Thursday, June 18, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 8:15:00 PM | No comments

Lima Malam di Surabaya

13-17 lalu di Surabaya untuk pekerjaan. Tiap malam dolan, daripada nggak sempat ngapa-ngapin! Aku nginap di hotel yang terletak di ujung berung-nya Surabaya. Hotel ini dipilih, agar dekat dengan jalur ke Sidorajo, tempat agenda kantorku. Nggak ada cara lain untuk menikmati kota, selain ngabur di malam hari.

Malam pertama
Dijemput Imam di hotel. Ngangkring di Angkringan Mak Joss di Jalan Bendul Merisi. Tempatnya asyik banget, mirip Raminten Kotabaru Yogya. Memang ini warung makanan Yogya. Ah, sate telor puyuh dan ususnya menggoda hati, tapi sayang sudah tiga bulan ini nggak konsumsi makanan berkolesterol tinggi. Jadi pesan bakmi goreng aja. Lumayan ngobati kangen Yogya, meski nggak seenak bakmi langganan di Concat.
Malam kedua
Masih ditemani Imam, dari hotel di Surabaya Selatan, kami bergerak ke Surabaya Utara untuk agenda Pasar Kampung Ampel (yang kudapat dari search event di Facebook). Kami datang kemalaman, makanan tinggal sedikit dan pertunjukan tinggal lagu arab di panggung.
Foto punya Imam.
Lumayan masih nemu pedagang kebab yang masaknya lama pisan tapi rasanya ajib. Juga sempat lihat poto-poto Ampel lama yang dipajang untuk pengunjung. Di sana ketemu Frenavit, teman Twitter jaman JALIN Merapi yang belum pernah ketemu offline. Fre datang bersama rombongan teman dari Kopdar Surabaya.
Foto dari tweet Fre.
Akhirnya kami nongkrong di nasi kebuli langganan mereka, tepat di sebrang gerbang Ampel. Enak, meski nggak sedahsyat nasi kebuli yang pernah kumakan di Solo (lupa nama dan tempatnya). Mereka ajak aku ikutan agenda Senin Bebek", agenda icip-icip keliling Surabaya. Mirip agenda 'Rabo Soto" milik anak-anak onliner Yogya. Untuk Senin, temanya bebek. Okesip! (yak kolesterol yak... itu bebek... itu kebuli kambing...)
Malam ketiga
Nggak sengaja siang tadi ketemu Awang, teman lama yang bergiat di pusaka Surabaya. Aku tanya tentang Peneleh, malah ditawarin nganterin. Alhamdulillah.
Soto Dhok.
Dari tempat acara di Sidoarjo (di mana kami sama-sama pameran di sana), mampir dulu makan soto asli Jombang, soto dhok (saat meramu ke dalam mangkok saji, ditambah kecap, botol kecapnya digebrak ke gerobak, bunyi dhok! Ngagetin, hahaha) dan magriban. Lalu kami berangkat ke Rumah Peneleh. Kebetulan Awang kenal dekat dengan penjaganya.
Andai bangunan cantik ini rumahku...
Di Peneleh hanya sejam, sebab nggak banyak yang bisa digali. Bapak 'juru kunci' rumah HOS Tjokroaminoto itu lagi keluar. Kami sempat melihat-lihat seluruh bagian rumah dan ngobrol dengan anaknya. Aku juga menolak ajakan Awang untuk menjelajah Kampung Peneleh ini, sebab sudah malam. Selain aku takut dengan makam yang bertebar di mana-mana (ya, bertebar. Ada makam yang berada di tengah jalan kampung), juga nggak enak ganggu warga yang sudah siap beristirahat.

Lalu ke Perpustakaan Kota di kompleks gedung Pemuda. Awang mau mengembalikan buku pinjamannya. Kami sempatkan mampir ke TIC yang terletak di samping perpus. TIC ini dikelola oleh Cak Ning Surabaya, Awang adalah mantan Cak. Di sana aku ambil banyak brosur wisata. Sayang di Rabu besok, hari terakhirku di Surabaya, bus jelajah kuliner Peneleh yang dikelola teman-teman Cak Ning ini sedang tidak ada jadwalnya.

Kami kemudian bergerak ke Kayoon, untuk agenda Senin Bebek. Eh, nggak nemu teman-teman. Belakangan aku tahu agendanya dipindah :) Akhirnya langsung ke hotel, sebab Awang akan berangkat ke Yogya. 

Malam keempat
Usai agenda kantor, aku dan teman niat mampir ke Museum Mpu Tantular. Kami jalan kaki dari GOR, tempat acara. Eh ternyata jauh (plang yang kami lihat tiap hari kalau mau ke GOR, ternyata menunjukkan arah belokan yang masih setengah jam lagi ke museum). 
Ki-ka: es selasih, baso.
Akhirnya sambil nunggu mobil jemputan, kami mampir ke warung Bakso Kuto Cak To yang unik banget. Setelahnya langsung ke hotel dan nggak keluar lagi. Cape banget. Lagian besok seharian bisa puas jalan.

Malam kelima
Kampung Ampel, Pasar Bunga Bratang, Museum WR Soepratman, Klenteng Hong Tiek Tian, Masjid Cheng Ho, Pura Agung Jagad Krana, Museum Loka Jala Crana, Gereja Kepanjen,  Monkasel, Masjid Peneleh. Ini adalah daftar yang kutulis untuk agenda hari ini. 

Pengen habiskan pagi di pasar bunga, sebelom dolan dengan temanku siang nanti. Tapi apa daya, malas tak terhingga. Habis subuhan tidur lagi, bangun jam 9, mandi, sarapan sampe resto hotel mau tutup. Sebelum sarapan telp operator minta kamar dibersihkan, selesai sarapan kamar sudah kinclong. Tidur lagi sambil nonton. Jam 11.00 packing. Setengah jam kemudian Cakpii sudah di lobi. Kami akan jelajah Kampung Ampel. Yay!
Gerbang masjid.
Tadi sempat telepon SHT, tapi jadwal hari ini penuh. Jadinya langsung ke Ampel, numpang solat dzuhur di sana. Ih, geli banget sama lantai tempat wudhunya yang berlendir, nempel di kaki (akhirnya gak cekeran, pakai sandal jepit di sana). Aku nggak ke makam Sunan Ampel, nggak hobi ke makam.
Tempat wudhunya. Duh!
Menarik melewati pedagang yang berjajar di tiap gang menuju masjid. Berasa di mana ya? Apakah di Arab? Entahlah, aku belom pernah ke Arab. Yang pasti, para pedagang memajang ragam kurma, pakaian muslim, ikram, kitab, minyak wangi, tasbih, kerudung, apapun. Aku sempat beli kerudung sebelum masuk masjid, sebab diharuskan menutup kepala.



Di ujung gang dekat parkiran, kami lihat satu warkop tua, lalu mampir. Agenda selanjutnya ke Gereja Kepanjen. Wuih, bangunannya megah banget! Kami cuma menikmati dari luar, sambil nongkrong lama menikmati ragam minuman di deretan warung depan gereja.




Selanjutnya, Masjid Cheng Ho! Meski ini merupakan bangunan baru, namun tetap menarik melihat-lihat keunikannya.


Cakpii hubungi temannya yang punya warkop. Kami mampir ke sana, sambil nunggu malam (aku berangkat ke Jakarta pukul 20.30). Warkop Troya namanya. Di sini baru dapat kopi yang bener :) 

Ternyata warkopnya dekat banget dari hotelku, tahu gitu tiap malam nongkrong di sini sama teman-teman kantor yang sakau butuh kopi. Oh ya, di halaman warkop ini ada soto Lamongan enak, kami makan malam di sana.

Warkop ini milik Cak Waw, salah satu seleb video animasi. Warungnya nggak sekadar tempat ngopi, tapi juga tempat ngumpulnya komunitas animasi. Kapan-kapan semoga bisa cerita lebih banyak.
Cakpii, aku, Cak Waw.
Sampai di sini kisah lima malam di Surabaya. Semoga ada malam-malam lain yang menyenangkan. Malam-malam ini nggak akan terlaksana tanpa dukungan semua pihak (belagak credit title film) yang dapat kusebutkan satu per satu:
  1. Imam Muttaqin untuk PP dua malam plus nyamperin lagi di hari terakhir plus ngasih cagak X-banner miliknya.
  2. Dito (Kopdar Surabaya) yang sudah datang ke Sidoarjo bawa charger kamera meskipun tetap nggak cucok.
  3. Awang Firmansyah yang sempatkan ajak dolan sebelum berangkat dan pinjamkan charger sekaligus kameranya.
  4. Cakpii yang sudah datang jauh-jauh dari Gresik, antar jelajah kota sejak siang panas hingga malam dingin.
  5. Cak Waw yang sudah mengenalkan lotion anti nyamuk dan untuk traktiran kopi di warungnya.
  6. Juga teman-teman baru di sana: Fre, Shellya, Aziz, dll yang aku gatau dan lupa namanya. 
Makasih, ya! Aku tunggu di Yogya!

Mlekom,
AZ


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata