Wednesday, July 2, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 7:40:00 PM | No comments

ML


Tiap Papa bilang "ulang tahun, ulang tahun", kami akan rebutan meniup lilin. Maksud 'ulang tahun' itu adalah nyuruh matikan lilin ketika listrik nyala kembali. Kegiatan seru usai mati lampu. 


Mati lampu sangat sering terjadi di Sumatra. Sampai ada semacam himbauan untuk tidak membeli barang elektronik bekas orang Medan, sebab listrik sering jeblok yang berpengaruh pada kualitas mesin yang sering di-on-off dengan paksa. Ini semacam himbauan untuk tidak membeli mobil bekas plat B, sebab sering terkena banjir.


Masa kecil di Sumatra adalah masa menikmati mati lampu. Begitu listrik padam, langsung berebut main senter, cari lilin, nyalakan kompor gas untuk mengambil api, tancapkan lilin ke tatakan--berupa tempat lilin bercabang, lepek kramik, atau di atas tutup kaleng-- bermain-main dengan lelehan lilin, sampai ritual "ulang tahun, ulang tahun" tadi.


Bermain lilin selalu menjadi kegiatan menyenangkan di masa kecilku bersama kakak-adik. Mungkin tak hanya masa kecil kami, namun juga anak-anak lain. Dalam jamuan makan malam di sebuah restoran di Singapura, seorang bocah terus memandang lilin di meja kami. 
Lilin beneran.
Melihat tatapan si bocah, temanku memain-mainkan lilin itu. Lilin di dalam gelas buram kecil. Di resto-resto Indonesia, biasanya diletakkan dalam gelas sloki bening, diberi sumbu yang mengapung di permukaan minyak goreng. Saat temanku menutup bibir gelas, lilin mati. Lalu digenggamnya lagi, lilin nyala. Si bocah langsung melorot dari pangkuan orangtuanya, datangi meja kami.

"Do you wanna try?" kata temanku. Si bocah mengangguk dan menyodorkan tangannya. "No way, the fire will hurt you!" cegahku. Si bocah menarik tangannya. Temanku lalu mengarahkan bibir gelas ke arahku. Grasp! Itu cuma elektrik, pakai baterai. Hahahaha. Lalu kuberikan pada si bocah, yang batal memegangnya karena panas. Nah tu anak bule tertarik, ya tapi bocah mana sih yang nggak suka bermain lilin?
Lilin ecek-ecek.
Jadi teringat urusan lilin dan mati lampu. Ini listrik di Yogya barusan padam. Bentar sih, sekitar 10 menit. Tapi tetap merusak barang elektronik ya? Tapi beruntung lah, gak selama di Medan yang bisa 2 jam sekali mati dan bisa 3-4 kali sehari. Whadda!

ML. Begitu si Kadep nyebut Mati Lampu. Gambar pertama dari sini.

Mlekom,

AZ


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata