Sunday, December 27, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:05:00 PM | No comments

Hai Kamu, Trims untuk Hari Ini


Hai kamu,
Trims untuk hari ini.

Naik kereta pagi buta, meski kamu usaha keras bangunin aku.
Mau makan di trotoar CFD, meski kamu enggak terlalu antusias.
Nyuruh aku kekep dompet, di depan batik2 lucu tadi.
Ngikut inginku ke Laweyan, meski aku berubah pikiran bikin kita batal jelajah kampung.

Sedia nongton Setar Wors, meski kamu (sepertinya) ketiduran.
Langsung belikan aku teh panas, saat aku tetiba sakit kepala.
Antri tiket di stasiun, sementara aku duduk cantik di mobil.
Pijat bahuku yang tegang karena sakit kepala, buat sakitku berkurang.

Kamu antar aku pulang, meski kamu terkantuk-kantuk.

Hai kamu,
Terima kasih untuk hari ini.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Saturday, December 26, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 9:55:00 PM | No comments

Belanja Buku Terakhir di 2015

Sudah tiga kali kunjungi Bazar buku Gramedia di Sudirman Yogya kali ini. Hari pertama pada dua hari jelang Natal, memang pengen mampir, hasilkan 20 buku. Dua hari kemudian janjian sama teman di Gramedia, sukses membawa pulang 7 buku. Hari terakhir beli 1 buku Samkok yang di hari pertama enggak dijual di sana (trus minta tolong mas-mas Gramedianya untuk simpenin).

Kalau tahu harganya, kalian pasti mupeng. Jadi beginilah, sesuai urutan foto--bawah ke atas:
  1. Novel grafis Samkok (5 jilid, tamat) - @Rp 25rb
  2. Mimpi Beruang Coklat, LFL - Rp 25rb
  3. Kisah 108 Pendekar, Naian 3 seri (tamat) - @Rp 5rb, di Gramedia Solo @Rp 77rb
  4. Komik Perang dunia II (6 seri) - Rp 40rb/bundel
  5. Grown Up Digital, Tapscott - Rp 40rb
  6. Pasang Tarub Jawa, Tim Tembi - Rp 10rb
  7. Jip dan Janeke (edisi 3 dan 5) - @Rp 10rb
  8. The Kid Runner (novel grafis), Hosseini - Rp 15rb
  9. Town Boy, Lat - Rp 20rb
  10. Uncle Tom's Cabin, Stowe - Rp 5rb
  11. Misteri di Peternakan Peter Carlson, Tabita - Rp 5rb
  12. Cedric (seri 1, 2, 4, 5, 9, 10, 11, 12). Duh, yang 9 & 12 masing-masing kebeli 2 eks - @Rp 5rb 
Ini belanja buku terakhir di 2015. Duit segitu dapat 34 eks :)

Mlekom,
AZ

Tuesday, December 22, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:13:00 PM | No comments

Penting Ya Buk, Begituan Dibahasss!


Usai diskusi bersama gerakan @wargaberdaya.

Ibuk-ibuk (I): Kuliah apa kerja? 
Aku (A): Kerja, buk 
I: Kerja di mana? 
A: Jakarta buk 
I: Wah ini lagi liburan? 
A: Iya buk 
I: Libur apa cuti? 
A: Cuti buk 
dst... tanpa berujung kemana-mana. Basa-basi kok keliwatan yo! ‪#‎njelehi‬. Eh masih lagi:

I: Wartawan ya? 
A: Enggak buk. 
I: Kok bawa kamera? 
A: (dalam hati: semua yang bawa kamera wartawan ya buk?) ... 
I: Kalo wartawan juga gpp kok 
A: (astaga, ni orang) 
I: Kalo wartawan gak apa2, kita-kita aja kok di sini 
A: Saya bukan wartawan buk 
I: Lha itu bawa kamera, klo wartawan juga gpp kok *maksa* 
A: (ya Tuhan, cerahkanlah pikiran ibu ini)

Sampe bapak2 (B) di sebelah saya pun ikut terganggu.
B ke I: Ya klo gak nanya juga gpp kok bu
I: Ya klo wartawan juga gpp tho pak
A: Ya klo ibu gak percaya ya gpp tho
Jadi bales2an gini. Selo!

Eh beberapa menit kemudian masih lanjut. Waktu si bapak nanya saya dari mana, si ibuk nimbrung.
I: Ituloh, pacarnya si... siapa tadi namanya? *gowel2 bahunya ke bahu saya*
A: Heh? *mulai lupa cara sopan sama ortu*
I: Eh siapa itu tadi pacar apa suaminya?
A: Siapa buk?
I: Siapa tadi namanya, yang di depanmu? Ryan?
A: Siapa Ryan?
I: Halah, pura2 tho. Gpp lho kita2 aja di sini.
A: Siapa Ryan? Saya sudah bilang, saya temannya teman2 @wargaberdaya
I: Kalo iya juga gpp 
(ya Tuhan, nyebut terus dlm hati)
B: Oh, saya belum pernah lihat mbak. Jadi blablabla... (lebih nyambung ngobrol sama bapak ini).

Saya terus berusaha mengalihkan perhatian. Ini sedang di forum, saya abaikan si ibuk, dengan melihat ke orang2 yang bicara di depan.

I: Sudah punya ekor?
A: ... (meski ngerti maksudnya, malas jawab) 
I: Ekor itu anak maksudnya. Kalo saya sudah punya ekor sama buntut. Cucu maksudnya. 
A: Wah senangnya, alhamdulillah (tetap nengok ke depan).

Oh belum, itu belum semua :(
I: Udah nikah? 
A: Belom buk. 
I: Lho kok belom? 
(dst sampe dia nanya umur, dst dll dsb).

Belom, belom, masih ada lagi pas kita makan.
I: Kok semangkanya gak dimakan? Enak lho! 
A: (yaowoh, makan pun diatur) Kan saya masih makan nasinya bu?

Dan tiba waktunya makan semangka, saya pakai tusuk gigi yang ditempel di kotak semangka. Ada suara lagi:
I: Saya tadi makan semangkanya pakai sendok, susah pakai tusuk gigi... 
A: (penting ya buk, begituan dibahasssss!)

Ya Tuhan ampuni aku atas dosa menceritakan kelakuan ibuk-ibuk nyebelin ini. Amin.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
Posted by adriani zulivan Posted on 11:15:00 AM | No comments

Adzan, Diam



Hal menarik di kampus ini, seheboh apapun perdebatan dalam diskusi berjalan, ketika adzan semua orang menyepakati satu hal: diam.

Mlekom,
AZ

Saturday, December 19, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:48:00 PM | No comments

Apalah Ini, Apapun...

Kemarin sore Cilacap - Purwokerto pakai mobil. Lanjut Purwokerto - Yogya dengan kereta, di kereta bikin presentasi buat acara besoknya (hari ini). Tiba di Yogya jam 23.00, langsung ke rumah, makan, unpack, packing, mandi.
Ke stasiun lagi jam 00.00. Kereta Yogya - Surabaya.

Tiba jam 07.00 keesokan harinya. Mandi di masjid dekat stasiun, dijemput panitia ke hotel transit. Ganti baju cantik, mekapan, sepatuan. Sedikit bahas presentasi sama si mamas yang baru baca bahan yang kukirim di kereta semalam. 09.00 ke venue.

Jam 11.00 presentasi dan tanya jawab dengan bugar dan full enerji. Jam 15.00 terkantuk2 di presentasi orang lain, setidaknya 3x menyadari mata atau kepala tanpa kendali.

16.00 ke Gresik. Di taksi tidur lelap, berasa ada genggaman di tangan yang membuat nyaman (ahik!). Kami dijemput di terminal. Mampir ke rumah teman yang njemput, lalu ke luar cari hotel. "Yang laki-laki tidak satu kamar dengan yang perempuan kan?" kata hotelnya. Ya menurut lo, pak?

Makan nasi krawu, makanan terlezat sejagad Gresik. Beli martabak. Mata masih cukup segar. Lanjut nonton Gresik Indie Movie Festival yang cukup berjarak dari hotel. Film kedua baru mulai, aku minta diantarkan ke hotel.
Masih mampir beli air minum (yang tidak disediakan hotel) dkk. Bersih2, mau tidur, aroma rokok tajam di ruangan. Tanya apakah ada kamar non smokin? Tidak. katanya. Yawes minta di-treat. Cuma disemprot semprot pengharum ruangan.

Jadi sekarang gajadi2 trus urusan tidurnya...

Apalah ini, apapun...

Mlekom,
AZ


Sunday, December 13, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 2:58:00 PM | No comments

Trims Pak Win!

Kemarin:
05.00 Bangun
06.00 Ke Sukabumi
13.30 Tiba di Sukabumi (iya, macet abis)
16.30 Berangkat dari Sukabumi. Telepon pesawat, minta tiket diundur besok jam 08.00.
23.30 Sampai Jakarta. Minta taksi yang kunaikin untuk jemput jam 06.00 besok.
24.00 Packing besok ajalah. Kan bisa bangun jam 04.00, toh brgkt jam 08.00. Set alarm jam 04.00.

Hari ini:
04.00 Bangun. Ngulet2.
04.30 Telepon pesawat.
04.45 Markitid! Berangkat jadi jam 12.00! Mo telp taksi yang janjian semalam, harap2 cemas beliau datang pagi. Duh gak punya nomernya (aku yang kasih nomerku ke bapaknya).

Zzz...

Benar saja, tepat janji taksi datang. Pak Win, nama pengemudinya, telepon aku. Beliau tidak bisa mengantarkan saya siang nanti, sebab ia shift malam dan jam 12.00 siang nanti sudah harus kembali ke pool. Mungkin mobilnya akan digunakan oleh pengemudi lain. "Gpp buk, nanti telepon (ke CS) lagi aja," katanya.

Dengan berat hati kubatalkan. Meski bukan pesanan via telp, kuberi sejumlah 'uang pembatalan' sebagai bentuk terimakasih atas ketepatan janji dan kesediaannya membuang waktu untukku.

Sedih rasanya, ketika tak jadi menggunakan jasanya setelah dia semalam suntuk menanti. Aku minta nomor teleponnya, agar suatu hari nanti bisa menggunakan jasanya lagi. 0812 7611 1299 Pak Win. Jika kamu butuh taksi Burung Biru, sila hubungi beliau ya.

Trims pak Win. Really appreciate you!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Posted by adriani zulivan Posted on 12:38:00 PM | No comments

Mendadak Catwalk

Ngebayangin ada apa di balik judul ini aja bikin aku senyum-senyum sendiri hahaha :p

Jadi ini soal kejadian kemaren siang, di mana aku mendadak jalan di panggung peragaan busana. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamaku. Waktu SMA, aku dipaksa ikut sekolah modelling karena aku pemalu banget [pernah aku ceritain di sini]. Namun baru kali ini jalan --ah sebutlah catwalk (ga nemu terjemahannya) untuk agenda serius, dulu kan cuma terpaksa iseng aja. Kalau dulu terpaksa dan dipaksa, kali ini masih ada unsur paksaan tapi aku bersedia dengan senang hati melakukannya :)

Kesempatan ini datang ketika aku mengikuti agenda majalah Femina bertajuk "Inspirasi dari Selembar Kain: Workshop Tenun Gaya by Wignyo". Agenda jalan-jalan keliling Kota Sukabumi, Jawa Barat yang dilaksanakan pada Sabtu (12/12) ini memokuskan kunjungan di sentra pembuatan tenun Sukabumi yang dikelola oleh Bapak Wignyo Rahadi.

Selain menghasilkan kain hasil tenunan sendiri, bengkel produksi ini juga merancang berbagai busana menggunakan bahan tenunan Gaya. Gaya adalah merk yang disematkan Wignyo pada produknya, yang sekaligus merupakan nama dari anak perempuannya.

Siang itu setelah bosan dan lapar karena bus yang kami tumpangi terjebak kemacetan luar biasa, begitu tiba di lokasi kami langsung menyantap makanan yang disediakan. Rasanya cuma enak dan enak banget. Bayangkan ketika nasi liwet ketemu ikan asin dan sambel. Wuiiiiiiii ga kebayang kan!

Nah sewaktu sedang duduk menikmati makanan pencuci mulut, salah satu panitia mendatangiku.
"Mbak, bisa ga bantu jadi model?"
"Model apaan?"
"Pake baju yang ada di sini. Ada beberapa baju yang lagi disiapkan."
"Modelnya foto apa jalan?"
"Jalan gitu, ke panggung sana," tunjuknya pada sebuah panggung di sudut bengkel produksi ini.

Setelah menimbang kilat (sebab ditungguin mbaknya), toh ini bukan ajang model sungguhan alias ga ada model beneran yang bakal bikin minder, kuiyakan. Itung-itung nostalgila jalam modelling kan ya :)

Aku diantar ke ruang pas. Seluruh model amatiran seperti aku sedang bersiap di sana. Sayangnya aku ga bawa riasan wajah lengkap, hanya yang kugunakan sehari-hari: bedak, pemerah pipi, pewarna mata dan lipstik. Tak ada alat rias yang mereka siapkan.

Masing-masing model --sebutlah demikian ya-- diminta peragakan dua baju, satu model kebaya encim yang aku sukaaaaa banget, dan satu potongan modern yang ga kalah cantik (aduh rok yang dipake mba Dewi bikin pengen bangettt).

Ketika kami sibuk merias diri, di luar sana di atas panggung terdengar keriuhan. Pemandu acara sedang memandu diskusi dengan Pak Wigyno dan Bank BTPN yang menjadi salah sponsor.

Maka tibalah saat itu. Dengan instruksi minimalis (dianggap semua orang pernah liat gimana lenggak-lenggok model peragaan busana kali yaaaa), satu per satu kami keluar dan dipandu ke panggung.

Begitu naik, ga kaya model busana biasanya, dimana cuma berhenti sudut sini sudut sana untuk perlihatkan detil pakaian yang dikenakannya, Pak Wigyno jelaskan detil per busana. Aaaaaalamak!

Baju pertama sukses. Baju kedua pun demikian. Syukurlah, ga gugup karena ga ada yang perlu digugupin kan ya :)

Setelah sesi catwalk hampir satu jam itu, oleh panitia kami difoto bareng. Fotonya kemudian muncul di Instagram dan Twitter Femina. Salah satunya yang di atas itu :p

Setelah mengganti pakaian, kami bergabung dengan acara di panggung. Sedang kuis. Tapi ga tanya-jawab lagi seperti yang kami dengan di ruang pas tadi, tapi penarikan undian. Eh nama Adriani Zulivan tercetak di salah satu kertas yang diangkat orang BTPN dari mangkok kaca itu. Yay, ikutan agenda ini malah balik modal hahaha. Soalnya, untuk bisa ikut agenda ini, tiap peserta harus membayar sebesar Rp 350.000.

Ketika peserta lain berbelanja kain ataupun baju berbahan tenun Gaya, aku sibuk melihat para pekerja yang sedang menenun. Lagi pula, Tenun Gaya punya galeri penjualan di Jakarta. Untuk proses tenun hanya bisa dilihat di sini. Hal menarik ketika melihat tenun ini masih pertahankan produksinya menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika pamit, satu per satu peserta dikalungkan selendang Tenun Gaya oleh Pak dan Bu Wignyo. Bahagiaaaa banget dapat oleh-oleh yang dibuat dengan kesadaran penuh untuk melestarikan pusaka ini.

Di bawah guyuran hujan kami mampir ke toko oleh-oleh Moci Lampion. Lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta yang lagi-lagi macet. Aku sampai memundurkan jadwal terbang malam itu.

Ah ga masalah sih. Senang bisa mendadak catwalk, semoga ga malu-maluin Femina yah :)

Mlekom,
AZ


Sunday, December 6, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 11:16:00 AM | No comments

Kelen Model yang Mana?

Aku tuh model yang suka nyoba bikin sendiri makanan beli yang waktu dicicipin enak. Pas baru nyoba, eh kok enak? Langsung deh gugel resepnya dan bikin. Paling seru itu pas kreasikan bahan dan bumbu sesuai lidah sendiri (jadi nggak autentik lagi ya?). Misalnya pampis ini atau chee cheong fun ini, atau asem-asem daging ini, dan sejumlah masakan lain yang bisa dicek di sini (sekalian promo blog hahaha).

Punya pengalaman nyicip makanan, doyan, lalu masak sendiri gak? Mau donk resepnya (karena kalo sampe ketagihan, pasti emang enak banget tuh)!

Nah, kelen model yang mana?

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Thursday, December 3, 2015

Posted by adriani zulivan Posted on 10:18:00 PM | No comments

Mudahnya Menjadi Penyuka Sesama


Tadi pulang naik bus dan menyadari betapa mudahnya orang menjadi penyuka sesama, ataupun bisex.

Aku duduk di kursi tambahan yang menghadap samping. Di depanku banyak orang bergelantungan (oh tentu saja aku beri tempat duduk pada bumil, meski hari ini kudu egois dengan penumpang lain sebab aku sedang ber-rok mini yang bahaya jika gelantungan--yunowataimin). Jadi--buat kelen yang gatau isi kopaja--posisi penumpang begini:

Supir di kanan (ya lah, endonesa woy!), di samping kiri pintu tempat naik-turun penumpang perempuan (ya, klo padet, beginilah sopir dan kernet membaginya). Pintu lain ada di belakang, untuk penumpang lakik.

Di belakang sopir ada satu bangku (semacam bangku baso berbahan besi yang 'ditanam' permanen). Bangku ini untuk 2 orang, aku salahsatunya. Di belakang bangku ada pintu geser untuk penumpang naik turun di halte. Jd klo duduk di bangku ini jangan harap bisa senderan, klo belom pengen jontor dicium pintu yang mbuka-nutup tanpa permisi.

Nah, di depanku ada space di samping pintu kiri untuk berdiri dua orang (yang kerap diisi 4-6 orang *emotsokkaget*), di belakang space ini ada deretan bangku terhormat (iya, karena bentuknya kursi, bukan bangku baso) untuk dua orang.

Jadi, diantara aku dan dia eh mereka yang berdiri di pintu kiri dan kursi terhormat, ada penumpang lain yang bergelantungan, biasanya dua orang. Tadi 'cuma' satu orang, berdiri menghadap aku. Kalian bisa bayangkan: dua perempuan, hadap-hadapan, yang satu di atas, satu lainnya di bawah. ‪#‎apasih‬
Itu sampe bagian tengah. Bagian belakang besok2 aku critain yes!

Nah, balik ke posisiku. Waktu padet2nya, kernet kan jalan mondar-mandir depan-belakang narik ongkos. Pas mo lewat drpanku, dia minta penumpang yang di drpan pada "masuk masuk, tengah tengah, kosong sini". Mbak2 depanku gak mau geser, dan terjadilah awkward moment itu:

Ketika bang kernet liwat, kedua kaki simbak2-yang-gelantungan itu masuk ke dalam pahaku (dalam paha itu = ituloh, kalo kamu duduk kan ada jarak antara paha sama paha). Lututnya mengunci di sana. Sampai keadaan stabil, kira2 dia gak bakal jatoh, aku tarik kaki dan mengatupkan kedua paha (iya, aku biasanya duduk agak ngangkang emang, makanya tu kaki embak2 bisa masuk2 aja.)
Kejadian ini berulang lagi sekali. Sampai dia pindah ke belakang.

Dengan pembagian ruang (pintu depan buat cewe, pintu belakang buat cowo), jangan heran jika cinta bersemi di antara penumpang yang melewati sesama pintu itu...

That awkward moment... Reminds me of this http://www.kompasiana.com/…/sopir-ugal-ugalan-penumpang-bus…

Mudah menjadi penyuka sesama? Enggak sih, ini tentang buruknya layanan transportasi publik kita. Anggap ini Kisah Kopaja #1. Masih banyak cerita lain menyusul :p

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata