Friday, June 27, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:00:00 PM | No comments

Tragedi Kecap Merah


Waktu jadi mahasiswi semester II...
Di Komunitas B-21, ngedit tulisan. Aku duduk di kursi yang menghadap PC. Di sandaran kursi tergantung sebuah jaket parasut hitam dengan lapisan furing berwarna putih. Jaket milik Mas Didik, senior di Divisi Redaksi yang gak mau nyentuh perempuan, meski sekadar salaman. Ah, bertemu pandang saja malu-malu, kok. 

Jaket digantung menghadap belakang kursi, jadi bagian badannya tertimpa pant*tku, dengan bagian furing di bagian atas. Entah berapa lama pantatku ngendon di sana, sampai kaget luar biasa saat melihat kondisi jaket yang tak lagi berwarna putih, namun seperti tie dye berwarna merah. Grasp! 

Dengan sigap kubalik bagian furing, hingga bagian parasut hitam yang di luar, lalu menggulungnya, dan mencari Mas Didik. Masalahnya, gak mudah juga menjelaskan hal ini kepada seorang... ahem... ikhwan.

"Mas, maaf jaketnya kotor. Aku bawa pulang, cuci dulu ya."
"Heh, jatuh po? Gak usah, gak papa."
"Aku bawa aja deh..."
"Gak usah, aku aja masukin londri."
"Gak gitu mas... duhhh, gimana ya bilangnya..."
"Ngopo tho kowe ki?"
"Pokoknya kamu gak akan pengen lihat kotornya gimana. Bukan cuma jatuh di lantai..."
"...???"
"Haduh, aku tembus, jaketmu kena kecap merah!" kataku cepat.
"Hah???" membelalak.
"Ya, makanya kubawa duluuuuu"
"Yawes, kono (ya sudah, sana). Huuu, padahal itu baru kucuci. Njuk pie kui wis tok nodai (lalu gimana itu sudah kamu nodai)."
"Salahmu naro jaket di situ!"

Udah mahasiswi semester IV...
"Udah nyampe, turun lah" teriak si abang yang waktu itu lagi dekat sama aku.
"Duh Bang, minta tisu!" segepok tisu di tanganku, akupun sibuk nuang sedikit air akuwa ke tisu, lalu gosok-gosok jok.
"Kenapa sih, dek?"
"Ini...."

Yak, jok mobil berwarna abu-abu cenderung putih itu ternoda. Akhirnya gak jadi turun, aku minta pulang karena celana sudah berbaret-baret cap kecap merah.

Kemarin, di usia 30+ ini...
Baca di atas kasur teman. Pas ngangkat pant*t, seprei kembang-kembang merah-pink itu kok jadi bladus? Colek pake jari, hujamkan jari ke lubang hidung. Yak'e, itu aroma kecap merah!

Buru-buru tarik sepre. Lari ke belakang, cari sikat gigi bekas dan baskom untuk air. Sikat-sikat kasurnya sampai bersih, nyalain kipas angin ke arah sasaran agar segera kering. Ke kamar mandi, ketemu Mamanya. Nah, bingung lagi nih.

"Tante, maaf ada deterjen?"
"Buat apa Mbak? sambil nunjuk deterjen.
"Buat bersihin..." nyodorin gulungan seprei tanpa nunjukin daerah berbaret kecap.
"Oh, gak papa biar besok tante saja sekalian nyuci."
"Eh jangan Tante, biar saya saja." Ambil ember, ambil sabun mandi, kucek-kucek kecapnya.

Si Tante nyuruh ngerendam aja, biar besok dicuci sekalian kain lain. Sebab udah malam, kalo dijemur gak pake mesin pengering juga gak akan kering.

"Maaf ya Tante, ninggalin cucian..." cucian bekas kecap :(

Dan berlanjut obrolan: Itu si Yuna (anaknya) juga kalau lagi dapet banyak banget, biasanya tidur di lantai. Duh, aku jadi nggak enak, tadi di kasur. Trus si Tante nyarinin tiap anak gadisnya untuk mencuci pakaian dalamnya setiap mandi, dengan sabun mandi. "Biar gak kuning-kluning," katanya.

Lalu aku pun berbagi tips merendam bahan kain yang gampang berjamur (bintik-bintik hitam), yang biasanya menghuni handuk. Si Tante senang, akan mempraktekkan tipsku. Yang pasti, rasa gak enak karena ngecap (tidak pepet, meng-kecap) tadi agak pudar. Errr...

...dan kayanya masih banyak kejadian lain... 
saking banyaknya, gak ingat lagi :p

Apakah kamu pernah ngecapMaaf ya jika tulisan ini menjijikkan... Inilah tragedi kecap merah. Hidup kecap merah! *eh*

Buat yang belum pernah tau bentuk pembalut, gambar di atas adalah bentuk reusable/washable sanitary napkin/feminine menstrual cloth pads yang kuambil di sini. Itu bikinan Cina. Yang bikinan lokal ada sih, tapi polosan. Trus kenapa? Kok jadi promo.

Mlekom,
AZ
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata