Thursday, May 28, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:55:00 AM | No comments

Menumpang Pejalan, Menampung Penginap


6 Mei 2015 siang terbang ke Surabaya untuk bekerja di Nganjuk keesokan harinya. Itu Kamis. Kupikir ada asyiknya menghabiskan akhir pekan di Surabaya.

Seperti biasa, andalan jika membutuhkan informasi agenda menarik adalah: klik "event this week" di Facebook. Keluarlah dua agenda di tanggal 9 Mei. Pertama Jelajah Pecinan Surabaya yang diadakan temanku Ci Maya, dan kedua Meet and Greet Anton Krotov yang diadakan Couchsurfing (CS) Surabaya. Sebab aku sudah pernah jelajah pecinan bersama Ci Maya, kuputuskan untuk mengikuti agenda obrolan itu saja.

Anton Krotov bagiku nama yang asing. Ternyata, ia adalah seorang pejalan asal Rusia. Ia sangat populer di kalangan pejalan internasional, seperti CS dan Hitchwiki. Yang menarik adalah, Anton memberi kuliah pada kelas-kelas singkat di banyak kota/negara. Kelas ini biasanya tentang bagaimana cara berjalan-jalan tanpa mengeluarkan banyak uang. Itulah kurikulum utama di Academy of Freedom Travels (AFT), dimana Anton menjadi Presidennya.

Selain--tentu saja hitchicking (menumpang kendaraan), juga menumpang rumah atau tempat berupa apapun yang dapat dipakai untuk tidur. Soal menumpang tidur ini, Anton memiliki misi khusus. Dalam sejumlah perjalanannya, ia menyewa rumah penduduk untuk dijadikan tempat menginap para pejalan bermodal cekak dari seantero dunia. Dinamainya "House for Everyone"--sebut saja HFE, ya!

Kebetulan di tahun ini, ia membuka rumah di kawasan Lempuyangan Yogyakarta. "Wah, dekat rumah!" pikirku. Sejauh yang kubaca, ia juga membuka kelas tips perjalanan di tiap rumahnya, termasuk di Yogya. Maka kuputuskan tidak mendatangi agenda Surabaya ini, aku lebih berminat berkunjung langsung. Lagipula, ketertarikan utamaku bukan pada tips bepergian murah, namun lebih kepada manajemen rumah tinggal tersebut.
Pertigaan ini, belok kanan!
25 Mei 2015 hari keduaku di Yogya. Akhirnya kesampaian mampir ke HFE! Kutelepon nomor Anton dan ia menjemput kami di depan Stasiun Lempuyangan. Kujelaskan bahwa kami tak akan menginap, sebab kami warga lokal. Kami hanya ingin mengobrol dan melihat rumahnya.

Hujan turun tepat ketika Anton tiba di stasiun. Di bawah guyuran air yang cukup deras, kami berjalan--tanpa payung--menyusur gang sempit nan panjang. Gang sempit yang bersih dan nyaman. Semua tertata baik, sebagaimana gang-gang lain di banyak pemukiman di Yogya. Gang ini terletak di Kecamatan Danurejan, persis di seberang stasiun Lempuyangan.
Ya, yang di tengah itu rumahnya.
Dalam lima menit, kami tiba di rumah itu. Tak terlalu banyak yang dapat dilihat, sebab Anton dan lima orang lain yang masih di sana, sedang sibuk menata barang bawaan. Ini hari terakhir HFE ada di Yogya. Selain kami, ada satu kelompok lain yang sudah menghubungi Anton hari itu. Mereka akan menginap, sekaligus menjadi pengunjung terakhir.
Suasana di dalam.
Sambil menunggu Anton dan temanku ke masjid untuk magriban, aku ngobrol dengan... ah aku lupa, sulit sekali namanya, salah satu penghuni asal Rusia. Bersama istrinya yang juga menginap di sana, dia akan ke Danau Toba dengan cara menumpang. "I know it will take a long time, maybe two weeks," katanya. 

Ia merasa, perjalanan dengan cara menumpang selalu menyenangkan. Ia akan melihat hal yang tidak dilihat oleh pejalan 'regular'. Berinteraksi dan melihat keseharian warga lokal adalah hal luar biasa yang akan didapat. Kini aku jadi tahu, bahwa menumpang tak sekadar alasan modal cekak. Ada yang melakukannya karena ingin mendapat pengalaman berbeda.

Percayalah, ini bacaannya: BUKU TAMU! #soktau
Anton datang dan meminta kami mengisi buku tamu. Kami adalah pengunjung ke 141 dan 142. Dari seluruh nama, hanya satu yang kami kenal, Fame. "Pengunjung rumah ini datang dari 17 negara," kata Anton. Mereka datang dan pergi semau mereka, tak ada batasan hari atau malam untuk menginap. Jika mereka menginap, lalu pergi dan ingin kembali lagi, itu diperkenankan.
35. Nama teman kami [semua kontak kusembunyikan]
Rata-rata jumlah penginap 10-20 orang per malam. Paling banyak hingga 30 orang--ini di akhir pekan. Di rumah yang sangat mungil itu, bisa kebayang bagaimana mereka merebahkan diri?

Sebab tak disediakan kasur/dipan, tiap penginap perlu membawa sendiri alas tidur masing-masing. Ada yang membawa tenda, ada pula kantung tidur. Anton mendapatkan rumah ini atas bantuan seorang anggota CS Yogya, lalu menyewanya selama tiga bulan.  

Mengapa Yogya?
Yogya tidak macet seperti Jakarta dan Surabaya. Yogya memiliki transportasi publik yang baik, dan semua orang ingin ke Yogya sebab potensi wisatanya. Apalagi budayanya yang menarik. Ini kata Anton.
Aturan jam malam di lingkungan sekitar.
Aku sangat menyukai peraturan di rumah ini. Ada aturan yang menurutku 'sangat Indonesia'; seperti rokok (meski orang Indonesia akan sangat sulit diminta tidak merokok di rumah, apalagi di pekarangan sekitar), minuman keras, pakaian sopan, harus mandi dan jam malam. Menurut Anton, secara garis besar aturan itu juga digunakan di rumah-rumah lain yang ia buka di berbagai negara. Hanya saja, ada penyesuaian sesuai situasi dan kultur setempat. "Nowadays it becomes common rules, everywhere," katanya.
Kamar mandi dengan wece jongkok di ujung sana.
Rumah ini disewa dengan perabotan dan alat minimalis. Hanya ada satu set kursi yang biasa digunakan di ruang tamu, kompor gas dua tabung dan sejumlah alat masak dasar, serta beberapa botol tempat gula, teh dan kopi. Sebagai tempat-tinggal-bersama yang boleh dimasuki siapapun, menurutku rumah ini cukup (!) bersih. Mungkin sebab aturan menegaskan penginap untuk ikut beberes.
Percayalah, ini bacaanya: GULA! #emangiya
Setelah menutup rumah ini, Anton akan menjelajah Malaysia. Mungkin akan kembali lagi ke Indonesia. Apakah rumah yang sama akan dibuka lagi di tempat lain di Indonesia? "Me? Not!" seru Anton. Namun tak menutup kemungkinan jika ada orang lain yang melakukan hal sama, meski tidak di bawah manajemen Anton. "You can make it if you want!"

Ini yang sangat menarik bagiku. Jika punya rumah nanti--yang entah kapan--aku sangat ingin membuat rumah singgah seperti ini. Keinginan yang sudah terencana sejak empat tahun lalu...

Di seberang sana adalah stasiun.
Sebagai pejalan dengan jam terbang tinggi, aku salut dengan Anton yang selalu menyempatkan beribadah, bahkan di masjid yang jaraknya tak dekat juga dari rumah ini. Sebagai orang Rusia yang kukenal sangat kaku (jaman kuliah punya beberapa teman Rusia yang kalau duduk aja pakai aturan kaya tentara lagi di barak), aku salut dengan keramahan teman-teman di rumah ini.

Kutawarkan rumah keluargaku untuk menginap, jika mereka ingin kembali ke Yogya. "I don't live here, but friends from some country are just come, meet my family and stay," kataku. "Inshallah," jawabnya--Anton sangat sering menggunakan kata ini.

Trims telah berbagi cerita. Cerita seru tentang mereka yang menumpang pada pejalan lain, tentang dia yang menampung para penginap. Sangat menginspirasi! [ini salah satu contoh rumah sejenis]

Gambar paling atas: Anton di kiri, aku paling kanan (dua lainnya lupa nama...). Rekap kunjungan di House for Everyone Yogyakarta dapat dilihat di Facebook Anton di sini.

Mlekom,
AZ

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata