Friday, May 3, 2013

Posted by adriani zulivan Posted on 8:46:00 PM | No comments

Si Kucing Malang


Pagi
Seperti biasa, Papa membangunkanku. Buka pintu, buka gorden dan kaca jendela. Aku, seperti biasa, tetap tak bergerak. Lalu, tak seperti biasa, Papa melongok lama ke luar jendela. Lalu keluar, dan segera masuk kamarku lagi.

"Dek, ada kucing di bawah sana. Sakit..."

Aku langsung lompat, lihat ke bawah jendela. Dia, kucing itu, ngesot menahan dua kaki belakangnya yang kuduga patah. Dua kaki lainnya berusaha berjalan sekuat tenaga.

Matanya. Di sekeliling matanya banyak kotoran berwarna hitam. Ada lendir yang banyak di retinanya. Kupikir, lendir itu adalah air matanya, sedang kotoran hitam itu adalah air mata yang sudah mengering. Kucing itu mungkin banyak menangis, menahan rasa sakit di kedua kakinya. Atau juga, menahan lapar.

Kusambar kunci sepeda motor.

"Pa, mau ke pasar dulu, cari pindang buat kucingnya," kataku. Di gang depan rumah, kutemukan penjual sayur keliling. Ada pindang. Kubeli tiga keranjang.

"Hati-hati ngasih ikannya, tiap didekati, dia kabur," kata Papa.

Papa sudah berulangkali berusaha mendekati, memberi makan. Dia malah bersembunyi di sudut halaman, di balik pohon. Papa biarkan. Papa letakkan seember berisi air, untuk dia minum, dan melempar sisa makanan.

Ternyata dia sudah di sana sejak kemarin. Seharian itu aku ke luar kota, baru pulang malam. Tentu kami tak sempat bercerita. Papa sediakan kardus yang kuminta, kadus kubolongi untuk celah udara.

Kucing malang berbaring di bawah jendela kamarku. Sekali-kali dia berjalan ngesot, entah ingin ke mana. Mungkin mencari makan. Mungkin mencari jalan ke luar dari tembok halaman kami yang sangat tinggi, sebab ia terus melihat ke atas, melongok ke kanan-kiri.

Dari jendela kamar, kulempar satu ekor ikan pindang. Tak cukup dekat ke hidungnya, sehingga mungkin dia tak mencium aromanya. Kulemparkan seekor lagi, cukup dekat. Namun dia tetap tak berusaha meraihnya. Apa dia sudah kehilangan selera makan?

Kami pernah mempunyai banyak jenis hewan peliharaan, termasuk kucing. Namun, sejak beberapa tahun ini, Mama melarang kami memelihara. Ini sebab aku dan Papa merahasiakan keberadaan kucing malang ini.

Kebetulan Mama akan pergi, Papa menawarkan diri untuk mengantar. Cepat-cepat kubangunkan adikku untuk mengantarku ke klinik hewan. Kucing malang kudekati, dia malah marah meraung-raung. Meski lemah, ia pamerkan taring dan cakarnya. Aku takut. Tak pernah hadapi kucing semarah ini.

Tentu dia marah. Mungkin sebagai pembelaan diri, karena merasa diusik. Dia takut disakiti lagi. Jelas, kucing ini mengalami trauma berat. Kuminta adikku mengambilnya. Melihat kondisinya yang sangat menyedihkan, adikku tak tega. Akhirnya aku berusaha sendiri, dengan melemparkan pindang ke arahnya. 

Kucing malang makin pergi ke sudut. Dia berusaha memanjat tembok, hal yang tak mungkin dilakukan dalam keadaannya seperti ini. Berkali-kali tubuhnya terjatuh lunglai. Aku tak tega melihat ini. 

Jika saja dia tak semarah itu, aku pasti berani mengambilnya. Akhirnya, aku ke rumah tetangga, berharap ada yang dapat membantu. Tak ada orang. Kutanyakan Simbak asisten Mama, dia takut kucing. Aku deg-degan, harus berburu dengan waktu, takut Mama pulang.

"Kucingnya marah dan mau nyakar kalau dideketin. Utha gak berani ambil dia. Om dan Mas depan gak ada" SMS-ku pada Papa. Om dan Mas depan, maksudnya tetangga depan rumah.

Menunggu terasa sangat lama. Jantungku bergerak kencang, seperti sedang menunggu wawancara kerja saja. Lima menit. Sepuluh menit. Dan akhirnya kedua tetangga itu datang. 

"Ini dipukul orang," kata Si Mas yang bikin aku makin sedih. Si Mas mengambil kardus, menelungkupkan pada kucing malang. Berhasil. Aku diminta mengambil tali rafia. Ternyata kucing malang meronta, terlepas. Si Mas coba telungkupkan lagi. Berhasil.

Sedih sekali melihat kedua kaki belakangnya yang lunglai tak ada gerakan. Adikku menyiapkan sepeda motor. Aku ambil koran untuk mengalas jok tengah untuk meletakkan kardus. Kucing malang sangat bau, aroma pipis. Dia pasti tak lagi lancar membuang hajat akibat keadaan kaki belakangnya itu...

Di klinik
Begitu kardus dibuka, kucing malang meraung, menunjukkan taring dan cakarnya seperti di rumah tadi. Butuh dua orang memegangnya. Tak mudah. Dia turun sendiri ke bawah meja periksa (pasti kakinya sakit sekali), lalu sembunyi di sudut, persis di rumah tadi.

Lebih dari sepuluh menit baru dapat ditaklukkan, dengan bantuan sehelai kain yang dibungkus ke tubuhnya, hingga dua kakinya yang masih aktif tak dapat bergerak. Mungkin dokter-dokter ini sudah mendapat sejumlah cakaran. Aku menonton dari jendela di luar ruang periksa.

Dokter langsung sigap memerika. "Ini bukan jatuh. Kucing punya cara pertahanan diri jika terjatuh. Ini mungkin kecelakaan," analisa sang dokter.

Agak sulit memikirkan bagaimana mungkin kucing dalam keadaan dua kaki tak bisa jalan, bisa sampai di rumahku yang berjarak belasan meter dari jalan raya. Apakah dia ngesot selama beberapa hari?

"Mungkin saja, sebab lukanya sudah kering," kata dokter. Ada sebuah luka di telapak atas yang sudah kering, luka terbuka yang sampai kelihatan tulangnya :(

Dokter juga menemukan belatung di sekitar pant*tnya. Ini bukti lain bahwa dia sudah lama tak sehat. Mungkin belatung dari kotorannya. Tentang lendir di mata, aku lupa menanyakan, namun kotoran di sekitar matanya "mungkin virus," kata dokter.

Setelah memeriksa, dokter bilang tak ada kaki yang patah. Aku sangat sangat sangat senang mendengarnya, sampai...

"Namun dia akan lumpuh. Syaraf belakangnya kena, sehingga organ geraknya terganggu..."

"Lalu diapain, dok? Operasi?"

"Enggak, kita cuma bisa beri vitamin. Ini untuk menguatkan sarafnya."

"Bisa sembuh dok?"

"Kalau sembuh kita gak jamin... Dia akan lumpuh..."

Deg!

"Tapi luka-lukanya dapat sembuh. Akan sehat lagi, namun lumpuh," sambung dokter.

Baik. Kuterima itu. Dia bisa sembuh, namun lumpuh. Seperti (maaf) difabel, mungkin. Sebenanya boleh dibawa pulang, rawat jalan. Namun, selain tak berani merawatnya, juga tak mungkin membawanya pulang. Dia kubiarkan dirawat inap. Sampai kapan? 

"Jika dia mau makan, proses penyembuhannya akan cepat," kata dokter.

Aku sudah cukup puas dengan jawaban itu. Aku pulang, tanpa kucing malang.

Jumatan
Di rumah, Papa terus menanyakan si kucing malang. Usai Jumatan, Papa mampir ke klinik.

"Kalau sudah sembuh, kita pelihara aja ya Dek!"

"Jangan deh Pa, Mama gak akan mau," kataku. 

Lalu aku bingung, bagaimana nasib si kucing malang ini nanti...


Mlekom,
AZ


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata