Saturday, October 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:48:00 AM | No comments

Hanya Cindil dan Tuhan yang Tahu


“Ini henpon baru yang murah waktu itu,” alasannya ketika ditanya seorang teman kantor mengapa memilih henpon Nongkiya yang dipakainya. Henpon itu menggantikan henpon lamanya yang rusak pasca kena hujan. Ceritanya, Cindil bersama rombongannya naik truk bak terbuka di Sumatera Barat.

Itu cerita tahun lalu. Henpon yang masih digunakan sampai sekarang itu (“Gak ada alasan buat ganti, henpon ini masih bagus,” komentar Cindil) sudah tidak kelihatan lagi huruf dan nomor di tiap tombol keypad-nya. Hanya Tuhan dan Cindil lah yang tahu dimana letak huruf A, Z, E, W atau angka 0, 8, 1, 5, dst.

 
Hanya Tuhan yang tahu...

Yes, tidak ada yang masalah dengan henpon itu, memang. Tapi makin kesini, aku makin merasa mengapa Cindil SANGAT membutuhkan henpon baru, sebab:

  1. Phonebook henpon ini sangat terbatas. Cindil punya relasi luas. Tidak mungkin dia bisa memasukkan semua nomor henpon mereka.
  2. SMS storage-nya juga terbatas. Cindil membutuhkan lebih banyak space untuk kelancaran komunikasinya, termasuk dengan aku. Dia, meski dengan keterbatasan storage itu, sangat hobi menyimpan SMS.
  3. Henpon ini tidak memiliki fitur internet. Cindil yang sibuk dan aktif seringkali kesulitan mengakses email yang dia butuhkan ketika sedang mobile. Ini menyulitkan, tak hanya bagi kolega kerjanya, namun juga aku yang sering pengen ngobrol lewat YM.
  4. Cindil yang pesepeda ini selalu mendengar musik jika sedang bersepeda. Henpon miliknya tidak memiliki fasilitas musik. Hal ini membuat dia terpaksa membawa alat musik lagi.
  5. Cindil punya sense yang baik terhadap kejadian di sekelilingnya. Keman-mana bawa kamera saku digital. Andai dia bawa henpon kamera, pasti akan lebih banyak foto feature yang bisa dia hasilkan.

Nah, inti dari semua itu adalah: Aku yakin Cindil akan makin produktif jika dia menggunakan smartphone.

AZ
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata