Wednesday, April 27, 2016

Aku terlahir dari ayah yang seorang pegawai negeri sipil, yang menuntut ayah untuk berpindah-pindah lokasi tugas untuk promosi pekerjaannya. Ini alasan mengapa aku sudah mengalami hidup berpindah-pindah, sejak usia 3 tahun.

Kota pertama yang kami jadikan tempat menetap sementara terletak di provinsi paling barat. Bukan kota besar, melainkan ibukota kabupaten yang berjarak 12 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Ya, waktu itu cuma dapat ditempuh dengan jalur darat, melalui jalan raya yang membelah pegunungan, dengan kanan-kiri berupa jurang terjal.

Sebagai kabupaten baru, menurut cerita, kota ini dibangun dengan membabat hutan belantara. Pantas saja, sebab ia berada di dekat areal hutan lindung Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL). TNGL merupakan satu dari 50 taman nasional yang ada di Indonesia, termasuk dalam daftar unit Situs Warisan Dunia kategori World Network of Biosphere Reserves. Mungkin ini yang menjadi alasan aktor Hollywod Leonardo Dicaprio mengunjungi kawasan ini awal April lalu.

Hidup di lingkungan yang katanya bekas hutan, dan masih dalam wilayah sekitar Taman Nasional, membuat serangga ordo diptera bernama nyamuk, menjadi 'tamu' yang paling rajin mendatangi rumah kami. Meskipun kami menjalankan perilaku idup bers9h dan sehat (PHBS) yang dianjurkan Kementerian Kesehatan itu.

Selain obat nyamur bakar berbentuk lilitan melingkar, di jaman itu sudah ada anti nyamuk semprot dan elektrik. Lalu disusul dengan beragam produk losyen. Keluarga kami menggunakan jenis semprot dan elektrik, sampai hari ini.

Sampai pensiun, ayahku terus dipindah-tugaskan ke berbagai daerah di Indonesia. Dari yang sebelumnya tidak terlalu sering, hingga menjadi sangat sering selama dua sampai tiga tahun sekali. Pengalaman kami berpindah-pindah membuatku tahu, bahwa nyamuk tak hanya ada di daerah-daerah terpencil, namun juga kota besar seperti Jakarta. "Wah, nyamuk Jakarta sebesar lalat!," kata adikku waktu ayah kami ditugaskan di sana.

Untuk produk semprot dan elektrik, keluargaku selalu memasukkan merk HIT ke dalam kantong belanja bulanan. HIT obat nyamuk menjadi merk langganan sejak Indonesia mengalami masa krisis moneter menjelang akhir '90an. Pemilihan ini tentu dengan pertimbangan bahwa merk ini mampu bekerja efektif dan tidak membuat kantong bolong.

Kami juga tak memakan mentah-mentah isu yang beredar tentang bahaya bahan yang terkandung dalam produk HIT obat nyamuk. Selain bukti lamanya kami mengonsumsi produk ini, juga kami memiliki tips menggunakan HIT obat naymuk.

Untuk HIT obat nyamuk semprot, gunakan di ruangan tertutup seperti kamar tidur. Semprot kamar setelah magrib, ketika nyamuk-nyamuk nakal mulai keluar dari peraduan. Tutup pintu kamar, pastikan tidak ada orang di dalam kamar. Tunggu setengah jam, kamar siap digunakan tanpa khawatir menghirup zat berbahaya.

Untuk HIT obat nyamuk elektrik, kami gunakan di ruang terbuka seperti ruang keluarga. Jangan letakkan alat ini dekat dengan penciuman. Meletakkannya di dekat sumber udara seperti jendela dan pintu akan lebih baik.

Itu cara kami. Mana caramu? :)

Mlekom,
AZ


*cerita ini diikutkan dalam lomba "Say It to HIT"
about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata