Saturday, January 11, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:34:00 PM | No comments

Reuni Kebondalem

Diantara kami ada yang sudah lama kenal, adapula yang baru. Yang pasti, kami semua saling mengenal sejak kepanitiaan sebuah acara tahun lalu. Persahabatan ini berlanjut hingga kini.

Kami berpisah di bandara Lombok, September lalu. Baru hari ini dapat berkumpul dalam formasi cukup lengkap. Paling tidak, anggota Yogya terbilang lengkap. Sayang, Ko Maul dari Ternate dan Antik dari Jakarta yang sudah pada tiba di Yogya batal hadir. Meski begitu, ada Mas Pop yang datang jauh-jauh dari Lasem (yaya, meskipun dia ke Yogya untuk urusan lain, hahaha).

Beberapa hari yang lalu, kami kontak-kontakan: siapa memasak apa. Tante Rully mau masak kari dengan bumbu yang dia bawa dari Jepang. Dik Prij bikin ikan bakar. Aku masak pecel, ikan asin balado dan tempe goreng.Yang lain-lain? Suruh bantu masak aja. Kalau kebanyakan lauk, takut pengalaman dua tahun lalu terulang: mubazir.

Sejak pagi aku belanja sayur-sayuran di Pasar Gedongkuning. Kenikir dan bayam satu ikat raksasa, masing-masing hanya Rp 2.500. Kol Rp 3.000 satu kuntup sedang. Sebungkus tahu isi 6 seharga Rp 3.500. Dua lembar ikan asin Rp 6.000. Cabe ijo Rp 1.000. Cabe rawit Rp 2.000. Tomat Rp 2.000. Aku minta dibuatkan bumbu pecel ke Mama, biar nanti tinggal rebus-rebus.

Sampai di halaman pasar, ada penjual dawet. Kubeli 4 bungkus seharga Rp 10.000. Di parkiran ada penjual kerupuk gendar (nasi), sebungkus Rp 2.500. Aku sudah memesan tempe ke Pak Made, 3 paket (untuk dimasak, untuk Bulik Sinta dan Tante Rully) masing-masing Rp 5.000. Semua murah meriah. 

Tempenya dijemput Mas Pop yang nginap di dekat Kantor Pak Made. Dari ambil tempe, Mas Pop bersikeras mau njemput aku (plus nangkring lama di pinggir jalan nunggu aku mandi dan dia gak tau rumahku!). Yawes, batal nebeng Mama yang mo ke arisan. Perjalanan menegangkan dengan motor dan bawaan seabrek. 20 menit kemudian, kami pun tiba di Kebondalem, rumah Bulik Sinta.

Baru ada Tante Rully dan Pontom. Duduk sebentar cipika cipiki, mereka lalu ke swalayan seberang Kebondalem, beli bahan kari. Aku masuk ke dapur. Ternyata Dik Prij sudah nyiapin ikan yang mau dipanggang.
(Foto: Bulik, kecuali kanan atas milikku) Keriuhan di dapur

Sejam kemudian, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Para co-chef sangat ligat. Pontom bantu petik dan rebus sayuran, kupas kentang, nggoreng tahu-tempe, sampe bantu aku ngulek lado untuk ikan asin. Mas Pop bantu nyalakan api untuk bakar ikan (meski akhirnya gagal dan pakai panggangan listrik), cuci piring, dan jadi tukang icip-icip.

Satu per satu mulai kelaparan. Mas Pop yang belum sarapan dipersilahkan mendahului. Aku pun ngemil tahu goreng + sambal lado. Bulik keluarkan berbagai snack-nya. Empat jam kemudian baru semua siap terhidang di atas gazebo. Penampakannya seperti di atas :)
Cape makan, ngobrol berlanjut. Ngobrolin apa sih? Suka duka kebersamaan tahun lalu lah... *hedeh*. Lagi asik ngobrol, tetiba bunyi gedebum keras. Sekali. Dua kali. Horeee, ada durian jatoh! Ya, di Kebondalem ada pohon durian. Asikkk akhirnya kesampean nyicip durian sini!

(Foto atas: Dikprij) Durian, fresh from the gedebum
Sebelum pada pulang, agenda utama: Foto-foto! Foto edisi tangga ini, konon memiliki filosofi persaingan. Sedangkan dua foto selanjutnya menunjukkan dua sisi manusia *apa sih*.
(Foto: Palik) Mas Joi, Mas Poppy, Pontom, Bulik Sinta, Mbak Adri, Dikprij, Tante Rully


(Foto: Dikprij) Gaya kalem politisi...
(Foto: Dikprij) Gaya mata cipit ala politisi :p

Oleh Pontom, agenda ini dimasukin dalam #365karya di sini. Kalau ingin resep Ikan Asin Balado Cabe Ijo, kucatat di sini. Pengen punya karya gambar Bulik? Cek caranya di sini.
(Foto: Dikprij) Menikmati karya Bulik

Reuni selanjutnya nunggu kedatangan Cak Pii dan Bu Tin ke Yogya. Juga Ucik, Mba Yenny, Pak Pun, Mbak Uut, dan teman-teman lain.



Hari menyenangkan, bersama kawan lama di tahun baru. Sekali lagi, selamat 2014!

Mlekom,
AZ


20140311

Thursday, January 9, 2014

Posted by adrianizulivan Posted on 9:01:00 PM | No comments

Pampis Jantung Pisang


Suatu pagi, aku terbangun dan nengok luar jendela. Ada jantung pisang di halaman tetangga. Lalu minta Mama buatkan Gulai Padang yang bahan utamanya jantung pisang. Tadi pagi waktu belanja, aku menemukan jantung pisang di tukang sayur.

Mama hari ini cek up ke rumah sakit. Akhirnya aku googling resep, tertarik pada Tumis Jantung Pisang. Setelah selesai persiapan, sebelum dimasak, aku berubah pikiran. Kayanya enak nih jantung dimasak pampis ala Ternate. Bumbunya sama dengan Pampis Tongkol yang ini, namun cara kerja di bagian mengolah bahan utamanya berbeda, seperti ini:

Kupas jantung pisang sampai tersisa hanya kulit yang berwarna putih. Cuci. Iris-iris. Tambahkan garam, remas-remas sampai getahnya hilang (ini juga untuk menghilangkan pahit). Tak seperti Pampis Tongkol, jantung pisang tidak perlu dikukus. Tinggal masukkan ke dalam tumisan bumbu. Langsung hidangkan. Oh ya, aku juga tambahkan irisan kincung (kecombrang) ini.

Malam ini ada pertemuan dengan teman-teman heritage, aku bawakan masakan ini untuk dicicipi teman-teman. Mereka suka. Mamaku juga suka, sempat dikira Pampis Tongkol dan rendang :) Alhamdulillah.

Aku sih lebih suka pampis ikan. Namun, menu ini bisa dicoba. Oh iya, kata Mama jantung pisang juga enak direndang (aku belum pernah sih)!

Mlekom,
AZ

Wednesday, December 25, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 7:32:00 PM | No comments

Bersiap 2014


Sudah Natal. Berarti Tahun Baru tak akan lama lagi, ya!

Dalam rangka ikut-ikutan menyambung kebiasaan membuat wish-list tahun baru, aku tulis sekarang saja agar tidak keduluanan orang banyak.

Harapan tahun lalu yang terkabul:
Duh lupa! Trus nyontek ini...
  1. Jahit dress sendiri. Yay! Malah bukan hanya dress, ada tidak terlalu banyak lainnya. Malah bikin blog buat pamer jahit-menjahit segala :)
  2. Nambah daftar kunjungan ke candi. Ini si cukup banyak, sampe lupa mana saja.
Intinya, dari sembilan mimpi 2013, hanya dua itu yang tercapai. Sebagian lainnya masih akan masuk ke harapan 2014 ini :)

Harapan tahun depan:
  1. Punya rumah atau tinggal di rumah sendiri, meskipun ngontrak.
  2. Dapat pekerjaan impian: Punya gaji bulanan, punya jam kerja. Cape lho, tiga tahun jadi pengusihi (pengusaha itu untuk lakik!). Kalo hari ini nggak nyari proyek, belum tau bulan depan bisa makan :) Pengennya sih kerja di Singapur, tapi lamaran nggak keterima-terima *nangis*. Pengen kerja di Indonesia Timur, dilarang Mama (padahal sudah nyaris jadi penghuni sebuah kota pesisir nan indah bernama Kupang). Yaudah, kerja di Jakarta pun tak apalah, asal.... gaji dua dijit, LSM atau perusahaan media besar (ough, Google Indonesia buka lowongan Marcomm tuh! *ngarep*), banyak jalan dinas ke luar kota/negeri.
  3. Menerbitkan media sendiri. It's just a step ahead!
  4. Mendaftar studi Master. Ayo, belajar tupel lagi, Mbaknya...
  5. Kecilin perut. Nah!
  6. Masak kue sendiri. Amin!
Dua harapan terkabul, enam di tahun depan. Yang satu lagi mana? Nggak perlu lah, kebutuhan berubah :)

Selamat Natal. Mari bersiap menuju 2014!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Tuesday, December 10, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 12:39:00 AM | No comments

Si Cengeng

Merekam ujian Mba Uut.

Aku cengeng. Aku akui itu. Urusan putus hubungan, diselingkuhi, atau berdebat hebat dengan pasangan bukan hal luar biasa untuk sekadar membuat aku menangis. Sudah sering :) Juga ketika kehilangan hewan piaraan yang sudah kami anggap sebagai bagian dari anggota keluarga. Tapi makin ke sini, tingkat kecengenganku makin aneh. Aku juga menangis ketika:
  • sebuah barang yang sudah berbulan-bulan bertengger di garasi rumahku, diambil oleh pemiliknya
  • nganter mas-mas itu waktu mau pergi jauh, meski kutahu bahwa dia akan segera kembali
  • kangen pada rumah, bukan keluarga/orang-orang di dalamnya, tapi pada bentuk desain/keruangan pada bangunan rumah (physically) 
  • teringat hal menyenangkan yang tak pernah kudapat lagi
  • menyaksikan ujian terbuka.
Yang terkahir adalah kejadian pagi tadi. Aku diundang Wahyu Utami untuk menghadiri agenda promosi studi doktoralnya di Arsitektur UGM. Saat dia presentasi tegang banget (7 profesor penguji!), hingga Dekan membacakan berbagai hal yang intinya: Studi Anda sangat baik, Anda lulus cumlaude, selamat Doktor Wahyu Utami!

Mberebes mili, kata orang Jawa. Air mataku ngalir tak berkesudahan. Aku bukan siapa-siapanya Mba Uut--panggilanku untuknya, hanya teman yang cukup dekat. Aku membayangkan jika itu adalah aku yang ada di sana... Atau kamu! Pasti bahagia sekali.

:'(

Ah, dasar si cengeng!

Selamat buat Mba Uut. Selamat menempuh hidup baru sebagai perempuan bertitel tiga.

Mlekom,
AZ

Friday, December 6, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 9:49:00 PM | No comments

Pampis Ternate


Cukup lama nggak masak. Gegara obrolan di grup WhatsApp bulan lalu, aku sangat ingin coba makanan ini. Pampis. Sebenarnya bukan hanya makanan Ternate, Maluku Utara. Nyaris seluruh Maluku mengenal menu ini. Adikku yang hobi icip-icip di warung bilang "Pampis Manado, ya?" dan Papaku yang dua tahun bertugas di Ambon juga mengenalinya.

Pampis bikinanku ini kusebut Pampis Ternate, sebab idenya memang kudapat dari obrolan dengan Ko* Maulana Ibrahim. Beliau adalah salah satu penggagas Naskuter, sebuah warung kuliner pusaka Ternate yang memiliki banyak pelanggan di Yogya.

Nanya-nanya ke Oom Google, ketemu resep milik Endang Indriani dengan cuplak-cuplik dari berbagai resep lain. Dengan sedikit modifikasi, ini dia resep olahanku:

Bahan:
  • Tongkol tuna 1/2 kg (1 ekor)
  • Bumbu halus: 7 cabe merah keriting, 3 cabe rawit merah, 3 bawang merah, 2 bawang putih, 1 ruas jahe, 1 ruas kunyit
  • Rajang halus: 3 lembar daun jeruk, 1/2 lembar daun kunyit, 2 batang daun bawang
  • Rajang kasar: 1/2 lembar daun pandan, 1 batang sere
  • 3 batang daun kemangi, petik daunnya.
  • 3 biji asam jawa
  • 2 sdm gula merah
  • 1 buah jeruk nipis
  • Garam, merica
Cara Masak:
  • Bersihkan tongkol. Potong bulat-bulat tipis (untuk memudahkan suwir). Lumuri dengan garam (1 sdt) dan jeruk nipis. Diamkan 5 menit. Masukkan kukusan. Masak setengah matang (daging tidak berwarna merah lagi). Angkat. Tunggu dingin. Buang tulang. Suwir-suwir. Faktanya, aku tidak menyuwir (dengan tangan), namun ngebejek (pencet-pencet pakai sendok-garpu). Sepertinya lebih baik jika langsung dengan tangan, sebab bisa merasakan langsung tulang ikan yang mungkin tercampur daging suwiran. Teksturnya pun akan lebih terasa, seperti yang dibuat Mbak Endang ini.
  • Tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan garam, merica, gula merah dan asam jawa. Aduk. Masukkan rajangan daun halus dan kasar, serta kemangi.
  • Masukkan suwiran ikan. Masak hingga kering.
Pampis dapat disimpan lama, namun harus di lemari pendingin, sebab agak basah. Jadi tinggal masukkan toples, simpan di kulkas. Keluarkan tiap ingin menyantap. Jika ingin lebih kering, setelah disuwir, daging ikan bisa digoreng hingga seperti abon, lalu lakukan langkah yang sama. 

Untuk rasa, ada pula yang menambahkan kecap manis, aku lewatkan ini sebab sudah memakai gula merah. Ikan yang dipakai biasanya cakalang. Tapi berhubung di Yogya gak ada, aku cari tongkol. Kebetulan di pasar tadi dapat tongkol tuna. 

Di Ternate, pampis ini menjadi lauk pelengkap nasi kuning, bersama singkong goreng yang dipotong tipis-tipis semacam keripik. Sajian nasi kuning Ternate dengan menu lengkap seperti itu bisa disantap di Warung Naskuter, Jalan Prof Dr Sardjito No 11, Terban, Yogyakarta (selatan Apotek UGM).

Aku makan dengan nasi putih panas, plus keripik singkong dari Bantul, Yogyakarta. Rasanya? Nggak enak sih, tapi ueeeenak banget! Bahagia sekali bisa bikin makanan seenak ini, untuk pertama kali. Gak pakai gagal, gak pakai dibantuin Mama :)

Cobain deh! Masaknya mudah, kalau beli di Naskuter pun (akan lebih) mudah! #edisiPromo :))

Mlekom,
AZ

*Bahasa Ternate: ko (koko) = abang

Thursday, December 5, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 10:38:00 PM | No comments

Jelajah Pabrik Sejarah Yogyakarta

Tegel kunci

Mari memulai rangkaian Jelajah Akhir Tahun! 

Jelajah yang diinisiasi oleh Indonesian Heritage Inventory (IHI) ini akan terdiri atas beberapa seri, dengan seri pertama bertema "pabrik". Di Yogyakarta ada sejumlah pabrik bersejarah, yang telah menjejak waktu sejak jaman kolonial. Beberapa masih berdiri, meski terseok jaman. 

Limun AyHwa. Gambar dari sini.

Dalam jelajah edisi Sabtu, 7 Desember 2013 ini, kami undang Anda untuk mengikuti jelajah ke tiga pabrik bersejarah di Yogyakarta:
  1. Tegel Kunci (1927). Jl. KS. Tubun 95 Yogyakarta (tidak jauh dari kawasan Malioboro). Baca kisahnya di sini. |  http://tegelkunci.com/
  2. Limun Manna (1949) Jl. Dagen No. 60 (barat Malioboro) atau Limun AyHwa, Jalan Pandega Marta No. 100 (Jakal KM 6). Baca kisahnya di sini. 
  3. Cerutu Tarumartani (1918)  Jl. Kompol Bambang Suprapto No. 2A Baciro, Gondokusuman (timur Stasiun Lempuyangan). Kisahnya di sini. 
Cerutu Taumartani.
Kegiatan ini gratis, tanpa dipungut biaya. Yang mau ikut membayar HTM masing-masing.

Mlekom,
AZ

Monday, November 25, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 7:54:00 PM | No comments

Selamat Hari Guru, Paman!

Keluarga Budhe di pernikahan Kakak akhir tahun lalu, minus Paman.
Pernah tahu bahwa di Indonesia ada rumah sakit khusus stroke? Ada, di Bukittinggi, Sumatera Barat, bernama Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN). Mengapa RS nasional bukan di pusat? Guyonan orang lokal sih: Karena makanan Minang penuh santan, jeroan, pedas, asin, dst.

Aku gak minat membahas tentang RS ini. Namun alasan "urang awak rentan penyakit stroke, akibat makanannya dituduh sebagai penyebab utama penyakit stroke". Keluargaku punya pengalaman ini.

Mamaku punya kakak angkat, kupanggil Paman. Paman tinggal dengan keluarga Mama sejak mereka masih SD di Pulau Telok, Nias, Sumatera Utara. Keluarga Mama adalah pengusaha, menjual berbagai macam hasil tani dan membuka toko panglong. Paman bertugas menjaga toko dan merawat dua adik barunya: Mamaku dan Etek (adik Mama yang juga perempuan).

Masa kecil mereka begitu menyenangkan. Hidup sebagai anak pantai yang mengayuh sampan untuk memetik kelapa di pulau milik Ayah mereka, sembunyi di ladang saat bolos mengaji, hingga menggoda para pelanggan toko yang singgah.

Paman merantau ke Jawa, ambil sekolah kedokteran di Yogya. Sayang, Pendidikan Kedokteran Paman terputus akibat Ayah Mama meninggal. Tak ada lagi biaya sekolah. Akhirnya Paman pindah ke Solo, ambil Pendidikan Keguruan yang biaya sekolahnya lebih murah. Paman membiayai dirinya sendiri.

Paman menjadi guru di SMA Al-Islam Solo. Lalu menikah dengan muridnya (semoga aku tak salah ingat!), yang kini kupanggil Budhe. Bukan pernikahan mudah, sebab Paman adalah anak sebatangkara yang tidak memiliki orangtua dan kakak-adik kandung. Terlebih lagi, dia datang dari negeri antah-berantah di pulau seberang yang tak pernah tercatat dalam kisah pewayangan, atau jazirah nabi.

"Dia shalat-nya baik, orangnya santun, apalagi guru di sekolah Islam," kata Ayah Budhe tentang Paman. Aku tahu kisah ini tahun lalu, diceritakan Budhe. Pernikahan ini melahirkan empat sepupuku yang semuanya perempuan. Aku baru bersua dengan mereka 16 tahun lalu, saat keluargaku menjadi turis di Jawa.

Saat pertama ke Solo, aku tinggal di sebuah rumah joglo yang sangat cantik. Rumah milik keluarga besar Budhe ini berdiri di tengah sebuah pekarangan luas. Sayang, rumah ini kemudian dibongkar saat pembagian warisan. Kini ada banyak bangunan di tanah itu, banyaknya sejumlah anaknya Simbah.

Kalian tentu tahu bagaimana kehidupan guru di zaman itu. Paman, meski sempat menjadi Kepala Sekolah, tidak berpenghasilan besar. Namun keempat sepupuku diterima di sekolah negeri--berturut-turut Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Diponegoro (Undip). Ini tentu menjadi kebanggan bagi keluarga besar kami, apalagi kemudian mereka lulus cum-laude dan mendapat pekerjaan yang baik.

Paman terkenal sangat disiplin di sekolah. Banyak murid takut padanya. Ini kudengar dari muridnya yang berkunjung. Tiap Lebaran tiba, murid-murid Paman, terutama yang sudah lulus, tak pernah putus berkunjung ke rumah. Mereka selalu membawa oleh-oleh dari kampungnya.

Mungkin faktor gen Sumatera yang membuat Paman memang keras. Mungkin pula karena kehidupan kecilnya yang memang keras. Meski begitu, banyak orang bilang kalau Paman 'sangat Jawa'. Tutur bahasanya halus, tak pernah kasar. Paman juga sering bergurau dengan Adikku, satu-satunya anak laki-laki di keluarga besar Mama.

Ketika kami pindah ke Jawa, hubungan dengan keluarga Paman semakin dekat. Terutama setelah kedua orangtuaku tinggal di Yogya. Tiap Lebaran kami ke Solo, sebagai kunjungan terhadap orang tertua di keluarga. Keluarga Solo adalah keluarga dengan jarak terdekat dengan kami. Memang Etek tinggal di Jakarta, adapula sepupu Papa yang di Bandung. Namun kami tentu sowan kepada yang lebih tua.

Budhe yang asli Solo tentu tak biasa memasak makanan Sumatera. Maka Paman sering membeli makanan di Warung Makan Padang, untuk mengobati rindunya pada kampung. Budhe juga belajar menu-menu tertentu. Jika berkunjung ke Solo, Mama juga selalu memasakkan makanan kesukaannya. Tiap kami berkunjung ke Solo, Paman selalu mengajak Adikku makan di Warung Padang.

Sampai Paman terkena penyakit stroke ringan. Paman mulai membatasi makannya. Tidak lagi memilih jeroan dan santan. Budhe sangat protektif. Mama hanya membawakan menu bebas santan dan daging, seperti Ikan Sampade. Kepada Mama, Budhe pun meminta resep beberapa masakan Sumatera yang bebas kolesterol.

Namun, jika di luar rumah, tentu sulit mengontrol Paman. Setelah sehat, daging dan santan kembali disantap. Seingatku, dalam 1.5 tahun, Paman tiga kali mondok di RS akibat strokenya kambuh. Hingga akhir 2011 lalu.

Hari ini dua tahun lalu, kami sekeluarga berangkat mendadak ke Solo. Paman sudah tidak ada, kata sepupuku di telepon. Ini setelah seminggu terbaring tak sadarkan diri di RS akibat pendarahan otak.

Hari itu adalah 25 November, Hari Guru, sebagaimana hari ini. Pergi seorang Azril, si pendidik dari negeri antah-berantah.

Selamat Hari Guru, Paman. Terimakasih sudah mendidik orang yang melahirkanku!

Mlekom,
AZ

Saturday, November 23, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 11:00:00 PM | No comments

Bersua Walikota




Sejak dimulai pada Oktober lalu, Festival Seni Mencari Haryadi (FSMH) belum pernah sekalipun bertemu dengan Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta yang selama ini 'dicari'. Hingga pihak Gubernuran bantu memfasilitasi, lewat pertemuan pada Selasa, 26 November 2013 pukul 19.00 di Pendopo Kepatihan, Jalan Malioboro. 


Sarasehan bertajuk "Jogja untuk Semesta" ini akan diawali dengan paparan dari narasumber, yaitu:

  1. Agung Kurniawan - seniman; mewakili gerakan Warga Berdaya dan FSMH
  2. Sumbo Tinarbuko (Dosen DKV ISI dan Pegiat Komunitas Reresik Sampah Visual)
  3. Bakti Setiawan (Dosen Arsitektur UGM, pemerhati tata kota)
  4. Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta
Usai paparan, akan ada sesi tanya-jawab yang bisa dimanfaatkan oleh warga untuk berdialog langsung tentang kota. Sarasehan ini mengundang seluruh masyarakat Kota Yogyakarta. Akan ada minuman hangat dan makanan ringan untuk kita.

Monggo manfaatkan dengan baik forum yang langka ini. Mencari Haryadi itu susah lho :)

Humas FSMH

Friday, October 18, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 7:43:00 PM | No comments

Menuju "Disability Day"

Desain poster: Anang Saptoto


Sejak 1981, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mencanangkan 3 Desember sebagai International Day of People with Disability atau sering disebut dengan Disability Day. Indonesia merupakan salah satu negara yang memeringatinya. Tahun ini, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) bersama Warga Berdaya mengajak masyarakat untuk terlibat. Tak hanya pihak-pihak yang bergerak dalam isu ini, namun juga seluruh elemen masyarakat Yogyakarta.

Kegiatan ini berupa rangkaian panjang sejak 25 November hingga 3 Desember 2013. Ada beragam aktivitas yang akan dilangsungkan, seperti diskusi, seminar, pelatihan, jelajah, permainan, lomba, pentas seni dan beragam aksi publik lainnya. Siapa melakukan apa dan bagaimana, akan dibahas pada pertemuan yang akan dilaksanakan pada Senin, 22 Oktober 2013 pukul 14.00 di Warung Jawi, Dalem Sopingen, Kotagede Yogyakarta. Lihat TOR di sini.

Kehadiran seluruh warga Yogyakarta sangat diperlukan, untuk memberi masukan terkait kegiatan yang akan dilakukan. Siapapun Anda; pelajar, akademisi, praktisi, seniman, ibu rumah tangga, banker, pedagang, wartawan, dsb. Kontribusi berupa keterlibatan aktif di ajang ini juga dinantikan. 

Diharapkan, momen ini akan menjadi gerakan penting dalam proses pengenalan disabilitas di masa mendatang.

Konfirmasi kehadiran: 
085747014100 (Ika) | 087839101000 (Donna)

Alamat Warung Jawi: 
Jl. Mondorakan, Klaster Dalem Sopingen, KG 2, No. 859, Kotagede, Yogyakarta (cek denah di poster)


Thursday, October 17, 2013

Posted by adrianizulivan Posted on 9:24:00 AM | No comments

Difabel?



Mungkin tak semua orang memahami arti judul tulisan ini. Difabel merupakan singkatan dari different ability people, yang diartikan sebagai orang dengan kemampuan khusus. Istilah lain untuk pemaknaan tersebut adalah disability dan handicapped.

Semua istilah tersebut belum populer di telinga masyarakat kita. Kita lebih familier dengan istilah penyandang cacat, individu yang mengalami kelainan fisik, dan orang berkebutuhan khusus. Meski tampak sama, ragam istilah tersebut memiliki dampak psikologis berbeda. Tanpa disadari, istilah-istilah ini seringkali menciptakan diskriminasi bagi penyandangnya.

Terlepas dari istilah, ada banyak hal penting yang wajib diberikan negara sebagai hak difabel. Diantaranya adalah aksesibilitas ruang publik, fasilitas khusus terkait ketersediaan informasi dan transportasi, hingga pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi adalah pelayanan pendidikan bagi siswa difabel di sekolah umum--bukan Sekolah Luar Biasa (SLB). Pada dasarnya, pendidikan inklusi tak hanya menyasar pada penyediaan sarana khusus bagi difabel, namun juga mengajarkan siswa non difabel tentang keberadaan disabilitas di sekitarnya.

Bentuk pendidikan ini semestinya diajarkan pula kepada masyarakat umum, melalui jalur-jalur informal. Perlu disadari, masih banyak di antara kita yang belum memahami isu ini. Bagaimana cara berinteraksi dengan difabel dalam keseharian, misalnya. Jika ada pengguna kruk--tongkat alat bantu jalan--yang berdiri di dalam bus, bersediakah kita memberikan tempat duduk? Apa yang harus kita lakukan ketika menyeberangkan seorang tunanetra? 

Banyak hal yang menunjukkan ketidaksiapan kita dalam memberikan hak bagi difabel. Memarkir kendaraan di atas trotoar, lalu duduk di warung tenda yang berdiri di atas trotoar. Ini sering kita lakukan, tanpa menyadari bahwa hal ini membahayakan penyandang tunanetra. Kendaraan-kendaraan dan warung tenda yang berdiri di atas trotoar akan menutup akses tunanetra terhadap guiding block--fasilitas berupa ubin berstruktur menonjol sebagai pengarah jalan. Coba bayangkan, bagaimana jika mereka terbentur pintu mobil atau tersandung kompor di warung!

Bahkan ruang publik yang diatur negara pun tidak memihak difabel. Informasi di stasiun tak ramah tunarungu, sebab pengumuman kedatangan kereta api hanya menggunakan pengeras suara. Toilet umum tidak memiliki pintu yang lebar, sehingga tak bisa dimasuki kursi roda. Itu sedikit persoalan yang kerap kita temui.

Mungkin tak bijak juga jika menyalahkan orang-orang yang menutup akses trotoar ini. Menyalahkan pemerintah? Kebijakan yang tidak peka difabel tentu muncul dari ketidaktahuan para pengambil kebijakan. Minimnya pendidikan disabilitas yang didapat masyarakat, bisa menjadi penyebab. Untuk itu, pendidikan terkait pengenalan disabilitas sangat diperlukan. Proses diseminasi pengetahuan ini tak hanya menjadi pekerjaan pemerintah, namun juga seluruh masyarakat.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata