Wednesday, May 20, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:31:00 PM | No comments

Harkitnas di Muskitnas


Timeline medsos dihebohkan skenario penutupan sejumlah ruas jalan, akibat aksi mahasiswa sambut 20 Mei. Kesibukan Polisi dan Tentara juga tampak di Bundaran HI yang kulewati pagi tadi. 

Mengapa harus demo besar-besaran di 20 Mei? Mengapa harus mengusung isu penurunan Presiden? Penasaran dengan pertanyaan itu, aku menulis "Hari Kebangkitan Nasional" di mesin pencari. Malah nyasar ke portal ke Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas). Lalu lihat jam, masih ada 30 menit sebelum museum tutup. Langsung cari transportasi idaman: Ojek!

Berbekal alamat yang kucatat: sekitar Senen, kami bergerak dari RSIA Budi Kemuliaan, tempat rapatku seharian tadi. Bapak Ojek belum pernah dengar nama museum ini dan tak familiar dengan nama Jalan Abdul Rahman Saleh. Setelah nyasar dan bertanya satu kali, kami berhasil. "Oaaalah, RSPAD!" seru kami bersamaan. Museum ini memang terletak di sebelah RSPAD Gatot Subroto

Sebab waktu yang mepet (museum tutup jam 15.00, aku baru tiba pukul 15.00), kusempatkan berkeliling dulu, tanpa banyak membaca informasi yang tersaji di ruang pamer (trims pada teknologi kamera yang dapat dokumentasikan tulisan, untuk dibaca kemudian).

Di depan pintu masuk terdapat sebuah podium merah putih. Rupanya pagi tadi ada upacara bendera, dilanjutkan seminar mengenai Kebangkitan Bangsa. Museum hari itu ramai kunjungan. Selain murid sekolah, juga ada rombongan pesepeda motor berseragam dan sejumlah anggota DPR-RI. Keramaian ini akibatkan aku dapat leluasa melihat-lihat hingga sore, sebab di hari ini museum tutup lebih lama. (Oh ya, hari ini juga tak diberlakukan tiket masuk).



Ternyata museum sedang menyelenggarakan pameran tentang HOS Tjokroaminoto. Meski beliau bukan warga STOVIA, dan tunas gerakannya dimulai di rumah Gang Peneleh Surabaya, boleh lah ya disambung-sambungkan. Toh beliau juga anggota Boedi Oetomo.

Selain gedung megah yang sangat terawat dan luas lahan yang menakjubkan di tengah kepadatan kawasan Senen, aku kagum dengan keseriusan pengelolaan museum ini. Tak seperti museum yang dikelola pemerintah kebanyakan (uhuk!), manajemen museum ini serius menata koleksinya.

Pertama, ada alur pengkisahan yang jelas.
Museum ini memiliki sebuah lorong (bisa disebut demikian?) yang terdiri atas sejumlah ruangan. Ruangan ini dibagi berdasar sejarah perjalanan Ilmu Kedokteran di Indonesia.

Kedua, koleksi repro.
Niat banget! Begitu aku menilai benda-benda pajangan yang mengisi museum ini. "Diusahakan dibuat sesuai bentuk aslinya," kata Pak Tri, staf museum. Lampu-lampu cantik yang tergantung di nyaris seluruh ruangan, tempat tidur beserta lemari dan koper, serta berbagai benda pajangan lainnya. Semua benar-benar membantu pengunjung untuk merasakan suasana di masa itu.

Satu yang aku tidak terlalu suka--meski sangat membantu memberi gambaran akan situasi masa lalu--adalah keberadaan patung-patung manusia yang terlalu banyak. Menakutkan, bagiku. 



Tak hanya tentang STOVIA dan sejumlah siswanya yang kemudian penggagas Boedi Oetomo, namun juga memamerkan cerita perjuangan tokoh lain, seperti RA Kartini, Soekarno, dan KH Ahmad Dahlan.

Jika tahun lalu aku dan sejumlah teman menyelenggarakan Jelajah Boedi Oetomo di Yogyakarta, aku senang tahun ini bisa berkunjung ke Muskitnas. Mending jalan-jalan mengenal pejuang, daripada sok berjuang tapi bakar ban, rusak pagar, nutup jalan dan berbagai aksi lain yang merugikan. 

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Gambar lain ada di sini.

Mlekom,
AZ



about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata