Tuesday, May 24, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:06:00 PM | No comments

Perutku Dulu Tak Segini...


Perutku dulu tak segini, tapi kini tak cukup lagi!

Hehehe.
Humm,,, sudah gak inget sejak kapan, mungkin sudah hampir setahun ini, perutku makin gede. Apakah status mendua, eh, tak sendiri lagi (menjadi berdua) berpengaruh pada lingkar pinggang? Hehe, you tell me!

Cindil suka bilang:
"Yuk push up, aku bantuin"
Walah, ya males banget, Pak!

"Yuk nyepeda bareng!"
Duuh, ini juga agak males, yah...

"Yuk jalan kaki!"
Yaaa, mana kuat!

Nahlo, nahlo. Padahal, menurut Cindil, perempuan yang biasa olahraga akan lebih mudah melahirkan, sebab otot-ototnya lentur akibat biasa bergerak.

"Ya Ndil, tar kalo mo lahiran aku tak nyepeda," jawabku.

*
FYI, aku sekarang sudah tidak pakai jeans! Pilihanku, eh pilihan perutku, jatuh pada celana dengan bahan karet di bagian pinggangnya. Jadi seneng celana-celana sebangsa piyama, training, dan hareem.

Lingkar pinggangku dari yang tadinya S, sekarang M. Bahkan kalau pakai celana stretch pilih yang L. Hahaha.

Baju?
Masih sama: S. Tapi sudah tidak XS ;)

BB?
Masih pin lama *halah*
BB sudah naik, dari yang biasanya berkutat di 39-42, sekarang 45-46,5.

Sedap!

Perutku dulu tak segini tapi kini tak cukup lagi.
Ku besar, ku besar tambah buncit!
Perutku kini kok tambah buncitttttt... ;(

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
[20130530.rgd.pic.fonts]

Wednesday, May 4, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 PM | No comments

Finally, There You Go, JALIN Merapi on Linimas(s)a

Hah, i am being a cameo (only) in this video. Hohoho...
I am so proud of you, dear JALIN Merapi!


Monday, March 7, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:23:00 PM | No comments

Trailler Linimas(s)a tentang JALIN Merapi

H2C nunggu hasil anak Internet Sehat mondar-mandir dan mengobrak-abrik Newsroom JALIN Merapi. Ini trailler-nya.


Ini adegan paling seru: Relawan pijet-pijetan! Eh, gak dink. Ceritanya, Mas @anasir (Koordinator Newsroom JM) sedang dikasih salep obat gatal oleh Mba @ambarsaridewi (Admin @jalinmerapi). Mas @anasir dan sejumlah relawan lain di Posko Induk JM, termasuk aku, terkena gigitan serangga. Diduga dari sengatan hewan malam yang muncul dari sawah. Kantor kami nyaris dikelilingi sawah :)

Sunday, March 6, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 12:39:00 PM | No comments

Ayam Amrik Judul Nginglis

Orang Indonesia ini memang kocak, ya. Sukanya makan di ayam goreng kriting yang namanya pake bahasa inglis-inglis-an: McD, KFC, CFC.  Padahal ya Ayam Goreng Mbok Berek, Bu Tini, Code, dll jauh lebih enak. Lebih enak, sebab sambelnya langsung ulek, bukan instan (saos); ada sayuran lalapannya; trus rasanya ya rasa makanan rumah.

Kalo ayam-ayam yang nginglis ini aku gak suka, karena ayam lehon (leghorn) lemaknya ampun deh, trus bumbunya gak ngeresap sampe ke daging, dagingnya tebel banget udah berasa Obelix makan babi. Satu-satunya yang menolong cuma krispinya yang memang seru, kriuk-kriuk meski khawatir bervetsin.
Coba lihat orang yang makan ayam simbok dan simbak itu, sak-tulangnya juga digigit-gigit, dicocop-cocop. Ya karena memang sampe dalem itu nikmat, berasa bumbunya.

Halah, yang makan di resto cepat saji kita juga orang-orang yang tidak membutuhkan ide utama dari "cepat saji" tersebut. Lihat saja bagaimana mereka malah duduk berjam-jam ala cafe ketika menikmati makanan cepat saji ini. Tempat duduk favorit di deket jendela yang menghadap langsung ke dunia luar, biasanya jalan raya. Niat pamer: Ini aku, pecinta makanan Amrik bernama inglis-inglisan. Sebab resto-resto jenis ini biasanya punya dinding kaca bak akuarium manusia.

*
Aku? Ya pernah lah, pernah (atau sering?) makan ayam inglis2an ini. Terutama kalau lagi di bandara, sebab duitku gak sanggup beli ayam goreng merek mbak/mbok atau apapun yg gak nginglis. Yang nginglis itu gak lebih dari 20 ribu udah plus nasi plus minuman. Yang lokal jangan harap bisa makan segitu, terutama kalau di bandara yang harga soto ayamnya aja yaampun banget buat dompetku.

Kalo udah gini, aku kesian juga sama nasib ayam-ayam goreng kita. Jaranggg gitu, liat anak muda jaman sekarang yang pake baju anak muda jaman sekarang yang nongkrong di ayam goreng Mbok/Mbak.
Posted by adriani zulivan Posted on 10:52:00 AM | No comments

Cucu Pt II

Cewe-cewe:



Cewe-cowo (depan, ki-ka), cowo (belakang):


Cewe cakep:


Cewe endut:


Cowo cantik:

Cewe garang:


Umur mereka di poto ini 4-5 bulan. Sekarang sudah berpindah tangan perawatan... *sad*

Thursday, March 3, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 3:54:00 AM | No comments

Seberapa Besar Gairahmu?


Aku punya gairah besar untuk hal-hal yang aku suka. Salah satu yang terbesar adalah menulis. Ah, masa? Blog aja gak update. Jadi anak (baca: staf) media juga jarang banget nulis. Apa soal?

Aku nulis beberapa hal secara bersamaan dan mempublikasikannya untuk lingkup terbatas. Hampir tiap hari ada tulisan, paling tidak satu artikel. Jika tiba saatnya, semua akan dipublikasikan secara terbuka. Apa saja?
  1. Proyek pribadi yang tertunda sejak pertengahan 2008. Buku tri-(atau tetra?)-logi yang edisi pertamanya tinggal edit, edisi kedua masih menulis dan butuh banyak tambahan data, edisi ketiga sudah ada judul dan sedikit data, edisi keempat semoga ada dan diterbitkan juga.
  2. Proyek bersama pasanganku. Sebuah kumpulan tulisan sederhana mengenai keseharian. Ini di-update hampir setiap hari. Per hari bisa muncul tiga tulisan berbeda.
  3. Proyek untuk masa depan :) berupa tulisan ilmiah yang kuharap bisa menjadi jalan menuju masa depan lebih baik di sini. Sebuah proyek besar (besar, paling tidak buatku pribadi karena keinginan kuliah lagi mendasari keikutsertaanku disini), digawangi tim kecil (hanya lima orang): empat paper untuk jurnal internasional.
Selain itu, aku juga menulis--meski tidak selalu update--di dua blogku. Di blog ini untuk segala apa yng kulihat, kudengar, kurasakan sehari-hari, dan di sini untuk tulisan serius berupa opini dan sastra. Di sini (tidak update) untuk salah satu cita-citaku. Berharap bisa punya banyak waktu, cara, dan upaya untuk menyatukan semuanya dalam sebuah web. Tapi web yang ku-design sendiri--ENTAH kapan!

Seseorang bertanya: "Kulihat, sepertinya kamu tidak suka menulis, yah?" pasca aku yang sering malas-malasan, bahkan menolak ketika "disuruh" menulis untuk sebuah media.

Ini memang persoalan. Ketika aku menulis di sana, untuk sejumlah artikel, baru satu kali aku merasa bahwa tulisanku baik. Sulit menggambarkan bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan "feel" terhadap tema-tema yang diangkat. Selain dunia yang aku angkat itu merupakan arena baru bagiku (masyarakat, grassroots, desa, pedesaan, pemberdayaan, dst), tema-tema tersebut entah mengapa tak mampu menarik gairahku.

"Tak baik memaksakan diri untuk masuk ke hal yang tidak kamu sukai. Berhenti, berbelok, cari hal baru." (Adriani). Bukankah itu lebih baik?

Dulu, waktu di pers mahasiswa (persma), kami, para jurnalis kampus, selalu berlomba-lomba untuk nampang di media. Paling sering jadi kolomnis khusus opini mahasiswa di harian KOMPAS edisi Jogja-Jateng.

Apalagi kampus akan memberi penghargaan bagi mahasiswa yang menunjukkan tulisannya di media massa. Berupa uang. 50 rb untuk terbitan lokal, 100 rb tingkat nasional. Tidak banyak, tapi kebanggaan ketika diketahui orang-orang kampus itu menjadi sesuatu yang mahal sekali. Beberapa kali aku dikasi selamat (-eh?) dosen dan teman pasca penerbitan tulisanku.

SMS pun jadi penuh ucapan. *gila ya, sebegitu hebatnya untuk hanya sekelas kolom lokal?* Kesempatan makan-makan gratis pun jadi sering, akibat siapapun yang baru nongol di media diminta mentraktir dari honor tulisannya ;)

Kangen masa itu. Tapi kini tidak ada persaingan lagi. Semangat mandek, meski persaingan tak seharusnya jadi alasan. *Dasar males aja lu, mbak!*

Tapi saat ini aku menulis, pasca menimbang-nimbang: kenapa aku jadi tidak produktif lagi sekarang? Kemana gairah menulisku? Sedih jika kehilangannya...

*Inipun aku nulis karena benar-benar gak bisa tidur. Pukul 03.45 dini hari...

:)

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


[20130530.pic.rgd.ft]

Wednesday, February 23, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:17:00 AM | No comments

Bahaya, Longsoran Tebing Kali Apu

Kamis (03/02) pukul 10.39 WIB terpantau longsoran tebing curam di bantaran Kali Apu, Magelang. Hal ini dikhawatirkan membentuk rawa-rawa (pening) baru. Area baru memjadi ancaman banjir lahar dingin Gunungapi Merapi. Pening (rawa) Kali Senowo dan Kali Apu jebol pukul 11.00. Warga di sepanjang aliran bantaran Kali Senowo dan KAli Pabelan harap waspada

Genangan air yang sangat luas dan debet air besar menggenang di aliran kali bagian atas. Sebagian besar bantaran kali tertutup material Merapi, sehingga air tak dapat mengalir sebab menahan genangan. Curah hujan tinggi akan mengakibatkan banjir bah yang turut mengangkut material gunung.

Adriani Zulivan, berdasar laporan Bayu Saptanugraha dan sumber Kompag Merapi

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi dengan tautan berikut.

Monday, January 31, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 8:35:00 PM | No comments

Bersedia Digaji Rendah itu Utama. Kualifikasi itu Setelahnya!

Terhitung 1 Januari, aku resmi masuk dalam golongan orang-orang yang menganggur. Jika bulan ini masih ada kesibukan sebagai relawan JALIN Merapi, bagaimana seterusnya? Waaa, musti cari kerjaan baru nih!

Kerjaan yang kuinginkan adalah kerja tidak di belakang meja di Jogja dengan gaji tinggi. Hehehe, mana ada??? Di Jogja itu gaji S1 ya 1 jutaan saja, sebab UMR hanya Rp 850 ribu! Apalagi, Jogja tidak menawarkan pekerjaan sesuai spesifikasi keahlianku.

Atas izin Cindil dan seluruh keluarga, dengan berat hati kubuat lamaran di sebuah media. Mereka tertarik dengan resumeku dan menanyakan expected salary untuk di Jakarta. Jawabku:


Hummm, barusan saya coba berhitung kebutuhan bulanan jika di Jakarta:

Kost (*): IDR 1.000.000
Makan (IDR 30.000 x 3/hari = IDR 90.000 x 30 hari): IDR 2.700.000
Transport: IDR 750.000
Lain-lain: IDR 500.000
Total: IDR 4.950.000
(*) harga bawah dari harga-harga disini http://www.kostjakarta.com/search/kost%2Bdi%2Bkelapa%2Bgading/

Sementara, itu kebutuhan dasar saya. Saya ingin pula menanyakan apakah saya memperoleh hal-hal lain seperti asuransi, dan apakah tugas mencicipi makanan akan ada alokasi dana tersendiri?


Balasannya:

Adriani,

I like your answer. :) Unfortunately, I can’t satisfy everyone based on that. Let’s put it this way .... We’re offering 2.5-3 Juta for entry level social media manager posisiton. Honestly, this is the standard in Jakarta for such position. It is also comparable to other reputable companies in the field.

So, let’s work out your numbers. If you think you can survive with such salary. We can continue with an online test.

Thank you,


Jawabanku:

Dear HRD,

I don't like it, since your answer doesnt match to my numbers, hehehehe ;)

Im just trying to recalculate it:
By the same price of Kost-kostan and Lain-lain (dont wanna take risk of these two needs), I will survive with IDR 3.350.000. If company pays the transport and bill while I am on my "icip-icip" duty, I can't wait for the online test.



Tidak berbalas. Wassalam!
Heran dengan perusahaan yang mencari pegawai dengan metode ini: Tanya dulu gaji yang diinginkan. Jika tidak sesuai dengan tawaran, lupakan dia!

Hey hey, perusahaan macam apa itu? Ah, tapi ini sungguh terjadi. Perusahaan media ini cukup besar. Tagline "Indonesia Online showcase about food and anything else related" menjadikan mereka cukup leading dalam dunia permakanan.

Ya sudahlah. Belom rejeki, nak! :)

Sunday, January 23, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 9:06:00 AM | No comments

Kebutuhan Lampu Penerangan untuk Pemantau Sungai

Banjir lahar dingin merupakan bencana sekunder dari erupsi Gunungapi Merapi 2010. Sungai-sungai di sekitar Merapi saat ini menjadi ancaman terbesar bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Hingga kini, tercatat ada hampir 5.000 jiwa pengungsi akibat banjir lahar dingin.

Bersama relawan dan masyarakat terdampak, JALIN Merapi bekerjasama memantau debit air sungai di kali-kali tersebut, terutama di wilayah Magelang (Jateng) dan Sleman (DIY). Dana khusus untuk pembelian lampu belum ada sama sekali, untuk itu dibutuhkan uluran tangan dari dermawan sekalian. Berikut info kebutuhan tersebut:

Wilayah yang saat ini sangat membutuhkan:
  • Wilayah Kecamatan Dukun terdapat 14 titik. Peta lokaso di sini.
  • Kec Sawangan & Srumbung ada sekitar 30 titik, peta sedang dibuat.
Jenis lampu yang dibutuhkan:
  • Bentuk lampu seperti ini.
  • Kapasitas lampu antara 500-1.500 watt dengan jarak efektif minimal 100 meter dan bisa menembus kabut.
  • Perlu tambahan NCB dan kabel rata-rata 50 meter/titik
  • Lampu bisa dibeli di Yogyakarta. Biaya yang diperlukan Rp 800.000 per titik dengan rincian sebagai berikut:
  1. Lampu Philips 1.500 watt Rp.375.000
  2. Kabel merk NYA 1 rol (50 meter) Rp.300.000
  3. MCB (Magnetic Circuit Breaker) Rp 25.000
  4. Biaya pemasangan oleh warga setempat (konsumsi, BBM, baut, isolasi, dsb) Rp.100.000
  5. Karena yang sangat membutuhkan ada 14 titik, maka jumlahnya 14 x Rp 800.000 = Rp 11.200.000
Mekanisme pemasangan:
  • Pemasangan dilakukan kerjasama Tim JALIN Merapi, Kompag Merapi dan warga di sepanjang sungai.
  • Info selengkapnya bisa menghubungi;
  1. Posko Jalin Merapi Dukun: 087834019273 a/n Bayu
  2. Posko Jalin Merapi Jumoyo:  085878280851 a/n Anang
NB:
Dibutuhkan pula radio komunikasi (handy talkie/HT) dan rig untuk koordinasi di lapangan antar pemantau banjir.

Cek URL berikut untuk donasi.

Adriani Zulivan,
berdasar keterangan Akhmad Nasir (Koordinator Newsroom JALIN Merapi) dan Bayu Sapta Nugroho (Koordinator Posko JALIN Merapi Dukun, Magelang)

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi dengan tautan berikut.

Monday, January 17, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 11:22:00 PM | 1 comment

Hotpants


Secara populer, kata itu diartikan dengan celana pendek super minim kekurangan bahan.

Aku mengklasifikasikannya dengan celana sangat pendek yang hanya menutupi areal panggul, yaitu tepat di bawah bagian dua "buah pantat" yang berbatasan dengan pangkal paha di bagian belakang; dan mencetak V
di bagian depan.
*
Malam ini aku menemani Cindil untuk presentasi di depan puluhan anak SMK dari Semarang mengenai pekerjaannya. Undangan jam 7-9 malam. Jika biasanya panas terik di siang hari dan panas gerah saat malam, Jogja hari ini dingin banget. Seharian hujan.

Cindil mendapat jatah presentasi sehabis jam makan malam, yaitu saat acara santai. Maka murid-murid SMA ini mengenakan pakaian bebas, jika di sesi sebelumnya mereka memakai seragam putih abu-abu.

Mengagetkan. Kami yang datang dengan berbalut jaket, mayoritas siswi ini mengenakan hotpants!

"Korban mode," kataku pada Cindil.

Salah seorang Ibu Guru, duduk dan berbincang di dekatku. Beberapa kali beliau mengeluarkan desahan yang menjelaskan bahwa beliau kedinginan. Pasmina yang dibawanya terus dibenahi letak posisinya di badannya.

"Iya nih Bu, Jogja lagi dingin banget," komentarku. "Anak-anak sampai tidak ada persiapan ya, Bu," lanjutku.

"Enggak. Kita (guru-guru) sudah mengingatkan bahwa tempat ini rindang, banyak pohon, sehingga udaranya dingin. Tapi ya mereka tetap pakai itu," kata Si Ibu sembari mengarah ke hotpants para siswi.

"Oooh, hahaha, saya kira karena taunya Jogja itu panas banget," sambungku.

"Enggak, Mbak," jawabnya berbisik. Itu lho, hotpants lagi ngetrend," lanjutnya.
*
Haha, benar kataku tadi: Korban mode! Kasian yah, terjadi penyeragaman gaya anak-anak muda, terutama remaja perempuan kita saat ini: kaos ketat, celana super pendek, rambut berponi, rambut panjang di-untel-untel ke belakang lalu diikat dengan karet rambut, dan seterusnya.

Ini gaya anak Jakarta, yang selain Bandung menjadi "ikon" mode untuk anak muda di seluruh wilayah Indonesia yang tentu saja satu sama lain berkultur berbeda, beriklim tak sama, dan beradat-istiadat beragam.

Kultur Jakarta yang senantiasa mengedepankan mode terkini yang mengacu ke dunia (yang dianggap) populer, yaitu Barat, tidak keberatan dan mayoritas masyarakatnya menganggap hotpants (dan tanktop) sebagai budaya baru yang dapat diterima.

Budaya dapat menerima ini, kemudian dilihat oleh remaja di daerah-daerah melalui tayangan televisi, internet dan majalah. Ikon mode contekan ini kemudian menjadi sebuah ikon baru yang dirujuk sebagai "tren mode bersama" untuk remaja putri Indonesia, tak peduli apa dan bagaimana budaya dan iklim yang dianut keluarga dan mayoritas masyarakat di daerahnya tersebut.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


[20130521: rgds, pic, fonts]

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata