Persidangan aktivis (Tapol) Jogja dengan terdakwa Perdana Arie menghadirkan fakta-fakta baru yang menantang nalar dakwaan. Dalam sidang terbaru, Gani Purwiandono selaku Ahli Kimia dari Universitas Islam Indonesia (UII) memberikan kesaksian teknis yang membedah kaitan antara zat kimia, material tenda, dan fakta lapangan. Melalui kacamata sains, keterlibatan satu kaleng cat semprot (Pilox) sebagai penyebab tunggal kebakaran besar menjadi sangat diragukan.
Berikut adalah 4 poin krusial dari kesaksian ahli kimia:
1. Analisis Daya Bakar Cat Semprot (Pilox)
Ahli menjelaskan bahwa meskipun cairan dalam kaleng cat semprot mengandung pelarut (solvent) yang mudah terbakar, karakteristiknya tidak sama dengan bahan bakar cair seperti bensin. Pilox dirancang untuk menguap dengan cepat agar cat bisa segera kering di permukaan. Ia tidak memiliki sifat persistent (menetap) yang dibutuhkan untuk mempertahankan api dalam durasi lama. Menyemprotkan Pilox ke kain tenda yang tebal tidak secara otomatis menciptakan api yang mampu melahap struktur besi jika tidak ada bahan bakar tambahan yang signifikan.
2. Teori Segitiga Api (Fire Triangle)
Kebakaran hebat hanya bisa terjadi jika tiga unsur terpenuhi secara sempurna: Bahan bakar, Oksigen, dan Panas. Gani meragukan apakah energi panas dari pemantik kecil atau reaksi kimia dari cat semprot cukup untuk mencapai titik nyala (flash point) material kain tenda yang tebal. Secara saintifik, jika tenda terbakar habis dalam waktu sangat singkat, kemungkinan besar terdapat pemicu lain di lokasi atau material tenda yang memang tidak memiliki standar keamanan api.
3. Karakteristik Material Tenda dan Standar Keamanan
Ahli menyoroti pentingnya memeriksa spesifikasi material tenda yang terbakar. Berdasarkan Perka BNPB No. 7/2011, tenda komando resmi (baik milik TNI maupun Kemensos) wajib memiliki fitur tahan api dan tidak memicu perambatan api. Jika tenda tersebut terbakar ludes dengan sangat cepat, hal itu justru menunjukkan adanya kegagalan standar keamanan material tenda dari pihak penyelenggara, bukan semata-mata karena tindakan satu orang dengan satu kaleng cat.
4. Ketiadaan Bukti Laboratorium Forensik
Poin paling krusial adalah tidak adanya pembuktian saintifik melalui uji laboratorium forensik untuk memeriksa residu di lokasi kejadian. Tanpa uji residu kimia di titik awal api, sulit untuk menyimpulkan secara pasti bahwa zat kimia dari Pilox adalah penyebab utama kebakaran. Tuduhan terhadap Arie dinilai lemah secara ilmiah karena hanya berdasarkan asumsi visual, bukan pembuktian laboratorium yang valid.
Kesimpulan Ahli
"Api tidak muncul begitu saja. Menyemprotkan cat ke kain tenda yang tebal adalah satu hal, tapi menghanguskannya hingga ludes membutuhkan energi panas yang jauh lebih besar. Tanpa uji residu, menyalahkan satu botol cat adalah lompatan logika yang lemah," pungkas Gani Purwiandono dalam kesaksiannya.
Kesaksian ini menegaskan bahwa dalam proses hukum, fakta sains harus berdiri di atas asumsi. Tanpa bukti laboratorium yang kuat, dakwaan terhadap Arie kehilangan landasan ilmiahnya.
_az_









0 comments:
Post a Comment