Friday, January 29, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 7:58:00 PM | No comments

Dua Mata Indah Itu Kini Tertidur




Miss Owl.
Radang saluran pencernaan.
Berak berdarah.
27 Januari 2010. 

Wednesday, January 20, 2010

Dear All,

Berada di pertemuan tiga lempeng besar aktif yang pergerakannya mampu menghasilkan gempa menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia termasuk dalam wilayah rawan bencana. Tak hanya itu, salah satu penanda pertemuan kedua lempeng tersebut adalah keberadaan gunungapi yang berpotensi menimbulkan berbagai bencana vulkanik. Hal itu masih ditambah lagi dengan kondisi nusantara yang dua pertiga wilayahnya merupakan lautan, sehingga gempa-gempa yang terjadi sangat potensial menimbulkan tsunami.

Sebagai warga negara yang tinggal di negeri penuh bencana ini, sepertinya akan cukup sulit untuk menemukan orang yang belum pernah merasakan bencana. Mulai dari bencana yang mengakrabi sebagian penduduk kota besar kita seperti banjir, angin ribut yang belakangan ini marak, hingga kejadian gempa bumi yang seringkali dilabeli bencana nasional.

Bayangkan apa yang dilakukan seseorang ketika ia berada di tengah bencana? Seperti kejadian gempa bumi yang berpusat di Ujung Kulon pada 16 Oktober 2009 lalu. Gempa itu turut mengguncang Jakarta, Banten dan sebagian Jawa Barat. Setelah berlarian menyelamatkan diri, masing-masing orang akan berusaha menghubungi kerabat untuk mengabarkan kondisinya. Beruntung memang, ketika gempa berkekuatan 6,4 SR tersebut tidak sampai menyebabkan putusnya jaringan informasi seperti yang jamak terjadi di daerah-daerah lain yang mengalami gempa. Hingga dapat dipastikan bahwa saat itu jaringan BTS sangat padat karena orang terus menelepon dan berkirim SMS.

Nah, ada hal baru di kejadian gempa Ujung Kulon kali ini, yaitu selain langsung memanfaatkan ponselnya untuk berkomunikasi langsung, tak sedikit orang Jakarta yang beberapa saat setelah terjadinya gempa langsung mengupdate status mereka yang menggambarkan kejadian gempa yang baru saja mereka alami di situs jejaring sosial (social networking) tempat mereka bergabung. Sampai-sampai muncul status kocak seperti "Orang Jakarta begitu gempa langsung ambil HP, update status FB", yang di-post oleh salah seorang yang saat itu juga mengalami kejadian gempa tersebut.

Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, masyarakat kita sering berbagi berita bencana di situs jejaring sosialnya lewat cara memperbarui status. Secara psikologis, hal ini sangat membantu orang-orang dekat yang berada dalam jarak yang tidak dekat dengan kita untuk mengetahui tentang kondisi kita. Misalnya saja, seorang adik yang berada di Yogyakarta tidak akan khawatir dengan kondisi kakaknya yang berada di Jakarta saat kejadian gempa Ujung Kulon, sebab si kakak meng-update kondisinya di status FB.

Untuk hal yang lebih luas, pemilik akun di situs jejaring sosial yang terus memperbarui statusnya di saat bencana seperti ini—tentunya jika ketersediaan jaringan komunikasi mencukupi—mampu menjadi semacam informan strategis. Posisi mereka disebut strategis, sebab berada langsung di tempat kejadian, sehingga mampu melaporkan kejadian tersebut berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan secara langsung. Bahkan dalam banyak kejadian, orang-orang yang aktif di situs jejaring sosial sudah mengetahui informasi terjadinya suatu bencana di daerah tertentu, lebih cepat dibanding pengumuman resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan United States Geological Survey (USGS).

Tentu saja, ini menjadi salah satu alasan mengapa kemudian USGS membuat akun twitter berlabel Twitter Earthquake Detector (TED) yang bagi seluruh penghuni bumi bisa dijadikan tempat berbagi dan memperoleh informasi dengan mem-follow @usgsTED (http://www.usgs.gov/corecast/details.asp?ep=113 ). Akun ini dibuat untuk menghasilkan data gempa bumi secara real time.

Secara mudah, itulah salah satu fungsi dari situs jejaring sosial. Tentu ada berbagai fungsi dan peranan lain yang dengan atau tanpa sengaja turut membantu berjalannya arus informasi di tengah daerah bencana.

Saat ini combine.or.id sedang menyusun terbitan yang terkait tentang bencana dan pemanfaatan media. Untuk itu, kami membutuhkan cerita-cerita mengenai pengalaman empiris anda ketika mersakan betapa sebuah situs jejaring sosial sangat membantu terjalinnya komunikasi anda dengan kerabat pasca bencana. Anda bisa berpartisipasi lewat bercerita dengan alur sebagai berikut:


  1. Pernahkan anda mengalami kejadian bencana alam? Atau, pernahkah kerabat Anda menjadi salah seorang yang berada di tempat kejadian bencana?
  2. Apakah Anda menggunakan situs jejaring sosial untuk mengirim kabar dan/atau mencari kabar seseorang?
  3. Bagaimana efektifitas media situs pertemanan dalam perannya sebagai penyampai berita dari/ke lokasi bencana?


Salam,
AZ

Wednesday, January 13, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:16:00 PM | No comments

Mbak Suti

Mbak Suti,
lagi pergi
mengambil cuti
'tuk tujuh hari

Mbak Suti,
bersama anak dan laki
pergi holidei
ke pulau Bali

Mbak Suti,
ku menanti
ku sendiri

Mbak Suti,
cepat pulang kesini
lekas berjumpa kembali
jangan pergi lagi...

*
Mbak Suti adalah asisten rumahtangga di keluargaku.

Tuesday, January 5, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:53:00 PM | 2 comments

Hidrofobi



Hotel Puri Asri, Magelang
(21/12/09)
Aku duduk di sudut. Para lelaki itu menghampiriku. Aku begitu ketakutan. Namun mencoba berlari adalah membuang energi dengan sia-sia. Mereka mengepung dari segala penjuru: Belakang, depan, samping...

“Kamu akan melakukannya secara sukarela, atau harus kami paksa?”

Tentu aku diam saja, keduanya bukan pilihan. Yang dapat kulakukan hanyalah berteriak. Aku sedang dalam kerumunan orang yang kukenal. Namun sial, tak satupun diantara mereka yang bersedia membantu. Entah mereka takut, entah mereka memang berkomplot dengan para lelaki ini.

“Tolong, aku sedang tidak enak badan,” mohonku. Namun mereka tidak beranjak.
“Aku belum makan, perut dan kepalaku sakit.” Aah, alasan bodoh, pikirku. Mana mungkin mereka pedulikan itu? 
 
Aku ditarik dengan kasar. Yang sempat kurasa, ada cengkeraman kuat di masing-masing pergelangan tangan dan kakiku. Berarti saat itu setidaknya ada empat orang yang membopong tubuhku. Sedang sejumlah lelaki lainnya sibuk melucuti segala barang yang ada di tubuhku:* Telepon genggam, kunci hotel, hingga jepitan yang tertancap di rambutku!

Tuhan, apa yang bisa kulakukan? Ya, aku ingat bahwa akhir-akhir ini aku sering melewatkan waktu bercinta denganmu. Tapi jangan siksa aku seperti sekarang, seperti ini, Tuhan... –batinku.

Semakin meronta aku, semaki bernafsu mereka mencengkeram. Merasa kalah, hanya doa yang bisa kulakukan. Ahh, Tuhan belum menjawab. Lihatlah mereka yang terus saja membawa tubuhku...

Dalam meronta, aku berpikir. Aku harus menemukan satu alasan tepat. Alasan yang bisa membuat mereka mengurungkan niatnya.

“Aku sedang mens!” Ya, alasan itu terdengar jitu! Bravo, Adriani!

Namun sial, lagi-lagi hal itu tidak berhasil! Mereka terus membawaku. Sampai tiba-tiba aku terkulai lemas. Lalu kurasakan cengkeraman tangan-tangan itu mulai terlepas satu per satu, dan melepaskanku di atas rumput di taman itu.
Mataku terpejam. Yang kupikirkan adalah hanya ada dua kemungkinan untuk kehidupanku ke depan, yakni bahwa aku akan menderita trauma berkepanjangan, atau aku akan pingsan di tempat sebab begitu shock.

Lantas, dalam beberapa menit kemudian, setelah para lelaki itu berbisik-bisik, mereka tiba-tiba kembali di posisi awal. Kedua pasang tangan dan kakiku kembali dalam cengkeraman. Tubuhku kembali diangkat, dan... mereka mendudukkanku di pinggir kolam. Lalu entah berapa orang dari mereka mengangkat tanganku, lalu....

Aku megap-megap. Riuh rendah suara membahana dari arah panggung hiburan yang saat ini sedang kedatangan dua biduan Magelang. Yeah, mereka berhasil menceburkanku dalam kolam penuh lumpur hitam itu!

Ya, mereka MENCEBURKANKU! *SIGH*

Padahal, malam itu aku baru saja selesai mandi setelah tiduran selama beberapa jam untuk melepas lelah setelah seharian harus mengikuti perjalanan Jogja-Magelang, lalu berlanjut dengan sesi refleksi dengan seorang Motivator mirip bos Media Grup.

Ah, malam itu aku mengenakan pakaian siap tidur: Sebuah kaos katun putih dengan celana piyama batik yang beberapa hari sebelumnya baru kubeli di Pasar Bringharjo Jogja.

Ketika dipanggil untuk bergabung dengan teman-teman lainnya, aku tidak mengganti pakaian, sebab itu kan acara santai. Hanya panggung hiburan keyboard dengan dua biduan dengan pakaian dan dandan yang yaaa-gitu-deh.
Di tanganku ada hape. Di kantongku ada kartu buat kunci kamar (apa namanya?). Di rambutku ada sebuah jepitan. Ya, cuma itu yang kubawa.

***

Ini adalah acara tahunan. Liburan dengan keluarga. setiap pegawai yang sudah berkeluarga membawa anak/istri/suami mereka. Sehingga panitia merancang berbagai acara yang diperuntukkan bagi keluarga. Ketika sesi acara keluarga seperti itu, apalah yang bisa dilakukan oleh para lajang? 
 
Tiba-tiba ada keriuhan. Salah satu pegawai yang masih lajang diceburkan ke dalam sebuah kolam yang terletak tak jauh dri panggung. Eeh, membalas dendam, dia menarik seorang lajang lainnya untuk mengikuti jejaknya nyebur di kolam. Lalu berlanjut pada semua laki-laki di sana, tidak hanya yang lajang, namun juga yang sudah beranak. Bahkan anak-anak mereka merasa terhibur dengan berteriak-teriak “Papa, papa, papa...” ketika ayah mereka mendapat gilirannya.

Gentlemens, done. Woman? Oh, no. Mana mungkin ada yang berani?
Namun saudara-saudara sekalian, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, aku menjadi satu-satunya perempuan korban penceburan di malam itu.
Bad, bad, bad!


Hidrofobi
Sewaktu akan diceburkan, aku sempat beberapa kali memberi alasan. Yang sakit perut dan pusing lah karena belum makan malam –akibat ketiduran, aku kelewatan sesi parasmanan *Siawl!*. Yang aku sedang pilek lah, karna disitu emang dingin. Yang aku mens lah, takut itu air kolam jadi bersaos. Yang lain-lain lah...

Tapi tidak mempan. Dasar emang lajang enggak punya kerjaan. Makanya, pada cepetan kawin gieh, biar bisa ikutan lomba keluarga! *Ini juga sebagai masukan pada panitia, agar memperhatiakan nasib para lajangers diantara rimbunan keluarga! :)

Hidrofobik (opposite dari hidrofilik). Gampangannya ya takut pada air. Dalam ilmu psikologi, kasus ini dipelajari. Orang yang mengalaminya disebut penderita J
Nah, aku merupakan salah satu penderita penyakit psikis ini. Aku tidak ingat persisnya sejak kapan aku mulai menjadi penderita. Yang pasti, sejak kecil aku takut dengan air.

Eitz, itu bukan berarti bahwa aku lantas tidak mandi. Apalagi tidak minum. Itu samadengan biofobi donk --> bio = hidup --> takut hidup? Hiiiiii...

Nah, rasa takutku akan air itu muncul ketika di malam hari. Misalnya, aku tak berani mendengar suara air mengucur deras ketika dalam keadaan sunyi (seperti suara aliran sungai di hutan) atau dalam keadaan sendiri dan tertutup (misalnya dalam kamar mandi yang tertutup).

Aku juga takut melihat air dalam jumalah yang banyak, misalnya laut, danau, sungai, bahkan selokan. Aku kuliah di kampus yang dilalui Selokan Mataram. Selokan ini merupaka salah satu selokan besar di kota Jogja. Kalau malam, aku tidak berani lewat di dekatnya. Trims kampus dan Pemda Sleman, sudah menutupnya menjadi jalan. Yang daerah Pogung sekalian donk, Pak! :)

Dulu aku kursus bahasa di tempat les-lesan yang berlokasi tepat di seberang Jembatan Merah. Jembatan yang berlokasi di Jalan Affandi (Gejayan) Jogja ini menjadi akses terdekat dari dan menuju tempat les-lesan. Tapi ketika pulang les malam, aku lebih mau memutar sampai jutaan kali lipat (lebay!) jarak dibanding jika aku melewati Jembatan Merah saja. Soalnya, tiap siang aku perhatikan bahwa sungai di bawahnya besar jugak!

Nah, kebetulan Hotel Puri Asri berkonsep alam. Dia membangun pintu-pintu kamarnya sengaja menghadap ke sungai yang juga dimanfaatkan untuk rafting. Bagiku, meski begitu indah di siang hari, malamnya menjadi musibah. Sebab aku harus mau memutar cukup capek (kontur tanahnya berbukit-bukit, jadi harus naik-turun) demi tidak mendengar suara riak air yang semakin jelas dalam keadaan malam yang senyap. Ini juga alasan mengapa aku membiarkan tivi menyala sepanjang malam, agar mengalahkan desir air :)


Dari Fobia hingga Gerakan Separatis
Sewaktu baru menjadi mahasiswa. Rrrr, jaman lucu-lucunya aku gitu, dewh. Aku pernah dikejar-kejar seseorang dengan alasan yang aku tidak tahu. Aku sampai takut kuliah, sebab dia tahu di mana kampusku. Dia juga tahu di mana tempat tongkronganku. Hwiii. Aku sampai berpesan kepada teman-teman untuk tidak menunjukkan keberadaanku atau memberi nomor teleponku jika dia datang dan bertanya. Aku juga sudah mengganti nomor handphone.

Kenapa aku harus takut? Sebab, dari pembicaraanku dengannya, aku menyimpulkan bahwa dia adalah anggota dari salah satu organisasi underbow yang berafiliasi pada gerakan separatis di salah satu provinsi yang ingin merdeka dengan memisahkan diri dari NKRI. Nah, organisasi underbow ini disinyalir banyak media merupakan organisasi yang dihidupi oleh kumpulan orang lokal terpelajar, terutama mahasiswa. 
 
Nah, orang yang mengejarku itu kebetulan adalah seorang mahasiswa. Dalam berbagai obrolan kami, ia seakan-akan sedang berorasi, mengajakku bergabung dengan organisasinya. Tentu saja persuasif, tidak implisit. Yah, semoga itu hanya perasaan Dik Adriani saja.

Kenapa aku? Karena aku selama hampir satu dasawarsa tinggal di provinsi itu. Aku tidak mempunyai hubungan darah sama sekali dengan penduduk setempat. Juga tidak memiliki hubungan batin dengan tanah setempat. Hanya karena aku pernah menjadi warga pendatang di sana?

Intinya, aku takut karena ayahku seorang Pegawai Ngeri Sipil (PNS), yang suka ngeri kalau tiba-tiba di-non job-kan karena alasan terlibat gerakan melawan negara, yang suka ngeri kalau berpikir tentang anak-bini akan makan apa jika tak lagi bekerja sedang gaji selama ini tak pernah bersisa untuk ditabung, yang suka ngeri kalau ketahuan tidak nyoblos Si Kuning di era lalu, dan ngeri-ngeri lainnya.
Nah, saking fobia nya dengan itu orang, ketakutan itu sampai terbawa mimpi. Dalam mimpi itu, fobia yang satu ini bertemu dengan fobia lainnya: ketakutan akan air. Ceritanya begini.

Si mahasiswa organisasi underbow dari gerakan separatis (sebut saja Si MOUGS) itu punya seoran teman yang juga kukenal dan sering terlibat dalam pembicaraan kami ketika ia “berorasi” tentang cita-cita kaum sesamanya itu. Nah, teman Si MOUGS ini di suatu sore menjemputku dari sekolah –entah kenapa saat itu aku mengenakan seragam SMU dengan rok panjang. Duduk menyamping di boncengan sepeda motornya, ia membawaku ke bibir pantai di Selatan Jogja.

Kami duduk di atas pasir yang masih hangat akibat terpanggang matahari siang. Kami duduk mengobrol ngalor-ngidul, sampai tanpa terasa semburat warna-warna baru mulai muncul seiring kepergian mentari (halah!). Aku mulai gelisah, sebab langit akan gelap.

“Antar aku pulang!” kataku.
“Nanti, sebentar lagi.”

Begitu terus jawabnya setiap kuminta untuk mengantarkanku pulang. Sampai warna langit berubah hitam, dan suara ombak pecahmakin membahana ketika air semakin pasang. Di sana, di atas pasir yang kini terasa dingin itu, aku megap-megap. Tak mampu lagi bersuara, namun berusaha mengajaknya pulang.

Ketika tersadar dari mimpi, aku membuka mata dengan keadaan jantung berdenyut cepat dan dada naik turun, menandakan nafasku yang menarik udara dan menghembuskannya dengan cepat a.k.a megap-megap!

See? Betapa hebatnya Si MOUGS sampai-sampai membuatku terbangun dalam kondisi megap-megap!


Megap-megap
Tentang megap-megap ini, sebenarnya memang selalu terjadi ketika aku melihat air di malam hari. Nafas serasa tersendat, tidak tuntas berhembus. Ia tertahan sebelum mencapai lubang hidung. Itu sungguh menyiksa!

Jika tidak melihat air di malam hari pun, aku selalu megap-megap ketika air dari atas mengguyur hidungku. Itu terjadi ketika sedang keramas atau menggunakan shower. Mungkin itu alasan mengapa aku tidak bisa berenang—yang melengkapi penyakit hidrofobiku, yaitu bahwa aku tak bisa lama menahan nafas di dalam air (meski cuma diguyur di depan hidung dari keran).


Apa Sebab?
Jangankan berada langsung di tempat berair-air, melihat foto laut/pantai saja aku takut. Aku selalu menghindari desktop komputer atau kalender bergambar pantai nan indah. Wong kalau tidak melihat saja—setiap melewati jembatan atau selokan besar, aku selalu menutup mata—badanku bisa disko merinding.

Mengenai ketakutanku akan air ini sudah pernah dikonsultasikan pada seorang psikolog. Saat itu, aku ditanya apakah punya riwayat tenggelam atau tidak. Kujawab tidak! Yeah, bagaimana bisa tenggelam kalau sama air saja takut?
Lalu si psikolog membimbingku untuk merunut kejadian-kejadian yang berhubungan dengan air yang pernah membuatku ketakutan di masa lalu. 

Sampailah aku pada cerita ini:
Di suatu siang, sepulang sekolah aku naik angkot bersama sejumlah teman yang rumahnya searah denganku. Saat itu aku duduk di bangku kelas satu SD. Di dalam angkot kami mendengar pembicaraan dua orang laki-laki berseragam SMU. Wajah mereka kaku dan kuyu. Mereka menyebut sebuah nama yang familiar di kupingku.

Geri. Yah, itu seperti nama tetanggaku yang juga SMU, yang semalam bikin heboh orang sekomplek karena dia belum pulang. Kulihat beadge di lengan mereka. Benar, mereka satu sekolah dengan Bang Geri. Lalu kusimak obrolan mereka.

Ya Tuhan, mereka membicarakan tentang beberapa orang teman mereka yang tenggelam di Kali Alas. Kali atau sungai itu terletak di provinsi Aceh Tenggara yang sebagian besar alamnya merupakan lahan konservasi. Banyak sungai-sungai besar masih perawan di sana, di kawasan Taman Nasional gunung Lauser. Sebutlah Kali Alas, Ketambe, Kali Ger-ger, Kali Bulan, dan masih banyak lagi. Itu hanya sebagian yang sering dikunjungi orang untk berwisata.

Sungai-sungai di sana sangat indah, dikelilingi hutan tak terjamah (well, meski belakangan menurut berita sering terjadi banjir akibat ilegal logging). Sewaktu baru pindah ke kota itu, ayahku dan teman-teman kantornya sering ber-adventure menjelajahi sungai dengan arung jeram (rafting). Di masa itu, arung jeram di sana bukan sekadar hal bersenang-senang, namun menjadi “permainan” (ya, saat it belum populer sebagai olahraga) bertaruh nyawa.

Bagaimana tidak, jika kedalaman air bisa mencapai puluhan meter. Belum lagi alur yang begitu berbelok-belok, arus yang deras, hingga keberadaan batu-batu besar. Selain itu, di masa itu tidak ada pihak yang mengelola permainan tersebut, sehingga ketika ayahku bermain-main arung jeram, ia hanya bermodal ban karet dan perahu karet plus kayu pendayung yang entah didapat dari mana. Tak ada helm, tak ada life vest, dst.

Kali Alas merupakan salah satu sungai dengan arus yang besar. Menurut cerita yang kudengar di dalam angkot itu, Bang Geri dan teman-temannya membolos dari sekolah. Mereka bermain-main: berenang dan menyusuri sungai dengan ban karet. Namun tiba-tiba, ketika sore, air pasang, menyeret mereka jauh. Dua orang tewas akibat terbentur bebatuan. Namun aku tak tahu itu siapa, apakah Bang Geri? Beberapa lainnya selamat.

Sesampai di depan komplek, ketika akan memencet bel, aku kuduluanan (?) dengan salah satu abang berseragam SMU abang yang duduk di sampingku. Tuuh kan, mereka mau ke rumah Bang Geri!

Dan benarlah, sesampainya aku di rumah, terdengar teriakan histeris dari rumah Bang Geri. Ibunya pingsan ketika mendengar kabar anak sulungnya itu hanyut.
Ah, keesokan harinya Bang Geri diantar kerumah oleh polisi dan pihak sekolah, dalam keadaan selamat meski baret dan lebam di sana sini. Ternyata menurut ceritanya, ia selamat karena gelayutan pada akar pohon besar (yang memang banyak di pinggiran sungai, aku tak tahu itu pohon apa, tapi akarnya sebesar akar pohon beringin).

***

Nah, psikolog meyakini bahwa cerita itulah yang mempengaruhi ketakutanku akan air. Tapi entah kenapa, harus di malam hari.

Yah, ini pertama kalinya aku berani mengatakan pada dunia (sori bos, hanya dunia yang ngerti bahasa ibuku) bahwa AKU TAKUT AIR. Selama ini aku tidak berani berterus terang pada orang-orang di sekitarku, sebab (ini nih, demenan orang Indonesiyah: kalo orang takut malah makin disengaja!) pasti akan ribet sendiri.

Kalau ke Bali, aku terpaksa tidak ikut sesi menyaksikan-matahari-tenggelam di pantai. Kalau rafting, aku duluan ke garis finish melalui jalan darat. Kalau camping, aku menahan buang air di malam hari karena harus ke sungai. Kalau berenang, aku jadi tukang foto.

Nah nah nah. Entah apa yang terjadi ketika aku diceburkan ke dalam kolam di malam hari itu: aku tidak apa-apa! Sempat lemas luar biasa, sampai mereka meletakkanku di atas rumput. Namun ketika akhirnya benar-benar kelelep: I was just fine! Bahkan cekikikan setelah keluar dari kolam.

Aku pernah melihat suatu tayangan luar mengenai pengobatan fobia. Ceritanya, seorang pasien yang takut kecoa dimasukkan dalam ruangan tertutup yang penuh kecoa. Awalnya kupikir dia akan pingsan. Eh, ternyata tidak, dan fobianya pada kecoa mulai berkurang.

Malam itu, paha kiriku terbentuk pinggir kolam. Cukup keras untuk membuatku menangis (hanya saja masih mampu menahan diri, maluuuuu). Sakit sekali jika harus naik/turun tangga dan nginjak kopling. Bahkan terasa hingga seminggu kemudian.

Yah, bagaimanapun aku tetap berterimakasih, meski pahaku memar, meski kaos putihku sudah tak lagi berwarna putih... :)

 http://whrt.it/IjAGww

AZ
 

*Barang, lho. Pakaian tidak termasuk.

Monday, January 4, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 11:28:00 AM | No comments

Kado Tahun Baru

Tahun lalu aku mendapat dua kado hebat, yaitu ketika dua orang yang aku sayangi mendapat pekerjaan hebat sesuai keinginan mereka.
  1. Seorang teman mendapat pekerjaan di salah satu televisi swasta, yang (sepertinya) sesuai dengan cita-citanya.
  2. Seorang lainnya mendapat pekerjaan di NGO sesuai dengan dambaannya.
Kenapa itu menjadi kado hebat, karena aku tahu bagaimana seseorang “menzolimi” mereka, yang dengan sombongnya berkata: “They will be nothing without me!”

Lantas, dengan segala yang bisa kulakukan, aku mencoba membantu mereka, mulai dari mencarikan info lowongan kerja, membuatkan CV dan surat aplikasi, sampai mengantarkan ketika hari tes.

Tujuanku tak lain tak bukan adalah agar aku bisa tertawa mengejek si penzolim (?), dengan mengatakan: “Yeah Mr Bigmouth, now you see, where are those ‘nothing’ without you besides them! Then look at you now, who are you without them? Hahaha...”

Nah, tahun ini begitu banyak berkah yang aku dapat, seperti:
  1. Mendapat satu sahabat baru yang kupanggil Kadep yang sudah kuanggap sebagai abang sendiri.
  2. Mendapat gambaran bekerja sebagai “orang kantoran” di institusi sebesar lppmugm.ac.id
  3. Mendapat empat anak (plus beberapa lainnya) yang harus aku perhatikan dan tanggungjawabi kehidupannya –Minnie, Scottie, Mr & Mr owl.
  4. Mendapat satu dunia lain yang mampu menggantikan #FB yang semakin membosankan: Tweetland! :)
  5. Mendapat pengalaman luarbiasa menjadi personal assistant seorang Profesor dari UGM.
  6. Mulai berani nyetir M/T sendirian #garagaramobdin
  7. Mengalami dua kali jatuh cinta: di awal dan penghujung tahun.
  8. Mendapat satu tambahan sahabat yang seru untuk luntang-luntung di Jogja @kristupa

Nah, diatas seluruh kebahagiaan itu, ada empat yang sangat bermakna, yaitu:
  1. Bahwa aku masih dipercaya oleh kampus untuk mendapat tiket masa depanku :) go go go, fight for it!
  2. Bahwa di tahun ini, setelah beberapa tahun terakhir mengalami kebingungan, akhirnya aku bisa menjawab dengan lantang ketika ditanya: Mau berlebaran di mana?
  3. Aku tak pernah menginginkan duduk di kursi lembaga bernama birokrat atau korporat, kecuali perusahaan media. Sebab, aku bercita-cita bekerja di NGO dan/atau media. Dan alhamdulillahi rabbal alamin, puji Tuhan semesta alam, aku ditawari bekerja sebagai anggota dari tim media di sebuah NGO: Two in one!
  4. Lalu, di penghujung tahun ini, Mr Then Scallopteakwood, seseorang yang sudah kuanggap sebagai adik sendiri, mendapat pekerjaan yang baik untuk menaikkan derajad kehidupan keluarganya. Send my loving regards to your Mama, dear.
Tahun ini, mungkin untuk pertama kalinya aku membuat resolusi tahun baru. Nggg, aku punya satu mimpi, yang Insya Allah terlihat cukup mungkin untuk direalisasikan dalam waktu dekat: Mengirimkan undangan pada Papa dan Mama Ipan untuk suatu sesi foto* di Grha Sabha Pramana (GSP).
Nah, temans: Saya usaha, mohon doa! :)

*mengutip kata-katanya Kadep
Posted by adriani zulivan Posted on 11:22:00 AM | No comments

Dekat tapi Jauh



“Mama ngambil (kuliah) S2 untuk menopang hidup kami.”

Keterangannya itu membuatku tersentak. Bahwa seorang perempuan menghidupi diri dan anaknya dari bantuan dana pendidikan! Ya, awalnya, aku berpikir betapa hebatnya perempuan satu ini. Di usianya yang tak lagi muda (late 40), dia beresemangat meneruskan pendidikannya. Mungkin karena dia (mantan) seorang pendidik, pikirku sebelumnya.

Nah, kamu tahu apa? Perempuan itu adalah ibu kandung dari salah seorang sahabat yang sudah kukenal sejak LIMA tahun lalu. Sahabat yang sudah kuanggap adik sendiri. Hebatnya, meski aku tahu banyak hal tentang keluarganya, tapi tidak dengan cerita ini. Too bad, bahwa kita sebenarnya begitu dekat, namun ternyata begitu jauh!

Then Scallopteakwood
Sebut saja namanya begitu. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara dengan urutan gender laki-laki, laki-laki, dan perempuan. Dia tinggal bersama ibu dan adiknya, sedang kakaknya sudah tinggal terpisah dari keluarga sejak berwirausaha. Apalagi tahun lalu telah menikah.

Dia adalah mahasiswa semester akhir di universitas negeri tertua di negeri ini. Sedang adiknya masih duduk di bangku SMU. Ibunya adalah mantan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) yang memilih mengakhiri jabatannya karena tidak sepikiran dengan atasannya.
Ya, sekitar dua tahun lalu sang ibu mengajukan pengunduran diri sebagai tenaga pengajar di sebuah PTS. Bukan karena permintaan suami, bukan pula karena gaji yang tak mencukupi.

Bukan alasan permintaan suami, sebab ia dan ketiga anaknya sudah belasan tahun ditinggal tanpa kabar dan tanggung jawab. Ke mana sang ayah? Jangan ditanya ke mana dia pergi,,, jangan ditanya dia tak kembali... Sebagai single parent, ia menghidupi sendiri anak-anaknya. Maka tak mungkin alasan gaji yang tak mencukupi.

Sebagai seorang dosen yang sudah memiliki jabatan cukup penting di jurusan tempat ia mengabdi, perempuan ini berani bersuara lantang untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan pikiran dan ideologinya. Hingga suatu saat, suara lantangnya itu membuat ia bermasalah dengan atasannya. Daripada diam dan terus bekerja dengan sistem yang tidak sesuai dengan hatinya, ia pun memutuskan untuk mengakhiri karier di tempat itu.

Dia memutuskan berhenti tentu saja dengan berbagai pertimbangan matang. Saat itu, aplikasinya untuk melanjutkan studinya diterima. Itu artinya, ia akan memperoleh dana bantuan pendidikan sebanyak Rp 1,5 juta per bulan dan Rp 4 jt selama menyelesaikan tesis. Baginya, jumlah itu dirasa cukup untuk membiayai rumah tangganya. Kebetulan, sejak selesai kuliah S1 dua tahun lalu, si sulungnya berwiraswasta—meski belum mampu membantu ibunya membiayai kedua adiknya, ia mampu membiayai kehidupannya sendiri. Jadi yang masih ditanggungnya dua anak terakhir.

Namun secara logika, seorang anak laki-laki yang duduk di semester VI—meski di PT negeri—pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Begitu pula gadis kecilnya yang saat itu masih duduk di bangku SMU. Belum lagi kebutuhan harian rumah tangga. Bagaimana keluarga itu bisa bertahan jika tidak mempunyai sumber penghasilan lain?

Sembari kuliah, sang ibu menjadi caleg di Dapil tempat tinggalnya. Keluarga ini sangat berharap pada terpilihnya sang ibu sebagai anggota legislatif, sebab hidup mereka benar-benar membutuhkan itu: gaji bulanan dan rumah.

Ya, selama ini mereka menumpang di rumah salah seorang kerabat sang ibu yang ternyata tidak terlalu bisa menerima kehadiran mereka di sana. Itu sebab mengapa si anak kedua ini lebih memilih untuk menginap di kamar kos salah saorang sohib karibnya di kampus, dan sesekali pulang ke rumah tanpa menginap hanya untuk menemui ibunya. *Terimakasih untuk sang sohib!*

Alasan lain mendompleng di tempat kos temannya adalah karena jarak rumah ke kampus cukup jauh, sehingga dia membutuhkan bea lebih banyak untuk bensin sepeda motornya. Sedangkan dari kos-kosan ia bisa menggenjot sepeda saja.

Akhir Tahun 2008
“Aku takut aku tidak bisa membalas kebaikan mama,” lirih si anak kedua ketika suatu hari bercerita padaku.
“Lho, kenapa enggak bisa? Kalo sekarang ya belum, lah. Kamu kan masih kuliah.”
“Justru karna itu...”
“Lho, lho? Kamu balasnya nanti donk, setelah lulus, terus kerja. Bantu deh mama untuk kebutuhan harian di rumah dan sekolah adek.”
“Tapi apa aku bisa?”
“Bisa! Kamu sekarang kuliahnya sudah sampai mana?”

Menurutnya, ini merupakan semester terakhirnya mengambil mata kuliah. Semester depan tinggal skripsi. Jadi, sekitar Oktober tahun depan dia bisa tamat kuliah kalau nilai tidak rusak. Sedangkan sang ibu akan lulus pada November 2009 yang artinya, setelah lulus tidak akan ada lagi aliran dana untuk keluarga itu. Jadi, Si Tengah ini harus segera lulus!

Ya, dia satu-satunya harapan termungkin dari keluarga itu untuk hidup. Lihat kakaknya, kini berkeluarga, tak bisa lagi berbagi penghasilan. Lihat adiknya, masih sekolah. Lihat ibunya, tak mudah mencari pekerjaan baru di usianya sekarang.

Tengah 2009
Pemilu selesai. Nama sang ibu tidak tercantum dalam susunan anggota DPRD terpilih. Itu berarti bahwa mereka tidak jadi mendapat rumah dinas yang bisa digunakan sementara oleh keluarga ini, agar tidak berstatus menumpang tempat tinggal lagi. Itu juga berarti bahwa mereka tetap tidak memiliki penghasilan bulanan.

Saat kampanye, sang ibu yakin dengan konstituennya. Ia yakin bahwa mereka akan memilih dia. Karena ketiadaan dana, dia berkampanye dengan membuat berbagai program yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat dusun/desa, terutama kaum perempuan. Hal ini, tentu saja, mendapat simpati luar biasa dari masyarakat setempat.

Tapi siapa sangka, mungkin benar bahwa uang selalu menang. Berbagai atribut kampanye dibagikan tiap kampanye caleg saingannya. Belum lagi jika berbicara mengenai bagi-bagi sembako dan amplop. Kalah, lah!

Akhir 2009
Aku akan berangkat ke Kupang. Diterima menjadi MT di perusahaan semen. Selama OJT ia digaji Rp 3,5 jt dengan pesawat PP ditanggung perusahaan. Itu artinya, ketika menjadi pegawai tetap nantinya, gajinya akan bertambah.

“Rp 3,5 jt itu buatku kok kegedean, yah?” katanya bersungguh-sungguh.

Alhamdulillah, dia hanya sempat menganggur beberapa bulan setelah wisuda November 2009 lalu.

Selamat, dek. Pencapaianmu ini menjadi salah satu kado terindah buatku di tahun baru ini. Love you, my Then Scallopteakwood” :)

AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata