Saturday, January 12, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 10:00:00 AM | No comments

Cerita Aktivis Indonesia...

Gambar dari sini.
Dari sebuah tautan alamat internet di Facebook, aku betemu Jo. Dalam obrolan di email, kami bersepakat untuk membantu sebuah kelompok aktivis yang memberi perhatian pada sebuah kawasan percandian di Sumatra. Sebut kelompok ini dengan DKJ, sebuat kawasan percandian itu dengan MJ.

Teman-teman aktivis DKJ diberitahukan oleh seorang penulis, Indonesianis asal Prancis, mengenai sebuah konfrensi internasional di India. Konfrensi ini mengangkat tema yang terkait dengan apa yang selama ini diperjuangkan oleh teman-teman DKJ.

Persoalan klasiknya, mereka tak ada dana untuk berangkat. Disinilah aku dan Jo coba berperan. Kami hubungi segala pihak yang kami harapkan bisa membantu. Jo sampai detil membuatkan surat pengantar yang ia harapkan akan dikirim atas namaku dan Indonesian Heritage Inventory (IHI).

Mengapa bukan namanya? Penjelasan ini agak rumit, menyangkut statusnya sebagai seorang Amerika kritis yang visanya kerap ditolak pemerintah India. India berkepentingan dengan tak sedikit wilayah tambang batubara di Indonesia, termasuk kawasan cagar budaya yang diteliti Jo.

Mengapa aku? Siapalah Adriani Zulivan dengan IHI-nya? Baginya, aku dan IHI memiliki posisi kuat di arena pelestarian pusaka Indonesia. Ia jelaskan berbagai hal yang tak sebaiknyakujelaskan di sini.

Aku setuju, dengan pertanyaan: Siapa yang akan menyusun kebutuhan dana? Jo meyakinkah bahwa hal itu akan ditangani teman-teman DKJ. Sip!

Satu hari, tiga hari, seminggu tak ada kabar. Kuhubungi Jo, menanyakan perkembangannya, terutama terkait hitungan budget. Jo malah mengubah rencana, dengan mengirim aku dan asisten penelitinya (seorang dosen di Jakarta) untuk mengikuti konfrensi ini.

Aku terang saja menolak, dengan segala konsekuensi terkait those so called 'uwuh-pakewuh'. Mungkin karena aku orang Indonesia, lalu merasa gak nyaman jika harus "melangkahi" orang. Ya, kusebut melangkahi, sebab menurutku teman2 DKJ lah yang berhak ikut di forum ini.

Jo jelaskan lagi, bahwa dia tak lagi respek dengan kelompok yang dianggapnya tak profesional ini. Begini cara Jo menyebut mereka:

"They were just not able to be professional enough to even have the courtesy to reply or follow up except for joking about it on Facebook"

"I am not going to help DKJ as if they were children."

Dia ingin aku datang, sebab bagaimanapun aku melakukan interaksi terhadap persoalan MJ dan proses konservasi di sana. Memang, Mei 2012 lalu aku berencana membuat heritage mapping di kawasan MJ, namun tak sempat terlaksana. Hal lain yang pernah kulakukan adalah melibatkan MJ dalam sebuah workshop mengenai pemetaan pusaka untuk kemudian dimasukkan menjadi aplikasi jelajah di telepon pintar. Ini masih dalam proses, baru akan selesai tahun ini.

Pendek kata, rencana ini tak pernah terwujud. Waktu sangat mepet, tinggal enam hari untuk mempersiapkan segalanya. "So my feelings are that DKJ missed this opportunity and there is nothing we can do about it now," kata Jo.

Sedih ya, dengan kesempatan sebesar ini, dengan bantuan seintensif ini, teman-teman aktivis kita tak ingin memperjuangkannya...

Oh iya, ngomong tentang Jo. Tadinya, kupikir dia 'hanyalah' seorang pejalan seperti aku: Pejalan yang mendokumentasi, lalu terlibat gerakan heritage preservation. Eh ternyata, dia adalah seorang dosen perguruan tinggi di Inggris. Kebangsaan Amerika yang banyak meneliti tentang berbagai peninggalan sejarah di Indonesia, tangible dan intangible. Trims pada Google!

Mlekom,
AZ
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata