Monday, June 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:14:00 PM | No comments

Dimulai dari Antimo, Mencipta Dapur di Solo


Keseruan perjalanan akhir pekan (7-8/06) kemarin, dimulai dari Antimo. Iya kamu, eh Antimo, obat anti mabok itu. Antimo lah yang membuat Palek akhirnya berani ikut perjalanan ini. Setelah Padhe absen, masa Palek kudu gak ikut juga. Formasi menjadi cukup lengkap dengan bergabungnya Cakpii dari Gresik. Gambar ini diambil dari kamera Dikprij, dengan susunan formasi sbb: Palek, Dikprij, Bulek, aku, Panca (di belakang, ketutupan), Tante, dan Cakpii.

Kami sepakat berangkat dari Stasiun Lempuyangan. Aku tiba jam 08.30. Ceritanya mau naik kereta yang setengah jam lebih cepat dari teman-teman lain, agar bisa mampir ke rumah Paman di Solo. Ternyata jadwal yang kami pedomani salah, keretaku baru saja berangkat beberapa saat sebelum aku menghadap loket.


Keduanya obat anti mabok. Kusiapkan untuk Palek.
Akhirnya kuputuskan berangkat bareng. Kami naik kereta pukul 13.00, wah mati kutu deh nunggu di stasiun. Sebenarnya ada dua kereta lain diantara jadwal itu, tapi tempat duduk penumpangnya saling berhadapan ke samping. Ini bisa bikin Palek mual. 
Lempuyangan
Eh, Priyo clingukan nyariin kita.
Sejam kemudian teman-teman datang. Kereta AC yang tadinya berangkat jam 10.11 telat masuk Yogya. Mungkin memang rezeki, sehingga kami hanya menunggu setengah jam untuk berangkat.

Rp 15.000
AC rumah :)
Keretanya bernama Sidomukti. Satu-satunya kereta jurusan Yogya-Solo yang belum pernah kunaiki. Sedikit kecewa ketika melihat penampakannya. Tidak sebening Manja atau Sriwedari. Ini seperti kereta bisnis antar kota jarak jauh. Nilai plusnya: Ada colokan. Yang terpenting, bangku penumpang bisa diubah jadi hadap depan atau belakang, sehingga Palek aman.

Aku duduk sendirian, penumpang memang sepi. Seperti biasa, pemandangan dari jendela kereta menyenangkan. Selain buku, kejadian di luar kaca sangat asik. Sayang, dingin ruangan tidak maksimal, sampai kipas-kipas meski kursiku tepat di bawah AC.
Lagi menikmati kesendirian, tetiba ada himbauan: "Mohon maaf Bapak-Ibu, mohon bangun sebentar keluarkan tiketnya." Suara seseorang berseragam TNI. Diikuti dengan seseorang berseragam PT KAI yang sibuk memotret seorang ibu yang juga berseragam sama, serta pak Masinis. Di ujung gerbong berdiri mbak Polwan cantik. Sepertinya ibu ini pejabat yang sedang sidak. Biasanya tidak seheboh itu.


Akhirnya kami tiba di Stasiun Purwosari. Tante yang domisili Solo, menjemput kami dengan mobilnya yang imut. Maka formasi di jalan: dua di depan, empat di belakang. Nanti sore ketambahan Cakpii. Perlu atur strategi naik sedan berdelapan!


Tujuan pertama sarapan menu khas: Selad Solo. Lalu ke Pasar Triwindu. Wah, Palek dan Bulek seneng banget. Mereka adalah pasutri yang sangat tergila-gila dengan barang vintage.
Cecewek pada mborong kebaya kutubaru.
Lalu ke rumah Tante, istirahat sambil nunggu Cakpii datang. Jelang magrib yang ditunggu nongol juga di terminal. Bus yang ditumpangi kena macet. Mau naik kereta, kehabisan tiket.
Suasana presentasi & aku yang mencoba selfie.
Kami makan malam di sekitar kompleks rumah Tante. Dapat soto Semarang yang enak. Lalu nyusul si Tante ke Jackstar di kawasan Slamet Riyadi (pakai muter-muter karena buta arah). Tante dan tiga mahasiswanya sedang persipan presentasi. Mereka masuk lima besar sayembara, Senin akan presentasi di hadapan Sultan Yogya. Tante pengen kami ada di sana untuk menanggapi presentasi mereka. 
Jadilah kami di sana, hingga tengah malam. Sempat was-was sebab ATM dan uang tunai Dekprij tertelan mesin BCA. Dekprij tinggal punya uang 100 ribu di kantongnya. Duh! Sambil menunggu urusan ATM, kami duduk di depan Jackstar.

Sekitar pukul 13.00 kami pulang, sementara Tante masih sibuk dengan ketiga mahasiswanya. Teman-teman pada kelaparan. Kehidupan malam di Solo tidak sesemarak Yogya. Nyari makanan tidak mudah, kami sempat muter-muter ("Plisde, masa makan Mekdi", kata Dikprij) Akhirnya mundur beberapa meter ketika melihat warung ini. 

Kabuli yang oke banget!
Meski warung tenda, nasi kebuli (mereka menyebutnya kabuli) di sini enak banget. Karena masih kenyang, aku minta dibungkus. Eh sampai rumah langsung dimakan karena udah ngantuk banget. Btw, aku gak tau ini di daerah mana. Padahal pengen nyicip lagi kalo ke Solo.

Selamat tidur! Zzzz.... zzz... zz..

Selamat pagi! Hoahm...

Para gadis yang bersolek.

Para jejaka yang bermalasan.
Agenda inti di pagi ini adalah... memangkas dahan pohon cermai (orang Yogya nyebutnya talok). Yak, tamu Gresik mendapat kehormatan untuk melakukan ini. Sembari menunggu, yang lain pada.... cuci mobil. Hahahaha! Itu saun dan buah cermai betah menghuni permukaan mobil. Aku? Makan sereal sambil baca, ditemani Panca yang nonton gosip artis :)
Agenda utama

Yang hanya menonton, dari kamera Dekprij.
Akhirnya, kloter pertama berangkat. Ceritanya mau sarapan ke Pasar Gede. Dikprij kembali untuk aku dan Panca. Kloter I sudah mampir pasar dan membeli cabuk rambak, kangkung rebus berkuah rujak. Kami mampir ke klenteng di sudut pasar, lalu makan asik di warung timlo.

Di klenteng, milik Cakpii.
Warung Timlo Sastro.
Ini pertama kali aku ke Pasar Gede. Sangat menarik, sampai berpikir "ke mana saja aku selama ini?". Paling menarik ada toko barang pecah-belah dari Semarang. Yaampun, besok-besok kudu mampir lagi!

Selain sarapan, agenda di pasar ini adalah menciptakan sebuah ruang bernama dapur untuk Tante. Heh? Ruangannya sih sudah ada, tapi kok nggak kaya dapur. Minus kompor--barang yang menjadi penanda utama sebuah ruang memasak. Hahaha.


Gambar atas: Tante dan mainan masak-masakan yang lebih kumplit ketimbang dapurnya :) dan Tante bersama Cakpii yang mencari ceret dan gelas untuk membuat kopi. Gambar bawah: kaki Bulek dan kakiku di becak, dan  becak yang ditumpangi Palek dan Panca di depan kami.

Kloter pertama--dalam formasi berbeda dengan sebelumnya--pulang untuk mewujudkan dapur. Aku berada dalam formasi yang meluncur ke Pasar Triwindu, lagi. Kami masih mencari 'titipan' yang kemarin gagal kami peroleh. Lalu pulang dengan taksi, agar tak merepotkan kloter satu yang sedang mencipta dapur.

Sampai di rumah, Tante sudah pergi, dijemput mahasiswanya yang lain untuk melayat. Proses penciptaan dapur berhasil. Percobaan pertama masak air panas untuk kopi, lalu mi instan. Itu menjadi menu makan siang kami. Hahahaha!
Mi rebus dengan cabuk rambak dan crackers.
Sore hari Tante pulang. Matanya berbinar waktu bilang: Yaampun, aku punya kompor! Tante lalu keluar lagi bersama kloter pertama edisi II. Selain melihat jadwal kereta, juga mampir ke Laweyan untuk jelajah singkat. Aku lanjutkan membaca sambil ngadem di kamar. Solo seharian itu gerah buangat!

Meski sudah ada kompor, malam ini kami masih makan di warung soto. Tapi Tante janji, kunjungan selanjutnya akan buatkan Soto Betawi andalannya waktu kuliah di Jepang.

Atas: menuju warung. Bawah: menuju stasiun.
Menuju Stasiun Purwosari. Tante dan Panca nebeng mobil mahasiswanya Tante (mereka akan membahas presentasi lagi, padahal subuh harus berangkat ke Yogya!). Akhir perjalanan ini adalah sesi foto keluarga (gambar paling atas).
Adegan AADC: Tante antar kami sampai masuk.


Sampai lupa rencana agenda kami ke Solo. Tentu bukan mencipta dapur. Tadinya kami akan melihat pameran Benteng Nusantara di Vastenberg dan menyaksikan karnaval bambu. Meski semua terlewat, kami senang bisa bersama lagi. Apalagi Cakpii memutuskan untuk ikut kami ke Yogya.
1,5 jam menunggu kereta.
Segala gaya.
Di jalan aku hanya membaca, akhirnya buku tipis yang kupinjam dari perpustakaan kandas juga. Kereta terlambat setengah jam. Kami tiba kembali di Lempuyangan pukul 11.17. Aku sudah dijemput. Kami berjanji akan melihat pameran ArtJog keesokan harinya, dan menghadiri presentasi Tante lusa.

Senin, hari ini, masing-masing kami langsung disibukkan kegiatan rutin. Aku sempatkan menulis, mumpung masih ingat. Sekarang, mari tidur!

Mlekom,
AZ

Sunday, June 8, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:45:00 PM | No comments

Saga no Gabai Bachan

Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)Saga no Gabai Bachan by Yoshichi Shimada
My rating: 4 of 5 stars

Terjemahan yang baik. Dituturkan oleh orang pertama tunggal, dengan pikiran sesuai jamannya. Gak nyangka ceritanya bagus banget. Mungkin karena dialami sendiri oleh penulis. Jadi ingin berburu buku-buku tulisan Shimida yang lain. Trims, ini keren banget!

View all my reviews

Monday, June 2, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 12:26:00 AM | No comments

Rukun Lima di Pusat Kota

Sebagaimana kota-kota lain di Pulau Jawa, Magelang menandai pusat kotanya lewat keberadaan alun-alun. Uniknya, alun-alun kota ini memiliki tak hanya satu tempat peribadatan--yang biasanya berupa masjid. Secara berdampingan, ada beragam keyakinan yang beribadah di satu kawasan sama. Diurut berdasar tahun berdiri, inilah bukti kerukunan lima umat di pusat Kota Magelang.

1. Masjid Agung. Awalnya hanya berupa langgar kecil (1650), lalu dibangun lebih besar pada 1810. Di masa penjajahan Belanda, bangunan yang terletak di sayap barat alun-alun ini menjadi tempat persinggahan pejuang kemerdekaan.


2. Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GBIP). Merupakan satu dari tujuh wilayah yang dibangun serentak di berbagai kota di Indonesia, pada 1817. Gereja yang dulunya bernama "De Protestantse Kerk in Westelijk Indonesie" ini terletak di sayap utara alun-alun.




3. Klenteng Liong Hok Bio. Perang Jawa (1825) pimpinan Pangeran Diponegoro turut melibatkan warga Tionghoa. Sebagai pejuang perang, mereka hidup berpindah-pindah. Magelang merupakan salah satu tempat persinggahan, sehingga dibangunlah klenteng Budha ajaran Tridharma (Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme). Klenteng yang dibangun tahun 1864 ini terletak di sisi selatan.


4. Gereja Santo Ignatius. Terletak di sebelah barat GPIB, gereja Katolik ini dibangun tahun 1899. Sejak 1933 telah menyelenggarakan kotbah mingguan berbahasa Jawa. Gereja ini turut mengalami keganasan pendudukan Jepang, dengan penangkapan pastur-pastur berkebangsaan Belanda.



5. Uniknya, Liong Hok Bio yang merupakan tempat peribadatan Budha ajaran Tridharma, menjadi titik mula upacara Pindapata. Pindapata merupakan rangkaian prosesi Waisak ajaran Budha Mahayana, sebelum biksu berdoa di Candi Borobudur. Borobudur yang berjarak sekitar 20 kilometer dari alun-alun ini, menjadi pusat perayaan Waisak nusantara sejak 1953.
Belajar kerukunan beragama tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Lihatlah warga Magelang, yang damai menjalaninya sejak ratusan tahun yang lalu. Hingga kini, alun-alun Magelang menjadi arena berbaur antar-umat yang beribadah dengan lima cara berbeda.

Mlekom,
AZ

Saturday, May 31, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:28:00 PM | No comments

Komunitas yang Bergerak



Aku selalu senang melihat komunitas pusaka yang bergerak aktif. Meski mereka bukan organisasi besar. Meski agenda mereka sedehana. Salah satunya adalah komunitas Kotagede Heritage Library.

Seharian tadi agendaku padat, namun demi memberi dukungan pada mereka yang telah bergiat dan mau mengundangku secara khusus, maka kusempatkan. Malam ini adalah agenda kedua program Bincang Akhir Pekan, temanya membuat film pendek.

Setelah makan malam di pasar Kotagede, kami langsung ke Pendopo Dalem Ngaliman, tempat penyelenggaraannya. Sesuai undangan, acara berlangsung pukul 18.30, ternyata belum ada yang datang. Kami pun nongkrong di Waung Jawi Dalem Sopingen, pesan wedangan.



Acara baru dimulai pukul 20.30 (!). Hahahaha, itu ketika perutku sudah gembung kebanyakan minum dan mata sudah sangat mengantuk. Kupaksakan tetap di sana, selain gak enak kalau langsung pulang ketika acara baru dimulai, juga pengen lihat presentasi pemateri.

Sayang, materinya sangat dasar, "apa yang dimaksud dengan video, video pendek", dst. Harapanku adalah materi semacam "mengapa perlu mendokumentasikan lingkungan sekitar, terutama Kotagede yang kaya peninggalan pusaka". Pemaparan malam ini juga lebih tepat disebut "bincang-bincang atau diskusi", bukan workshop seperti yang disebut dalam undangan :) 
Aku, yang cuma kelihatan hapenya :)
Bagaimanapun, ini langkah awal yang hebat. Membuat anak muda berkumpul (hadir perwakilan Karang Taruna dari masing-masing RT di Kotagede) untuk membicarakan kampungnya bukan hal mudah. Menurut panitia, agenda ini akan berlanju dengan pembuatan video hingga dapat ditonton khalayak.

Komunitas yang bergerak perlu selalu didukung. Nah, jadi nggak sabar nonton videonya kan?

22.00 aku pulang, setelah nggak kuat dengan asap rokok yang ngebul di mana-mana. Gambar terakhir milik panitia, bersama foto-foto lain di album ini.

Mlekom,
AZ
20140712

Wednesday, May 28, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 7:37:00 PM | No comments

Masjid Tua Sekitar Kraton Yogyakarta

Masjid menjadi simbol penting dalam kebudayaan Jawa. Konsep tata ruang kerajaan Jawa yang menganut "catur gatra tunggal", selalu menempatkan masjid sebagai satu dari empat wahana ruang yang menandai sebuah pemerintahan. 

Keempat ruang tersebut adalah Kraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai pusat kegiatan warga, masjid besar sebagai pusat ibadah, dan pasar besar sebagai pusat perekonomian. Konsep ini juga diadopsi Keraton Yogyakarta.

Sangat menarik melihat berbagai bangunan masjid tua yang terdapat di sekitar lingkungan kraton, tak hanya Masjid Gedhe. Tiap masjid memiliki sejarah khusus terhadap keberadaan Kraton Yogyakarta. Selain itu, masing-masing memiliki arsitektur yang unik dan sarat makna. 

Demi melihat berbagai keunikan tersebut, Indonesian Heritage Inventory (IHI) mengadakan agenda Jelajah Masjid di Lingkungan Kraton Yogyakarta, Selasa (27/05) kemarin. Adapun masjid yang dikunjungi adalah:


1. Soko Tunggal (1973)
Terletak di belakang gerbang utama pemandian kraton Tamansari, kawasan Jeron Beteng. Dinamai "soko tunggal" sesuai dengan artinya: disokong satu tiang. Masjid ini memang berdiri hanya pada satu tiang peyangga utama (saka guru), berbeda dengan bangunan Jawa lain yang biasanya disangga dengan minimal empat saka.

2. Margoyuwono Langenastran (1943)
Awalnya merupakan langgar kampung. Ketika semakin ramai, seorang pengusaha batik memperluasnya menjadi masjid. Saat Yogya menjadi ibukota RI, banyak pejabat negara yang shalat di sini. Masjid yang terletak di Jalan Langenastran Lor ini memiliki lengkungan berbentuk atap tumpang. Lantainya berupa tegel kembang. [Info lanjut di sini]

3. Selo (1709)
Masjid yang terletak di Sawojajar, Kampung Panembahan ini, dibangun bersamaan dengan istana air Tamansari. Bagian atap memiliki persamaan dengan Tamansari, yaitu adanya ukiran. Meski di jaman itu belum ada semen, tembok bangunan ini sangat kokoh. Air kelapa menjadi campuran pengganti air, yang mampu mengeraskan cor. Sebelum tahun 1962, bangunan ini tidak diperuntukkan sebagai masjid melainkan gudang penyimpanan keranda dan tombak. [Lebih lanjut di sini]


4. Condrokiranan
Masjid ini terletak di lingkungan ndalem Condrokiranan, yang kini menjadi Museum Sonobudoyo Unit II. Dulunya, ndalem ini merupakan tempat tinggal AKGP Aryo Mataram sebelum menjadi HB III. Sayangnya, fasad bangunan ini tak lagi menyisakan ciri bangunan asli, semua sudah dipugar. Tak ada tanggal pasti kapan masjid ini dibangun.

5. Rotowijayan (1832)
Posisinya tepat di depan gerbang utama pintu masuk wisata Kraton Yogyakarta. Masjid yang terletak di bagian barat keben kraton ini, juga dikenal dengan sebutan Masjid Keben.


6. Gedhe Kauman (1773)
Ini merupakan masjid besar yang menjadi salah satu unsur Catur Gatra Tunggal dalam tata kota kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini dikelola oleh warga kaum, penduduk yang tinggal di sekitar masjid. Berbagai ritual keagamaan kraton diselenggarakan di masjid ini.

.
Sebenarnya masih ada sejumlah masjid tua lain yang ada di lingkungan Kraton. Sayangnya kemarin kraton tutup sebab ada acara labuhan di Pantai Parangtritis, sehingga zona inti kraton hari itu tidak menerima wisatawan.

Mlekom,
AZ



Sunday, May 18, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:07:00 PM | No comments

ndadak ngGresik


Mendadak ke Gresik! Hari itu, kami punya dua agenda terjadwal, yaitu jelajah candi dan aksi reresik vandalisme di kawasan Tugu. Jadilah kami bareng terus, pagi sampai malam. Eh, ternyata kami ditakdirkan bareng lebih lama lagi, sampai tengah malam, sampai lusa kemudian. Asik!

Aku sudah tidur yang banyak, sudah nggak ngantuk lagi (setelah dua malam terjaga di atas mobil). Sudah pengen nulis di sini. Catatan seru untuk agenda dadakan ini. Sayang, setengah dari foto yang kujepret dengan hape... hilang :( Jadi, beberapa jam yang tertampil hanya mengira-ngira.


15 Mei

Pagi
Jelajah candi-candi di Sleman utara. Dengan agenda sarapan, kami habiskan lima jam di Candi Gebang, Morangan, Tempat Penyimpanan Arca Turi, dan Candi Kimpulan. Itupun melewatkan Candi Palgading, sebab harus ikut agenda selanjutnya di pusat kota Yogya. Kami juga melewatkan makan siang, meski sempat ngemil salak yang kami beli di Turi!



Sore

Langsung ke kawasan Tugu Yogyakarta. Melihat aksi komunitas Warga Berdaya yang melakukan pengecatan Modiste Pini yang dicorat-coret oleh entah siapa. Sempat ngabur ke warung mie ayam utnuk ngisi perut.

Magrib

Kembali ke Tugu. Aksi hampir selesai, proses pembersihan dilanjutkan dengan pengecatan. Sekitar Isya, aku dan DikPrij pulang. Kami penasaran, apakah Bakmi Kotabaru malam ini buka, setelah sekian lama tutup. Maka berbeloklah ke sana, eh buka. Kami memesan dua porsi untuk dibungkus, sebab sudah terlalu kenyang. 

Tak lama, kami dapat kabar bahwa ibunda dari Cakpii meninggal dunia. Lalu kami menghubungi Padhe yang masih di Tugu, serta Bulek dan Palek untuk gabung ke sini. Via grup WA, Tante yang tinggal di Solo mengusulkan untuk berangkat malam ini juga. Kami pun mengatur keberangkatan.


Sayang Bulek gak bisa ikut, sebab Palik tidak enak badan. Wajar saja, kami keliling seharian, hahaha. Yawes, kami minta doa saja agar sehat sampai tujuan.



Gambar milik Dikprij.
22.00
Berangkat dari Yogya. Berbekal selimut dan bantal, siap mampir ke rumah Tante. Uh, di detik akhir, Tante batalin keberangkatan. Tapi kami kekeuh mampir, ngajak makan bareng. Perjalanan Yogya-Solo disupiri Priyo.

23.30

Tiba di Solo. Tante sudah bersiap di gebrang kompleks, langsung capsus ke Gudeg Ceker. Tante akhirnya berhasil dibujuk untuk ikut ke Gresik. Dia pun menjadwal-ulang agendanya besok. Kami mampir ke Hotel Sultan, menitipkan mobil Tante di parkiran. Biar aman tak ditinggal sendiri di rumah. Perjalanan disopiri Padhe.



16 Mei

04. 50
Perhentian pertama. Shalat di salah satu masjid yang terlihat megah fasadnya, kotor toiletnya. Duh! Dan takmirnya menjadi jukir di halaman masjid ini. Welah! Kami singgah di sini sekitar sejam, recharge energy. Lalu berangkat lagi, gantian DikPrij yang nyopiri lagi.



09.49

Tanda-tanda pertama yang menunjukkan Gresik sudah dekat, kami temukan di jam ini. Kemacetan luar biasa, minubus yang kami tumpangi serasa dipepet pasukan Autobots transfomers. Habisnya, yang dihadapi truk-truk dan trailer... :(



09.53

Akhirnya gerbang perbatasan Kota Surabaya-Gresik! 12 jam Yogya-Gresik, yay! Kami mampir ke pom bensin, bersih-bersih sedikit (di sini gak bisa mandi, duh!). Lalu cari makan di dekat pusat kota. Dan aku bertanya polos: Mba, apakah di sini bisa mandi?


10.35
Akhirnya kami putuskan untuk cari hotel, agar bisa mandi-mandi dan istirahat sebelum balik ke Yogya nanti. Gugling!





Foto milik Dikprij.


11.30
Eh, Cakpii nyusul ke warung ini. Padahal kita udah nanyain alamat rumah Cakpii ke Bulek (yang pernah ngirim barang ke rumahnya). Jadi nggak enak, padahal lagi persiapan menuju pemakaman.



12.10
Masuk hotel. Lalu putuskan tidak ikut upacara di pemakaman, sebab Cakpii dan keluarga pasti sibuk, gak enak jika mengganggu. Kita nyusul kira-kira setelah upacara. Maka kami istirahat, tertidur, sampai... 

13.23

Buru-buru bangun, mampir ke toko sembako untuk di bawa ke rumah tahlil. Tiba di pemakaman, Cakpii malah sudah mau pulang bersama kakak-kakaknya. Mau mampir ke makam, dianjurkan tidak usah, sebab makamnya jauh di dalam kompleks pemakaman tersebut. Akhirnya kami langsung ke rumah, bersama sebagian keluarga. Cakpii nyusul.



15.10

Cakpii nyampe rumah. Kami ngobrol ngalor-ngidul. Senang bisa lihat dia ketawa :) 






Tapi sebenernya Cakpii memang selalu ceria, sampai beberapa hari waktu uminya kritis kemarin. Kami yang tergabung dalam sebuah grup WA, sampai membuat grup baru berjudul "sementara", agar tidak merasa 'tidak enak' jika membicarakan banyak hal di luar urusan umi yang sedang sakit. Soalnya kami saat itu sedang mempersiapkan agenda jelajah candi. 

16.00
Kami pamit. Senang sekali disambut hangat oleh keluarga besar ini. Semoga bisa kembali lagi... Eeeh, ternyata Cakpii malah ikutan kita keliling kota. Yaampun, semoga bukan karena gak enak sama kita...



16.20
Mampir ke warung nasi krawu yang populer sekota ini. Uenaknya polll, tapiii warungnya kurang bersih, duh. Tapi tetap pengen kembali lagi, hahahaha...



17.20

Tiba kembali di rumah Cakpii saat adzan maghrib. Keluarga sedang persiapkan tahlilan. Kami langsung ke penginapan. Tidur. 

22.30

Sudah dibangunin Tante suruh siap-siap. Duh, beratnya mata.... Kami berangkat disopiri DikPrij. Tidak berhenti kecuali buang air dan shalat shubuh. Setelah matahari datang, semua terjaga. Mobil udah serasa kotak kaca bernama tipi yang nayangin stand-up comedy: lucuk!

17 Mei

07.00
Masuk Solo. Keliling UNS, kampusnya Tante. Agenda komedi terus berlanjut. Ditambah kegilaan empat-anak-dekil-belum-mandi-masuk-kampus. Lalu sarapan di warung Jawa dekat Stasiun Balapan.

07.30

Sampai rumah Tante, setelah sebelumnya ambil mobil di Sultan. Tadinya sih mau mandi-mandi, batal. Malah asik ngitungin duit bea perjalanan untuk dibagi bersama. 09.30 kami pamit. Dadaaagh, Tanteee... Sampai ketemu di WA :)

11.00

Nyampe Yogya. Mampir dulu ke dawet Bogem. Seger, dah!


12.00
Nginjak rumah. Mandi. Kasur mana kasur! Tidur sampe sore. Hehehehe.

18 Mei



Kalau tidak ndadak ngGresik, mungkin kami gak bareng-bareng ke luar kota lagi. Terakhir ngabur bareng dari Yogya waktu ke Lombok tahun lalu. Via WA siang ini, kami berencana untuk kembali ke Gresik, dalam formasi lengkap, untuk jelajah pusaka. Cakpii ngajak mampir ke Pulau Bawean. Sadaaaap! Jika tidak ada halangan, agendanya September. Waaa... pas sekali, kami bertemu di Lombok tahun lalu di bulan yang sama :)

Kami pun sepakat untuk menghapus grup "sementara", yang sudah tak diperlukan lagi. Cakpii sudah kembali seperti dulu :)


Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya, ya! :*


Mlekom,

AZ



Friday, May 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:02:00 PM | No comments

Janji Wiken


Sejak status Gunungapi Merapi naik menjadi waspada awal Mei ini, kayanya belum sempat banyak istirahat. Rapat sana-sini. Turun-naik gunung keliling desa-desa di lereng Merapi. Agendanya ketemu warga untuk mengingatkan tentang status baru gunung dan diskusi dengan orang-orang yang bersedia nyumbang keahliannya untuk bantu proses kesiapsiagaan warga menghadapi bencana.

Liburnya kapan hayooo? Belum ada liburan. Sabtu-minggu, malam subuh pun dipakai keliling atau ketemu orang atau menulis konsep ini-itu. Ini semoga pada gak cape sebelum masa krisis Merapi tiba, deh!

Dengan ritme seperti ini, aku pernah tanya: kapan ya bisa liburan? Mengingat cucian dan pasti setrikaan yang menggunung. Tumpukan kain yang sudah berteriak minta dijahit (hey, pesanan Imam!). Pesanan tulisan yang belum selesai karena kehilangan mood. Belum lagi berbagai urusan pribadi yang tertunda.

Manan janji kalau wiken ini pasti libur. Mendengar itu, aku segera bikin agenda. Maka, tiap saat kuingatkan terus-terusan untuk tidak melanggar janjinya, karena banyak agenda yang sudah menanti di Sabtu besok...
  1. Pagi: Daftar BPJS. Setelah pelajari segala kemudahan yang ditawarkan, kupikir ada baiknya untuk masuk BPJS. Bayarnya cuma 50rb-an per bulan, bisa dapat segala layanan di segala rumah sakit. Kurasa, ini akan jadi penghematan besar untuk terapi carpal tunnel syndrome -ku, yang sekali datang bayar 100-an ribu. Pas tanya teman-teman, katanya BPJS ini gak bagus dan banyak kuciwa. Tapi aku mo kekeuh ajalah dulu. Kita lihat bagaimana nanti.
  2. Pagi: Ke salah satu institusi di bilangan kota. Mau lihat kemungkinan untuk mewujudkan rencana akhir tahun. #opooo
  3. Siang: Tengok-tengok resto Sego Bambu yang katanya lagi disewakan. Ini untuk rencana yang lain. #oposihkowekie
  4. Sore: rapat (!!!) dengan orang dinas kota.
  5. Malam: Ketemuan sama Geng TukangMakan, sekaligus penutupan pamerannya Bulek Sinta.
Harapannya cuma satu: Janji wiken libur ini ditepati. Yaaa, itu juga kalau Merapi tidak tiba-tiba meletus lho ya...

Udah ah, pengen segera tidur agar segera menjadi wiken. Wiken. Week-end, maksudku. Sampai besok, ya!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata