Wednesday, March 31, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 6:28:00 PM | No comments

Inikah Rasanya?

`
Undangan sudah dibuat, tinggal menentukan souvenir untuk tamu undangan. Rencananya, keluarga besar menginginkan souvenir dari Jogja--dengan berbagai pertimbangan ini-itu.

Sebagai yang ditugaskan mencari referensi, aku sudah memotret berbagai bentuk souvenir yang kutemukan di Malioboro dan sejumlah pengrajin handycraft yang menjadi bimbingan kantor tempatku bekerja.

Foto-foto sudah pula kuaplot di Facebook agar semua keluarga bisa melihat dan berkomentar. Mereka memutuskan untuk datang ke Jogja di akhir minggu ini.

*
Ya, the D-day is coming up. 2 Mei di Medan dan 20 Juni di Jakarta. Mungkin akan menjadi perjalanan menyenangkan.

"Kalo gak begini, kk pasti gak bakal balik ke Medan,  kan?" kata sepupuku yang tinggal di sana.

Ya, aku lahir di Medan. Usia tiga tahun ke luar Medan. Setelah di Jawa, baru sekali (tahun 2006) kembali ke Medan. Dahsiat! Bah, orang awak macamana pulak kau itu? ;p

*
Selain itu, aku sudah memesan dua kebaya. Tinggal satu lagi untuk acara di Jogja, yang minggu lalu sudah googling modelnya. sudah dapat, tinggal warna: merah atau silver? --kata temanku: JANGAN KEDUANYA! *iiih, kan gue yang make, bu???! Hihihi*

Kalo pake hitungan Masehi, kalender yang aku hapal sejak lahir, tanggal-tanggal itu hanya hitungan sebulan lebih dikit.

Ahhh, inikah rasanya?
Posted by adriani zulivan Posted on 6:16:00 PM | No comments

Apakah Rasanya?

`
Ahhhh, mungkin terdengar klise dan  basi bangettttttttt!
Hihihi, tapi tak apelaaa, ay ni nak cerite...

Begini.
Dari keluarga Papa Ipan, ayahku, aku adalah cucu tertua kedua. Yang pertama adalah kakak kandungku yang berbeda tiga tahun di atasku, seorang perempuan.

Beberapa bulan belakangan, keluarga Papa Ipan dihebohkan dengan rencana perkawinan yang akan dilaksanakan oleh BUKAN cucu pertama di keluarga mereka, alias bukan kakakku.

Anw, FYI, ayahku adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, meski cepat menikah, baru dikaruniai anak setelah puluhan tahun menikah, sehingga anak pertamanya baru sebesar anak terkecil di keluarga intiku--baca: sepantaran dengan adikku yang saat ini berusia 21.

Ya, meski semua rela dan memahami kondisi tersebut, aku merasa tak enak ketika beberapa bulan lalu kakaknya Papa Ipan mendekatiku hanya untuk mengatakan:

"De, kalau memang sudah ada yang dekat dan serius, duluan sajalah nggak pa-pa. Jangan tunggu-tunggu kakak lagi."

***
Again, FYI, ada beberapa orang sepupu perempuan dari Papa Ipan yang menikah di atas 30 tahun, dan seorang di atas 40 tahun. Itu, tentu saja, menjadi kekhawatiran keluarga besar mereka jika aku, sebagai cucu perempuan tertua kedua, bermaksud menunda lebih lama demi menunggu kakak perempuanku.

Yang menjadi pertanyaanku kemudian adalah: Apa rasanya 'dilangkahi'?

Entahlah. Kan aku pun belum pernah mengalaminya?

Tapi, menurut kakaknya Papa Ipan, kakakkulah yang memintanya memberitahukanku untuk menjalani itu: melangkahinya jika memang sudah ada yang serius.

"Minta pelangkah!" hanya itu yang dikatakan kakakku dengan bercanda.

OK, then. Ini akan menjadi pernikahan pertama di generasi ketiga dari keluarga besar Munir syarief.
Mohon doa, semoga lancar. Amien.

Monday, March 29, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 1:19:00 PM | No comments

Investasi Riil: Bikin Sapi Naik Kelas



Transaksi bisnis di bursa efek tak pernah sepi peminat. Banyak kalangan “menitipkan” uangnya dalam bentuk lembaran saham agar memperoleh imbal hasil berupa laba perusahaan (capital gain). Lalu, mengapa pemain bursa saham di negeri ini terdiri atas hanya segelintir orang?

Bursa saham merupakan investasi beresiko tinggi, mereka yang bermain di sana adalah orang-orang sukses di kota besar yang memiliki modal kuat selain kemampuan analisis investasi perbankan yang memadai.

Sistem investasi saham seperti ini tentu saja jauh dari aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Jumlah rupiah di bursa efek tak bisa dikatakan sedikit, namun ia berputar hanya di kalangan atas, kalangan yang berkapital besar.

Belakangan muncul pemikiran dari sejumlah kalangan untuk memberdayakan masyarakat kalangan bawah lewat investasi. Persoalannya adalah, investasi seperti apa yang bisa dipilih demi terciptanya cita-cita mulia tersebut?

Pasar Komunitas
Adalah Pasar Komunitas, sebuah portal jaringan informasi yang ditujukan untuk meningkatkan potensi ekonomi yang ada di sekitar masyarakat dengan membangun bisnis transparan dan berkeadilan. Pasar Komunitas lahir dari inisiatif dan perkembangan jaringan radio-radio komunitas di seluruh Indonesia, khususnya yang tergabung dalam Suara Komunitas.

Secara sederhana, radio komunitas itu sendiri adalah media yang didirikan oleh, untuk, dari, dan tentang masyarakat. Dalam perkembangannya, tak hanya radio komunitas saja yang bergabung, namun melebar ke berbagai bentuk kelompok masyarakat yang memiliki visi yang sama untuk mendukung perkembangan ekonomi masyarakat kecil.

Dalam Pasar Komunitas ini radio komunitas berperan sebagai aktor yang melakukan manajemen pemasaran terhadap potensi ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya. Manajemen pemasaran dilakukan melalui Pasar Komunitas sehingga lebih kuat dan terkontrol demi memaksimalkan tiap transaksi.

Informasi yang ada di Pasar Komunitas berfokus pada isu ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Setiap orang bebas menggunakan portal ini untuk kepentingan bisnisnya sepanjang masih satu visi, yaitu pengembangan ekonomi rakyat yang berkeadilan.

Lewat Pasar Komunitas, sejumlah pegiat UMKM mengubah format usaha mereka menjadi sistem investasi saham. Seperti halnya saham di bursa efek, mereka memberi penawaran bagi investor yang berminat untuk turut serta menanamkan modalnya dalam usaha yang mereka jalankan. Modal tersebut akan diputar untuk menambah modal sang pemilik usaha.

Tentu saja bentuk saham yang ditawarkan berupa usaha dalam sektor riil, seperti bidang peternakan, perikanan, industri kreatif, dan sebagainya. Sistem yang digunakan adalah sistem bagi hasil. Investor tinggal menitipkan dana yang dia miliki untuk dimainkan dalam sektor usaha yang diinginkannya.

Salah satu kelebihan investasi riil dibanding investasi bursa saham adalah, investor tak perlu memiliki kemampuan memadai mengenai seluk-beluk usaha di mana ia menanamkan modalnya.

Misalnya saja, seseorang ingin berinvestasi di bidang pengembangbiakan sapi potong. Ia tak perlu memiliki kemampuan cara merawat sapi, apalagi berpikir harus menyediakan lahan yang besar untuk membuat peternakan. Semua pekerjaan teknis pengembang-biakan dan fasilitas pengelolaan menjadi tanggung jawab pemilik usaha. Pemodal tinggal memantau perkembangan investasi mereka lewat bursa investasi yang terdapat di situs Pasar Komunitas.

Keuntungan lainnya adalah, investasi di sektor ini bisa dikatakan bersifat tetap. Jika seorang pemodal mengawali investasinya dengan sepasang sapi, dapat dipastikan ia akan memperoleh keuntungan dari kelahiran anak dari kedua sapi tersebut. Selain itu, resiko bermain saham di sektor riil tak setinggi saham di bursa efek yang perubahannya terjadi setiap detik.

Musim panen” sektor riil bisa diprediksi dengan mudah tanpa harus merusmuskan hitungan angka-angka. Musim panen tersebut, untuk sapi, adalah musim di mana harga sapi potong meningkat, misalnya di masa Hari Raya keagamaan.

Keuntungan lainnya adalah bahwa harga sapi tidak akan jatuh ketika krisis moneter, misalnya, sebab itu merupakan kebutuhan pokok masyarakat.

Secara pendanaan, seseorang tak harus kaya dahulu untuk menjadi investor di sektor riil. Dengan dana Rp 10 juta, siapapun bisa memiliki seekor sapi yang siap digemukkan dan dijual ketika tiba saatnya untuk dipotong.

Beri Kemudahan
Berinvestasi di sektor riil memberi banyak manfaat. Ia bisa berfungsi sebagai deposito dan asuransi. Ia menjadi depostito sebagaimana seseorang menitipkan uangnya ke bank dan akan mendapat keuntungan dari laba penyimpanan. Ia menjadi asuransi ketika ia bisa diambil sewaktu-waktu untuk dana pendidikan atau kesehatan.

Andaikan saja setiap anak yang lahir diberikan “asuransi” berupa sapi, maka orangtuanya tidak akan pusing lagi memikirkan dana kuliahnya ketika ia besar nanti.

Intinya, Pasar Komunitas menawarkan kemudahan. Lewat keterbukaan sistem investasi sektor riil ini, orang-orang kota kini bisa beternak sapi tanpa harus menjadi peternak. Tugas Pasar Komunitas kini adalah bagaimana mengembangkan sistem tersebut agar mampu mengubah “pamor” investasi binatang ndeso sekelas sapi menjadi naik kelas di bursa investasi.
AZ untuk KOMBINASI #31
Posted by adriani zulivan Posted on 12:51:00 PM | No comments

Jejaring Sosial untuk Jejaring Berita Bencana




Secara geografis, wilayah Indonesia rawan bencana. Banjir, angin ribut, gunung meletus, gempa bumi, hingga tsunami menjadi langganan. Di era penggunaan internet kini, apa yang dilakukan seseorang ketika berada di tengah situasi bencana?




Kejadian gempa bumi Ujung Kulon (16/10/2009) turut mengguncang Jakarta. Ada fenomena menarik sesaat setalah terjadinya gempa. Selain memanfaatkan ponsel untuk berkabar dengan kerabat, tak sedikit yang mengganti status di situs jejaring sosial (social networking/social media) tentang kejadian gempa yang mereka alami. Sampai-sampai muncul status kocak seperti "Orang Jakarta begitu gempa langsung ambil HP, update status".


Berbagi Berita
Jumlah pengguna social media terus meningkat. Tahun 2009 Facebook (FB) menjadi situs yang paling banyak diakses dan hingga September 2009 ada 1,2 juta pengguna Twitter di Indonesia (data Google Adplaner).


Fitur utama situs ini adalah pembaruan (update) status yang digunakan sebagai ajang berbagi informasi, mulai dari kejadian remeh temeh hingga informasi tentang bencana. "Keluarga, kerabat dan teman tahu posisiku dari FB. Mereka langsung tanggap dan mengontakku," cerita Kristupa Saragih, fotografer yang berada di Padang saat gempa 30 September 2009 lalu.

Mereka yang terus-menerus memperbarui status mengenai kondisi bencana menjadi semacam informan strategis, sebab posisi mereka berada langsung di tempat kejadian sehingga mampu melaporkan berdasar apa yang dilihat, dengar dan rasakan.


Beberapa saat setelah terjadi, gempa Sumbar menjadi trending topic1 (1,2%) Twitter (detikINET). "Itu menjadi laporan tercepat jika ada korban, atau seberapa besar gempa terjadi secara visual dan motorik bukan dari data ilmiah seismik," kata Kristupa yang aktif di berbagai situs jejaring sosial.

Pengguna Twitter/FB kerap memperoleh informasi lebih cepat dibanding pengumuman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ataupun Badan Survey Geologi Amerika Serikat (United State Geological Survey/USGS). Masih menurut Kristupa, misalkan seseorang memperbarui status dengan "Atap rumah runtuh, pohon bergoyang, Bantul gempa!" dari situ diperoleh data daerah yang merasakan goncangan dan perkiraan nisbi kekuatan gempa.


Logikanya, semakin jauh pusat gempa maka semakin lemah kekuatan gempa yang dirasakan. Orang-orang yang berada jauh dari episentrum mampu menghasilkan peta gempa sederhana dan cepat jika mau berpartisipasi aktif.

USGS perlu 15 menit untuk mempublikasi data yang belum diverifikasi ahli gempa bumi (seismologi), 30 menit kemudian baru mendapat verifikasi dan masih membutuhkan 10 menit untuk meng-update ke website. Bagaimana dengan BMKG? "Entahlah, tak dijamin konsistensinya. Bahkan tak ada grade laporan apakah data yang dipublikasikan sudah diverifikasi seismologi atau belum," pendapat Kristupa yang pernah berkarir sebagai ahli geologi ini.


Kecepatan pengumpulan data lewat Twitter menjadi alasan USGS membuat Twitter Earthquake Detector (TED) sebagai wadah berbagi dan memperoleh informasi gempa secara real time di seluruh belahan bumi.

Dendi Pratama membentuk grup FB yang dinamainya "Update Gempa Sumbar September 2009". Grup ini terus diperbarui dengan informasi yang didapat dari status masyarakat terkait gempa dan laporan langsung dari seorang reporter radio lokal.


Kala itu, traffic grup ini cukup padat. Apalagi pada H+4, ketika jaringan seluler pulih, mulai ramai masyarakat Sumbar yang memperbarui status FB. "Sejumlah relawan menghubungi kami, menanyakan kondisi medan yang akan mereka datangi untuk distribusi bantuan," cerita Dendi. Grup ini juga mengumpulkan video amatir yang direkam warga.

Banyak orang Minang yang merantau. Saat gempa lalu, mereka membutuhkan info spesifik, tak seperti liputan media mainstream. "Ada orang dari Jakarta yang bertanya tentang kediamannya di Padang: Mohon info tentang rumah coklat yang ada di perempatan jalan ini", kata Dendi yang seminggu setelah gempa berangkat ke Padang sebagai Ketua Relawan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk Gempa Sumbar.

Mengakrabi Bencana
Sebagai gambaran, FB menerima lebih dari 1.500 status per menit di seluruh dunia yang mengandung kata “Haiti” pasca gempa Selasa (12/01) lalu. Hal itu direspon dengan pembuatan sebuah halaman (page) bertitel "Disaster Relief". Ini menunjukkan pentingnya social media dalam kondisi bencana. "Sayangnya, badan resmi kebencanaan milik pemerintah kita tak menggunakan media seperti ini untuk penyebaran informasinya," kata Dendi yang juga pernah menjadi relawan gempa Yogyakarta.

Sebagai negeri yang akrab dengan bencana, ada baiknya Indonesia melirik cara penyebar-luasan info bencana lewat social media. Memang benar bahwa hanya sebesar 13% dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia yang melek internet. Namun jumlah itu tak dapat dianggap remeh sebab dari sejumlah kasus besar, mereka terbukti mampu melakukan perubahan sosial.

Secara sederhana, itulah fungsi situs jejaring sosial dalam membantu berjalannya arus informasi di tengah kondisi bencana. Anda turut merasakannya?

Adriani Zulivan untuk KOMBINASI #31

1 Trending topic adalah topik yang paling banyak dibicarkan, dapat dicek dengan hashtags atau tanda "#" | lihat ini.

Sunday, March 28, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 5:15:00 PM | No comments

Parents Don’t Buried Their Child

  -->Click here to see his pics...


A 'mom' like me should not bury my own child. It should him that burry my body when I die.
But I did it last night. Buried his deadbody on my backyard, right beside his own house. Mas Yossy helped me to do that.

This morning I am so sad.
I am no longer see his noddy head when I open the curtains.
I am no longer see his blue icy eyes looking at me when I open the windows.
I am no longer hear his crunchy voice when I call him.
I am no longer come into his house when he fly to reach me.

Ya,
This morning I am no longer call him for that crunchy voice.
This morning I am no longer open his door to catch him fly.
I hear no voice.
I see no fly.
He no longer there.

Maybe, I will tear some flower to his “new house” there on the ground, today.
Flower, as much as the tear which comes out from my eyes, now.

Selamat jalan, sayang...
Selamat bertemu kembali dengan dia, kekasihmu...



Thursday, March 25, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 4:14:00 PM | 2 comments

Boetet

Boetet. Cara bacanya: Butet. Itu nickname seorang teman yang kukenal tahun 2008 lalu.

(ki-ka: Boetet, Don Bosco, AZ, Ikatrina Rosyida

Meski baru sekali bertemu langsung dan hanya sekitar 5 jam, Boetet bagiku adalah seorang cewe periang. Si periang ini, dua malam lalu, sudah berpulang ke tempatnya.

Selamat jalan, sayang. DIA memberikan jalan terbaiknya buatmu.


Boetet, Ika, AZ, Alex Satrio________________________


 

Thursday, March 18, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 8:21:00 PM | No comments

The Collection - House of Sampoerna

`





 




















Posted by adriani zulivan Posted on 2:31:00 PM | No comments

2010 GLOBAL WOMEN IN MANAGEMENT (GWIM) WORKSHOPS


Dear All,

Please find attached the background information regarding the 2010 ExxonMobil Global Women in Management (GWIM) Program and the suggestions for selecting the applicants. This year's GWIM training will be held in Washington (July 2010) and Jakarta (October 2010). Within this e-mail, we also attached the application form and the workshop background for your reference.

For those who are interested and meet the criteria, please fill in the application and send it back via e-mail to contact.indonesia@exxonmobil.com by Friday, 19 March 2010 at the latest.

If you are unable to view the attachment, kindly send your request to francien.m.laoh@exxonmobil.com by putting "2010 GWIM" as subject.

Selected candidates will be called for an interview and ExxonMobil will determine the location of the training for the candidate.

You may extend this email to friends, colleagues who are working in women's economic advancement program.

Thank you.
Dave A Seta


***
The Global Women in Management (GWIM) Program: Advancing Women's Economic Opportunities is a workshop that ExxonMobil supports in partnership with the Centre for Development and Population Activities (CEDPA)

The Global Women in Management Program (GWIM) strengthens women’s management, leadership and technical skills to enhance and bring to scale programs that advance women’s economic opportunities and build the next
generation of women business leaders and entrepreneurs. GWIM leverages CEDPA’s 30-year history of women’s leadership programs and responds to the
call for interventions that advance women in the economy and give women greater control over economic resources to impact the health and development of their families, communities and nations.

This program is supported by the ExxonMobil Women’s Economic Opportunity Initiative, a global effort launched in 2005 to help women in developing countries fulfill their economic potential and serve as drivers of economic
and social change in their communities.

The program consists of a four-week, intensive and highly participatory workshop for 26 women (all countries) followed by a yearlong coaching program to assist workshop graduates in applying their new skills and knowledge to achieve their professional and career goals.

The Global Women in Management workshop will be held in Washington DC on July 5 - 30, 2010 and Jakarta on October 4 - 29, 2010. The deadline for the applicants in Indonesia will be on Friday, 19 March 2010. Selected candidates will be called for an interview in ExxonMobil's Jakarta office
or through teleconference for applicants outside Jakarta. ExxonMobil offers full scholarships (all expenses paid) to participate in the workshop.


Further info:
www.cedpa.org

You may question us at:
contact.indonesia@exxonmobil.com
daveardian@gmail.com


[Email from Dave A Seta]

Wednesday, March 17, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 4:28:00 PM | No comments

Mengintegrasi Desa, Membuka Peluang

-->
Garis-garis berwarna hitam-putih tersebut dipindai. Keluarlah pesan ini: “Kolesterol tinggi. Dua kali menginap di RS jantung. Tiga kali menikah. Alergi cabai.” Garis hitam-putih tersebut merupakan barcode yang tercetak di tangan seseorang lewat gambar tato. Ia berisi ratusan gigabytes informasi pribadi mengenai orang yang mengenakannya. Ia dapat dibaca dengan menggunakan teknologi scanning (pemindai) sebagaimana scanning harga yang dilakukan petugas di toko-toko modern.
Ketika seluruh masyarakat dunia memiliki tato barcode, keribetan administrasi akan mampu teratasi. Tentu saja, sebab segala informasi bisa diperoleh lewat pemindai tersebut. Dengan tato itu, seseorang tak perlu membawa identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) ataupun paspor ketika bepergian. Rumah sakit pun tak harus menyimpan berkas rekam medis yang menyimpan catatan riwayat penyakit pasiennya. Tinggal scan, maka semua terpapar dalam teknologi internet.

Semua itu hanya terjadi nyata dalam sejumlah film science fiction populer, seperti Star Trek, Matrix, dan Johnny Mnemonic. Jika melihat kehidupan nyata di luar frame film, mungkin hal tersebut terdengar seperti mimpi. Ibarat jauh panggang dari api. Bukan hal mudah mengintergrasikan informasi personal ke dalam satu kesatuan sistem informasi yang dapat diakses oleh publik secara mudah.

Eits, tunggu dulu. Saat ini ada sejumlah desa yang sudah memulai sistem tersebut. Ya, mungkin bentuknya belum sekompleks yang tergambar dalam film-film tersebut. Namun ide utamanya, yaitu mengintegrasikan informasi personal, sudah dianut dalam sistem ini.

Sistem ini bernama Sistem Informasi Desa (SID), yaitu sebuah aplikasi berbasis internet (website) untuk mengelola data kependudukan di tingkat desa. Ia akan dimanfaatkan untuk mendukung kerja dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat perdesaan. SID dibangun sebagai sebuah paket sistem yang meliputi sistem database kependudukan, keuangan, dan sumber daya desa. Itulah yang kini sedang dibangun, tidak menutup kemungkinan bertambahnya database tersebut.

Assesment sosial untuk pengembangan SID bertujuan untuk mendapat data profil sosial desa seperti yang biasa tercantum dalam dokumen monografi desa dan/atau dokumen profil desa; mendapat peta mengenai pihak-pihak yang terkait dan berkepentingan terhadap kegiatan pengelolaaan data dan informasi di wilayah pedesaan; mendapat profil rencana pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang desa serta kawasan setempat; dan mendapat peta harapan pihak-pihak tersebut mengenai tata kelola pemerintahan yang baik di wilayah perdesaan.

Ide utama dari pembangunan sistem ini adalah terbentuknya sebuah data terintegrasi mengenai informasi desa yang dapat diakses masyarakat dari belahan dunia manapun melalui jaringan internet. Dengan demikian, mimpi mengenai ketersediaan/keterbukaan informasi masyarakat dunia bisa jadi tak lagi sekadar mimpi. Ini hanya mengenai waktu!

AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 3:55:00 PM | No comments

Nikmati Bersama Suasana Pagi




Pagi itu begitu cerah. Aku berniat melakukan rutinitas pagi hariku: membeli sarapan!


Bukan hal sulit mencari penjual sarapan. Mereka bertebar hampir di setiap sudut jalan. Soto, bubur, nasi kuning, mie goreng, dan berbagai menu lainnya bisa didapat dengan mudah. Tinggal jalan beberapa meter ke luar rumah.
Pagi ini aku memutuskan untuk menyantap gudeg favoritku. Jaraknya tak terlalu jauh memang, tapi cukup jauh untuk berjalan kaki. Lalu kuhidupkan mesin kendaraanku. Wuzzz, tak ada lima menit aku sudah berada di depan panci-panci berisi lauk panas.
“Biasa ya, Bu.” kataku pada ibu penjual yang disambutnya dengan anggukan ramah.
Seperti biasa, tempat itu cukup ramai. Aku harus sabar menanti hingga pesanan gudegku diracik. Si ibu berjualan seorang diri. Meracik makanan dan menyiapkan minuman. Tak ada tempat khusus. Ia duduk di atas sebuah bangku dengan meja berisi bahan dagangan di depannya. Di meja itu terdapat dua dandang besar berisi gudeg dan kuah sambal krecek ditambah sejumlah mangkok dan piring tempat pelengkap menu gudeg lainnya.
Sambil menunggu pesanan, aku melihat-lihat papan panjang di sana. Papan yang berwujud persis papan pengumuman di kampus atau di Balai Desa itu ditempeli berbagai judul surat kabar lokal. Inilah kerumunan yang paling ramai. Masyarakat datang ke sini tak hanya mencari makan, namun juga untuk memperoleh informasi dari surat kabar yang mereka baca.
Papan ini awalnya merupakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebuah Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang bekerjasama dengan perusahaan media yang tertempel di sana. Terletak di pinggir sebuah jalan utama di bilangan Jogja Kota. Lokasinya yang di dekat lampu lalu lintas di dekat perempatan jalan besar Veteran membuat ia mudah ditemui.
Papan yang merupakan program Koran Masuk Desa (KMD) ini selalu ramai di tiap pagi. Tak hanya akibat gudeg yang nikmat, kerindangan tempat tersebut juga menjadi pilihan. Ia berlokasi di sebuah tanah kosong di pinggir jalan yang dinaungi sebuah pohon rindang. Pohon besar yang tak kutahu namanya itu benar-benarmemberi kenyamanan.
Pohon ini tak hanya menaungi KMD, namun juga sebuah pondok kayu berupa bale-bale berkontruksi panggung yang menjadi Pos Keamanan Lingkungan (Poskamling). Di depannya terdapat deretan bangku panjang yang sangat nyaman untuk leyeh-leyeh. Menambah kenikmatan pelanggan gudeg.
KMD
Tak ada catatan tertulis kapan KMD pertama kali hadir di Indonesia. Yang jelas, papan-papan bertempel koran seperti ini tersebar di banyak daerah di nusantara. Tak hanya di perkotaan, namun juga di areal pedesaan. Ia menjadi salah satu instrumen penting dalam penyampaian informasi kepada khalayak. Inilah ide utama ketika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di masa Orde Baru (Orba) membangun KMD di berbagai daerah.
Bagi masyarakat desa, ia sangat membantu menyampaikan informasi mengenai kebijakan pemerintah, terutama yang menyangkut pembangunan dan perekonomian. KMD mampu mengobati dahaga masyarakat desa terhadap informasi ketika mereka tak dapat mengakses seluruh bentuk alat komunikasi-informasi. Bagaimana dengan masyarakat kota?
Masyarakat di perkotaan Indonesia masuk dalam kategori masyarakat yang mampu mengakses arus informasi secara utuh. Utuh, sebab memiliki instrumen komunikasi yang lengkap, mulai dari media cetak hingga elektronik. Meski begitu, bukan berarti bahwa papan-papan koran seperti itu tidak akan dilirik keberadaannya.
Terbukti padaku yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk membaca koran-koran di papan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hariku, aku sangat mungkin mengakses informasi lewat internet selama 24 jam sehari lewat jaringan yang terpasang di rumah, hotspot di kantor, hingga telepon selular di manapun aku berada. Aku juga berlangganan koran. Namun membaca papan-papan bertempel koran itu menjadi kenikmatan tersendiri bagiku. Bertemu dengan banyak orang, sarapan bersama, lalu memperbincangkan hal-hal umum yang kami baca di papan koran tersebut.
Arena Diskusi
Namanya, KMD, mungkin tak selalu relevan lagi sebab ia tak hanya berada di desa, namun juga di berbagai sudut wilayah perkotaan. Masyarakat kota mencarinya, seringkali untuk melihat iklan rumah atau tanah dan iklan lowongan pekerjaan yang tidak mudah menemukan informasinya di internet.
Terlepas dari alasan membaca koran diding tersebut, papan-papan koran ini mampu menjadi arena publik baru yang berprinsip sebagai centre of excellent, di mana semua orang, siapapun, dapat memperoleh dan berbagi informasi.
Siapa sangka bahwa dari sebuah papan koran ini tercipta sebuah diskusi berharga mengenai berbagai persoalan bangsa. Para pembacanya kerap berlama-lama di lokasi tersebut, selain untuk menikmati gudeg juga tertarik melibatkan diri dalam obrolan panjang mengenai hal-hal yang menjadi berita koran hari itu.
“Ini makanannya, Mbak” panggil si ibu penjual gudeg padaku.
Aah, makananku telah siap. Kuambil dan membawanya ke bangku depan Poskamling, menyusul beberapa orang yang sudah terlebih dulu di sana. Kami membicarakan kasus “Century” yang menjadi headline koran pagi itu. Beginilah caraku menikmati suasana pagi.
ADRIANI ZULIVAN

Friday, March 12, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 12:45:00 PM | No comments

Tahun Lalu Minus Dua Hari...

"Kiri sini ya, Pak!" serunya pada Pak Becak yang mengayuh di belakang.

Becak berhenti. Tepat di depan sebuh resto yang kini menjadi resto
sambel-sambelan yang tidak enak di bilangan Simanjuntak. Tak lebih dari 10
menit perjalanan panas di bawah sinar matahari dari kampus.

Pencil jeans hitam, tight blazer lengan mini dengan tank top putih di
dalamnya dipadu syal tipis melingkar leher bercorak kotak horizon dominasi
abu dengan line hitam, putih dan merah.

5 cms highheels + baggy hitam senada. Ada anting hitam-putih di telinganya
+ gelang hitam besar melingkar di tangan kiri. Make-up tipis berupa nude
lipstick, gold shimmery, dan soft-black eyeshadow.PErempuan ini bertema
hitam-putih.

Masuk ke ruangan khusus. Disana sedang ada pertemuan.Seorang perempuan
paruh baya menyambutnya sangat ramah. Perempuan bertema hitam-putih ini
lalu dikenalkan dengan sekitar 5 (lima) orang lainnya. Semuanya lelaki.

Satu kecil, terlihat cerdas dengan caranya berbicara. Satu terlihat kocak,
dengan tingkahnya yang menggunakan batik dengan bawahan jeans dan
berkacamata hitam frame besar dalam ruangan yang dibuat gelap untuk
menayangkan LCD. Satu terlihat sibuk dengan laptop-nya meski terlihat
ramah.

Datang terlambat satu orang yang sudah familiar, menyalam, juga dengan
sangat ramah. Perempuan paruh baya yang akan menjadi atasan baru Perempuan
Hitam-Putih -sebutlah dia seperti itu- ini menjadi magnet bagi si Perempuan
Hitam-Putih. Perempuan paruh baya itu terasa sangat lembut, keibuan. Inilah
saat dimana si Perempuan Hitam-Putih mengerti bahwa ada juga orang Batak
yang lembut di dunia ini. Ha ha.

...bersambung entah kapan...

*
Perempuan Hitam-Putih itu mungkin saya, 1 Desember tahun lalu. Saat
pertama kali menjadi bagian dari keluarga kecil CRI. Setahun sudah, lebih
dua hari, pasca saya begitu bahagia diterima di sebuah lembaga yang menjadi
keinginan saya untuk berkarir: sebuah LSM, tidak bekerja di belakang meja,
banyak kesempatan bekerja di jalan, eh bekerja sambil jalan-jalan.

Kebahagiaan itu terus ada sampai kini, ketika kontrak kerja saya berakhir
dua hari lalu, meski ternyata alasan saya memilih CRI *sesuai janji Mas
Nasir saat tes wawancara Oktober tahun lalu), baru terjadi sebulan
terakhir: kerja, jalan ;)

*
Sebulan terakhir begitu menyenangkan sepanjang sejarah karir saya enam
tahun terakhir. Cape, memang. Tapi itu cukup sebanding dengan pengalaman
dan kesenangan bekerja yang saya dapatkan. Saya percaya kata-kata Novi:
"Gaji itu nomor sekian, ketika kamu enjoy melakukan pekerjaan kamu." Yeah
Nov, aku merasakan itu sekarang ;)

Senang berada di CRI, dengan kesempatan ber-JM yang sangat luar biasa.


Mlekom,
AZ




Catatan terkait:
http://adrianizulivan.blogspot.com/2009/10/saatnya-memilih.html
http://adrianizulivan.blogspot.com/2009/12/how-much-you-value-yourself.html

Thursday, March 11, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 9:26:00 PM | 1 comment

Will This Be A Real "Green Building Copcept"?

The new office of combine.or.id is addopted the "greeny concept". Me, myself, don't really understand what is that mean and how is the real roleplay.

All I know about this "fresh" concept is:
- to build more energy
- efficiency by reuse
- etc

All I get by this concept from the new office is:
- no air conditioner
- no air conditioner
- no air conditioner


R
My Room


Gee, how do i live?

Mabbe the architect of this office building should see this, yes?
http://greenconcepthome.com/
http://www.greenconcepts.com/

Wednesday, March 10, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 6:57:00 PM | No comments

My New Blog @ KOMPAS Citizen Image



Posted by adriani zulivan Posted on 3:32:00 PM | No comments

Sepak Bole Sore ala Anak-anak Gunung Sumbing




















Posted by adriani zulivan Posted on 10:25:00 AM | No comments

Sepakbola Jagoan Gunung


Hey! 

Ini perjalan dinas luar kota pertama bersama lembaga yang baru saya masuki minggu lalu ini. Sebagai sebuah institusi non pemerintahan yang bergiat untuk penguatan peran masyarakat sipil, lembaga ini mempunyai beragam kegiatan lapangan yang terlalu sayang untuk ditinggalkan.

Nah, siang itu kami mengunjungi Desa Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Desa ini berada persis di kaki Gunung Sumbing, salah satu gunung yang jadi rujukan para pendaki. Butuh dua jam perjalanan dari Yogyakarta menuju lokasi ini.

Karena berada di dataran tinggi, desa ini bersuhu dingin. Warga setempat bertani untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Sayur-sayuran menjadi hasi utama. Selain itu, mayoritas warga memelihara berbagai binatang ternak, seperti kambing, domba dan sapi.

Aktivitas warga dimulai sejak subuh, ketika mereka pergi ke ladang. Jangan mencari waga di rumah pada pagi dan siang hari, sebab mereka baru akan pulang ke rumah di sore menjelang senja dengan membawa rumput untuk pakan ternak.

Ketika orangtua sibuk, anak-anak berkumpul di tanah lapang seadanya, membuat kesibukan sendiri usai pulang sekolah. Mereka berkumpul dan bermain bola kaki. Begitu ceria, hingga mampu menghangatkan dinginnya udara.

Tanpa atribut, tanpa seragam, tanpa sepatu, tanpa gawang, tanpa peluit, tanpa kartu berwarna. Inilah mereka, para jagoan kecil Gunung Sumbing, yang mencipta permainannya sendiri.

Tuesday, March 9, 2010

Posted by adriani zulivan Posted on 11:34:00 AM | 2 comments

Selangkang. Ngoten, Njih!

Ngoten njih, Bu... Pak...

Ini adalah salah satu kalimat paling sering kudengar dalam berbagai kesempatan bertemu dengan warga pedesaan. Ia bermakna “begitu, ya” dalam bahasa Jawa halus. Atau “ngono, lho” dalam bahasa Jawa kasar (ngoko). Kata-kata itu keluar dari mulut teman-temanku yang menjadi fasilitator pendampingan warga desa di pedesaan Jawa.

Banyak iklan rekutmen fasilitator pendampingan yang menyertakan hal-hal seperti “fluent in English and Bahasa” untuk international NGO atau “diutamakan yang mampu berbahasa daerah [Jawa, misalnya]”. Hal ini penting sekali, benar-benar baru kurasakan ketika pertama kali bekerjasama dengan penduduk desa di kawasan pedesaan di Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

Saat itu (2007) aku mendatangi masyarakat setempat secara door to door. Di saat jam kerja (sekitar sebelum jam makan siang), penduduk yang ada di rumah kebanyakan usia-usia tidak produktif seperti orang tua. Anak-anak mereka sedang bekerja—entah di ladang, entah di kantor. Cucu-cucu mereka sedang bersekolah.

Nah, ini kesulitanku. Pertanyaan-pertanyaan yang kutanyakan sesuai catatan adalah pertanyaan berbahasa Indonesia yang—meski sudah disusun sedemikian rupa dengan menghilangkan bahasa ilmiah agar mudah dimengerti—tetap tidak mereka mengerti.

Persoalan utamanya adalah, saat itu, aku yang merasa bahwa bahasa Jawa yang kupahami sudah sangat cukup untuk berinteraksi dengan orang lain, ternyata TIDAK. Sebab kemampuan bahasa Jawa yang kumiliki hanya PANTAS untuk digunakan dengan orang sebaya, tidak pada orang yang lebih tua, yang menggunakan bahasa halus—sehalus wajahku *inmydream*.

Itu sebab aku tak berani berbahasa Jawa, takut dianggap tidak sopan sopian. Terlebih lagi aku bukan orang Jawa --> nanti kalau dianggap tidak menghargai budaya setempat, bagaimana?

Apa yang kulakukan kemudian adalah bertanya dengan perlahan-lahan, berharap mereka mampu membaca gerak bibirku *gagu:mode* agar cerebrum dalam otak mereka mampu memproses dan serta-merta mengartikannya dalam bahasa yang mampu mereka pahami *enggakmungkinbanget*

Dan terjadilah percakapan kocak ibarat perbincangan Barry, Lil’ Obama, saat baru masuk di SDN 1 Menteng: saling-sok-mengerti.

Akhirnya, kuputuskan untuk mencatat saja segala kata yang diucapkan para orang tua tsb. Akan kuartikan nanti bersama teman satu kelompok yang bisa berbahasa Jawa.

Nah, tibalah saat pembahasan. Kubacakan semua yang kutulis dalam wawancara berbalut tema “kehidupan masyarakat lereng Merapi” untuk kebutuhan pemetaan tanggap darurat bencana.

“Selangkang,” sebutku.
“Hah?” respon temanku.
“Ya, se..langkang?” tanyaku, dan sesaat kemudian tertawa ketika menyadari arti arti kata itu dalam bahasa Indonesia.
“SELANGKUNG!” teriak temanku setelah menelusuri konteks ‘terjadinya’ tulisan tersebut.

Selangkung” berarti 25. Bahasa Jawa halus yang kutahu tentang perangkaan hanyalah “selikur” [ini karena komunitas tempat nongkrongku di kampus bernama B-21 (dilafal "Be Selikur").

Kata "salangkung" ini kudapat saat menanyakan usia anggota keluarga yang hidup dalam rumah seorang nenek a.k.a. embah.

Selangkang” berarti...


Gambar dari sini.


Mlekom,
AZ




20160315

Posted by adriani zulivan Posted on 11:26:00 AM | No comments

Pere!



Hush! Ini bukan “cakap kotor” yang dilafalkan dengan penambahan huruf “k” di akhir kata. Ini adalah bahasa (entah dari mana asalnya) yang berarti “perempuan”. Sebutlah ia dengan pengucapan pada kedua  huruf “e” yang pepet (seperti “e” pertama untuk kata “bendera”).

Perempuan. Kata banyak orang, pere itu punya banyak keistimewaan. Mungkin lebih banyak dibanding jumlah pere di muka bumi yang konon lebih dari setengah jumlah mahluk manusia.

Perempuan. Saat sekolah dasar dulu aku diajarkan pengucapan kata “wanita” yang menurut guru Bahasa Indonesia mempunyai “strata sosial” yang lebih tinggi dibanding kata “perempuan”. Saat bersekolah di Jawa, seorang guru Sejarah yang sekaligus guru Bimbingan Konseling (BP) memperkuat argumen guru SD tsb:
“Wanita” itu sangat istimewa. Ia berasal dari kata “wani” dan “toto” atau “wani ditoto” yang berarti “mau ditata”. “Ditata” di sini bermakna “diatur, dibina”, dan lain sejenisnya. Pokoknya segala yang baik-baik sebagaimana orang timur membedakan antara kelakuan (perilaku) kaum pere yang dianggap cenderung lebih teratur dibanding lelaki—oops!

Nah, setelah kuliah dan mengenal aksi-aksi para “gender actors”, aku mengamati bahwa kata “perempuan” kemudian lebih dipilih oleh aktivis dan media. Suatu kali aku pernah membaca alasan penyebutan ini, namun aku LUPA!!! *tolongingatkankembali*

Bagiku, kata “perempuan” terdengar lebih enak di telinga. Sebab ia terdengar lebih muda. Kenapa? Entahlah. Mungkin karena kata “wanita” memang digunakan oleh orang-orang jadul dan untuk mengacu pada orang jadul. *hah!?*

Media massa lebih sering menggunakan “wanita paruh baya” dan “perempuan muda”, bukan? “Perempuan paruh baya” dan “wanita muda”??? Nggggg....

“Aktivis perempuan” bagiku, kata “perempuan” di sini lebih terdengar sebagai obyek kalimat (kata?), sehingga bermakna “aktivis yang mengangkat isu-isu mengenai perempuan”. Sedangkan “aktivis wanita” adalah “para pere yang menjadi aktivis”. Tak setuju karena kata-kata itu terdengar sama di telinga kalian? Silahkan. I’m talking about my own ears of feeling.

Selain itu, “wanita” memang benar-benar terdengar khusus diperuntukkan untuk orang jadul bagiku. Darmawanita itu untuk ibu-ibu istri birokrat, kan? Bukan untuk cewe-cewe?
Cewe-cewe. Ah, apa pulak lagi itu?

Selamat memperingati 8 Maret,Hari Perempuan Internasionalbagi pere, perempuan, wanita, cewe.

Posted by adriani zulivan Posted on 10:33:00 AM | No comments

Cuber. Cuti Bersama Nyepi 1932 Caka

Menurut kalender, Hari Raya Nyepi tahun ini jatuh tanggal 16 Maret. Lihat di sini. Nah, setelah Maulid lalu aku gak tahu kalo ada libur tiga hari, masa ni liburan ngendon di gudeg lagi?

Yang mo pegi-pegi, yuk yak. Aku udah cari tiket. As always, Ngair Ngasia nyang ngarganya mangasiswa. Liat nih:



Total 452,000 IDR.
Yuk mareee!

Share
|




  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata