Monday, March 18, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Menjadi Perempuan Biasa

Gambar dari sini.
Perempuan biasa itu, menurutku:
  • Tercukupi kebutuhan hariannya
  • Mampu membeli apapun yang dia inginkan
  • Dimanjakan oleh pasangannya, dengan menyediakan apapun yang dia mau
Dengan kata lain:
Perempuan yang tiba-tiba mendapat kejutan sepatu cantik yang selama ini ditaksir, traktiran makan mewah di hari ulang tahunnya, dan sekadar dibelikan buku-buku terbaru yang diinginkan. Atau perempuan yang diantar membeli baju, ditemani jalan-jalan dan dibelikan tiket liburan.

Mengapa semua berbau material? Apakah itu perempuan biasa? Ya, menurutku. Perempuan biasa. Biasa saja. Sangat biasa, seperti banyak perempuan di sekelilingku. Tapi temanku tak setuju. "Kukira bahagia itu sederhana, ternyata bahagia itu berbiaya," katanya.

Bahagia. Apakah aku bahagia dengan kriteria "perempuan biasa" versiku itu? Bagaimana jika suatu hari nanti, aku, atau pasanganku, tak dapat memenuhi kriteria itu? Apakah kemudian aku tak akan berbahagia?

Setelah kupikir lagi, kriteria "perempuan biasa" tadi adalah bentuk keegoisanku sebagai seorang... seorang apa? Perempuan? Tidak, tak semua perempuan mewakili itu. Itu egoisku semata, sebagai seorang Adriani.

Jika begitu, aku tak mau lagi hidup sebagai perempuan biasa. Aku harus menjadi perempuan luar biasa, yang:
  • Punya pekerjaan dan kegiatan menyenangkan.
  • Dekat dengan sahabat dan keluarga yang selalu mendukung.
  • Ada pasangan yang selalu membantu, melindungi, mencintai.
  • Mampu membahagiakan orang lain, berbuat sesuatu untuk kepentingan orang banyak, sekecil apapun peranmu.
Materi selalu penting. Jangan pernah ingkari itu. Tapi, dia bukan satu-satunya alasan yang dapat membahagiakan kamu. Cari uang, penuhi kebutuhanmu. Lalu, bahagiakan hidup dengan cinta dari banyak orang. Itu baru bahagia. Sejatinya. Menurutku, kini.

Obrolan ini menguras pikir. Trims untuk kamu. Selalu butuh orang lain untuk mengingatkan. Aku tak lagi ingin sekadar menjadi perempuan biasa. Semoga aku bisa.

Mlekom,
AZ
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata