Wednesday, April 29, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 10:52:00 PM | No comments

Brot!


Tiba-tiba sakit perut. Lari ke toilet terdekat. Cek flush, ada airnya. Sip. 

Brot! *ups*. 

Lega. 

Tangan raba-raba ke belakang, gak nemu yang dicari. Memalingkan mata ke belakang, juga nggak nemu.

Berdiri, turunkan seat cover. Tetap nggak nemu. Panik!

Duduk lagi, sobek tisu, lap ke sumber brot. Berdiri, jalan dua langkah. Ambil sabun pencuci tangan, sodorkan ke sumber brot. Tampung air dengan telapak tangan mengatup. Jalan kembali ke tempat duduk, sodorin air ke sumber brot. Sobek tisu, lap ke sumber brot. 

Bolak-balik berdiri, tampung air pake tangan, kembali duduk, siram ke tempat brot, tisu, berdiri lagi. Begitu seterusnya hingga empat kali.

Kelamaan. Yang kelima kali, jalan dua langkah. Pegang washtafel, goyang-goyangkan sedikit. Kuat. Aman. Berdiri membelakangi kaca. Hup! Posisi sumber brot pas di lubang washtafel. Bersih. Lega!

Hup! Turun dari washtafel, tarik banyak tisu. Taro ke lantai. Kaki menari, ngelap air yang tercecer dari sela-sela jari tangan yang tadi bolak-balik menampung air. Lumayan kering. Beres!

Keluar, temui teman-teman yang masih duduk manis di pelataran restoran ini. Aku ceritakan kejadian di toilet tadi :p

Ah, kalau saja tadi aku tahu toilet itu nggak punya semprotan air untuk ceb*k, aku pasti akan bawa botol akuwa. Kalau sedang di luar negeri begitu. Isi dulu botol dengan air di washtafel toilet, lalu melaksanakan hajat brot.

Aku gak betah kalau cuma bertisu. Risih aja sih, apalagi itu najis tak termaafkan yang nggak bisa dibawa shalat. 

Yawes, sekian cerita jorok. Eh cerita bersih, demi bersih. Brot!

Gambar milik Amanjiwo Resort.

Mlekom,
AZ





Tuesday, April 21, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 7:45:00 PM | No comments

Penugasan Ambisius


Tahun lalu berniat merayakan Hari Kartini di Rembang dan Jepara, kotanya RA Kartini itu. Berhubung 21 April tahun ini jatuh di hari Selasa, aku tak mungkin ke luar kota. Kebetulan pada Jumat, aku ditugaskan ke Yogya untuk menghadiri undangan peluncuran program IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

Sedikit tentang IVA:

Kementerian Kesehatan RI, bersama Jhpiego dan Ford Foundation, meluncurkan program Cervical and Breast Cancer Prevention (CECAP) pada Januari 2007. CECAP merupakan sebuah metode pendeteksian kanker serviks atau mulut rahim dengan penggunaan asam asetat. Metode ini dikenal dengan sebutan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

Sebelumnya, pap smear adalah metode yang banyak digunakan untuk mendeteksi kanker serviks. Selanjutnya, IVA mampu menggantikan metode tersebut. IVA lebih praktis, sebab tidak membutuhkan tes laboratorium. Biaya juga sangat murah. Selain itu, hasilnya dapat langsung diketahui.

Lembaga tempatku bekerja adalah penggagas awal penggunaan metode IVA di Indonesia. Metode ini, bahasa mudahnya, meringankan biaya pemeriksaan kanker serviks. Jika metode pap smear menghabiskan dana hingga jutaan rupiah, IVA hanya membutuhkan sebotol asam cuka (yang biasa digunakan untuk memasak) seharga sekitar Rp 5.000 saja.

Setelah diperkenalkan delapan tahun lalu, kini Pemerintah RI menetapkannya sebagai program nasional. Akhirnya. Penetapan ini dilaksanakan di Yogya, mengambil momen Hari Kartini.

Ditugaskan di Yogya, bagiku selalu, berarti pulang-gratis-dengan-fasilitas-masksimal. Meski agendanya hari Selasa, aku langsung mengambil penerbangan Jumat sore dan kembali Rabu pagi. Kantorku memang memperbolehkan mengambil hari dan waktu kapanpun, meski untuk perjalanan di luar pekerjaan. Seninnya? Senin aku ikut gladi resik dengan panitia.

Panitianya adalah ibu-ibu OASE. Agenda ini disiarkan langsung ke 34 provinsi melalui jaringan TVRI. Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta ini dijadikan pusat agenda, dimana hadir Ibu Negara (Ibu Mufidah, istri Wapres, mendampingi peluncuran di Sulawesi Selatan), Menteri kesehatan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Gubernur DIY beserta Ibu GKR Hemas, Direktur Utama BPJS Kesehatan, serta jajaran pejabat daerah.

Fungsiku apa? Duduk manis sebagaimana undangan lain?
Maunya sih begitu :p

Tapi... aku diminta mewawancarai Bu Iriana, Bu Nila Moeloek, dan Sri Sultan. Merekam testimoni mereka terkait program IVA, dalam kaitannya dengan peran organisasiku. Nahlo, jadi susah kan. Programnya kapan, wawancaranya kapan!

Sejak pagi aku memasang kamera lengkap. Sampai nggak enak hati dengan tripodku yang agak menghalangi pandangan undangan lain. Saat masuk ke ruang utama (undangan duduk di bawah tenda yang dipasang di halaman Puskesmas Nanggulan, tempat penyelenggaraan agenda), aku ditegur Paspampres.

Diminta duduk di luar, sebab nggak enak sama wartawan, dll dsb, seperti biasanya. Lagian, sepanjang acara berlangsung, tidak memungkinkan untuk melakukan wawancara. Acara hanya berlangsung selama dua jam. Sejam pertama berisi agenda sambutan dan tetek bengek lainnya, sejam terakhir untuk telekonferensi dengan 10 kabupaten/kota lainnya.

Para VVIP langsung kembali ke mobil, bahkan sebelum keseluruhan agenda berakhir. Kapan mau wawancara ya? "Ibu Negara memang selama ini nggak mau diwawancara," kata Bu Sri--panitia OASE yang berhubungan dengan kantorku, saat gladi resik kemarin.

Baiklah.

Informasi bahwa aku mendapat undangan untuk meliput agenda ini menjadi semacam angin segar bagi kantorku. Dari pusat sana di Baltimore, mereka berharap ada setidaknya satu kali saja Bu Negara mengucapkan nama kantorku. Nyatanya, tak ada!

Ya sudah lah, ini memang penugasan yang sedikit ambisius. Sebagaimana kubilang tadi: proyeknya kapan, liputannya kapan :) Paling tidak, aku berhasil menangkap momen-men. Seperti permintaan Baltimore: Maybe the First Lady mentions *** (organisasi kami), at least you can capture the situation.

Tapi bagiku, ini bermakna mudik nyaris seminggu ditanggung rakyat Amerika :p
Atau, sebuah kesempatan bertemu (ah tidak juga, hanya melihat!) Nyonya Jokowi, setelah sebelumnya sempat diskusi bareng suaminya di Gubernuran Jakarta.

Eh, selamat Hari Kartini!

Mlekom,
AZ

Tuesday, April 14, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:11:00 PM | No comments

Domestik di Publik


P: Masa berduaan di kantor!
L: Siapa yang bilang?
P: Ada yang bilang
L: ...
P: Pegang-pegang tangan...
L: Siapa yang bilang?
P: Semua orang bilang. Banyak yang lihat. 
L: ...
P: Mereka bilang; percuma rajin solat, rajin puasa...

Obrolan P (perempuan) & L (laki-laki) yang duduk di sampingku ini terhenti, saat bus tiba di halte itu.

Obrolan domestik di ruang publik.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 8:42:00 PM | No comments

G-String Mana G-String


Ceritanya celana baru. Baru beli empat warna model sama. Baru hari ini pakai yang putih. Dipadukan dengan tanktop merah dan luaran crop-top blus berkerah garis hitam-putih.

Sampai kantor, bikin kopi di pantri. Waktu nungging-nungging di depan dispenser, ada teman bilang: Wiii, pake celana item ya? Keliatan tuh! 

Ya benar saja, ada segitiga hitam tercetak di bokong celana putih itu. Berhubung waktu pakai pakaian nggak ngeliat-liat bagian belakang, jadinya ya... malu banget!

Oh g-string mana g-string!

Mlekom,
AZ


Thursday, April 9, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 3:05:00 PM | No comments

Sik-asik!

Pekan lalu baru mendapat perpanjangan kontrak. Mungkin sudah saatnya untuk cerita tentang segala hal asyik tentang tempat kerjaku sekarang.

Keasikan pertama: Lokasi kantor.
  1. Bukan kawasan semrawut, sebab berada di daerah yang disebut-sebut sebagai Segitiga Emas Jakarta. Akibatnya, kawasan ini meski macet tetap teratur. Dilewati seluruh moda transportasi publik --KRL tentu tidak, namun ke stasiun sangat dekat dan bisa dengan angkum apapun. Ada banyak jalur alternatif; jadi kalau nunggu Trans Jakarta lama (ini tetap menjadi moda andalan, sebab tidak terkena macet) dan naik kendaraan roda empat macet, bisa pakai ojek yang hafal jalan tikus --jalan melalui komplek perumahan elite yang sama sekali tidak semrawut.
  2. Lokasi dekat dengan segala kebutuhan. Pasar tradisional --tempat umum yang paling sering kudatangi-- dekat. Beragam mal, dari yang sekelas ITC sampai yang terbesar di Jakarta, ada di dekat situ. Pasar induk juga nggak jauh --pasar induk favoritku cuma Tenabang :) Terminal gak dekat sih, tapi segala angkutan sepertinya berhenti di terminal terdekat. Ada dua stasiun yang dekat sini.
  3. Sebab lalu lintas di sekitar kantor dan tempat tinggal tidak terlalu semrawut, aku sih sudah beli sepeda. Berharap bisa bersepeda ke kantor. Jika dengan Trans Jakarta tak sampai 10 menit, mungkin mengayuh butuh lebih dari setengah jam :)
  4. Letak kantor tak jauh dari halte Trans Jakarta (ini menghemat energi kaki), dan tak jauh dari halter beragam angkum lain yang membelah kota dari segala penjuru Jakarta dan kota-kota sekitar. Nggak pernah khawatir pulang malam, sebab jalan selalu ramai.
  5. Organisasiku menyewa salah satu lantai di sebuah gedung yang terbilang baru. Gedung baru berarti masih sangat terawat. Jendelaku memamerkan pemandangan dari lantai 21, yang membuat bisa merencanakan pulang naik apa --tergantung dari pandangan mata: jalan macet atau tidak. Bonusnya, kalau malam bisa lihat lampu-lampu Jakarta. #BocahDeso
Keasyikan kedua: Lingkungan dan atmosfer kerja.
  1. Banyak pekerja Jakarta yang menempati gedung di bilangan ternama, namun memiliki hanya sedikit teritori. Teritori bernama kubikel. Aku beruntung, punya ruang 7x5 meter dengan dua meja untuk masing-masing orang dan satu telepon ekstensi yang dapat digunakan untuk telepon ke luar. Salah satu dinding ruangan berupa kaca. Kaca inilah yang menampilkan pemandangan salah satu jalan protokol Jakarta. Di ruang ini awalnya hanya berisi dua orang, aku dan supervisor. Sekarang bertiga. Nggak usah dijelasin asyiknya punya ruangan sendiri, ya!
  2. Pergaulan internasional adalah salah satu keuntungan di tempat kerjaku ini. Selain berkomunikasi dalam bahasa asing, kami juga berteman dengan orang-orang asing. Enaknya? Gak beda sih dengan organisasi lokal, hanya saja bisa memperlancar bahasa Inggris yang suka lupa kalau sering tidak digunakan.
  3. Sekitar 70% penghuni kantor adalah kaum muda usia di bawah 40 tahun. Meski begitu, single tak sebanyak jumlah jari di sebelah tangan :)
  4. Staff Meeting. Ini surga bagi anak kos sepertiku. Diadakan sebulan sekali, para emak-emak di kantor 'nyumbang' beragam makanan yang rasanya cuma enak dan enak banget!
Keasyikan ketiga: Aturan organisasi.
Seperti organisasi masyarakat publik pada umumnya; Membebaskan pegawe untuk bekerja dengan caranya sendiri. Selama pekerjaan beres.
  1. Kami memiliki jam kantor, 8-5 (tidak seperti perusahaan yang sejam lebih irit). Meski begitu, tak ada aturan baku untuk datang dan pulang on-time. Aturan itu hanya untuk memastikan pegawai bekerja selama delapan jam dalam sehari. Jika datang jam 9, ya pulang jam 6. Itu aturannya. Pada prakteknya, datanglah jam berapapun dan pulanglah jam berapapun... selama kamu bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan.
  2. Lagi nggak in the mood untuk duduk di belakang meja kantor? Kerja aja dari rumah. Selama itu Skype dan HP bisa dihubungin, aman dah!
  3. Kerja di hari Sabtu dan Minggu di dalam kota? Jangan harap dapat duit lembur! Peraturan sama berlaku di banyak organisasi internasional. Hanya saja, kamu bisa mengganti hari libur tersebut di hari lain. Namanya compensation leave (CL). CL ini bisa sampai 30 hari dalam setahun, jika ditambah jatah cuti jadi bisa libur berapa  lama tuh?
  4. Pakaian. Bisa pakai apa saja. You name it.
Keasyikan keempat: Fasilitas organisasi.
  1. Pulsa pascabayar unlimited! Tapi hapenya nggak dikasih, sih :p
  2. Selain gaji pokok yang jumlahnya segitu (hehehehe), kita juga dapat per diem yang untuk sekali perjalanan dinas dalam negeri bisa mencapai 1/4 pokok. Kalau pandai megang duit, jumlah ini bisa ditabung untuk masa depan. Cie, masa depan!
  3. Perjalanan dinas bisa terjadi setiap saat di enam provinsi daerah intervensi di Indonesia, di lebih dari 30 kabupaten/kota. Ini menambah daftar "I was here" milikku dengan cepat.
  4. Jika perjalanan di dalam kota, selain bisa menggunakan mobil kantor, juga bisa memakai voucher taksi (dari armada terbaik) dengan saldo unlimited. Voucher berlaku di seluruh Indonesia.
  5. Meski kelas ekonomi, perjalanan dengan pesawat menggunakan maskapai terbaik. Ini meningkatkan poin GFF dengan cepat! Jika kota yang dituju jauh dari lapangan terbang, maka menggunakan kereta api dengan kelas terbaik. Jika tak ada transportasi umum jarak jauh, disewakan mobil.
  6. Di tiap kota, dipesankan hotel terbaik. Meski yang menginap sama-sama perempuan, misalnya, tiap staf mendapat jatah satu kamar sendirian.
  7. Nah, aku belum pernah perjalanan dinas ke LN, belum bisa cerita fasilitas apa saja yang didapat. Tapi, jika agenda global diadakan di kantor Indonesia, kami mendapat fasilitas sama dengan staf dari negara lain, termasuk hitungan per diem dalam kurs USD.
  8. Asuransi ada dua: kesehatan dan jiwa. Ditambah BPJS (sesuai aturan negara yang mewajibkan ini). Tiap staf bisa berobat di RS, klinik, dan berbagai fasilitas kesehatan lain, di dalam dan LN. Asuransi ini, selain menanggung bea rawat jalan dan inap, juga memberi layanan untuk persalinan, general check-up, gigi, kacamata, vitamin dan seterusnya. Ini berlaku untuk  staf, suami/istri dan anak.
Sik-asik!
Banyak yang asyik, ada juga yang tidak asyik donk! Lain kali akan kuceritakan.

Yang pasti, dengan segala keasyikan ini, aku masih menikmati Jakarta--kota yang pernah kutolak sebagai daftar-tempat-tinggal. Setidaknya sampai enam bulan ke depan...

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Tuesday, April 7, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 1:04:00 PM | No comments

Geger Bumi Mataram

Geger Bumi MataramGeger Bumi Mataram by Krisna Bayu Adji
My rating: 2 of 5 stars

Nemu buku ini obralan di sebuah toko buku baru di Concat Yogya, seharga Rp 15.000. Biasanya kecewa dengan bahasa dan cara penuturan buku-buku sejenis. Tapi karena harganya cuma Rp 15.000, jadi nothing to lose.

Kebetulan saya kehabisan buku untuk dibaca di perjalanan siang harinya. Perjalanan siang dengan kereta api ke Jakarta pasti sangat membosankan.

Ternyata isinya lumayan. Bahasanya cukup baik, meski cara bertuturnya masih berulang-ulang seperti buku sejenis kebanyakan. Namun, buku ini menuturkan sejarah Mataram dengan pembagian per kerajaan, jadi sangat memudahkan saya.

Meski demikian, masih merasa perlu membuat "pohon keluarga" untuk memahami dengan mudah silsilah kerajaan Mataram Islam ini.

Begitu...

View all my reviews
Posted by adriani zulivan Posted on 12:42:00 PM | No comments

Jalan-Jalan Surabaya: Enaknya ke Mana?

Jalan-Jalan: SurabayaJalan-Jalan: Surabaya by Yusak Anshori
My rating: 2 of 5 stars

Lumayan. Bisa jadi rujukan untuk pelancong yang ingin mengenal Surabaya, tak sekadar obyek wisata yang sudah diketahui semua orang.

Di sini, saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya tentang: Apakah Surabaya memiliki motif batik dan di mana bisa membelinya? Sebab selama ini, orang hanya merekomendasi Batik Madura dan Batik Sidoarjo.

Trims untuk informasinya!

Oh ya, kejutan juga melihat ada sejumlah nama di di buku yang saya kenal.

View all my reviews
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata