Tuesday, April 29, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 11:42:00 AM | No comments

Mira ato AbDal?

Mira, sepupuku, punya hobi yang sama denganku. tahun 2006 kita s4 pgn ikutan eagle award. itu lho, ajang kompetisi film dokumenter yg diadain sebuah TV swasta nasional. tapi gak kesampaian karena kita telat, soalnya waktu itu aku sedang tour da sumatera.

tahun 2007 gak kepikiran sama sekali, soalnya sibuk dg kuliah. karena pertengahan 2006 aku mulai kuliah lagi.

tahun ini pgn lagi. kebetulan temanya hampir sama dengan ide kami dua tahun lalu.

aku pgn angkat tentang berkurangnya lahan hijau di Tanah Batak akibat meningkatnya jumlah permintaan untuk tanah perkuburan --mau tahu bagaimana? tunggu waktunya, ya!

nah, kemaren setelah melihat2 sayaratnya dan menuliskan ideku, eeh aku malah teringat ama cerita AbDal tentang masyarakat Nias yang tanpa sadar merusak ekosistem alam akibat mahalnya bea sosial/bea adat untuk pembuatan rumah.

naah, ini juga menarik bgt! malahan aku gak bisa mikir betapa indah dan menjualnya (Nias, gitu lho) ketika sudah jadi film. Tapi permasalahnnya adalah, aku tidak punya kedekatan emosional dg tempat itu (tidak seperti Balige, Tanah Batak yang menjadi ideku sebelumnya), padahal ini adalah salah satu syarat menjadi peserta.

Nah, kebetulan AbDal menangani persoalan tersebut. Dia pernah cerita panjang lebar setelah pertemuan LSM dan para "kepala suku" setempat yang diselenggarakan kantornya beberapa bulan lalu. Dia sempet minta pendapatku tentang bagaimana melestarikan rumah tinggal tradisional di tengah-tengah benturan antara kesulitan ekonomi, tuntutan adat, dan kemudahan akses sumber daya alam (yang dimanfaatkan sampai SDA tsb terancam membuat ketidak seimbangan ekosistem).

Menarik, kan? --yah, lagi2 ceritanya aku simpan terlebih dahulu, ok!

Nah, dengan didokumentasikan lewat film, kupikir hal itu akan menjadi sangat menarik. permasalahannya adalah selain faktor kedekatanku dengan cerita (yang tidak punya hub apapun dgku), adalah waktu luang yang dipunya AbDal untuk mengikuti serangkaian kegiatan tsb.

Tapi tadi sudah coba kuutarakan. Entah bgmn nantinya, karena dia minta aku kirimkan email. Tapi kalau ada waktu mudah2an aku bisa main ke sana, observasi. paling tidak biar aku menyaksikan langsung cerita2 itu.

Kapan? Skripsi, euy!

Okelah, masih lama ini. ntar kalo AbDal gbs ya yg brg Mira ajah.

Ato, boleh gak ya, jadi peserta untuk dua cerita? maruk bgt deh!

AbDal, U R rocks! ;p
Posted by adriani zulivan Posted on 11:33:00 AM | No comments

AbDal Nelp

AbDal, AbDal...

Kebiasaannya ngecek kedua nomerku. padahal biasanya pasti yg ditelp ke operator yang sama dg nomernya.. aneh. spt biasa, td miskol dulu ke nomer lama, 10:54 am, sebelum dilanjutkan dg telp ke nomer baru yg sama operator itu, 10:55 am.

Blg bahwa dia barusan telp ngucapin bela sungkawa ke oom-nya yang kehilangan bapak, tapi HP gak aktif, telp kantor yang angkat asistennya, dia gak di tempat. terus minta aku sampein kalo ketemu ma si oom.

ya sudah, okelah, kalo ketemu, yaa... Terus bilang bahwa rencananya ke Jkt tanggal 1 besok udah pasti, 10-12 hari.

Lama banget? kataku.
Istirahat, katanya.

Hmm, apa dia kecapean ya, di sana? entahlah. tapi td suaranya seperti agak sakit: batuk/pilek.

Okelah, cu soon... MU!

Friday, April 25, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 4:04:00 PM | No comments

SKRIPSI to go!

















Ini nih ide skripsinya: transformasi keintiman di ruang-ruang publik Yogyakarta.
Jumat lalu berniat penelitian lagi, tapi ternyata gak dapet surat izin karena gak ketemu sama dosen pembimbung (untuk tandatangan).

jadi mumet bgt, padahal semua kru sudah siap wal afiat (model, cam.man, observer, etc), ditambah lagi dengan bantuan teman-teman dari DEVIANART Jogja (so srry, guys!). Jadi kita cuman nongkrong di Kafetaria Gelanggang untuk ngomongin konsep.

Nah, hari ini, seminggu setelahnya, aku terpaksa bedrest gara2 tabrakan motor. luka lecet, lebam, dan kram sejumlah sendi. Hwaaa...
Soru lagi, guys. Kenapa kudu jumat? soalnya cari momen: jemaah jumatan masjid kampus.

Yasudah, hope next friday.

Anyway, anybody wannabe my model/talent? Come & fun fun with us!

Posted by adriani zulivan Posted on 3:37:00 PM | No comments

Ketika Nyawa Seseorang Ada di Tangan Kita


Nyawa seseorang di tanganmu!
Pernah merasakan hal itu? Aku tidak!

Tapi seseorang (A) pernah mengatakan bahwa keputusanku atas suatu hal mengenai hubungannya denganku (ini sama sekali bukan urusan hati) akan berpengaruh terhadap umur hidup seorang (B).

Nah, A dan B mempunyai hubungan darah, sedangkan aku samasekali tak memiliki hub darah dengan keduanya, bahkan aku tak mengenal B sama sekali.
A punya bad story dengan aku. Atau lebih benar: A menggoreskan bad story dalam sejarah hidupku. Not that bad, cuma masalah rasa yang tak seharusnya ada.
Mengapa tak seharusnya ada? karena bertepuk sebelah tangan dan di luar ikatan sucinya dengan org lain. --ribet? I guess so!
Pokoknya tahun lalu dia berharap agar aku tidak memberitahu siapapun mengenai perasaannya itu (eventhough dia pernah membocorkannya pada orang lain: seorang sahabatku yang dijadikannya tempat curhat).

Beberapa bulan lalu, sebelum Lebaran, si B sakit parah sampai kritis dan membutuhkan kantong2 darah. Di situlah dia menyebut-nyebut: " Tolong, di hari-hari terakhir kehidupannya (B), saya mohon."

Karena di saat yang sama aku sudah merasa "empet" sekali dengan sikapnya dalam menyikapi perasaan terlarangnya itu. A takut aku melakukan hal2 yg bisa menyudahi hidup si B.

A sempat menyebut-nyebut: "...turunan terakhir imam...". Entah si B ada hubungannya dengan para pemuka agama (but he is/was not a moslem) itu, entah apa. Tapi se-empet2nya, aku juga punya otak, karena aku manusia. Enggak ada sedikitpun niat untuk menyudahi kehidupan si B.

Nah, kenapa jdi inget lagi? karena dua hari lalu si B benar-benar menghadap Khalik, tanpa tanganku.
Seorang teman guyon: wah, sekarang bisa donk bales dendam!
Aku: Tidak, trims, sudah terlalu banyak disibukkan dengan urusan tidak penting dengan org itu (si A).

Okay, let's get loud! --enggak nyambung?



[20130609.ft.]


Friday, April 4, 2008

Posted by adriani zulivan Posted on 8:40:00 AM | No comments

Resesi: Amerika, Tempe, dan Kafe


Oleh ADRIANI ZULIVAN

Amerika Serikat di Tepi Jurang Resesi Ekonomi. Begitu headline di media-media internasional. Kondisi ini dikhawatirkan menjadi pemicu resesi global yang dampaknya akan dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Bagi kita, resesi itu akan berdampak besar, terutama di bidang ekspor dan konsumsi. Bila raksasa ekonomi AS mengalami krisis, secara otomatis ekspor Indonesia akan dibatasi. Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri yang mengandalkan bahan impor akan melambung harganya, atau kekurangan stok. Untuk mendapat gambaran krisis nanti, tak perlu berpikir jauh mengenai harga saham di kancah perekonomian dunia. Mari memikirkan nasib tempe. Ya, tempe. Makanan yang memiliki banyak penggemar di negeri asalnya, Indonesia, ini akan hilang jika pengusaha kesulitan mendapat kedelai sebab kedelai, bahan baku utama panganan ini, juga diimpor.

Ah, cuma tempe! Jika itu yang ada di pikiran Anda, mari membuka kembali file-file mengenai krisis kedelai. File-file yang bahkan belum ditutup itu mengingatkan kita bagaimana eksistensi produk pertanian yang selama ini tak begitu diacuhkan tiba-tiba menjadi perhatian. Bukan hanya oleh petani, produsen tempe, tukang gorengan, dan orang Jawayang notabene penggemar berat tempemelainkan juga bagi orang-orang yang masuk kategori tidak doyan dan tidak peduli tempe. Tiba-tiba semua file itu merujuk pada tempe. Tukang angkringan menghilangkan lauk oseng-oseng dalam menu nasi kucing makanan sehari- hari kitamahasiswa?

Masih ada nasi kucing lauk sambal teri! Memang, kita tak akan mati hanya karena tak bisa makan tempe. Begitu suara yang tak berpihak pada orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada jenis makanan berposisi kasta terendah dalam kelompok makanan kaya protein itu. Urusan tempe urung usai, kini bahan bakar minyak (BBM). Konversi minyak tanah ke gas, misalnya, membuat sebagian besar masyarakat menjerit. Jika tempe dan minyak tanah tak juga menggugah peduli, mari menakar krisis ini dari perspektif lain. Bagaimana jika dengan alasan efisiensi, krisis itu kemudian membatasi kita untuk berinternet ria di hotspot kampus, jika pada jam tujuh-belas-dua-dua seluruh mal dan kafe ditutup demi kebijakan hemat listrik, atau jika kendaraan kita tak bisa membawa kita wira-wiri untuk gaul dan mejeng sana-sini akibat pembatasan subsidi bensin?

Krisis tempe dan minyak tanah serasa jauh dari kitaanak mudakarena tidak dihadapi sehari-hari: Itu kerjaan ibu-ibu! Akan tetapi, jika menyentuh aktivitas keseharian kita, dari kebutuhan pendidikan (internet untuk mencari bahan kuliah) hingga kebutuhan hiburan (mal, kafe), barulah kalang kabut. Mengapa kalang kabut? Ketidaksiapan menjadi penyebab. Untuk itu, perlu persiapan dini dengan membangun kesadaran diri. Krisis bisa jadi bukan hal baru bagi kita. Sejarah negeri ini baru saja bangkit dari keterpurukan krisis moneter yang masih membekas trauma bagi orang-orang yang 11 tahun lalu sumber penghidupannya terenggut. Itu cakupan lokal. Bagaimana jika krisis global benar- benar terjadi? Penting untuk membangun sense of crisis agar kita siap. Jangan menunggu Amerika Serikat terpuruk. Sudah basi jika mendengungkan Belanda masih jauh karena Amerika yang secara geografis letaknya lebih jauh lagi dari Indonesia itu kini seolah berada di depan mata untuk menghantam perekonomian kita. Maka, bersiaplah! 

ADRIANI ZULIVAN Mahasiswi Ilmu Sosiatri, Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 
Foto Dok. Pribadi
*
Dimuat di Rubrik Akademia - Forum, Harian KOMPAS Edisi Jateng - DIY pada 4 April 2008.
Tautan tulisan ini di KOMPAS, ada di sini.
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata