Tuesday, March 15, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:00:00 PM | No comments

Melkhior Duha Menjaga Pusaka Ono Niha

"Karena saya suka!" seru Melkhior Duha menjawab pertanyaanku tentang koleksinya. Kami berbincang di rumahnya yang terletak di Kota Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Provinsi Sumatra Utara. Malam itu (27/02) aku mendapat kesempatan menginap di kediaman keluarga Duha.

Cantik. Itu kesan yang kudapat ketika pertama tiba di rumah ini. Rumah artistik dengan fasad bertembok bata tanpa plester yang tersusun rapi. Masuk ke dalam, berbagai ornamen kuno berbahan kayu menghias nyaris seluruh dinding di rumah ini. Sebagian besar adalah peninggalan asli yang didapat Duha dari warga di kampung-kampung adat, sebagian lainnya merupakan replika yang dibuat sendiri olehnya.


Tak jauh dari rumahnya, Duha memiliki bengkel produksi. Produk yang dihasilkan adalah beragam jenis kerajinan berbahan kayu. Sebagian besar merupakan replika dari ornamen kayu yang menjadi hiasan di rumah adat, ataupun alat yang digunakan dalam keseharian.


Sebelum menemui Duha, aku telah mengunjungi sejumlah desa tradisional di Nias Selatan dan Barat. Melihat peninggalan omo sebua (rumah adat) di sana, aku tersadar bahwa budaya ukir tak hanya dimiliki oleh Jepara di Jawa Tengah saja sebab Nias juga memiliki kemampuan itu. Tak hanya kayu, batu-batu dolmen pun dipahat indah meski tak serumit ukiran candi-candi batu di Jawa.


Hanya saja, kini tak ada lagi kursi atau ornamen rumah khas Nias lainnya yang masih diukir untuk ornamen rumah di masa kini. Ini berbeda dengan Jepara yang hingga kini masih memproduksi ukiran dan menjadikannya sebagai salah satu produk unggulan. Ketika tak ada lagi yang mengukir, lalu bagaimana Duha menemukan pemahat untuk bengkelnya? 


Aku sempat menduga bahwa Duha lah yang mengajarkan semuanya, lalu tukang kayu tinggal mengikuti arahannya. Dugaan ini meleset. "Saya cari orang-orang keturunan pemahat, orang-orang yang bapak atau kakeknya di masa lalu adalah pemahat ukir," jelasnya. Duha yakin, para keturunan pemahat ini masih memiliki kemampuan sama dengan pendahulunya.


Dengan berbagai riset mendalam, sejumlah ornamen lahir dari bengkel ini. Hiasan dinding sebagaimana yang selalu ada di omo sebua, lasara (hiasan berbentuk kepala monster mirip naga), meja hingga pintu ukir, dan masih banyak lainnya. Sebagian besar replika dibuat dengan dimensi ukuran sebenarnya yang difungsikan sebagaimana kegunaannya di masa lampau, seperti pintu rumah. Sebagian lain dibuat dalam bentuk mini yang diperuntukkan sebagai souvenir, seperti set gamelan Nias.


Replika ini dibuat untuk mengembalikan ingatan publik akan peninggalan yang saat ini terancam punah atau sudah punah. Duha percaya, budaya Nias tak akan sekadar menjadi sejarah, jika terus dilestarikan.


Selain membuat replika, Duha juga menyelamatkan benda-benda pusaka asli dari kampung-kampung tradisional. Saat ini hanya tinggal sedikit kampung adat di seluruh Nias, kebanyakan yang tersisa berada di Nias Selatan yang terletak dua jam perjalanan dari Gunung Sitoli. 


Kampung tradisional mengalami perubahan besar sejak banyak rumah adat omo sebua yang roboh terkena gempa bumi tahun 2005. Membangun rumah yang sama membutuhkan biaya lebih besar dibanding rumah modern. Apalagi rumah adat memiliki keterbatasan ruang yang semakin sempit jika pemilik telah beranak pinak.

Ketika rumah adat dibongkar, kayu-kayu yang tersisa dijual, berikut segala artefak tradisi di dalamnya. Diantaranya adalah alat memasak, hiasan dinding, alat berladang, alat musik, topeng, patung-patung, pakaian dan beragam benda lainnya. Duha bersama keluarga selalu berusaha agar benda-benda pusaka ini tidak keluar dari Nias.


Salah satu langkah yang mereka lakukan adalah membeli barang-barang tersebut. Sebuah topeng kayu saja bisa berharga puluhan juta. Dana untuk membeli dan juga mereplikasi berasal dari kantong pribadi. 


Suatu hari di pertengahan 2013, Duha divonis mengalami mild cognitive impairment (MCI/penurunan kognitif ringan) stroke. Sebagian harta keluarga, termasuk mobil, terjual untuk pengobatan. Dina Waoma, istri Duha, sempat menyarankan untuk menjual berbagai koleksi mahal tersebut, namun Duha bergeming.

Sudah 1,5 tahun Duha dinyatakan sehat oleh dokter yang merawatnya. "Mendengar anaknya diterima di ITB, sejak itulah timbul semangatnya untuk sehat," kata Waoma. Keluarga Duha memiliki lima anak. Anak pertama diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Arsitektur, anak kedua di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung. Duha ingin anak ketiganya diterima di Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM).


"Pas itu pak, jadi bisa teruskan mereplikasi pusaka Nias. Arsitek ada, ahli tekstil ada, arkeolog ada," kataku. Mari doakan impian ini terwujud!


Seluruh koleksi asli dan replika itu dipajang di lantai atas rumah keluarga ini [lihat foto atas]. Aku menyebut lantai ini sebagai "Nias Mini Museum", sebab di sana aku bisa melihat beragam artefak pusaka peninggalan budaya Nias. Duha memang bercita-cita untuk memiliki museum untuk memamerkan seluruh koleksi ono niha (anak manusia/masyarakat Nias) yang dimilikinya.

Saat ini ada lebih dari 1.000 artefak Nias yang berhasil dikumpulkannya. Sebagian besar dipajang di sebuah ruangan penyimpanan khusus yang selalu dibuka jika ada yang ingin melihat. Sebagian lain dipajang di seluruh sudut rumah, dan masih sebagian lain yang tersimpan rapi di dalam kardus akibat keterbatas tempat.

Jika tiba di Bandara Binaka gunung Sitoli, sebelum gerbang keluar akan terlihat dua rumah adat. Yang satu (di sebelah kanan) berbentuk rumah adat asal Nias Barat, lainnya sedang dibangun menyerupai rumah Nias Selatan. Kedua rumah ini milik keluarga Duha. Duha berencana membangun rumah adat Nias dari seluruh daerah di Nias. 

Pembangunannya tentu bertahap, mengingat biaya yang sangat mahal. Dengan ornamen ukiran yang biasa menghias rumah-rumah Nias, satu bangunan dapat menghabiskan hampir Rp 500 juta! Duha membuat rumah-rumah ini dengan ukuran sebenarnya--bukan replika semata, meskipun tak lagi mudah mencari kayu-kayu besar yang sedianya digunakan di rumah-rumah kuno Nias.

Selain mendukung setiap perjuangan Duha, Waoma juga ikut melestarikan budaya Nias lewat kerajinan tangan. Ia menjahit pakaian daerah, menganyam pandan untuk tas, tikar, tenun, serta beragam kerajinan lain yang dihasilkan di bengkel kerjanya yang dinamai "Rumah Kreatif". Barang-barang yang dihasilkan merupakan replikasi barang-barang yang digunakan orang Nias dalam keseharian di masa lalu.


Pemerintah setempat menjadi konsumen tetap yang membeli produk Waoma sebagai cinderamata bagi tamu yang datang. Ia juga mengajarkan kepandaiannya dalam kerajinan tangan dan memasak kuliner pusaka Nias kepada warga sekitar.
Melkhior Duha, foto milioom Hongky Lie.
Saat ini Melkhior Duha dikenal sebagai Budayawan Nias, meski ia lebih suka menyebut diri sebagai Pemerhati Budaya Nias. Ia diundang di berbagai seminar nasional dan internasional untuk berbicara tentang Nias. Penguasaannya pada budaya Nias pun membawanya menjadi konsultan pada sejumlah program terkait Nias.

Perkenalan pertamaku dengan Duha terjadi di tahun 2012. Saat itu kami mengikuti sebuah agenda pelestarian pusaka nasional. Mengenal sosok ini lebih jauh, sangat membuatku bangga
. Bangga pada dedikasi Duha dan keluarganya untuk menjaga pusaka ono niha demi kelestarian peradaban Nias. 

Terimakasih atas sambutan luar biasa, Pak dan Bu Duha! Semoga cita-cita besar melestarikan budaya Nias mendapat perhatian dari beragam pihak, agar Melkihor Duha dan keluarga tak lagi berjuang sendiri.

Aku bersama keluarga Duha saat menginap.
PS:
Jika datang ke Nias, hubungi Pak Duha di melkhi_duhas@ymail.com atau Facebook di sini. Ia dan keluarga pasti akan membuka pintu rumahnya dengan hangat!

Update per 14 April 2016:
Pak Duha meninggal dunia [aku ceritakan di sini] setelah bergulat dengan stroke. Untuk melihat karyanya, dapat menghubungi Ibu Waoma via Facebook yang selalu aktif.
Mlekom,

AZ

about it

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata