Thursday, December 30, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:33:00 AM | No comments

Aku Takut Kamu Sakit [titik]



Ya.hbs ni sgra makan. Udah lapar brat [19.01]
Udah pulang? Ku mu tidur bntar.bdn agak panas.gpp [21.11]
Bwt tidur dulu ya.gpp sayang [21.12]
Makasih ya sayang. Udah makan. Badan agak enakan. Ntar mu lgsg bobo. [22.18]
Ya.aku mu bobo hbs ni. Sayang kamu [10.26 pm]
Aku udah d studio.mu bobo [10.54 pm]

*
SMS-SMS Cindil tadi. Gimana gak panik, coba???!
Aku tu cuman takut kamu sakit. Titik. Itu aja.
:(

AZ

Wednesday, December 29, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:49:00 AM | No comments

Runtuhnya Surau Kami

Masyarakat Dusun Karangasem, Blongkeng, Ngluwar, Magelang, Jawa Tengah kehilangan satu tempat ibadah. Rabu (8/12) lalu, Mushalla Darussalam rusak akibat tingginya debit air yang menggerus tebing di sisi kali tempat mushalla itu berdiri. Mushalla ini berlokasi di pinggir sungai yang dialiri lahar dingin Merapi.

Gerusan banjir tersebut membuat tanah fondasi mushalla terbawa arus air. Kondisi tersebut membuat bangunan menjadi rapuh, sehingga ikut runtuh. Saat ini kondisi mushalla tersebut rusak parah, tidak dapat digunakan lagi, sebab bangunan yang tersisa sudah sangat rapuh.

Masyarakat setempat membutuhkan tak sedikit dana untuk pembangunan kembali mushalla atau surau tersebut agar bisa digunakan oleh warga setempat sebagaimana mestinya.

[Adriani Zulivan, dari armand.kretek@gmail.com untuk jalinmerapi@gmail.com]

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi di tautan ini.

Tuesday, December 21, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:27:00 PM | No comments

Metro TV dan Pemberitaan Salah tentang Merapi

Berita Metro TV berjudul "Satu Per Satu Bocah Pengungsi Bertumbangan" kemarin--baca tautan berikut adalah bukan hanya berita ngawur, namun juga ngasal!

Aku pertamakali menemukan berita itu pada hari yang sama ketika beritatersebut dilansir. Aku mendapatkannya dari lansiran Gmail yang aku daftarkan dengan alamat email pribadiku untuk kata kunci "jalinmerapi" dan "merapi".

Kaget. Itu reaksiku pertamakali ketika membaca berita tersebut. Sebab aku sangat mengerti bagaimana kondisi warga Balerante di lokasi pengungsian Posdiklatpur Klaten. Sebagai barak yang setiap harinya (di luar kondisi bencana) melayani anggota TNI, tempat ini memiliki seluruh kebutuhan harian yang lengkap untuk disebut sebagai tempat tinggal yang layak. Ini alasan pertama.

Kedua, Posdiklatpur merupakan salah satu lokasi pengungsian yang mendapat sorotan banyak pihak, termasuk pemerintah. Ingat, tak sedikit lokasi pengungsian yang diperhatikan pemerintah. Pengelola tak akan sekenanya menangani pengungsian di sana.

Ketiga, berbagai LSM hidup bersama dengan para anggota TNI dan pengungsi di sana. Mereka datang dengan concern berbeda, mulai dari penanganan trauma, pendidikan anak, pemenuhan logistik, pemeriksaan kesehatan, hingga membantu pendataan aset warga desa seperti yang dilakukan COMBINE, lembaga tempatku bekerja. 

Selain itu, kami menempatkan setidaknya empat relawan JALIN Merapi yang menginap di sana hingga hingga seluruh pengungsi pulang, ditambah sejumlah relawan yang tidak tinggal di TPS (tempat pengungsian sementara), yang membantu kerja-kerja kerelawanan di siang hari.

Pasca membaca berita tersebut, aku langsung menghubungi Pak Jainu yang bertanggungjawab terhadap seluruh warga Balerante. Pak Jainu ikut kaget. Pasca wawancara via telepon tersebut, langsung kubuat tulisan klarifikasi. Lalu kutelepon lagi beliau untuk membacakan tulisanku dan mengeaskan poin per poin.

"Tidak benar bahwa anak-anak... ya, pak?" aku.
"Betul, Mbak. Anak-anak di sini ditangani oleh..." Pak Jainu.
"Jadi yang benar begini ya pak, bahwa..." aku.
..dst...

Dan, ajaib! Seperti berita-berita salah lainnya yang pernah dilacak oleh JALIN Merapi, Metro TV langsung menurunkan berita tersebut, tanpa klarifikasi apapun. Sayang, Metro TV yang cukup dipercaya ini terlalu sembarangan! Sayang, padahal TV One yang sejak bulan lalu dimusuhi" masyarakat Jogja akibat pemberitaan spektakular namun salah tentang Merapi, Metro TV menjadi salah satu sumber berita yang dipercaya. 

Tentu banyak pihak yang dirugikan terhadap pemberitaan ini, terutama Pusdiklatpur dan para relawan yang membaktikan dirinya selama berbulan-bulan untuk pengungsi di sana.

Aku menduga bahwa wartawan Metro TV yang mengambil video tersebut hanya merekam gambar tanpa wawancara. Adalah wajar ketika gambar yang terlihat di pengungsian korban bencana alam di H+40 dalam kondisi yang tidak ceria. Namun bukan berarti mereka terlantar!

Semoga ini kali terakhir munculnya pemberitaan tak benar yang tak punya dasar informasi dalam proses peliputannya.

Dengan sangat kesal,
AZ

Monday, December 20, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:18:00 PM | No comments

Klarifikasi Pemerintah Desa Balerante terkait Pemberitaan Metro TV


Berikut adalah berita yang dilansir oleh Metro TV News:


Satu Per Satu Bocah Pengungsi Bertumbangan
Sabtu, 18 Desember 2010 10:40 WIB

Metrotvnews.com, Klaten: Kondisi bocah pengungsi asal Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, memprihatinkan. Kondisi kesehatan mereka drop setelah sebulan lebih berada di barak pengungsian Markas TNI Dodiklatpur Klaten.

Hampir dua hingga tiga hari sekali ada saja ada bocah yang sakit. Mereka umumnya flu, demam, bahkan ada yang sampai diare.

Celakanya mereka seperti tak terurus. Sebab sudah tak ada relawan ataupun donatur yang membantu pemenuhan gizi mereka. Orangtua para bocah berharap, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memperhatikan nasib mereka.(ICH)

Sumber: http://www.metrotvnews.com/mobile-site/video-detail.php?read=119017&tgl=2010-12-18

*
Sabtu (18/12) malam, JALIN Merapi telah melakukan konfirmasi terkait kebenaran berita tersebut kepada Kepala Urusan Pemerintahan Desa Balerante, Bapak Jainu, di barak pengungsian Markas TNI Dodiklatpur Klaten. Berikut keterangan beliau:
  1. Tidak benar bahwa kondisi anak-anak pengungsi Balerante di Posko Dodiklatpur menurun (drop). Di posko ini tiap hari beroperasi Pos Kesehatan dari Dinas Kesehatan (buka pukul 07.00-13.00) dan Posko Kesehatan milik TNI (beroperasi 24 jam). Memang ada anak yang sakit, namun itu hal wajar sebab penyakit yang diderita merupakan penyakit ringan dan tak pernah lepas dari pengawasan tim kesehatan.
  2. Tidak benar bahwa kebutuhan gizi anak-anak pengungsi tidak diperhatikan. Tim dari World Vision telah melakukan pelatihan bagi ibu-ibu yang mempunyai balita untuk membuat makanan tambahan. Kini ibu-ibu membuat sendiri makanan sehat untuk balitanya.
  3. Tidak benar jika anak-anak pengungsi tidak terurus akibat tidak ada relawan dan donatur. Hingga saat ini setiap hari anak-anak mendapat kegiatan eduktif dari relawan trauma healing yang turut membuka posko di sana. Selain itu, berbagai makanan untuk anak terus berdatangan dari sumbangan masyarakat.
  4. Saat ini, anak-anak SMP dan SMU Balerante belajar di sekolah-sekolah terdekat dari pengungsian, sedangkan murid SD oleh pihak TNI dibuatkan sekolah darurat. Sekolah darurat ini memakai sebuah ruangan yang terdapat di kompleks TNI dengan mendatangkan pengajar yang merupakan guru dari sekolah mereka yang rusak di Balerante. Mayoritas guru mereka adalah warga luar Balerante yang saat ini tidak mengungsi.
Dengan demikian, Metro TV News perlu melakukan perbaikan atas ketidakakuratan berita yang dilansir tersebut.

Yogyakarta, 20 Desember 2010

Humas JALIN Merapi
Adriani Zulivan
0274-411.123

*
Ditulis untuk website komunitas JALIN Merapi dengan tautan berikut.

Saturday, December 11, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:20:00 PM | No comments

Aku Takut Kamu Sakit (tanda pentung)




Satu hal yang selalu bikin was-was, selalu bikin sebel, selalu bikin bosen (tapi ya selalu dikerjakan), adalah:


Nyuruh Cindil makan!


Sering banget berdebat untuk hal satu ini. Misalnya malam ini, di SMS Cindil ini:


Mau makan sekarang. Udah lapar. Aku mbok jgn dimarahin terus,sayang. Aku ttp makan kok.lapar nii.. 


Arghmphhhhh!


AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata