Friday, October 23, 2009

Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 AM | No comments

Saatnya Memilih



Aku bukan orang yang ribet, meski pilihanku, bagi sebagian orang, tidaklah sederhana. Paling tidak, sebagian orang itu adalah ibuku. Selain urusan memilih pasangan hidup, ibuku juga melakukan intervensi luar biasa untuk urusan pekerjaanku.

Intervensinya memang bukan terkait harus kerja dimana, gaji berapa, dan seterusnya. Tapi menyangkut: perempuan, lebih baik bekerja kantoran, nanti sempat urus rumah. Hal ini kuyakini berdasar cerminan kehidupan ibuku di masa lalunya.

Beliau yang seorang pegawai di salah satu bank swasta terpaksa pergi pagi sebelum kami, kedua putrinya, bangun tidur, dan pulang ketika kami sudah tidur. Sehari-hari kami ditemani oleh dua orang pekerja rumah tangga yang masing-masing bertugas mengatur rumah dan mengasuh kami.

Bagi ibuku, berkarir itu penting, sebab beliau merasakan betapa tidak enaknya ketika harus meminta pada suami untuk kebutuhan pribadinya terkait kebutuhan yang bukan keperluan rumah tangga.

"Dulu, waktu bekerja, Mama beli lipstik dengan uang sendiri, bisa memilih merk favorit. Sekarang, meski dikasih Papa, Mama tidak memilih merk itu lagi," kata ibuku suatu ketika.


Ibuku tak pernah menyesali dia berhenti dari pekerjaannya yang saat itu memiliki penghasilan jauh lebih besar dibanduing ayahku yang seorang PNS. Beliau memilih berhenti bekerja demi kebersamaan kehidupan keluarga kami. Saat itu, ayahku dipindah-tugaskan di sebuah daerah yang tidak ada kantor cabang perusahaan tempat ibuku bekerja.

Demi kami, keluarganya, dia memilih menjadi ibu rumah tangga biasa setelah lebih dahulu kursus menjahit, rias dan memasak kue. Kursus-kursus ini akhirnya berguna untuk mengisi longgarnya waktu luang seorang ibu anggota Darmawanita di daerah baru kami.Ibu malah bisa menggunakan ilmu barunya tersebut untuk mengajari ibu-ibu Darmawanita lainnya. Ilmu ini bahkan menjadi sumber penghasilan baru bagi keluarga kami, meski jumlahnya jauh dibawah penghasilan ibuku sebelumnya.

Ibuku seorang glamour yang menggunakan merk terbaik sesuai seleranya. Selera ini pula yang membuatnya menjadi tambun, sebab menjadi stress diawal kepindahan keluarga kami. Ibuku termasuk orang yang akan melarikan perasaan stress nya pada makanan. Apalagi saat itu ibu sudah pintar memasak ;)

*
Kini, aku akan mengalami hal itu: Bekerja untuk kehidupanku di masa depan. Aku selalu ingat cerita ibu tersebut: Perempuan harus bekerja, meski keluarga tetap yang utama.

Aku sangat tertarik pada bidang media dan pemasaran. Aku tidak sanggup menjadi reporter, karena pekerjaan media harian pasti akan sangat melelahkan. Selain tenagaku tidak kuat, aku juga bukan orang yang sigap ;)

Aku mendamba pekerjaan berikut:
  1. News anchor
  2. Pegawai LSM
Untuk yang 1) pasti sangat berat.Indeks prestasi ku di kampus pas-pasan. Untuk 2), mungkin bisa dicoba. Ibuku, meski lebih menginginkanku menjadi PNS *yeah, she really does!*, mendukungku untuk yang 1), sebab jam kerjanya tertentu.

*
Kebetulan saat ini aku sedang bingung. Ada tawaran di empat tempat:
  1. Sebuah lembaga penelitian di kampus negeri tertua di negeri ini. Sebagai Staf di bidang International Research.
  2. Seorang Profesor di kampus yang sama. Menjadi Personal Assistant (PA). Sang Prof concern pada bidang transportasi dan perhubungan.
  3. Sebuah advertising company di Jakarta. Sebagai PR.
  4. Sebuah LSM local di Yogyakarta. Sebagai Staf Divisi Media
Aku pun menimbang-nimbang tawaran tersebut. Berikut plus-minusnya:
  1. Pekerjaan membosankan, berada di belakang meja, depan monitor. Sudah setahun aku menjalani pekerjaan ini di tempat sama, hanya saja dengan status Freelance, bukan Staf. Pekerjaan utamaku adalah mencari kemungkinan kerjasama riset dengan lembag ainternasional, menyiapkan bahan, menghubungi para pakar di kampus tersebut, membuat rangkuman tiap pertemuan para pakar, mengkompilasi hasil penelitian, dst. Membosankan. Aku tidak pernah sekalipun ke lapangan untuk ikut para tim ahli melakukan penelitian. | Penghasilan: Rp 3.200.000/bulan
  2. Pekerjaan menyenangkan, sebab akan mengikuti sang Prof terbang ke mana-mana ke seluruh dunia. Namun pekerjaan utamanya sangat tidak kusukai, sebab menyediakan keperluan sang Prof, mulai dari kebutuhan terkait pekerjaan (seperti dokumen) hingga kebutuhan pribadi (mendorong kopernya di bandara, membawakan laptopnya). Ini buatku sama saja dengan pembokat, hehe. Pembokat yang digaji lebih tinggi dari pembokatku dirumah dan jalan-jalan ;) | Penghasilan: Rp 125.000/hari.
  3. Aku tidak tertarik dengan pekerjaan PR, sebab mengandalkan mulut. The more your mouth bubling, the more you get succes. Hahaha, seorang teman yang berprofesi di bidang ini tidak menyetujui pendapatku tersebut. Ya, lagipula, tawaran itu ada di Jakarta. Saat ini aku masih menyelesaikan skripsiku. Meski bisa pulang tiap week-end, habislah gajiku. | Penghasilan: Rp 3.500.000/bulan.
  4. Sangat tertarik! Sebab saat wawancara kemarin sang Direktur berkata: "Tapi apakah kamu bersedia dan sangup untuk perjalanan ke luar kota?" Aah pak, that's all I want, yu kno??? ;) | Penghasilan: belum tahu. Tapi dalam kisaran Rp 1 juta saja ;) Tapi ini di Jogja, lho.
Saat ini aku berat memilih antara tawaran 2) dan 4). Ketika 2), aku selain berkesempatan jalan-jalan (haha, hidup kok niatnya jalan2?), aku juga bisa "dekat-dekat" sang Prof yang pernah menjanjikanku untuk informasi beasiswa di jurusan yang kuinginkan: MarComm.Namun aku membayangkan harus siap siaga nyaris 24 jam untuk online di yahoo msgr demi memenuhi ini-itu permintaan beliau dan bergelut lebih alam dengan issue transportasi? Ahh, tunggu dulu!

Ketika memilih 4), kupikir akan kehilangan kesempatan ke luar negeri, kesempatan S2, dan kesempatan bergaji cukup. Namun, di LSM baru ini aku akan mendapat segala hal yang kuinginkan untuk berkarir: bermedia dan pekerjaan luar ruang. Meski issue-nya lebih ke community-based information network, aku pikir ini lebih menarik dibanding pilihan 2).


Yeah, lets see!

AZ 
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata