Monday, April 18, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:40:00 PM | No comments

Tangan Ibu Tak Lagi Menyisir Rambutku


Tengah malam itu, ibu mendatangi paman. Ibu memintanya untuk mengantarkan ke rumah sakit (RS). Ibu menitipkan kami kepada tetangga dekat. Pasangan suami-istri tetangga mengantarkan ibu. Ibu dibawa dengan becak didampingi si ibu tetangga, sedang suaminya mengikuti mereka dengan sepeda.

Samar-samar kegaduhan malam itu turut membangunkanku, namun aku terus melanjutkan tidur. Di usia 13 tahun, aku tak begitu paham apa yang terjadi. Yang kutahu, ibu akan memberikan adik lagi buatku.

Aku adalah anak pertama ibu dan bapak, dengan tiga adik berjarak usia sekitar dua tahun antara satu dengan yang lain. Sebenarnya ini adalah kehamilan keenam ibu, namun adik kelimaku meninggal di usia dua tahun akibat penyakit muntah-mencret.

Keesokan paginya, 9 Oktober 1965, kulihat genangan darah membeku di kamar mandi. Rasa ngeri menjalar di tubuhku, meski tak paham apa yang terjadi. Tak pernah kutahu bahwa kelahiran selalu diiringi darah.

Tak ada yang menunggui ibu di RS. Siang hari pihak rumah sakit mendatangi rumah kami, meminta keluarga untuk ke RS. Tak begitu jelas informasi yang kudapat. Aku dan ibu tetangga bergegas ke RS, mendapati ibu sudah meninggal akibat perdarahan hebat yang dialaminya. Bayi yang dikandung ibu pun tidak selamat, ia meninggal sejak di dalam kangdungan. Perdarahan hebat 

Semalam ibu ke kamar mandi, lalu terpeleset hingga pingsan. Dua jam kemudian ketika siuman, ibu mendatangi paman meminta diantar ke rumah sakit. Malam itu semua orang tertidur, tak ada yang mengetahui peristiwa tersebut sampai ibu menceritakannya kepada paman.

Malam hari bapak tiba di rumah. Ia sedang dalam perjalanan dinas di sebuah kota yang berjarak tiga jam perjalanan dari rumah kami. Bapak memeluk kami, keempat anaknya, di depan jasad ibu yang telah terbujur kaku.

Hari itu 51 tahun lalu, ibu kami Ramijah meninggal di usia cukup muda, 33 tahun. Meninggalkan bapak dan empat anak yang masih membutuhkannya. Aku ingat malam sebelum kejadian di kamar mandi itu, ibu menyisir rambut panjangku dengan tangannya, kegiatan yang sering kami lakukan berdua. 

Sejak itu, tangan lembut ibu tak lagi menyisiri rambut panjangku.

Azwinar (63), Medan, Sumut


about it
Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata