Friday, August 31, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:37:00 PM | No comments

Mie Ayam Ceker Parang Baris




Kaki lima seberang Kantor Pajak, Parangbaris, Surakarta. Gak minta ceker, dikasih ceker (sudah paketan ternyata). Geli-geli gimana gituuu...

Mlekom,
AZ

20140514
Posted by adriani zulivan Posted on 9:58:00 PM | No comments

Bersolek di Masjid


Lokasi: Masjid Gedhe Surakarta

Di antara tempat berwudhu dan ruang shalat, ada ruang berhias di salah satu sudut masjid kuno ini.

Mlekom,
AZ

20140514
Posted by adriani zulivan Posted on 8:00:00 PM |

Pelecehan di Kantor Walikota Jogja

Pukul 08.30 tadi saya ke Kantor Walikota Jogja di Jalan Kenari. Saya datang untuk mengurus Kartu Kuning (AK1) di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Jogja. 

Ini adalah Hari Sego Segawe, program Pemkot Jogja untuk budayakan bersepeda. Tiap Jumat Kompleks Kantor Pemkot bebas kendaraan. Kendaraan parkir di badan-badan jalan di luar pagar kompleks dan di kantong-kantong parkir yang disediakan di sekitar.

Saya memarkir mobil di utara Balai Kota, sedikit ke barat Jalan Kenari. Lalu jalan kaki, masuk melalui pintu gerbang yang ada di samping masjid. Begitu melewati pagar, sejumlah pasang mata menatap dengan tatapan yang tidak saya suka. Ingin melewati, tapi saya memerlukan mereka. Bertanya.

Saya menanyakan posisi Kantor Disnakertrans kepada sekitar 5-6 orang laki-laki di sana. Saya tak ingat pasti jumlah mereka; malas mengarahkan pandangan sebab saya tak nyaman dengan tatapan mereka. Mereka bergerombol di Pos Penjaga Keamanan. Sedang minum kopi (atau teh?) dan merokok. Kebanyakan dari mereka mengenakan seragam berwarna coklat tua sedikit abu-abu.
.
Gambar dari sini.
"Maaf, numpang nanya. Bikin Kartu Kuning di ruang mana, Pak?" kata saya akhirnya setelah memutuskan bapak mana yang "aman" untuk bertanya di antara banyak tatapan tidak menyenangkan itu.

Beliau dan beberapa yang lain menjawab. Salah seorang nyeletuk "Kalau sama embaknya, saya anterin juga nggak apa-apa," katanya sambil cengengesan dan disambut riuh tawa dari beberapa lainnya. Tak saya tanggapi. 

Saya pun berjalan lurus ke arah selatan. Kantornya terdapat di pojok. Baru beberapa langkah, dari arah berlawanan lewat seorang berbadan kekar dengan seragam sama. Dengan tatapan yang sama dengan orang-orang di Pos Jaga, ketika posisinya di dekat saya, lelaki setengah baya ini nyeletuk:

"Mbaknya jalan kaya pragawati!" sambil cengengesan dan meneruskan jalannya. Saya, lagi-lagi, malas menanggapi. Sempat saya pelototi matanya sampai dia berbelok.

Disnakertrans
"Mbak, yang seragam coklat tua apa abu-abu itu Satpam sini?" tanya saya pada petugas di ruangan ini.
"Satpol PP Mbak," jawabnya.
"Kantornya di dekat gerbang utara?"
"Iya, Mbak. Itu yang ada mobil patrolinya."

Saya perlu keluar untuk fotokopi. Malas rasanya melewati Pos Jaga itu lagi. Saya tanyakan apakah di dalam kompleks itu terdapat jasa fotokopi. Ada, di bagian tengah komplek, arah timur. Pfuiih... lega rasanya sebab tak harus bersua "pasukan berseragam" itu hingga tiga kali!

Di depan warung fotokopi saya lihat mobil patroli. "Jadi itu kantornya," batin saya. Saya berhenti, berpikir. Antara ingin mampir untuk melaporkan kelakuan tak senonoh tadi; atau langsung kembali ke Disnakertrans untuk segera menyelesaikan urusan dokumen.

Pilihan kedua menang. Saya harus segera ke Barat Jogja agar segera tiba di Stasiun Lempuyangan untuk mengejar KA Prameks pukul 09.30.Saat menimbang-nimbang itu, dua orang "pasukan berseragam" lewat, menghampiri.

"Mau kemana, Mbak?" tanya salah satu dari mereka.
"Habis fotokopi, Pak."
"Mencari kantor apa?"
"Tidak trims, Pak. Saya sudah ke Disnakertrans sana," jawab saya menunjuk selatan.
"Baik, mari..." jawabnya. Sangat sopan!

Urusan AK1 selesai. Saya, dengan terpaksa, melewati gerbang yang sama dengan yang saya lewati saat memasuki kompleks ini. Atau pilihan lain adalah berjalan melalui pintu timur, lalu berbelok ke kiri (barat) untuk ke parkiran. Ini pilihan tak cerdas.

Beberapa langkah sebelum Pos Jaga gerbang utara, saya dengar suitan dari dalam sebuah kantor. Saya ikuti arah suara. Itu ternyata Kantor Satpol PP. Begitu yang tertulis di plang nama di depan ruangannya. Jadi, yang tadi ada mobil patroli hanya pinjam halaman untuk memarkir.

Saya tatap garang mata mereka yang di dalam kantor itu. Tiga orang berseragam. Mulut mengepul asap, tatapan menyebalkan, mulut komat-kamit mengucap kata-kata yang untungnya tak dapat saya dengar--sebab jarak yang cukup jauh.

Saya pelankan langkah, terus menatap hingga mereka kikuk lalu berpura-pura sibuk dengan buku di depannya. Ingin rasanya mampir, menanyakan apa maksud mereka, lalu mencatat nama dan mengambil foto mereka. Saya berjalan pelan sambil terus menatap tajam, sampai leher saya harus berputar sekian derajat untuk dapat terus melihat mereka yang sudah tertinggal di belakang saya.

Lagi-lagi, ego saya dikalahkan waktu yang sangat terbatas. Saya terus berjalan. Kali ini menatap ke gerbang, menghindar Pos Jaga yang mulai sepi. Beruntung, tak ada riuh saat saya lewat. Tak ingin pula saya mengucap terimakasih pada petugas baik yang tadi menjelaskan letak kantor Disnakertrans. Selain malas, saya tak ingat lagi siapa orang baik tadi. Lagipula, pikiran saya jauh: Segera ke Barat Jogja.

Adukan!
Saat mengantri di Disnakertrans tadi, saya sempat kirim Twitter:
"Kantor Walkot Jogja. Bajingan. Nanya t4 ke Satpam: khusus mba, sy anterin gpp. Lg jalan sendiri, ada yg lewat, bilang: mbanya jln kaya model"
Berbagai tanggapan masuk. Sila baca di sini. Seorang teman langsung menelepon, minta izin untuk menghubungi orang Pemkot untuk menanyakan kepada siapa harus melaporkan kasus ini. Saya izinkan. Jawabannya:
"Bikin surat aduan kepada Walikota dengan tembusan ke Bagian Humas dan PPNS (Dintib)"
Akan segera saya buat. Pekan depan, setelah kembali dari luar kota!

Wajar?
Tanggapan di Twitter beragam. Ada yang mengganggap itu wajar, ada pula yang merasakan hal sama dengan saya: bahwa itu adalah perbuatan tak senonoh. Menurut saya, itu pelecehan. Ada pula teman yang melihat dari sisi pakaian.
RT @gabri_ns: @adrianizulivan @tovicraharja kalo emang suka pamer badan sih wajar kalem kalo digituin, cenderung suka malah. tapi mbak adri ini kan bkn cewek kayak gitu b^-^ pakaiannya selalu sopan, jadi wajar kalo digituin marah..
Saya tak sepenuhnya setuju dengan pernyataan ini. Apakah kemudian, perempuan yang pakai rok mini boleh dilecehkan? Saya juga tak yakin ada perempuan yang suka "digituin" (meminjam istilah @gabri_ns). Tak ada pelecehan yang wajar bagi orang berpakaian apapun.

Ah beruntung saya, kemarin mengenakan pakaian yang baik. Kemeja sepanjang pangkal paha + celana lebar bahan lembut + jas longgar sepanjang panggul. Akan bagaimana lagi tatapan mereka jika saya berpakaian buruk?
.
Padanan pakaian ini yang saya kenakan ke Balkot.
Semoga ini menjadi pelajaran buat saya dan siapapun. Hai "pasukan berseragam", jika lain kali kita sempat bertemu dan kalian melakukan pelecehan lagi, saya tak akan segan-segan memperkarakan dan mempermalukan kalian di depan anak perempuan, istri dan ibu kalian. Semoga kesempatan ini tak pernah datang lagi, ya!

Salam hormat,
Adriani Zulivan,
Warga Jogja


Saturday, August 25, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:14:00 PM | No comments

Segede Gaban!


Lokasi: Pura Mangkunegaran

Wall devider di depan pintu toilet umum. Gede banget. Segede Gaban! Lebay!

Mlekom,
AZ

20140514

Friday, August 24, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 9:22:00 PM | No comments

Serasi dan Gaya Berkain

Serasi dan Gaya Berkain Bersama Carmanita, Elvara, Enny Soekamto, dan Ghea PanggabeanSerasi dan Gaya Berkain Bersama Carmanita, Elvara, Enny Soekamto, dan Ghea Panggabean by Amy Wirabudi, Tini Sardadi
My rating: 5 of 5 stars

Berbagai tips di buku ini menjawab berbagai pertanyaan saya selama ini, tentang bagaimana mengenakan, mamadu-padankan, dan merawat kain. Yang paling penting adalah tips menjadikan kain menjadi busana, tanpa perlu dipotong!

Buku ini membuat saya makin suka mengkoleksi kain nusantara.

View all my reviews

Thursday, August 23, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 10:51:00 PM |

UNDANGAN: Nyolo!


Halo, udah makan ketupat? Udah makan nastar? Alhamdulillah, mohon maaf lahir dan batin, ya...

Nggg, nganu.... ngini, lagi-lagi dadakan! Ini lho, jelajah lagi. Jadi, ide yang awalnya mau ke:
  1. Rembang-Lasem batal karena takut macet karena arus balik Lebaran. Direncanakan lagi tanggal 1 September. Semoga pada bisa ikut, yah!
  2. Candi Sukuh-Solo batal karena tidak mendapat respon (holaaa, masih pada sibuk ngetwit minal aidin, yes?), jadi kesian villanya @sigit_cungkring kalo diambangin.
Nah, akhirnya, hari ini kami menggodok perjalanan di kota terdekat dari Jogja: Solo. Ya, mari kita Nyolo! Ini itinerary-nya:

Jumat, 24 Agustus 2012
  • 07.00 Prameks Jogja-Solo (Stasiun Lempuyangan-Purwosari)
  • 09.00 Museum Danarhadi
  • 10.30 Museum Radya Pustaka
  • 12.00 Masjid Agung, istirahat
  • 13.00 Gudeg Ceker Mergoyudan
  • 14.00 Toko Buku Bekas Busri & Gladag
  • 15.00 Kampung Batik Kauman
  • ...
  • 19.30 Galabo, Solo City Walk 
  • ... Hotel
Sabtu, 25 Agustus 2012
  • 08.00 Sarapan di Pasar Gedhe
  • 09.00 Kraton, Museum Suaka Budaya
  • 10.00 Pasar Antik Windujenar
  • 11.00 Pura Mangkunegaran, Museum Mangkunegaran
  • 12.00 Timlo Sastro
  • 13.00 Kampung Batik Laweyan
  • 17.00 Nasi Liwet Keprabon
  • 19.00 Prameks Solo-Jogja (Purwosari)
Padet banget? Sebab ini jelajah hore-hore, kalau kecapean kita bisa potong yang dianggap tak menarik.

Yang masih sempat batalin janji (hehe), sila gabung langsung, ya! Mau konfirm dulu juga boleh, ke 081578658586. Yang gak bisa nginap, monggo. Yang cuma bisa hari kedua, mangga.

Sampai ketemu di Solo, ya!

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 22, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 1:21:00 PM |

Mudik Asyik, Jelajahi Pusaka Negeri

Gambar dari sini.
Tiap mudik punya cerita. Tradisi keluarga, ritual kampung, kunjungan ke situs sejarah, hingga wisata budaya merupakan kisah yang menarik untuk dibagi. Keindahan dan pesona pusaka alam juga layak diceritakan. Banyak kisah, banyak cerita dari jelajah selama mudik. 

Ayo, bagikan informasi pusaka budaya dan alam yang kamu jelajahi itu ke Indonesian Heritage Inventory (IHI)!

Bagaimana caranya?
Pilih cara yang kamu suka, yaitu dengan:


Informasi apa yang dilaporkan?

  • 5 W + 1 H (what, when, where, who, why + how)
  • Kondisi situs pusaka yang dilaporkan: dalam keadaan baik, terawat, terjaga keasliannya (preserved) atau terancam, rusak, kotor (endangered)
  • Foto (sebaiknya ada)
  • URL artikel/berita terkait (jika perlu)

CONTOH:
 

Via Twitter:
@RembangHeritage: #pusaka (20/08) Bangunan kuno di daerah #pecinan #Rembang digunakan sbg rumah makan http://t.co/PToZjMKL

Via SMS:
ID Penjual lemang di Pajak Pagi diserbu pembeli (20/08). Lemang adalah makanan khas Hari Raya di Medan.

Via web:
Lihat contoh di sini: http://indonesianheritage.web.id/reports/view/150

Apa keuntungan bagi pelapor?

  • Informasi dan biodata kamu termuat di website http://indonesianheritage.web.id/ sebagai kontributor.
  • Informasi pusaka dari kamu akan disebar di @heritage_ID dan berbagai akun socmed IHI lainnya.
  • Kamu berkesempatan diundang bergabung dalam kegiatan jelajah pusaka IHI di berbagai wilayah di Indonesia.
Apa itu Heritage?
Dalam bahasa Indonesia, kata heritage (Inggris), diartikan dengan pusaka. Ada pula yang memaknainya dengan warisan budaya.
Jadi, pusaka di sini bukan mengacu pada benda-benda bertuah seperti batu akik, keris, atau senjata keramat dan benda bertuah lainnya :)

Apa saja Pusaka Indonesia itu?
Sesuai Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia 2003, yang disebut pusaka adalah:

  • pusaka alam (natural heritage): bentukan alam yang istimewa. Misal: gunung, laut, gua, air terjun, hutan, dst. 
  • pusaka budaya (cultural heritage): hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa, terdiri atas pusaka berwujud benda (tangible heritage) dan pusaka tak berwujud benda (intangible heritage). Misal: musik, tari, kulinari. 
  • pusaka saujana (cultural landscape heritage): gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu. Misal: kawasan pusaka Borobudur, kawasan hutan dan desa adat di sekitarnya, dsb.

Pusaka Indonesia adalah seluruh kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dari lebih 500 suku bangsa di Tanah Air Indonesia, secara sendiri-sendiri, sebagai kesatuan bangsa Indonesia, dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Apakah Indonesian Heritage Inventory (IHI) itu?
IHI merupakan sebuah upaya mendokumentasikan pusaka Indonesia di seluruh pelosok tanah air. Ini merupakan sistem terbuka yang dapat diakses oleh semua orang untuk kebutuhan apapun.

IHI diharap mampu mengawasi kondisi pusaka Indonesia dari masa ke masa. Siapapun memiliki hak sama untuk melaporkan kondisi sebuah situs pusaka yang dilihatnya: apakah dalam keadaan terlindungi (preserved) ataupun mengkhawatirkan (endangered).

Sistem IHI dibangun secara mandiri dengan bantuan relawan dari berbagai wilayah di Indonesia. Mari bergabung bersama kami di http://indonesianheritage.web.id/


Informasi untuk bergabung?
@heritage_ID
@adrianizulivan
@joeyakarta


*
Co-pas dari IHI.

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 21, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 1:29:00 PM | No comments

Kambing Tumis Kecap


Saturday, August 18, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 12:22:00 PM |

Menjajal Endek Bali


Ini endek yang kubeli di Bali minggu lalu. Sangat cantik, menurutku. Eh cocok dengan baju kebaya baru yang belum pernah kukenakan ini.

Btw, setelah dilihat-lihat, bahan lace kebayaku ini sangat mirip dengan baju cantik itu, ya? :)

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 8, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 11:30:00 PM |

TMT Denpasar - Hari 7

Semalaman tidak bisa tidur. Kuputuskan untuk packing sebab akan nebeng taxy Elan yang akan mengantarnya ke bandara, pukul 05.00. Agendaku sih mau belanja, jadi perlu menitip koperku di bagasi Elan agar santai melenggang.

Habis sahur gak tidur lagi, langsung mandi, pamitan sama seisi Amman Shintya yang bangun, berangkat.
"Bajunya gitu aja?" kata Kak Shindy
"Ho-oh," kataku mantap.
"Hahaha, dasar orang Jogja"

Aku pakai kaos gombor dan trening celana aladdin plus sandal jepit kuning. Baju yang bagusan kusimpan di dalam ransel, niat ganti baju kalau mau berangkat ke Jogja nanti.

Pak Pir yang dipesan sejak semalam sudah menunggu di depan. Kelamaan nunggu, beliau tertidur di dalam taksi. Sebenarnya kami keluar tepat pukul 6, taksi dipesan pukul 6. Ya, taksi yang on-time, ya!

Btw, saat masuk, taksinya bau banget. Aku menutup hidung dan sulit bernapas. Aromanya pengap, seperti masuk ke kos-kosan cowo dengan jendela yang belum dibuka di pagi hari. Weeeek. Mau muntah! Kubuka kaca hingga setengah. Huiii, itu angin menusuk banget, mana aku enggak pake jaket. Pikirku, hari ini aku akan masuk angin, sakit kepala. Semoga kuat jalan... :(

Ngurah Rai
Masih gelap. Karena tidak macet, kami tiba hanya setengah jam.Aku ikut masuk ke ruang check-in, sebab punya tiket. Ternyata, barang Elan kelebihan 20kg. Bea kelebihan berat satu koperku itu sudah dihitung, Rp 150.000. Elan masukin dulu barangnya, lalu coba keluar, cari locker. Kata Mas-mas Garuda-nya, barangnya masih bisa disusulkan kalo masih mau ditambahkan. Alhamdulillah, dapat locker Rp 25.000 per hari.

Elan berangkat jam 6.30. Kami sempat sohalat subuh bareng. Aku terpaksa menunggu sampai pasar buka, jam 9. Akupun tidur nyaman di Mushalla yang sangat sederhana itu (di sini Mushalla tidak diperhatikan, sepertinya). Nyaman dengan karpet sebagai alat tidur dan colokan listrik sebagai sumber kehidupan: HP :))

Ah ah, sepertinya tak cuma Mushalla yang tidak diperhatikan. Semua layanan "rest area" di Terminal Domestik ini sangat jelek. Toiletnya kotor, bau dan rusak. Tisue berserakan, keramik lantai sompel-sompel, ada ember buluk di bawah kran. Huhuhu...

`
8.30 aku keluar. Bosan banget tiduran di sana. Langit sudah terang. Aku jalan ke luar, cari taksi eh malah ditawarin taksi 'bodong' yang minta Rp 150.000 ke Badung. "Yaelah Pak, tadi dari Ketewel aja saya Rp 100.00," kataku. Dia turunin jadi Rp 100.000 aku tetap tak mau. Lalu berjalan lagi masuk ke dalam, mau cari taksi resmi bandara. Tiba-tiba ada yang dekatin, berbisik "Mbak, naik ojek aja?"

"Berapa, pak?"
"50 ribu"
"Ah mahal pak, enggak deh saya naik taksi aja"
"40 ribu, mbak"
"Ya, oke" kataku (hehe... tawar-menawar macam apa, ini!)

Si Bapak ambil motornya. Kami berangkat. Tukang 'taksi bodong' tadi nyeloteh: "Ojek aja 50 ribu kok!"

"Mari, pak!" sapaku ramah ke si taksi bodong sambil ngeloyor. Wek!

Aku dikasih helm ala moge yang dari kulit dan ada kacamatanya itu. Rambutku oh rambutku. Tak ada jepitan, jadi terkibar-kibar di udara lembab pagi itu. Bali memang lagi musim duingin! Setengah jam ke Denpasar. Kami ngobrol banyak. Aku tanya-tanya tentang endek dan dimana membelinya. 

Si Bapak, Komang namanya, menawari jasa sewa motor. Rp 50.000 per hari. Motor matik Vio (ato Vario?). Jika minat, tinggal hubungi beliau di 085338410360.

Keliling!
Pasar masih tutup. Hanya ada aktivitas di bagian sembako dst. Huff.  Aku menunggu di gazebo depan gerbang pasar. Sambil nyisir-nyisir rambut yang acakadul.

Kutelepon Uci, ajak ikutan ke sini. Ternyata Uci tidak ikut audiensi dengan Walikota Denpasar. Ah ya, dua anak bandel. Toss! :)

Pukul 09.00. Dari jauh terlihat satu-dua kios pernak-pernik di Lantai II mulai buka. Aku masuk melalui lantai basement. Pengen lihat aktivitas pasar. Menarik, selalu! Kukeluarkan HP, ambil gambar dari tangga.
.
Aktivitas pedagang daging dan ikan.

Di lantai atas, kios endek belum pada buka. Hufff. Aku berhenti sebentar, motret kondisi sekitar dari atas. Ah, tampak Jalan Sulawesi sudah beraktifitas. Aku turun lewat tangga belakang, menyusuri deretan toko kain.
.
Di seberang sana Jalan Sulawesi
Pertama susuri bagian kiri (ini gak tau arah mata anginnya), dapat dua potong bahan brokat yang lagi obral. Kupilih biru dan cream, untuk pasangan endek.
.

`
Kemudian aku memutar lagi, berlawanan arah, menyusur deretan toko di bagian lainnya. Tak ada yang kubeli. Aku lurus ke arah Jalan Gajadmada. Di depan salah satu toko ada orang kurangajar yang menggoda dengan ucapan.

Aku berbelok ke kanan, meyusuri jalan. Lihat toko Kopi Bali masih tutup. Terus berjalan, sambil terus pasang mata di toko-toko kain. Lalu berbelok kanan lagi, menyusuri Jalan Sumatra. Ada banyak toko oleh-oleh di sini.

Lalu berbelok kanan lagi entah ke jalan apa. Berderet pengepul buah-buahan, terutama jeruk. Banyak orang kurangajar di sana, para buruh pengemas buah. Sial! Sudah seperti masuk terminal Senen.
.
.
Kemudian berbelok kanan lagi. Hohoho ini Jalan Sulawesi lagi! :)) Dan aku berjalan melewati toko kain tempat orang kurangajar pertama. Dia sudah tak ada. Ada tas lucu di tokonya, pengen beli tapi malas ada si kurangajar.

Aku berbelok ke kiri, naik lagi ke Lantai II Pasar Badung. Aku beli endek tipis buat papa, adek dan titipan Elan. Bisa dibikin sarung. Lalu cari tiga endek cantik untuk Mama, kakak dan Mamanya Elan.

Kutelepon lagi Uci. Dia masih sibuk dengan urusannya di Amman Shintya. Kususuri bagian kiri Jalan Gadjahmada, sampai ke ujung. Soalnya tadi dapat informasi tentang Toko Satria yang menjual alat-alat jahit. Tokonya belum buka, meski pegawainya sudah beraktifitas.

Lalu kembali lagi, menuju Pasar Kumbasari. Istirahat nyaris sejam di bangku panjang dekat parkiran depan, sambil nyolok HP. Lalu masuk, mencari barang untuk beberapa orang. Cukup lama, sampai harus membeli tas batik gede agar aku tak menenteng banyak kresek.
.
Dengan tas batik & ransel, tentenganku tiga potong.

Sambil menunggu Uci, kususuri banyak toko. Ada yang jual baju kombinasi tenun endek. Cantik, tapi tak ada ukuranku. Aku masuk ke sebuah kios yang jual mukena khas Bali. Lihat bahannya yang dari santung, jadi malas beli dengan harga yang hampir seratus ribu. "Mending beli kainnya, minta tolong Mama jahitkan," batinku.

Kulihat pakaian di toko itu. Lucu-lucu, seperti yang banyak dijual di obyek wisata. Dapat banyak, tak lebih dari RP 300.000 :)

Kuputuskan menunggu Uci di toko yang sudah kuubek-ubek selama setengah jam ini. Ngobrol banyak tentang mukena Bali yang ternyata sedang in di olshop seluruh Indonesia. Wow!

Kios ini sangat ramai didatangi para reseller datang. Rata-rata mereka berdagang on-line. Ada pula pedagang baju kredit yang pusing karena tidak mendapat dagangan. Baju yang dijual adalah jenis pakaian yang didatangkan dari Jakarta.

"Sudah diborong karena mau lebaran ini, mbak. Saya kemaren-kemaren duitnya belom ada..."

Wow! Bali pun berlebaran, yah!

Uci datang. Dia diturunkan di jalan. Mobil sewaan kami dipakai untuk mengantar-antar ke bandara. Uci naik taksi ke sini, hiks. Lalu ikut belanja baju-baju Bali.

Kuantar Uci melihat handycraft, lalu endek. Pak supir yang dari bandara sudah datang. Kami mampir ke toko oleh-oleh untuk membeli Pai Susu untuk oleh-oleh Uci. Aku tak ikut membeli, orang rumah tak suka.
.
.
Kutanya tempat jual kopi. "Cari aja di warung-warung biasa, pasti ada kopi Bali," kata Mas Gede, penjaga Amman Shintya. Kutanya Pak Pir, dimana swalayan besar. Swalayan lokal. Kalau di Jogja seperti Pamella gitu. Beliau ajak kami ke Tiara Dewata.
.
.
Ini pilihan cerdas. Mau cari oleh-oleh Bali apa aja ada: kacang Rahayu, pie susu, brem, kopi (beragam jenis dan merk), dst. Hehehe, malah gak ribet. Harga pun lebih murah dibanding toko oleh-oleh.
.
Bali's liquor. Complete one!
Aku juga sekalian beli popmi untuk buka. Lalu sekotak Dankin Donok yang kuambil sepotong, lalu kutitipkan pada Uci untuk orang-orang yang masih tinggal di Amman Shintya

Lalu jalan ke bandara. Sempat melihat studio foto yang menyediakan pakaian tradisional Bali. Kami pengen mampir, tapi takut macet jam pulang kantor.

Ngurah Rai
Tadinya Uci mau nemenin, tapi sepertinya lebih tertarik foot spa. Aku masuk. Beberapa langkah susuri jalan, sebelum booth berbagai perusahaan travel itu, kudengar teriakan.

"Mbak Adri, Mbak"
Aku cuek. Itu nama pasaran, yu no!
"Mbak Adri, Mbak Adri."
Masih cuek. Sampai beberapa kali memanggil, aku menoleh. Eeh si Pak Pir, bawa kresek berisi baju gantiku. Tertinggal saat aku merapikan barang di mobil.
"Trims, Pak. Maaf ya Pak, merepotkan."

Aku ambil barang di locker. Tadi Elan sudah kirim kodenya. Eh tidak diminta, hanya ditanya:
"Atas nama siapa, bu?"
"Adriani"
Petugasnya menyusur seluruh koper. Membaca namanya satu-satu.
"Elanto..."
"Nah, yang itu. Saya kira pakai nama saya," kataku. Langsung diberikannya. Duh, bahaya banget. Bagaimana kalau aku orang jahat?
"Kodenya gak perlu, Pak?"
"Ibu ingat kodenya?" Duh, si Bapak ceroboh banget!
"Kan saya catat, Pak!" sahutku.
"Enggak perlu, Bu. Benar yang ini kan, kopernya? Benar itu nama suaminya?"
Terpaksa aku menjawab "Ya!"
"Silahkan."

Ah, dikira pasutri...

Lalu dia mencatat di buku, mungkin meddata barang yang sudah diambil. "Adriani", sebutnya.
"Ya, Pak. Itu saya. 0857xxxxxxxxx," kusebutkan nomor teleponku yang diberi Elan saat menitipkan.
Nah begitu donk Pak, yang waspada! :)

Kuminta izin untuk mengatur barang-barangku di ruangan ini. Ah, kunci koperku salah, tak bisa dibuka. Yawes! Aku masuk, cek-in. Shalat qadha dzuhur-ashar. Lalu keluar lagi, cari warung untuk berbuka. Sepertinya akan repot cari air panas untuk popmi!

KFC. Aku mampir di sana. Makanan yang hanya kukonsumsi di bandara. Meski harganya lebih mahal sekitar Rp 2.000 dari harga di luar bandara, makanan jenis fastfood begini selalu lebih murah dibanding warung lain di bandara. Tul, gak?

Aku tak langsung masuk. Magrib masih setengah jam lagi. Tapi aku tak mau kehabisan tempat, dan pengen makanan sudah terhidang di depanku saat adzan. Aku duduk di lantai samping gerai KFC. Ada banyak orang lain duduk di sana, orang-orang travel agent. Yang di sebelahku sedang menebalkan nama tamu yang dijemputnya. Beberapa kali melihatku, lantas mas-mas ini menyapa.

"Halo Mbak, saya Wisnu. Lagi jemput?"
"Adriani. Mau berangkat"
"Oh, kemana?"
"Jogja."
"Jam?" mulai menyebalkan deh ni orang.
"7.30."
"Garuda?" tanyanya tak percaya. Yeah, kaos belel + celana aladdin + sandal swalo.
"Ya."
Akhirnya ngobrol macem-macem. Dia-nya. Aku sih bikin tembok terus. Rasanya pengen segera masuk ke KFC, tapi kan harus pesan makanan. Bisa dingin nanti makananku.

Dia dia cerita pekerjaannya, lalu tanya pekerjaanku. Dia gak ngerti omonganku, kuberi kartu nama. Beres! Tapi hanya sebentar.... :(

"Liburan kok tidak sama anak-anak?"
"Sialan," batinku. Ni orang usaha bener!
"Saya ke sini kerja. Akhir pekan kemarin suami nyusul. Kami tidak punya anak."

Dia malah bla bla bla sambil nasehatin aku suruh bersabar kalau belum diberi momongan. Bertanya sudah berapa lama menikah, dst dst.

Aku terus ngobrol via chat di HP. Lalu minta Papaku untuk lihat siaran TV, jam berapa adzan di Bali. Takut tak ada informasi di bandara. Dia miskol hapeku dari nomor di kartunama.

"Itu nomer saya," katanya.
"Oke," kataku tanpa melakukan apapun.


Jengah dengan obrolan ini, berharap segera magrib. 15 menit sebelum buka, aku pamit, lalu ke KFC. Dia muslim, tak puasa karena semalam tidak terbangun sahur, katanya.
.
Cuma saos teriyaki ini yg bikin KFC layak cicip :)
Makan cepat, gak kuat asap rokok serombongan tentara yang gabung di mejaku. Langsung ke mushalla. Lewatin lagi box ta'jil gratis yang gak pernah kudapat.

`
Masuk cek-in konter, udah habis :)
Adisucipto
Papa sampe parkiran saat aku landing. Bantu bawa barang bawaanku, sampe mobil ngomel:
"Pakaiannya gitu aja, Dek? Baru ini liat penumpang Garuda pake sandal jepit!"
Yee Pa, apa hubungannya? Hummm, aku lupa. Harusnya di bandara Bali tadi ganti baju :(
.
Di Ngurah Rai

Nyampe rumah langsung tidur. Kangen banget dengan kasurku. Hoahm...

Mlekom,
AZ

Posted by adriani zulivan Posted on 10:52:00 PM | No comments

Tekan ke Bawah


Bandara Ngurah Rai, Bali. Banyak yang tak tahu cara menggunakannya? Bisa jadi!

Mlekom,
AZ


20140514

Tuesday, August 7, 2012

Posted by adriani zulivan Posted on 8:06:00 PM | No comments

Manalagi




Kecap Manis Dewata
Cap: Manalagi
Isi bersih: 625 ml
BPOM RI: MD 145422002024
Diprodukesi oleh: Perusahaan Kecap "Manalagi" Denpasar, Indonesia
Telepon: 7453323
Komposisi: Gula, garam, tauco, air, rempah-rempah, pengawet natrium, benzoat, pewarna kuning Cl 15985


Kecap ini kutemukan di Warung Muslim Cak Udin, Jalan Veteran 14, Denpasar, Bali.

Mlekom,
AZ

20140514
Posted by adriani zulivan Posted on 12:02:00 AM |

TMT Denpasar - Hari 6

Tumben Elan dan Kak Shindi enggak bangun duluan. Mungkin mereka sangat kecapean. Aku yang bangun pertama dan membangunkan Uci. Hanya ada waktu 30 menit untuk masak dan makan. Kupanaskan semua makanan yang kami beli semalam. Kutelepon Elan, lalu membantu.

Uci bangun, lalu memasak orak-arik telur. Kutitip satu telur ceplok untuk Elan. Kutelepon Kak Shindi karena kami tak berani membangunkan, takut Bu Hasti yang tidur dengannya ikut terbangun. Tak juga bangun, Uci datangi kamarnya, malah Bu Hasti yang sudah bangun :)
`
`
Balikuna
Kami diskusi tentang perkembangan hasil temuan di lapangan. Dibagi tugas ke masing-masing orang untuk menulis obyek-obyek menarik yang kami temui. Tugasku menulis tipat tahu, nasi jinggo dan Museum Bali.

Sebab Elan harus meliput Pasar Kumbasari, Pasar Badung, Jalan Sulawesi,  akhirnya kami jalan bersama. Kelompok lain adalah Bu Hasti dan Mbak Diah yang mencari jalan-jalan alternatif di balik gang-gang sempit. Lalu Uci dan Mbak Maya yang akan ke warung kopi, toko kain, dan babi guling.

Memotret yang makan siang :)
Lapangan Puputan
Tepat di depan Museum Bali. Lapangan ini penuh aktivitas warga. Tempatnya teduh, bersih dan rapi. Sangat nyaman untuk bersantai. Lapangan ini ramai di sore hari dan malam minggu. Berbagai aktivitas rekreasi ada di sini.
`
Bermain catur
Nyaman
`
Museum Bali
Tak bisa masuk ke semua ruang pamer, ada bangunan yang sedang direnovasi. Sebab kami terburu-buru, kami pun hanya masuk ke dua ruangan. Tapi struktur bangunan di luar ruangan beserta patung-patung (mungkin arca tua?) di halaman sudah bikin kami terpanan dan enggan beranjak.
`

Demi foto ini nyolong kursi, donk!
Pasar Kumbasari
Ini keduakaliku ke pasar ini. Dulu kesini beli lilin bentuk kamboja buat dibagi-bagi di Jogja. Sekarang berburu owl. Aaaakh, buanyak owl di sini!
`
All about owls!

Nawar hiasan owl, emalah ngobrol

Pasar Badung
Kami turun Pasar Kumbasari lewat samping, lalu menyeberangi sungai untuk ke Pasar Badung.
`
`
Jalan masuk belakang itu pasar sayur-ikan-buah. Meski tak sebersih pasar di Jogja, penataannya menarik. Aku betah ngambil angle dari berbagai sudut pasar ini.
`
`
I am crazy about this market. Mamaku bilang ini tempat belanja yang paling okeh di Denpasar, secara beliau kan pecinta pasar. Kecintaan itu turun padaku. Ya ya...

Sebenarnya, ini inti utama aku pengen ikut Elan liputan ke pasar ini: beli endek! Hehehe. Soalnya, penenun di Puri Pemecutan bilang bahwa hasil mereka dijual ke pasar ini. Waktu gugling juga menemukan bahwa ini merupakan pasar utama penjualan endek Bali.

Endek biru itu untukku.
Kami harus buru-buru (baca: Elan terus mendesakku agar buru-buru, hiks), sebab masih harus meliput sekeliling masjid. Ah, aku tak puas. "Hari terakhir nanti aku akan sempatkan mampir lagi ke sini!" tekadku.

Jalan Kalimantan
Kami susuri jalan ini, sambil tanya-tanya harga mukena Bali. Aku naksir mukena ini sejak hari kedua. Saat itu, otw ke Ubud lewati Pasar Sukowati yang jual mukena ini. Mukena Bali itu... Gugling, deh. Kapan-kapan kuceritakan :)
`
`
Tapi berhubung aku tidak beli karena harganya 100-an (huff, mending beli endek), kami tak dapat info mengenai Perkampungan Arab ini. Lalu kami susuri Jalan Sumatra, untuk berbelok ke Jalan Hasanuddin yang di sepanjang jalannya berbaris Toko Emas.


`
Bukan. Kami tak mampir untuk membeli mahar, tapi ingin meliput tentang ibu-ibu yang menerima jual emas dari masyarakat. Kami menyebutnya Gold Lady.
`
`

Masjid
Letaknya di seberang deretan toko emas ini. Tidak terlalu menarik dalam desain, namun dia menjadi penting sebab menjadi masjid terbesar di Denpasar. Di sampingnya ada masjid, bangunan yang cukup tua. Digunakan untuk kegiatan pendidikan agama bagi anak-anak.
`
Masjid Al-Ukhuwwah
Madrasah Al-Ukhuwwah
Jalan Sulawesi
Ini masih di Kampung Arab. Deretan toko kain mengundang selera. "Aku harus mampir, besok!" pikirku.
`
Hari ini sih, numpang foto dulu...
Pasar Badung
Ketemu Uci di sini. Lalu pamer belanjaan. Uci udah beli Kopi Bali buat oleh-oleh ke Jakarta. Mbak Maya beli Pia Legong.
`
Bersama Uci
Markas Tentara Pelajar? | Lokasi: pertigaan seberang Pasar Badung
Sate Cak Udin
Lokasi di Jalan Veteran. Favoritnya Mbak Diah. Aku pesan sebungkus Sate Kambing, Uci Sate Ayam, dan Elan Soto Ayam. Kangen makan soto, katanya...
`
Lihat mesin blowernya!
`
Cak Udin ramah. Kami ngobrol banyak; tentang warga Jawa dan Madura di Bali, makanan halal di Bali, dan seterusnya.
Di seberang warung ini ada rumah tua yang cukup menarik. Meski desain arsitekturnya tidak spesifik dan usianya tidak terlalu tua (perkiraanku angkatan tahun 60-70an), ia menjadi menarik sebab menjadi satu diantara sedikit bangunan tua bergaya non Bali yang masih bertahan di pulau ini.
`
`
Hal menarik lain, Elan perhatikan cara parkir sopir kami. Tertib sekali!
`
Perhatikan tandanya!
Ini Pak Pir kami yang suka ketawa :)
Kami juga temukan mural dalam deretan frame yang mengkritik dunia wisata Bali. Menarik!
`
Aku lupa lokasinya di jalan apa :|

KFC Sanur
Aku kalah. Dua suara memilih ayam bule untuk menu sahur... :|
`
`
Amman Shintya
Makan malam dengan menu beragam, sesuai pesanan masing-masing: Tipat Tahu, sate dan Babi Guling. AYam bule disimpan (baca: disembunyikan) sampai besok sahur.

Ada cerita menarik ketika Mbak Diah makan Babi Guling. Dia tidak menggunakan piring dan sendok. "Biasanya keluargaku yang muslim tidak mau pakai piring dan sendok yang bekas babi," alasannya. Mba Diah punya saudara muslim di Lombok.
Acara makan malam diselingi dengan pamer foto, cerita dan... belanjaan! Its show time, ladies!

*
Malam kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, menulis hasil jelajah. Pekerjaanku yang sudah selesai sejak pagi (kecuali tentang Museum Bali), masih ketambahan kerjaan translate punya Elan dan bantu menulis empat tulisan lagi. Argh! Kami bergadang sampai jam 1, padahal harus tidak tidur pasca sahur untuk antar Elan ke bandara.

Hoahm...

Mlekom,
AZ





  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata