Thursday, May 8, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:17:00 PM | No comments

The Boy in the Striped Pyjamas

The Boy in the Striped Pyjamas: Anak Lelaki Berpiama Garis-garisThe Boy in the Striped Pyjamas: Anak Lelaki Berpiama Garis-garis by John Boyne
My rating: 4 of 5 stars

Cerita bergerak lamban di awal. Saya merasa baru mulai masuk ke inti cerita di pertengahan buku. Selanjutnya sangat menyenangkan. Saya menikmati terjemahannya, meski untuk beberapa kalimat masih ingin tahu apa bahasa aslinya.

Cerita dari sudut pandang bocah yang perlu dipelajari orang dewasa. Bahkan untuk konteks kekinian di negara kita yang katanya pluralis ini.

Ah andai ada seri komiknya, agar bisa saya bacakan di kelas Sekolah Gajahwong...

AZ

View all my reviews

Friday, May 2, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 7:53:00 PM | No comments

Kepala Tiga


Berkepala dua, berlidah dua, berhati dua, itu gak baek. Kepala tiga, semoga segala yang terbaik.

Ah Pesbuk, kau mengingatkanku untuk bersyukur!

Mlekom,
AZ

Thursday, May 1, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:17:00 PM | No comments

Panduan Siaran untuk Radio Komunitas di Lingkar Merapi



Panduan siaran berkala/rutin (harian):
Info HT BPPTKG (165.075): 
  • pukul 08.30: info kegempaan, curah hujan, kelembaban, dsb
  • pukul 19.30: info kegempaan 
Info prosedur tetap (protap) kedaruratan: 
  • titik kumpul
  • rute evakuasi
  • tempat evakuasi
  • nomor-nomor kontak penting (perangkat dusun, perangkat desa, OPRB, BPBD, dsb).
Info kesiapsiagaan untuk warga/keluarga: 
  • uang/tabungan
  • perlengkapan pribadi (untuk anak, dewasa, ibu hamil, lansia, dsb)
  • surat-surat penting
  • alat komunikasi
  • ternak.
Panduan persiapan siaran darurat:
  • Rencana lokasi studio siaran darurat
  • Tim pengelola radio siaran darurat
  • Rencana konten/informasi untuk radio siaran darurat
Prinsip-prinsip siaran:
  • Keterangan waktu informasi (pukul, tanggal)
  • Sumber informasi (nama, lembaga)
  • Nomor interaksi radio komunitas 
Kontak dan Informasi Aktivitas Merapi 
Informasi lebih lanjut terkait aktivitas Merapi, dapat menghubungi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melalui:
  • Radio HT Frekuensi 165.075 MHz
  • Telepon:  0274 - 514 180, 514 192
  • Twitter: @bpptkg
  • Facebook: Info BPPTKG
  • BBM Group: PIN 76507EB3
  • Pos Pengamatan Kaliurang: 0274 - 895 209 
  • Pos Pengamatan Selo: 0276 - 632 6038
*
Status Aktivitas Gunungapi Merapi terdiri atas empat tingkatan, yaitu normal, waspada, siaga, dan awas.  Berikut ini  adalah hal-hal yang perlu diperhatikan pada setiap tingkat status

STATUS
GEJALA yang terjadi pada tigkatan ini adalah
TINDAKAN yang direkomendasikan pada tingkatan ini adalah
TIDAKAN yang direkomendasikan untuk dilaksanakan oleh MASYARAKAT pada tingkatan ini adalah
4. STATUS AWAS
Akan segera meletus, atau sedang meletus atau keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana setiap saat
Kritis;
Wilayah terancam direkomendasikan untuk sementara dikosongkan.
Koodinasi harian
Piket Penuh
Masyarakat di KRB 2 dan 3 mengkosongkan kampung sebagai tindakan antisipasi bencana
3. STATUS SIAGA
Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
Kritis;
Sosialisasi di wilayah terancam
Penyiapan sarana darurat
Koordinasi harian
Piket penuh
Masyarakat  di KRB 2 dan 3 mengadakan evakuasi penduduk rentan. Memindahkan ternak dan aset berharga miliknya serta persiapan evakuasi bagi semua warga masyarakat
2. STATUS WASPADA
Ada kenaikan aktivitas / di atas level dasar, apapun jenis gejala diperhitungkan
Tidak kritis;
Penyuluhan atau sosialisasi
Assesment bahaya
Cek sarana
Piket terbatas
Mendata ternak, mencari/lobi untuk pengungsian ternak, pencairan tabungan siaga bencana, perondaan Merapi, persiapan kemungkinan evakuasi, Koordinasi tim Siaga
1. STATUS NORMAL
Level aktivitas dasar / atau paling rendah), tidak ada /  gejala aktivitas tekanan magma
Tidak ada bahaya;
Monitoring rutin
Survey dan penyelidikan
Pelatihan, Gladi lapang, penataan ekonomi, menabung, membenahi infrastruktur

Sumber info: JALIN Merapi.

Sumber gambar: Tube Radio Land.


Tuesday, April 29, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 6:52:00 PM | No comments

Keluarin, Enggak, Keluarin, Nggak


"Keluarin, enggak. Keluarin, enggak. Akhirnya aku keluarkan juga. SIM C yang menyembul malu-malu di dompet. Bersama STNK, kusodorkan ke salah satu Polisi yang mengadakan razia kendaraan roda dua di ring-road selatan arah Sewon, Bantul siang tadi.

"Mbak Adriani?"
"Ya."
"Ini SIM-nya berakhir 2011. Silahkan minggir dahulu."
"Minggir? Ke mana?"

Tangannya diarahkan ke sebuah lahan kosong. Ada belasan sepeda motor dan pemiliknya yang parkir di sana. Ada sekitar lima Polisi lain  yang sedang sibuk menginteregosi dan mencatat nota di kap mobil patroli. Aku mendekat, memarkir motor, turun, menunggu giliran.

"Mana STNK-nya?"
"Itu diambil..." tunjukku ke arah jalan, tempat aku dicegat oleh satu dari sekitar lima polisi yang memberhentikan para pengendara motor.
"SIM-nya?"
"Diambil dua-duanya, Pak."
"Lho, yang diambil SIM, bukan KTP?"
"SIM dan STNK," jawabku agak kesal. Pertanyaan kok diulang-ulang.
"Mbak motornya yang mana?"
"Itu," tunjukku pada motor yang diparkir di belakang tempatku berdiri.
"Berapa nomornya?"

Aku mendekat ke plat motor, gak hafal. Namanya juga motor pinjaman. Satu polisi lain meneriakkan nomornya ke Polisi yang memegang setumpuk surat kendaraan.

"STNK-nya yang mana ya?" ulangnya lagi. Kudiamkan saja. Tak lama salah satu petugas tidak berseragam mendatangi kami, memberi setumpuk STNK lain.

"Mbak Adriani. Sudah tahu kesalahannya?"
"SIM-nya mati."
"Jadi bagaimana ini, mau diurus sekarang?"
"Urusnya gimana, Pak?"
"Langsung di sini bisa."
"Gimana Pak?"
"Kami beri surat tilang."
"Oh gitu. Jadi gini Pak, dua bulan lalu saya ke Kantor Polisi yang di Kotagede itu Pak. Saya baru kehilangan dompet berisi surat-surat. Eh itu Kotagede apa Umbulharjo ya Pak?"
"Umbulharjo." *heran kok si Bapak langsung ngeh aja yang kumaksud*
"Polisinya bilang, SIM yang hilang mau dibuat baru di Yogya, apa cabut berkas ke Sumatra Barat. Saya bilang cabut berkas aja, karena SIM-nya baru bikin. SIM-ku memang keluaran Sumbar. Si Bapak juga memastikan itu dari SIM kadaluarsa ini.

"Jadi, saya punya surat tentang itu Pak. Tapi saya gak bawa sekarang."
"Bagaimana kami bisa percaya?"
"Ya itu Pak, saya bisa ambil nanti."
"Baik, silahkan diurus nanti."
"Ini sampai jam berapa, Pak?"
"Urus di kantor saja. Di perempatan ring-road sana,"sambil menunjuk.
"Di mana itu Pak?"
"Ring-road perempatan sini ini, ke selatan." Gantian Bapaknya yang bete.
"Kiri ya Pak?"
"Kanan."
"Kiri kalau dari utara Pak. Oke Pak, nanti setelah jam lima saya ke sana."
"Lama sekali, sekarang saja."
"Lho kan saya harus ambil surat keterangan hilangnya dulu, Pak."
"Ya, silahkan ambil sekarang, kami tunggu."
"Saya bisanya setelah jam lima Pak, kan harus ke kantor dulu."
"Kantornya di mana?"
"Sewon situ," tunjukku ke arah belokan yang kutuju.
"Harus jam lima?"
"Iya, Pak. Setalah jam lima."
Bapaknya diam.
"Yasudah Pak, nanti saya urus. Ini yang sekarang saya bawa yang mana?" tunjukku pada SIM dan STNK.
Si Bapak kasih SIM.

"Lho Pak, SIM-nya kan gak berlaku, kalau saya dirazia lagi bagaimana?"
"Makanya, mestinya pakai surat tilang," katanya sambil memasukkan lagi SIM-ku di dalam bungkus STNK.
"Tapi kan saya bisa menunjukkan surat kehilangannya Pak!"
"Tapi kan tidak dapat menunjukkannya saat ini!"
"Yasudah... nanti kalau dirazia, saya bilang saja kalau SIM saya di Bapak, ya. Nama Bapak siapa? Sekalian saya minta nomor telepon biar mudah nanti menghubungi. Mungkin saya kemalaman baru ke kantor Bapak." Kurogoh tas, ambil pulpen.
"Tunggu sebentar..." sambil mengalihkan pandangan ke arah calon terdakwa lain di sekitarku.
"Hah?" tanyaku.
"Sebentar lagi," jawabnya. Kumasukkan pulpenku. Lalu duduk di terpal yang diatasnya berisi padi yang sedang dijemur. Ada orang lain di sebelahku.

Aku minum air dari botol di dalam tas. Pengen banget keluarkan hape untuk memotret. Tapi enggak deh, nanti masalah lagi. Akhirnya aku cuma melihat-lihat, bengong gak tau mau ngapain dan diapain :p

Dari jauh, si Bapak yang menginterogasiku tadi bilang: Sambil istirahat-istirahat dulu, Mbak. Aku mengangguk saja. Dia sibuk 'menyisir' tersangka lain.

"Mbak Adriani, silahkan." katanya menyodori SIM dan STNK-ku.
"Sudah, Pak?"
"Ya, silahkan." katanya sambil membuka telapak tangannya ke arah motor (pinjaman)ku.
"Heh?" *dalam hati*
"Sudah Pak?" tanyaku lagi.
Si Bapak mengangguk.
"Trims, Pak." Tadinya mo nanya: Jadi saya nanti gak perlu ke kantor Bapak lagi? Tapi kurasa gak perlu sih, karena gak ada yang ditahan.

Saat berjalan menuju motor, Polisi lain bertanya, "Bagaimana. Mbak?"
"Sudah selesai dengan Bapak yang itu."
Dia cuma mengangguk dan sibuk lagi dengan catatan-catatannya.

Kunyalakan motor, sambil pamitan "Monggo, Pak!" ke si Bapak yang bikin bingung tadi. Apa yang di pikiran si Bapak ya? Hambuh, dab!

Gambar dari sini.


Mlekom,
AZ
 

Monday, April 28, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:40:00 PM | No comments

Penampakan Oke Punya


Sepagian disebul rokok dalam ruangan ber-AC oleh seorang pejabat Kabupaten Bantul. Siang hari, saatnya ngabur sebentar nyari makanan favorit. Susuri barat-timur sepanjang jalan di Desa Tembi, akhirnya nemu ini. 

Warungnya sangat mencolok, di ujung barat perempatan Imogiri lurusan jalur Rumah Budaya Tembi (nahlo, sulit banget kan ancer-ancernya). Cukup rame, mungkin sebab berada di ujung jalan. Aku menemukan sekitar empat warung mie ayam lain di jalur itu, tapi yang dua tutup, yang satu rame sama anak-anak sekolahan (bikin males). 

Ini tumben warung biasa, kuahnya dipisah. Ada pangsit goreng. Sumpitnya bersih (dari plastik, bukan kayu yang lapisan catnya sering bopeng-bopeng). Soal penampakan, oke punya lah! Rasanya? Biasa saja. Aku minum es campur yang rasanya juga gak kaya es campur. Harga mie-nya kalo gak salah 8.000.

Lumayan lah, hilang lapar.

Mlekom,
AZ

20140522

Sunday, April 27, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:13:00 AM | No comments

Geliat Bakat Setelah 21 Tahun Terpendam



Ada yang bilang, seni itu tergantung bakat, bawaan lahir. Ada pula yang meyakini bahwa seni itu dapat dipelajari. Tak ada yang salah, tiap seniman mengalami proses berbeda. Kedua hal itu dialami Sinta Carolina (41) dalam perjalanan berkeseniannya.

Kemampuan Sinta dalam berkesenian baru menggeliat di usia yang tak lagi muda. Ia kini menjadi salah satu perupa paling produktif di Yogyakarta. Sinta mulai menggambar di usia SD, dengan coretan berbentuk buah-buahan. Gambar lain dibuat sebagai tugas pelajaran seni rupa di SMP hingga SMA, juga untuk majalah dinding sekolah. Lepas itu, ia tak lagi mencorat-coret.

Medio 2005, sarjana Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini justru menekuni dunia fotografi. "Awalnya hanya ikut-ikutan teman, lama-lama serius dan ikut kelas fotografi," katanya. Tahun 2011 ia bergabung dengan Kelas Pagi Yogyakarta (KPY), sebuah komunitas belajar fotografi rintisan Anton Ismael.

Dalam memotret, ia mengkhususkan diri pada makanan. "Orang bilang, aliran ini tidak mudah. Jadi kalau sudah bisa memotret makanan, memotret yang lain pasti bisa," jelasnya. "Lagi pula saya suka makan," lanjutnya. Sejak itu, Sinta menjadi fotografer lepas khusus kuliner di sela-sela pekerjaan rutinnya. Ia juga terdorong untuk menuliskan hobi icip-icipnya ke dalam blog, hingga muncul http://sintacarolina.blogspot.com/ di tahun 2011.
Diawali dengan ketertarikannya pada sketsa di majalah kuliner, sinta coba mecorat-coret lagi pada April 2013. "Saat selesai gambar pertama, suami saya bilang; lha itu gambarnya bagus kok! Akhirnya jadi pede dan terus menggambar." Istri dari  Pulung Fadjar Febrieka ini mencari referensi gambar di majalah dan internet. 

Dibanding masakan nusantara, Sinta lebih banyak menggambar makanan internasional. Menurutnya, menggambar detil makanan Indonesia sangatlah sulit, sebab biasanya platting tidak diatur dengan rapi--seperti soto dan gado-gado. Beda sekali dengan sushi dan burger, misalnya. Meski demikian, sudah ada sejumlah menu tradisional yang diabadikannya. "Masih belajar menggambar kuliner lokal, ini salah satu cara saya untuk melestarikan warisan pusaka kita."

Seiring waktu, Sinta tak hanya menggambar makanan, namun juga tumbuhan, hewan, dan benda keseharian semacam kamera dan alat dapur. Ia memilih doodle, metode gambar yang belum banyak dilirik perupa tanah air. [Baca "Doodling SiTukangJahit"] Hasil coretannya diunggah ke Facebook dan Instagram. Hal ini mengundang ketertarikan orang yang melihat, banyak yang ingin mengoleksi karyanya. Selanjutnya Sinta mencetak gambarnya dalam pernak-pernik seperti notes, pin, tas, kaos dan bantal. Produk ini dilabeli Bulbul, diambil dari nama burung bersuara merdu dalam kisah dongeng kesukaannya. 

Belum genap setahun sejak ia kembali menggambar, Independent Art-space & Management (I AM), sebuah galeri seni di Yogyakarta, mengajak Sinta untuk memajang karyanya. Jadilah Sinta memulai debut profesionalnya di dunia seni grafis, dalam pameran tunggal bertajuk "Menulis di Titik Nol". Tema ini mungkin dapat diartikan sebagai perjalanan barunya sebagai perupa, setelah 21 tahun vakum menggambar. 

Dalam pameran yang berlangsung 11 April hingga 3 Mei 2014 ini, Sinta menampilkan karyanya dalam beragam media. Jika selama ini ia menggambar pada media kertas HVS dalam buku gambar, kali ini Sinta juga menggores di kanvas bahkan tembok. Mural di tembok-tombok tersebut menjadi sudut yang paling banyak dibidik pengunjung untuk berfoto ria.

Baru kembali menggambar, langsung ditodong untuk berpameran tunggal. Meski awalnya tak yakin apakah ia mampu, Sinta menerima tawaran tersebut sebagai tantangan. Bagi banyak kalangan, perjalananya di dunia baru ini terasa begitu pesat. "Waks, masak sih? Mungkin karena saya coba tampil beda. Memilih yang tidak banyak dipilih orang, jadi terasa spesifik lalu seolah stand out among the crowd," katanya. 

Sinta belum merasa menjadi seniman. "Menurut saya, seniman itu bekerja penuh sebagai pekerja seni, sedangkan saya tidak," kata Staf Administrasi di Center for Heritage Conservation (CHC) Jurusan Arsitektur UGM ini. Ia pun membebaskan publik untuk menyebutnya sebagai apa. "Fotografer OK, tukang gambar OK, food blogger juga boleh; atau ketiganya juga nggak apa-apa."

Yang pasti, seorang seniman baru telah lahir. Perempuan berbakat yang terus belajar. Selamat datang di titik nol perjalanan baru, Sinta Carolina! 

Mlekom,
AZ


Friday, April 25, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:44:00 PM | No comments

Terenak di Yogya



Tadinya sudah makan malam bareng rombongan sirkus Tukang Makan. Pas otw pulang, Priyo lihat warung bakso emperan yang selalu rame. Selama ini klo mo mampir, males sendiri, katanya. Akhirnya mampir. 

Duh, gak nyesel deh. Ini mie ayam terenak di Yogya. Versiku, tentu! Warung bakso malang ini terletak di dekat rel kereta api di dekat UIN Yogya. 

Mlekom,
AZ

20140522

Wednesday, April 23, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:42:00 PM | No comments

Kalkun



Cap: Kalkun
GDP: 508652
Depkes RI PIRT No.: 11337101013
Isi bersih: 600 ml
Perusahaan: Sriwijaya 5, Magelang


Gambar diambil di sebuah warung bakso di pertigaan dekat Kantor Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah.

Mlekom,
AZ

20140512

Tuesday, April 22, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:16:00 PM | No comments

Hot Day, Hot Discussion, Hot Map to be Done

It was a sunny Sunday (06/04) at Rempah Rumah Karya, a design gallery not far from Surakarta, Central Java. Eventough the weather was so hot, the fervor of dozens student from Architecture and Planning Department of Universitas Sebelas Maret (UNS) and Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) are undiminished. 

They are members of "Greenmap of Wonderful Simo", a bamboo mapping project in Simo. This is a part of Surakarta Bamboo Biennale 2014, an annual event of the city. This project is going to discover bamboo potencies in Surakarta and surroundings.

Kusumaningdyah Nurul Handayani, lecturer of UNS who is also a map-maker of Solo Greenmap, is the one who initiated this bamboo mapping program. She invites some students to contribute. Since then, all the members will spend their every weekends on this project, until the next five months.


Simo is a district in Boyolali Region in Central Java Province, Indonesia. There are a lot of bamboo tree in the village, as the reason why most of the villagers make bamboo craft as livelihood. Many handicrafts in the market come from this village, especially the everyday-needs-products like various kind of basket, container, tray, bird cage, and many more. Unfortunately, Simo village as the place where they was produced is not widely known by public. 

Field survey in last March was marked as the start of this project. They collected every information related to bamboo in Simo Village. Raw material of this survey then become the idea of the Greenmap workshop. The workshop called "Map Making: Greenmap Method for Bamboo Mapping". This is the day when the students learned how to process the field data into mapping.

This process is assisted by Elanto Wijoyono, map-maker from Yogyakarta Greenmap. He helps the students to classify the data into visual image, to make it easy to understand. They tried to catch up pictures through photos and maps. Simply put, they then draw maps with hand-drawing. One stage in the map making has been done.

Map reading continued the process. Each group, which divided by region where they took the field data, presented their map. They put the Greenmap icons, as the method of this mapping. Discussion runs hot, equaling the weather that afternoon.

There will be a hot map to be done. Can't wait for the final result this September!

Adriani Zulivan

The workshop.
Explanation about Greenmap method.
Example of Greenmap from various countries.
Group presentations.
See more picture here.

Tuesday, April 15, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:22:00 PM | No comments

Jelajah Percandian Bukit Boko


postertrail1

Dataran tinggi Ratu Boko dulu bernama Walaing. Penelitian meyakini bahwa kawasan ini berkaitan dengan dinasti Sailendra Buddhis. Tahun 855 Masehi berlangsung pertempuran terakhir dalam dinasti Sailendra. Pertempuran yang dimenangkan seorang penguasa Saiva Jawa dari utara ini, menyingkirkan Sailendra. Saiva lalu membangun beberapa kuil dan istana di Bukit Boko. Kawasan ini kemudian menjadi kota besar, tempat di mana ibukota negara berada. Pada paruh pertama abad ke-10 terjadi bencana letusan gunungapi dan wabah penyakit, sehingga kraton dipindahkan ke Jawa Timur. [1]

Di masa sekarang, publik lebih mengenal Dataran Prambanan dibanding Perbukitan Boko. Selain jejak peninggalannya yang tak lagi seutuh Prambanan, situs Ratu Boko belum ditetapkan sebagai World Heritage Site. Yang membuat situs Boko istimewa adalah keberadaannya di masa lalu sebagai ibukota negara. Sebagai kota besar, ia memiliki berbagai komponen pembentuk kota, seperti pusat pemerintahan, pemukiman penduduk, dan tempat peribadatan.

Selain kompleks utama yang diduga sebagai istana Ratu Boko, di bukit ini terdapat pula berbagai situs percandian, seperti Candi Ijo, Banyunibo dan Barong. Ketiganya memiliki sejarah unik tersendiri. Untuk itu, tim Indonesian Heritage Trail akan mengadakan Jelajah Percandian Bukit Boko yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 19 April 2014. Ini sekaligus sebagai peringatan International Day for Monuments and Sites. Peserta diharapkan berkumpul pada pukul 07.00 di Pasar Prambanan (seberang Kompleks Candi Prambanan), dengan agenda sebagai berikut:
  • 07.00-07.30 sarapan di Pasar Prambanan
  • 08.30-10.00 jelajah Candi Ijo
  • 10.00-12.00 jelajah Candi Banyunibo
  • 12.00-13.30 ishoma
  • 13.30-16.00 jelajah Istana Boko
  • 16.00-17.00 sunset di Candi Barong
Agenda ini diadakan secara gratis dan terbuka untuk umum segala usia. Peserta membayar sendiri konsumsi dan tiket masuk candi (kecuali Istana Ratu Boko yang HTM-nya Rp 35.000,- an, ketiga candi lain seharga Rp 3.000,-). Jelajah dilakukan dengan mengendarai sepeda motor. Ibadah shalat dilaksanakan di masjid terdekat. Makan siang di warung terdekat (akan ditentukan kemudian).

Update (17/04):
  • Berhubung peminat agenda ini cukup banyak, panitia memutuskan untuk memberlakukan sistem pendaftaran. Ini untuk memudahkan pengajuan potongan HTM kompleks Ratu Boko (harga rombongan), demi memotong bea perjalanan. Silahkan mengirim SMS ke nomor 081226799570 untuk konfirmasi kehadiran.
  • Sebab agenda ini mengundang publik luas yang mungkin tak saling mengenal, ada baiknya menggunakan dresscode tertentu untuk memudahkan peserta yang terlambat (menyusul usai agenda pribadi lainnya). Panitia menyarankan menggunakan pakaian berwarna biru. Tentu ini bukan kewajiban.
Untuk pertanyaan, dapat menghubungi email idheritagetrail@gmail.com atau Twitter @PantauPusaka. Sila undang sanak saudara di sini.

Keterangan:
Sumber: Indonesian Heritage Trail

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata