Tuesday, March 24, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 2:45:00 PM | No comments

Mbak Jajan


Mbak Adri!

Perempuan paruh baya itu teriaki namaku. Kubalas teriakan sama, tentu dengan intonasi panjang. Mbak Jajaaaaaaan!

Mbak Jajan.

Semua mahasiswa UGM yang pernah menghuni Komunitas B-21 di kawasan Bulaksumur Yogya, pasti tahu siapa beliau. Akrab disapa Mbak Jajan, dari masa ke masa di tiap generasi yang silih berganti di B-21. Panggilan ini dihubungkan dengan kesehariannya sebagai penjual makanan kecil--yang oleh orang Yogya disebut jajanan.

B-21.

Ini adalah nama akrab bagi sebuah gubuk rumah reyot yang terletak di Kompleks Perumahan Dosen UGM, Jalan Kembang Merak Blok B-21 Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta. Rumah ini menjadi markas bagi dua media mahasiswa tingkat universitas, yaitu Balairung (biasa disebut BAL) dan Bulaksumur (BUL). Keduanya hidup damai berdampingan *bahasa ala pegiat multikultural* sejak puluhan tahun lalu *ala pegiat heritage*.

Bagiku, rumah ini pernah menjadi rumah kedua. Aktivitas terbesarku dihabiskan di sana. Di rumah ini, selain mendapat keluarga baru, juga mendapat banyak pengalaman jurnalistik, dan tentu *ahem* pacar.

Saking bahagianya berasyik masyuk di komunitas ini, banyak alumni yang merasakan magnet untuk kembali. Meski sekadar mampir untuk melongok kondisi rumah, melihat terbitasn edisi terbaru, atau makan siang di Mbak Jajan.

Mbak Jajan adalah satu dari tiga legenda B-21, selain Mas Faris (yang sempat kukenal) dan Mas Kelik (yang sangat akrab denganku, sering nemenin makan dan jadi kenek waktu belajar nyetir manual). Keduanya menjadi penghuni tetap B-21 sampai mereka mengenal banyak generasi. 

Sebelum aku menjadi penghuni tak tetap rumah itu, Mas Faris sudah tidak tinggal di sana lagi. Sedangkan Mas Kelik (teman-teman memanggilnya Bapak, sebab memang paling senior di sana) meningalkan B-21 tahun 2010, saat keluarganya yang tinggal di kaki Gunungapi Merapi ikut menjadi pengungsi.

Mbak Jajan adalah legenda yang bertahan. Mungkin boso jowone "the survival". Konon beliau sudah berdagang di sana sejak 1994, waktu aku SD. Usia Mbak Jajan kini 50an, ah aku lupa mencatat obrolan kami kemarin.

Iya, kemarin aku ke kampus untuk mengurusi sekolahan. Sengaja jam makan siang mampir ke B-21 untuk menyantap isi tenong beliau. Sebenarnya, tenong tidak hanya berisi makanan ringan, namun juga bungkusan seporsi nasi kucing. Mbak Jajan juga membawa beraneka ragam minuman. Esteh dan es kopimik adalah andalan di masaku.

Kemarin.

Usai sesi teriak tadi, Mbak Jajan menghampiriku dengan sebelah telapak tangan mengatup bibir, entah malu entah terharu. Lalu kami cipika cipiki. Sambil membuka tenongnya, ia cerita tentang alumi B-21 yang terkadang mampir. Sambil menata dagangannya di atas meja halaman B-21, aku tanyakan bagaimana kondisinya sekarang, apakah putra semata wayangnya sudah mendapat kerja, dan seterusnya.

"Mbak Adri kok inget aku?" matanya berair pas ngomong ini.

"Lha, Mbak Jajan kok inget saya?"

"Ya inget lah Mbak..."

"Ya sama lah Mbak..."

Dan kami pun berhahahihi. Beliau tanyakan apakah adikku sudah lulus kuliah. Ah, dia masih ingat si bandel yang sering mengantar-jemput aku ke B-21 itu! Tanpa sepengetahuannya, aku ambil gambar dan kirim ke grup WA alumni BUL. Mereka semua sampaikan rasa kangen, dan masing-masing menyebut pesanan favoritnya masa itu.

Mbak, esteh nasi kuning.

Es kopimik satu sama lumpia.

Es teh tawar satu!

Semua kubacakan di depan beliau. Matanya makin berkaca-kaca. Semua ketjubh basjah, peluk erat dan sebagainya juga kusampaikan. Beliau menyeka mata.

"Memangnya masih kenal aku, Mbak?"

"Ya masih lah, kalau nggak ngapain mereka nitip salam."

"Kemarin Mas Sam datang, dari jauh udah senyum-senyum. Aku lihat-lihat ke samping, dia senyum ke siapa. Ternyata dia ingat aku, Mbak!"

"Iya donk Mbak. Siapa anak B-21 yang nggak inget sama Mbak."

"Aku lupa namanya, tapi aku inget wajah Mas Sam. Mas Fernan juga."

"Ini ada salam juga dari Mbak Indah dan Mas Imam. Mbak lupa ya?" Simbak lupa, tapi ingat pas kutunjukkan foto.

Mbak Jajan mengaku tak lagi ingat banyak orang. Aku beruntung dia ingat aku, wajah dan nama (yaiyalah, penghuni kampus 11 tahun gituloh!). Beberapa teman lain yang disebutnya adalah Ipeh, Tami, Nadia, dan beberapa lainnya dari angkatan setelahku.

Ia mengingat masa kebersamaan kami *tsaaaah*. Baginya, diundang dalam nikahan Mas Zaki dan Hayu adalah momen terindah. Saat itu, meski Mbak Jajan dan Alm. suami memilih bermotor berdua dibanding naik mobil yang kami sewa, dia sangat senang.

"Waktu itu ada Mbak Tiwi juga, ya." Sebelum berangkat kondangan di Wonosari itu, kami semua ngumpul di B-21.

"Wah, Mbak Jajan masih kenal Tiwie!"

"Iya, yang mukanya cantik banget itu, pakai jilbab."

"Pas selesai kawinan Iwan - Tiwie kami ngumpul juga Mbak di sini."

"Mbak Tiwie paling lupa sama aku Mbak..."

"Lha, ini tadi yang pesen es kopimik sama nasi bungkus kan dia nih," kataku sambil scroll obrolan WA.

"Nikahannya aku nggak diundang, mungkin dia udah lupa sama aku..."

"..." speechless to the max, jadi saking menganggap kami keluarga, dia juga senang menghadiri pernikahan kami, anak-anak yang beliau sediakan makannya. 

Lalu kubuka obrolan lain tentang rumah B-21. Konon, rumah yang sudah reyot ini (memang sih, kata "reyot" di sini cukup lebay) akan dihancurkan, lalu kedua 'rumah tangga' penghuninya diminta pindah. Bagaimana jika B-21 sudah tidak diperuntukkan bagi kegiatan mahasiswa lagi? Siapa yang akan membeli tenong Mba Jajan?

Kami sempat berbincang dengan Vikra, Pemimpin Umum BUL. Saat ini, ia sedang membantu proses pengumpulan dana dari beragam pihak, termasuk alumni. Uang ini untuk merenovasi rumah tersebut, agar memiliki posisi tawar kuat di depan Rektorat. Agar duet BAL-BUL tetap dapat tinggal di sana.

Seperti biasa, Mbak Jajan nggak pernah suka difoto. Jangan heran jika di foto ini beliau seperti terpaksa. Sebab memang dipaksa :) Fotonya kuunggah di Facebook, hingga siang ini setidaknya ada 39 komen dan 94 likes yang kebanyakan menceritakan tentang kerinduannya pada sosok Mbak Jajan. Mbak Jajan yang tidak berubah, tetap muda. Mbak Jajan yang kini berkerudung. Mbak Jajan yang masih cantik.

Kami cuma berjumpa setengah jam. Akupun pamit saat memberi selembar 50 ribuan untuk membayar makananku yang habis Rp 8.000. Kubisikkan, gak usah dikembalikan, Mbak. Dengan sigap, dia 'kunci' tanganku dengan lengan kirinya, sementara tangan kanan menghitung kembalian.

"Nggak boleh gitu Mbak, aku kan udah kerja," katanya.

Berusaha sekuat apapun melepaskan diri dari lengan kecilnya, aku kalah. Rp 42.000 diletakkan di telapak tanganku. Saat pamit, ia tak henti merapal doa untuk kesuksesanku, dan terus mengucap terimakasih untuk oleh-oleh tak seberapa yang kubawa.

Mbak Jajan. Nama aslinya Juminten. Yang mengetahui namanya, kadang memanggilnya Mbak Jum. Suaminya yang berptofesi sebagai penjaja rokok yang keliling di Malioboro, meninggal dunia awal 2011 lalu. Pengurus BUL saat itu menjual kaos untuk mengumpulkan dana. Ya, Mbak Jajan berdagang dengan sepeda berkeranjang ini.



Mbak Jajan, mengutip kata Mas Hasan Bachtiar, sang pemadam kelaparan B-21. Sampai ketemu lagi, Mbak. Salam sayang dari kami semua yang pernah bertahan hidup karena tenongmu...

Mlekom,
AZ

about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata