Wednesday, March 25, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 10:33:00 PM | No comments

Daging Rendang yang Menipu

Dalam sebuah presentasi tentang kuliner Indonesia.

Aku: Laos itu bentuknya yang gimana? 
Nisa: Ituloh kalo makan rendang suka ketipu, dikira daging...
Aku: Oh iya! *langsung mudeng*

Suka bingung dengan laos yang aku lebih familiar dengan lengkuas. Ini seperti lada yang aku lebih familiar dengan merica.

Obrolan tentang daging rendang yang menipu ini, mungkin hanya lekas dipahami oleh manusia-manusia Sumatra. Manusia-manusia yang suka rebutan potongan rendang dari kuali Mamaknya, tiba-tiba kecewa dan jadi bahan ketawaan, jika potongan yang dikira daging itu, ternyata adalah lengkuas.

Gambar tempat bumbu, termausk laos (galangal) kering dari sini.

Mlekom,
AZ




Tuesday, March 24, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:45:00 PM | No comments

Mbak Jajan


Mbak Adri!

Perempuan paruh baya itu teriaki namaku. Kubalas teriakan sama, tentu dengan intonasi panjang. Mbak Jajaaaaaaan!

Mbak Jajan.

Semua mahasiswa UGM yang pernah menghuni Komunitas B-21 di kawasan Bulaksumur Yogya, pasti tahu siapa beliau. Akrab disapa Mbak Jajan, dari masa ke masa di tiap generasi yang silih berganti di B-21. Panggilan ini dihubungkan dengan kesehariannya sebagai penjual makanan kecil--yang oleh orang Yogya disebut jajanan.

B-21.

Ini adalah nama akrab bagi sebuah gubuk rumah reyot yang terletak di Kompleks Perumahan Dosen UGM, Jalan Kembang Merak Blok B-21 Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Rumah ini menjadi markas bagi dua media mahasiswa tingkat universitas, yaitu Balairung (biasa disebut BAL) dan Bulaksumur (BUL). Keduanya hidup damai berdampingan *bahasa ala pegiat multikultural* sejak puluhan tahun lalu *ala pegiat heritage*.

Bagiku, rumah ini pernah menjadi rumah kedua. Aktivitas terbesarku dihabiskan di sana. Di rumah ini, selain mendapat keluarga baru, juga mendapat banyak pengalaman jurnalistik, dan tentu *ahem* pacar.

Saking bahagianya berasyik masyuk di komunitas ini, banyak alumni yang merasakan magnet untuk kembali. Meski sekadar mampir untuk melongok kondisi rumah, melihat terbitasn edisi terbaru, atau makan siang di Mbak Jajan.

Mbak Jajan adalah satu dari tiga legenda B-21, selain Mas Faris (yang sempat kukenal) dan Mas Kelik (yang sangat akrab denganku, sering nemenin makan dan jadi kenek waktu belajar nyetir manual). Keduanya menjadi penghuni tetap B-21 sampai mereka mengenal banyak generasi. 

Sebelum aku menjadi penghuni tak tetap rumah itu, Mas Faris sudah tidak tinggal di sana lagi. Sedangkan Mas Kelik (teman-teman memanggilnya Bapak, sebab memang paling senior di sana) meningalkan B-21 tahun 2010, saat keluarganya yang tinggal di kaki Gunungapi Merapi ikut menjadi pengungsi.

Mbak Jajan adalah legenda yang bertahan. Mungkin boso jowone "the survival". Konon beliau sudah berdagang di sana sejak 1994, waktu aku SD. Usia Mbak Jajan kini 50an, ah aku lupa mencatat obrolan kami kemarin.

Iya, kemarin aku ke kampus untuk mengurusi sekolahan. Sengaja jam makan siang mampir ke B-21 untuk menyantap isi tenong beliau. Sebenarnya, tenong tidak hanya berisi makanan ringan, namun juga bungkusan seporsi nasi kucing. Mbak Jajan juga membawa beraneka ragam minuman. Esteh dan es kopimik adalah andalan di masaku.

Kemarin.

Usai sesi teriak tadi, Mbak Jajan menghampiriku dengan sebelah telapak tangan mengatup bibir, entah malu entah terharu. Lalu kami cipika cipiki. Sambil membuka tenongnya, ia cerita tentang alumi B-21 yang terkadang mampir. Sambil menata dagangannya di atas meja halaman B-21, aku tanyakan bagaimana kondisinya sekarang, apakah putra semata wayangnya sudah mendapat kerja, dan seterusnya.

"Mbak Adri kok inget aku?" matanya berair pas ngomong ini.

"Lha, Mbak Jajan kok inget saya?"

"Ya inget lah Mbak..."

"Ya sama lah Mbak..."

Dan kami pun berhahahihi. Beliau tanyakan apakah adikku sudah lulus kuliah. Ah, dia masih ingat si bandel yang sering mengantar-jemput aku ke B-21 itu! Tanpa sepengetahuannya, aku ambil gambar dan kirim ke grup WA alumni BUL. Mereka semua sampaikan rasa kangen, dan masing-masing menyebut pesanan favoritnya masa itu.

Mbak, esteh nasi kuning.

Es kopimik satu sama lumpia.

Es teh tawar satu!

Semua kubacakan di depan beliau. Matanya makin berkaca-kaca. Semua ketjubh basjah, peluk erat dan sebagainya juga kusampaikan. Beliau menyeka mata.

"Memangnya masih kenal aku, Mbak?"

"Ya masih lah, kalau nggak ngapain mereka nitip salam."

"Kemarin Mas Sam datang, dari jauh udah senyum-senyum. Aku lihat-lihat ke samping, dia senyum ke siapa. Ternyata dia ingat aku, Mbak!"

"Iya donk Mbak. Siapa anak B-21 yang nggak inget sama Mbak."

"Aku lupa namanya, tapi aku inget wajah Mas Sam. Mas Fernan juga."

"Ini ada salam juga dari Mbak Indah dan Mas Imam. Mbak lupa ya?" Simbak lupa, tapi ingat pas kutunjukkan foto.

Mbak Jajan mengaku tak lagi ingat banyak orang. Aku beruntung dia ingat aku, wajah dan nama (yaiyalah, penghuni kampus 11 tahun gituloh!). Beberapa teman lain yang disebutnya adalah Ipeh, Tami, Nadia, dan beberapa lainnya dari angkatan setelahku.

Ia mengingat masa kebersamaan kami *tsaaaah*. Baginya, diundang dalam nikahan Mas Zaki dan Hayu adalah momen terindah. Saat itu, meski Mbak Jajan dan Alm. suami memilih bermotor berdua dibanding naik mobil yang kami sewa, dia sangat senang.

"Waktu itu ada Mbak Tiwi juga, ya." Sebelum berangkat kondangan di Wonosari itu, kami semua ngumpul di B-21.

"Wah, Mbak Jajan masih kenal Tiwie!"

"Iya, yang mukanya cantik banget itu, pakai jilbab."

"Pas selesai kawinan Iwan - Tiwie kami ngumpul juga Mbak di sini."

"Mbak Tiwie paling lupa sama aku Mbak..."

"Lha, ini tadi yang pesen es kopimik sama nasi bungkus kan dia nih," kataku sambil scroll obrolan WA.

"Nikahannya aku nggak diundang, mungkin dia udah lupa sama aku..."

"..." speechless to the max, jadi saking menganggap kami keluarga, dia juga senang menghadiri pernikahan kami, anak-anak yang beliau sediakan makannya. 

Lalu kubuka obrolan lain tentang rumah B-21. Konon, rumah yang sudah reyot ini (memang sih, kata "reyot" di sini cukup lebay) akan dihancurkan, lalu kedua 'rumah tangga' penghuninya diminta pindah. Bagaimana jika B-21 sudah tidak diperuntukkan bagi kegiatan mahasiswa lagi? Siapa yang akan membeli tenong Mba Jajan?

Kami sempat berbincang dengan Vikra, Pemimpin Umum BUL. Saat ini, ia sedang membantu proses pengumpulan dana dari beragam pihak, termasuk alumni. Uang ini untuk merenovasi rumah tersebut, agar memiliki posisi tawar kuat di depan Rektorat. Agar duet BAL-BUL tetap dapat tinggal di sana.

Seperti biasa, Mbak Jajan nggak pernah suka difoto. Jangan heran jika di foto ini beliau seperti terpaksa. Sebab memang dipaksa :) Fotonya kuunggah di Facebook, hingga siang ini setidaknya ada 39 komen dan 94 likes yang kebanyakan menceritakan tentang kerinduannya pada sosok Mbak Jajan. Mbak Jajan yang tidak berubah, tetap muda. Mbak Jajan yang kini berkerudung. Mbak Jajan yang masih cantik.

Kami cuma berjumpa setengah jam. Akupun pamit saat memberi selembar 50 ribuan untuk membayar makananku yang habis Rp 8.000. Kubisikkan, gak usah dikembalikan, Mbak. Dengan sigap, dia 'kunci' tanganku dengan lengan kirinya, sementara tangan kanan menghitung kembalian.

"Nggak boleh gitu Mbak, aku kan udah kerja," katanya.

Berusaha sekuat apapun melepaskan diri dari lengan kecilnya, aku kalah. Rp 42.000 diletakkan di telapak tanganku. Saat pamit, ia tak henti merapal doa untuk kesuksesanku, dan terus mengucap terimakasih untuk oleh-oleh tak seberapa yang kubawa.

Mbak Jajan. Nama aslinya Juminten. Yang mengetahui namanya, kadang memanggilnya Mbak Jum. Suaminya yang berptofesi sebagai penjaja rokok yang keliling di Malioboro, meninggal dunia awal 2011 lalu. Pengurus BUL saat itu menjual kaos untuk mengumpulkan dana. Ya, Mbak Jajan berdagang dengan sepeda berkeranjang ini.



Mbak Jajan, mengutip kata Mas Hasan Bachtiar, sang pemadam kelaparan B-21. Sampai ketemu lagi, Mbak. Salam sayang dari kami semua yang pernah bertahan hidup karena tenongmu...

Mlekom,
AZ

Saturday, March 7, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 7:40:00 PM | No comments

Kualitas yang Menjaga Tradisi


Asap berpendar pekat di seluruh ruangan, menyisakan perih bagi mata telanjang yang terpapar kepulnya. Seperti terkena gas air mata, kata seorang teman yang semasa mahasiswa menjadi aktivis Reformasi 1998. Perih ini seakan tak dirasakan belasan pekerja di ruangan itu. Sudah biasa, kata mereka. Kepulan asap ini berasal dari pembakaran kayu untuk memasak.

Sabtu (6/02) itu, belasan pekerja di pabrik Dodol Ny Lauw berpeluh keringat. Ada yang mengantar dan membelah kayu bakar. Ada yang melucuti daging buah durian dari bijinya. Ada yang memarut kelapa dan memeras santan. Ada yang menuang adonan ke dalam cetakan. Ada pula yang mengaduk adonan di wajan raksasa. Aktivitas terakhir sepertinya yang paling menguras tenaga, sebab proses mengaduk satu adonan saja membutuhkan waktu 4-6 jam.

Di ruangan lain tampak puluhan pekerja yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dari proses menyiapkan alat dan bahan, memasak, mengeringkan, mengemas, mencuci cetakan, hingga menjual. Semua dilakukan di industri rumahan yang terletak di Kecamatan Neglasari Kabupaten Tangerang, Banten ini. 


Siti Lauw (Ouw Thio Nio) yang akrab disapa Nyonya Lauw, mulai berkecimpung di usaha ini tahun 1962 sebagai warisan mertua. Meski terkenal dengan nama Dodol Ny Lauw, pabriknya juga membuat kue keranjang (nian gao) dan kue bulan (hanzi) yang menjadi menu khas perayaan budaya Tionghoa. Dari skala kecil, usaha ini terus berkembang dan diminati hingga kini. Meski banyak peminat, Nyonya Lauw menilai pabriknya hanya sebagai usaha musiman. 


Kue bulan yang terus diproduksi.
Permintaan Dodol Ny Lauw hanya ramai di dua perayaan besar, yaitu Tahun Baru Imlek dan Lebaran Idul Fitri. Jelang dua hari besar tersebut, usahanya selalu kewalahan menerima pesanan, bahkan sering menolak permintaan yang datang sepekan sebelum perayaan. Dalam dua musim ini, keriuhan aktivitas produksi berlangsung selama hampir dua bulan. Lebih dari 100 tenaga kerja mampu terserap.

Sejak dulu, Nyonya Lauw mempekerjakan tetangga di lingkungan tempat tinggalnya. Jika kaum pria banyak ditempatkan di pekerjaan berat seperti mengaduk adonan, para ibu mengerjakan urusan bungkus-membungkus. Mereka bekerja 18 jam tiap harinya, dimulai pukul 07.00 pagi. “Lumayan, dapat hampir empat juta (rupiah),” kata Sri (54), salah satu juru masak.

Angka Rp 4 juta itu merupakan upah juru masak yang menyiapkan makanan bagi para pekerja. Selain makan berat tiga kali sehari, mereka juga membuat makanan ringan dan minuman teh dan kopi. Jumlah juru masak ini ada tiga orang. Mereka bekerja disana sejak muda. Orangtua mereka dulu juga merupakan pekerja musiman di sana.

Besar upah masing-masing pekerja berbeda, sesuai dengan beban pekerjaan yang dipikulnya. Jumlah ini merupakan hitungan per hari, dikalikan banyak hari kerja. Upah akan dibayar menyeluruh di akhir musim ramai. Pekerja yang tak pernah bolos dan tak pernah meminjam uang, akan mendapat upah penuh. “Empat juta itu kalau nggak ngebon, tapi biasanya pada minjam duit untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Nanti tinggal dipotong upah,” jelas Sri.

Para pekerja tak hanya orang tua, banyak anak muda ikut membantu di sana. Bagi mereka, jumlah upah yang dibayarkan sangat besar dibanding hanya berdiam di rumah tanpa pekerjaan. Di luar dua musim tersebut, mereka hanya menjadi pekerja serabutan. “Yang laki-laki jadi tukang (bangunan) atau ojek, perempuan ya di rumah aja,” lanjutnya. Meski di hari biasa pabrik ini tetap berproduksi, mereka tak semuanya ikut bekerja. Hal ini diakibatkan permintaan di hari biasa hanya dodol dan kue bulan dalam skala kecil, untuk dijual toko kue. 

Cetakan bambu yang kini tak lagi digunakan.
Cetakan plastik yang lebih awet.
Jika dahulu kue keranjang dimasak dengan cetakan berbentuk keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, kini keranjang-keranjang itu terbuat dari plastik. Proses pembakaran pun sudah menggunakan oven modern, meski masih memanfaatkan kayu sebagai bahan bakar. Meski demikian, para peminat kue keranjang meyakini bahwa tak ada perbedaan rasa dari perubahan berbagai alat produksi tersebut.

Soal rasa, Dodol Nyonya Liem selalu mengutamakan kualitas. Dodol produksi pabrik ini memiliki dua rasa, yaitu original dan durian. Durian yang digunakan bukan buah sembarangan, namun didatangkan langsung dari Sumatera Selatan yang terkenal dengan kenikmatannya. Tiap hari setidaknya datang dua truk berisi durian segar yang segera dikuliti para pekerja. Tiap mencapai satu masa kematangan tertentu, tiap adonan yang sedang diaduk harus ditunjukkan pada seorang pencicip. Ini semacam pengontrol kualitas, yang menentukan rasa dan tingkat kematangan.

Nyonya Lauw, kini berusia 82 tahun, tak lagi menjadi penggerak usaha ini. Di usianya yang kini memasuki 82 tahun, kondisinya tidak sekuat dahulu. Meski selalu didampingi kerabatnya, ia hanya bisa tersenyum jika diajak berbicara. Pabrik kini diurus oleh adik dan anaknya, dengan dua tempat produksi berbeda di lokasi yang sama. 

Tak banyak kisah usaha makanan tradisional yang masih bertahan digerus jaman. Dodol Ny Lauw adalah satu yang bertahan. Kualitas adalah kunci langgengnya. Dengan terus berproduksinya usaha ini, maka pusaka kuliner kita pun ikut terjaga.

Adriani Zulivan,
Pegiat Indonesian Heritage Inventory (IHI)

Wednesday, February 18, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 1:40:00 PM | No comments

MARI BERKONTRIBUSI | Kisah Imlek Nusantara


Indonesian Heritage Inventory - Pantau Pusaka Indonesia ingin mengumpulkan kisah Imlek Nusantara dari beragam penjuru negeri. Entah tentang makanan, rumah ibadah, perayaan khas, tokoh budaya, dan seterusnya yang terkait. Jika tertarik untuk berkontribusi, sila hubungi saya di adrianizulivan@gmail.com atau heritageinventoryid@gmail.com.

Kisah bisa berupa esai foto dan/atau tulisan, atau gambar grafis, komik, dst. Tak ada batasan karakter/space untuk tiap karya. Karya yang masuk diharapkan belum pernah dipublikasikan di media lain, kecuali blog personal. Karya tidak harus baru, bisa tulisan/foto lama yang masih relevan dengan waktu sekarang.

Seluruh karya akan dikompilasi dalam sebuah terbitan, bentuknya apa belum kami putuskan (kemungkinan besar berupa majalah). Terbitan akan dipublikasikan dan diedarkan secara gratis (ini alasan mengapa tiap karya yang masuk tidak mendapat imbalan), publik dapat mengunduh dengan bebas dan menyebarkannya secara luas.

Karya ditunggu hingga 27 Februari 2015.

Trims, salam olahraga :P

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Monday, February 16, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:02:00 PM | No comments

Jhpiego akan Tersesat Tanpa Para Pengemudi!



Jhpiego Global, Baltimore, merilis Kisah Driver (Driver’s Stories) yang telah mendidikasikan dirinya sebagai pengemudi di Jhipego. Kisah-kisah ini dikumpulkan dari berbagai belahan negara, termasuk Indonesia. Cerita Wahidin Hidayat (Jawa Barat) adalah satu dari sepuluh kisah terpilih yang dipublikasikan dalam Fan Page akun Facebook Jhpiego Global.



Sejak 20 Desember 2014 hingga 2 Januari 2015, tiap cerita dirilis secara berurutan. Kami tuliskan kembali sepuluh kisah tersebut di sini. Diambil dari album Sprout Social Photos yang dapat diintip melalui tautan ini.  


Adriani Zulivan

Jhpiego akan Tersesat Tanpa Para Driver!

Kisah para Pengemudi Jhpiego di Seluruh Belahan Dunia
Jhpiego akan tersesat tanpa para Driver! Mereka melintasi medan yang sulit, menunjukkan arah dalam situasi bahaya, bertindak sebagai penerjemah, tetap bersenandung ceria dan membantu seluruh staf dengan berbagai cara. Para Driver seringkali bertindak sebagai pembela dalam mempromosikan Jhpiego. 
Mari jalan-jalan bersama, menyaksikan pasukan belakang layar yang bekerja untuk kesehatan dunia. Mereka bergelantungan di jembatan, menghadapi banjir, singa, tembakan, lumpur, lumpur dan lumpur!



1. Aaron Molefe - Botswana 
Saya dan tim bertugas di salah satu pemukiman pedesaan. Dalam hujan lebat  dan lebih dari 100 kilometer jauhnya dari jalan beraspal. Kami terjebak lumpur! Taka da sekop untuk menyelamatkan mobil dari lumpur. Tangan kosong. Ya, kami menggunakan tangan kosong untuk menggali. Sebagian orang harus mematahkan dahan pohon, lalu meletakkannya di atas lumpur, sebagai jalur mobil. Butuh tiga jam untuk terbebas dari lumpur. Semua orang basah dan bergelimang lumpur, mobilnya sangat kotor. Pikirku, ini seperti pepatah “Setelah dipukuli, selanjutnya menghindar” sebab kami menggunakan rute yang sama untuk pulang. Untungnya, kami berhasil melewatinya sebab saya telah lebih menguasai medan. Kini, saya tak takut dengan segala jenis medan.



2. Addisu Benti - Ethiopia
Ada banyak pengalaman selama di perjalanan. Saya ingat sekali ketika bepergian ke daerah Gambella di timur laut. Lokasi ini berjarak hanya  45 kilometer untuk mencapai kota. Tiba-tiba, ada dua singa tidur dalam posisi memblokir jalan. Saya harus hentikan mobil, mengunci semua pintu dan menutup jendela. Saya ingat, kita harus tidak bersuara dan bergerak agar tidak diserang. Dalam ketakutan, saya harus menunggu selama 35 menit di dalam mobil, sampai para singa bosan dan berpindah.



3. Jimah Breh - Ghana
September di Ghana adalah musim hujan, terutama di daerah utara. Hal ini menyulitkan laju mobil di jalan-jalan rusak. Dalam perjalanan untuk sebuah pelatihan di Wa yang berjarak 166 kilometer, terjadi hujan lebat. Hujan ini mengikis sebagian badan jalan, sehingga jalur tak dapat diakses kendaraan. Terpaksa kami mencari jalur alternatif, lebih jauh. Di jalan ini, bangunan penyangga jembatan beton terlihat rapuh. Jalannya sangat sempit akibat pengikisan di salah satu sisi. Meski demikian, kami terpaksa melintasinya sebab tak mungkin berbalik arah. Dengan bantuan dari pemimpin tim, saya periksa jembatan dan menimbang kemungkinan untuik menyeberang. Kami semua akhirnya menghela nafas panjang, ketika akhirnya kami tiba di sisi lain dari jembatan tersebut. Belum pernah saya alami situasi sesulit ini, semoga ini menjadi yang terakhir.



4. Wahidin Hidayat - Jawa Barat, Indonesia
Suatu hari di bulan Ramadhan pada 2012, saya mengantarkan Pak Djoko Soetikno (PTL Jabar) dari Bandung ke Cirebon. Perjalanan memakan waktu tiga jam. Pak Djoko memulai obrolan tentang agama dan membagi pengalaman spiritualnya. Beliau bilang, seluruh manusia adalah setara. Tiap orang harus saling menyayangi dan menghargai., tanpa peduli apa suku dan agamanya. Tiap orang harus diberi penilaian yang sama, entah dia anggota keluarga, teman, rekan kerja, dan siapapun dengan berbagai tingkat pekerjaan. Saya belajar banyak dari beliau dan tak dapat melupakan hari itu, hari bersama Pak Djoko.



5. Teke Bady Clement - Chad
Saya dan Mr Nicolas (Driver lainnya), mengikuti pertemuan perencanaan lokakarya untuk kegiatan malaria di Chad dan Kamerun. Meski bukan tugas utama kami, kami ikut memastikan bahwa seluruh pelatihan berjalan lancar. Di hari terakhir, pemimpin proyek mengevaluasi kinerja saya. Ia menilai saya telah bekerja dengan baik. Penilaian ini menjadi sukses ganda bagi saya, yaitu kesuksesan setelah bekerja dengan baik di tahun sebelumnya (2013), dan sekaligus sebagai motivasi untuk bekerja di tahun 2014. “Semua yang dimulai dengan keindahan, akan berakhir Indah”. Di malam terakhir pelatihan itu, kami semua makan malam bersama, di satu meja yang sama. Tanpa diskriminasi, dengan kepuasan penuh atas hasil kerja keras bersama untuk mensukseskan acara. Saya telah banyak bekerja di sector public dan LSM, namun Jhpiego memberi “perbedaan positif” dengan dukungan suasana kerja yang menyenangkan.



6. Nasser de Lobo - Mozambique
Distrik Chókwé di Provinsi Gaza adalah daerah yang sulit diakses kendaraan. Suatu ketika, rekan-rekan saya harus meninggalkan mobil dan berjalan kaki untuk mencapai tujuan. Ini diakibatkan oleh buruknya kondisi jalan. Dalam komunitas kerja, kita pasti menghadapi berbagai tantangan, namun pada akhirnya, kita akan dapat menghadapinya. Saya senang melakukan apa yang saya kerjakan, inilah yang terus memotivasi saya. Hari ke hari, saya berusaha menjadi orang yang lebih baik, dengan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi.



7. Ibrahim Bojoyi, Dominic Dravuga, Michael Drichi, Mikaya Ladu, Juac Lual and Trueman Toby - Sudan Selatan
Pekerjaan lapangan selalu menyenangkan, sebab dapat menikmati keindahan alam dan jalanan. Di beberapa bagian negara, ada perampok bersenjata yang mengincar kendaraan. Ini pernah terjadi pada rekan kami. Ia mengemudi dari Juba ke Kejo Keji di negara bagian Central Equatoria. Dalam perjalanan, mereka menjumpai kelompok bersenjata yang merampas sejumlah sepedamotor yang sedang dikemudikan beberapa orang. Mobil rekan kami sempat dihentikan para perampok, namun Driver menembaki para perampok. Untung tak ada yang terluka, dan mobil dalam keadaan aman tak sampai disentuh.



8. Thabo Ntene - Lesotho
Aku tak akan pernah melupakan perjalanan ke Qacha’s Nek dengan ‘Me’ Polo, seorang perempuan yang menjabat sebagai Communication Officer di Lesotho. Kami berangkat ke Tebellong, dengan medan yang sangat buruk. Mobil yang kami kendarai bahkan harus melintasi sungai. Saat di sungai, ‘Me’ Polo mengingatkan saya untuk kembali. Namun saya katakan padanya bahwa di sebelah sana, beberapa orang sedang membbutuhkan bantuan Jhpiego. Lalu, saya kemudikan mobil 4x4 itu. ‘Me’ Polo tampak memejamkan mata dan membukanya setelah saya beritahu bahwa kami berhasil melintasi sungai. Sebab kita berniat menyelematkan nyawa orang lain, maka kita harus pergi sebagaimana rencana awal. Orang-orang ini akan belajar tentang VMMC, dan itu sangat penting. Kami dapat menyelesaikan tujuan perjalanan ini.



9. Judith Bernard - Haiti
Tahun 2014 saya ditugaskan menjemput sejumlah staf di lapangan. Jalan hampir tak dapat diakses akibat musim hujan panjang. Setelah mengemudi 40 kilometer di bawah hujan lebat, tibalah saya pada daerah yang dipenuhi air dan lumpur. Sebuah truk di depan saya, terdampar dalam posisi terbenam lumpur hingga seluruh bagian ban. Saya harus menemukan jalan keluar. Saya singsingkan celana hingga ke lutut. Menggunakan dua ban depan, saya aktifkan four-wheel drive. Ini memungkinkan mobil untuk bergerak di lumpur, meski dengan sangat perlahan sebab posisi mobil sampai miring. Saya harus banting stir untuk mempertahankan keseimbangan, sebab mobilnya bergerak ke segala arah. Dengan menambah sedikit tekanan pada pedal gas, saya keluar dari kesulitan itu. Saya pun keluar dari mobil, melihat posisi mobil sekarang yang berdiri aman di tempat yang rasanya tidak mungkin dapat diraih. Semua anggota tim ucapkan selamat atas pencapaian prestasi besar ini.



10. Michael Mtonga – Zambia
Saya telah bekerja di semua program Jhpiego Zambia. Saya bangga mengatakan bahwa seluruh program itu telah memperkaya pengetahuan. Bahkan, keluarga saya telah mendapat banyak manfaat dari program-program tersebut. Program sunat laki-laki telah menjadi program yang paling menarik. Juli 2013, saya ditugaskan ke Nchelenge, sebuah distrik sekitar 1.000 km dari Lusaka. Di sana, saya berinisiatif untuk mengunjungi salah satu sekolah asrama menengah. Saya pun bertemu pihak sekolah dan menyampaikan tentang pentingnya sunat bagi anak muda. Saya pun diberi kesempatan untuk berbicara di hadapan 400 siswa yang dikumpulkan di aula sekolah. Di akhir acara, titelku berubah sebab seluruh siswa memanggilku dengan sebutan dokter. Mereka tak percaya bahwa aku adalah seorang Driver. Hari berikutnya, klinik dibanjiri para anak muda yang berdatangan untuk disunat.


Posted by adrianizulivan Posted on 10:58:00 PM | No comments

Tonggak Penting EMAS


Annual Report EMAS Year Three

Tahun Ketiga menandai tonggak penting bagi EMAS, dimana dilakukan proses standarisasi terhadap pengumpulan data fasilitas. Fasilitas yang didata adalah fasilitas kesehatan (faskes) di daerah intervensi EMAS yang masuk pada Fase 1 dan 2. Faskes EMAS memanfaatkan alat pengumpulan data yang telah terstandarisasi. Kini, data tersebut mampu hasilkan sekitar 10.000 kelahiran per bulan. Ini jumlah yang mengejutkan. Data tersebut memungkinkan faskes, Pokja, Dinkes tingkat Kabupaten/Provinsi, dan EMAS untuk terus memantau cakupan kunci intervensi klinis dan perolehan hasil.

Hasil penelitian sepanjang Tahun Ketiga menunjukkan perbaikan target intervensi secara menyeluruh. Sebuah diskusi terkait hasil Tahun Ketiga (yang mengumpulkan seluruh kabupaten, dengan pembagian per fase intervensi) dijelaskan dalam laporan ini. Akhirnya, Annual Report EMAS Year Three tersaji bagi seluruh tim EMAS sejak dipublikasikan akhir Oktober lalu. Ini akan menjadi tonggak bagi langkah awal menapaki EMAS Tahun Keempat.

AZ
Posted by adrianizulivan Posted on 10:55:00 PM | No comments

Dunia Rayakan Hari Ibu


Hari itu 22 Desember 1928, hadir sejumlah tokoh perempuan dari 30 organisasi perempuan di 12 kota di Jawa dan Sumatera. Dipelopori oleh Sofie Korneliq Pandean asal Minahasa, mereka mengikuti Kongres Perempuan di Yogyakarta. Pandean ikut membacakan teks Sumpah Pemuda pada 28 Oktober d Jakarta padai tahun yang sama.

Organisasi perempuan hadir di Indonesia sejak 1912. Sebab di tahun 1964 Presiden Soekarno telah menetapkan Hari Kartini untuk peringati jasa RA Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, maka tahun 1959 ditetapkan pula Hari Ibu. Hari Ibu ini untuk memperingati semangat seluruh wanita Indonesia, tak hanya Kartini, yang telah berjuang untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Diantaranya adalah Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan dan Rasuna Said, yang juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.


Meski dengan semangat berbeda, Hari Ibu tetap diperingati hingga kini. Kini, pemaknaan Hari Ibu lebih mengarah pada pernyataan cinta kepada ibu. Demikian pula yang terjadi di negara lain. Meski perayaan Hari Ibu di negara lain diperingati pada tanggal berbeda, Jhpiego Global turut peringati Hari Ibu Indonesia, 22 Desember lalu.


Selamat Hari Ibu, Indonesia!

Adriani Zulivan

Sunday, February 15, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 9:11:00 PM | No comments

Ditolak Taksi


Udah naik taksi. Aku (A) dan Pak Taksi (T):

A: Ambass, pak. 
T: duh, nggak bisa, macet. 
A: Yaudah, Pedurenan aja 
T: Gak bisa... 
A: Bapak mo kemana sih? 
T: Senen... 
A: Ya Pedurenan kan tinggal lurus doank 
T: Oh gitu ya? Mana sih arahnya? 
A: Pasfest, pak! *bete* 

mobil jalan semenit, minggir. Bapaknya otakatik argometer yg ternyata sedaritadi belom nyala. Digetok2, tombol diputer2, nyala. Taksi ntah apa namanya. Yang nyetir pake jaket item dan topi. Gak ada nomor taksi di manapun. Gak ada tanda itu taksi di dashboard selain argometer. Jalan lagi.

T: Pasfest bukannya di kanan ya mbak? 
A: Saya di seberangnya. 
T&A: ... 

...di Jalan Baru, belokan menuju Mall Ambassador.

A: Nah itu ke Ambass lengang, pak! 
T: Macet, mbak! 
A: *terserah deh* 
T: ...
A: Belok kiri depan situ ya pak 

argo 11.500 

T: Bayar 10rb aja mbak 
A: (rogoh 12rb) nggak deh, ntar bapak rugi. (buka payung) Ati-ati di jalan, pak! *nyindir* 
T: Makasih, mbak! *terharu*

Ini kejadian barusan. Kayanya dia nolak krn terlalu dekat ya, bukan krn macet. Mumpung ujan-ujan gini taksi langka, rugi klo nyari penumpang yang nyampe dalam 7 menit.

Itu bukan gambar taksi yang kunaiki, tapi Fukurou Owl Taxi.

Mlekom,
AZ

Wednesday, February 11, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 1:39:00 AM | No comments

Kekancan


Sabtu lalu ikut hunting foto di Tangerang. Berangkat naik KRL, balik nebeng teman yang tinggalnya dekat tempatku. 

Di jalan ngobrol nggak banyak, kan aku pendiam! *dusta* Aku banyakan ngobrol sama si Mamas di watsap, cerita kalo nebeng teman baru. Banyakan diam, mungkin karena kikuk sebab baru kenal belum ada sejam. Iya sih, sudah hunting bareng sejak siang, tapi baru saja kenalan nama. 

Suasana lumayan seru pasca kita diteriakin motor karena jalan lambat. "Matanya dipake, bang!" Dan itu jadi keseruan sepanjang jalan meski pake muter-muter karena salah jalan menuju tol Jakarta.

Lalu makan. Aku usulkan cari di tempat yang dekat kosanku, agar menambah referensi tempat makan. Sudah bosan sangat dengan warteg sekitar yang rasanya ya begitu deh.

Cuma dua sendok nasi yang bisa kutelan plus dua tusuk sate. Kepala sakit kebangetan, kayanya karena telat makan siang. Kabarin si Mamas kalo kami lagi makan di dekat kos. Lalu rebutan mbayar makan, aku menang.

"Senangnya punya teman makan malam," kataku. Aku diantar pulang sampai di ujung gang, sebab jalannya sempit. Dua lembar duit biru diselipnya ke tasku. "Hey, aku nggak mau," kataku. "Udah, kamu simpan dulu aja."

Kuat-kuatin jalan ke kos, ambil akuwa, tenggak obat. Tidur.

Minggu, besoknya. Telat nonton teater Diponegoro di Galeri Nasional. Huh, gegara nyuci sempak yang bejibun! Lalu putar haluan, mo ke Tenabang aja beli kurma buat Papa. Wiken kan mo pulang Yogya, besok-besok nggak sempat lagi. Sampe luar, balik lagi ambil payung. Masuk watsap teman baru itu. Ngajak ke Pasar Baru cari aksesoris potograpi. Kuiyakan. Kan di sana banyak kurma.

Pagi makan sedikit nasi uduk langganan. Masih nggak selera. Siang makan soto betawi di sana. Aku donk, habis seporsi. "Prestasi nih bisa bikin kamu makan," kata temenku. Biar nggak rebutan mbayar, balik dari toilet aku ke kasir. Lanjut ke Kota Kasablanka, temanku mau beli koper. Ah, pas banget pikirku. Aku mo lihat ransel troli.

Ransel yang kucari nggak ada yang bikin minat. Temanku selera belanjanya ngalahin selera makanku. Mondar mandir nyisir nyaris tiap sudut. Aku cuman cekakah cekekeh baca obrolan di grup watsap. Ada yang lagi jualan hape lah, jual kamera lah, sampe jual diri atas kejombloannya :)

Kuputuskan (nah, aku lagi yang mutusin tempat makan) menu mie, setelah nyisir makanan di sana. Habis lagi! :) Si temanku nyebut lagi tentang prestasinya yang bisa bikin aku makan. Adegan berebut mbayar terjadi lagi. Aku kalah.

Lucunya, ternyata sebelum aku kembali dari toilet waktu makan siang, temanku sudah membayar makanan kami. "Nanya donk, udah dibayar belom." "Kalo pake nanya, pasti aku nggak bakal bisa bayar. Wek!"

Menuju pulang, temanku yang lain watsap, cerita kalau ada mahluk halus menghuni tubuhku. Jelas aku saat itu ketakutan, bacanya sampe bersuara. Teman di sebelahku sampe nanya kenapa. Aku ceritain, trus dia ketawa dan berusaha encourage.

Aku pulang, diantar di tempat yang sama. Bobok dengan susah karena pikiran bercabang empat.

Rabu hari ini, dengan riang aku cerita punya teman baru. Sahabatku ikut senang. "Yo rapopo, kekancan," katanya. Kekancan, pertemanan.

Hae kamu, kekancan :)

Ah Mamas, kamu malah tidur waktu aku mo cerita banyak :(

Gambar yang nggak nyambung dengan cerita itu, diambil dari sini.

Mlekom,
AZ



Thursday, January 1, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 8:14:00 AM | No comments

Pagi Pertama 2015

 
Selamat pagi pertama tahun ini!

Bangun tidur langsung buka leptop. Bukan, bukan bekerja untuk kejar tenggat seperti biasa, namun ingin menulis sesuatu-yang-nyaris-wajib di pergantian tahun. Apalagi kalau tidak refleksi, sudah apa dan mau apa.

Basi? Biarin! :)

Aku pernah bilang, bahwa aku nggak punya cita-cita lagi, kecuali lanjut sekolah. Kehidupanku sudah berjalan seperti yang kumau, dengan sejumlah harapan yang belum terwujud namun jalan menuju sana sedang kujelang (bahasanya cie banget deh ah).

Syukurku di 2014, dengan sejumlah hal yang terwujud. Kira-kira seperti ini:
  1. Meski belum tinggal di rumah sendiri, aku tak lagi tinggal di rumah orangtua. Nggak berlindung di ketek mamak lah! :)
  2. Dapat pekerjaan yang sangat baik, meski bukan pekerjaan impian. Tentang ini akan kuceritakan kapan-kapan.
  3. Sudah bisa masak kue kering (cookies) sendiri. Alhamdulillah banget ini!
Yang belum tercapai dan ingin terwujud di 2015:
  1. Mendaftar kuliah
  2. Menerbitkan media sendiri
  3. Perut rata (oyyy!)
  4. Dijauhkan dari perbuatan teledor, lupa, dan sembrono. 2014 banyak sekali kejadian mengesalkan tentang itu.
  5. Nulis buku!
  6. Dapat beasiswa, sehingga bisa kuliah di 2016.
Kejutan 2014:
  1. Survive di tempat tinggal yang bukan bernama rumah.
  2. Hal-hal asik tentang pekerjaan baruku yang melebihi ekspektasi.
  3. Diundang menjadi pembicara di seminar bertaraf nasional. Ahem! Padahal sudah beberapa kali diundang di forum internasional, yang lokal malah belum. Hehehe.
  4. Profilku tentang aktivitas di Indonesian Heritage Inventory masuk koran nasional. Yay!
  5. Semalam, jelang pergantian tahun, mendapat dua tawaran yang membuatku galau. (Galau kok kejutan?)
2015 mau lebih santai menjalani hidup, dengan tetap berusaha untuk memperjuangkan enam hal yang ingin kuwujudkan tadi.

Hai kamu, mari berjuang! 

Itu foto semalam, undangan di rumah Mas Yan.

Mlekom,
AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata