangan. 


HAMID NURI 
Penulis Lepas, Tinggal di Yogyakarta

*
Co-pas dari rubrik Keliling Kota, Harian Kompas Edisi Jateng-DIY, 19 November 2008. Cek di sini dan ini.
about it
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata