Sunday, December 28, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 11:00:00 AM | No comments

Nggak Butuh Nama Saya?

Petugas (PT): Dengan Galeria, selamat siang 
AZ: Pak, saya mau laporin dompet saya yang hilang. Semalam saya ke Galeria
PT: Hilangnya di sekitar mana?
AZ: Sepertinya di bangku-bangku dekat lift, di luar Matahari (Dept Store). Sekitar jam 7, pak.
PT: Jam 7 PAGI atau malam? 
AZ: Malam, jam 7 pagi belum buka kan, pak? 
PT: Isinya apa?
AZ: Ada uang tunai, ATM, KTP, semua kartu.
PT: SIM juga?
AZ: Nggak
PT: STNK ngoten, nggih?
AZ: Nggak, saya nggak punya STNK. Warnanya, pak?
PT: Warna apa?
AZ: Putih (sebutin merk dan ciri)
PT: Baik mbak, laporannya saya catat. Sebentar, saya kabari.
AZ: Bapak nggak butuh NAMA SAYA?
PT: Dengan mbak siapa?
AZ: (tahan diri) Adriani
PT: Nomor telepon atau alamat?
AZ: (sebutin semua)
PT: (berusaha meyakinkan bahwa dia sedang mendata dengan semestinya) nomornya saya ulangi ya mbak...
AZ: ...
PT: Sebentar saya cek dulu
AZ: Nanti saya telepon atau bagaimana? (nggak yakin kalo beliaunya beneran ngecek atau tidak, sementara beliau masih di ujung telepon sana)
PT: Nggak ada ini mbak, informasi kehilangan dompet pukul 7 malam kemarin
AZ: (oh, dia lihat catatan, pantesan masih megang telp)...
PT: Kalau ada, pasti klining servis lapor, saya terima informasinya. Atau saya tanyakan ke Matahari. Nanti kalau ada, saya telp mbak. Kalau saya tidak telepon, berarti tidak ada.
AZ: Hilangnya kan setelah keluar Matahari, pak. Di dekat lift (terakhir lihat dompet waktu ngatur belanjaan ke dalam ransel yang kubawa).
PT: Kalau di luar, berarti bisa ada orang lain, bisa pengunjung...
AZ: Apa nanti saya telepon lagi?
PT: Baik, mbak.

Kesel juga urusan sama petugas yang nggak sigap begini :)

Kemudian telp bank, blokir kartu-kartu. Lima menit kemudian, dompet ketemu... di bawah tempat tidur.

Oh, ini bukan kejadian pertama. Semoga tahun depan tak alami kehilangan-kehilangan lagi. Termasuk kehilangan kamu. Ya, kamu! 

Gambar di atas bukan dompetku yang 'diduga' hilang, namun dompet dari sini.

Mlekom,
AZ


Friday, December 26, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 7:11:00 AM | No comments

Ini Cara Kami Bekerja di SMSBunda


Ini yang kami lakukan di program SMSBunda. Memperkenalkan layanan pesanpendek tentang perawatan masa hamil dan nifas, untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir di Indonesia, lewat cara seru!

Video ini kubuat (21/12) sebagai perkenalan tentang program SMSBunda, sekaligus mengapresiasi kerja keras Panitia Semarang. Inilah cara kami bekerja di SMSBunda :)

Tentang program SMSBunda, dapat dilihat dengan tagar #SMSBunda dan EMAS Indonesia di sini.

Semoga berguna!

Mlekom,
AZ


Wednesday, December 24, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:15:00 PM | No comments

Damai di Bumi, Damai di Hati, Damai di Meja Makan


Anak-anak hidup di kota berbeda, kesempatan kumpul bersama untuk sekadar makan menjadi momen langka. Ini terjadi pada banyak orangtua, termasuk Papa-Mamaku.

9 Desember lalu, Papa-Mama peringati 35 tahun kebersamaan mereka dalam pernikahan. Meski tertunda dua pekan, malam Natal ini kami bisa makan ngumpul bareng. Versi komplit The Zulivans begini sangat jarang terjadi. Alhamdulillah buat malam ini...

Malam Natal. Aku lagi nggak minat ikut kehebohan yang berulang di tiap akhir tahun, ketika para orang pintar di linimassa medsos membahas boleh-tidaknya memberi ucapan Selamat Natal. 

Kita kasih ucapan, bukan ikut merayakan Natal, kata Mamaku yang selalu mengunjungi kerabat yang Natalan, sebagai silaturahmi dan bentuk penghargaan kepada mereka yang selalu mengunjungi kami saat Lebaran.

Damai di bumi, damai di hati, damai di meja makan. Keluarga Zulivan ucapkan selamat merayakan, bagi handai taulan yang merayakan... 

Psttt: Kok pas banget dresscode merah-hitam ya, padahal nggak pakai janjian :)

Mlekom,
AZ


Tuesday, December 23, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 10:30:00 AM | No comments

U.S. Ambassador Visit on Mother's Day


It was December 22, Mother’s Day in Indonesia. While many across the country were taking a moment to appreciate and celebrate their mothers, Robert Blake, the U.S. Ambassador to Indonesia, was visiting the Health Institute of Budi Kemuliaan (LKBK) to recognize the organization’s work in promoting the health of mothers and their newborns. LKBK is one of the five partners of the Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) program, a five-year, USAID program that is working to reduce maternal and newborn mortality in six provinces in Indonesia. 



On Mother’s Day, LKBK was hard at work conducting a focus group with key stakeholders to gather feedback on maternal and newborn health issues. The focus group included members of the public, patients, community health center representatives, doctors, midwives, and nurses.  During the focus group, a key theme that participants raised was challenges with the efficiency and effectiveness of the current referral system for mothers and newborns, which often result in delays in providing appropriate care during medical emergencies. 



To address these challenges, EMAS developed a new referral exchange system called Sistem Informasi Jejaring Rujukan Maternal & Neonatal (SIJARIEMAS). SIJARIEMAS uses simple technologies, such as SMS, to improve coordination and communication between health facilities. After the focus group, LKBK, which has itself adopted SIJARIEMAS to facilitate referrals, provided a demonstration of SIJARIEMAS to Ambassador Blake and the focus group participants.  



Adriani Zulivan for EMAS Indonesia.

Captions:
  1. Dec 22, Mother's Day in Indonesia. Robert Blake, US Ambassador to Indonesia visited Health Institute of Budi Kemuliaan (LKBK). [Syane Luntungan/EMAS Indonesia]
  2. LKBK is one of the five partner of EMAS. Ambassador Blake give appreciation to LKBK for promoting MNH. [Shinta Kumala Sari/EMAS Indonesia]
  3. LKBK adopt the EMAS referral system called SIJARIEMAS. Anne Hyre, COP of EMAS is explaining to Ambassador Blake. [Syane Luntungan/EMAS Indonesia]
  4. Chees! Ambassador Blake congratulate all mothers who celebrate Mother’s Day & express deep thanks to LKBK. [Syane Luntungan/EMAS Indonesia]

Friday, December 19, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 8:47:00 AM | No comments

Not Good in Selfie


I am not (and never been) good in selfie. But sometimes I think I need to do it. Like last night, when my director said "Ough you looks gorgeous, beautiful black" when she saw my black dress.

The night was a dinner meeting with Kemkes (Health Ministry). Since there will be no one who will take my picture, so I did it myself... in the rest room :)

This is my third time (yeah, i am telling you right) doing selfie. Sequentially, the pics above is started from the one atop on the left, continuous in a clockwise direction. I stopped on the 10th, with the big one in the middle. Quite great, uh?

Wahahahaha!

Mlekom,
AZ


Saturday, November 22, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 7:20:00 PM | No comments

Jakarta, Masih Menghitung

Jakarta pernah menjadi sebuah kota yang kunanti. Kunanti kedatanganku ke sana. Terutama di tiap hari raya. Aku dan adik mudik ke Jakarta, tempat di mana kakak dan Papa kami tinggal, juga Mama yang mondar-mandir Yogya-Jakarta.

Jakarta terasa nikmat jika kamu punya keluarga. Keluarga selalu menjadi alasan bagiku buat kembali. Meski sekadar "kembali" untuk mudik seminggu. Mudik? Hummm, tidak juga. Home-base kami di Yogya, bukan Jakarta.

Meski selalu menanti masa 'mudik' ke Jakarta, aroma Yogya selalu ngangenin. Itu, aroma yang bisa kamu hirup ketika tiba di bandara atau stasiun kereta. Jangan tanya bagaimana aromanya, ini tak akan pernah tergambarkan.

Waktu kuliah, aku selalu mendoktrin diri untuk tidak-pergi-ke-Jakarta-setelah-lulus, sebagaimana kebanyakan teman kampusku. Sebagian besar teman kuliahku yang bukan orang Jakarta, semacam terobsesi untuk bekerja di Jakarta. Mimpi menjadi bagian dari kultur sebuah kota besar tentu menjadi alasan utama.

Aku tak tertarik, sampai-sampai Mama sering menyebutku sebagai orang yang tidak memiliki obsesi. Saat itu, Mama lebih senang hidup di Jakarta sebab semua serba ada. Setelah pindah ke Yogya pun, Mama masih sering ke Jakarta untuk... belanja.

Macet. Macet. Macet. Padat. Riuh. Copet. Debu. Ini selalu menjadi alasanku malas hidup di Jakarta. Tiga kata pertama menjadi alasan utama. Aku tak tahan macet. Apalagi saat itu rumah kami di pinggiran Jakarta.

Tiga bulan lalu di hari ini, aku harus meninggalkan Yogya dengan segala hal yang kupunya di sana: kamar, keluarga, masakan Mama, mesin jahit, sahabat, ambisi, dan segalanya, you name it. Meninggalkan semuanya, untuk ke kota ini. Jakarta.

Kenapa Jakarta? Kenapa harus Jakarta? Ini pertanyaanku bagi banyak kejadian di masa lalu. Dulu aku tidak dapat menerima jawaban atas pertanyaan itu, yang diutarakan orang lain. Sekarang, aku berusaha menjawabnya sendiri, dengan bentuk penerimaan sedikit demi sedikit: Aku melakukan hal yang kusuka!

Ya, aku melakukan hal yang kusuka. Bagaimana mungkin aku dapat menyukai Jakarta? Jakarta harus disiasati, pikirku. Paling tidak, meredam hal-hal yang tidak kusuka dari kota ini.

Macet!
Aku tinggal tak jauh dari kantor. Berada di jalan yang sama jika aku berjalan berjalan kaki lima menit. Naik Trans Jakarta kurang dari 10 menit, tak akan alami kemacetan sebab melewati busway.

Macet!
Tempat tinggalku semacam 'melawan arus' kepadatan. Di jam sibuk kota Jakarta, posisi tempat tinggalku dan kantor adalah: menuju arah luar pusat kota di pagi hari, dan menuju tengah kota di sore hari. Arus kepadatan jakarta tentu para pekerja yang ngantor ke arah pusat kota, dan sebaliknya di jam pulang kantor.

Macet!
Kecuali bajaj yang kena larangan Dishub, semua moda transportasi dapat kugunakan me dan dari kantor. Pulang sebelum pukul 4.30 hanya membayar taksi Rp 11.000an diantar sampai depan pagar. Meski ketakutan di atas boncengan, ojek selalu menjadi pilihanku di sebulan pertama tinggal di sini. Kini TiJe menjadi pilihan, menabung dari selisih PP Rp 40.000 dengan ojek :)

Tiga bulan sudah, sejak Mama mengantarku ke sini. Masih ada tiga bulan lain untuk merasakan kemacetan Jakarta. Kemacetan yang nyaris tak pernah kurasakan, sebenarnya :)

Tiga bulan lagi. Jakarta, aku masih menghitung hari...

Gambar itu adalah tweet sebelum berangkat ke Jakarta. Miss that smile, always. Yeah, 'that' smile (you know what I mean). Tunggu aku di sana, ya! :)

Mlekom,
AZ

Tuesday, October 28, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 4:39:00 PM | No comments

Karena Kalian adalah Cinta...

Personil Tukang Makan: Jakarta, Yogya, Solo, Rembang, Gresik.
Tukang Makan adalah hubungan pertemanan yang sudah masuk fase kekeluargaan. Hubungan yang berjalan mudah. Dimulai dari sebuah kelompok kerja, menjadi kedekatan personal. Meski mudah, sulit bagiku untuk menjawab "Hubungan kalian seperti apa, sih?" Jadi tak perlu bertanya, okay!

Jagongan Media Rakyat (JMR) 2014 bisa jadi adalah berkah bagi kami. Selain kami hidup di enam (plus Ternate!) kota berbeda, yang hidup di kota yang sama pun jarang bersua. Sekali lagi, mungkin JMR adalah berkah. Tanpa saling janjian, JMR mampu menyatukan kami... *eaaa*
Hari pertama.
September tahun lalu kami sempat berencana untuk buat reuni setahun persahabatan kami, di sebuah pulau yang dihuni banyak rusa, di Gresik, Jawa Timur. Apa daya, rencana tinggal rencana akibat ke(sok)sibukan masing-masing personil.
Hari ketiga.
Hari pertama di Yogya, aku hanya ketemu Pancen, sebab dia panitia JMR (acara ini adalah alasanku datang ke Yogya) dan Mas Pop. Hari kedua bertemu Cakpii, Bulek, Palek, Dekprij. Hari ketiga ketemu keenamnya, kecuali Dekprij. Hari keempat dan hari kelima kedatangan Tante dari Solo. Kumplit!
Hari kelima.
Senang sekali bisa bertemu kalian. Kenapa? Ya karena kalian adalah cinta... <3

Kecuali Hari kedua (milikku), seluruh foto milik Tante Rully.

Mlekom,
AZ


Thursday, October 2, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 12:27:00 PM | No comments

Pak Agus, Sang Pemenang


Pak Agus, Sang Pemenang
Staff Appreciation Week

"You're awesome, excellent work, keep up the good work" adalah sebagian dari 30 komentar positif yang ditujukan untuk Agus Nadi, Office Helper/Messenger EMAS Jakarta.

Banyaknya jumlah komentar tersebut membuat Pak Agus terpilih sebagai pemenang "Staff Appreciation Week" yang dilaksanakan 11-15 Agustus lalu.

Selamat, Pak Agus! Semoga semakin semangat berprestasi.

[AZ]




Posted by adrianizulivan Posted on 12:17:00 PM | No comments

Satu untuk Semua, Semua untuk Satu


Satu untuk Semua, Semua untuk Satu
Kunjungan Manjusshree Badlani ke Indonesia

Itu adalah semangat Jhpiego, seperti diungkapkan Manjushree Badlani, Chief HR & Administrative Officer dari kantor pusat Jhpiego Baltimore, Amerika Serikat. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Manju—panggilan akrab perempuan yang hobi mengenakan syal ini—lakukan serangkaian aktivitas terkait pengembangan SDM. Salah satunya dengan mengadakan Compliance Training bagi seluruh staf.

Compliance Training yang berupa pelatihan kekaryawanan ini diselenggarakan di kantor Bandung dan Jakarta pada 10 dan 12 September 2014 lalu. Materi yang diberikan berupa etika dasar yang perlu diperhatikan  oleh setiap staf; seperti perilaku di tempat kerja, kerahasiaan informasi lembaga, konflik kepentingan, serta kecurangan yang mungkin terjadi dalam hubungan kerja.

Kunjungan sepekan ini dihabiskan dengan mendiskusikan segala hal terkait sumber daya manusia, seperti standard operating procedures (SOP), manajemen karyawan, dan seterusnya. Manju juga membuat Compliance Training, semacam pelatihan kekaryawanan bagi staf di kantor Bandung dan Jakarta. Ditemani Lenny Trisnandari (L), HR Manager Jhpiego Indonesia; Cindy Rahmaputri dan Adriani Zulivan (T) mendapat kesempatan berbincang dengan Manju (M) pada Kamis (11/09) lalu.

T: Apa tujuan dari kunjungan Anda ke Indonesia?
M: HRD memiliki SOP yang harus dilaksanakan oleh kantor Jhpiego di seluruh negara. Tiap dua tahun, tim HR Jhpiego Global berkunjung ke tiap negara. Kunjungan ini untuk mereview setiap prosedur dan proses. Di Indonesia, saya memberi dukungan yang dibutuhkan tim SDM di sini. Kami juga baru menyelesaikan pembuatan materi untuk Compliance Training bagi seluruh staf di seluruh negara. Jadi, ketika saya tiba untuk pertama kali di suatu negara, maka saya akan melakukan pelatihan tersebut.

T: Apa tujuan dari pelatihan itu?
M: Pada dasarnya untuk mengingatkan semua staf, tentang apa yang diharapkan dari mereka sebagai staf Jhpiego. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, baik ketika mereka bersama-sama teman dalam lingkungan kerja, maupun perilaku saat bekerja di luar dalam posisinya sebagai staf Jhpiego. Artinya, seseorang harus paham bagaimana harus bersikap sebagai staf Jhpiego, baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja. Saya selalu menghimbau semua staf, bahwa Anda ada di sini untuk bekerja keras and bersenang-senang. Silahkan menghabiskan waktu di luar jam kerja, dengan menghibur diri di luar kantor. Namun, dengan tetap mengingat bahwa Anda mewakili Jhpiego.

T: Apa tugas utama Anda sebagai kepala HR?
M: Memastikan semua hal tentang staf berjalan dengan baik. Memastikan bahwa semua orang senang dan puas dengan pekerjaannya. Inilah kesempatan bagi saya untuk berbincang dengan banyak staf.

T: Apa yang Anda dapatkan selama pelatihan di Bandung?
M: Pertama kali saya datang ke Indonesia adalah saat program EMAS baru diluncurkan. Saat itu belum ada kantor daerah, semua staf berkantor di Jakarta. Sekarang, saya dapat berbincang dengan staf di daerah. Biasanya kami hanya melakukan review di kantor pusat, lalu langsung kembali ke Baltimore. Jadi, sangat menyenangkan melihat dan bertemu staf di daerah. Kemarin, saya juga bertemu Dr Joko Sutikno—Provincial Team Leader Jawa Barat—yang telah saya kenal lama. Sangat menyenangkan dapat bertemu lagi dengannya. 

T: Apa saja agenda Anda di Indonesia?
M: Selain Complience Training di Bandung dan Jakarta, saya juga membuat janji dengan sejumlah staf yang ingin ngobrol langsung, secara personal ataupun grup grup. Namun, ketika saya pergi, bukan berarti Anda tak dapat ngobrol dengan saya. Ada Skype dan email yang dapat kita manfaatkan.

T: Apa pendapat Anda tentang HRD di Indonesia?
M: Indonesia telah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Dengan keterbatasan jumlah staf HRD, Indonesia mampu berdiri sejajar dengan HRD negara lain yang memiliki staf yang tangguh.

T: Apakah Indonesia adalah negara yang memiliki staf terbesar?
M: Tidak, ada negara yang memiliki lebih dari 200 staf, yaitu Kenya, India dan Mozambik.

T: Dengan adanya jarak antar kantor di tiap provinsi, apakah tantangan untuk kerja-kerja HRD Indonesia menjadi lebih sulit?
M: Dengan kantor perwakilan di sembilan provinsi, Indonesia menjadi negara dengan jumlah kantor terbanyak. Ini adalah tantangan pertama. Tantangan kedua adalah ada  staf yang sudah sangat lama bekerja di Jhpiego, ada pula yang  baru. Ketika kita ingin melakukan sesuatu dengan cara ini, sementara lainnya ingin melakukan dengan caranya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, kita dapat belajar satu sama lain.

T: Bu Lenny, apa pendapat Anda dengan keunjungan Manju di Indonesia?
L: Ini merupakan waktu yang baik. Beliau dapat membantu meningkatkan kemampuan saya dan tim SDM, terutama dalam hal prosedur di Jhpiego. Sebab saat ini kita berada dalam Tahapan Ketiga dan akan segera melangkah ke fase lanjutan, ada banyak hal yang perlu ditingkatkan. Tantangan terbesar adalah hubungan  antar staf, yaitu bagaimana membangun kinerja tim. Kita ingin semua berjalan baik sampai program EMAS berakhir. Kami mendiskusikan banyak hal, terutama terkait manajemen staf.

T: Bu Manju, apa harapan Anda terhadap kami di Indonesia?
M: Anda harus menjadi bagian dari staf Jhpiego di seluruh Indonesia. Ini adalah organisasi dunia. Jangan berpikir bahwa Anda adalah seorang Jhpiego Indonesia saja, sebab kita semua adalah bagian dari organisasi global. Ada kesempatan bagi semua orang di seluruh negara. Satu hal yang perlu diingat, kita adalah keluarga. Keluarga adalah saling mengurusi diri sendiri dan kepentingan orang lain. Kita dapat membantu orang lain, tanpa harus berpikir bahwa itu bukan pekerjaan kita. Semangat Jhpiego adalah; satu untuk semua, semua untuk satu. Itulah budaya kerja kita, tanpa terlibat terlalu dalam secara personal.

[AZ]

Tuesday, September 30, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 3:12:00 PM | No comments

Mamak-mamak Batak


Cem mamak-mamak Batak, kutengok. Bulat kali pun! *ya memang setengah darahku Batak kan ya*

Foto diambil siang ini oleh @cindynara :)

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata