Saturday, January 24, 2026


YOGYAKARTA – Sidang perdana kasus Tapol Jogja dengan terdakwa Perdana Arie kembali digelar dengan agenda mendengarkan keterangan ahli. Dalam persidangan tersebut, Dewi Handayani Harahap, seorang pakar psikologi, dihadirkan untuk membedah kondisi kejiwaan dan aspek psikologis terdakwa saat peristiwa terjadi.


Dalam paparannya, Dewi menjelaskan bahwa tindakan drastis yang dilakukan seseorang di tengah massa sering kali tidak bisa dilihat hanya dari kacamata hukum hitam-putih, melainkan harus dipahami melalui mekanisme kerja saraf dan mental manusia dalam situasi ekstrem.


Berikut adalah 5 poin utama analisis psikologi yang disampaikan dalam persidangan:


1. Fenomena Deindividuasi dalam Massa

Dewi menjelaskan adanya fenomena deindividuasi, dimana seseorang yang berada di tengah kerumunan besar yang emosional cenderung kehilangan kontrol diri pribadinya. Dalam kondisi ini, identitas personal luruh dan individu terjebak dalam emosi kelompok.


"Tindakan yang terjadi sering kali merupakan contagion effect atau perilaku menular. Ini bukan keputusan mandiri yang direncanakan dari rumah, melainkan reaksi yang terseret arus massa," ungkap Dewi.


2. Respons terhadap Tekanan Situasional (Situational Force)

Lingkungan yang kacau, penuh teriakan, dan tekanan fisik dapat memicu respons fight-or-flight. Secara biologis, logika berpikir jernih yang dikendalikan oleh otak prefrontal sering kali "kalah" oleh emosi instingtif yang lebih purba. Menurut ahli, tindakan menyulut api dalam konteks ini adalah reaksi spontan terhadap tekanan situasi yang memuncak, bukan niat murni untuk melakukan perusakan.


3. Ketiadaan Niat Jahat yang Menetap (Mens Rea)

Poin krusial dalam kesaksian ini adalah penilaian terhadap pola perilaku atau niat jahat. Dewi menyoroti rekam jejak Arie yang dikenal sebagai pribadi santun dan aktif di berbagai organisasi sosial tanpa kecenderungan kekerasan.


"Jika seseorang memiliki profil sosial yang baik namun tiba-tiba melakukan tindakan agresif di tengah demonstrasi, maka peristiwa tersebut adalah sebuah anomali perilaku. Ini memperkuat argumen bahwa tidak ada niat kriminal yang menetap pada diri terdakwa," tambahnya.


4. Dampak Kelelahan Fisik dan Mental

Aksi massa yang berlangsung berjam-jam menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang drastis. Kelelahan fisik yang ekstrem terbukti secara ilmiah dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari tindakannya. Pada titik inilah, kontrol diri seseorang berada pada level terendah.


5. Analisis Pemicu

Psikologi memandang agresi sebagai respons terhadap rasa tidak adil atau ancaman yang dirasakan secara subjektif. Ahli meyakini adanya pemicu, baik berupa provokasi maupun tindakan represif di lapangan, yang membuat seseorang yang biasanya tenang berubah menjadi agresif secara mendadak.


Kesimpulan Ahli:

Sebagai penutup penjelasannya, Dewi Handayani Harahap menekankan bahwa situasi chaos memiliki kemampuan untuk "membajak" sistem saraf manusia.

"Di tengah massa, seseorang bisa kehilangan jati dirinya. Apa yang dilakukan Arie bukanlah rencana jahat, melainkan ledakan emosi akibat situasi yang tidak lagi sanggup ia kendalikan secara sadar. Ini bukan kriminalitas biasa, ini adalah sebuah tragedi psikologis."


_az_



Categories:

0 comments:

Post a Comment

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata