Tuesday, February 2, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 6:05:00 PM | No comments

Tanya Saja pada Rumput yang Bergoyang

Coba tanyakan pada orang Medan, apakah pernah ke Tjong A Fie Mansion di Medan. Lalu tanyakan pula, apakah pernah ke Cheong Fatt Tze Mansion di Penang. Aku yakin, untuk jawaban "pernah" akan dimenangkan oleh mansion kedua.

Malaysia, terutama Penang, sudah menjadi semacam "kabupaten" lain bagi orang Medan. Berobat adalah alasan paling banyak untuk mengunjungi pulau yang oleh orang Medan, sebagaimana orang Penang asli, diucapkan dengan "pi-neng" ini.

Aku juga menanyakan bapak taksi, apakah wisatawan juga mengunjungi mansion ini. Menurutnya ya, jika wisatawan asing. Wisatawan lokal sangat jarang. Menurutnya, wisatawan lokal begitu datang langsung ke Brastagi atau Danau Toba, sedangkan kota Medan hanya untuk makan-makan enak dan membeli oleh-oleh.

Tentu saja tak ada yang salah dengan pemilihan tempat wisata, sebab itu soal ketertarikan. Namun untuk obyek wisata yang sama, ketika orang Medan tidak tertarik ke obyek yang ada di kotanya namun tertarik pada obyek yang ada di negeri orang, bukankah ada yang salah di sini?

Menjawab "Tidak, tidak ada yang salah" juga tidak apa-apa sih. Begitu juga ketika aku bilang "Iya, memang ada yang salah" :)

Jadi siapa nih yang mau disalahkan? 
  1. Salahkan pemerintah yang tidak mengemas informasi mengenai wisata lokal.
  2. Salahkan orang Medan yang lebih tertarik meninggalkan jejak di tempat wisata negara lain daripada di negeri sendiri.
Mengapa orang Medan lebih tertarik ke Cheong Fatt Tze Mansion? Karena rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput sendiri--mungkin. Lalu, apa dampaknya? Hummm, coba tanya saja pada rumput yang bergoyang...

Ya maap jika tidak menjawab :) Ini juga menjadi kegelisahanku sebagai seorang anak Medan :(

Yang atas gambar mansion di Medan, yang bawah di Penang. Diambil awal Agustus 2015.

Mlekom,
AZ


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata