Saturday, May 19, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:38:00 PM |

Catatan Geoheritage Trip

Minggu (13/05) pukul 07.30 aku tiba di TBY, tempat ngumpul yang disepakati oleh panitia. Ternyata belum ada yang datang. Sambil menunggu, aku jalan ke Malioboro, menemui teman-teman dari komunitas Peta Hijau yang sedang mengadakan Survei Peta Hijau Pejalan Kaki Kawasan Malioboro.

Setengah jam, teman-teman Geoharitage Trip belum tiba di TBY. Aku duduk di bangku taman trotoar depan Benteng Vredeburg. Sarapan soto gerobak sambil melihat rombongan senam di tengah jalan Akhmad Yani yang ditutup tiap Minggu pagi itu.

Ini sepatuku yang dibeli dengan cara memaksa: sekali lihat langsung comot. Dapat warna ngejreng. Seru juga, ini sepatu kets merah pertamaku. Kubeli malamnya bersama Ndil, demi perjalanan geoheritage trip. Di benakku, ini akan menjadi perjalanan penuh petualangan alam: lee-wa-ti guu-nung tuu-ru-ni lem-bah...

Semalam kumasukkan ini di bagpack-ku:
  1. Satu kaos + satu celana tambahan, barangkali basah atau kotor.
  2. Kacamataitem dan payung. Pagi itu mendung.
  3. Sandal jepit dan kaos kaki. Mungkin sepatuku basah/berlumpur. Mungkin dingin.
  4. Jaket
  5. Raincoat
  6. Panadol Ekstra, obat sakit kepala andalan berwarna merah itu.
  7. Air mineral
  8. Cemilan
  9. Kamera
Wardrobeku:
  1. kaos hitam
  2. kemeja lengan panjang
  3. jeans longgar
  4. kets + kaos kaki
Kostum siap tempur!
08.30 akhirnya dikabari Mbak Sinta kalau semua sudah ngumpul. Aku kembali berjalan ke TBY, menyusuri trotoar Pasar Bringharjo yang pagarnya sungguh bau pesing :|

Kami berkenalan. Ternyata ada Opah Cuk Riomandha yang kukenal di Komunitas BOL BRUTU. Lalu Aisyah Hilal (Mbak Ilal, kami sudah berteman di FB, baru ini kenalan), C Prasetyadi (Pak Pras, dosen Geologi UPN Yogyakarta) yang akan menjadi pemandu kami, dan Popok Tri Wahyudi (Mas Popok, penyelam!), dan tentu Sinta Carolina. 

Usai breafing, akhirnya kami berangkat juga. Mundur 1.5 jam akibat mobil rentalan yang datang terlambat. Masing-masing kami mendapat bekal sebendel dokumen perjalanan ini, sebotol besar air mineral, dan sebuah blocknote yang didalamnya berisi 9 poin pertanyaan yang perlu kami komentari usai perjalanan ini. Juga ada beragam cemilan untuk dibagi di mobil.

Dalam perjalanan bertajuk "Fieldtrip Geoheritage: Jogja Riwayatmu Dulu" ini, kami mendapat kuliah dari Pak Pras, di mobil, di jalan, di situs-situsnya. Sangat menarik, hal yang sangat baru bagi kami yang dalam keseharian tidak menyentuh area ini. eh ternyata semua belum mengerti tentang geoheritage ini, meski sudah membaca ToR yang dikirimkan bersama undangan.

Stop Site I: Lava Bantal
Lokasi: Berbah, Sleman, DIY
Tak sampai setengah jam, kami tiba di lokasi ini. Inilah kesaksian pertama kami tentang pembentukan pulau Jawa. Tempat ini sangat indah, ingin rasanya menghabiskan lebih banyak waktu untuk meyusuri sungai kecil ini.

Namun sayang, kami hanya setengah jam di sini. Waktu singkat itu diisi dengan kuliah visual dari Pak Pras. Visual langsung dari benda yang dapat kusentuh dan lihat langsung. Di sini terlihat betapa Pak Pras memiliki seluruh informasi mengenai sejarah dan peta geologi di lokasi ini.

Catatanku tentang Lava Bantal ada di sini.

Pak Pras

Stop Site II: Endapan Piroklastik
Lokasi: Candi Ijo, Kalasan, Klaten
Untuk melengkapi paparannya, Pak Pras membawa alat-alat geologi. Kami bisa belajar mengamati ala peneliti.

Catatanku mengenai Endapan Abu Vulkanik ini ada di sini.



Mengamati usia batuan dari struktur material pembentuk. 

Foto atas: aku. Foto bawah: Cuk Riomandha

Stop Site III: Sidemen Konglomerat - Sekar Bolo
Lokasi: Jiwo Barat, Bayat, Klaten
Dalam pejalanan menuju lokasi ini, kami melewati pertigaan menuju sebuah desa pengrajin gerobak angkringan. Ah, menarik sekali. Kapan-kapan harus dikunjungi!

Tiba di Sekar Bolo, Pak Pras meminta izin pada pemilik rumah yang tampaknya sudah sangat akrab dengan beliau. Ya, beliau mengajak tiap mahasiswanya ke sini. Kami akan mampir ke halaman belakang rumah ini. 

Halaman belakang? Ya, salah satu jejak singkapan batuan sedimen konglomerat ini ada di halaman belakang rumah warga. Tidak halaman juga sih, mungkin tepatnya kebun. Sayang, ada air yang mengalir dari rumah tersebut. Mungkin sisa pembuangan kamar mandi. Wuih, mengapa tidak dicarikan titik lain, ya? Namun, tentu saja pemilihan tempat ini sudah dipertimbangkan matang, seperti terkait daya jangkau yang mudah dan kelengkapan jenis bebatuan yang akan dipelajari.

Areal ini agak sempit, tak dapat memotret dengan leluasa. Tapi tak apa, hari mulai terik. Kukenakan kacamataitem dan nangkring di bawah atap rumah. Petualang kok takut terik! Hehe :)

...dan aku mlipir cari teduh. Foto: Cuk Riomandha
Di daerah ini ada sebuah makam ulama besar. Saat itu, dan hampir tiap hari, daerah ini ramai lalu-lintas bus berisi rombongan pengajian yang akan ziarah. Namanya Syech Domba, tepatnya di Kampung Ngisor.


Stop Site IV.a: Watu Prau
Lokasi: Perbukitan JiwoTimur, Bayat, Klaten
Di sini kami takjub melihat batuan tertua di Pulau Jawa. Meski hari semakin terik, aku tetap berdiri di tengah sengatan matahari untuk memegang struktur batuannya. Lalu... meneduh di teras rumah warga, ketika yang lain tetap menjemur diri demi bisa mendengarkan penjelasan menarik dari Pak Pras tentang "basement" Pulau Jawa ini.


Stop Site IV.b: Watu Prau
Lokasi: Perbukitan JiwoTimur, Bayat, Klaten
Akhirnya terjawab pertanyaan mengenai nama situs ini: Watuprau. Batu besar yang kami duduki ini berbentuk seperti perahu. Ia tersusun atas batugamping nummulites (apatu, pak?). Wilayah ini kini menjadi hal milik Jurusan Geologi Universitas Gadjah Mada, sebagai laboratorium ajarnya.

Satu-satunya pose bersama. Foto: FB Cuk Riomandha
Stop Site Tambahan: Nasi Trancaman
Lokasi: Jalan Raya Cawas-Klaten, Jawa Tengah
Dalam perjalan menuju situs terpenting bagi hajat hidup ini, ada sebuah tempat yang teramat ingin kujadikan Stop Site Tambahan b: Pabrik cerutu! Opah Cuk bilang, itu pabrik jadul yang membuat cerutu untuk kebutuhan ekspor ke Eropa, terutama Rusia. Mereka menyimpan daun tembakau selama bertahun-tahun untuk produk terbaik. Ah sudahlah, lupakan...

Nah, situs tambahan ini luar biasa. Unik, ayam disatukan dengan sayur trancam.

 

Stop Site V: Jurang Jero.
Lokasi: Perbukitan Tancep, Kecamatan Ngawen.
Di sini kami dapat melihat seluruh wilayah yang sudah dan akan dilalui dalam fieldtrip ini. Berhenti hanya sebentar untuk penjelasan rangkaian geologi, dari laut hingga Gunungapi Merapi di utara yang puncaknya tampak di kejauhan.
Gunungapi Merapi berada jauhhh di kanan anda, wahai pembaca :)

Stop Site VI: Morfologi Wonosari Platform
Lokasi: Desa Nglipar, Wonosari, DIY


Lihat batu endapan material yang kami injak itu beserta seluruh bentang alam di sana. Dulunya, ini merupakan dasar laut. Banyak pertanyaan untuk Pak Pras di lokasi ini. Salah satunya: Jadi mana yang benar? Daratan menghilang atau dasar laut naik ke permukaan?

Untuk menjelaskannya berulangkali, sebab "penonton" tak segera mengerti, Pak Pras menjelaskannya sangat detil dengan gambar yang dicorat-coretnya di kertas. Mengertikah kami? Ya, saat itu. Sekarang sudah lupa lagi :|


Stopsite VII: Bioturbasi Sambipitu
Lokasi: Kali Ngalang

`
Aha, ini situs menarik. Meski tak secantik sungai pertama, dia menyimpan misteri batuan yang membuat kami lagi-lagi terpana. Ada jejak binatang laut yang dalam bahasa Jawa disebut jingking (aku tak mengerti jenis binatang ini bentuknya seperti apa). Aku melihatnya seperti patung legenda Malin Kundang yang ada di Pantai Padang, Sumbar.

Dulunya, situs ini merupakan pantai dari laut lepas. Kebayang, gak?

Kami hanya sebentar di sini, lalu naik ke jalan raya menuju halaman masjid tempat kami memarkir mobil. Halaman masjid, sebab sebelumnya menggunakan toilet masjid ini. Astagfirullah, mampir masjid buat ke belakang... :)

Kebetulan di samping halaman masjid ini ada warung. Tadi sebelum turun ke sungai, sudah memesan kopi. Kopi siap santap dengan beraneka cemilan. Aku membeli dua jenis mainan tradisional yang pernah kumainkan saat SD di Aceh.

Stopsite VIII: Gunungapi Purba
Lokasi: Nglanggran, Wonosari, DIY
Tahukah, ini hanya lima menit perjalanan dari Bukit Pathuk Gunungkidul yang terkenal sebagai tempat tongkrongan dengan view kota Jogja dari ketinggian itu! Situs ini cukup populer. Warga muda di desa ini menggerakkan ecotourism dan menggunakan media Facebook dan website untuk pemasarannya.

Di sini dapat bonus arca di salah satu rumah warga. Opah Cuk manggil aku, sepertinya tak ada yang tertarik selain kami berdua. Kami habiskan 15 menit untuk berbincang dengan pemilik rumah, pemuda pengurus ecotourism, dan penjaga warung. Dasar pemburu batu...

Arca puntung tanpa badan dan kepala. 
Ditemukan di puncak Gunung Purba

Inilah akhir perjalanan panjang kami menyaksikan jejak purba bumi Jawa. Durasi trip yang direncakan 12 jam ini, ternyata lebih singkat. Ini melegakan, sebab otak terasa banjir informasi. Padahal, menurut Pak Pras, trip ini sudah dipangkas untuk mempersingkat waktu. Untuk mengetahui proses pembentukan alam yang lengkap, setidaknya (sepertinya, menurutku) perlu tiga hari.

Meski begitu, delapan situs ini sudah lengkap untuk mempelajari geologi purba dan proses pembentukan Pulau Jawa. Satu per satu akan kubuat tulisan terpisah, segera!

Waktu
Buatku, waktu yang digunakan untuk trip ini terasa begitu singkat. Dengan delapan situs perhentian, sepertinya akan lebih bermakna jika dipisah menjadi dua hari. Mengapa?
  1. Agar ada kelas kuliah singkat mengenai geoheritage yang akan dikunjungi di trip ini. Kuliah dengan bantuan video akan sangat menarik dan membuat orang makin penasaran. Yang paling penting, agar peserta punya gambaran sebelum berangkat.
  2. Agar ada jeda untuk mencerna tiap informasi.
  3. Agar ada waktu untuk menikmati tiap keindahan dari fenomena alam yang tersaji di muka kita.
  4. Agar ada satu waktu dimana terjadi diskusi mendalam antara peserta dan pemandu usai perjalanan, setelah peserta beristirahat dan segar lagi untuk berdiskusi.
Untuk menyasar paket wisata ini bagi keluarga, kupikir perlu dirombak lagi alokasi waktunya. Untuk urusan metode penjelasan pada anak, kuyakin Pak Pras jagonya. Wong kami yang sudah tua-tua ini saja diajari Pak Pras dengan bahasa awam.
 
Pemandu
Saat erupsi Gunungapi Merapi 2010 dan menjadi administrator untuk akun Twitter @jalinmerapi, mau tak mau aku memaksa diri untuk mempelajari geologi Merapi. Jika website pemerintah seperti BPPTK dan BNPB enggunakan bahasa tingkat tinggi yang tak dimengerti orang awam, aku cari rujukan lain. Salah satu yang sering kukunjungi adalah Dongeng Geologi ini. Meski juga menggunakan bahasa geolog, namun penulisnya memuat gambar-gambar yang membuat orang awam sepertiku dapat mengerti, sedikit.

"Pak, maafkan saya jika nanti penjelasan bapak tidak masuk ke otak saya," pesanku di TBY paginya. Nah menurutku, penjelasan Pak Pras ini adalah yang terbaik. Jujur, aku merasa mengerti tentang apa yang dijelaskan selama perjalanan ini. Ya, meski tak semua.

Ah, aku menyayangkan tidak membaca ToR itu dengan seksama sebelum kami memulai perjalanan, agar aku sempat mencari tahu (minimal googling) tentang geologinya..

Bagaimana dengan peserta lain? Aku tak tahu. Tapi, saat perjalanan pulang, kami tertawa-tawa karena merasa bodoh akibat tak dapat menjawab pertanyaan Pak Pras tentang salah satu situs yang telah kami kunjungi... Ya ampun!

Menurutku, ini akibat banjir informasi yang kami terima begitu banyak dalam waktu singkat, tanpa sempat mencernanya. Ngeles, yah!

Kuliner
Warung Ayam Trancam itu menarik. Meski ayam gorengnya tidak istimewa, bumbu sayur trancamnya sangat lezat. Namun seingatku, itu bumbu urap (gudangan), bukan trancam yang biasanya putih ya? CMIIW :)

Makanannya mahal untuk ukuran desa di Jateng, apalagi jika dibandingkan dengan harga makanan di Jogja. Ini sekitar 2x lipat harga Jogja dengan menu sama, ya. Tapi mengenai rasa, dia juara!

Warung ini juga menarik, sebab ada beragam "temuan" langka, seperti sirup dari jejamuan :) Selain itu, posisi warung ini tepat di jam makan, di antara trip panjang ini.



Aku

Aku terkecoh dengan kata "gunung" di nama "Gunung Purba". Pikiranku langsung terbang jauh menuju situs megalitikum Gunung Padang di Cianjur, Jabar, yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam! Informasi yang tidak lengkap di itinerary membuat isi backpack-ku terasa lebay.

Begitulah. Jika diajak ngetrip lagi dengan rute ke situs-situs yang dipotong demi mempersingkat paket ini, aku siyaph! :)

Terimakasih kepada Mbak Sinta Carolina dan Aisyah Hilal yang telah menjadikan kami bertiga sebagai observer. Jalan-jalan gratis kes situs yang tak pernah kami kunjungi sebelumnya, bonus pengetahuan yang juga tak pernah kami ketahui sebelumnya.

Mlekom,
AZ


about it
Categories: ,
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata