Sunday, January 17, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 11:10:00 PM | No comments

Membaca Jakarta, Mereka Kota: Meminggirkan Eksklusivitas Seni


Meminggirkan Eksklusivitas Seni
Tak seperti Yogyakarta, ketika ngobrolin seni rupa, Jakarta tak menjadi kota yang pertama muncul di benakku. Maka tak heran ketika mengetahui usia Jakarta Biennale (sejak 1974) lebih tua dibanding Biennale Jogja (1988), bagiku cukup mengejutkan.

Rasa-rasanya, kegiatan seni rupa di Jakarta tidak seramai di Yogyakarta. Jikapun ada, ia kerapkali terlihat eksklusif. Eksklusif pada tema (sejarah tokoh bangsa, sejarah negara, dst), juga eksklusif secara pemilihan tempat (galeri atau museum besar). Masih ditambah dengan esklusifnya nama-nama seniman yang ikut berkarya. Diantaranya adalah pameran "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" (pertengahan 2012) dan "Aku Diponegoro" (awal 2015) lalu.

Eksklusif ini, menurutku, berkontribusi pada tidak bertambahnya masyarakat penikmat seni. Suasana yang terasa menjadi semacam "ini adalah pameran yang diperuntukkan bagi para seniman, kurator, kolektor, dan akademisi saja". Sedangkan orang awam yang datang untuk sekadar ingin melihat, mungkin merasakan seperti yang kurasakan ketika berada di antara pengunjung lain: Kamu ngapain di sini, emangnya ngerti seni?

Keberadaanku sebagai hanya-orang-awam-yang-ingin-melihat-lihat itu, seakan mendapat angin segar pada penyelenggaraan Jakarta Biennale 2015 lalu. Pemilihan tema, tempat dan perupa yang terlibat--lagi-lagi, secara psikologis membantu orang-orang sepertiku merasa 'dianggap' dalam sebuah pagelaran seni. 

Pertama, tempat. "Gedung Sarinah? Thamrin?" Tanya taksi yang membawaku menuju pagelaran itu. Ia pasti menanyakan apakah benar aku ingin ke gedung yang dua hari sebelumnya baru saja dihebohkan aksi teror tersebut. "Gudang pak, bukan gedung. Di Pancoran," jawabku. Berbekal aplikasi Waze, kami cukup kesulitan mencari gedung yang terletak di tengah kampung permukiman warga ini (ya ya, aku tidak membaca instruksi di web yang kemudian hanya bisa komentar: yaampun, ternyata di seberang Gelael!).

Tak hanya di mana, kuyakin tak banyak orang paham apa Gudang Sarinah itu. Bertanya pada Google, kalimat "jakarta biennale 2015" selalu menyertai di tiap hasil pencarian. Artinya belum banyak ulasan mengenai sejarah gedung ini. Meski demikian, melihat pemilihan bentuk huruf dan warna pada tulisan yang terpampang di fasad gedung, aku yakin ia memiliki hubungan dengan Pusat Perbelanjaan Sarinah di kawasan Thamrin yang dibangun Soekarno itu.

Saking tidak populernya, gudang ini nyaris terlupakan. Jakarta Biennale, menurut sebuah media, menjadi aktivitas pertama yang membangkitkan ingatan publik akan gedung ini. Aku tertarik membicarakan panjang lebar soal gedung berbentuk gudang ini. Ketika memilih bangunan biasa yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat, atau bukan bangunan khusus berlabel "kantong seni" dan semacamnya, rasa kedekatan (proximity) segera hadir dalam pikiran khalayak.

Pemilihan tempat di tengah permukiman warga, bagiku merupakan cara hebat untuk memenangkan hati masyarakat di luar dunia seni. Warga suatu perkampungan mungkin malas memasuki sebuah gedung megah berbentuk Galeri Nasional, misalnya; namun sangat penasaran dan ingin menjadi bagian dari perhelatan di Gudang Sarinah ini.

Kedua, tema. Berbicara tentang Jakarta adalah berbicara tentang kota. Pemilihan isu terkait persoalan kota adalah penting untuk mendekatkan karya seni pada keseharian warga, dalam hal ini tentu saja warga kota Jakarta.
Pameran ini berfokus pada situasi di sini dan saat ini, serta respons para seniman terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi di sekitar mereka. ~ jakartabiennale.net
Isu terkait banjir, air bersih, penggusuran, diskriminasi, kekerasan politik hingga perdagangan aset negara, tentu menjadi keseharian masyarakat Jakarta. Masyarakat yang kepentingannya dalam kehidupan sosial, juga menjadi sumber ide para seniman kita.

Siapa perupa yang terlibat dalam sebuah pagelaran, tentu menjadi hal penting ketiga. Ketika aku tak mengenal banyak nama dalam daftar perupa di sebuah kegiatan, bagiku itu merupakan sinyal dimana eksklusivitas sedang dipinggirkan. Jika hanya menampilkan perupa yang telah menggoreskan namanya di jajaran atas karya seni, kalian pasti tahu apa yang ada di pikiran orang awam sepertiku sebelum mendatangi tempat di mana karya para 'dewa seni' itu dipajang!

Sederhananya, ada kelompok yang membaca karya seni sesuai dengan tingkatan berkeseniannya. Ada kelompok yang datang dengan informasi terbatas, lalu berusaha membaca karya yang di hadapannya dengan persepsinya sendiri. Kelompok lain adalah mereka yang datang karena mengagumi betapa cantik, bagus, menarik mata karya-karya yang dipajang, sehingga mereka merasa harus mengabadikannya lewat selfie ataupun wefie. Semestinya tak ada yang salah dengan motivasi kelompok-kelompok tersebut. Di Gudang Sarinah ini, Jakarta Biennale 2015 mengakomodir motivasi segala kelompok  tersebut.

Membaca Jakarta, Mereka Kota
Pagelaran dua tahunan yang dilaksanakan pada 15 November - 17 Januari ini, selain pameran karya seniman dari Jakarta juga menampilkan karya para seniman dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Tak hanya pameran, kegiatan ini diikuti beragam kegiatan seperti simposium, workshop, dan masih banyak lagi yang juga tak hanya melibatkan pekerja seni, namun juga publik yang lebih luas.

Berkaca pada kota asalku, Yogyakarta, melihat karya-karya dalam Jakarta Biennale seperti mereka-reka masa depan kotaku sendiri. Yogyakarta yang sejak 2011 lalu terus bersolek diri menjadi kota modern, dua tahun kemudian segera menjejak dampak bagi warga. Dampak ini sayangnya tak berpihak pada kepentingan publik. Air sumur perkampungan yang mengering, kemacetan akibat tumbuhnya pusat-pusat hiburan baru, dan masih banyak lagi.

Jakarta Biennale 2015 merefleksikan Jakarta sebagai kota dalam berbagai sudut pandang. Karya-karya itu mencoba mengajak pengunjung untuk melihat dampak positif maupun negatif yang ditimbulkan sebagai dampak dari pembangunan kota. Aku seakan sedang membaca Jakarta lewat goretan lukisan dan berbagai instalasi yang ditampilkan di sana, untuk dapat mereka-reka bagaimana kotaku nanti jika pembangunan sudah begitu masif.
Gambar pertama adalah instalasi dari potongan-potongan bahan tekstil berwarna hitam karya Peter Robinson (Auckland) berjudul “Syntax System”. Gambar terakhir adalah aku di Gudang Sarinah pada Sabtu (16/01).

Mlekom,
AZ



Thursday, January 14, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 5:10:00 PM | No comments

Kami Tidak Takut


Jelang tengah malam.

"Mau ke mana?" tanya mas-mas-yang-itu.
"Bingung," kataku.
"Hummm..."
"Bundaran HI yuk. Kepengan lihat suasana malam di air mancur."

Keluar dari Djakarta Theater, kaki-kaki kami susuri halaman depan gedung yang terletak di sebelah Sarinah ini. Tentu lewati dinding kaca yang membalut warkop milik Schultz di Jalan Wahid Hasyim itu.

Ini tiga malam lalu. Jalanan sepi buatku takut, takut kejahatan urban seperti yang banyak diberitakan koran kuning. Hari ini jalanan yang sama ramai mengisi linimasa media. Meski keadaan sempat mencekam, aku berani bilang: Kami tidak takut.

Kejadian tiga malam lalu dan hari ini tidak berkaitan, tentu. Namun ini buatku tersadar, bahwa Jakarta dalam kondisi normal (baca: berikut kejahatan sehari-hari yang melekat padanya) lebih menakutkan, dibanding sebuah hari ketika ia diteror kelompok kecil yang berusaha mengguncang dunia.

Bangga pada seruan #KamiTidakTakut yang banjiri medsos seharian ini. Tunjukkan keberanian warga Jakarta dan Indonesia untuk melawan mereka yang coba mengusik ketenangan, tanpa reaksi berlebihan yang akan menguntungkan para pembuat onar ini.

Ini gambar Bundaran HI di masa lalu, tujuan kami malam itu.

Mlekom,
AZ


Saturday, January 9, 2016

Posted by adrianizulivan Posted on 3:16:00 PM | No comments

Minta Doa Agar Mampu Beli Motor


Aku usai ikut agenda jelajah kota dengan berjalan kaki 4 kilometer, sekian menit dudukkan pant*t di atas sadel belakang motornya si bapak-bapak ini:

Bisa naik motor?
Bisa pak.
Kenapa gak naik motor?
Gak punya.
Kerja (daerah) mana?
Kuningan.
Oh deket donk (dari rumah).
Iya.

Kenapa gak beli motor?
Gak ada duit.
Nyicil donk.
(...)
Nyicil aja, murah kok.
(...)
500 rebu sebulan.
Nanti saya jadi punya utang donk (ini males bgt njawabnya).
Ya dicicil. 
(...)
Daftar (jadi pengemudi) Gojek aja. Kan bisa pake motor.
(???)
Kalo ke kantor naik apa?
Gojek, baliknya Kopaja.
Nah klo PP berapa?
(Sialnya, otakku ngitung) 18rb.
Nah klo Gojek, tambah berapa lagi udah muter dua kali...
(...)
...berangkat dan balik kantor sekalian bawa penumpang.
(...)
Nyicil motor bisa lah!
(...)

Pulang kantor jam berapa?
7 (biar dia berhenti, lalu berpikir: oh iya yah, udah cape).
Kok lama amat?
Iya.
Masuk jam brp?
10 (karepku)
Nah pagi2 bisa nyalain aplikasi dulu sampe jam 10.
(Yah, salah strategi deh!)
Daftar aja, lumayan lho jam segitu. Apalagi daerah Kuningan jam2 kantor rame.
(...)

Duitnya dikirim ke ortu ya tiap bulan?
(Sekenanya) Iya.
Oh bagus, jadi bisa bantu2 ortu.
Iya.

Ortu masih komplit?
Ya.
Minta doa sama ibu biar dilancarkan rejekinya.
Ya.
Klo dibeliin motor, jadi keliatan hasil kerja kita.
(Hum...)
Kalo belom berani ngojek, coba2 aja bawa motor di sekitaran rumah.
(...)
[dst bikin saya berasa entahlah...]

Nyampe depan rumah:
Lho tinggal di sini? Kok bisa? Wah.
Saya tadi anter anak majikan sekolah, pak.

Mungkin karena iba sama aku, duit pembayaran jasanya yang kulebihkan mau dikembalikannya.

*
Btw, ada yang punya info kapan Gojek bukaan lagi? Kali aku bisa kirim-kirim CV...

Makasih ya pak, sudah memberi saya semangat untuk minta doa agar mampu beli motor (saya bold, italic dan underline lho ini pak!). Dan makasih ya pak, saya memang kucel! :)

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Sunday, December 27, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:05:00 PM | No comments

Hai Kamu, Trims untuk Hari Ini


Hai kamu,
Trims untuk hari ini.

Naik kereta pagi buta, meski kamu usaha keras bangunin aku.
Mau makan di trotoar CFD, meski kamu enggak terlalu antusias.
Nyuruh aku kekep dompet, di depan batik2 lucu tadi.
Ngikut inginku ke Laweyan, meski aku berubah pikiran bikin kita batal jelajah kampung.

Sedia nongton Setar Wors, meski kamu (sepertinya) ketiduran.
Langsung belikan aku teh panas, saat aku tetiba sakit kepala.
Antri tiket di stasiun, sementara aku duduk cantik di mobil.
Pijat bahuku yang tegang karena sakit kepala, buat sakitku berkurang.

Kamu antar aku pulang, meski kamu terkantuk-kantuk.

Hai kamu,
Terima kasih untuk hari ini.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Saturday, December 26, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 9:55:00 PM | No comments

Belanja Buku Terakhir di 2015

Sudah tiga kali kunjungi Bazar buku Gramedia di Sudirman Yogya kali ini. Hari pertama pada dua hari jelang Natal, memang pengen mampir, hasilkan 20 buku. Dua hari kemudian janjian sama teman di Gramedia, sukses membawa pulang 7 buku. Hari terakhir beli 1 buku Samkok yang di hari pertama enggak dijual di sana (trus minta tolong mas-mas Gramedianya untuk simpenin).

Kalau tahu harganya, kalian pasti mupeng. Jadi beginilah, sesuai urutan foto--bawah ke atas:
  1. Novel grafis Samkok (5 jilid, tamat) - @Rp 25rb
  2. Mimpi Beruang Coklat, LFL - Rp 25rb
  3. Kisah 108 Pendekar, Naian 3 seri (tamat) - @Rp 5rb, di Gramedia Solo @Rp 77rb
  4. Komik Perang dunia II (6 seri) - Rp 40rb/bundel
  5. Grown Up Digital, Tapscott - Rp 40rb
  6. Pasang Tarub Jawa, Tim Tembi - Rp 10rb
  7. Jip dan Janeke (edisi 3 dan 5) - @Rp 10rb
  8. The Kid Runner (novel grafis), Hosseini - Rp 15rb
  9. Town Boy, Lat - Rp 20rb
  10. Uncle Tom's Cabin, Stowe - Rp 5rb
  11. Misteri di Peternakan Peter Carlson, Tabita - Rp 5rb
  12. Cedric (seri 1, 2, 4, 5, 9, 10, 11, 12). Duh, yang 9 & 12 masing-masing kebeli 2 eks - @Rp 5rb 
Ini belanja buku terakhir di 2015. Duit segitu dapat 34 eks :)

Mlekom,
AZ

Saturday, December 19, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:48:00 PM | No comments

Apalah Ini, Apapun...

Kemarin sore Cilacap - Purwokerto pakai mobil. Lanjut Purwokerto - Yogya dengan kereta, di kereta bikin presentasi buat acara besoknya (hari ini). Tiba di Yogya jam 23.00, langsung ke rumah, makan, unpack, packing, mandi.
Ke stasiun lagi jam 00.00. Kereta Yogya - Surabaya.

Tiba jam 07.00 keesokan harinya. Mandi di masjid dekat stasiun, dijemput panitia ke hotel transit. Ganti baju cantik, mekapan, sepatuan. Sedikit bahas presentasi sama si mamas yang baru baca bahan yang kukirim di kereta semalam. 09.00 ke venue.

Jam 11.00 presentasi dan tanya jawab dengan bugar dan full enerji. Jam 15.00 terkantuk2 di presentasi orang lain, setidaknya 3x menyadari mata atau kepala tanpa kendali.

16.00 ke Gresik. Di taksi tidur lelap, berasa ada genggaman di tangan yang membuat nyaman (ahik!). Kami dijemput di terminal. Mampir ke rumah teman yang njemput, lalu ke luar cari hotel. "Yang laki-laki tidak satu kamar dengan yang perempuan kan?" kata hotelnya. Ya menurut lo, pak?

Makan nasi krawu, makanan terlezat sejagad Gresik. Beli martabak. Mata masih cukup segar. Lanjut nonton Gresik Indie Movie Festival yang cukup berjarak dari hotel. Film kedua baru mulai, aku minta diantarkan ke hotel.
Masih mampir beli air minum (yang tidak disediakan hotel) dkk. Bersih2, mau tidur, aroma rokok tajam di ruangan. Tanya apakah ada kamar non smokin? Tidak. katanya. Yawes minta di-treat. Cuma disemprot semprot pengharum ruangan.

Jadi sekarang gajadi2 trus urusan tidurnya...

Apalah ini, apapun...

Mlekom,
AZ


Sunday, December 13, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 2:58:00 PM | No comments

Trims Pak Win!

Kemarin:
05.00 Bangun
06.00 Ke Sukabumi
13.30 Tiba di Sukabumi (iya, macet abis)
16.30 Berangkat dari Sukabumi. Telepon pesawat, minta tiket diundur besok jam 08.00.
23.30 Sampai Jakarta. Minta taksi yang kunaikin untuk jemput jam 06.00 besok.
24.00 Packing besok ajalah. Kan bisa bangun jam 04.00, toh brgkt jam 08.00. Set alarm jam 04.00.

Hari ini:
04.00 Bangun. Ngulet2.
04.30 Telepon pesawat.
04.45 Markitid! Berangkat jadi jam 12.00! Mo telp taksi yang janjian semalam, harap2 cemas beliau datang pagi. Duh gak punya nomernya (aku yang kasih nomerku ke bapaknya).

Zzz...

Benar saja, tepat janji taksi datang. Pak Win, nama pengemudinya, telepon aku. Beliau tidak bisa mengantarkan saya siang nanti, sebab ia shift malam dan jam 12.00 siang nanti sudah harus kembali ke pool. Mungkin mobilnya akan digunakan oleh pengemudi lain. "Gpp buk, nanti telepon (ke CS) lagi aja," katanya.

Dengan berat hati kubatalkan. Meski bukan pesanan via telp, kuberi sejumlah 'uang pembatalan' sebagai bentuk terimakasih atas ketepatan janji dan kesediaannya membuang waktu untukku.

Sedih rasanya, ketika tak jadi menggunakan jasanya setelah dia semalam suntuk menanti. Aku minta nomor teleponnya, agar suatu hari nanti bisa menggunakan jasanya lagi. 0812 7611 1299 Pak Win. Jika kamu butuh taksi Burung Biru, sila hubungi beliau ya.

Trims pak Win. Really appreciate you!

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Posted by adrianizulivan Posted on 12:38:00 PM | No comments

Mendadak Catwalk

Ngebayangin ada apa di balik judul ini aja bikin aku senyum-senyum sendiri hahaha :p

Jadi ini soal kejadian kemaren siang, di mana aku mendadak jalan di panggung peragaan busana. Sebenarnya ini bukan pengalaman pertamaku. Waktu SMA, aku dipaksa ikut sekolah modelling karena aku pemalu banget [pernah aku ceritain di sini]. Namun baru kali ini jalan --ah sebutlah catwalk (ga nemu terjemahannya) untuk agenda serius, dulu kan cuma terpaksa iseng aja. Kalau dulu terpaksa dan dipaksa, kali ini masih ada unsur paksaan tapi aku bersedia dengan senang hati melakukannya :)

Kesempatan ini datang ketika aku mengikuti agenda majalah Femina bertajuk "Inspirasi dari Selembar Kain: Workshop Tenun Gaya by Wignyo". Agenda jalan-jalan keliling Kota Sukabumi, Jawa Barat yang dilaksanakan pada Sabtu (12/12) ini memokuskan kunjungan di sentra pembuatan tenun Sukabumi yang dikelola oleh Bapak Wignyo Rahadi.

Selain menghasilkan kain hasil tenunan sendiri, bengkel produksi ini juga merancang berbagai busana menggunakan bahan tenunan Gaya. Gaya adalah merk yang disematkan Wignyo pada produknya, yang sekaligus merupakan nama dari anak perempuannya.

Siang itu setelah bosan dan lapar karena bus yang kami tumpangi terjebak kemacetan luar biasa, begitu tiba di lokasi kami langsung menyantap makanan yang disediakan. Rasanya cuma enak dan enak banget. Bayangkan ketika nasi liwet ketemu ikan asin dan sambel. Wuiiiiiiii ga kebayang kan!

Nah sewaktu sedang duduk menikmati makanan pencuci mulut, salah satu panitia mendatangiku.
"Mbak, bisa ga bantu jadi model?"
"Model apaan?"
"Pake baju yang ada di sini. Ada beberapa baju yang lagi disiapkan."
"Modelnya foto apa jalan?"
"Jalan gitu, ke panggung sana," tunjuknya pada sebuah panggung di sudut bengkel produksi ini.

Setelah menimbang kilat (sebab ditungguin mbaknya), toh ini bukan ajang model sungguhan alias ga ada model beneran yang bakal bikin minder, kuiyakan. Itung-itung nostalgila jalam modelling kan ya :)

Aku diantar ke ruang pas. Seluruh model amatiran seperti aku sedang bersiap di sana. Sayangnya aku ga bawa riasan wajah lengkap, hanya yang kugunakan sehari-hari: bedak, pemerah pipi, pewarna mata dan lipstik. Tak ada alat rias yang mereka siapkan.

Masing-masing model --sebutlah demikian ya-- diminta peragakan dua baju, satu model kebaya encim yang aku sukaaaaa banget, dan satu potongan modern yang ga kalah cantik (aduh rok yang dipake mba Dewi bikin pengen bangettt).

Ketika kami sibuk merias diri, di luar sana di atas panggung terdengar keriuhan. Pemandu acara sedang memandu diskusi dengan Pak Wigyno dan Bank BTPN yang menjadi salah sponsor.

Maka tibalah saat itu. Dengan instruksi minimalis (dianggap semua orang pernah liat gimana lenggak-lenggok model peragaan busana kali yaaaa), satu per satu kami keluar dan dipandu ke panggung.

Begitu naik, ga kaya model busana biasanya, dimana cuma berhenti sudut sini sudut sana untuk perlihatkan detil pakaian yang dikenakannya, Pak Wigyno jelaskan detil per busana. Aaaaaalamak!

Baju pertama sukses. Baju kedua pun demikian. Syukurlah, ga gugup karena ga ada yang perlu digugupin kan ya :)

Setelah sesi catwalk hampir satu jam itu, oleh panitia kami difoto bareng. Fotonya kemudian muncul di Instagram dan Twitter Femina. Salah satunya yang di atas itu :p

Setelah mengganti pakaian, kami bergabung dengan acara di panggung. Sedang kuis. Tapi ga tanya-jawab lagi seperti yang kami dengan di ruang pas tadi, tapi penarikan undian. Eh nama Adriani Zulivan tercetak di salah satu kertas yang diangkat orang BTPN dari mangkok kaca itu. Yay, ikutan agenda ini malah balik modal hahaha. Soalnya, untuk bisa ikut agenda ini, tiap peserta harus membayar sebesar Rp 350.000.

Ketika peserta lain berbelanja kain ataupun baju berbahan tenun Gaya, aku sibuk melihat para pekerja yang sedang menenun. Lagi pula, Tenun Gaya punya galeri penjualan di Jakarta. Untuk proses tenun hanya bisa dilihat di sini. Hal menarik ketika melihat tenun ini masih pertahankan produksinya menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika pamit, satu per satu peserta dikalungkan selendang Tenun Gaya oleh Pak dan Bu Wignyo. Bahagiaaaa banget dapat oleh-oleh yang dibuat dengan kesadaran penuh untuk melestarikan pusaka ini.

Di bawah guyuran hujan kami mampir ke toko oleh-oleh Moci Lampion. Lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta yang lagi-lagi macet. Aku sampai memundurkan jadwal terbang malam itu.

Ah ga masalah sih. Senang bisa mendadak catwalk, semoga ga malu-maluin Femina yah :)

Mlekom,
AZ


Sunday, December 6, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 11:16:00 AM | No comments

Kelen Model yang Mana?

Aku tuh model yang suka nyoba bikin sendiri makanan beli yang waktu dicicipin enak. Pas baru nyoba, eh kok enak? Langsung deh gugel resepnya dan bikin. Paling seru itu pas kreasikan bahan dan bumbu sesuai lidah sendiri (jadi nggak autentik lagi ya?). Misalnya pampis ini atau chee cheong fun ini, atau asem-asem daging ini, dan sejumlah masakan lain yang bisa dicek di sini (sekalian promo blog hahaha).

Punya pengalaman nyicip makanan, doyan, lalu masak sendiri gak? Mau donk resepnya (karena kalo sampe ketagihan, pasti emang enak banget tuh)!

Nah, kelen model yang mana?

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ


Saturday, November 28, 2015

Posted by adrianizulivan Posted on 12:45:00 PM | No comments

Ribut-ribut Soal Kebon Kembang

 

Kebon rusak karena diinjak-injak. Cilakanya, dari foto yang beredar, paling banyak yang fotoan di sana abegeh2 jilbaban. 

Lalu rame komentar: Jilbaban, tapi gk ada otak. Jilbaban, tapi kelakuan nggak bener.

Kok yang salah jilbabnya?

Meski beda subjek, predikat dan objek, logika pikir seperti ini mengingatkanku pada pemerkosaan seorang mbak-mbak kantoran.

Komentar publik: Yaiyalah pakaiannya begitu, pantesan aja diperkosa.

(Jadi maksudnya, yang pakai rok mini pantas diperkosa kah?)
Kok yang salah roknya?
‪
#‎ngombyang‬

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata