Wednesday, July 27, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:28:00 AM | No comments

Keluarga Miskin Terperangkap Rokok



JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI, Abdillah Ahsan, mengungkapkan, konsumsi rokok paling banyak justru terdapat di keluarga miskin. Hal ini berdasarkan perhitungan pada tahun 2009 yang menyebutkan bahwa 68 persen keluarga miskin memiliki pengeluaran untuk rokok paling banyak.

"Ini sangat menyedihkan karena enam dari sepuluh rumah tangga termiskin di Indonesia mengeluarkan uangnya untuk membeli rokok. Pengeluaran rokok ini akan membebani ekonomi rumah tangga termiskin dan mengorbankan pengeluaran lainnya yang jauh lebih penting," ujar Abdillah dalam pemaparan penelitian terkait perkembangan konsumsi rokok dan bea cukai industri rokok di Indonesia, Rabu (27/7/2011) di Jakarta.

Ia merujuk pada perhitungan sederhana untuk konsumsi rokok yang terjadi di Indonesia, yaitu:
1. Konsumsi rokok per hari diperkirakan satu bungkus rokok menghabiskan uang senilai Rp 10.000.

2. Dari harga tersebut, maka konsumsi rokok per bulan sebanyak 30 bungkus menghabiskan uang senilai Rp 300.000.

3. Dalam satu tahun, seorang perokok menghabiskan 360 bungkus rokok. Uang yang dihabiskan menjadi Rp 3.600.000.

"Jika seseorang mengonsumsi rokok per 10 tahun sebanyak 3.600 bungkus, maka sama dengan menghabiskan Rp 36 juta. Biaya ini lebih besar dari biaya haji, biaya sekolah S-1 Universitas Indonesia, membayar uang muka rumah, dan renovasi rumah. Jadi mereka lebih memilih rokok daripada pendidikan atau umrah," tambah Abdillah.

Lembaga Demografi juga menyebutkan, akibat konsumsi rokok yang tinggi pada keluarga miskin, mereka kehilangan beberapa kesempatan penting, yaitu pembelian rokok 11 kali lebih banyak daripada membeli daging untuk konsumsi keluarga. Bahkan, pengeluaran rokok juga tujuh kali lebih besar daripada pembelian buah-buahan untuk dikonsumsi.

Keluarga miskin, ungkap Abdillah, juga menghabiskan enam kali lebih banyak untuk membeli rokok daripada biaya pendidikan. Sisanya, lima kali lebih besar biaya rokok daripada biaya membeli telur, susu, dan biaya kesehatan. Biaya rokok juga dua kali lebih besar daripada membeli dan mengonsumsi ikan.

"Mereka lebih memilih rokok dari pada mencarikan susu, daging, dan buah untuk keluarga, terutama anak-anak. Termasuk biaya pendidikan yang dikesampingkan," tukasnya.

Editor :Inggried

Sumber: Kompas.

Tuesday, July 19, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:31:00 AM | No comments

Madu atau Racun?


Kegiatan mahasiswa di kampus kini bertabur sponsor perusahaan rokok. Tidak hanya acara musik, tetapi juga acara olahraga ataupun yang bernapaskan Ramadhan pun didanai perusahaan rokok. Betulkah simbiosis yang terbangun merupakan simbiosis mutualisme? Madukah yang didapat atau racun?

Rinda, mahasiswi semester akhir, Fakultas Ilmu Komunikasi konsentrasi jurnalistik Universitas Bina Darma, Palembang, menuturkan, di kampusnya banyak acara yang disponsori perusahaan rokok. Bila dihitung-hitung, perusahaan rokok yang masuk kampus lebih dari tiga merek, mulai acara musik, olahraga, peluncuran radio komunitas kampus, hingga acara bernafaskan ramadhan.

”Acara peluncuran radio komunitas itu kamia, anak komunikasi, yang ngadain. Kami kan punya radio komunitas sama manajemen (kampus),” tutur Rinda.

Mahasiswi yang aktif di banyak kegiatan ini mengatakan, perusahaan rokok memang aktif dalam mensponsori kegiatan mahasiswa di kampus. Dibandingkan perusahaan lain, seperti minuman ringan atau operator telepon seluler, perusahaan rokok jauh lebih ”perhatian”.

”Biasanya mereka memang ngasih uang, baik sponsor utama maupun sponsor pendamping. Jumlahnya bervariasi, tergantung acara. Kalau di kampus sekitar Rp 50 juta,” kata Rinda.

Bila perusahaan rokok yang memberi sponsor langsung dari kantor pusat, dana sponsorship diberikan secara penuh. Namun, bila sponsor diwakili kantor lokal, dana sponsorship yang diberikan sebesar 90 persen dari total anggaran.

Sejauh ini kampusnya tidak mengeluarkan larangan atau aturan mengenai sponsorship, khususnya dari perusahaan rokok. ”Kampus enggak bikin aturan atau larangan. Bebas. Enggak ada larangan selagi enggak ganggu kegiatan formal kampus,” jelas Rinda.

Dia menambahkan, secara pribadi, sponsorship dari perusahaan rokok tidak masalah. ”Asal prosedur kampus juga dipenuhi. Jadi, enggak saling ganggu, tapi saling menguntungkan,” ujarnya.

Dia menegaskan, yang pasti tidak boleh sampai ada aktivitas menjual rokok di dalam kampus meski hal itu tergantung kesepakatan antara sponsor dan pihak kampus. Sejauh ini di kampusnya tidak pernah ada aktivitas menjual rokok di lingkungan kampus.

”Pengalaman di kampus Rinda untuk penjualan rokok secara terang-terangan dengan membuka stan pasti dilarang. Tapi walau dilarang, masih tetap saja ada pihak-pihak yang menjajakan rokok ke kampus-kampus melalui SPG,” tuturnya.

Sponsor gede

Pia Zakiyah, mahasiswi semester 5 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, menuturkan hal serupa. Banyak sekali kegiatan kampus yang disponsori perusahaan rokok. Tidak hanya acara musik, acara yang berisi tentang motivasi yang mengajak mahasiswa berpikir out of the box pun disponsori perusahaan rokok.

Untuk acara musik yang disponsori perusahaan rokok, selalu ada stan atau booth yang menjual rokok mereka. Kadang juga ada sesi bagi-bagi rokok secara gratis.

Seperti halnya kampus Rinda, di kampusnya juga tak ada larangan sponsorship dari perusahaan rokok. ”Secara pribadi saya enggak keberatan dengan sponsor rokok. Soalnya yang penting kan ngasih sponsor gede. Mahasiswa rata-rata begitu pikirannya. Yang penting sumber dananya,” kata Pia.

Faiz Zulfikar, mahasiswa Jurusan Perfilman Institut Kesenian Jakarta semester 7 juga tidak keberatan dengan sponsorship dari perusahaan rokok. ”Mereka kan cuma sponsorin saja. Ada timbal baliknya. Lagi pula mereka juga enggak pernah buka stan lalu menjual produknya,” terang Faiz yang mengaku seorang perokok meski tidak terlalu sering merokok.

Dia menegaskan, enggak masalah rokok masuk kampus karena saat ini banyak acara seni yang lingkupnya luas pun disponsori perusahaan rokok. Soal bahaya merokok, menurut Faiz, sudah tertulis jelas di bungkus rokok. ”Jadi, sudah jelas kalau merusak. Tapi perusahaan rokok ada program yang menunjukkan apresiasinya juga. Jadi, soal merusak atau tidak itu tergantung orang-orangnya,” kata Faiz.

Idealisme

Meski penetrasi perusahaan rokok ke kampus-kampus makin gencar, sejumlah kampus berupaya mempertahankan idealismenya. Pia menuturkan, jurusan tempat dia menimba ilmu cukup pilih-pilih dalam menentukan sponsor sebuah acara.

”Soalnya dari acara yang di-adain kan masih erat hubungannya sama pendidikan dan anak sekolah. Jurusan aku pendidikan Bahasa Inggris, kayak kemarin kami ngadain acara lomba-lomba Bahasa Inggris buat anak SD SMP, SMA, jadi enggak cocok kalau sponsornya rokok,” ujar Pia. Dia menambahkan, media cetak dan perusahaan penerbitan buku juga bisa menjadi mitra kerja sama yang tak kalah oke dengan perusahaan rokok.

Universitas Kristen Petra Surabaya sejak tahun 2003 justru telah melarang dan menolak kegiatan yang didanai oleh perusahaan rokok. Hal ini terkait dengan dicanangkannya UK Petra sebagai ”kawasan bebas rokok” dan kini meluas menjadi ”kawasan tanpa rokok”.

”Kawasan tanpa rokok merupakan salah satu bantuan kami kepada masyarakat Surabaya untuk membuat kota ini menjadi lebih hijau, nyaman, dan bersih. Gerakan ini menjadi salah satu komitmen UK Petra sebagai institusi pendidikan yang tengah menuju usia emasnya di September 2011 (Petra Golden Jubile),” tutur Humas UK Petra, Inri Inggrit.

Untuk kegiatan mahasiswa, kampus menyediakan pos anggaran tersendiri. ”Sponsor tetap diperbolehkan masuk asal bukan perusahaan rokok,” kata Inggrit.

Sejak 1 Januari 2011, UK Petra telah bergeser menjadi kawasan tanpa rokok. ”Kalau dulu saat kampus bebas rokok masih ada toleransi untuk merokok asal tidak di tempat beratap (ruangan). Namun, sekarang selama di dalam pintu masuk, siapa pun dilarang merokok. Sampai saat ini masih dipasang beberapa signage yang mengumumkan perihal itu sehingga setiap tamu aware dengan kebijakan tersebut,” ujar Inggrit.

Dia menjelaskan, sejauh ini belum ada penelitian soal perubahan perilaku mahasiwa terkait pencanangan kampus sebagai kawasan tanpa rokok. Yang jelas saat ini hampir tak terlihat asap rokok mengepul di kampus UK Petra.

”Udara kampus menjadi lebih segar dan bersih. Kebijakan ini juga disertai dengan peer group bagi mahasiswa yang berfungsi sebagai kelompok pengingat bagi anggotanya kalau ada yang melanggar peraturan ini. Tujuannya agar mereka saling mengingatkan kebiasaan tidak merokok. Signifikansinya agar kebiasaan menjaga lingkungan di area kampus dibawa kemana pun sivitas berada,” kata Inggrit.

(Dwi As Setianingsih )

Sumber: Kompas

Monday, July 18, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:21:00 PM | No comments

Sambung Nyowo

Daun Sambung Nyowo | Sumber: http://bit.ly/nfmCfQ

Sambung Nyowo (Gynura Procumbens Back) adalah sebuah obat herbal. Nama "Sambung Nyowo" berasal dari bahasa Jawa yang bermakna "sambung nyawa". Meski di daerah lain jenis daun ini disebut dengan nama berbeda, seperti Daun Seribu Guna di Sumatera, daun ini dikenal luas sebagai Daun Sambung Nyowo.

Daun sambung nyowo ini mengingatkanku pada sebuah metode modern untuk pengobatan penyakit kanker di RSU Dr Sardjito, sebuah rumah sakit pusat di Yogyakarta. Tahun 2008 lalu aku berkesempatan untuk masuk ke Instalasi Kanker Terpadu. Berikut ceritanya.

Masuk tanpa alas kaki. Ruang steril.
Persiapan. Semua yang masuk tempat terbatas ini harus mengenakan penutup lengkap.
Wajib mencuci tangan dengan sabun dan cairan antiseptik tambahan.
Ruang tertutup ini berediasi tinggi. Hanya petugas lab yang diperbolehkan masuk.
Harga mesin ini bisa untuk membeli mobil mewah, lho!
Tampak bawah
Meracik






Posted by adriani zulivan Posted on 5:19:00 PM | No comments

Ketika Tradisional Beriringan dengan Modernitas


Jogja...jogja tetap istimewa, istimewa negerinya, istimewa orangnya...
Jogja...jogja tetap istimewa.....jogja istimewa untuk Indonesia....



Itu lagu Kill The DJ. Sangat populer pasca pernyataan Pesiden SBY terkait keistimewaan DIY yang disebut sebagai monarki.


Kita jangan bahas itu. Biar orang lain yang punya keistimewaan saja yang membahasnya. Aku mau cerita tentang betapa istimewanya Jogja dari sudut pandangku sebagai pendatang.


Jogja. Bagiku merupakan sebuah kota malu-malu. Malu untuk mendeklarasikan dirinya sebagai apa: kota tradisional, atau modern?


Lihatlah pembangunan kotanya. Banyak bangunan baru yang samasekali tidak menggambarkan sikap tradisional, seperti mal dan pusat perbelanjaan lainnya. Di sisi lain, dia tetap mempertahankan statisme dari peradaban nenek moyang Jawa.


Biar ini kota pendidikan --yang bisa diartikan bahwa penduduknya merupakan masyarakat terdidik-- yang namanya klenik tetap saja jalan.


Di Jogja tak sulit menemukan pedagang yang menjual barang-barang klenik, seperti keris, batu bertuah,dan sebagainya. Paling populer dan jamak ditemukan di berbagai tempat umum adalah pedagang batu betuah. Batu-batu ini dijadikan semacam jimat yang difungsikan sebagai liontin, mata cincin, dan benda-benda sehari-hari lainnya.


Ini beberapa yang sempat kupotret dari sebuah pameran di Jogja, sekitar 2009 lalu:



Beberapa Jenis Batu Bertuah


Cincin yang batunya diberi 'isi', untuk 'pengasihan'.
Aku lupa namanya


Giok Burma. Burma-burma-an :)


*
Sejumlah Kayu Bertuah:




Dewandaru
Galih Kelor
Entah apa nama dan fungsi alat ini.
Ini bagus. Etnik sekali. Besarnya kira-kira sebulatan telur bebek.
Bentuk-bentuk perhiasan kayu lainnya.
Petuah dalam Kayu Bertuah


Mereka berfungsi sebagai pengasihan. Seperti untuk memperlancar jodoh, 'menjaga' badan dari kesialan, dan sebagainya. Agak-agak aneh sih. Agak-agak gimana juga, gitu :)
Tertarik?
Posted by adriani zulivan Posted on 4:23:00 PM | No comments

OLD PHOTO - Aksi Mahasiswa


Kejadian dalam foto ini terjadi di depan Gedung Agung (Istana Negara) Yogyakarta. Diambil oleh salah seorang demonstran yang terlibat dalam aksi turun ke jalan untuk menuntun pembatalan kenaikan harga BBM di era pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Namanya siapa? Aku tak tahu. This photo really speaks. That's all.

Lihat foto ini mengingatkanku pada sebuah foto populer besutan seorang wartawan pada aksi Reformasi 1998. Suatu hari nanti akan kutambahkan di sini.

Ciao!
Posted by adriani zulivan Posted on 10:56:00 AM | No comments

Capcay


Resep:
  • Tumis bawang merah, bawang putih dan cabe merah. Tambah sedikit air, garam dan merica.
  • Masukkan brokoli, jamur, wortel, sawi.
Masakan Mama.

Mlekom,
AZ 

Friday, July 15, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 7:38:00 PM | No comments

Perokok Usia 10 Tahun Naik 28 Persen



BUKITTINGGI, KOMPAS.com — Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah anak-anak perokok di atas usia 10 tahun di Indonesia sejak empat tahun terakhir ini.

"Berdasarkan hasil riset dasar kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2010 jumlah perokok anak berusia di atas 10 tahun sejak tahun 2007 mengalami peningkatan prevalensi mencapai 28,2 persen," kata Menkes Endang Rahayu di Bukitinggi, Sumatera Barat, Jumat (15/7/2011).

Dia menyampaikan hal itu seusai memberikan kuliah umum dengan tema "Upaya Penanggulangan Penyakit Paru di Indonesia" pada acara Kongres Nasional XII Perhimpunan Dokter Paru Indonesia yang diselengarakan di Bukitinggi.

Kendati tidak menyebutkan secara pasti jumlah perokok berusia 10 tahun ke atas, pada tahun 2007, jumlah perokok usia 10 tahun ke atas hanya 23,7 persen. "Artinya, terjadi kenaikan sekitar lima persen dengan perkiraan mereka memiliki risiko kanker paru sebesar 20-25 persen," lanjutnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kementerian Kesehatan mengambil beberapa langkah, antara lain menerbitkan rancangan PP Tembakau yang baru yang saat ini masih diproses di Kementerian Hukum dan HAM.

Selanjutnya, pemerintah daerah diminta mengeluarkan peraturan daerah larangan merokok di tempat umum. Pada beberapa daerah, hal ini disambut cukup baik.

"Kementerian Kesehatan menyambut baik pemerintah daerah yang menerbitkan Perda Pelarangan Merokok di tempat umum karena hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyehatkan masyarakat," kata dia.

Berikutnya, kampanye larangan merokok juga dilakukan di sekolah untuk menyadarkan generasi muda bahwa merokok merupakan kebiasaan yang tidak baik dan tidak sehat.

Keberadaan organisasi massa seperti Muhammadiyah dan NU juga diharapkan berperan dalam menanggulangi hal ini dan turut mengampanyekan bahaya rokok bagi kesehatan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, Kalimantan Tengah merupakan daerah dengan prevalensi perokok tertinggi di Tanah Air (mencapai 43, 2 persen) dan Sulawesi Tenggara terendah dengan prevalensi 28,3 persen.

Editor :Benny N Joewono
Sumber: Kompas

Posted by adriani zulivan Posted on 7:40:00 AM | No comments

Ini Sebabnya Perokok Tak Nafsu Makan



KOMPAS.com - Tahukah Anda, selain mengotori paru-parunya dengan zat-zat kimia yang berasal dari asap rokok, sebenarnya para perokok juga membuat tubuhnya kekurangan oksigen. Istilah medis untuk kekurangan oksigen ini adalah hipoksia. Dalam jangka panjang, hipoksia bisa merusak organ-organ tubuh.

"Udara yang kita hirup seharusnya adalah udara yang segar. Tetapi saat kita merokok, udara di sekitar jadi tidak seimbang karena lebih banyak karbonnya (CO). Akibatnya oksigen yang dihirup sedikit," kata DR. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD, dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RSCM Jakarta.

Kondisi tersebut menurut Ari, banyak tidak disadari oleh perokok. Hipoksia juga dapat memengaruhi nafsu makan sehingga berat badan akan sulit bertambah.

"Saat kekurangan oksigen, tubuh melakukan adaptasi dengan menginduksi faktor molekuler penting, yakni Hypoxia Inducible Factor-1a (HIF-a). Molekul ini ikut berpengaruh pada gen lapar, yakni leptin. Sehingga nafsu makan berkurang," katanya saat ditemui seusai sidang disertasinya di FKUI, Jumat (15/7/2011).

Selain karena merokok, hipoksia juga bisa dialami orang yang berada di dataran tinggi atau menderita penyakit kronik.

Sebuah penelitian lain yang dilakukan ilmuan dari Universitas Yale, AS, menemukan, nikotin mengaktifkan sel otak tertentu sehingga nafsu makan berkurang.

Editor :Asep Candra
Sumber: Kompas

Thursday, July 14, 2011

Posted by adriani zulivan Posted on 10:20:00 PM | No comments

Himbauan Pencabutan Ijin Sirkus Lumba-lumba di Salatiga

PT. WSI [Wersut Seguni Indonesia saat ini sedang mempertunjukkan Lumba-lumba dalam sirkus keliling Lumba-lumba dengan dalih Pendidikan & Pengenalan Aneka Satwa di kota Salatiga, Jawa Tengah. Siswa sekolah di Salatiga terancam mendapatkan informasi dan pendidikan yang keliru mengenai kehidupan satwa liar. Untuk menutup pertunjukan keliling menggunakan Lumba-lumba di Salatiga dan menghentikan kekejaman ini, kirimkan email di bawah ke: walikota@pemkot-salatiga.go.id, cc: menhut@dephut.go.idsekjen@dephut.go.idboenm@dephut.go.idirjen@dephut.go.id;

Kirimkan juga ke: Dinas Pendidikan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah [Ph: 024-3515301, Fax: 024-3520071]
Anda bisa membuat surat Anda sendiri atau copy/paste surat di bawah ini, dan harap cc ke: stoptravelshow@gmail.com

The travelling dolphin circus is now in the city of Salatiga, Central Java.
The local children there are now being misinformed about treatment of wildlife, and are learning that forcing wild animals into unnatural behavior and suffering is acceptable. We need to take action and request an immediate stop of all permits for this circus from the local government! Please just send one email to: walikota@pemkot-salatiga.go.id, cc: menhut@dephut.go.idsekjen@dephut.go.idboenm@dephut.go.idirjen@dephut.go.idwhich you request a stop to this cruel traveling circus. And please click on this website and leave your message in http://jip.pdkjateng.go.id/index.php/hubungi-kami-topmenu-18


You can either formulate your own words or copy / paste the letter here below in Indonesian, also please CC the emails to stoptravelshow@gmail.com
============================


Kepada Yth:
Walikota Salatiga
Jl. Letjen Sukowati No. 51, Salatiga, 50724, Jawa Tengah

Mengetahui bahwa Pemerintah Kota Salatiga telah memberikan ijin diadakannya Pentas Lumba-lumba pada tanggal 29 Juni - 31 Juli 2011 di Lapangan Poltas/Satlantas, Jl. Diponegoro No.82 Salatiga yang dikelola oleh PT. WSI [Wersut Seguni Indonesia], maka kami menghimbau agar Pemerintah Kota Salatiga mempertimbangkan PENCABUTAN IJIN bagi Pentas Lumba-lumba tersebut maupun pertunjukan lain yang mengeksploitasi satwa dengan dalih Parade Pendidikan dan Pengenalan Aneka Satwa.

Pentas/sirkus keliling Lumba-lumba semacam ini sudah ditiadakan di berbagai belahan dunia karena berbagai tindak kekejaman terhadap satwa yang terjadi di baliknya. Dan PT. WSI (Wersut Seguni Indonesia) justru memiliki sirkus keliling terakhir di dunia yang menggunakan Lumba-lumba hidung botol [Tursiops Truncatus] dan berbagai satwa liar lainnya.

Pertunjukan sirkus sayangnya masih menjadi rekreasi favorit dan sarana pengenalan terhadap satwa bagi masyarakat maupun siswa sekolah di Indonesia. Namun, sirkus adalah sumber yang keliru untuk mengenal kehidupan satwa liar dan belajar mencintai satwa. 
Di sirkus-sirkus, satwa dipaksa melakukan trik-trik yang tidak alami demi menyenangkan pengunjung, yang teknik pelatihannya diberikan dengan mengkondisikan satwa menderita kelaparan. 
Lumba-lumba yang digunakan dalam sirkus keliling selalu berada dalam kondisi yang tertekan, disimpan dalam kolam yang sempit dengan air bercampur bahan kimia yang berakibat buruk bagi kesehatan Lumba-lumba. Ini sangat jauh berbeda dengan samudera lepas yang merupakan habitat alami Lumba-lumba dimana mereka dapat menjelajah puluhan kilometer (dalam gerak lurus) setiap hari dan menggunakan navigasi sonar yang tidak hanya membuat mereka dapat mengetahui jarak, tetapi juga dimensi dan mendeteksi obyek-obyek di sekitarnya baik makhluk hidup maupun benda mati. Pancaran sonar Lumba-lumba melingkupi radius yang luas, saat berada dalam kurungan dinding-dinding kolam, pancaran sonar akan memantul kembali dengan cepat. Dalam keadaan ini, tingkat stress tinggi akan dialami lumba-lumba.

Berbagai penemuan terkini tentang mamalia laut dengan kecerdasan tinggi ini memperlihatkan keahlian dan kesadaran akan diri yang semula diklaim hanya dimiliki oleh manusia. Pertunjukan Lumba-lumba, dan bentuk-bentuk pengurungan lain adalah secara psikologis berbahaya dan memberikan informasi yang keliru tentang gambaran kapasitas intelektual mereka.

Lalu apakah yang bisa dipelajari siswa maupun masyarakat dari satwa liar yang tidak dapat mengekspresikan perilaku alamiahnya dan tidak hidup di habitat alaminya?

Satwa yang digunakan dalam sirkus keliling direlokasi dari kota ke kota menggunakan truk, dikurung dalam tangki plastik & kandang-kandang sempit selama masa pertunjukan berlangsung. Anda bisa bayangkan kondisi kehidupan mereka yang sangat memprihatinkan.

Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, dimana didalam lampirannya ditegaskan bahwa Lumba-lumba adalah mamalia laut yang dilindungi oleh Undang-undang. Lumba-lumba yang digunakan dalam pentas/sirkus ini ditangkap dari alam, dan secara hukum sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk mengembalikan satwa liar yang dilindungi ke habitatnya. Sirkus keliling yang menggunakan lumba-lumba bertanggung jawab atas menurunnya populasi Lumba-lumba di habitatnya.

Oleh karena itu, kami dengan tegas menyatakan bahwa Pentas Lumba-lumba dan aneka satwa liar lain yang sedang berlangsung di kota Salatiga adalah: 
1. Bentuk eksploitasi dan kekejaman terhadap satwa
2. Pendidikan yang keliru bagi siswa sekolah maupun masyarakat untuk belajar mengenai kehidupan satwa liar

Kami, sebagai masyarakat peduli satwa, sekali lagi menghimbau kepada Pemerintah Kota Salatiga untuk mempertimbangkan PENCABUTAN IJIN bagi Pentas Lumba-lumba yang dikelola oleh PT. WSI dan saat ini sedang berlangsung di kota Salatiga. 
Marilah kita tidak mendukung kekejaman terhadap satwa dan mendidik siswa dengan cara yang lebih tepat dan baik untuk mencintai satwa liar dan alam.

Hormat kami,


Warga peduli satwa

-- 
Animal Friends Jogja
animals.friendship.nature
twitter: AnimalFriendsYK
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata