Wednesday, July 30, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 PM | No comments

Jangan Berkah


Pagi tadi kaget lihat kacang panjang di keranjang sampah. Itu hasil rampasan dari gunungan Grebeg Syawal di Kepatihan kemarin. Mama yang buang. Memang sih sudah nggak segar, kuning dan tua banget. Kalau dimakan pasti keras.

Untung buangnya di tempat sampah kering. Kukutip lagi. Mama lagi telepon, nanti saja kuberi tahu. Kacang panjangnya kuambil, kutaruh di meja. Dua jam kemudian kutanya Mama, kenapa dibuang.


"Sayur sudah gak pantas makan begitu."

"Ya tapi itu dari grebeg kemaren, Ma..."
"Lha kenapa Adek gak bilang? Barusan Mama buang lagi."
"Kan udah Dek simpan di kulkas..."
"Emangnnya ada bilang itu dari mana? Lagian buat apa sih percaya yang gitu-gituan?"
.... (yaudahlah ya, gak usah dibantah lagi)

Akhirnya aku buka tempat sampah di dapur, ambil kacang panjangnya. Untung tempat sampah basah ini masih kosong dan baru ganti plastik. Kuletakkan dalam baskom berlubang, guyur air, kucek-kucek per lembar, dst. Pokoknya sampai bersih banget!


Tadi pagi aku sengaja ke pasar, cari bahan tambahan (terutama kacang panjang segar) meski belum tau mau dimasak apa. Mungkin lodeh, mungkin tumisan. Lalu Googling pakai kata kunci "sayur lombok ijo gunungkidul". Keluarlah resep ini, dengan modifikasiku:


Lihat beda kacang panjang segar dan tidak :)
Bahan:
10 batang (lembar?) kacang panjang, iris 0,5 cm
2 tahu (biasanya tempe, tapi aku nggak suka)
1 genggam daun katu (biasanya daun melinjo, aku gak punya)
10 butir telur puyuh
1 sdm udang rebon/ebi, rendam air panas sampai mengembang
1 cangkir santan
5 cabe rawit + 5 cabe ijo + 5 cabe rawit, iris bulat tipis
6 bawang merah + 4 bawang putih, iris
1 ruas laos, iris tebal
2 lembar daun salam
garam
gula (biasanya nggak pakai ini, tapi manut sajalah kan ini masakan Jawa)

Cara:

  1. Tumis bawang + ebi + laos.
  2. Tambahkan santan + garam + gula + salam, aduk terus agar tidak pecah santan.
  3. Masukkan tahu + telur + kacang panjang + cabe sampai santan mendidih.
  4. Tambahkan katu, masak hingga layu.
Oh ya, kacang panjang gunungan jadi lembut lho. Setelah dipotong, aku rebus sebentar sampai lunak. Lumayan, sekalian menghilangkan bakteri dari perjalanan panjangnya sebelum masuk ke dapurku.

Hasilnya enak, tapi pedas. Kalau sayur lombok ijo asli yang di Gunung Kidul itu, memang gak ada sayurnya, melainkan cuma cabe ijo. Jadi, cabe ijo itu yang dijadikan sayur. Mantap kan pedasnya? Apalagi kalau dimakan dengan nasi merah. Wuih!

Dalam bahasa Jawa, kata "jangan" berarti "sayur". Jadi, ini adalah sayur berkah. Berkah dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Begitu masak ini, aku memang langsung mendapat berkah: Nambah satu lagi masakan yang kucoba kuasai. Ada yang mau kecipratan berkah?


Mlekom,

AZ

Tuesday, July 29, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 10:48:00 PM | No comments

Adriani dan (belum ber-)keluarga


Buat sebagian orang, Lebaran dan Tahun Baru menjadi ajang eksistensi diri. Salah satunya lewat identitas di akhir ucapan di dua momen hari raya itu.

Selamat Idul Fitri blablablabla - Fulan dan keluarga.
Selamat Tahun Baru blablablabla, Fulan & Markonah.

Meski statusnya belum nikah pun, udah digandeng aja tuh di signature. Yang udah beranak dahsyat lagi, namanya dan pasangan serta anak(-anak)nya dijejerin semua.

Itu eksistensi, bahwa dia sudah laku, atau bahwa hatinya sudah berbuah (buah hati, no?). Atau sudah bukan jomblo lagi. Juga untuk nunjukin kalau dia punya hubungan yang indah dengan pasangan.

Kenapa harus bikin signature, sementara kita yang menerima tau siapa pengirim pesan itu (ada aplikasi phonebook kan)?

Sebagai jomblo, apakah ketika membaca itu, kalian menjadi sedih? Jadi kepengen (pamer)? Ih, aku nggak deh. Malah dengan seru-seruan membalas:

Blablabla, Adriani dan (belum ber-)keluarga.

Ya kali aja malah bantu nyariin jodoh ;p

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 9:40:00 PM | No comments

Hasil Rampasan


Besok lihat Grebeg Syawal, yuk!

Meski disela bertemu orang urusan kerjaan, sudah beberapa hari ini aku mendekam di rumah dapur untuk persiapan Lebaran. Ajakan ini tentu bangkitkan gairah.

Meski banyak angin, udara sangat terik. Gajah-gajah--yang menjadi pengiring pawai pengantar gunungan--saja kepanasan, apalagi kita ya! Kami berjalan kaki dari Toko Progo ke Akun-alun Utara, lalu ke Kepatihan, dan kembali ke Progo. Yang bukan orang Yogya, mungkin sulit membayangkannya.

Yang pasti, hari ini untuk pertama kalinya aku dapat 'rampasan' gunungan. Meski aku gak ikut rebutan, hanya menadah hasil rampasan (lalu disuruh megang dan difoto dengan latar belakang gunungan yang diperebutkan). Pertanyaannya, buat apa kacang panjang + dua cabe itu?

"Kalau petani, ditanam di ladang/sawah, biar subur. Kalau saya, saya masak jadi sayur," kata ibu-ibu yang ikut merampas eh rebutanOkelah, besok coba dimasak ya. Biar kebagian berkah.

Cerita grebeg ini akan kutulis untuk sebuah majalah yang akan segera terbit. Sabar, nggih!

Mlekom,
AZ
20140730




Tuesday, July 22, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 10:19:00 PM | No comments

Hymne yang Menggema


Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku
Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia

Bagi kami almamater kuberjanji setia
Kupenuhi dharma bakti untuk ibu pertiwi
Di dalam persatuanmu jiwa seluruh bangsaku
Kujunjung kebudayaanmu kejayaan nusantara

Pernah berharap seorang putra terbaik Universitas Gadjah Mada (UGM) bernama Amin Rais menjadi orang nomor satu di negeri ini. Malam ini, 10 tahun kemudian, muncul sosok alumni lain. 

Joko Widodo baru saja ditetapkan sebagai Presiden Republik Indonesia ketujuh. Meski tak pernah berkarir di dunia kampus, Jokowi--panggilan akrab pedagang mebel asal Solo ini--membuat kami bangga. Serta-merta, hymne Gadjah Mada ini bergema eh bertebaran di sosial media.

Selamat buat UGM. Alumni pertama yang menjadi Presiden. Hey UGM, mungkin malam ini akupun mulai bangga padamu :) Nah Wiki, segeralah perbarui artikel ini.

Anak UGM jadi RI 1, cah! Ah ah, kemenangan ini milik rakyat Indonesia. Selamat!

Mlekom,
AZ

Friday, July 18, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 10:57:00 PM | No comments

...


Berangkat, pertemuan pertama:
I: Kamu gak nanya, gimana tesnya?
U: Iya, gimana tesnya?

Pulang, empat jam kemudian:
I: Gak pengen tau ngapain aja aku di sana?
U: Ngapain aja kamu di sana, kemaren?

...

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
20140720

Tuesday, July 15, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 9:50:00 AM | No comments

Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai

Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang BelandaMax Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda by Multatuli
My rating: 3 of 5 stars

Pertama kali baca buku ini saat menjadi mahasiswa baru, sebagai buku wajib di mata kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia di Fisipol UGM. Saya lupa waktu itu baca edisi yang mana, sebab tentu saja, kami--mahasiswa--hanya memfoto-kopi dari buku yang telah dikopi. Duh!

Seingat saya, edisi yang saya baca dulu editing tulisannya lebih baik, mudah dimengerti. Benar-benar berisi kisah kehidupan penjajahan di Lebak, tanpa merasakan ini sebagai sebuah tulisan berbentuk surat.

Yang terbitan 2005 ini sangat berbeda, saya yakin ini adalah tulisan terjemahan asli dari HB Jassin. Buat saya, membaca edisi ini sangat membosankan, membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memahami kalimat-kalimatnya. Bagaimanapun, saya jadi tahu tulisan aslinya.

View all my reviews

Monday, July 7, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:52:00 PM | No comments

Anak Tangga Pertama


Riuh perkara negeri tak kuasa sirnakan bahagia atas capaian ini.
Pagi cerah buka harapan akan jalan panjang yang telah dipilih.

Diraih sudah damar perkasa yang kini sedia gagahi diri demi menuntun.
Setengah windu punah hingga setengah windu lainnya.

Syukurku bagimu yang sua menjawab waktu dan biarkanku menjadi bagian tonggak hidupmu.
Asa kusimpan bagimu yang sedia ajakku serta menjejak langkah awal undakan kita.

Anak tangga pertama.

Mlekom,
AZ


Gambar dari sini (20140711)

Sunday, July 6, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:38:00 PM | No comments

Berapa Banyak Fitnah yang Mereka Tebar?



Tiap balik dari traweh, mamaku 'ngadu' ke kami sekeluarga, tentang kelakuan para jurkam berwujud ahli agama. Dalam kotbah dari hari ke hari, mereka terus menyelipkan pesan untuk memilih PRAHARA--sengaja aku sebut ini, sebab mereka begitu ayam (chicken)-nya menyebut nama Jokowi, ketika melacurkan hinaan: jangan memilih komunis yang berpaham pada Cina, jangan memilih capres yang kakinya gemetar ketika diminta menjadi imam shalat, pilihlah capres yang dikelilingi partai muslim agar selamat dunia-akhirat.

Itu isi kotbah malam ini. Mamaku sampai menantang penceramah hari ini yang adalah seorang ahli tafsir Quran. Silahkan mengajak orang memilih, tapi jangan fitnah. Anda pandai tafsirkan kitab Tuhan, mestinya tahu hukum menebar fitnah, terutama pada ahli tafsir.

Mamaku tau, bahwa yayasan yang dikelola keluarga besar Pabowo menjadi penyumbang besar gereja-gereja di nusantara. Tapi Mama juga tau, gak ada pentingnya membicarakan ini kecuali mudarat.

Sudah 9 traweh. Jika para jurkam-berwujud-ahli-agama ini ceramah minimal 2x sehari di subuh dan magrib, kira-kira berapa banyak fitnah yang mereka tebar?

Mlekom,
AZ
20140712

Saturday, July 5, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 12:44:00 PM | No comments

Kala Bujang Masih Meradang


Kala bujang masih meradang. Moment bersama adalah kenangan. ~ Haryana.

Ditandai Mas Har di foto ini. Waktu sekantor main ke Malang, hadiri pernikahan Mas Isnu 2009 lalu.

Mlekom,
AZ
20140712

Friday, July 4, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 11:40:00 PM | No comments

Norwegian Wood

Norwegian WoodNorwegian Wood by Haruki Murakami
My rating: 3 of 5 stars

Murakami adalah satu-satunya penulis Jepang yang karyanya saya ikuti. Pertama kali baca Norwegian Wood versi bahasa Inggris pada akhir 2010 atau awal 2011. Selanjutnya, hingga awal 2013 memburu segala novel dan cepennya.

Khusus judul ini, saya penasaran dengan terjemahan bahasa Indonesia-nya. Banyak penggemar di forum-foum mengatakan bahwa terjemahan ini jelek, mengecewakan dibanding versi bahasa Inggris terbitan Vintage (saya dapat di toko Periplus). Kebetulan ketemu versi bahasa Indonesia ini di perpustakaan, saya pinjam.

Memang beberapa ungkapan tidak terlalu 'kena' setelah diterjemahkan, namun masih dapat dinikmati, tidak seburuk yang saya bayangkan ketika membaca komentar orang.

Ada yang mau membaca versi online? Saya punya cukup lengkap, dari sepupu yang menjadi kolektor seluruh novel Murakami :)


View all my reviews

Thursday, July 3, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 12:45:00 PM | No comments

Icons of Art: The Collections of the National Museum of Indonesia

Icons of Art: The Collections of the National Museum of IndonesiaIcons of Art: The Collections of the National Museum of Indonesia by John N. Miksic
My rating: 3 of 5 stars

This book is not just a catalog, but a scientific book that describes the objects on display in the Museum Gajah. This book will guide you who have never visited this museum, as if you were there. It also complements the information, for those who have visited it.

Pictures in this book make the objects being looked much better, than the original condition stored in the museum itself. This book will also be a great documentation of Indonesian heritage, where today we cant see some other collections since it was stolen...

Not only the collection, development history of this museum is also described. One of the nation's icons that worth knowing.

View all my reviews

Wednesday, July 2, 2014

Posted by adriani zulivan Posted on 7:40:00 PM | No comments

ML


Tiap Papa bilang "ulang tahun, ulang tahun", kami akan rebutan meniup lilin. Maksud 'ulang tahun' itu adalah nyuruh matikan lilin ketika listrik nyala kembali. Kegiatan seru usai mati lampu. 


Mati lampu sangat sering terjadi di Sumatra. Sampai ada semacam himbauan untuk tidak membeli barang elektronik bekas orang Medan, sebab listrik sering jeblok yang berpengaruh pada kualitas mesin yang sering di-on-off dengan paksa. Ini semacam himbauan untuk tidak membeli mobil bekas plat B, sebab sering terkena banjir.


Masa kecil di Sumatra adalah masa menikmati mati lampu. Begitu listrik padam, langsung berebut main senter, cari lilin, nyalakan kompor gas untuk mengambil api, tancapkan lilin ke tatakan--berupa tempat lilin bercabang, lepek kramik, atau di atas tutup kaleng-- bermain-main dengan lelehan lilin, sampai ritual "ulang tahun, ulang tahun" tadi.


Bermain lilin selalu menjadi kegiatan menyenangkan di masa kecilku bersama kakak-adik. Mungkin tak hanya masa kecil kami, namun juga anak-anak lain. Dalam jamuan makan malam di sebuah restoran di Singapura, seorang bocah terus memandang lilin di meja kami. 
Lilin beneran.
Melihat tatapan si bocah, temanku memain-mainkan lilin itu. Lilin di dalam gelas buram kecil. Di resto-resto Indonesia, biasanya diletakkan dalam gelas sloki bening, diberi sumbu yang mengapung di permukaan minyak goreng. Saat temanku menutup bibir gelas, lilin mati. Lalu digenggamnya lagi, lilin nyala. Si bocah langsung melorot dari pangkuan orangtuanya, datangi meja kami.

"Do you wanna try?" kata temanku. Si bocah mengangguk dan menyodorkan tangannya. "No way, the fire will hurt you!" cegahku. Si bocah menarik tangannya. Temanku lalu mengarahkan bibir gelas ke arahku. Grasp! Itu cuma elektrik, pakai baterai. Hahahaha. Lalu kuberikan pada si bocah, yang batal memegangnya karena panas. Nah tu anak bule tertarik, ya tapi bocah mana sih yang nggak suka bermain lilin?
Lilin ecek-ecek.
Jadi teringat urusan lilin dan mati lampu. Ini listrik di Yogya barusan padam. Bentar sih, sekitar 10 menit. Tapi tetap merusak barang elektronik ya? Tapi beruntung lah, gak selama di Medan yang bisa 2 jam sekali mati dan bisa 3-4 kali sehari. Whadda!

ML. Begitu si Kadep nyebut Mati Lampu. Gambar pertama dari sini.

Mlekom,

AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata