Tuesday, August 7, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:02:00 AM |

TMT Denpasar - Hari 6

Tumben Elan dan Kak Shindi enggak bangun duluan. Mungkin mereka sangat kecapean. Aku yang bangun pertama dan membangunkan Uci. Hanya ada waktu 30 menit untuk masak dan makan. Kupanaskan semua makanan yang kami beli semalam. Kutelepon Elan, lalu membantu.

Uci bangun, lalu memasak orak-arik telur. Kutitip satu telur ceplok untuk Elan. Kutelepon Kak Shindi karena kami tak berani membangunkan, takut Bu Hasti yang tidur dengannya ikut terbangun. Tak juga bangun, Uci datangi kamarnya, malah Bu Hasti yang sudah bangun :)
`
`
Balikuna
Kami diskusi tentang perkembangan hasil temuan di lapangan. Dibagi tugas ke masing-masing orang untuk menulis obyek-obyek menarik yang kami temui. Tugasku menulis tipat tahu, nasi jinggo dan Museum Bali.

Sebab Elan harus meliput Pasar Kumbasari, Pasar Badung, Jalan Sulawesi,  akhirnya kami jalan bersama. Kelompok lain adalah Bu Hasti dan Mbak Diah yang mencari jalan-jalan alternatif di balik gang-gang sempit. Lalu Uci dan Mbak Maya yang akan ke warung kopi, toko kain, dan babi guling.

Memotret yang makan siang :)
Lapangan Puputan
Tepat di depan Museum Bali. Lapangan ini penuh aktivitas warga. Tempatnya teduh, bersih dan rapi. Sangat nyaman untuk bersantai. Lapangan ini ramai di sore hari dan malam minggu. Berbagai aktivitas rekreasi ada di sini.
`
Bermain catur
Nyaman
`
Museum Bali
Tak bisa masuk ke semua ruang pamer, ada bangunan yang sedang direnovasi. Sebab kami terburu-buru, kami pun hanya masuk ke dua ruangan. Tapi struktur bangunan di luar ruangan beserta patung-patung (mungkin arca tua?) di halaman sudah bikin kami terpanan dan enggan beranjak.
`

Demi foto ini nyolong kursi, donk!
Pasar Kumbasari
Ini keduakaliku ke pasar ini. Dulu kesini beli lilin bentuk kamboja buat dibagi-bagi di Jogja. Sekarang berburu owl. Aaaakh, buanyak owl di sini!
`
All about owls!

Nawar hiasan owl, emalah ngobrol

Pasar Badung
Kami turun Pasar Kumbasari lewat samping, lalu menyeberangi sungai untuk ke Pasar Badung.
`
`
Jalan masuk belakang itu pasar sayur-ikan-buah. Meski tak sebersih pasar di Jogja, penataannya menarik. Aku betah ngambil angle dari berbagai sudut pasar ini.
`
`
I am crazy about this market. Mamaku bilang ini tempat belanja yang paling okeh di Denpasar, secara beliau kan pecinta pasar. Kecintaan itu turun padaku. Ya ya...

Sebenarnya, ini inti utama aku pengen ikut Elan liputan ke pasar ini: beli endek! Hehehe. Soalnya, penenun di Puri Pemecutan bilang bahwa hasil mereka dijual ke pasar ini. Waktu gugling juga menemukan bahwa ini merupakan pasar utama penjualan endek Bali.

Endek biru itu untukku.
Kami harus buru-buru (baca: Elan terus mendesakku agar buru-buru, hiks), sebab masih harus meliput sekeliling masjid. Ah, aku tak puas. "Hari terakhir nanti aku akan sempatkan mampir lagi ke sini!" tekadku.

Jalan Kalimantan
Kami susuri jalan ini, sambil tanya-tanya harga mukena Bali. Aku naksir mukena ini sejak hari kedua. Saat itu, otw ke Ubud lewati Pasar Sukowati yang jual mukena ini. Mukena Bali itu... Gugling, deh. Kapan-kapan kuceritakan :)
`
`
Tapi berhubung aku tidak beli karena harganya 100-an (huff, mending beli endek), kami tak dapat info mengenai Perkampungan Arab ini. Lalu kami susuri Jalan Sumatra, untuk berbelok ke Jalan Hasanuddin yang di sepanjang jalannya berbaris Toko Emas.


`
Bukan. Kami tak mampir untuk membeli mahar, tapi ingin meliput tentang ibu-ibu yang menerima jual emas dari masyarakat. Kami menyebutnya Gold Lady.
`
`

Masjid
Letaknya di seberang deretan toko emas ini. Tidak terlalu menarik dalam desain, namun dia menjadi penting sebab menjadi masjid terbesar di Denpasar. Di sampingnya ada masjid, bangunan yang cukup tua. Digunakan untuk kegiatan pendidikan agama bagi anak-anak.
`
Masjid Al-Ukhuwwah
Madrasah Al-Ukhuwwah
Jalan Sulawesi
Ini masih di Kampung Arab. Deretan toko kain mengundang selera. "Aku harus mampir, besok!" pikirku.
`
Hari ini sih, numpang foto dulu...
Pasar Badung
Ketemu Uci di sini. Lalu pamer belanjaan. Uci udah beli Kopi Bali buat oleh-oleh ke Jakarta. Mbak Maya beli Pia Legong.
`
Bersama Uci
Markas Tentara Pelajar? | Lokasi: pertigaan seberang Pasar Badung
Sate Cak Udin
Lokasi di Jalan Veteran. Favoritnya Mbak Diah. Aku pesan sebungkus Sate Kambing, Uci Sate Ayam, dan Elan Soto Ayam. Kangen makan soto, katanya...
`
Lihat mesin blowernya!
`
Cak Udin ramah. Kami ngobrol banyak; tentang warga Jawa dan Madura di Bali, makanan halal di Bali, dan seterusnya.
Di seberang warung ini ada rumah tua yang cukup menarik. Meski desain arsitekturnya tidak spesifik dan usianya tidak terlalu tua (perkiraanku angkatan tahun 60-70an), ia menjadi menarik sebab menjadi satu diantara sedikit bangunan tua bergaya non Bali yang masih bertahan di pulau ini.
`
`
Hal menarik lain, Elan perhatikan cara parkir sopir kami. Tertib sekali!
`
Perhatikan tandanya!
Ini Pak Pir kami yang suka ketawa :)
Kami juga temukan mural dalam deretan frame yang mengkritik dunia wisata Bali. Menarik!
`
Aku lupa lokasinya di jalan apa :|

KFC Sanur
Aku kalah. Dua suara memilih ayam bule untuk menu sahur... :|
`
`
Amman Shintya
Makan malam dengan menu beragam, sesuai pesanan masing-masing: Tipat Tahu, sate dan Babi Guling. AYam bule disimpan (baca: disembunyikan) sampai besok sahur.

Ada cerita menarik ketika Mbak Diah makan Babi Guling. Dia tidak menggunakan piring dan sendok. "Biasanya keluargaku yang muslim tidak mau pakai piring dan sendok yang bekas babi," alasannya. Mba Diah punya saudara muslim di Lombok.
Acara makan malam diselingi dengan pamer foto, cerita dan... belanjaan! Its show time, ladies!

*
Malam kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, menulis hasil jelajah. Pekerjaanku yang sudah selesai sejak pagi (kecuali tentang Museum Bali), masih ketambahan kerjaan translate punya Elan dan bantu menulis empat tulisan lagi. Argh! Kami bergadang sampai jam 1, padahal harus tidak tidur pasca sahur untuk antar Elan ke bandara.

Hoahm...

Mlekom,
AZ





about it
Categories:
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata