Wednesday, August 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM |

TMT Denpasar - Hari 7

Semalaman tidak bisa tidur. Kuputuskan untuk packing sebab akan nebeng taxy Elan yang akan mengantarnya ke bandara, pukul 05.00. Agendaku sih mau belanja, jadi perlu menitip koperku di bagasi Elan agar santai melenggang.

Habis sahur gak tidur lagi, langsung mandi, pamitan sama seisi Amman Shintya yang bangun, berangkat.
"Bajunya gitu aja?" kata Kak Shindy
"Ho-oh," kataku mantap.
"Hahaha, dasar orang Jogja"

Aku pakai kaos gombor dan trening celana aladdin plus sandal jepit kuning. Baju yang bagusan kusimpan di dalam ransel, niat ganti baju kalau mau berangkat ke Jogja nanti.

Pak Pir yang dipesan sejak semalam sudah menunggu di depan. Kelamaan nunggu, beliau tertidur di dalam taksi. Sebenarnya kami keluar tepat pukul 6, taksi dipesan pukul 6. Ya, taksi yang on-time, ya!

Btw, saat masuk, taksinya bau banget. Aku menutup hidung dan sulit bernapas. Aromanya pengap, seperti masuk ke kos-kosan cowo dengan jendela yang belum dibuka di pagi hari. Weeeek. Mau muntah! Kubuka kaca hingga setengah. Huiii, itu angin menusuk banget, mana aku enggak pake jaket. Pikirku, hari ini aku akan masuk angin, sakit kepala. Semoga kuat jalan... :(

Ngurah Rai
Masih gelap. Karena tidak macet, kami tiba hanya setengah jam.Aku ikut masuk ke ruang check-in, sebab punya tiket. Ternyata, barang Elan kelebihan 20kg. Bea kelebihan berat satu koperku itu sudah dihitung, Rp 150.000. Elan masukin dulu barangnya, lalu coba keluar, cari locker. Kata Mas-mas Garuda-nya, barangnya masih bisa disusulkan kalo masih mau ditambahkan. Alhamdulillah, dapat locker Rp 25.000 per hari.

Elan berangkat jam 6.30. Kami sempat sohalat subuh bareng. Aku terpaksa menunggu sampai pasar buka, jam 9. Akupun tidur nyaman di Mushalla yang sangat sederhana itu (di sini Mushalla tidak diperhatikan, sepertinya). Nyaman dengan karpet sebagai alat tidur dan colokan listrik sebagai sumber kehidupan: HP :))

Ah ah, sepertinya tak cuma Mushalla yang tidak diperhatikan. Semua layanan "rest area" di Terminal Domestik ini sangat jelek. Toiletnya kotor, bau dan rusak. Tisue berserakan, keramik lantai sompel-sompel, ada ember buluk di bawah kran. Huhuhu...

`
8.30 aku keluar. Bosan banget tiduran di sana. Langit sudah terang. Aku jalan ke luar, cari taksi eh malah ditawarin taksi 'bodong' yang minta Rp 150.000 ke Badung. "Yaelah Pak, tadi dari Ketewel aja saya Rp 100.00," kataku. Dia turunin jadi Rp 100.000 aku tetap tak mau. Lalu berjalan lagi masuk ke dalam, mau cari taksi resmi bandara. Tiba-tiba ada yang dekatin, berbisik "Mbak, naik ojek aja?"

"Berapa, pak?"
"50 ribu"
"Ah mahal pak, enggak deh saya naik taksi aja"
"40 ribu, mbak"
"Ya, oke" kataku (hehe... tawar-menawar macam apa, ini!)

Si Bapak ambil motornya. Kami berangkat. Tukang 'taksi bodong' tadi nyeloteh: "Ojek aja 50 ribu kok!"

"Mari, pak!" sapaku ramah ke si taksi bodong sambil ngeloyor. Wek!

Aku dikasih helm ala moge yang dari kulit dan ada kacamatanya itu. Rambutku oh rambutku. Tak ada jepitan, jadi terkibar-kibar di udara lembab pagi itu. Bali memang lagi musim duingin! Setengah jam ke Denpasar. Kami ngobrol banyak. Aku tanya-tanya tentang endek dan dimana membelinya. 

Si Bapak, Komang namanya, menawari jasa sewa motor. Rp 50.000 per hari. Motor matik Vio (ato Vario?). Jika minat, tinggal hubungi beliau di 085338410360.

Keliling!
Pasar masih tutup. Hanya ada aktivitas di bagian sembako dst. Huff.  Aku menunggu di gazebo depan gerbang pasar. Sambil nyisir-nyisir rambut yang acakadul.

Kutelepon Uci, ajak ikutan ke sini. Ternyata Uci tidak ikut audiensi dengan Walikota Denpasar. Ah ya, dua anak bandel. Toss! :)

Pukul 09.00. Dari jauh terlihat satu-dua kios pernak-pernik di Lantai II mulai buka. Aku masuk melalui lantai basement. Pengen lihat aktivitas pasar. Menarik, selalu! Kukeluarkan HP, ambil gambar dari tangga.
.
Aktivitas pedagang daging dan ikan.

Di lantai atas, kios endek belum pada buka. Hufff. Aku berhenti sebentar, motret kondisi sekitar dari atas. Ah, tampak Jalan Sulawesi sudah beraktifitas. Aku turun lewat tangga belakang, menyusuri deretan toko kain.
.
Di seberang sana Jalan Sulawesi
Pertama susuri bagian kiri (ini gak tau arah mata anginnya), dapat dua potong bahan brokat yang lagi obral. Kupilih biru dan cream, untuk pasangan endek.
.

`
Kemudian aku memutar lagi, berlawanan arah, menyusur deretan toko di bagian lainnya. Tak ada yang kubeli. Aku lurus ke arah Jalan Gajadmada. Di depan salah satu toko ada orang kurangajar yang menggoda dengan ucapan.

Aku berbelok ke kanan, meyusuri jalan. Lihat toko Kopi Bali masih tutup. Terus berjalan, sambil terus pasang mata di toko-toko kain. Lalu berbelok kanan lagi, menyusuri Jalan Sumatra. Ada banyak toko oleh-oleh di sini.

Lalu berbelok kanan lagi entah ke jalan apa. Berderet pengepul buah-buahan, terutama jeruk. Banyak orang kurangajar di sana, para buruh pengemas buah. Sial! Sudah seperti masuk terminal Senen.
.
.
Kemudian berbelok kanan lagi. Hohoho ini Jalan Sulawesi lagi! :)) Dan aku berjalan melewati toko kain tempat orang kurangajar pertama. Dia sudah tak ada. Ada tas lucu di tokonya, pengen beli tapi malas ada si kurangajar.

Aku berbelok ke kiri, naik lagi ke Lantai II Pasar Badung. Aku beli endek tipis buat papa, adek dan titipan Elan. Bisa dibikin sarung. Lalu cari tiga endek cantik untuk Mama, kakak dan Mamanya Elan.

Kutelepon lagi Uci. Dia masih sibuk dengan urusannya di Amman Shintya. Kususuri bagian kiri Jalan Gadjahmada, sampai ke ujung. Soalnya tadi dapat informasi tentang Toko Satria yang menjual alat-alat jahit. Tokonya belum buka, meski pegawainya sudah beraktifitas.

Lalu kembali lagi, menuju Pasar Kumbasari. Istirahat nyaris sejam di bangku panjang dekat parkiran depan, sambil nyolok HP. Lalu masuk, mencari barang untuk beberapa orang. Cukup lama, sampai harus membeli tas batik gede agar aku tak menenteng banyak kresek.
.
Dengan tas batik & ransel, tentenganku tiga potong.

Sambil menunggu Uci, kususuri banyak toko. Ada yang jual baju kombinasi tenun endek. Cantik, tapi tak ada ukuranku. Aku masuk ke sebuah kios yang jual mukena khas Bali. Lihat bahannya yang dari santung, jadi malas beli dengan harga yang hampir seratus ribu. "Mending beli kainnya, minta tolong Mama jahitkan," batinku.

Kulihat pakaian di toko itu. Lucu-lucu, seperti yang banyak dijual di obyek wisata. Dapat banyak, tak lebih dari RP 300.000 :)

Kuputuskan menunggu Uci di toko yang sudah kuubek-ubek selama setengah jam ini. Ngobrol banyak tentang mukena Bali yang ternyata sedang in di olshop seluruh Indonesia. Wow!

Kios ini sangat ramai didatangi para reseller datang. Rata-rata mereka berdagang on-line. Ada pula pedagang baju kredit yang pusing karena tidak mendapat dagangan. Baju yang dijual adalah jenis pakaian yang didatangkan dari Jakarta.

"Sudah diborong karena mau lebaran ini, mbak. Saya kemaren-kemaren duitnya belom ada..."

Wow! Bali pun berlebaran, yah!

Uci datang. Dia diturunkan di jalan. Mobil sewaan kami dipakai untuk mengantar-antar ke bandara. Uci naik taksi ke sini, hiks. Lalu ikut belanja baju-baju Bali.

Kuantar Uci melihat handycraft, lalu endek. Pak supir yang dari bandara sudah datang. Kami mampir ke toko oleh-oleh untuk membeli Pai Susu untuk oleh-oleh Uci. Aku tak ikut membeli, orang rumah tak suka.
.
.
Kutanya tempat jual kopi. "Cari aja di warung-warung biasa, pasti ada kopi Bali," kata Mas Gede, penjaga Amman Shintya. Kutanya Pak Pir, dimana swalayan besar. Swalayan lokal. Kalau di Jogja seperti Pamella gitu. Beliau ajak kami ke Tiara Dewata.
.
.
Ini pilihan cerdas. Mau cari oleh-oleh Bali apa aja ada: kacang Rahayu, pie susu, brem, kopi (beragam jenis dan merk), dst. Hehehe, malah gak ribet. Harga pun lebih murah dibanding toko oleh-oleh.
.
Bali's liquor. Complete one!
Aku juga sekalian beli popmi untuk buka. Lalu sekotak Dankin Donok yang kuambil sepotong, lalu kutitipkan pada Uci untuk orang-orang yang masih tinggal di Amman Shintya

Lalu jalan ke bandara. Sempat melihat studio foto yang menyediakan pakaian tradisional Bali. Kami pengen mampir, tapi takut macet jam pulang kantor.

Ngurah Rai
Tadinya Uci mau nemenin, tapi sepertinya lebih tertarik foot spa. Aku masuk. Beberapa langkah susuri jalan, sebelum booth berbagai perusahaan travel itu, kudengar teriakan.

"Mbak Adri, Mbak"
Aku cuek. Itu nama pasaran, yu no!
"Mbak Adri, Mbak Adri."
Masih cuek. Sampai beberapa kali memanggil, aku menoleh. Eeh si Pak Pir, bawa kresek berisi baju gantiku. Tertinggal saat aku merapikan barang di mobil.
"Trims, Pak. Maaf ya Pak, merepotkan."

Aku ambil barang di locker. Tadi Elan sudah kirim kodenya. Eh tidak diminta, hanya ditanya:
"Atas nama siapa, bu?"
"Adriani"
Petugasnya menyusur seluruh koper. Membaca namanya satu-satu.
"Elanto..."
"Nah, yang itu. Saya kira pakai nama saya," kataku. Langsung diberikannya. Duh, bahaya banget. Bagaimana kalau aku orang jahat?
"Kodenya gak perlu, Pak?"
"Ibu ingat kodenya?" Duh, si Bapak ceroboh banget!
"Kan saya catat, Pak!" sahutku.
"Enggak perlu, Bu. Benar yang ini kan, kopernya? Benar itu nama suaminya?"
Terpaksa aku menjawab "Ya!"
"Silahkan."

Ah, dikira pasutri...

Lalu dia mencatat di buku, mungkin meddata barang yang sudah diambil. "Adriani", sebutnya.
"Ya, Pak. Itu saya. 0857xxxxxxxxx," kusebutkan nomor teleponku yang diberi Elan saat menitipkan.
Nah begitu donk Pak, yang waspada! :)

Kuminta izin untuk mengatur barang-barangku di ruangan ini. Ah, kunci koperku salah, tak bisa dibuka. Yawes! Aku masuk, cek-in. Shalat qadha dzuhur-ashar. Lalu keluar lagi, cari warung untuk berbuka. Sepertinya akan repot cari air panas untuk popmi!

KFC. Aku mampir di sana. Makanan yang hanya kukonsumsi di bandara. Meski harganya lebih mahal sekitar Rp 2.000 dari harga di luar bandara, makanan jenis fastfood begini selalu lebih murah dibanding warung lain di bandara. Tul, gak?

Aku tak langsung masuk. Magrib masih setengah jam lagi. Tapi aku tak mau kehabisan tempat, dan pengen makanan sudah terhidang di depanku saat adzan. Aku duduk di lantai samping gerai KFC. Ada banyak orang lain duduk di sana, orang-orang travel agent. Yang di sebelahku sedang menebalkan nama tamu yang dijemputnya. Beberapa kali melihatku, lantas mas-mas ini menyapa.

"Halo Mbak, saya Wisnu. Lagi jemput?"
"Adriani. Mau berangkat"
"Oh, kemana?"
"Jogja."
"Jam?" mulai menyebalkan deh ni orang.
"7.30."
"Garuda?" tanyanya tak percaya. Yeah, kaos belel + celana aladdin + sandal swalo.
"Ya."
Akhirnya ngobrol macem-macem. Dia-nya. Aku sih bikin tembok terus. Rasanya pengen segera masuk ke KFC, tapi kan harus pesan makanan. Bisa dingin nanti makananku.

Dia dia cerita pekerjaannya, lalu tanya pekerjaanku. Dia gak ngerti omonganku, kuberi kartu nama. Beres! Tapi hanya sebentar.... :(

"Liburan kok tidak sama anak-anak?"
"Sialan," batinku. Ni orang usaha bener!
"Saya ke sini kerja. Akhir pekan kemarin suami nyusul. Kami tidak punya anak."

Dia malah bla bla bla sambil nasehatin aku suruh bersabar kalau belum diberi momongan. Bertanya sudah berapa lama menikah, dst dst.

Aku terus ngobrol via chat di HP. Lalu minta Papaku untuk lihat siaran TV, jam berapa adzan di Bali. Takut tak ada informasi di bandara. Dia miskol hapeku dari nomor di kartunama.

"Itu nomer saya," katanya.
"Oke," kataku tanpa melakukan apapun.


Jengah dengan obrolan ini, berharap segera magrib. 15 menit sebelum buka, aku pamit, lalu ke KFC. Dia muslim, tak puasa karena semalam tidak terbangun sahur, katanya.
.
Cuma saos teriyaki ini yg bikin KFC layak cicip :)
Makan cepat, gak kuat asap rokok serombongan tentara yang gabung di mejaku. Langsung ke mushalla. Lewatin lagi box ta'jil gratis yang gak pernah kudapat.

`
Masuk cek-in konter, udah habis :)
Adisucipto
Papa sampe parkiran saat aku landing. Bantu bawa barang bawaanku, sampe mobil ngomel:
"Pakaiannya gitu aja, Dek? Baru ini liat penumpang Garuda pake sandal jepit!"
Yee Pa, apa hubungannya? Hummm, aku lupa. Harusnya di bandara Bali tadi ganti baju :(
.
Di Ngurah Rai

Nyampe rumah langsung tidur. Kangen banget dengan kasurku. Hoahm...

Mlekom,
AZ

about it
Categories:
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata