Monday, April 15, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:07:00 PM | No comments

Komunitas Bicara Pusaka


Desain poster: Priyo Atmo Sancoyo

Term of Reference
Komunitas Bicara Pusaka

Apa yang muncul di benak Anda ketika mendengar kata “pusaka”? Jawabannya tentu beragam. Sebagian besar orang menafsirkan sebagai benda bertuah nan sakral yang disucikan. Keris dan makam, misalnya. Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) menyepakati “pusaka” sebagai padanan kata heritage (Inggris). Kesepakatan ini dituangkan dalam Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003. 

Mengapa kata heritage tidak diterjemahkan dengan kata “cagar budaya” yang kerap digunakan masyarakat? Sebab pengertian pusaka sangat luas. Tentu kita masih ingat syair lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki. Lagu ini menyebut Indonesia dengan tanah air pusaka. Itu berarti bahwa pusaka adalah segala kekayaan yang terdapat di tanah air.

Segala kekayaan ini terdiri atas pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana (landscape). Ketika mengartikan heritage dengan “cagar budaya”, maka makna heritage tersebut akan menyempit. UU 11/2010 menyebutkan bahwa cagar budaya adalah warisan budaya yang hanya bersifat kebendaan (tangible) seperti bangunan, monumen dan situs. Secara status, cagar budaya adalah segala benda yang sudah disahkan oleh undang-undang (melalui penetapan) terkait statusnya sebagai benda cagar budaya (BCB). Ini berarti bahwa hanya sedikit bagian dari begitu melimpahnya pusaka di tanah air ini.

Pendidikan Pusaka
Keragaman budaya dan kekayaan alam Indonesia adalah satu kesatuan yang harus dilestarikan, sebab keberadaannya bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Untuk itulah muncul beragam organisasi pemerhati pusaka di berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk Yogyakarta. Mereka hadir untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya pusaka bangsa.

Tak terhitung jumlah organisasi yang bergerak di isu ini. Segala sektor berperan penting. Ada kelompok warga, LSM, akademisi, dan pemerintah. Sayang, besarnya jumlah ini belum berbanding lurus dengan upaya pelestarian pusaka tanah air. Banyak faktor menjadi penyebab, termasuk minimnya jejaring antar komunitas ini.

Untuk itu, Komunitas Senthir Jogja bermaksud untuk mengundang berbagai komunitas pemerhati pusaka di Yogyakarta untuk bersua, berkenalan dan berbagi. Menggunakan metode Pecha Kucha, tiap komunitas diajak untuk memperkenalkan gerakan pelestarian pusaka yang selama ini dilakukannya. 

18 April
Oleh International Council for Monuments and Sites (ICOMOS), tanggal ini ditetapkan sebagai Hari Pusaka Dunia (International Monuments and Sites Day). Seluruh negara memperingatinya dengan cara-cara sederhana, berharap momen ini dapat membangkitkan ingatan publik tentang perlunya menjaga kelestarian pusaka. 

Cara-cara tersebut sesederhana jelajah situs, kunjungan ke kelompok kesenian, menggambar bangunan tua, mencabuti rumput liar sekitar candi, demo masak makanan tradisional, dan seterusnya. Di Yogyakarta, kita punya ajang berbagi antar komunitas. “Komunitas Bicara Pusaka”.

Pecha Kucha 
(Jepang: ngobrol) adalah sebuah metode presentasi yang melibatkan berbagai kelompok dalam satu waktu tertentu. Presentasi ini berupa ‘estafet’, yaitu usai presentasi oleh satu presenter, presentasi akan dilanjutkan oleh presenter berikutnya. Yang menarik adalah presentasi 20 x 20; artinya 20 slide dengan masing-masing slide hanya diberin waktu 20 detik untuk menjelaskan. Total waktu untuk tiap presenter adalah 6 menit, 40 detik. 

Tak ada sesi tanya-jawab. Diskusi digantikan dengan proses pendekatan oleh orang per orang kepada masing-masing presenter yang diminati. Jadi akan berupa pendekatan informal usai presentasi. Inilah inti dari metode pecha kucha: Ngobrol!

Komunitas Senthir
Juga dikenal sebagai Semangat Muda Komunitas Pusaka Yogyakarta, adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh sekelompok pecinta pusaka kota. Mereka datang dengan berbagai keahlian, dengan kesamaan pandangan untuk mewadahi anak-anak muda.

“Komunitas Bicara Pusaka” merupakan bagian dari peringatan Indonesian Heritage Year (IHY) 2013, yang didukung oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI). IHY merupakan peringatan dua dekade perjalanan gerakan pelestarian pusaka Indonesia. Bertema “Pusaka untuk Kesejahteraan Rakyat”, peringatan IHY akan berlangsung sepanjang tahun 2013 dengan beragam kegiatan yang melibatkan berbagai kelompok pelestari di nusantara.

Acara
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2013, pukul 19.00 WIB, bertempat di Dalem Sopingen, Kotagede, Yogyakarta. Seluruh peserta diharapkan mengenakan busana daerah, sebagai semangat pelestarian pusaka.

Peserta
  1. Komunitas Kampung Pusaka Alun-alun Kotagede
  2. Komunitas Blusukan Kampoeng Kauman
  3. Komunitas Warga Jogja Berdaya: Jembatan Kewek vs Privatisasi & Komersialisasi Pusaka
  4. Tim Pendidikan Pusaka BPPI 
  5. Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) Indonesia
  6. Heritage Camp Jogja
  7. Indonesia Sketcher Jogja
  8. DKV ISI: Kampus to Kampung
  9. Paguyuban Onthel Jogja: Jelajah kampung bersepeda
  10. Forum Komunikasi Winongo Asri: Kampung hijau
  11. Batik Merapi Balerante: Kebangkitan Ekonomi Pasca Bencana, Melestarikan Tradisi
  12. Agate Studio: Peluncuran game situs sejarah 
  13. Karang Taruna Nglanggeran
  14. BPCB Yogyakarta
  15. IVAA: Arsip Budaya Nusantara

Mari membicarakan pusaka! 
Reservasi gratis di prio.architect@gmail.com


Mlekom,
AZ
about it

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata